While I Was Falling [Ficlet-Mix] – By JUSTSHAREENA

While I Was Falling

IMG_0156

Shareena’s present

Oh Sehun | Park Chanyeol | Byun Baekhyun

And Others

AU | Romance | Angst | Drama | Family

Ficlet

PG 13

Desclaimer :

http://www.justshareena.wordpress.com

Fanfiction ini murni karya aku. Nggak ada unsur plagiat dari manapun atau apapun. Terinpirasi dari banyak hal yang pernah mangkir dalam televisi atau tumpukan buku novel dari berbagai penulis di kamar pribadi.


DON’T PLAGIARISM!!!!!

Hope you like it and happy reading!

DON’T FORGET LEAVING COMMENT


Hidupku seakan dipengaruhi oleh salah satu teori filsuf terkenal-Galileo Galilei yang menyatakan bahwa Bumi itu bulat.

First (867-words)

“Orang bilang dunia itu bulat. Jadi apa yang kita pikir adalah akhir mungkin sebenarnya sebuah awal.” –Oh Sehun

Cafe Royal Circle Bar exterior

Edinburgh,

Matahari sudah berganti tugas dengan sang dewi malam tepat tiga jam yang lalu, membiarkan ibu kota sekaligus kota terbesar kedua di Skotlandia merasakan dinginnya suhu minus dua derajat celcius yang terasa menusuk tulang. Tak hanya itu. Miliaran butiran salju turun dan menetap membentuk setumpuk es diseluruh penjuru jalan. Membuat karbondioksida jutaan penduduk yang keluar melalui kedua lubang hidung tampak jelas dengan mata telanjang.

Berada di Edinburgh, seperti masuk ke pusaran waktu kebesaran aristokrat tempo dulu. Edinburgh Castle, Istana Raja Holyrood, Royal Museum, Calton Hill, dan beberapa ikon sejarah lama kebangsawanan kota kuno tersebut. Membuat siapapun yang melintasi jalanan kota kuno dengan arsitektur gedungnya yang unik ini, seperti menyebrang ke lintasan tahun 1700-an atau dibelakangnya.

Malam ini, terhitung 14 April 2022. Disalah satu bangunan cafe, seorang laki – laki tampak memandang lurus ke pintu masuk dengan maniknya yang berwarna hitam pekat. Menunggu seseorang yang akan datang dari balik pintu kokoh berdesain kuno warna coklat kehitaman itu. Seorang gadis yang sangat ingin ia temui, sekedar untuk mengucapkan kata yang sudah ia rangkai jauh – jauh hari.


While I Was Falling


‘Seandainya kata bisa berbicara lebih jelas dari hanya sekedar kata, mungkin aku tak perlu lagi membuat puisi cinta. Maka izinkanlah goresan tinta berbicara lebih banyak, tentang apa yang tersimpan, tentang rasa yang ada dalam dada.

Aku merasa layaknya menginjak bumi untuk pertama kali saat bertemu denganmu. Surai coklat yang indah, mata hitam yang mempesona, bibir mungil yang terlihat manis. Sebuah kesan yang begitu menggoda darimu. Dan rasa inipun lahir. Yang tak bisa terbaca oleh kata – kata, yang mengusik hati dan pikiran. Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh. Berbicara mengenai apapun dan menertawakan hembusan angin yang selalu bersama. Kau pikir aneh bukan?

Ku tunggu di The Cafe Royal Bar pukul sembilan malam ini sebagai jawaban atas cinta yang aku ungkapkan. Jika tidak datang aku anggap kau berkata tidak.’

ceo-room-opt-1

Gadis itu terpaku usai membaca salah satu dari belasan surat yang tertumpuk rapi di meja kerja. Baru beberapa menit yang lalu ia menyelesaikan rapat dengan dewan direksi perusahaan, lalu menemukan sebuah surat berwarna hijau mint yang menarik perhatiannya. Manik hitamnya terus berfokus pada satu nama yang tercantum dengan tinta hitam di kanan bawah bagian surat tersebut. Tertulis ‘Sehun’. Membuat otaknya bekerja memutar mengingat seorang laki – laki berambut hitam yang terakhir ia temui satu minggu yang lalu di festival musim dingin skotland. Hingga suara ketukan pintu dari sekretaris nyaring menyapa gendang telinga yang akan dilanjutkan neuron sensorik menuju otak. Hingga syaraf motoriknya bekerja melalui tangan yang terburu menyembunyikan lembar kertas yang biasa disebut oleh para remaja sebagai surat cinta.

