[FREELANCE] Birthday Wish [1/3]

image

Tittle: Birthday Wish

Author: LyWoo (Felicia Octine)

Lenght: 1-3

Rating: G

Genre: Sad, romance, etc.

Main Cast: Yoo Hyeji [OC], Oh Sehun [EXO K], Park Chanyeol [EXO K].

Disclaimer: Cerita ini 100% dari otak dan imajinasi saya dan beberapa ff, serta beberapa lirik lagu yang menginspirasi saya. Mohon maaf jika kesamaan dengan pihak lain. Tapi kalo emang sama persis alurnya, tegur aja saya, oke? ^^ FF ini pernah aku publish di LyWoo Fanfiction World dan EXO Fanfiction Indonesia.

Author’s Note: Warning! Typo merajalela, gaya penulisan aneh, amat sangat dramatis, dll. Plagiator dan silent reader’s, please go away~

>>>>>Happy Reading<<<<<

“Sudahlah, Hyeji-ya. Kau jangan berharap banyak pada si manusia es itu.”

Hyeji menatap langit-langit di kamarnya sambil berbaring di tempat tidur dengan pandangan kosong. Lampu kamar sudah ia matikan dua jam yang lalu. Namun sampai tengah malam ini, ia belum benar-benar bisa menutup matanya dan tidur.

Banyak hal yang ia pikirkan. Termasuk percakapan dengan sahabatnya, Park Chanyeol, mengenai kekasihnya tadi sore.

“Apa yang kurang dariku? Aku selalu bersabar, tidak banyak permintaan, dan sebagainya,” Hyeji bermonolog. “Ah, ya. Aku lupa kalau aku tidak cukup cantik di matanya.”

Hyeji menutup matanya, dan perlahan turunlah setetes air mata dari sudut matanya. Menyadari hal itu, ia segera membuka matanya. Menghapus air matanya dengan lengan piyama yang dikenakannya.

Ia benci air mata.

Menurutnya, air mata itu adalah simbol kelemahan seorang perempuan. Dan ia tidak mau menjadi seorang gadis yang lemah.

Hyeji memiringkan tubuhnya dan memeluk gulingnya. Ia memejamkan matanya, berusaha untuk segera tidur mengingat besok ia masih harus berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali.

Belum sampai lima menit matanya terpejam, tiba-tiba ia merasakan mual yang teramat di perutnya. Dengan tergesa, ia bangkit dan pergi ke kamar mandi tanpa sempat menyalakan lampunya.

“Hoekk… Arghh!”

Hyeji mengeluarkan isi perutnya. Napasnya tersengal-sengal. Ia membersihkan bibirnya dengan sebuah kain.

“Hosh… Hosh… Astaga, kenapa aku bisa muntah?” gumamnya sambil berjalan untuk menyalakan lampu kamar mandi di dekat pintu masuknya.

Clek

Lampu menyala. Ia berjalan kembali ke wastafel, berniat membersihkan sisa muntahannya.

Pluk

Kain yang ia pegang jatuh ke lantai. Matanya melebar memperhatikan wastafel tempat ia muntah yang penuh dengan… Darah?

Astaga… Apa perkiraan dokter Xi Luhan benar?

***

Chanyeol memperhatikan Hyeji yang tengah duduk sambil membaca sebuah novel di sampingnya. Kelas masih sepi, mengingat jam pelajaran baru akan dimulai sekitar setengah jam lagi.

Hyeji sebenarnya tidak masalah diperhatikan oleh Chanyeol, mengingat anak itu memang suka memperhatikan orang lain sejak kecil. Namun kali ini, ia sedikit merasakan sesuatu yang berbeda. Yah, bagaimanapun mereka sudah remaja bukan? Rasanya sedikit risih jika ditatap selekat itu oleh lawan jenis.

Hyeji akhirnya memutuskan untuk menutup buku novelnya, lalu menoleh pada Chanyeol yang tengah menatapnya lekat. Mata mereka bertemu.

“Chan, kenapa memperhatikanku terus? Kau tidak punya pekerjaan?”

