Erase

image

                         Erase
.
.
                   Parkhyunraa
          Oh Sehun | Jung Dae In     
                  Park Chanyeol   
            Sad | Hurt | Romance
                       PG – 13
.
.
.
“Rambutmu terlihat semakin pendek. Apa kau memotongnya?”

.
.
.
Aku nggak tau ini apaan. Ide ini muncul gegara aku dengerin lagunya Hyorin yang erase. Itu lagunya bagus banget, suaranya Hyorin bagus banget, lagunya juga enak didenger, artinya juga bagus. Dan denga kegilaan otakku yang aneh ini maka jadilah… Tadaa!! Ff gaje hasil otak pas pas an di tengah malam.
.
.
.
.
Kring..
Suara lonceng yang berbunyi ketika pintu dibuka itu menandakan ada orang yang masuk ke dalam caffe. Membuat sebagian orang rela menoleh sebentar hanya untuk melihat siapa yang masuk ke dalam caffe lalu kembali ke aktivitas masing masing.
Berbeda dengan orang orang yang kembali ke aktivitas masing masing setelah menengok ke pintu, gadis yang duduk bersama lelaki itu tak kunjung kembali pada aktivitasnya membaca majalah bersama lelaki di depannya. Gadis itu terus memperhatikan seseorang yang baru saja masuk ke dalam caffe. Memperhatikan orang itu berjalan dan duduk di meja sebelahnya. Ia masih terpaku menatap orang itu.
“Chagiya..?”suara berat lelaki di depan gadis itu menginterupsi kegiatan gadis itu menatap orang yang tadi duduk di sebelah mejanya.
“Ah.. Ne. Waeyo?” gadis itu tersadar dan kembali menatap lelaki di depannya.
“Apakah gaun ini bagus?”tanya lelaki itu sambil menunjukan gambar gaun warna putih panjang yang ada di majalah.
“Itu panjang sekali chan. Aku akan tenggelam jika menggunakan gaun itu” gadis itu menjawab pelan sambil sesekali mencuri pandang ke meja sampingnya di mana seorang lelaki duduk di sana sambil memandanginya.
“Ayolah Dae in-ah kau pasti cantik ketika berjalan di altar menggunakan gaun ini” laki laki itu berkata sambil terus membolak balik halaman majalah itu.
Berbeda dengan lelaki itu yang terus membolak balik halaman majalah, Dae in justru mencuri pandang pada lelaki di sebelahnya. Dan ternyata lelaki itu juga sedang melihatnya. Gadis itu menjadi salah tingkah.
“Nah sekarang kita lihat cincinnya” lagi lagi, lelaki bersuara berat itu kembali menginterupsi kegiatan Dae in. Kali ini lelaki bersuara berat itu menaruh majalahnya ke tengah meja agar Dae in juga bisa melihat apa yang ada di sana.
“Kau ingin cincin yang mana?” tanya lelaki itu.
“Bagaimana kalau yang ini” Dae in menunjuk gambar cincin berwarna perak. Sederhana, tapi cantik.
“Itu sangat biasa Dae in ah. Ah..! Bagaimana kalau yang ini?” lelaki itu menunjuk cincin perak juga tetapi terlihat lebih elegan dan.. Mahal
“Itu terlihat mahal dan sangat spesial Chanyeol ah” Dae in menjawab pelan. Ngomong ngomong soal spesial, Dae in jadi ingat dengan lelaki yang duduk di sebelah mejanya yang sepertinya masih menatapnya membuat Dae in menjadi tidak enak. Tapi yah.. Masih untung ada Chanyeol, sehingga ia tidak sendirian.
“Kau harus mendapat yang spesial Dae in ah” Chanyeol berkata sambil meminum jus nya yang masih setengah.
“Uuh! Sepertinya aku butuh toilet. Kau tunggu sini ya chagiya” Chanyeol segera melangkah cepat ke toilet.
Daan.. Di sinilah Dae in, duduk sendirian dengan lelaki di sebelahnya yang masih menatapnya.
“Mempersiapkan gaun pernikahan huh?” suara lelaki itu memasuki telinga Dae in. Sungguh Dae in rindu suara ini.
“N..ne. Kami sedang menyiapkan pernikahan kami” perempuan itu menjawab sambil menunduk karena tidak berani membalas tatapan lelaki itu.
“Sepertinya calon suami mu sangat ingin membuat pernikahan kalian berbeda ya” sebenarnya lelaki itu hanya bertanya biasa, tapi ebtah kenapa Dae in benar benar gugup menjawabnya.
“Y..ya, Chanyeol ingin pernikahan kami terlihat berbeda” Dae in menjawab dengan suara yang sedikit bergetar seperti ingin… Menagis?.
