[FREELANCE] Birthday Wish [2/3]

image

Tittle: Birthday Wish
Author: LyWoo (Felicia Octine)
Lenght: 3
Rating: PG-13
Genre: Sad, romance, etc.
Main Cast: Yoo Hyeji [OC], Oh Sehun [EXO K], Park Chanyeol [EXO K].
Other Cast: Xi Luhan, Xiumin [EXO M].
Disclaimer: Cerita ini 100% dari otak dan imajinasi saya dan beberapa ff, serta beberapa lirik lagu yang menginspirasi saya. Mohon maaf jika kesamaan dengan pihak lain. Tapi kalo emang sama persis alurnya, tegur aja saya, oke? ^^ FF ini pernah dipublish di LyWoo Fanfiction World dan EXO Fanfiction Indonesia
Author’s Note: Warning! Typo merajalela, gaya penulisan aneh, amat sangat dramatis, dll. Plagiator dan silent reader’s, please go away~

>>>Last Chapter<<>>Chapter 2<<<
“Aku mau minta bantuanmu.”
“Mwo?” tanya Chanyeol dingin. Hal itu sukses membuat Hyeji merasa semakin sesak.
Hyeji mencoba menetralkan suaranya yang semula terdengar sedikit bergetar. “Kau, bisa membantuku menjauhi Sehun?”
“M-mwoya? Hyeji-ya, jangan bilang kau
Hyeji mengangguk. “Ini keputusanku. Menjauh dari Sehun dan menjalani sisa hidupku tanpanya. Aku tidak mau melihatnya menangisiku saat hari terakhirku.”
Chanyeol tiba-tiba tersulut emosi mendengar ucapan Hyeji barusan. Matanya menatap tajam mata gadis itu. “Apa maksudmu?! Apa kau baru saja berkata kau akan segera mati? Kau tidak mau berobat?”
“Aku sudah stadium akhir, Chan. Tidak akan bisa disembuhkan meski menjalani kemoterapi sekali pun. Lagipula, biayanya mahal sekali,” jawab Hyeji sambil tersenyum getir.
“Hye
“Kumohon, Chan. Bantu aku untuk menjauhi Sehun.”
***
Jam pelajaran ketiga dimulai, dan Hyeji memutuskan untuk kembali ke kelas walau kondisinya belum stabil. Chanyeol sebenarnya sudah memintanya untuk istirahat sampai bel pulang sekolah berbunyi di UKS, namun Hyeji menolaknya mentah-mentah. Dan akhirnya, dengan terpaksa Chanyeol membantu Hyeji berjalan ke kelas mereka.
Clek
Semua mata sontak memperhatikan keduanya yang berdiri di mulut pintu. Termasuk Lee seonsaengnim yang tengah mengajarkan tentang ekonomi.
“Dari mana kalian?”
“Kami dari UKS seonsaengnim. Tadi Yoo Hyeji
“Duduklah.”
Chanyeol pun membantu Hyeji yang jalannya masih sedikit limbung. Mereka berhenti di samping Sehun dan Yura yang duduk bersama.
“Sehun, kenapa
“Kau duduk bersama Chanyeol saja, ya. Aku dan Sehun Oppa terlanjur duduk bersama saat kau tidak ada tadi,” Yura menjawab pertanyaan Hyeji dengan nada sinis.
Hyeji menatap Sehun dengan sendu. Apa maksudnya Yura menggantikan posisiku? Baru dua jam…
“Yaa! Ada apa di sana?!” tegur Lee seonsaengnim galak yang sontak membuat Hyeji segera menarik tangan Chanyeol dengan sedikit tenaganya yang tersisa.
Sebelum pergi, Chanyeol sempat mendesis geram di samping Sehun. “Lebih baik dari dulu begini. Hyeji akan tertawa seperti dulu jika duduk bersamaku,” bisiknya pelan tepat di depan telinga Sehun.
Sehun menghela napasnya dalam-dalam. Mencoba memendam emosinya dan mengenyahkan niatnya untuk meninju wajah Chanyeol.