Chanyeol tetap pada posisinya, bertopang dagu dengan siku tumpuannya di atas meja dan badan yang sedikit dimiringkan ke arah Hyeji, tidak bergerak sama sekali. Lalu perlahan menggelengkan kepalanya. Membuat Hyeji menghela napasnya berat.

“Kau ini. Lebih baik kembali ke tempat dudukmu sana. Sehun akan segera datang, aku tidak mau dia marah lagi karena kau terus berada di dekatku.”

Oke, mungkin ucapan Hyeji ini sedikit menyakitkan. Bagaimana bisa ia mengusir sahabatnya sejak kecil sampai saat ini hanya demi kekasihnya yang baru menjalin hubungan dengannya selama kurang lebih 3 tahun? Tapi mau bagaimana lagi. Chanyeol keras kepala, dan inilah cara satu-satunya bagi Hyeji untuk mengusir Chanyeol yang selalu mengikutinya ke mana pun.

Chanyeol mendengus kesal mendengar ucapan Hyeji. “Kau keterlaluan! Lagipula, aku ini sedang mengkhawatirkanmu, tahu!”

“Mengkhawatirkanku? Kenapa?”

“Kau tahu, dua bulan terakhir ini, wajahmu sangat pucat seperti mayat. Aku sebenarnya mau bertanya padamu sejak awal.”

DEG

Hyeji langsung menundukkan kepalanya mendengar ucapan Chanyeol. Tangannya yang berkeringat dingin di bawah meja meremas rok sekolahnya. Jantungnya berdetak cepat, sangat cepat sampai rasanya sulit untuk bernapas sekali pun. Ia mengigit bibirnya yang sedikit bergetar dengan keras. Sampai lidahnya bisa merasakan sedikit anyir dari bibirnya.

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya melihat reaksi Hyeji yang aneh. Hal itu semakin membuat rasa penasaran dan curiganya menguat. Pasti ada hal yang disembunyikan oleh gadis itu. Ia yakin.

“Hyeji-ya, kau kenapa? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

Hyeji merutuk berkali-kali mendengar ucapan Chanyeol. Bagaimana bisa laki-laki yang selama ini selalu bertindak bodoh dan sedikit idiot itu bisa membuatnya mati kutu seperti ini? Ia merasa bingung. Apakah tindakannya selama ini sudah benar? Menyembunyikan tentang penyakit yang ia derita dari sahabat dan kekasihnya sendiri?

Chanyeol yang tak kunjung mendapat jawaban dari Hyeji, menghela napasnya berat. Lalu ia mengangkat tangannya dan memegang kedua bahu gadis di hadapannya ini. Hal itu refleks membuat Hyeji mengangkat kepalanya, dan mata mereka kembali bertemu.

“Hyeji-ya, kumohon. Jangan menyembunyikan apapun dariku. Katakanlah sesuatu.”

Hyeji terpaku melihat bola mata Chanyeol yang sedikit berkaca-kaca. Ia tidak menyangka, Chanyeol akan sebegitu khawatir padanya. Dan hal itu membuatnya semakin ingin menyembunyikan perihal penyakit yang dideritanya. Ia tidak ingin membuat Chanyeol khawatir.

“Hyeji-ya, katakan apa kau      

“Ehem.”

Dehaman itu membuat Chanyeol menghentikan ucapannya. Ia dan Chanyeol mengalihkan perhatiannya pada Sehun yang kini berdiri dengan wajah datarnya.

Chanyeol menatap tajam Sehun. Begitu juga sebaliknya.

“Bisa kau kembali ke bangkumu? Atau aku saja yang   

Sebelum Sehun menyelesaikan ucapannya, Chanyeol dengan cepat bangkit dan kembali duduk di bangkunya yang berada di paling pojok kelas tanpa sepatah kata pun.

Hyeji menghela napas lega, setidaknya ia berhasil lepas dari pembicaraannya dengan Chanyeol yang cukup menegangkan baginya. Lalu ia tersenyum pada Sehun yang sudah duduk di sampingnya sambil membaca buku pelajarannya.