“Masuk.” Perintah gadis itu kemudian.

“Para investor sudah menunggu di ruang rapat, Nona Jee In.”


While I Was Falling


09934a25

Untuk ke-belasan kalinya Sehun melirik arloji karya Jean Richard seharga 128.000 USD yang berhias emas delapan belas karat dan kulit buaya sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Empat puluh lima menit lagi –batinnya berbicara.

Kembali fokusnya pada pintu yang setiap kali dibuka akan menggetar lonceng kecil  berwarna hitam yang tergantung diatasnya, hingga membentuk pola rapatan dan regangan yang nantinya akan menjalar kesegala arah mempekerjakan gendang telinga lalu memberikan informasi otak sebagai suara atau bunyi. Sudah puluhan orang melewati pintu yang menjadi jalan masuk ataupun keluar The Edinburgh Lader. Menyesap cangkir kedua kopi java arabika yang mendapat sebutan sebagai kopi paling terkenal di dunia. Guratan luka tergambar jelas pada raut wajah sendu laki – laki bermarga Oh tersebut.


While I Was Falling


“Terimakasih, senang bekerja sama dengan anda, Nona.”

Deretan kata tersebut menjadi penutup rapat mengenai jumlah investasi yang akan diterima perusahaannya. Kini Jee In mendudukkan diri pada salah satu sofa di sudut ruangannya. Menyegarkan otak dari rangkaian tabel presentasi saham maupun kemajuan perusahaan selama satu bulan terakhir. Hingga manik hitamnya berhasil melihat jarum jam yang menunjukkan pukul sebelas lebih tujuh menit pada pergelangan tangan kiri. Tangannya mengambil secarik kertas yang tak lagi mulus. Membaca beberapa untaian kata yang ditulis secara tak rapi.

“Ku tunggu di The Edinburgh Lader pukul sembilan malam ini sebagai jawaban atas cinta yang aku ungkapkan. Jika tidak datang aku anggap kau berkata tidak.”

Tangannya melipat kembali carik kertas berwarna hijau mint tersebut yang kemudian dilempar pelan arah meja tepat didepannya. Vertebrata thoracal-nya ia hempaskan pada kepala sofa lapis kulit berwarna putih. Detik kemudian, maniknya kembali berfokus pada carik kertas yang tergeletak diatas meja akibat perbuatannya beberapa detik lalu. Memandanginya tajam, seolah tidak ingin benda dengan berat tak lebih dari dua puluh gram itu musnah dari pandangannya. Sedangkan didalam sana, sang otak tengah bergelut dengan hati yang tak kunjung usai dengan benteng ego sekelilingnya.


While I Was Falling


Jarum jam yang melingkar rapi dipergelangan tangan kirinya terus berputar, sementara ia masih menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Kini jarum itu menunjuk diantara angka sebelas dan dua belas sedangkan satunya mengarah pada angka enam. Lima belas menit lagi jadwal penerbangannya menuju Vienna. Dengan segenap rasa-tak-rela-pergi ia mengambil kotak kecil berwarna hijau mint dari saku jaketnya, diletakkannya kotak tersebut tepat disamping vas yang terisi satu tangkai bunga mawar merah sebelum beranjak dan–

“Maaf aku terlambat.”

–berbalik pergi.

Tubuhnya mematung. Bukan karena angin musim dingin yang berhasil menembus celah, namun akibat ulah seorang gadis berambut coklat yang berdiri didepannya dengan nafas terpenggal – penggal. Gadis itu, gadis  yang ia tunggu selama lebih dari dua jam–Park Jee In.