Pelajaran berlangsung dengan sunyi. Hanya terdengar suara Lee seonsaengnim yang menggema di ruang kelas.
Hyeji menatap lurus papan tulis. Namun berkali-kali, matanya melirik Sehun dan Yura. Dadanya sesak melihat Sehun dan Yura yang terlihat tengah bercanda. Sehun bahkan tersenyum kecil di tengah candaan mereka. Ia ikut tersenyum kecil melihat laki-laki itu tersenyum. Pasalnya, sudah lama ia tidak melihat Sehun tersenyum. Senyumnya manis sekali, dan ia sangat suka melihatnya tersenyum. Walau dia tersenyum pada gadis lain.
Chanyeol menatap Hyeji di sampingnya dengan tatapan kosong. Ia tersenyum getir. Bahkan karena terlalu sibuk memperhatikan kekasih yang tidak pernah memperdulikannya itu, gadis itu tidak sadar kalau sedari tadi ia tengah diperhatikan oleh orang di sampingnya.
“Hyeji-ya,” panggil Chanyeol dengan suara pelan sambil menarik lengan seragam Hyeji.
“Eum?” Hyeji menoleh dan menunjukkan senyum manisnya. Ia tersenyum agar Chanyeol menganggap dirinya sedang dalam keadaan baik.
Chanyeol secara refleks ikut menunjukkan senyum lebarnya melihat senyum Hyeji. “Apa kau bosan? Bagaimana jika kita main sebuah permainan?”
Mata Hyeji melebar mendengan ucapan Chanyeol. Ia lega karena Chanyeol tidak mengkhawatirkannya. Namun… Bermain? Ia merasa otak Chanyeol sedikit rusak.Gila, bermain di saat Lee seonsaengnim yang merupakan titisan iblis?
“Chan, ini sedang jam pel
“Asal kau tidak berisik, kita akan aman. Kau tahu ‘kan bagaimana ciri guru botak itu dalam mengajar, ‘kan? Yang penting kita bisa mengerjakan soal yang akan dia berikan nanti.”
“Aish, bagaimana kita bisa jawab kalau tidak memperhatikan?” Hyeji mulai kesal dan semakin ingin menjitak kepala sahabatnya ini.
Chanyeol menyengir dan menunjukkan gigi-giginya. “Kau sudah belajar sampai bab sebelas, ‘kan? Lagipula ini masih bab delapan. Ayolah, kau akan bisa menjawabnya nanti.”
“Lalu kau?”
“Menyontek.”
Pletak
“Auchh! Itu sakit tahu, Hyeji-ya! Aish! Kepalaku yang indah!” pekik Chanyeol heboh. Ia memegangi kepalanya yang terkena jitakan Hyeji dengan satu tangannya dalam keadaan berdiri dan jari telunjuk kirinya menuding-nuding wajah Hyeji.
Hyeji melebarkan matanya. Sadar akan perhatian penghuni kelasnya yang memperhatikan mereka. Tanpa babibu, ia berdiri dan sedikit berjinjit untuk membekap mulut Chanyeol dengan tangan kanannya.
“Chan… Lee ssaem…,” bisik Hyeji dengan suaranya yang nyaris tidak terdengar. Namun karena jarak wajah mereka yang hanya 5cm, Chanyeol dapat mendengarnya.
“Sedang apa kalian berdua, hah? Bercanda? Atau berpacaran di kelas?” tanya Lee seonsaengnim dengan nada menyeramkan yang membuat keduanya memilih bungkam.
Satu kelas berbisik-bisik mendengar ucapan Lee seonsaengnim barusan. Pasalnya, setahu mereka Hyeji adalah kekasih Sehun. Yura tersenyum sinis melihat keduanya. Dan Sehun memandang keduanya dengan tajam dan penuh dengan api cemburu. Sungguh, ia benar-benar merasa kesal dengan keduanya. Tiba-tiba ia mengingat ucapan Chanyeol sebelumnya, dan sepertinya laki-laki itu mencoba membuktikan ucapannya.
