[Freelance] Sacrifice

Sc1

Title:                Sacrifice

Author:            daiverna (@aldaivernx)

Length:            Oneshoot

Genre:             Romance, sad, school life

Rating:             PG-15

Main cast:       Oh Sehun [EXO]

Joo Yoorim [OC]

Additional Cast:          Park Chanyeol [EXO]

Han Jihee [OC]

Disclaimer:      fanfic oneshoot ini adalah ff pertama yang author tulis dan 100% murni hasil imajinasi author. Masih newbie, belum bisa bikin alur yang berat. :’D

Author’s note: Alur kecepetan, dan WARNING! There are some harsh words!

Mungkin sebagian dari kalian sudah ada yang pernah baca di ff site sebelah. Ini bukan plagiatnya kok, aku hanya repost aja disini plus sedikit revisi.

Semoga kalian suka dan mohon commentnya.

Happy reading! ^^

Percayalah. Jantung itu selalu berdetak untukmu, akan selalu dan hanya untukmu. Walaupun kini jantung itu hidup di raga yang berbeda.”

Credit Poster thanks to Laykim @ Indo Fanfictions Arts

***

Perempuan dan lelaki bisa menjadi sahabat. Tapi hubungan tersebut tidak menjamin satu sama lain tidak akan saling jatuh cinta. Seperti yang orang-orang bilang, cinta dapat membuat setiap orang menjadi bodoh dan buta. Bahkan cinta mampu mendorong seseorang jatuh ke dalam jurang hanya untuk membuat orang yang mereka cintai bahagia, sekalipun akibatnya nyawalah yang hilang. Terdengar konyol dan gila memang, tapi inilah faktanya bahwa cinta adalah hal yang kejam. Sangat kejam.

***

Yoorim melihatnya di panggung sana. Rahangnya yang ‘tajam’ dengan senyuman bahagia jelas terlihat di wajahnya. Rambut hitamnya yang terbelah dua, memakai kemeja putih dan jas hitam, berlutut di hadapan seorang gadis sambil memberinya setangkai mawar.

Maukah kau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku? tanya sang lelaki, sang gadis mengangguk dan menangis haru. Tiraipun tertutup, para penonton bertepuk tangan diikuti oleh komentar mereka kepada orang di sebelahnya.

Mereka benar-benar serasi.

‘Mereka tidak salah memilih tokoh untuk dijadikan pasangan.

Aku benar-benar iri dengan gadis itu

‘yeoja itu cantik, dan namjanya tampan. Kupikir akan sangat indah jika mereka benar-benar bersama.

Seluruh penonton tersenyum puas setelah menonton pertunjukkan drama. Sementara sang gadis berjalan menuju belakang panggung untuk menemui sahabatnya.

“Yak, Yoorim-a! Bagaimana menurutmu penampilanku tadi?” tanya seorang namja ber-rahang ‘tajam’ itu.

“Penampilanmu bagus, kau benar-benar mendalami peranmu, Tuan Oh.”

“Begitukah? Gomawo ne. Saat tim teater memilihku untuk berpasangan dengan Han Jihee aku benar-benar senang, jadi aku berusaha keras untuk mendalami peranku ini. Dan ternyata berhasil. Tapi, jika kau tidak membantuku untuk berlatih akting, mungkin tidak akan sesukses ini. Terimakasih ya, kau memang sahabatku paling hebat! Hahaha”

‘sahabat’? Ah, benar. Aku adalah sahabatnya, dan akan selalu menjadi sahabatnya.

“Baguslah jika kau senang. Aku juga ikut senang karenamu. Chukkaehaeyo ne.” Ucap Yoorim sambil memasang senyumnya, senyuman manis menurut siapapun yang melihatnya, tapi memiliki makna berbeda bagi sang gadis.

“Hey, Oh Sehun!” seru seseorang dari jarak yang cukup jauh. Sang empunya nama lantas menoleh kebelakang. Didapatinya laki-laki berpostur tinggi dengan surai hitam menutupi dahinya.

“Bagaimana menurutmu penampilanku?”

“Bagaimana, ya? Yah setidaknya karena kau ini temanku, jadi kukatakan saja lumayan”

“Yak tiang! Ayolah aku serius! Bagaimana menurutmu?”

“Baiklah, baiklah, penampilanmu tadi kuakui bagus. Tapi mungkin saja pementasan drama tadi akan jauh lebih sempurna jika pemeran utama laki-lakinya bukan kau. Hahaha”

“Yak! Chanyoda! Kusumpahi telingamu akan bertambah lebar! Awas kau!” sumpah yang Sehun lontarkan mampu membuat tawa Chanyeol—yang disumpahi—reda seketika.

“Yak! Berhenti menyinggung telingaku, albino!”

“Tapi kau yang mem—“

“Hey berhentilah kalian, bodoh!” sela Yoorim akhirnya yang sedaritadi diam hanya memerhatikan mereka. Kedua pria tersebut lantas menoleh kearahnya akibat kata ‘bodoh’ yang ia lontarkan.

“YAK! DIA YANG BODOH!” seru mereka bersamaan sambil saling menunjuk. Hey, ayolah, terkadang hubungan Sehun dan Chanyeol sulit dipahami, seperti sekarang. Saling menyindir, saling memaki dan saling menunjuk yang diawali dengan candaan sepele.

“Kalian ini benar-benar kelewat dewasa. Lihatlah, tubuh kalian sama-sama seperti pohon kelapa, kepribadian kalian bahkan mirip! Seharusnya kunikahi saja sekalian!”

