[1st] Fallen Angel

FALLEN ANGEL

Title               : Fallen Angel

Author           : Tara

Genre             : Fantasy

Rating            : NC-17

 

 

Disclaimer    : jika ada kesamaan latar dan kejadian, atau nama, hanya fiktif belaka. Tidak diperkenankan plagiat dan pengopyan secara ilegal. Penulisan dilakukan sesuai aturan fanfiction dan tanpa niat memperburuk nama karakter yang bersangkutan. Mohon diingat, ini hanya sebuah fiksi, semata-mata untuk menghibur dan melampiaskan perasaan.

 

Note               : ini cuma sebuah kisah, okay? Jangan terpengaruh, cukup ambil sisi positifnya aja. Kisah fallen angel sendiri dimulai ketika sepertiga malaikat di eden dijatuhkan ke bumi, dan di sini tokoh utamanya adalah seorang fallen angel juga. mohon diingat, bahwa di sini, Sehun adalah Austin Oh.

 

Personal Blog, Klik ini^^

PROLOG

 

  1. Penyerangan besar-besaran dilakukan di eden.

 

Aku terlibat, dan sayangnya aku berada di kubu yang salah.

 

Kami kalah.

 

Beserta seluruh pasukanku, juga pemimpinku, dijatuhkan.

 

Sayap kami dicabut dan kami menjadi makhluk hina.

 

Tercerai berai, jauh di bumi.

 

*

Portland, Amerika Serikat.

 

783 years later.

 

Aku tidak pernah memikirkan apapun mengenai kepribadiannya, kehidupannya atau apapun tentangnya. Aku hanya pernah berpikir, mengapa ia setampan itu? Ya, untuk ukuran manusia, ketampanannya terbilang lebih ketimbang manusia lainnya. Darahnya juga sedikit lebih murni, mengalir lembut di bawah membrannya. Kulitnya bersih seperti porselen, dan saat itulah aku tahu, aku terlalu banyak memikirkannya.

 

Kuhentikan tanganku, gelasnya sudah berdecit menolak dibersihkan. Jadi, aku harus meletakannya, membiarkan tanganku membersihkan gelas-gelas lainnya. Suara-suara berisik ini masih terus berlangsung, aku tahu meskipun aku duduk di samping sound, aku tidak akan tuli, namun tetap saja, aku ingin menulikan sendiri pendengaranku. Rasanya dulu, bar tidak sekacau dan seramai ini. aku masih bisa bersuara rendah dan didengar orang lain meski ada berbagai musik country yang mengalun.

 

“Hei, Miss.”

 

Aku menoleh, dan merespon sebiasa mungkin. “Ya?” lelaki itu menatapku dengan penuh hasrat. Aku  bisa mendengar pikiran kotornya tentangku. “Ada yang bisa kubantu, Mr…”

 

“Gate. William Gate.” Ia mengulurkan tangan, meminta dijabat. Aku hanya memperhatikannya, tak pernah berminat menyentuh apapun yang tidak perlu kusentuh. Termasuk tangan yang penuh penyakit itu. Gate menurunkan tangannya dan mengangkat bahu, sepertinya sikapku dia anggap biasa. “Bisa berikan aku brandy?”

 

“Tentu.” Ucapku masih tersenyum. Dalam pekerjaan ini, selain tubuh dan paras yang memikat, senyuman adalah kewajiban lain yang perlu dihadirkan.

 

Aku kembali padanya,dengan pesanannya. “Diminum di sini, Sir? Atau perlu saya…”

 

“Tidak, tidak. Aku minum di sini.” Bisa kusaksikan wajah tololnya, seolah yang dia lihat bukanlah aku, tapi bidadari yang baru jatuh dari surga. Jika maksudnya begitu, maka Gate salah. aku bukan ‘baru’ jatuh, tapi telah lama sekali jatuh dari surga.

 

Kuserahkan segelas brandy padanya, Gate meraup jemariku, mengepalkannya bersama gelas yang kupegang. Sorot matanya memuja, dan kutahu, malam ini aku tidak akan kelaparan. “Apa bar memiliki pelayanan istimewa?”

