Eomma

eomma

Title : Eomma

Author : ninacitra

Lenght : Ficlet

Genre : Angst, Sad, Family

Rating : General

Cast : Oh Sehun

Disclaimer : All story is mine. Semua cast adalah milik Tuhan Yang Maha Esa dan keluarganya. Jika ada kesamaan, itu bukan hasil plagiat, mungkin aja  ada dua author yang sehati.

Siders? Semoga cepat tobat

Plagiat? Dosa tanggung sendiri

Author’s Note : Maafkan typo yang telah bertebaran dimana – mana. Dan maaf kalo ada kata – kata yang nggak enak bagi kalin. Aku di sini nggak bermaksud ngehina. Jangan salah paham, ya

Happy Reading ^^

Sinar mentari mulai menyeruak memasuki cela-cela rumah. Namun, atmosfir dalam ruangan masih terasa dingin. Meringkuk di atas ranjang memang pekerjaan yang mengasikkan di musim dingin seperti ini. Salah satunya seorang pemuda yang tengah menggeliat dalam selimutnya. Meski sudah begitu, tapi tak sedikit pun bagian tubuhnya terasa hangat. Pada akhirnya ia terpaksa membuka mata yang tak kunjung terpejam.

“Hah…” Helaan napas terdengar begitu mendominasi. Seolah bisa menggaung layaknya berteriak di dalam ruangan yang kosong. Perlahan Sehun—pria itu mendudukkan pantatnya di tepi ranjang. Diliriknya jam weker yang berdiri di atas nakas, sebelum akhirnya melangkah menuju ke kamar mandi. Dengan berat, pria itu mencoba memulai hari seperti biasanya.

Netranya bergerak lincah, megamati setiap sudut ruangan. Derap langkah kakinya menuruni tangga langsung menggaung memecah keheningan.

“Sehun, kau sudah bangun?”

Sebuah suara lembut menyapa indra pendengarannya. Reflek, Sehun mengalihkan fokusnya pada seorang wanita paru baya dengan apron yang melekat di tubuhnya. Itu ibunya, sosok yang begitu berharga dalam hidupnya. Wanita itu tengah tersenyum. Lalu sebelah tangannya memberi isyarat kepada Sehun untuk menghampirinya. Bisa dilihat, meja sudah penuh dengan piring-piring berisi makanan di atasnya. “Ayo makan!” ujarnya kembali.

“Aku tidak lapar” Suara lain mengambil alih perhatian Sehun. Dilihatnya sosok kecil refleksi dari dirinya tengah melangkah menuruni tangga yang sama.

“Tapi, nanti Sehun kelaparan,” ucap wanita itu berusaha merayu Sehun kecil.

“Aku tidak apa-apa, bu,” tukas sang anak enteng seraya memegang gagang pintu. Tanpa melihat ke arah ibu.

“Mau ibu buatkan bekal? Biar Sehun bisa makan di—”

“Tidak usah, aku bisa beli di sekolah nanti. Sampai jumpa, bu,” sela putranya cepat sebelum berlalu pergi meninggalkannya.

Raut wanita itu melunak. Wajah sedih dan kecewa begitu ketara. “Hah…” helaan napasnya waktu itu jelas menggambarkan suasana hatinya. Tatapan nanar ditujukannya pada barisan makanan yang sia-sia di atas meja.

“Maaf.” Hanya itu yang bisa Sehun katakan saat ini. Ia tak pernah terpikir betapa sedihnya sang ibu kala itu. Ia tak pernah tahu apa yang dirasakannya.

Sehun menutup matanya, lalu membukanya kembali. Gambaran fiktif itu telah menghilang. Tak ada makanan apapun di atas meja. Tak ada sosok menyedihkan ibunya.

Malam tiba, tapi suasana dalam rumahnya masih sama. Direbahkannya tubuhnya ke atas ranjang. Hari-hari di sekolah memang menyita banyak energinya. Dulu, di saat seperti ini Sehun akan meminta sedikit pijatan ibunya. Tapi, ia sadar, itu tak dapat dilakukannya lagi saat ini.

“Sehun!” Sebuah seruan menarik perhatiannya. Dilihat sosok ibunya berdiri di ambang pintu kamarnya. Begitu juga dengan refleksi dirinya yang tengah sibuk dengan benda persegi empat dalam genggamannya. “Ada apa?” tanyanya tanpa mengalihkan perhatiannya.

“Sehun tidak ingin menemani ibu ke mini market?” suara ibunya terdengar serak. Namun, Sehun kecil tak menyadari itu karena terlalu fokus pada ponselnya.