“YAK JOO YOORIM!”

“Benar, kan? Untuk menyebut namaku saja sampai bersamaan. Sudahlah. Berhenti saling memaki dan berhenti berdebat, atau aku akan menikahi kalian sekarang juga!” ancam Yoorim.

“Baiklah, ahjumma. Aku minta maaf, ahjumma” dan ucapan Chanyeol mampu membuat api dalam diri sang gadis tersulut.

“YAK! Aku bukan ahjumma, telinga leb—“ seruan Yoorim terpotong begitu saja oleh dehaman seorang gadis. Tangannya yang sudah mengayun siap menjitak kepala Chanyeol juga terhenti. Lantas membuat ketiga orang itu menoleh pada sumber suara.

“Apa.. aku mengganggu?”

Bukannya menjawab, ketiga orang dihadapan gadis bernama Jihee itu malah diam dengan raut wajah bodoh.

“Ah.. Aku tadi mendengar sedikit keributan dari sini, jadi kuputuskan untuk melihat apa yang terjadi. Dan ternyata, kalian.. Jadi, apa yang sedang kalian lakukan? Hehe” ucapnya diakhiri dengan tawa canggung.

“Eh? T-tidak.. Kami hanya sedang bercanda saja, hehe..” suara Sehun yang pertama menjawab kalimat-kalimat Jihee, lalu tertawa renyah. Kemudian ia sedikit menyenggol lengan kiri Yoorim seolah senggolan lengannya mewakili untuk berbicara ‘sampai kapan kau akan menggantung tanganmu? turunkan sekarang’. Yoorim lalu sadar dan langsung menurunkan tangannya. Lalu tersenyum canggung kearah Jihee.

“Begitukah? Lalu apa kalian sudah makan malam? Apa kalian mau pergi makan bersamaku?” Tanya Jihee. Chanyeol yang mendengar kata makan langsung saja tersenyum lebar.

“Ahh.. kebetulan sekali aku bel—“

“Chanyeol baru saja makan malam, benarkan?” tutur Sehun memotong ucapan Chanyeol sambil tersenyum, sementara tatapan matanya seolah berkata ‘biarkan-aku-pergi-bersamanya’. Chanyeol tadinya hendak protes, tapi saat ia sadar akan tatapan Sehun, mau tak mau ia hanya diam dan mengangguk malas.

“Lalu Yoorim? Kau akan ikut bersamaku, kan?” ajak Jihee lagi. Yoorim hanya diam, menatap lantai yang diinjaknya. Ia melihat tatapan Sehun pada Chanyeol tadi lewat ekor matanya, ia juga sadar akan maksud dari tatapan itu.

“Yoorim kau—“

“Aku ada keperluan lain setelah ini. Mungkin hanya Sehun yang akan menemanimu. Aku minta maaf” Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya ia sudah memotongnya cepat.

“Baiklah, tidak apa-apa. Sepertinya hanya kau yang dapat kuandalkan, tuan Oh Sehun” ujar Jihee.

“Terimakasih, Jihee-ya. Kalau begitu cepatlah pergi, kau harus cepat-cepat makan, bukan?”

“Ne. Aku akan pergi sekarang. Ayo Sehun-ssi. Sampai jumpa lagi, ya!”

Yoorim hanya mengangguk sebagai jawaban. Saat keduanya telah cukup jauh dari tempatnya berdiri, Chanyeol bersuara,

“Yak! Kenapa kau tadi tidak ikut bersama mereka? Padahal kau bisa makan gratis jika ikut, dan yang paling penting kau bisa membungkus makanan untukku”

“Kau ini seperti tidak punya uang saja untuk membeli makan. Rumahmu yang sudah seperti istana itu masa tidak punya makanan? Sudahlah, lebih baik kau antar aku pulang.”

Chanyeol hanya mencebikkan bibirnya tak berniat menjawab Yoorim. Ia lebih memilih menurut saja untuk mengantar Yoorim pulang.

***

Sekarang sudah hampir tengah malam. Yoorim belum juga bisa tertidur karena Sehun terus menghantui pikirannya. Tubuhnya lelah dan ingin beristirahat, tapi tidak dengan mata dan otaknya. Berbagai pemikiran tentang Sehun terus bermunculan di benaknya.

 

Oh Sehun, orang-orang bilang aku dan Jihee adalah gadis beruntung yang bisa dekat denganmu, tapi kupikir tidak. Memiliki hubungan dekat denganmu itu justru menyakitkan bagiku. Yah, walaupun itu karena kesalahanku sendiri. Lagipula gadis sepertiku sungguh tak sebanding dengan Han Jihee. Setidaknya gadis membosankan sepertiku masih cukup beruntung untuk menjadi salah satu orang terdekat bagi laki-laki idaman para gadis sepertimu.’

Yoorim menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya. Mencoba membuang jauh-jauh pikirannya tentang lelaki itu. Ia terus bergeliat di tempat tidurnya mencari posisi nyaman agar bisa tertidur.

***

Sangat pagi sekali Yoorim telah berada di sekolah. Tentunya kelas masih sangat kosong. Ia duduk dibangkunya sambil membaca buku. Tubuh dan matanya kini sangat lelah, karena ternyata Yoorim tidak tidur semalam. Selama satu jam berkali-kali ia hampir ketiduran saat membaca bukunya. Baru saja jatuh terlelap, bel sekolah berdering membangunkannya.