 

Kuberikan senyumanku yang paling memikat, lalu mengangguk.

 

“Kalau begitu, sepulang kau kerja, jemput aku di sana.” Gate menunjuk sebuah sudut, tempat beberapa gadis panggilan juga duduk di sana. Keparat.

 

Meski enggan, namun aku mengangguk juga. Mendengar pikirannya saja aku sudah geli, hebat sekali pikirannya itu. Begitu liar dan sedikit tolol dalam membuat rencana, sepertinya, jika aku adalah orang yang Gate harapkan, Gate tak segan membunuhku di akhir permainan. Tapi…, tentu saja, bukan aku yang akan jadi korbannya melainkan dia yang akan jadi korbanku.

 

*

 

“Oh, Rose, kau—“

 

Kubungkam mulutnya, aku tak suka mendengarnya memanggil namaku. Namaku tidak untuk dipanggil oleh seorang keparat sepertinya. Aku memang makhluk terkutuk, tapi aku tak mengizinkan sembarangan orang memanggilku.

 

Bibirnya melumat bibirku begitu tanganku tak lagi menutup mulutnya. Aku melenguh, berpura-pura menikmatinya, padahal ini sama sekali tidak nikmat, kenikmatannya akan muncul ketika kukaitkan gigiku ke relung lehernya.

 

Tentu saja dia percaya akan sandiwaraku. Gate makhluk terudang yang penah kutemui dan aku tak pernah ingin disentuh apalagi menyentuhnya. Sayangnya, ia sudah memancing kelaparan dalam diriku, yang berarti menarik kematiannya sendiri. Jadi apa gunanya menolak?

 

Beberapa menit lalu, kami sudah saling melucuti, dan sepertinya tak ada lagi yang perlu kami lakukan. Gate-pun kelihatannya sudah mulai tak bisa menahan, berulang kali ia mencoba memasukannya namun aku terlalu mahir menghindar. Eksistensiku ada bukan untuk rasa lapar semata, tapi juga untuk hal lain yang lebih menguntungkanku.

 

“Oh Rose, kapan kau akan mulai? Aku sudah tidak tahan.” Gertaknya. Susah payah Gate menunjukan kegarangan, tentu saja tidak berhasil dan malah membuatku menyeringai. Tak tahukah dia bahwa aku sedang berusaha mengulur kematiannya? Ucapannya barusan terdengar seolah ia ingin aku cepat-cepat memangsanya.

 

Gate mengeluh panjang lebar di bawah tubuhku. Menatapku dengan hasrat menggelora yang ia harap bisa disalurkannya padaku. Naasnya, aku tidak akan mengizinkannya. Sudah terlalu cukup untuk membiarkannya menikamti apa yang seharusnya tak perlu ia nikmati. Kuberi sebuah senyuman memabukan, lalu kuangkat tangan kananya. Dan kuciumi hingga akhirnya aku bisa mendapakan aortanya.

 

Lagi, succubus beradab membunuh manusia biadab.

 

 

SATU

 

Kemuraman menggelayuti langit malam ini. Entah apa yang terjadi, yang kutahu hanyalah aku tidak dapat mengatasi diriku sendiri. Sayap hitamku mengepak-ngepak membawa tubuhku, rasanya sulit sekali menahan sayapku untuk tetap berada di dalam punggung. Belakangan ini, setelah memangsa, selalu sulit untuk kembali senormal manusia. Entah apa sebabnya, mungkin karena usia yang sudah tua.

 

Burung malam beringsut menjauh ketika kubawa tubuhku ke sebuah dahan. Bergelantung layaknya kelelawar. Membiarkan angin menyentuh tubuh telanjangku. Sudah sering kali aku begini, dan belakangan ini, makin gencar. Tubuh manusiaku tak begitu kuat untuk menahan sosok asliku, dan yang kutahu adalah, ini sebuah pertanda. Sialnya, aku tak tahu pertanda apa ini. Entah buruk atau bagus.