“Sehun-ah, apa nanti kau ada wak      

“Mian. Aku harus berlatih drama hari ini, deadlinenya sudah dekat,” potong Sehun cepat dengan nada datar dan dingin tanpa melirik Hyeji sekali pun.

Hyeji mencelos kecewa mendengar ucapan Sehun. Namun dengan segera ia menutupi raut kecewanya, menarik ujung bibirnya, menghasilnya seulas senyum yang dipaksakan.

“Y-ya tidak apa-apa. Maaf jika aku mengganggumu,” ucap Hyeji lalu kembali membuka buku novel miliknya dan membacanya. Ia sengaja menundukkan kepalanya sambil membaca novelnya, agar rambut panjang lurusnya bisa menutupi sebagian wajahnya dari pandangan Sehun. Menyembunyikan air matanya yang kini keluar dari sudut matanya.

Sehun menghela napasnya berat. Melalu ekor matanya, ia bisa melihat wajah sedih dan kecewa gadis itu. Ia merasa sedikit bersalah. Dan hatinya terasa perih melihat senyum paksa dari bibir gadis itu. Bodoh. Kau bahkan masih sempat tersenyum?

“Oppa! Ayo latihan drama!”

Sehun merutuk dalam hati. Kepalanya yang terasa berat setelah melihat Chanyeol dan Hyeji bermesraan tadi, kini bertambah berat karena mendengar suara cempreng gadis yang selalu menganggu hubungannya dengan Hyeji, yang sialnya lagi gadis itu adalah partner dramanya.

“Oh, Yoo Hyeji, bisa kau pergi? Aku mau berlatih dialog di sini dengan Sehunnie Oppa!”

‘Damn!’ Sehun mengumpat dalam hati. Lagi-lagi waktunya bersama Hyeji semakin berkurang.

***

Hyeji memperhatikan Kim seonsaengnim yang tengah memberi materi mengenai sejarah kerajaan di Yunani. Sekali-kali, matanya melirik memperhatikan wajah serius Sehun yang tengah menyerap apa yang diucapkan Kim seonsaengnim.

‘Tampan sekali. Astaga, beruntung sekali aku bisa menjadi kekasihnya,’ ucap Hyeji dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Berhenti menjadi orang gila,” ucap Sehun tiba-tiba dengan suara pelan agar tidak terdengar guru.

Merasa dipergoki, Hyeji segera mengalihkan perhatiannya kembali pada Kim seonsaengnim. Semburat merah muncul di pipinya. Ia merasa malu karena tiba-tiba Sehun menatapnya seperti tadi. Sungguh, ingin rasanya ia berteriak, “Aku gila karenamu.”.

Sehun kembali memperhatikan Kim seonsaengnim. Ia sedikit terkikik geli melihat wajah Hyeji yang merona karena ketahuan sedang memperhatikannya.

Dua menit berlalu, tiba-tiba Hyeji merasa kepalanya sangat pusing. Matanya berkunang-kunang, dan pandangannya memburam. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, dan akhirnya pandangannya kembali jelas. Ia bisa kembali melihat Kim seonsaengnim yang kini menuliskan beberapa kata di papan tulis.

“Ugh!”

Sehun tersentak kaget dan menoleh pada Hyeji. Ia terkejut mendapati Hyeji yang tengah memegangi perutnya dengan sebelah tangannya, sedangkan tangan lain membekap mulutnya sendiri. Tangannya terangkat untuk menyentuh bahu gadis itu, namun Hyeji langsung bangkit dan berlari keluar kelas.

Hal itu tentu saja membuat Kim seonsaengnim serta murid di kelas bingung dengan tindakan Hyeji. Kim seonsaengnim berlari ke pintu dan memperhatikan punggung Hyeji yang perlahan menghilang. Muris sekelas berbisik-bisik mengenai Hyeji.

BRAKK

Semuanya terkejut dengan pintu kelas di sisi lain yang tiba-tiba terbuka kasar hingga membentur dinding.

“Park Chanyeol!” Kim seonsaengnim memekik keras. “Anak-anak! Ayo lihat keadaan Hyeji!”

***

“Ugh! Hoekk… Uhuk….”