Rasanya ia benar benar mengantuk dan tidak mampu untuk mengikuti pelajaran. Yoorim bahkan tidak sadar bahwa teman sebangku yang juga sahabatnya, Sehun, belum juga datang sejak bel 15 menit yang lalu.

Sreett

Joseonghamnida aku terlambat, Kim sonsaengnim.” Guru Kim hanya mengangguk dan menyuruhnya duduk.

“Eo? Sehun kau baru dating? Apa yang terjadi? Tumben sekali kau terlambat.” tanya Yoorim

“Tidak terjadi apa-apa. Aku hanya sedikit terlambat bangun tadi.” jawab Sehun santai sambil tersenyum. Yoorim hanya mengangguk mengerti.

“Begitukah? Baiklah.. Oh ya, Sehun, saat istirahat temani ak—”

Mianhae, Yoorim. Aku ada janji dengan seseorang. Aku tidak bisa menemanimu. Mian. Tak apakan bila kau pergi sendiri?”

“Eo? G-geurae..” ucap Yoorim sambil sedikit memaksakan senyum. Yoorim bahkan belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Sehun sudah memotongnya duluan, dengan wajah tanpa dosanya.

***

Saat istirahat Yoorim pergi ke perpustakaan sendiri. Sebenarnya ia ingin bertanya kepada Sehun dengan siapa ia mempunyai janji, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia tak mau dianggap seperti ikut campur dalam urusan Sehun, walaupun ia juga sahabat dari laki-laki itu.

Sedang serius membaca, perutnya tiba-tiba sakit. Yoorim baru ingat bahwa ia belum sarapan. Dia menutup bukunya dan bergegas pergi ke kantin. Dasar bodoh, untuk sarapan saja kau lupa, monolognya dalam hati.

Ia berjalan menuju kantin dengan terburu-buru sambil memegang perutnya dengan kepala tertunduk. Tak sengaja ia menabrak seorang gadis yang tingginya 3 senti lebih darinya. Astaga Joo Yoorim, disaat seperti ini kau masih saja ceroboh.monolognya lagi sambil mengernyitkan dahi merutuki tingkahnya.

 

“M-mian—”

“Maaf atas kecerobohanku. Maaf..” ucap yeoja itu memotong ucapan Yoorim. Spontan Yoorim mendongak untuk melihat siapa orang yang malah minta maaf karena ditabrak. Matanya membulat saat melihat tiga orang di depannya.

“Mwo? Joo Yoorim?” ucap seseorang diantara mereka.

“Sehun, Chanyeol, Jihee-ya?”

“Ah bagus! Hey, Nona Joo, kau mau kemana? Aku boleh ikut tidak? Aku merasa tidak dianggap jika bersama mereka. Mereka terus saja berdua, mengacuhkanku. Aku sudah seperti obat nyamuk jika seperti ini” Ucap Chanyeol.

“H-ha? A-aku mau ke kantin.. Ne, tentu saja kau boleh ikut.” Balasnya kebingungan.

“Yaak Park Chanyeol! Kau jangan menyalahkan kami jika mengacuhkanmu! Kau saja yang tidak ikut bergabung bersama kami!” seru Sehun sambil menjitak kepala lelaki bertelinga lebar itu. Jihee disampingnya hanya melihat Sehun dan Chanyeol bergantian sambil tersenyum geli.

“Hey, berhenti memukul kepala indahku! Dasar porselen! Kajja kita pergi. Aku juga lapar, lapar dianggap lebih tepatnya~” sindirnya diakhiri dengan senyuman miring pada Sehun.

Chanyeol menarik tangan Yoorim. Jemarinya yang besar memegang erat pergelangan tangan Yoorim. Bahkan Sehun saja belum pernah memegang tangannya, apalagi seerat ini.

“Yaak! Dasar Yoda! Awas kau!” teriak Sehun sambil mengangkat tangan kanannya lagi siap untuk menjitak Chanyeol. Tapi Jihee menepuk bahunya dan membuat tangan kanannya turun.

“Sudahlah, ayo, kita masih harus bertemu ketua Moon setelah ke perpustakaan.” ujar Jihee lembut dengan senyumannya. Sungguh, bagaimana Sehun tidak jatuh cinta dengan Jihee jika senyumannya benar-benar menawan?

Yoorim menoleh kebelakang dan dilihatnya Sehun berjalan berdua dengan Jihee sambil saling melempar senyum. Ia dapat melihat senyuman sang lelaki untuk Jihee berbeda. Lebih terkesan bahagia, mungkin? Entahlah. Yang jelas pandangan yang didapati Yoorim mampu membuat hatinya tersayat.

.

Kini si gadis pemilik surai kecoklatan dan lelaki bertelinga lebar itu tengah menyantap makanan mereka di kantin. Di nampan milik Chanyeol terdapat banyak makanan yang porsinya cukup untuk tiga orang. Ia memakannya dengan lahap sambil mengoceh tidak jelas tentang Sehun dan Jihee.

“Mereka itu menyechchm, akuchm diacuhchmchm chmchm saja oleh chmchm merechmchm. Teruchm sachmchm berduchmchm—“

“Kunyah dulu lalu telan, baru bicara. Kau terlihat seperti kuda jika seperti itu.”

“Ahh aku benachm benchmchm kesalchmchm dengan mereka! ucapnya lalu menelan makanannya.

“Kau tahu tidak, Sehun itu jadi menjengkelkan setelah teaternya bersama Jihee. Ah maksudku jadi lebih menjengkelkan. Hah dasar, selama ini aku yang membantunya berkencan. Kalau seperti ini aku jadi malas membantunya berkencan lagi.” ucap Chanyeol sambil mengaduk kesal minumannya.

