Nasty Scar

nasty scar

Author            : Breeze_

Tittle               : Nasty Scar

Cast               : Oh Sehun and Kim Jongin (EXO), and OCs

Genre             : Angst, Sad Romance

Length            : One Shoot

Rate                : T

“Aku tahu kau mengirim salju-salju ini agar aku tidak melupakanmu, bukan ?”

Note : Already post here. Its completely mine also Sehun and Kai.#lol. Happy reading

Hawa dingin menyeruak masuk menembus kulit putih seorang namja yang tertidur pulas. Memaksanya untuk bangun dan melihat keadaan sekitar. Hal pertama yang ia lihat setelah membuka mata adalah…

“Salju.” Namja itu berujar pelan lalu berjalan menuju jendela yang tak jauh dari ranjangnya.

“Apa ini salju yang mengantarkan kepergianmu ?” tanpa sadar namja itu membuka jendela dan membiarkan angin dingin menerpa tubuhnya.

“Yak ! Sehun-ah ! Tutup jendela itu ! Aku kedinginan !” Suara berat Kai membuyarkan lamunan Sehun. Ia lalu menutup jendela, tapi tidak lantas meninggalkan tempatnya berdiri sekarang. Sehun masih disana, menatap salju yang berjatuhan dan menyusun kembali potongan-potongan memori kelam yang telah ia singkirkan.

xxx

“Sehun-ah, apa hari ini kau ada acara ?” tanya Kai.

“Uh ? Tidak juga.” jawab Sehun. Kai menepuk tangannya keras begitu mendengar jawaban Sehun.

“Kalau begitu, ikutlah denganku !” ucap Kai riang. Pagi ini tampak cerah setelah semalaman salju turun menghujani jalanan kota Seoul.

“Aku sedang tidak berselera untuk pergi kemanapun.” jawab Sehun tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop.

“Yak ! Ini hari yang cerah, rugi jika tidak keluar !” Kai menutup paksa laptop Sehun, membuat game plants vs zombie yang sedang asik dimainkan olehnya terhenti seketika. Sehun menghembuskan nafas pelan lalu menatap Kai dengan enggan. Ia baru sadar kalau teman sekamarnya ini telah memakai setelan rapi, jauh berbeda dengan cara berpakaian biasanya.

“Wow wow wow ! Apa kau akan melamar kerja ? Bajumu rapi sekali.” komentar Sehun.

“Begitukah ? Aku akan pergi berkencan. ‘Kencan Buta’ ! Dan aku sudah janji akan membawamu.”

“Mwo ? Andwe ! Lupakan saja !” tolak Sehun. Ia mulai membuka laptopnya lagi, tapi dengan cepat dicegah oleh Kai.

“Ayolah ! Kau harus ikut !!” bujuk Kai.

“Tidak akan !” ucap Sehun tegas.

xxx

“Hai ! Seonkyu ?” Kai menunjuk salah satu gadis yang menjadi teman ‘kencan buta’nya dan yang ditunjuk langsung mengangguk cepat.

“Kau pasti Kai. Ini temanku, Jiyeon.” ucap gadis yang tadi ditunjuk oleh Kai.

“Dan ini Sehun, temanku yang paling tampan.” Kai merangkul bahu Sehun, sedang Sehun hanya bisa tersenyum canggung. Ia akhirnya terbujuk oleh rayuan Kai dan mengikutinya sampai dicafe ini.

Setelah makan, mereka lalu pergi ke taman hiburan. Mereka menaiki beberapa wahana bersama, bercerita pengalaman sendiri‐sendiri, dan menikmati beberapa jajanan disana. Semua itu membuat Sehun melupakan masalahnya sesaat.

“Akh… kau payah, Kai ! Jiyeonku saja tidak berteriak sekencang dirimu.” Sindir Sehun.

“Jiyeon‐mu ?” Semburat merah terlihat jelas kedua pipi Jiyeon. Sehun menggaruk rambutnya pelan, Ia juga tidak tau kenapa bisa berbicara seperti itu.

“Salju !” mereka berempat sontak memandang langit yang *entah sejak kapan* diselimuti awan‐awan tebal tak bersahabat. Setitik salju berhasil mendarat mulus dipipi kanan Sehun, memberikan sentuhan ringan dan lembut, juga dingin tentunya. Sebuah ingatan terbesit dibenaknya, membuatnya sedikit gontai dan akhirnya terjatuh.