Hyeji memukul-mukul dadanya sendiri, mencoba mengeluarkan seluruh cairan yang tengah dimuntahkannya.

BRAKK

“Hyeji-ya, apa yang terja   

“Chanyeol!”

Chanyeol mematung mendapati kondisi Hyeji yang mencengangkan. Di sudut bibirnya terdapat noda darah. Belum lagi wajah Hyeji yang bertambah pucat 50% dari tadi pagi.

Hyeji juga sama terkejutnya dengan Chanyeol, apa yang ia tutupi terbongkar sudah. Namun lagi-lagi perutnya terasa perih, dan ia kembali muntah di wastafel.

“Hyeji-ya… Apa yang terjadi padamu, hah?” tanya Chanyeol dengan nada khawatir yang sangat kentara. Ia membantu Hyeji dengan memijat leher belakang gadis itu.

Selesai mengeluarkan semuanya, Hyeji dengan napas tersengal-sengal menyalakan kran dan membersihkan muntahannya. Matanya yang sayu menyiratkan kelelahan yang teramat sangat, menatap Chanyeol.

“Chan… Aku….”

BRUKK

Dengan sigap Chanyeol menangkap tubuh limbung Hyeji dan memeluknya erat.

“Astaga! Apa yang terjadi?” tanya Kim seonsaengnim bingung yang baru datang diiukuti murid di kelasnya dan Sehun.

Kim seonsaengnim merapihkan sedikit rambutnya yang berantakan, lalu matanya membulat mendapati Hyeji yang pingsan di dekapan Chanyeol. “Park Chanyeol, cepat bawa dia ke UKS!” perintahnya.

Tanpa banyak tanya, Chanyeol segera menggendong Hyeji ala bridal style melewati murid-murid yang menatapnya kagum, tercengang, dan sebagainya. Berbeda dengan Sehun yang menatapnya penuh rasa cemburu.

“Oh Sehun, sebagai ketua kelas dan teman sebangkunya, bawakan tas Yoo Hyeji,” perintahnya pada Sehun yang tengah melamun. Namun ia segera tersadar dan berlari ke kelas.

***

Chanyeol mengenggam erat tangan Hyeji yang terkulai lemas di atas ranjang yang terdapat di ruang UKS. Matanya tak lepas dan terus memperhatikan wajah Hyeji yang memucat. Bahkan bibirnya sama sekali tidak berwarna.

“Hyeji-ya, apa yang sebenarnya terjadi padamu?” tanyanya dengan suara lirih.

Hening.

Tidak ada yang menyahut. Tentu saja, Hyeji sedang tidur saat ini. Tadi perawat sudah memeriksanya, dan mengatakan Hyeji hanya membutuhkan waktu untuk istirahat yang cukup. Namun, Chanyeol tidak percaya sepenuhnya pada ucapan perawat itu. Ia berniat untuk membawa Hyeji ke rumah sakit sepulang sekolah nanti. Mana mungkin Hyeji hanya kelelahan namun bisa muntah darah?

“Pergilah. Aku akan menjaganya.”

Chanyeol mengangkat kepalanya dan mendapati Sehun tengah berdiri di sampingnya sambil membawa sebuah tas berwarna ungu bercorak polkadot, yang ia yakini milik Hyeji.

“Tidak mau. Aku akan menjaganya,” balas Chanyeol dingin.

Sehun mendengus. “Kau sama sekali tidak berhak menjaganya.”

“Apa katamu?” Chanyeol berdiri dan menatap Sehun tajam. Sehun balas menatapnya tajam, seolah menantangnya. “Cih, kau saja tidak pernah perhatian padanya. Dan sekarang mengatakanku tidak berhak menjaganya? Kau pikir siapa dirimu? Kau hanya kekasih yang tidak peduli padanya! Sedangkan aku, selalu ada di sampingnya selama tiga perempat hidupnya!”

Merasa tersinggung, Sehun menjatuhkan tas Hyeji di lantai dan menarik kerah Chanyeol yang sedikit lebih tinggi darinya. Keduanya saling bertatapan tajam. “Kau…,” desis Sehun geram.