Yoorim yang mendengar perkataan Chanyeol langsung menghentikan sejenak makannya.

Sehun berkencan dengan Jihee? Sejak kapan?

“Hey, Chanyeol, Kau bilang tadi Sehun dan Jihee berkencan? Maksudku, makan malam kemarin apakah…”

“Termasuk kencan mereka maksudmu? Ne. Kau tidak tahu? Sehun tidak memberitahumu? Hahh sahabat macam apa dia itu!” ujarnya lalu menghela nafas, kemudian melanjutkan,

“Jadi begini, kau tahu sendiri, kan, tim teater memilih Sehun untuk berpasangan dengan Jihee, semenjak itu Sehun dan Jihee sering menghabiskan waktu bersama sebelum pementasan. Entah itu untuk berlatih atau hanya sekadar makan bersama. Yah seperti yang kita tahu, Sehun menyukai Jihee, dan Jihee ternyata juga menyukai Sehun sejak proyek drama itu. Lalu ia memintaku untuk membantunya berkencan dengan Jihee. Mereka sudah berkencan… dua, ani, tiga kali, kurasa. Dan Sehun bilang akan menyatakan perasaannya saat Jihee ulang tahun nanti. Dan sekarang si albino itu malah tidak tahu terimakasih padaku. Dasar bocah tengik.” Jelasnya panjang lebar.

DEG

 

 

Dahinya yang berkerut menyimak ucapan Chanyeol tergantikan oleh matanya yang membulat setelah mendengar Sehun akan menyatakan perasaannya. Hey, apa ini? Kenapa Sehun tak pernah bercerita kepadaku?

 

“Lalu kapan ulangtahun Jihee?”

“3 hari lagi, kurasa. Ada apa?”

“Tidak.. Hanya bertanya saja.. Gomawoyo sudah menceritakannya.” Ucap Yoorim sambil menunduk masih mencoba mencerna cerita Chanyeol. Dadanya sesak.

“Emm, Chanyeol-a, kurasa aku harus pergi. Lanjutkan saja makanmu. Sampai nanti”

Chanyeol sedikit kebingungan melihat tingkah Yoorim. Tapi ia memilih melanjutkan makannya dibanding bertanya ada apa atau mau kemana pada gadis itu.

Yoorim pergi ke kelasnya. Cerita Chanyeol masih memenuhi pikirannya. Air matanya satu persatu menetes dari pelupuk matanya. Beruntung di kelasnya saat ini tidak ada siapa-siapa. Hatinya hancur sekarang. Ketakutannya selama ini akan datang. Dan ia sama sekali belum siap untuk merelakan Sehun. Apa yang harus aku lakukan untuk melupakannya?

 

Sehun masuk ke kelas tanpa Yoorim sadari. Yang ia dapati pertama kali saat menginjakkan kakinya ke dalam kelas adalah Yoorim duduk sendirian di bangkunya sambil menunduk.

“Ya, Yoorim-a..” ucapan Sehun membuat Yoorim tersentak dan spontan mendongak ke atas. Sialnya ia lupa menghapus airmatanya.

“Yak Yoorim-a! Wae? Apa yang terjadi?!”

“A-ani, tidak ada apa-apa..” ucapnya sambil menunduk kembali dan menghapus kasar airmatanya.

“Tidak. Sesuatu terjadi padamu. Ceritakanlah. Aku ini sahabatmu, jadi jangan menanggungnya sendiri, berbagilah kepadaku”

Mendengar perkataan Sehun membuat Yoorim semakin ingin menangis. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Berusaha menenangkan dan menguatkan hatinya. Lalu ia mendongak menatap kedua manik pria di hadapannya.

“Tidak. Tidak ada apa-apa. Percayalah padaku” Ucap Yoorim sambil memaksakan senyuman. Sebenarnya Sehun bingung dengan tingkah Yoorim. Tapi ia lebih memilih mengangguk dan diam daripada melontarkan pertanyaan. Ia berpikir Yoorim akan bercerita padanya saat moodnya sudah membaik.

.

Sepanjang jam pelajaran Yoorim dan Sehun saling diam. Mata mereka tertuju pada papan tulis tapi tidak dengan pikiran mereka. Sehun memikirkan apa yang terjadi dengan Yoorim, dan apa yang ia akan berikan kepada Jihee saat ulang tahunnya. Berbeda dengan Yoorim, yang ada diotaknya adalah perkataan Chanyeol saat di kantin tadi. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan kepada Sehun, tapi tangisnya akan pecah kembali bila ia berbicara.

“Em.. Yoorim-a. Mianhae, tapi kurasa kita tidak bisa pulang bersama hari ini. Aku akan pergi ke teater dulu bersama Jihee.. Apa.. tidak apa-apa?” tanya Sehun pelan sedikit ragu. Pertanyaan Sehun cukup membuat sesak di dada Yoorim muncul lagi. Takut tangisnya pecah, Yoorim hanya mengangguk mengerti.

***

Sore ini Yoorim mengganti channel-channel TV di rumahnya. Tidak ada satupun yang membuatnya terhibur. Ia memutuskan untuk jalan-jalan keluar. Yoorim tidak tahu harus kemana, moodnya masih dan benar-benar buruk. Ia memutuskan untuk pergi ke taman yang tak jauh dari rumahnya. Berniat menjernihkan pikiran atau menghirup udara segar, mungkin.