 

Indera lain akan lebih tajam jika yang satu tidak berfungsi. Jadi kumalfungsikan mataku, membiarkan telingaku memiliki fungsi extra. Bisa kudengar di selatan, bagaimana pungguk-pungguk bersuara, menyenandungkan kerinduannya terhadap bulan. Di utara, sedikit lebih sunyi, hanya terdengar ketukan pelan kaki kijang mencari makan. Di barat, aliran sungai terdengar mematikan, arusnya cukup deras untuk menghanyutkan seekor kerbau jantan dewasa dan di timur, deruan mesin mobil melesat di jalan raya.

 

Ya, begini lebih baik. Kebutaan sebanding dengan pendengaran tajam. Kubiarkan tubuhku tenang dalam keadaan ini, aku yakin bisa mengembalikan tubuh manusiaku jika angin dingin terus datang menerpa, memaksa otakku untuk berpikir sehat.

 

Rasanya sudah lama sekali aku tidak berbaring di ranjang. Meski itu bukan sesuatu yang kubutuhkan—hanya rutinitas yang terus berjalan berabad-abad, namun kasur cukup membuat tubuhku nyaman. Pendengaranku mulai samar, menyatakan bahwa aku mulai larut dalam ketidaksadaran.

 

Kakiku memijak tanah gembur yang berlapis rumput. Semuanya berkilau, terang keemasan. Air mancur berada di tengah kolam, menyemburkan air dari mulut patung cupid.

 

Seorang lelaki berambut pirang duduk di tepian kolam, wajahnya cemerlang, serasi dengan sayapnya yang bertabur bubuk kemilau. Luciel tersenyum padaku dan melambai. Sungguh sulit untuk mengabaikan senyumannya, jadi inikah rasanya terpikat oleh Luciel?

 

“Luciel,” sapaku, kemudian duduk di sampingnya seraya menyapukan tangan ke air jernih di belakangku. Menyejukan. Aku menatap matanya, tak pernah sekalipun terpikir olehku bahwa Luciel semenarik ini.  mata hitamnya lembut dan tanpa dasar seolah aku harus mencari tahu sendiri apa yang yang ia inginkan dengan menyelami mata gelap itu. “Adakah yang Sang Putra Fajar[1] inginkan?”

 

“Tentu, tentu.” Jawabnya ringan. Tawa renyahnya bergemerincing seperti dentang lonceng.

 

Aku termangu sejenak. Sekiranya apa yang Luciel inginkan dariku? Tak bisakah Sang Penghulu mendapatkannya sendiri? Jika begitu, pastilah ini mengenai sesuatu yang penting. Sesuatu yang tak boleh Mikhael[2] ketahui. “Apakah gerangan yang dapat membantumu, Luciel?”

 

Luciel tersenyum miring, bisa kulihat keculasan di wajah sempurnanya. Namun hal itu sama sekali tidak mengurangi kesempurnaannya. “Aku ingin mengatakan hal ini secara langsung pada yang harus kumintai, namun sepertinya tidak bisa jika ada Mikhael. Kau tahu aku sempurna, kau tahu aku terindah, dan kau tahu aku mendapatkan apapun yang kuinginkan dari Tuhanku.”

 

Aku menunggunya melanjutkan, namun ia hanya diam. Jadi aku kembali termangu, memikirkan apakah sekiranya yang bisa kulakukan untuk makhluk terindah ini. “Kau tidak bisa mendapatkannya secara langsung dari Tuhan,” simpulku, kemudian kembali menatapnya dengan sikap penasaran. “Hal apakah itu, Luciel?”

 

Luciel tersenyum lagi, kali ini lebih sopan. “Tak salah aku memilihmu, Rosella. Kau mengerti apa yang kumaksud.” Sebenarnya, ungkapannya baruan terkesan melebihkan, siapapun akan dapat menyimpulkan ucapannya. Namun mengabaikan pujian dari Luciel tidaklah mudah. Menjadi kebahagiaan tersendiri meperoleh pujian dari makhluk terindah yang Tuhan ciptakan. “Kau tentunya tahu, bahwa Mikhael yang terkuat, yang terhebat dari seluruh angel, aku yang terindah, yang tersempurna dalam fisikku. Menurutmu, dengan kesempurnaan fisik seperti ini, apa yang belum bisa kudapatkan meski aku memintanya pada Tuhan?”