While I Was Falling


Second (911-words)

“Tidak peduli seberapa jauh kau pergi, seperti bus yang sudah tersihir oleh mantra nenek tua, kau akan kembali ke tempat dimana kau berada karena… bumi itu bulat.” –Park Chanyeol

Pada waktu yang sama di timur laut negara Perancis, seorang laki – laki bertubuh jenjang dengan telinga lebar layaknya Peterpan berbaju hijau yang selalu menganggu waktu tidur Wendy berjalan menikmati indahnya malam bertabur bintang disalah satu kota negara Perancis, Lyon, sebelum memutuskan untuk ke bandara. Kota perdagangan, pariwisata, hiburan dan perindustrian besar. Dikenal sebagai pusat coklat, es krim dan kota terbesar ke-dua di Perancis.

Bassilica Fourviere, gereja tua yang menjadi ikon kota Lyon. Terbangun secara sengaja diatas dataran tinggi untuk dapat melihat setiap sudut kota ketika berada dipuncaknya. Berjalan sedikit dari Bassilica Fourviere, ditemui situs kuno Threatre Romain yang berada di kompleks Musee Gallo Romain. Menyeberangi pont Bonaparte terdapat Place Bellecour City Center, patung Louis XIV sedang menunggangi kuda berdiri ditengah dengan Ferris Wheel disampingnya. Tak jauh dari Place Bellecour City Center, terdapat Rue de La Republique. Area yang hanya dikhususkan para pejalan kaki dipenuhi puluhan toko yang berbaris secara horizontal dengan arsitektur khas eropa, tak hanya toko, bioskop, cafe maupun restoran juga terbangun dengan tertib.

8

Dan disinilah Chanyeol melangkahkan kaki. Sibuk mengelana mencari sesuatu yang dapat menghentikan protes keras di perutnya yang belum ia isi sejak sore tadi. Hingga seorang gadis menghantam tubuhnya, membuat kantung belanja berisi beberapa sayuran yang berada dipelukan gadis itupun tergeletak tak berdaya disamping kaki Chanyeol. Begitu juga dengan gadis itu yang tersungkur di tanah beberapa detik setelahnya. Membuat keduanya menjadi pusat perhatian seluruh manusia yang berdiri disekeliling mereka.

Saat Chanyeol ingin membantu, gadis itu sudah berhasil menegakkan tubuhnya kembali sembari berkata, “Maafkan ak–”

Deg!

Dia –batin Chanyeol

Gadis itu, gadis masalalunya. Gadis yang ia cintai namun terlambat untuk dimiliki. Akibat dari kesalahan bodoh yang ia sesali–sampai–saat–ini. Roll memori yang masih tersimpan rapi disetiap sel – sel neuron otaknya mulai berputar. Mengulang kembali kebahagiaan yang pernah dua manusia itu lewati. Juga pedih yang diingat kian menyayat hati. Tak kuasa menahan sakitnya ditinggal pergi. Bukan untuk hari ini. Namun esok, lusa, dan selamanya.

Manik hitam mereka bertemu, bertegur sapa, saling melepas rindu. Tanpa tahu jantung yang bekerja kian keras memompa darah keseluruh tubuh. Juga otak yang berbalik mengingat kejadian satu tahun lalu yang tak secuilpun dilupakannya. Tepat ditempat ini, Rue de La Republique.


While I Was Falling


Park Chanyeol sedang menikmati satu gelas penuh frappucino bersama Sehun sebelum sahabatnya itu pergi merantau ke Edinburgh untuk satu tahun kedepan. Keduanya memilih berjalan disepanjang Rue de La Republique sebagai tempat berpisah kedua selain bandara. Menikmati sinar hangat sang mentari yang akan pergi menuju ufuk barat dua puluh menit lagi.

“Chanyeol–a, aku ingin menikmati macaroon terakhir kalinya.” Ucap Sehun ditengah langkahan kaki yang tak terhenti.