Kini sudah hampir satu setengah jam Yoorim duduk di taman sambil mendengarkan lagu memakai headsetnya dengan mata yang terpejam. Langit sore telah berganti dengan taburan bintang. Setelah pulang sekolah Sehun sama sekali tidak menghubunginya. Bersama dengan Jihee benar-benar membuat pemuda itu lupa dengan segalanya.

Malam semakin dingin. Yoorim melepaskan headsetnya dan berniat pulang. Tapi saat ia baru saja berdiri, ia mendengar suara yang familiar. Seperti suara Sehun dan.. Jihee.

Yoorim mencari sumber suara itu. Dan tepat saat ia menoleh ke belakang, bibir Sehun dan Jihee tengah bertautan. Sedetik.. dua detik.. tiga detik.. hingga detik kelima Jihee melepaskan bibirnya lebih dulu. Air mata lantas keluar dari pelupuk Yoorim. Baru saja tadi siang ia mengetahui hubungan Sehun dan Jihee kini ia harus melihat mereka dengan cara yang menyakitkan?

 

Yoorim kemudian memutar tubuhnya dan duduk kembali di bangku taman yang memunggungi tempat Sehun dan Jihee berdiri, takut bila Sehun tiba-tiba menyadari kehadirannya. Ia menangis sejadi-jadinya dalam diam. Sesak di dadanya yang sempat berkurang kini membuncah lagi.

Satu jam hingga hampir dua jam. Kini tak hanya dia yang menangis, langit seperti merasakan keadaan hatinya saat ini. Tetesan demi tetesan air turun cukup deras membuat tubuhnya kebasahan. Ia mulai berjalan pulang dibawah derasnya hujan sambil tetap menangis.

***

Pagi ini adalah pagi yang cerah bagi Sehun. Hatinya tengah berbunga-bunga karena Sehun akan berangkat ke sekolah bersama Jihee hari ini.

Lusa. Lusa Sehun akan mengutarakan cintanya. Entahlah, tapi Sehun malah merasakan kegugupannya sekarang. Padahal pengutaraannya akan dia lakukan hari lusa.

Setelah siap dengan segala kebutuhannya untuk sekolah, pemuda itu setengah berlari menuruni tangganya.

“Eomma, appa, aku berangkat dulu. Sampai jumpa. Saranghae!” ucapnya sambil berlari kecil.

“Hey, sarapanlah dulu sebentar, Sehun-a!” ucap Nyonya Oh.

“Saranghae, eomma, appa!” lalu menghilang setelah pintu tertutup, tak mengindahkan perkataan ibunya. Tak sopan? Durhaka? Entahlah, Sehun hanya terlalu bersemangat.

Sehun berlari dari rumahnya menuju tempat yang dijanjikan bersama gadis yang memenuhi otak dan hatinya. Didapatkannya sosok Jihee tengah berdiri sambil menunduk.

“Jihee-ya,” membuat sang pemilik nama tersebut mendongak.

“Eo, Sehun-a. Selamat pagi, ayo berangkat!” jawabnya sambil tersenyum lebar.

***

Sehun dan Jihee tengah berjalan menuju sekolah. Keduanya terlihat seperti tengah berbunga-bunga. Senyuman tak pernah hilang dari wajah keduanya. Candaan konyol Sehun membuat Jihee tak henti-hentinya tertawa. Bagi Sehun, pagi ini adalah pagi paling cerahnya seumur hidupnya.

Tiba-tiba saja senyuman lebar Jihee hilang dan bibirnya pucat saat menyebrang. Dada Jihee tiba-tiba sakit hingga kesulitan bernapas, pandangannya buram dan akhirnya menghitam. Tubuhnya terkulai jatuh pingsan. Sehun yang melihatnya dengan sigap menangkap tubuh Jihee agar tidak jatuh kasar ke jalan. Sehun jelas panik, berusaha membangunkan Jihee. Tanpa Sehun sadari sebuah truk bergerak menuju mereka. Truk itu semakin dekat dan telah mengklakson berkali-kali. Sehun yang begitu panik dengan Jihee sama sekali tidak memperdulikan truk tersebut. Saat truk tersebut semakin dekat dengan mereka, tiba-tiba tubuhnya yang sedang mendekap Jihee terdorong ke pinggir jalan.

***

Sehun kini berada di rumah sakit. Sudah hampir 3 jam ia menunggu kabar dari dokter mengenai kondisi Jihee. Hatinya benar-benar gelisah. Ia sangat takut sesuatu terjadi pada Jihee, wanita yang ia cintai setelah ibunya. Yang bisa ia lakukan adalah berdoa dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Sebelumnya Jihee bilang bahwa kedua orangtuanya akan pergi ke Jerman hari ini. Maka Sehun mencoba menelpon kedua orangtua Jihee, berharap bahwa mereka belum pergi dari Korea. Namun sayang, telepon mereka tidak aktif. Masih dalam perjalanan, mungkin.

Tak lama, dokter yang menangani Jihee keluar dari ruangan tempat Jihee dirawat.

“Bagaimana, dokter? Keadaannya baik-baik saja kan?!” tanya Sehun khawatir. Sementara dokter menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya. Beliau terdiam sebentar.

“Maaf, tapi apa kau keluarga Nona Han Jihee?”

“A-aku.. aku.. Y-ya, aku kakaknya. Bagaimana keadaannya, dok?!” ucap Sehun berbohong. Tentu saja jika ia mengaku sebagai temannya, sang dokter tidak akan memberi tahu tentang keadaan Jihee.

“Keadaan Han Jihee.. buruk. Detak jantungnya sangat lemah. Kelainan jantung yang ia miliki tidak akan bekerja lebih lama lagi.”