“Mianhae, seonsaengnim. Kami hanya
“Keluar dari kelasku! SEKARANG JUGA!”
Chanyeol pun langsung menarik pergelangan tangan Hyeji dan membawanya berjalan ke luar kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia sempat melirik Sehun dan kebetulan laki-laki itu juga tengah menatapnya dengan tatapan benci. Ia hanya menyeringai pada Sehun.
Sepeninggalan Hyeji dan Chanyeol, kelas masih tetap ribut. Sehun pun masih merasa geram dengan insiden yang baru terjadi beberapa menit yang lalu. Namun akhirnya ia kembali memperhatikan Lee seonsaengnim, begitu juga dengan murid lainnya. Kelas sudah kembali tenang. Berbanding terbalik dengan perasaan Sehun yang sangat tidak tenang. Ia mengkhawatirkan kondisi Hyeji yang kini tengah bersama Chanyeol.
***
Hyeji membolak-balikan tubuhnya di tempat tidur. Tubuhnya terasa lelah, namun tidak dengan matanya. Dan ia yakin hal itu disebabkan karena perasaan gusar dan berbagai masalah yang sedang dipikirkannya.
Ia sedang bingung mengingat pembicaraannya dengan Chanyeol saat mereka tengah dihukum tadi siang. Chanyeol memaksanya untuk melakukan kemoterapi. Bahkan sebelum ia sempat menolak hal itu karena masalah uang, Chanyeol sudahmengatakan tentang pamannya yang merupakan seorang dokter di sebuah rumah sakit yang sedang mengadakan pengobatan gratis bagi yang tidak mampu. Dan dirinya bungkam seketika. Itu artinya, ia harus memenuhi permintaan Chanyeol.
Masih terbayang di benaknya, bagaimana wajah memohon Chanyeol agar dirinya mau melakukan kemoterapi. Bahkan Chanyeol sempat meneteskan air matanya agar ia bersedia melakukan kemoterapi itu. Dengan alasan, laki-laki itu tidak mau kehilangan dirinya. Hal itu membuatnya terpaksa berjanji pada Chanyeol untuk melakukan kemoterapi agar laki-laki itu berhenti menangis. Ia paling tidak bisa melihat sahabatnya itu menangis, apalagi karena dirinya.
Hyeji menghapus setetes air mata yang mengalir di pipinya. Isakan kecil mulai terdengar mengusir kesunyian malam di kamarnya yang gelap gulita dan bahunya bergetar hebat. Ia memeluk gulingnya erat-erat. Jika terpikir kenyataan bahwa dirinya akan segera meninggalkan orang yang ia sayangi, hatinya benar-benar merasa tidak rela dan sakit. Apalagi jika mereka akan menangisi kepergiannya.
“Mungkin kalau bukan karenamu dan Sehun, aku akan segera mengakhiri hidupku secepat mungkin, Chanyeol-ah… Hidupku benar-benar terasa berat….”
Keputusannya sudah final. Ia akan menjalani kemoterapi itu, agar bisa berada di sisi Chanyeol lebih lama. Dan sesegera mungkin menjauhi Sehun, melepaskan laki-laki itu dari sisinya. Meskipun kedua hal itu hanya akan membuatnya tambah merasa tersiksa. Ia hanya ingin membuat orang yang paling ia sayangi bahagia sebelum ia pergi meninggalkan mereka.
***
Sehun tidak habis pikir. Bagaimana bisa Hyeji menghindarinya seperti ini?
Yah, sudah seminggu ini gadis itu menghindari dirinya. Mulai dari menjadi teman sebangku Chanyeol, yang membuatnya harus duduk bersama gadis cerewet yang berbeda 100% dengan Hyeji, yaitu Song Yura. Kemudian, Hyeji juga tidak pernah menjawab teguran dan telepon darinya.
“Argghhh!”