“Oppa, kau tak apa ?” tanya Jiyeon. Sehun tidak menjawab, ia terlalu sibuk dengan fikirannya sendiri. Serentetan informasi pilu menyeruak masuk memenuhi otaknya, membuatnya sedikit pusing.

“Ini badai ! Kita harus berteduh !” Suara Kai terdengar kurang jelas karena deru angin dan salju yang turun sangat deras. Sehun bangkit dan segera berlari entah kemana. Jiyeon ingin mengejarnya namun langkahnya tertahan oleh tarikan tangan Kai.

“Biarkan dia ! Kita berteduh saja.” ucap Kai agak keras. Seonkyu dan Jiyeon mengangguk dan berjalan mengikuti Kai.

“Sehun oppa, dia kenapa ?” tanya Seonkyu setelah mereka masuk kesebuah cafe.

“Dia…” Kai menggantung kalimatnya, memikirkan kata yang tepat untuk menjelaskan keadaan Sehun.

“Hanya memiliki pengalaman buruk dengan salju.” Lanjutnya.

xxx

Sehun merapatkan jaketnya dan menggosok kedua tangannya. Badaui salju yang turun sangat tiba-tiba ini membuat suhu kota Seoul menurun drastis, tak heran banyak orang yang memilih singgah dirumah, namun lagi-lagi Sehun lebih memilih untuk menantang dinginnya alam, setidaknya hal itu membuat Sehun merasa tidak sendiri.

“Chagiya, kau nakal sekali…” Sehun mendongak, menatap langit yang masih melemparkan butiran putih dengan ganasnya.

“aku tau kau mengirim salju-salju ini agar aku tidak melupakanmu, bukan ?” Sehun lalu tersenyum, senyum sinis karena orang yang diajaknya bicara mungkin tidak akan pernah mendengarnya.

“Sehun Oppa !” Teriak seorang gadis samar, Sehun tau benar suara itu, sebuah suara yang tidak lagi bisa didengar olehnya. Sehun menggeleng, ia pasti terlalu memikirkan gadisnya itu hingga bisa mendengar suaranya.

“Yak! Hunnie…” Panggil gadis itu lagi.

“Yu..Yunhae ? Kim Yoon Hae ?” Sekarang Sehun yakin suara itu nyata. Sehun menengok kekanan dan kekiri, mencari-cari sumber suara itu.

“Oh Se Hoon ! Kenapa kau tidak bicara ?” Sehun menunduk dan mendapati suara yang sejak tadi didengarnya berasal dari telepon genggam yang dibawanya. Sehun lantas menempelkan HPnya ketelinga.

“Yunhae-ah?” Sapa Sehun.

“Akhirnya kau bicara juga, aku sudah kedinginan dan bisku belum datang, kau mau menjemputku ?” Tanya Yunhae.

“Yunhae, katakan padaku bahwa ini bukan mimpi,”

“Yak ! Aku sangat kedinginan disini, mimpimu nanti saja !” Gerutu Yunhae.

“Ini benar-benar Yunhaeku.” Sehun tersenyum gembira meski ia masih tidak mengerti akan semua ini.

“Tentu saja ini aku, eoh ! Kau aneh sekali. Jadi, mau tidak menjemputku ?” Sehun langsung mengangguk antusias.

“Kau dimana sekarang ?” Tanya Sehun.

“Aku ada dihalte biasa, tapi sepertinya busku tidak akan datang karena badai, jemput aku Sehun-ah…”

“Kau dihalte?” Sehun mengerutkan keningnya”Aku berada tepat didepan halte itu, tapi diseberang jalan…” Sehun memicingkan mata, mencari keberadaan Yunhae.

“Um, apa kau memakai jaket hitam?” tanya Yunhae.

Sehun memeriksa jaketnya lalu mengangguk. “Ya, aku pakai jaket hitam.”

“Oh, itu kau? Kukira tiang listrik.” canda Yunhae. Ia lalu melambaikan tangan agar Sehun dapat melihatnya. Sehun balas melambai dari seberang.

“Aku kesana.” ucap Yunhae

Flip. Sambungan terputus.