DEG

 

 

Mata Sehun membulat tak percaya akan apa yang dikatakan oleh dokter. Sehun tak tahu bahwa selama ini dibalik sifat Jihee yang ceria ternyata memiliki kelainan jantung.

“Tolong, dokter. Lakukan segala cara untuk membuatnya tetap hidup. Tolonglah..”

“Satu-satunya cara adalah transplantasi jantung. Sayangnya kami tidak mempunyai persediaan jantung untuk dicangkokkan kepada Jihee saat ini, tapi kami akan berusaha keras untuk mendapatkan persediaan jantung secepat mungkin. Dan tuan boleh menjenguknya sekarang.” Ucap dokter sebelum membungkukkan badannya dan pergi.

Sehun terdiam sebentar kemudian masuk ke kamar rawat Jihee pelan. Air matanya perlahan berlinang.

***

Chanyeol yang baru sampai di rumah sakit berniat menjenguk Jihee. Saat ia berjalan cepat melewati lorong untuk mencari kamar Jihee, tak sengaja ia berpapasan dengan beberapa suster yang tangannya berlumuran darah tengah mendorong brankar. Ia sempat melihat orang yang ada di brankar itu sekilas, dahinya mengeluarkan banyak darah. Benar-benar mengkhawatirkan kondisinya. Setelah para suster lewat, Chanyeol kembali fokus mencari kamar Jihee. Dan tepat saat ia menoleh kearah lorong kecil, ia melihat Sehun baru saja masuk ke sebuah kamar.

“Oh Sehun!” panggilnya lalu ikut masuk ke dalam. Sehun menoleh ke arah Chanyeol. Matanya yang sembab menatap Chanyeol datar.

“Bagaimana kead—”

“Ia membutuhkan pencangkokan jantung.”

“A-apa?! Pencangkokan jantung?! Sebenarnya apa yang terjadi?!”

“Pagi tadi aku berangkat ke sekolah bersamanya. Awalnya biasa saja, dia terlihat sehat seperti biasanya. Tapi saat kami menyebrang, ia tiba-tiba pingsan dan wajahnya sangat pucat. Aku sangat panik sampai tak sadar ada truk yang posisinya sudah dekat dengan kami. Tiba-tiba saja seseorang mendorong kami ke pinggir jalan dan terjadi kecelakaan truk. Aku tak sempat melihat orang itu. Aku langsung pergi membawa Jihee ke rumah sakit menggunakan taksi. Dan dokter bilang, Jihee.. memiliki kelainan jantung. Transplantasi harus segera dilakukan untuk membuatnya tetap hidup. Sementara persediaan jantung.. tidak ada.” Ucap Sehun dengan suara serak. Ia menatap Jihee sendu. Sementara mata Chanyeol membulat tak percaya.

“Tunggu.. kau bilang tadi kecelakaan truk? Dan kau meninggalkan orang yang menyelamatkan kalian begitu saja? Tanpa membantunya sedikitpun? Lalu bagaimana jika keluarganya menuntutmu? Atau lebih parah lagi bagaimana jika ia meninggal ditempat, huh?!”

“Ne.. Aku tahu aku salah. Aku bingung dan begitu panik. Aku takut sesuatu terjadi pada Jihee.. Jadi yang ada dipikiranku hanya Jihee. Mianhae.“

Chanyeol hanya menghembuskan nafasnya lalu mengusap wajahnya kasar. Kemudian ia meninggalkan ruangan Jihee. Dasar bodoh, bagaimana bisa kau menelantarkan seseorang yang telah menyelamatkan hidupmu, Oh Sehun?ucapnya dalam hati.

 

Setelah keluar dari ruangan Jihee, ia berniat pergi ke minimarket untuk membeli air mineral. Tak sengaja ia mendengar percakapan seorang dokter dan suster membicarakan seorang pasien korban kecelakaan truk. Mengingat cerita Sehun tadi, ia penasaran dengan korban kecelakaan tersebut, bisa saja orang itu adalah orang yang menyelamatkan Sehun dan Jihee. Kemudian ia bertanya pada bagian informasi rumah sakit mengenai korban kecelakaan tersebut.

Setelah mendapat informasi mengenai sang ‘korban’, Chanyeol lantas berlari menuju ruang rawatnya. Dia benar-benar shock. Tak disangkanya yang menyelamatkan Sehun dan Jihee adalah dia.

 

 

***

3 bulan kemudian kondisi Jihee meningkat. Bahkan ia sangat sehat sekarang. Sehun bahagia bisa melihatnya lagi. Dan kini mereka berdua menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Tepat pada hari ulang tahunnya waktu itu Jihee menerima transplantasi jantung dan ia juga menerima pengutaraan Sehun.

Hari ini adalah hari kelulusan mereka. Tapi sejak kejadian Sehun yang hampir tertabrak sampai sekarang, Yoorim menghilang. Ia tidak masuk sekolah bahkan tidak mengikuti tes akhirnya. Ia juga tidak menghubungi siapapun. Teman-teman sekolahpun tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Yoorim. Hal ini membuat Sehun marah terhadapnya. Bisa-bisanya Yoorim sahabatnya sendiri menghilang begitu saja dan tidak datang untuk menjenguk Jihee waktu itu.

Sehun dan Chanyeol tengah berada di taman belakang sekolah. Mereka sedang bernostalgia pada saat-saat mereka pertama kenal sampai sekarang.

Sehuns pov

 

“Kau itu dulu benar-benar culun! Hahaha” kataku.