Chanyeol tersenyum miring. Lalu melayangkan tinjunya pada pipi kanan Sehun, menyebabkan laki-laki itu tersungkur di lantai dan memegangi pipinya yang membiru mendapat pukulan dari Chanyeol.

“Mwo?! Ucapanku benar, bukan? Kau tidak pernah memperhatikannya. Kau hanya menerimanya menjadi kekasihmu karena merasa kasihan jika menolak pernyataan cintanya, ‘kan? Coba hitung berapa kali kalian berkencan? Berapa kali ia mengajakmu berkencan dan berapa kali kau menolaknya dengan alasan kau sibuk?” tanya Chanyeol bertubi-tubi. Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya. “Apa kau pernah mengatakan selamat ulang tahun atau merayakan hari jadi kalian?”

Sehun diam. Ia mencerna setiap pertanyaan yang dilontarkan Chanyeol. Dan akhirnya, ia tahu satu jawaban dari rentetan pertanyaan itu. Tidak.

Chanyeol mendengus. “Lihat, kau diam saja. Aku yakin dan tahu jawabanmu pasti tidak untuk semuanya. Ck, kelihatannya kau sama sekali tidak pantas menjadi kekasihnya. Apa kau tahu tanggal berapa ulang tahunnya?”

“….”

“Kau tahu? Di setiap hari ulang tahunnya, ia selalu berharap suatu hari kau mengatakan selamat ulang tahun padanya. Begitu juga tiap hari anniversary kalian.”

“….”

“Aku kasihan pada Hyeji. Dia menyia-nyiakan hidupnya untuk mencintai orang yang suka memberi harapan palsu sepertimu.”

“….”

“Kau tahu, tidak? Dia itu selalu merayakan ulang tahunnya selama sepuluh tahun hanya bersamaku. Ulang tahun sangat penting baginya sejak meninggalnya kedua orang tuanya. Setelah jadian denganmu, dia berharap bisa merayakan ulang tahunnya yang berharga denganmu.”

Sehun tetap diam. Tangannya yang tadi sempat memegangi pipinya yang terkena tinju Chanyeol, perlahan turun dan terkepal erat di samping tubuhnya. Matanya memanas sambil menatap lurus lantai.

Chanyeol menghela napasnya dalam-dalam. Berusaha menahan kesalnya karena sejak tadi bicara, Sehun tidak membalasnya sama sekali. Dan ia benar-benar benci orang yang suka mengacuhkan orang lain sepertinya. Yang sialnya, orang itu adalah orang yang kekasih gadis yang dicintainya.

Chanyeol meninggalkan Sehun dan duduk di sisi ranjang tempat Hyeji berbaring. Dipandanginya wajah damai gadis yang tengah tertidur itu. Tangannya terangkat dan tergerak untuk membelai wajah gadis itu, segurat senyum muncul di bibirnya. Namun sedetik kemudian, tangan itu berhenti di udara sebelum berhasil menyentuh wajah Hyeji. Ia tersadar. Kekasih gadis itu tengah berdiri di sampingnya sambil menatapnya tajam.

Sehun menarik kerah Chanyeol, lalu mendekatkan wajahnya. Mata mereka bertatapan, saling memancarkan sirat kebencian.

“Jangan. Sentuh. Gadisku,” Sehun berucap penuh penekanan dengan suara yang terdengar berat dan menakutkan.

Chanyeol menyeringai menyadari kecemburuan Sehun. “Oh, ya? Dia gadismu? Astaga. Aku bahkan tidak tahu kalau dia sudah memiliki seorang kekasih. Mengingat orang yang selalu berada di sampingnya itu sahabatnya, bukan kekasihnya,” balasnya seolah menantang.

Sehun menggeram. Tangan lainnya hendak meninju wajah Chanyeol yang selalu membuatnya muak saat melihatnya. Senyum konyol, telinga lebar, dan tawa laki-laki itu benar-benar selalu bisa membuatnya muak seketika.

Srett

Tangannya terhenti di udara. Chanyeol dan Sehun refleks menoleh ke samping, dan mendapati wajah pucat Hyeji yang terlihat ketakutan. Tangan gadis itu mengenggam erat pergelangan tangan Sehun.