Sehun lalu melihat gadisnya berlari-lari kecil kearahnya, Sehun tersenyum lebar melihat itu. Dari arah lain, sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi. Sehun kembali melihat kearah Yunhae, gadis itu berdiri tegak ditengah jalan sambil tersenyum kearah Sehun.

“Yunhae-ah!!! Ada mobil !” Sehun mencoba berteriak sekuat tenaga, tapi sepertinya suara Sehun tidak dapat mencapai telinga Yunhae. Tanpa fikir panjang Sehun berlari kearah Yunhae dan menangkap tubuh gadis mungil itu, tapi yang digenggamnya hanyalah..

“Salju..?” Sehun menjatuhkan butiran putih ditangannya. Ia menoleh kearah kiri dan benar saja, truk merah dengan kecepatan tinggi melaju kearahnya. Sehun tersenyum sekilas, lalu memejamkan mata. Ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

DDAK !

Sehun merasakan nyeri dilengan kirinya. Ia perlahan membuka mata dan mendapati sedikit goresan disikunya. Ini cukup aneh mengingat laju mobil tadi cukup kencang.

“Yak ! Sehun-ah.. Kau ingin mati, huh?” bentak Kai.

“Kai? Kau? Apa yang terjadi?” tanya Sehun bingung. Kai yang mendapat pertanyaan lebih bingung lagi.

“Kau tidak ingat? Kau hampir tertabrak mobil ! Untung saja aku menyelamatkanmu.” papar Kai.

“Oppa! Kalian tidak apa-apa?” tanya Seonkyu.

“Yaah.. Bisa dibilang begitu.” Kai memijat kepalanya yang sempat terbentur trotoar tadi.

“Sehun oppa, kenapa kau tiba-tiba berlari ketengah jalan?” tanya Jiyeon. Sehun kembali mengingat kejadian tadi, potongan-potongan kejadian telah terangkai diotaknya. Kini ia telah mengerti sepenuhnya alur cerita yang diciptakan oleh otaknya sendiri.

“Kai.. Tadi Yunhae-”

“Yunhae, yunhae, yunhae lagi ! Dia sudah mati Hun ! Sadarlah ! Jika kau ingin bertemu lagi dengannya, tertabrak mobil bukan cara yang tepat !” Kai mengutarakan kalimat-kalimat kasar itu tanpa disadarinya. Ia begitu emosi karena Sehun belum juga melupakan kematian kekasihnya itu.

Mendengar pernyataan dari Kai, entah kenapa hati Sehun terasa sangat sakit. Janji-janji yang ia buat, lagu-lagu yang sering ia nyanyikan, tempat-tempat yang sering ia kunjungi, dan kenangan indah bersama Yunhae, semua memori telah Sehun lupakan kini kembali lagi. Seperti seratus peluru mendarat tepat dikepalanya, seperti itulah ingatan tentang Yunhae menyakitinya. Sehun sedikit mengerang saat rasa pening menyerang kepalanya.

“Sehun-ah, mi..mianhae..” Kai tidak tahu harus berbuat apa. Sehun terus saja mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.

“Oppa, haruskah kupanggil ambulance ?” tanya Jiyeon.

“Ah, ya. Cepatlah.” ucap Kai resah. Tapi sedetik kemudian Sehun bangkit dan berlari meninggalkan mereka bertiga(lagi).

“Sehun-ah ! Oh Sehun !!” panggil Kai.

“Oppa, sudahlah. Mungkin Sehun oppa ingin sendiri dulu.” ucap Seonkyu menenangkan.

“Tapi oppa, kau masih berhutang penjelasan pada kami.” kata Seonkyu lagi. Kai menghembuskan nafas berat. Sebenarnya ia tidak mau mengungkit hal ini lagi, namun tatapan tajam kedua gadis didepannya ini membuatnya tidak bisa berkutik. Ia juga sedikit merinding ketika melihat kilatan di bola mata Jiyeon.

“Pertama-tama, bisakah kita cari tempat duduk dulu? Disini tidak nyaman.” Kai memegang tengkuknya.

xxx

“Oh Sehun, dia dulu punya kekasih, namanya Kim Yunhae. Dan, hubungan mereka berakhir tragis dijalan ini.” Kai menunjuk jalan beraspal yang telah tertutup salju sepenuhnya. Ia, Jiyeon, dan Seonkyu memutuskan duduk di halte bus didepan jalan tempat Sehun hampir tertabrak tadi.