“Yak! Walaupun aku culun tapi aku berhasil masuk kelas unggulan! Daripada kau, menghabiskan tiga tahun hanya untuk mengejar seorang yeoja! Benar-benar mulia sekali” jawab Chanyeol mengejekku.

“Cihh.. dasar sombong. Inikan masa muda. Sudah sewajarnya mengejar perempuan! Tapi usahaku selama tiga tahun tidak sia-sia, bukan? Hahaha ya, ya, aku memang hebat”

“Terserah kau sajalah. Lagipula kelas unggulan terlalu bagus untukmu, hahaha”

“Kau itu menyebalkan ya. Sama seperti Joo Yoorim, kalian menyebalkan! Ngomong-ngomong, kemana anak itu sekarang. Menghilang begitu saja tanpa kabar. Dia bilang dia sahabatku, akan selalu bersamaku, mendukung apa yang aku lakukan, tapi kenyataannya omong kosong. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya, bagaimana bisa dia menghilang saat perempuan yang aku cintai sedang berusaha keras untuk hidup. Sedangkan waktu kakaknya yang sakit parah, aku menemaninya. Bodohnya aku dulu sempat menyukainya walaupun sebentar. Hah.. aku benci anak itu.”

Tiba-tiba saja senyuman lebar Chanyeol hilang. Ia menatapku tajam dan menumpahkan minuman yang ia pegang kepadaku. Tentu saja membuatku marah. Sangat marah.

“YAK! ADA APA DENGANMU, BODOH?!” sentakku.

“KAU YANG BODOH! Tidakkah kau merasa bersalah karena tidak menolong orang yang menyelamatkanmu waktu itu?! Tidakkah kau penasaran dengan orang yang mendonorkan jantungnya untuk orang yang kau cintai itu?! Dan apakah kau khawatir dengan hilangnya Joo Yoorim?! Ah ya, kau bahkan tidak pernah perduli!” sentaknya sambil menarik kerah bajuku. Aku terdiam. Dia benar. Aku tidak peduli dengan apapun. Aku bahkan tidak pernah memikirkan orang yang telah menyelamatkanku dan Jihee.

“Kenapa? Kenapa kau diam saja? Kau takut menjawabnya karena jawabannya adalah tidak kan?! Asal kau tahu, jika Yoorim tidak menghilang, mungkin kau dan Han Jihee sudah tiada sekarang! Aku sudah berjanji pada Yoorim untuk menyembunyikannya darimu, tapi kau begitu masa bodoh dengan hal ini, dan ini benar-benar keterlaluan!”

Perkataan Chanyeol membuatku sontak kaget. Apa maksud perkataannya? Apa hubungan hilangnya Yoorim dengan aku dan Jihee? Chanyeol menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya, kemudian melepaskan kerahku. Tatapannya kini tidak setajam tadi, tapi ia lebih memilih membuang mukanya dariku.

“Awalnya aku bertemunya tak sengaja. Di rumah sakit yang sama dengan Jihee. Joo Yoorim. Sahabatmu. Sahabat kita. Dialah yang mendorongmu dan Jihee saat kalian hampir tertabrak, dan ya, truk itu menabraknya. Dahinya mengeluarkan banyak darah. Ia sempat koma, dan saat ia tersadar kau tahu siapa yang ia tanyakan pertama kali kepadaku? Kau. Dan siapa yang ia tanyakan selanjutnya? Orang yang kau cintai, Han Jihee. Apa dia menanyakan tentang kondisinya? Tidak. Bahkan ia tidak peduli dengan kondisinya. Setelah tahu kondisi Jihee saat itu, tanpa pikir panjang ia memutuskan untuk mendonorkan jantungnya. Alasannya adalah,” ia menggantung ucapannya, kemudian menghela nafas, lalu melanjutkan,

“Karena ia mencintaimu. Satu tahun lebih lama dari kau yang mencintai Han Jihee, atau lebih tepatnya saat kita duduk ditahun akhir SMP. Dia tahu kau akan sangat patah hati bila Jihee meninggal, maka dari itu Yoorim mendonorkan jantungnya agar Jihee bisa tetap hidup. Ia bilang dia tidak mau kau merasakan apa yang ia rasakan selama ini. Sakit hati. Kau tahu, kan, setelah kedua orangtua dan kakaknya pergi, ia hidup sendirian. Ia tidak merasakan kasih sayang lagi, bahkan darimu. Kau mulai melupakannya saat kau bertemu Jihee,atau lebih tepatnya saat kita duduk di tahun awal SMA. Tapi apa dia pergi meninggalkanmu karena ketidak pekaanmu terhadapnya? Tidak. Ia selalu ingin bersamamu. Tapi takdir berkata lain. Dan setelah ia mengorbankan nyawanya kau malah membencinya.” jelasnya lalu tersenyum miris.

DEG

Aku yang mendengarnya jelas terkejut.

Astaga. Oh Sehun, kau benar-benar bodoh. Kau jahat sekali. Bagaimana bisa aku benar-benar tidak tahu tentang ini? Bagaimana bisa aku tidak merasakannya selama ini?

“Kau terkejut, bukan? Aku yang mendengar pengakuannya secara langsung juga merasakan sama sepertimu, apalagi dengan keadaannya yang lemah saat itu sambil air matanya terus mengalir. Bayangkan, Sehun. Bayangkan seberapa dalamnya ia jatuh cinta padamu. Seberapa besar cintanya untukmu, sampai ia rela kehilangan nyawanya hanya untuk membuatmu tetap bahagia” ucapnya lagi lalu menarik nafas dan menghembuskannya.