 

Kesempurnaan fisik. Tiap archangel[3] memiliki kelebihan masing-masing. Namun mereka juga memiliki tingkatan. Mikhael menduduki peringkat pertama di mata Tuhan, sementara Luciel yang kedua. Aku terperangah. Menatap lagi sosoknya yang penuh cahaya. “Kau menginginkan posisi Mikhael?”

 

“Tidak, tidak.” Luciel menggerakkan tangan, wajahnya terlihat geli, namun kembali serius. “Ayolah, Rose. Kau tahu apa yang harus kudapatkan, beberapa malaikat melupakan Tuhan yang telah menciptakannya, dan malah mempertuhankan aku. Salahkah jika aku menginginkan lebih dari posisiku? Mikhael tidak memiliki posisi itu, namun dia memiliki akses bebas untuk membunuhku jika kau membangkang. Itulah, mengapa aku tak bisa mengatakan keinginanku pada sang penghulu.”

 

“Belial[4] kah yang telah membuat pengabdianmu goyah, Luciel?”

 

“Tidak, tidak.” Suaranya amat tenang, masih berdentang layaknya lonceng. “Belial abdiku yang terbaik, ia dijatuhkan karena dirinya menuhankan aku bukan karena menggoyahkan pengabdianku.”

 

Ah, aku paham. Jadi, Luciel membanggakan diri? “Tahukah kau? Kau bisa menjadi pemegang satu dari tujuh dosa mematikan[5].”

 

“Ya. Aku tahu itu. Dari itu, kau harus membantuku. Aku tahu kau tak akan menolak. Kau menyukaiku seperti Belial, dan sekarang Belial sudah tak lagi ada. Kau layak mendapatkanku, Rose. Sungguh.”

 

Sang pembawa cahaya[6], layak untukku? Benarkah itu? Aku hanyalah Rosella. Pengabdianku tak lebih untuk mengurusi bunga mawar di Eden…

 

Angin menghantamku lebih keras. Aku berniat menguraikan sayapku ketika gravitasi menekanku jatuh, namun tak ada apa-apa di punggungku. Sayapku telah kembali masuk ke punggungku. Tak terelakan lagi, tanah adalah tumpuan akhirku. “Ouch!”

 

Burung hantu tersaruk terbang ketika tubuhku menghantam tanah yang keras, rasanya tidak menyakitkan, karena memang tubuh immortalku tak mengizinkanku merasakan rasa sakit. Kutatap langit, masih muram seperti tadi. Seperti tadi sebelum aku jatuh tidur dan bermimpi. Luciel. Benarkah aku memimpikannya? Selama berabad-abad, tak pernah sekalipun aku bermimpi tentangnya, atau tepatnya, tidak pernah bermimpi.

 

Namun tadi, apa itu? Kenangan kah? Jika itu kenangan, mengapa itu malah baru datang sekarang? Mengapa tak dari dulu kenangan itu mengobati kerinduanku terhadap Eden? Ataukah…, itu pertanda?

 

Kuhembuskan nafasku. Jika itu sebuah pertanda, pertanda apa? pertanda baik karena telah diampuni Tuhan, atau pertanda buruk akan kedatangan Luciel?

 

Suara kerisik ranting terinjak membuat insting waspadaku mengambil alih. Aku bangkit, siap mengurai kembali sayapku, namun tak ada apa-apa di balik punggungku. Jika begini? Bagaimana aku bisa kembali ke rumah?

 

“Siapa itu?” sebuah suara terdengar . Tak begitu jauh, aku bisa mendengar langkah kakinya dari sini. Aku merangkak ke balik pohon tempatku bergelantung, menyembunyikan diri. Namun langkah itu makin dekat, dan cahaya menyilaukan terarah padaku.