“Berakhir tragis ?” Seonkyu masih tidak mengerti alur cerita Kai.

“Satu tahun yang lalu, saat badai salju menghujani kota Seoul, Yunhae mengalami kecelakaan dijalan ini, Ia mengalami tabrak lari dan meninggal ditempat.” jelas Kai.

“Ah~ aku tau kisah itu. Tidak ada yang tau persis kejadiannya. Dan hanya ada satu saksi mata, seorang mahasiswa. Tapi dia tidak mau berkomentar apapun.” ucap Jiyeon.

“Bagaimana kau tau ?” tanya Seonkyu.

“Aku meliput berita itu untuk koran sekolah.” jawab Jiyeon.

“Kau benar Jiyeon-ah, dan mahasiswa yang melihat langsung kejadian itu adalah Oh Sehun. Karena itu ia sangat terpukul.” Kai menatap kosong jalanan didepannya. Sehun telah mengalami hari-hari yang buruk setelah kejadian itu, Ia hanya ingin mengajak Sehun bersenang-senang, namun sepertinya tidak berhasil. Malah berakhir sangat buruk.

Hening. Tidak ada yang berniat untuk bicara, mereka bertiga larut dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya handphone Kai berbunyi.

Kai mendapatkan sebuah pesan baru dari Sehun. Ia sedikit mengerutkan dahinya ketika membaca isi pesan itu. Pesan itu hanya berisi sebaris kalimat, tapi mempunyai makna tersirat yang mampu membuat jantung Kai memompa darah dua kali lebih cepat.

“Dari Sehun oppa ?” Tanya Seonkyu.

“Ne, sepertinya aku harus cepat pulang.” ucap Kai.

“Wae ? Ada masalah ?” tanya Yunhae.

“Tidak, hanya saja…aku mempunyai firasat yang buruk. Kalian mau kuantar ? Aku bawa mobil.” tawar Kai.

“Tidak usah, cepat temui Sehun oppa.” ucap Seonkyu. Kai mengangguk lalu bergegas menuju tempatnya memarkir mobil tadi.

xxx

Kai membuka pintu apartemennya dengan kasar. Sesuai dugaannya, Sehun sudah pulang. Jaket dan sepatunya berserakan dilantai. Tapi, dimana dia ?

“Sehun-ah !” panggil Kai. Tidak ada sahutan. Kai hanya menebak kalau Sehun telah dirumah kerena pintu apartemen mereka tidak terkunci, dan juga barang-barang didalam rumah berantakan. Yeah, rumah mereka memang selalu berantakan, tapi foto Sehun dan Yunhae diruang tamu selalu terawat. Tapi kini, kedua foto kesayangan Sehun itu telah tergeletak dilantai dengan bingkai pecah. Jelas sekali kalau kedua foto itu baru saja dibanting, dan Kai yakin kalau Sehun yang melakukan itu. Atau, ada maling ? Yeah, Kai tidak bermaksud berfikiran seperti itu disaat seperti ini. Tapi itu mungkin, bukan ?

“Sehun-ah ! Kau dimana ?” panggil Kai lagi. Sehun tidak ada dikamar, kamar mandi, atau dapur. Hanya ada satu tempat yang belum Kai lihat. Balkon. Kai tidak bersemangat untuk melihat kesana, ia takut akan melihat hal yang tidak ingin dilihatnya. Tapi ia tetap kesana untuk mencari Sehun.

“Sehun, kau-” Kai tercekat ketika membuka pintu balkon. Sehun ada disana, dengan senyum pucat dan handphone ditangan kanannya, tapi bukan itu yang membuat Kai ngeri. Diperut Sehun tertancap sebilah pisau dapur dan disekeliling tubuhnya tergenang darah segar. Kai terduduk lemas dan menangis sejadi-jadinya. Layar handphone Sehun masih menampilkan pesan singkat yang beberapa waktu lalu ia kirim untuk Kai. Ia membacanya-pesan terakhir dari sahabatnya :

Kai, terimakasih. Aku telah menemukan cara yang tepat untuk bertemu Yunhae.’

__FIN__

Advertisements

2 thoughts on “Nasty Scar”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s