“Yoorim sebenarnya tidak ingin kau tahu tentang semua ini. Ia hanya ingin kau hidup bahagia setelah masa-masa kemarin. Tapi jika sesuatu terjadi, atau memang pada akhirnya kau harus tahu tentang semua ini, maka Yoorim menitipkan sesuatu untukmu.”

Chanyeol membuka dan merogoh tas sekolahnya. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia menutup kembali tasnya dan menyerahkan benda persegi panjang tipis dan kecil kepadaku.

Eh? Sebuah iPod milik Yoorim?

“Yoorim bilang ia menyimpan voice note untukmu. Dan ia dimakamkan di pemakaman Jeongeup. Datanglah untuk berziarah, Oh Sehun.” lanjutnya.

Aku bergegas pergi ke pemakaman Jeongeup dengan mobil yang kubawa. Sesampainya disana hatiku benar-benar hancur. Aku menaruh sebaket bunga diatas pusaranya. Meneteskan air mata, menyadari kebodohanku yang kelewat brengsek.

Aku masih berlutut disebelah pusaranya. Tangan kananku merogoh saku celana untuk mengambil iPod milik Yoorim. Kucari voicenote yang ia maksud di deretan file-filenya. Sampai sebuah nama menghentikkan gerakan jariku di layar benda itu.

For sehoon.m4a

Kutekan file itu, kemudian suara lembut yang sudah lama tak kudengar menyambutku.

Annyeong, Sehunnie. Ah, aku bahkan tidak pantas memanggilmu seperti itu, ya, haha..

Hey, ini aku, Joo Yoorim, apa kabarmu sekarang? Kau pasti sudah tahu, kan, sekarang aku berada dimana? Dan kau pasti juga sudah tahu, kan, mengapa aku bisa berada disana? ujarnya diakhiri dengan suara tawa lembut dan pelan, kemudian melanjutkan,

Aku baik-baik saja. Yah walaupun sebelum berada disana keadaanku mungkin bisa dibilang buruk.. tapi sudahlah. Semuanya sudah berakhir, bukan?

Mungkin Chanyeol sudah menceritakan semuanya padamu. Termasuk perasaanku, yang menyukaimu, ah, bukan, aku bahkan sudah mencintaimu. Hahaha.. ini memalukan, sungguh. Tapi percayalah, Oh Sehun. Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Bahkan sebelum kita duduk di bangku SMA. Sebelum kau bertemu dengan Han Jihee..

Bicara tentang Jihee, bagaimana keadaannya? Sudah sehat, kah? Karena kuharap begitu. Walaupun aku sudah tiada, tapi setengah dari diriku masih tetap hidup. Tapi tenanglah, aku tidak akan menghantuimu atau siapapun, haha..

 

Hey, tuan Oh. Aku ingin mengucapkan terimakasih, terimakasih banyak. Terima kasih kau telah berada disampingku saat sebelum maupun setelah keluargaku ke surga terlebih dahulu. Terimakasih telah membuatku bangkit dari keterpurukan saat itu. Terimakasih telah memperbolehkanku tinggal di rumahmu saat itu setelah keluargaku pergi. Terimakasih telah mengizinkanku untuk menjadi sahabatmu. Terimakasih telah memaafkan semua tingkahku yang merepotkanmu. Dan terakhir.. terimakasih telah menjadi cinta pertamaku. Dan kuharap, dengan tetap hidupnya seseorang yang membuatmu jatuh cinta aku sudah membalas semua budimu.

 

Percayalah. Jantung itu selalu berdetak untukmu, akan selalu dan hanya untukmu. Walaupun kini jantung itu hidup di raga yang berbeda.

 

Saranghae, Oh Sehun.

Air mataku menetes untuk kesekian kalinya saat Yoorim menyelesaikan kalimatnya. Aku benar-benar menyesal. Aku terlalu buta. Aku mengejar sesuatu yang jauh, tanpa menyadari bahwa di dekatku ada sesuatu yang lebih berharga ketimbang yang aku kejar. Dan aku telah beranggapan negatif atas kebaikannya selama ini. Dasar bodoh. Betapa brengseknya kau, Oh Sehun.

Joo Yoorim, mianhae. Aku benar-benar minta maaf. Aku bodoh. Dan aku benar-benar menyesal. Tak seharusnya gadis yang hatinya sebaik malaikat sepertimu harus menderita seperti ini karena lelaki bajingan sepertiku. Jeongmal mianhae.. Walaupun perkataan maafku tak akan pernah sebanding dengan rasa sakit yang kau rasakan selama ini, tapi percayalah, aku benar-benar menyesal. Semoga kau bahagia di sana. Bersama Tuhan, Ayah, Ibu, dan kakakmu.

Terimakasih untuk semua yang telah kau lakukan.

 

Nado saranghae, Joo Yoorim.

 

 

 

-final-

 

 

***

Akhirnya selesaiiii! Gilak ini oneshoot panjang bener, ga yakin juga bisa disebut oneshoot apa engga. Alurnya emang maksain, kurang masuk akal, dan yang udah pasti kecepetan. mianhaeeee.

Anyway makasih sudah mau baca walaupun emang ngezonk. Semoga ngga nyesel deh he-he.

Ditunggu komennya, boleh kasih kritik langsung mention ke @aldaivernx.

Sekian dan Terima Sehun :3 ❤

Advertisements

3 thoughts on “[Freelance] Sacrifice”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s