Chanyeol tertawa mendengar celetukan Sehun. “Kau pikir Edinburgh tidak ada macaroon?” Siapa yang tak kenal macaroon dengan bentuk lucu dan warna cerahnya? Terksturnya renyah diluar namun lembut dan sedikit chewy didalamnya. Juga cita rasa yang didominasi rasa gurih almond, membuatnya memiliki ciri khas tersendiri.

tumblr_mwku0q5Ibn1sb5m4eo1_500

“Yang asli dari Perancis tentu tidak ada.” Jelas Sehun yang mendapat anggukan dari Chanyeol. “Kau mau ikut membelinya?”

“Tidak, aku menunggu dibangku itu saja.” Tunjuk Chanyeol pada salah satu bangku coklat panjang bawah pohon yang tampak kosong. Sehun pun mengangguk sebelum melangkah menuju tempat tujuannya–toko macaroon yang berjarak dua puluh meter dari tempatnya sekarang.

Chanyeol mendudukkan diri pada bangku yang beberapa detik lalu ditunjuknya. Tempat yang tepat untuk memandang keseluruhan bangunan Rue de La Republique tanpa terhalang apapun, kecuali puluhan manusia yang tengah berjalan diantaranya. Maniknya tertarik pada gadis yang berada tak jauh darinya berjalan terhuyung – huyung akibat barang belanjaan yang tak sedikit dipelukannya.


While I Was Falling


Eun Hye membuka kelopak matanya. Tidak jatuh? –batinnya bertanya ketika tidak merasakan kerasnya tanah pijakan. Mengingat beberapa detik yang lalu kaki kanannya menginjak tali sepatu kaki kirinya yang terlepas, membuat tubuhnya terjungkal kedepan beserta barang bawaannya yang diluar batas sebelum tangan seseorang menahan tubuhnya beserta beban yang ia bawa.

Eh? Tangan? –batin gadis itu mengingat sesuatu.

“Apakah Anda tidak ingin menegakkan tubuh Anda, Nona?” Suara berat itu begitu lancar masuk menyapa gendang telinga. Hingga detik berikutnya ia menegakkan tubuh dengan pipi yang merona merah.

Chanyeol tersenyum geli memandang gadis didepannya yang terlihat–sangat–malu. “Tidak ingin mengucapkan sesuatu, Nona?”

“Eh? Ah..itu..te..terimakasih.” Ucap Eun Hye gugup. Bodoh! Kau bodoh Shin Eun Hye! Memalukan! –batinnya dalam hati.

Eun Hye mengernyitkan dahi ketika ucapan terimakasihnya justru dibalas dengan tawa renyah dari mulut lelaki putih yang tak sedikitpun berwajah Eropa.

“Aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali?” Ucap Chanyeol sadar jika ia terus diperhatikan.


While I Was Falling


“Eun–ah!”

Suara itu sukses menghancurkan ingatan Chanyeol ketika ia pertama kali bertemu dengan Eun Hye. Laki – laki bertubuh jakung tampak berlari kearahnya. Bukan, tepatnya kearah Eun Hye. Berkarisma. Itulah penilaian Chanyeol saat pertama melihat dengan jelas wajah laki – laki itu didepan kelasnya sebagai murid baru saat SMA tahun lalu. Ia tahu dengan persis siapa laki – laki itu. Bagaimana ia tidak tahu pria yang begitu lancar merebut gadisnya?

“Aku mencarimu keman– eh! Chanyeol–a? Lama kita tidak bertemu!” Sapanya pada Chanyeol. Sosok laki – laki yang mengalahkannya secara tak sadar. Terutama kalah dalam hal keberanian.

Andai waktu bisa diputar, sungguh ia ingin memperbaikinya. Andai ia tidak pernah menunda waktu hingga kapan yang akan menjadi miliknya bisa dimiliki orang lain secara tiba – tiba. Andai saat itu saja, dia berani meminta Eun Hee untuk menjadi miliknya dan tidak terlambat karena ulah laki – laki didepannya yang lebih dulu berani menyatakan cintanya, mengungkapkan seluruh isi hatinya.