“K-kalian…, apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Hyeji terbata dengan suara bergetar.

Sungguh, ia sangat terkejut melihat Sehun dan Chanyeol yang sepertinya sedang bertengkar. Belum lagi, matanya sempat menangkap biru lebam di pipi Sehun. Ya Tuhan… Seberapa banyak hal yang terjadi sejak ia pingsan?

Chanyeol segera melepaskan cengkraman Sehun dari kerahnya. Lalu mengusap surai hitam Hyeji dengan lembut. Matanya menatap Hyeji yang juga tengah menatapnya dengan hangat, seolah menyalurkan perasaan tenang pada gadis itu. “Gwaenchannayo, Hyeji-ya. Hanya sedikit terjadi perdebatan saja antara kami,” jelas Chanyeol.

Sehun hanya mematung memperhatikan keduanya. Hatinya panas. Melihat kedekatan mereka berdua, hatinya merasa sangat tidak rela. Lalu tiba-tiba, matanya bertemu dengan mata Hyeji. Sehun bisa melihat dengan jelas, gadis itu tengah khawatir padanya.

Chanyeol meringis dalam hati. Lagi-lagi, Hyeji akan lebih memperhatikan Sehun dibanding dirinya dan membuatnya merasa seperti angin. Tidak dianggap keberadaannya.

Hyeji melepaskan tangan Chanyeol yang sejak tadi berada di rambutnya, membuat sang pemilik tangan sedikit tersentak dan merasa kecewa. Ia hendak membuka bibirnya dan mengatakan sesuatu pada Sehun. Namun ia kembali mengatupkan bibirnya rapat-rapat ketika melihat laki-laki itu meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun. Harapan Sehun akan menanyakan kondisinya lenyap seketika.

“Chan….”

“Hm?”

Chanyeol menatap wajah Hyeji dan tersentak mendapati wajah sendu gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca dan air mata yang memenuhi pelupuk matanya.

“Aku lelah,” Hyeji berucap dengan suaranya yang serak dan lirih.

“M-mwo?” tanya Chanyeol tidak mengerti.

“Kalau kuceritakan semuanya, kau bisa merahasiakannya dari Sehun? Dan berjanji tidak akan campur tangan sekalipun dalam hal ini?”

“Apa mak   

“Aku terkena kanker otak, Chan. Dan sudah sampai stadium akhir.”

Detik itu pula, Chanyeol tidak bisa menghirup oksigen. Dadanya terasa sangat sesak.

***

Sehun berkali-kali mendengus. Telinganya seperti berdengung mendengar ocehan tidak berguna dan suara cempreng tiga orang gadis yang kini tengah mengerubunginya.

“Oppa! Kau benar-benar mau berfoto denganku jika aku beritahu kapan ulang tahun Yoo Hyeji?!”

“Kau harus memelukku setelah aku memberitahumu kapan ulang tahun Yoo Hyeji, Oppa! AAAA~ Saranghaeyo, Oppa~”

Sehun hanya menganggukan kepalanya tanda menyetujui permintaan kedua gadis itu. Ia lalu mengikuti permintaan mereka, berfoto dengan keduanya. Lalu memeluk mereka satu persatu. Ugh, betapa besar rasa ingin mendorong tubuh gadis-gadis genit ini.

“Jadi, kapan ulang tahunnya?”

Kedua gadis itu saling bertatapan.

“10 oktober!”

“11 November!”

Keduanya serentak membekap mulutnya dengan tangannya sendiri setelah melontarkan jawaban yang berbeda itu.

Sehun menghela napasnya dalam-dalam. Lalu menatap tajam keduanya. “Hapus foto itu dan pergi sekarang juga!”

Suaranya memang datar, namun menusuk. Belum lagi tatapan Sehun yang tajam mampu membuat keduanya merinding dan segera melaksanakan perintahnya. Menghapus foto itu dari ponselnya dan menunjukkannya pada Sehun, lalu segera pergi dari lapangan basket ini.

Sehun mengalihkan perhatiannya pada Song Yura, partner dramanya yang tengah berdiri di hadapannya dalam keadaan diam. Ia sedikit heran dengan tingkah Yura yang diam, tidak seperti biasanya.

