[FICLET] I Want ‘It’ to be Real though…

sehun oh

.

.

.

natadecocoo presents…

Oh Sehun x Jeon Hana fic

Ficlet

Teen

Romance, Fluff, School Life


 Mungkin benar kata orang, rasa suka bisa muncul karena terbiasa bersama. 


Selamat membaca!


                Hana menyukai Sehun.

                Itu adalah satu gosip yang sudah beredar di kelas sejak dua bulan yang lalu tapi kini, gosip itu bertambah menjadi gosip yang lebih ekstrim.

                Hana berpacaran dengan Sehun.

                Gosip yang berawal dari hal yang sepele.

                Saat itu adalah saat awal kehidupan SMA bagi Hana dan Sehun. Hana sudah memiliki teman dekat yang anehnya, sejak mereka berada di sekolah dasar hingga sekarang, mereka selalu sekelas. Si biang gosip Sulli dan si ratu gosip Jung Soojung. Naas, tapi berkat teman akrabnya itulah Hana juga menjadi objek gosip teman sekelasnya. Atau mungkin seantero sekolahnya. Semuanya berawal dari rutinitas yang biasa bagi Sulli ketika memasuki kelas baru. Mengincar beautiful target. Atau bahasa awamnya mencari namja kecengan. Itu juga fakta menyebalkan  lain yang harus Hana hadapi.

                Sedangkan Jung Soojung sendiri akan menjadi teman setia Sulli dalam pencariannya. Jika saja Soojung belum memiliki Jongin, mungkin ia akan melakukan hal yang sama dengan Sulli. Untung saja tidak.

                “Hana-a, menurutmu, di kelas baru kita kali ini, siapa namja yang tertampan?” tanya Sulli, mendekatkan wajahnya ke wajah Hana yang berada di bangku belakangnya.

                Dahi Hana mengernyit. Lalu, dilayangkannya pandangannya ke sekitar seraya memasang wajah berpikir. “Hmm..Tak ada yang menarik di mataku.” Hingga mata Hana mendarat dan terhenti di satu sosok. “Tapi, mungkin, Sehun cukup tampan untuk dijadikan target.”

                Dan sejak saat itulah, Sulli dan Soojung menyebarkan gosip bahwa Hana menyukai Sehun. Padahal Hana tak pernah mengatakan bahwa ia menyukai Sehun. Sama sekali.

Hana sih kalem saja ketika itu cuma sebuah gosip. Ia berpikir, toh nanti juga akan hilang sendiri jika ditelan waktu dan massa.

                Tapi, hell.

                Hana salah besar. Sebesar pizza yang akan dia makan ketika dia sedang sebal.

                Teman sekelasnya yang baru sepertinya tidak kalah aneh ketimbang dua sahabatnya itu.

                Bukannya gosip yang sudah tersebar seperti kecepatan cahaya itu menghilang, teman sekelasnya malah mempacokkan dirinya dengan Sehun dengan berbagai upaya.

                Siulan saat Hana tidak sengaja lewat di depan Sehun.

                Siulan ketika Sehun tidak sengaja lewat di depan Hana.

                Godaan ketika hasil nilai ulangan Sehun dan Hana sama. Malah mereka mencurigai Hana dan Sehun belajar bersama sehingga nilai mereka bisa sama.

                Sampai-sampai, teman sekelas mereka sengaja membiarkan Hana dan Sehun berakhir menjadi teman satu kelompok di berbagai macam tugas.

                Juga piket kelas.

                Juga susunan keorganisasian.

                Juga ketika sang guru menyuruh dua muridnya untuk mengembalikan buku paket super tebal ke perpustakaan.

                Hal itu membuat mereka berdua (terpaksa) dekat. Mereka menjadi tampak bersama di berbagai macam momen.

                Bahkan, teman sekelas mereka pernah menggemboskan ban sepeda milik Hana sehingga ia harus membonceng sepeda milik Sehun setelah mereka mengerjakan tugas Fisika mereka bersama.

                Tak berhenti hanya sampai situ saja. Melihat kedekatan yang telah teman sekelas mereka buat sendiri, mereka malah menaikkan satu level gosip yang mereka buat.

                Hana dan Sehun telah resmi berpacaran.

                Awalnya mereka terkejut, tentu saja. tapi..mereka tidak tahu bahwa dalam di hati mereka masing-masing, ada perasaan tidak keberatan yang membesar dan berubah menjadi perasaan yang lain.

                Dan kini, di sinilah mereka berada, kembali disatukan dalam suatu tugas. Tugas meresume jurnal kesehatan internasional untuk mata pelajaran Biologi. Mengerjakannya di perpustakaan sepulang sekolah telah menjadi rutinitas harian Hana dan Sehun beberapa bulan ini.

                “Hana-a..Apakah gosip mengenai kita berdua masih santer diberitakan?” tanya Sehun, melepaskan sejenak perhatiannya dari tab yang ia pegang, memandang ke arah Hana yang sedang sibuk mendalami arti dari jurnal berbahasa inggris yang sedang ia baca dari tabnya.