“Aku sibuk. Ibu bisa pergi sendiri, kan?” Jawaban yang tak diharapkan ibunya keluar dari mulutnya sang anak.  Sehun terkejut, ia tak tahu ucapannya waktu itu begitu menyakitnya hati ibunya. Bahkan ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Betapa kejamnya ucapannya dan entah sudah berapa kali ia membuat sedih ibunya.

Kepalanya tertunduk dalam saat mengingatnya. Lalu terangkat kembali begitu mendengar suara sang ibu.

“Baiklah, hati-hati di rumah! Jangan kemana-mana saat ibu pergi!”

Sehun mendengarnya. Ia mendengar nada penuh khawatir ibunya. Sayangnya, apa yang ia perbuat waktu itu? Apa balasan yang ia berikan pada ibunya? Tidak ada. Menoleh pun tidak. Jelas-jelas ia mengacuhkannya. Membiarkan ibunya yang berbalik, lalu pergi.

Kini ia menyadarinya. Menyadari tatapan sayu dengan lapisan kaca di dalamnya terlihat pada mata indahnya. Seiring dengan langkah gontainya, ibunya terus mengusap bekas air mata di wajah keriputnya. Ia tak pernah tahu ibunya begitu mengharapkan kehadirannya. Memang ia tak pernah tahu apa yang diinginkan ibunya.

Sehun bangkit dari atas ranjangnya. Mencari-cari kepingan kenangan yang masih tersisa. Didorongnya pintu kamar yang setengah terbuka, lalu melangkahkan kakinya kembali menuruni tangga. Hingga sampailah ia di ruang tengah. Di sana, ia melihat dirinya tengah duduk di atas sofa dengan mata yang sudah seperti panda. Pandangannya menatap lurus ke arah pintu rumah. Seperti perintah ibunya, dirinya tetap berada di rumah menunggu kepulangan wanita itu.

Rasa kantuk mulai menghadangnya. Namun, Sehun masih tak ingin beranjak dari tempat duduknya. Ia masih setia munggu kepulangan ibunya. Waktu terus berputar, beberapa kali tubuhnya hampir terjungkal karena tak kuasa menahan kantuk. Akhirnya ia tertidur di atas sofa sebelum bunyi dering telepon rumah membangunkannya. Deringan yang tak pernah diharapkannya.

“Halo!”

“Apa benar ini kediaman Bu Lana?” Suara yang asing berasal dari telepon itu. Sehun kecil mengernyitkan dahinya. Bagaimana orang itu bisa tahu ibunya?

“Ya, benar. Anda siapa? Bagaimana anda tahu nama ibuku?”

“Maaf sebelumnya, saya dari kepolisian. Ibu anda telah mengalami kecelakaan dan sekarang tengah dibawa ke rumah sakit.”

Saat itulah tangis Sehun pecah. Keheningan yang sebelumnya melanda kini menghilang. Gambaran itu pun menghilang seiring dengan tangisannya. Sungguh, Sehun tak pernah mengira itu akan terjadi pada ibunya. Dan kini, ia menyesal sepenuhnya. Kata maaf sudah terlambat untuk diucapkan. Tak seharusnya ia mengabaikan ibunya. Tak seharusnya ia meninggalkannya sendirian. Tak seharusnya ia melukai hati tulus ibunya. Tak seharusnya semua itu terjadi.

Kini sudah tak ada lagi suara lembut yang menyapanya di pagi hari. Tak ada lagi senyuman hangat ibunya. Tak ada lagi yang dapat menghiburnya saat terluka. Tak ada lagi yang menghapus air matanya. Tak ada lagi dekapan hangatnya. Semua itu sudah berlalu. Bahkan, kenangan manis itu kini berganti menjadi kenangan pahit untuk Sehun.

Ibu, sosok yang sangat sering kita lihat. Sosok yang memberikan kasih sayang dan pengorbanannya kepada anaknya. Tanpa disadari, kita selalu bergantung padanya, selalu menyusahkannya. Tapi, ia tak pernah sedikit pun mengelu akan hal itu. Ia selalu ada untuk kita. Dimana pun, kapan pun, dan dalam bentuk apa pun, kasih sayangnya selalu menyertai kita. Dan sosoknya sendiri tak akan pernah tergantikan dengan hal apapun.

END

Huhuhu…. maaf mengecewakan. Intinya, kita harus menghargai seorang kerja keras orang tua kita. Dibalik semua omelannya, sebenernya dia perhatian sama kita. Dibalik marah-marahnya, sebenernya ia sayang sama kita. So, jangan sampai menyesal di kemudian hari. Luangkan sedikit waktumu untuk bersama keluarga.

Regards,

ninacitra

Advertisements

2 thoughts on “Eomma”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s