“Yura-ya, apa permintaanmu? Kuharap kau benar-benar tahu pasti kapan ulang tahunnya.”

“Tentu. Aku sudah mengecek datanya dari situs yang hanya bisa dibuka oleh pihak sekolah. Aku bisa masuk setelah memohon pada Kang ssaem.”

Sehun mendengus. Kapan ia bertanya pada gadis itu tentang bagaimana dia bisa mengetahui ulang tahun Hyeji, sedangkan mereka bukan teman?

“Katakan saja apa maumu lalu beritahu aku kapan ia berulang tahun.”

Yura menyeringai. Lalu mendekati Sehun dan berjinjit. “Kencan denganku,” bisiknya tepat di telinga Sehun. Lalu detik berikutnya, ia segera menjauh dari Sehun. Ingin melihat reaksi laki-laki itu.

Sehun menatap Yura datar. Walau begitu, berbagai pikiran berkecamuk di otaknya. Ia ingin sekali menolak, namun, ia tidak mungkin menanyakan hal ini pada Chanyeol. Mau ditaruh mana wajahnya? Di lain sisi, ia takut kembali mengecewakan Hyeji. Tidak pernah terpikir sama-sekali niatnya untuk berkencan dengan gadis lain tanpa sepengetahuan Hyeji.

“Bagaimana?” tuntut Yura yang tidak sabar menanti jawaban Sehun. Menganggap jawaban Sehun adalah penentu hidup dan matinya.

Sehun menghela napasnya dalam-dalam. Keputusan sudah ia ambil dan ia akan menjalankannya. “Baik. Sepulang sekolah nanti di Sungai Han dan hanya selama 3 jam.”

Yura hendak memprotes begitu mendengar kata ‘3 jam’ dari bibir Sehun. Namun ia mengurungkan niatnya. Bisa-bisa Sehun menolak keras ajakan kencannya. “Baiklah, kuberitahu setelah kencan kita selesai.”

***

Setelah menceritakan semuanya, mendadak keheningan menyelimuti Hyeji dan Chanyeol. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hyeji merasa bersalah. Tidak seharusnya ia menyembunyikan hal sepenting ini dari Chanyeol. Dan akhirnya, laki-laki itu merasa terluka karena merasa ia tidak menganggapnya sama sekali.

Hyeji melirik Chanyeol yang terlihat sedang melamun. Ia mengigit bibirnya bimbang. Ingin sekali ia menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya, namun kemudian ia urungkan niatnya itu. Chanyeol pasti sedang kecewa dan syok sekali karenanya. Matanya tiba-tiba memanas. Ia menundukkan kepalanya, menutupi air mata yang kini mulai turun dari pelupuk matanya. Pikirannya penuh tentang Chanyeol yang akan meninggalkannya sendirian.

“Hyeji-ya.”

“Ung?” Hyeji sontak menangkat kepalanya. Ugh, sial. Ia lupa menghapus air matanya.

Chanyeol terpaku melihat Hyeji yang tengah menangis. Ia ingin menghiburnya, namun mau bagaimana lagi. Ia juga masih kecewa. Bagaimana bisa gadis itu menyembunyikan hal sepenting itu darinya? Niatnya untuk menanyakan alasan gadis itu menyembunyikan hal itu darinya, lenyap seketika. Ia belum sanggup menatap mata itu.

“Chan…”

“….”

“Aku mau minta bantuanmu.”

“Mwo?” tanya Chanyeol dingin. Hal itu sukses membuat Hyeji merasa semakin sesak. Pasalnya, tidak pernah Chanyeol menanggapi ucapannya sedingin ini.

Hyeji mencoba menetralkan suaranya yang semula terdengar sedikit bergetar. “Kau, bisa membantuku menjauhi Sehun?”

To Be Countinued

Gimana? Ffnya aneh dan jelek yah? :”

Mohon tinggalkan like/comment.

Thanks for read and leave a like/comment ❤

Advertisements

2 thoughts on “[FREELANCE] Birthday Wish [1/3]”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s