 

Tidak, manusia itu masih belum menemukanku, ia hanya menyorotkan senternya ke sembarang arah. Langkah kakinya makin dekat dan tubuh succubusku masih belum bersedia memunculkan diri. Harus kuapakan diriku? Tidak berdaya di sini? Di balik pohon ini?

 

“Siapa di sana?”

 

Sial. Dia menemukanku. Cahaya senternya mengarah padaku beberapa lama, bisa kulihat ia terperangah. “Ups, kau tak berpakaian.” Senternya pun mati.

 

Lelaki itu berjongkok di hadapanku, harum freecia dan lilac menguar dari tubuhnya. Bergabung memikat indera penciumanku. “Kau baik-baik saja?” suaranya sarat kekhawatiran.

 

Aku bisa saja mengaku bahwa aku ini korban pencabulan. Namun sebelum aku berucap, aku mendapati sesuatu dari dirinya yang membungkam mulutku. Mata itu, mata gelap tanpa dasar itu, aku kenal pemiliknya.

 

“Kau baik-baik saja?”

 

Mungkinkah ia…, tidak. Tidak mungkin. Bukan, dia bukan siapa-siapa. Hanya manusia biasa. Lelaki biasa. banyak yang memiliki mata sepertinya, dan bisa kupastikan, ia bukan seseorang yang ada dalam pikiranku. Tetapi aku belum pernah melihat lelaki setampan ini, sebersih dan secermelang ini. apakah mungkin…

 

“Hei?”

 

“Ya?” jawabku sontak.

 

Alisnya menaut, menunjukan kebingungan mungkin. Dan baru kusadari, aku tidak dapat membaca pikirannya. Kufokuskan pikiranku padanya, dan masih tetap sunyi.

 

“Kau baik-baik saja?”

 

Kuanggukan kepalaku, masih dengan kelinglunagn. Benarkah aku tidak bisa mendengar pikirannya? Aku bisa mendengar siapapun, mengapa ia tidak? Apakah mungkin pendengaran ekstraku mulai memudar?

 

Lelaki itu berdiri, membuka kemeja flanelnya. Ia kembali berjongkok dan mengulurkan kemejanya padaku. “Pakailah, meski kotor, itu lebih baik dari pada bertelanjang seperti itu.”

 

Kuterima kemeja itu, “terima kasih.”

 

“Mari kuantar pulang.” Ucapnya.

 

Pulang? Memangnya dimana aku sekarang? Portland jauh sekali dari sini. Aku juga tidak tahu seberapa lama aku terbang. Jadi aku tidak dapat memastikan dimana aku sekarang. “Dimana aku?”

 

“Startford.”

 

Oh, ya. Aku meyakini bahwa aku memang berada di Inggris, sebelah utara Birmingham. Ternyata di sini, di tempat Shakespeare lahir.

 

“Aku tidak memiliki tempat tinggal.” Dengusku. Kesal pada diri sendiri, mengapa begitu teledor membiarkan kedua sayap terkutukku sembunyi.

 

Ia berpikir sejenak. Aku tidak terbiasa untuk tidak mendengarkan pikran orang-orang, dan merasa sedikit kesal karena aku tidak dapat mendengar pikirannya. Sebenarnya, siapa sih dia?

 

“Mungkin kami bisa menampungmu.” Keraguan terpatri jelas dalam kalimatnya. Lagipula, siapa yang mau menampungku tanpa alasan yang kuat? Seorang wanita dengan tubuh molek tanpa pakaian. Tentulah siapapun akan mengira bahwa aku ini pelacur yang ditelantarkan. Seandainya, mereka tahu aku lebih hina dari itu, masihkah ada yang mau menawariku tempat tinggal? “Siapa namamu?”

 

“Rosella.” Jawabku kemudian berdiri seraya mengenakan kemeja flanelnya. “Kau?”

 

Ia tersenyum. “Austin.”

 

“Senang bertemu denganmu, Austin.”