“Ya sudah lama.. Kim Kai, bagaimana kabarmu?”


While I Was Falling


 Third (728-words)

“Bumi itu bulat. Bulatan yang berawal dari satu titik ke titik lainnya guna membuatnya sempurna.” –Byun Baekhyun

budapest_opera_1b1

Suara musik klasik terdengar di salah satu gedung opera di Vienna, Austria. Malam ini Vienna State Opera disewa penuh oleh seorang pemuda asal Seoul yang mengemban pendidikan strata dua di University of Vienna. Negara yang kaya akan budaya peninggalan sejarahnya dalam beberapa masa silam. Bangunan kuno yang berdiri menjadi saksi bisu berkembangnya kota tersebut menjadi kota modern seperti saat ini. Dilihat dari segi sejarah, tak pelak jika Austria menjadi tempat tujuan wisata yang didambakan banyak orang lantaran memiliki segudang obyek menarik yang menyimpan  nilai sejarah cukup tinggi, layaknya Schloss Schonburnn, Ringstrasse, Istana Hofburg, Prater Amusement Park, Belfedere, termasuk Vienna State Opera.

Tepuk tangan meriah pun menyusul setelah nada terakhir dimainkan laki – laki yang berdiri didepan lebih dari dua ribu penikmat musik klasik seluruh Vienna. Membuatnya membungkukkan badan berkali – kali sebagai rasa terimakasih yang tak terucap di bibir tipisnya.

Appa!”

Anak laki – laki berumur tiga tahun menyambutnya di belakang panggung. Disusul tangan mungil yang memeluk kakinya. Seulas senyum pun kembali hadir dibibirnya yang sempat menghilang selama beberapa detik. Kedua tangannya pun membopong badan yang tak lebih dari dua belas kilogram tersebut.

“Ji Gun –a, kau dimana? Ji Gun –a!”

Mendengar teriakan dari perempuan yang cukup akrab di telinga pun manik hitamnya kembali berfokus pada anak dalam gendongannya lalu berkata, “Lari dari eomma?”

Belum terjawab pertanyaan dari Baekhyun, suara perempuan kembali terdengar juga diikuti sosoknya yang terlihat dari balik mini dress berwarna biru cerah. “Ji Gun –a, seharusnya kau bilang pada eomma! Tidak hilang begitu saja!” Ucap perempuan itu dengan suara naik satu oktaf. Sedangkan yang dituju terlihat ketakutan, terlihat jelas dari maniknya yang mulai berair.

“Sudahlah Sayang, jangan terlalu keras, lihat dia mulai menangis.” Sahut Baekhyun menenangkan perempuan yang sudah disampingnya sejak empat tahun lalu. Perempuan dengan surai hitam dan mata bulat yang ia temui saat upacara penerimaan mahasiswa baru di kampusnya bernama Kim Na Young. Perhatian dan kelembutan sikap perempuan itu berhasil membuka dan menggetarkan hati yang sudah lama ia kunci rapat.

Ia mengambil alih Ji Gun dari Baekhyun lalu memeluknya erat. “Maafkan eomma, eomma seperti itu karena takut kehilanganmu Gun –ah.” Ucap Na Young lembut pada anak sematawayangnya. Yang diikuti permintaan maaf dari Ji Gun dan kecupan manis di dahi oleh Baekhyun. Sungguh keluarga kecil yang penuh kehangatan dalam detikannya.

images (1)

“Ahh.. aku sungguh iri! haruskah aku menikah sekarang?”

Suara berat itu berhasil merebut fokus Baekhyun maupun Na Young, juga Ji Gun. Menatap dua orang laki – laki yang bertubuh lebih tinggi darinya yang hanya berkisar seratus tujuh puluhan.

“Tak seharusnya kau mengganggu mereka Chanyeol –ah.” Salah satu dari mereka membuka mulut.