“Kenapa tidak kau gunakan gaun warna merah seperti rencana kita dulu hm? Bukankah itu unik?” lelaki itu berkata dengan tenang sambil meminum kopi yang baru saja diantarkan pelayan padanya. Meskipun lelaki itu berkata dengan tenang seakan hal tadi hanya pembicaraan biasa, tetapi bagi Dae in itu menyakitkan. Dae in menggigit bibir bawahnya menahan tangis.
“Kau baik baik saja?” hanya laki laki bodoh yang bertanya seperti itu. Jelas jelas Dae in menangis.
“Ne.. Aku baik baik saja” Dae in menjawab pelan sambil menundukan kepalanya. Menyembunyikan air mata nya yang secara kurang ajar mengalir tanpa seizin nya.
Sesaat hening menemani mereka, hingga laki laki itu kembali membuka mulutnya.
“Rambutmu terlihat semakin pendek, apa kau memotongnya?” oh.. Ternyata ia melihat perbedaan pada gadis Jung ini.
“Bukan aku. Tapi Chan yang memintanya, dia bilang aku lebih cantik dengan rambut pendek” Dae in bohong! Sangat bohong. Justru Chanyeol melarang Dae in ketika ia akan memotong rambutnya. Dae in bilang dia memotong rambutnya untuk membuang kenangan masa lalunya. Aneh memang, tapi itulah penjelasan Dae in.
“Hhh.. Sayang sekali, padahal rambutmu sangat panjang dan lembut” lelaki itu menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Tapi aku masih bisa mencium harum rambutmu dari sini” belum sempat Dae in menjawab, lelaki ini sudah menambahnya lagi.
“Benarkah?” Dae in masih enggan menatapya.
“Ya. Tapi sejak kapan kau suka mawar? Ku kira kau lebih suka bau lemon” lelaki itu terus membuat Dae in susah bernafas.
“Kita sudah dewasa sehun-ah. Kita juga harus berubah” berubah? Bahkan Dae in tidak berubah. Hanya penampilannya saja yang berubah, tetapi hatinya..? Kita tidak tahu.
“Benar. Aku harus berubah. Mulai sekarang aku juga akan memotong rambutku juga agar kenangan kita hilang bersamanya, aku tidak akan menangis lagi hanya karena menunggu telefon dari mu, aku juga tidak akan menunggumu di taman lagi setiap hari sabtu, aku juga tidak akan menggunakan shampo lemon lagi, dan aku akan menghapus nama mu yang ada di setiap dinding rumahku, menghapus semua cintaku untukmu, menghapus nama yang dulu sudah dicetak rapi dalam undangan pernikahan ku, aku akan menghapus semua tentangmu, seperti kau menghapusku” lelaki itu masih mengucapkannya dengan tenang dan teratur, tetapi membuat air mata Dae in gerah ingin keluar dari kelopak matanya. Dae in berusaha keras untuk menahan air matanya, tetapi omongan lelaki itu tadi malah semakin menarik keluar air mata Dae in. Membuat rasa bersalah Dae in kembali memeluknya. Membuat Dae in benar benar merasa bersalah.
“Aku akan melakukan seperti yang kau lakukan. Tapi aku tidak akan melakukan satu hal yang kau lakukan, kau tau apa itu?” Dae in tidak menjawab. Dia terlalu asik menangis dan merutuki kesalahan yang ia perbuat.
“Aku tidak akan pura pura baik baik saja” ucapnya tepat di telinga Dae in sebelum akhirnya dia pergi dari tempat itu. Meninggalkan sakit yang baru pada hati Dae in.
“Oh..! Kenapa kau menangis?” bodoh! Alasan apa yang akan Dae in gunakan untuk menjawab pertanyaan Chanyeol.
“Aku tidak apa apa. Aku hanya rindu pada ayah dan ibu. karena kau tahu kan, setelah ini aku akan jarang bertemu dengan mereka-termasuk Sehun-” Dae in menjawab sambil tersenyum menghapus air matanya.
“Yasudah, kalau begitu ayo kita kerumah ayah dan ibu. Dan bisakah kau berhenti menangis? Kau terlihat jelek kalau seperti itu.”-dan bisakah kau berhenti berbohong?-
.
.
.
Habis… Aku tau ff ku itu gak ada yang nyambung sama judulnya. Tapi aku tetep bangga karena ini hasil karyaku. Hasilku bertapa selama dua jam di kamar mandi. Huaha ide ff ini muncul karena lagunya Hyorin, tapi aku mikirin jalan ceritanya di kamar mandi. Entah kenapa aku selalu nemu ide cerita di kamar mandi. Ah udah lah.
Komen juseyoo`~~~

Advertisements

3 thoughts on “Erase”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s