 

“Yeah. Begitupun aku.” Austin masih belum melepas senyumnya, rambutnya yang gelap bersatu dengan kelamnya malam. Kulitnya pucat dan ada bintik di bawah matanya, namun aku yakin dia bukan orang Inggris asli.

 

“Kau orang Asia yah?” aku belum pernah keluar dari Amerika, tapi di sana banyak orang Asia.

 

“Kau tahu?” tanyanya sambil lalu, aku sendiri mengikutinya di belakang.

 

“Kelihatan jelas dari aksenmu.” Jawabku seadanya.

 

Austin berhenti melangkah, kemudian menoleh menatapku. “Benarkah? Padahal aku sudah melatih aksen Koreaku.”

 

“Kalau begitu, latih lagi.”

 

Lagi, Austin tersenyum. “Tentu, Tentu.”

 

Asia. Benarkah dia dibuang ke Asia?

 

Tidak ada kemungkinan pasti kemana ia dijatuhkan. Bisa saja ia jadi bagian dari neraka, namun jika begitu, siapa Austin? Kenapa aku tak dapat mendengar pikirannya? Aku dibuang untuk bisa mendengarkan semua pikiran orang lain, mempelajari mana yang baik dan yang buruk, agar kelak jika Mikhael memintaku kembali, aku siap menerima kembali jabatanku. Namun, jika ada pengecualian seperti ini…, entahlah. Aku tidak mengerti. Sebelum dijatuhkan, aku diberitahukan bahwa di Bumi, yang tak dapat kubaca, hanya satu. Pemimpinku. Dan Austin mustahil orangnya.

 

Sekalipun kerupawanannya menyerupai, namun tak ada bukti kuat bahwa memang Austin dan ia yang kumaksud adalah orang yang sama.

 

“Boleh kutahu apa yang kau lakukan di hutan seperti ini?” Austin masih terus berjalan. “Tanpa pakaian dan tanpa luka.”

 

“Kau sendiri?” Austin malah terkekeh. “Tanpa senter. Mana sentermu? Manusia membutuhkan penerangan ekstra di tempat gelap seperti ini.” Sengaja kugiring dia ke pembiacaraan kemanusiaan, berharap menemukan titik terang untuk seluruh pertanyaan yang berkecamuk di otakku.

 

“Kutanya, malah balik bertanya.” Dengusnya. “Asal kau tahu, ya. Aku tidak butuh senter. Yang tadi itu, hanya pertanda untuk ibuku bahwa aku baik-baik saja di hutan.”

 

Sial, dia melewatkan umpanku.  Tapi ia mengatakan ibu, bisa kugali lebih banyak lagi dari sana. “Ibu?”

 

“Ya. Kami tinggal di sana,” Austin menujuk ke arah utara. Kuangguk-anggukan kepalaku, menunjukan pemahaman akan apa yang ia bicarakan. Padahal sebenarnya untuk menopengi kekesalanku akan pertanyaan-pertanyaan yang ingin kutanyakan langsung padanya. Tangannya terulur ke arahku, menarik pinggangku lebih dekat dengannya. Mata gelap itu menatapku, amat dalam seolah tanpa dasar. Sudah berapa abad aku tak menatap mata itu lagi? Sudah berapa lama aku menghindari pertemuanku dengan pemilik aslinya?

 

Perhatianku pudar ketika kurasakan jemari tangannya menggerayangi kemeja flannel yang kukenakan, hasrat gilaku langsung kerajingan, senang akan sentuhannya yang menggoda. Matanya masih menatapku, memikatku ke dalam pesonanya. Akalku masih normal, haruskah aku memakan dua korban malam ini? jika ia menyentuhku, percuma saja pertahanan diri yang sedang kubangun susah payah. Aku diet berminggu-minggu, sedikit mengurangi populasi manusia brengssek di Portland. Haruskah aku menghentikan dietku dan bersikap rakus?

 

Tidak. Aku tidak boleh rakus. Aku harus belajar menghargai manusia. Yang terburuk yang jadi korbanku, yang baik akan kubiarkan hidup. Tapi…, Austin? Termasuk golongan manakah dia? Yang harus kubiarkan hidup atau yang harus kuhabisi?