Wajah terkejut Baekhyun kini berganti binar bahagia terlihat dari senyum persegi yang selalu menjadi ciri khasnya juga manik hitam yang tampak sayu membentuk eye’s smile. Yang kemudian mulutnya berseru “Sehun –a! Chanyeol –a!”, memeluk kedua sahabat yang ia kenal secara tak sengaja di Lyon beberapa bulan lalu secara manly. “Kalian? Kenapa tidak mengatakan padaku jika kesini!”

“Jika aku mengatakannya padamu, tentu aku akan melewatkan momen forehead-kiss ala Byun Baekhyun.” Celetuk Sehun yang membuat semburat merah muda tampak pada kedua pipi Na Young sedangkan Baekhyun memamerkan deretan gigi beserta menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Seketika semua lampu belakang panggung tak lagi menunjukkan energinya. Melerakan keluarga kecil beserta sahabatnya dalam kegelapan sesaat karena sekat beberapa detik setelahnya muncul sebuah kue tart penuh coklat yang bertuliskan ‘alles Gute zum Geburtstag (selamat ulang tahun) Byun Baekhyun’ disamping dan belasan lilin terbakar api melingkari diatasnya beserta keluarga dan para kru yang membantunya dalam pertunjukan yang ia adakan malam ini.

large (3)

Malam ini, 16 April 2022 tepat 30 tahun diijinkannya oleh Sang pencipta alam melihat kembali satu keindahan yang tak ada bandingnya. Seorang pria yang setiap keringatnya memberi tapak tuk melangkah, setiap nafasnya memancangkan tiang – tiang asa menuju bianglala, yang selalu memberikan apapun yang ia minta dan Baekhyun memanggilnya ‘Ayah’. Seorang wanita yang melahirkan kehidupan dan memberi nyawa pada kata cinta, wanita yang ketika melihat hanya ada empat potong kue untuk lima orang segera mengatakan bahwa dia tidak menginginkan kue tersebut, beliau ia panggil ‘Ibu’. Juga Istri yang sudah berdiri dengannya sejak empat tahun silam, yang  memberi cinta kasih sayang tulus juga menunggunya kala pulang kerja. Anak yang menimbulkan senyum setiap mata memandangnya, memberi semangat kala dirinya jatuh putus asa. Jangan lupakan sahabat layaknya bintang, tak selalu nampak namun selalu ada, yang selalu menghampiri ketika seluruh dunia menjauhinya.

-TAMAT-


SEKILAS INFO


1) Edinburgh City

bca-edinburgh

Ibu kota dan kota terbesar kedua di Skotlandia. Kota ini memiliki penduduk sekitar 450.000 jiwa. Terletak di pesisir timur tanah rendah tengah Skotlandia. Kota ini telah menjadi ibu kota Skotlandia sejak 1437 dan merupakan tempat Eksekutif Skotlandia. Kota ini merupakan pusat zaman penerangan dipimpin oleh universitas edinbugh. Kota lama dan baru Edinburgh terdaftar sebagai situs warisan dunia UNESCO pada 1995. Edinburgh dikenal dengan Edinburgh Festival tahunan, festival seni pertujukan terbesar di dunia, dan juga pesta jalan Hogmanay. Pada saat festival tersebut populasi kota ini berlipat ganda. Kota ini merupakan salah satu tujuan wisatawan dunia, menarik 13 juta pengunjung setiap tahun.