                “Ndae?” respon Hana, masih sibuk dengan jurnalnya. Tapi, segera ia menyadari, Sehun sedang menanyakan mengenai gosip mereka berdua sehingga ia tercekat lalu melepas perhatiannya dari jurnal tentang ‘Ebola’ itu sejenak. “Maksudmu..gosip kita berdua berpacaran?” lanjutnya.

                Sehun mengangguk ke arah Hana yang sedang duduk di seberangnya itu.

                 “Sepertinya masih. Buktinya kita sekarang satu kelompok lagi. Memangnya kenapa?” Hana mengajukan pertanyaan, sebelum ia akhirnya kembali berkutat ke jurnalnya. Entah sejak kapan, Hana merasa canggung jika seseorang sedang membahas gosip tentang mereka berdua.

                Saling diam.

                “Hana-a.” Sehun kembali memanggil Hana. Hana mengangkat wajahnya. “Nae?”

                Sehun memegang tengkuknya. Kalimat yang sejak tadi ia ingin katakan, seperti tersangkut di tenggorokan dan tak kunjung keluar dari mulutnya.

                “Hana-a..Kurasa—sepertinya—aish..” Sehun hendak bertutur tetapi sepertinya lidahnya seakan terkilir dan ia bingung bagaimana harus mengatakannya.

                “Ya, ada apa? Katakan saja..” sahut Hana yang kini kembali memandang Sehun.

                Kembali, saling diam. Hana diam karena ia bingung dengan gelagat Sehun sementara Sehun diam karena ia sedang mengumpulkan serpihan keberaniannya.

                Meskipun samar, dapat terlihat olehnya wajah gugup milik Sehun.

                Tak lama, terdengar helaan nafas panjang dari mulut Sehun.

                “K-kurasa…aku tidak keberatan dengan gosip yang beredar di antara kita.”

                Sehun akhirnya mengucapkannya. Kalimat yang membuat mulut Hana menganga. Karena…Hana menangkap arti yang lain dari kalimat yang Sehun ucapkan itu. Makna kalimat yang ia interpretasikan sendiri itu, sukses membuat wajahnya memerah.

                “Bagaimana denganmu Hana-a..” kini, Sehun bertanya. Memberanikan diri untuk melihat ke arah Hana sambil tetap memegang tengkuknya.

                Hana diam. Sambil menunduk. Berbagai macam perasaan sedang berkecamuk di dadanya. Bingung, kaget, serta…senang. Ia sendiri juga bingung mengapa ia harus senang saat Sehun berkata ia tidak keberatan dengan gosip yang gencar beredar mengenai hubungan mereka.

                Semenit berlalu, Hana  akhirnya mengangkat wajahnya. “Kurasa…aku juga…YAH! Apa baru saja..kamu secara tidak langsung..menyatakan perasaanmu kepadaku?” Kini, Hana balik bertanya.

                Wajahnya lebih merah dari yang sebelumnya.

                Sehun mengalihkan padangannya ke arah lain, tak ingin wajah malu-malunya tertangkap oleh mata Hana.

                “Mungkin—-iya.”

                Deg! Jantung Hana seakan jatuh dari gantungannya dan meledak hingga kepingan-kepingan terkecil. Tapi..ia berusaha untuk tetap tenang sembari mengatur nafasnya yang juga mulai terasa sesak.

                “YA! Kenapa mungkin? Aku ingin suatu kebenaran..” gumam Hana dengan nada malu-malu.

                Sehun tampak bingung. Tapi kemudian, ia mengangkat kedua sudut bibirnya sambil melihat  ke arah wajah tomat milik Hana. “Bwo? Kamu ingin benar-benar ditembak olehku?”

                Seringai yang Sehun tunjukkan sempat membuat Hana bergidik sebentar.

                Seketika itu juga, darah Hana berdesir. Ia baru menyadari, bahwa kalimat yang baru saja ia katakan secara tak langsung berarti sama dengan apa yang dikatakan oleh Sehun.

Apakah sebenarnya..ia ingin ditembak oleh Sehun?

                “Aa—aa” Hana berusaha menyangkal tapi, heck, sebuah alasan tak kunjung datang ke kepalanya. Pikirannya sedang kacau dan mungkin terjadi beberapa konslet di dalam sana.

                Terdengar kekehan kecil dari mulut Sehun. Setelah momen janggal yang terjadi beberapa menit, Sehun akhirnya mencairkannya dengan sebuah kekehan kecil.

                “Baiklah..” Sehun menjeda sebentar, sebelum ia akhirnya mengatakan kalimat inti dari semua basa-basi yang ia buat. “Hana-ah, bisakah kita membuat gosip yang beredar menjadi sebuah kenyataan?”

                Mata bulat milik Hana membesar. Semua aktivitas vital yang terjadi di dalam tubuhnya seakan berhenti.

                Begitu juga dengan Sehun,karena… akhirnya ia mengatakannya kepada Hana.

                Mungkin benar kata orang, rasa suka bisa muncul karena terbiasa bersama.

                Dan sepertinya—teman sekelas mereka secara tidak sengaja telah membentuk satu pasangan baru hari ini.

end


Another Sehun’s ff is out~

Semoga suka. Rate Comment Like juseyo~ ^^)/

Advertisements

4 thoughts on “[FICLET] I Want ‘It’ to be Real though…”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s