 

Hutan. Tak ada seorang pun di sini selain aku dan Austin. Jadi haruskah aku membiarkannya hidup sementara hasrat menghabisi mulai bergolak dalam diriku? Bersikap rakus setelah berminggu-minggu tidak, apa salahnya?

 

Aku masih menyelami mata itu, berharap bisa kutemukan sesuatu di sana. Namun aku hanya menemukan satu hal dari dalam sana. Hasrat yang sama denganku, akankah aku bisa menahan diriku jika Austin-pun menginginkan hal yang sama denganku? Tapi aku bisa membunuhnya jika membiarkan hasrat itu menguasai diriku. Aku akan kembali sebagai succubus, bukan manusia yang sok polos lagi. Succubus si pembunuh.

 

Masih dapat kurasakan tangannya di kemejaku, aku tak tahu butuh berapa lama jemari-jemari itu menyapu—“Kancingkan kemejamu.”

 

Austin menjauhkan tubuhku dalam sekali sentakan. Akal sehatku kembali pulih, dan kuturuti perintahnya. Bagaimanapun, jika Austin tidak mendorong tubuhku, aku akan membunuhnya. Tahukah dia bahwa aku akan melakukannya jika ia terus memegangi kemejaku? Sebenarnya siapa Austin ini? Makin lama, rasanya makin tak dapat dipahami.

 

Austin memiliki mata yang sama dengannya, dan Austin juga memiliki hasrat yang sama denganku. Haruskah kusimpulkan sesuatu?

 

“Austin, jika boleh bertanya satu hal…”

 

“Tanyakan saja.” Austin mengangkat bahu, kemudian berbalik siap berjalan. Aku menyetarainya, menatap wajahnya yang disaput kegelapan.

 

Benarkah aku harus menanyakannya? Meski hanya hipotesa, tapi prospeknya cukup besar untuk dibenarkan. Kedua fakta tadi—mata dan hasrat—cukup untuk dijadikan penguat. Kutatap lagi wajah Austin, ia menunggu pertanyaanku dan alisnya terangkat sebelah ketika mengetahui diriku sedang memperhatikannya.

 

“Tanyakan, jangan sungkan.” Ucapnya, diiringi senyum bersahabat.

 

Dan di sanalah aku tahu, aku tidak perlu menanyakannya. Pemilik mata itu tidak memiliki senyum bersahabat seperti yang Austin miliki. Sekalipun ia melatihnya berabad-abad. Aku yakin, pemegang dosa amarah dari tujuh dosa mematikan tidak akan memiliki senyum seperti itu. Jadi Austin hanyalah Austin. Bukan seseorang yang kukenal.

 

“Rosella, apa yang akan kau tanyakan?”

 

Aku nyengir, bersikap tolol untuk menopeng. “Aku lupa pertanyaanku.”

 

Austin mendengus, mungkin merasa dipermainkan.

 

TBC~

 

FOOTNOTE

[1] Putra fajar adalah arti nama Luciel, bisa juga diartikan bintang timur.

[2] Mikhael adalah penghulu archangel, sama seperti Luciel dan Gabriel. Kedudukan mereka sama, namun kemampuannya berbeda.

[3] Archangel adalah malaikat tertinggi. Yang berarti kedudukannya lebih tinggi dari malaikat lain.

[4] belial adalah angel pertama yang dijatuhkan karena memuja Luciel.

[5] 7 deathly sins / 7 dosa mematikam adalah sebuah ungkapan untuk dosa fatal manusia.

[6] Sang Pembawa Cahaya diambil dari posisi Luciel sebagi worshipper di archangel.

 

Eukhem. Gimana? Tolong review^^ terima kasih~

 

Advertisements

One thought on “[1st] Fallen Angel”

  1. Haloo… salam kenal dari reader baru. Suka banget sama ceritanya. Bikin penasaran, kira2 austin itu sisi manusianya austin apa bukan??
    Next chapnya ditunggu~

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s