2) The Cafe Royal Bar

CafeRoyalTeaRoom1

Cafe Royal didirikan oleh Mr John Ambrose pada tahun 1817 . Kawasan itu dibangun kembali pada 1860-an dan Cafe Royal pindah ke tempat yang sekarang pada tanggal 8 Juli 1863. Bangunan ini ini telah dibangun dua tahun sebelumnya sebagai show room untuk peralatan gas dan kamar mandi, tetapi tidak pernah tampaknya telah digunakan seperti itu. Banyak dari interior adalah sebagai megah hari ini seperti itu pada akhir tahun 1800-an, meskipun ada mengalami perubahan menjadi: bar pulau itu simpatik diganti pada tahun 1979, dan gantry hanya tanggal kembali ke 2002. Itu hampir sangat berbeda. Grand Metropolitan Hotel mengambil alih bar pada tahun 1965, dan empat tahun kemudian setuju untuk menjual bangunan untuk memungkinkan Woolworths untuk memperluas mereka toko Princes Street. Sebuah kemarahan publik menyebabkan penolakan izin perencanaan dan bangunan dan interior yang terdaftar pada tahun 1970, mengamankan kemegahan untuk kesenangan oleh generasi mendatang.Internal langit-langit yang spektakuler dan pulau besar bar yang menarik dalam diri mereka. Tapi fitur sangat indah enam gambar di dinding bar. Tersebut dilukis oleh John Eyre dan diproduksi sebagai ubin oleh Doultons. Semua acara penemu, masing-masing pada saat penemuan mereka.

3) JeanRichard

28650_JR_JEANRICHARD_1681_LOGO.focus-none.width-220

Brand jam tangan dari Swiss yang berada dibawah Sowind Group. The Sowind Group adalah perusahaan Swiss Haute Horlogerie didirikan oleh Luigi Macaluso dan dipimpin oleh Francois Henri sebagai ketua sejak Juli 2011.Berbasis di La Chaux de Fonds. Grup menggabungkan Girard Perregaux dan JEANRICHARD merek, sebuah Industri jam tangan yang mengembangkan dan memproduksi portofolio lengkap gerakan high-end (lebih dari 100 variasi gerakan yang ada) dan koleksi top-of jam tangan the-range.

4) Vienna State Opera

vienna-state-opera8

sebuah rumah opera dan perusahaan opera dengan sejarah dating kembali ke abad pertengahan ke-19. Hal ini terletak di pusat Wina, Austria. Ini pada awalnya disebut Vienna Pengadilan Opera (Wiener Hofoper).Pada tahun 1920, dengan penggantian Habsburg Monarki oleh Republik Austria. itu berganti nama menjadi Vienna State Opera.Para anggota Vienna Philharmonic direkrut dari orkestra nya.


INTRODUCTION CAST


Yang penasaran dengan visual Support Cast disini aku kasih dehh 😀

[Park Jee In]

large

Wanita karier yang berumur satu tahun lebih muda dari Sehun, pertemuan pertama mereka terjadi pada salah satu festival musim dingin Skotlandia. Gadis berdarah korea-inggris ini menyukai Sehun sejak pandangan pertama.

[Han Eun Hyee]

large (4)

Sahabat sekaligus cinta pertama Chanyeol, namun ia mencintai laki – laki lain tanpa sepengetahuan Chanyeol karena gadis itu tidak mempunyai nyali untuk bercerita kecuali pada dinding kamar tidurnya.

[Kim Na Young]

223919_109873925777997_100002661705046_66407_1660037_n

Wanita yang sudah mendampingi Baekhyun sejak empat tahun silam, sekaligus ibu dari seorang anak bernama Ji Gun.

[Byun Ji Gun]

tumblr_n7777zeWgr1tqnivao1_500

Buah hati dari Baekhyun dan Na Young.


Gimana?

Aneh yaa?

Iyaa tau kok kalo ini aneh dan nggak jelas gitu hahaha :’D Meski vegitu aku harap kalian suka 😀

Jangan lupa dengan apa yang harus kalian lakukan setelah membaca habis tuntas ficlet nggak mutu ini. Kalo lupa aku akan ngingetin kalo kalian harus mengisi kolom komentar dibawah. HEHEHE

Maksa ya? Memang. Habis kalo nggak gini kalian jadi siders mulu kan hayati lelahh bangg nulis ribuan huruf masa balas beberapa huruf aja nggak bisaa :’)

SEE YOU IN ANOTHER FANFICTION

With Love,

Shareena

(Sehun’s Girl)

Advertisements

2 thoughts on “While I Was Falling [Ficlet-Mix] – By JUSTSHAREENA”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s