Sehun mengacak rambutnya frustasi. Ia duduk di pinggir kasurnya dan memandangi layar ponselnya yang menyala terang dengan pandangan kosong. Sudah puluhan kali ia mencoba menghubungi gadis itu, tapi tak satu pun yang diangkat.
Ingin sekali ia menarik gadis itu untuk berbicara empat mata, memperjelas hubungan mereka saat ini. Namun, selalu ada Chanyeol yang menghalanginya. Laki-laki tinggi dengan senyum menyebalkan itu terus menempel dengan Hyeji seperti permen karet busuk.
Grr, bahkan ia geli sendiri membayangkan senyum idiot laki-laki itu. Chanyeol selalu menyebalkan bagi Sehun saat berada di dekat Hyeji. Mulai dari mengusap rambut, merangkul, sampai mencium pipi Hyeji. Tak munafik, ia benar-benar merasa panas melihat semua itu.
“Park Chanyeol…,” desisnya geram sambil tetap menatap ponselnya. “Aku benar-benar berniat menyingkirkanmu jika kau menghalangi hubunganku dengannya. Dasar
Tiba-tiba ponselnya bergetar sejenak, lalu muncul gambar pesan masuk di layar ponselnya. Seulas senyum terlukis di wajahnya begitu melihat nama si pengirim pesan. Dengan cepat, ia membukan pesan itu dan membacanya.
Hyeji mengajaknya berkencan?!
Astaga, ia benar-benar senang setengah mati saat ini. Akhirnya, ia bisa lepas dari perasaan gusarnya mengenai hubungannya yang ia sangka akan segera berakhir. Tidak terbayang di benaknya hidup tanpa Hyeji, gadis satu-satunya yang ia cintai setelah ibunya. Pasti akan terasa hambar dan menyakitkan. Belum lagi, ia merasa kecanduan untuk melihat senyum gadis itu. Bagaimana rasanya jika ia tidak bisa melihat senyumnya dalam jangka waktu yang panjang? Memikirkannya semua itu membuatnya semakin merasa takut kehilangan gadis itu.
Sekejap, Sehun menjadi seperti gadis yang baru diajak kencan oleh lelaki pujaannya. Ia menggepalkan kedua tangannya di udara dengan senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Sebuah tekat untuk menjadi kekasih yang lebih romantis dan hangat muncul dalam benaknya. Dengan semangat, ia membongkar lemarinya, mencari-cari baju yang akan dikenakannya untuk kencannya dengan Hyeji besok.
“Oh, astaga! Kau sedang apa, Oh Sehun?!” pekikan Luhan menyadarkan Sehun dari tindakannya yang sangat girly.
Luhan berdiri di ambang pintu dengan mulut terbuka lebar. Tidak menyangka jika yang dilihatnya ini benar-benar sepupunya yang terkenal dengan sifatnya yang sedingin es.
Sehun berdiri di depan kaca, sambil mencocokan sebuah kemeja di tubuhnya. Mukanya merah padam menahan malu yang teramat sangat.
“Sehunnie?”
“H-hyung, b-bantu aku memilih pakaian untuk berkencan besok. Jebal, Luhannie hyung~ Kau mau, ‘kan?” rengek Sehun dengan suara manja seperti anak kecil. Dan… Ohh! Jangan lupakan aegyo yang sedang dilakukannya!
Luhan sweetdrop seketika. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Keringat dingin mengalir dari tubuhnya. Perasaan mual, takut, dan geli menjadi satu ketika melihat apa yang sedang dilakukan laki-laki di hadapannya. Dan…
BRUKK
“HYUNG!”
Luhan pingsan seketika saking terkejutnya.
***
Hyeji memainkan minumannya dengan mengaduk-aduknya dengan sedotan. Helaan napas terdengar darinya, entah sudah yang ke berapa kalinya hari ini. Ia sedang menunggu seseorang, dan ini sudah 20 menit lewat dari waktu yang sudah ditetapkan.
“Mungkin dia tidak akan datang…,” lirih Hyeji dengan nada kecewa, mengingat semalam orang itu tidak membalas pesannya. Namun, matanya seketika berbinar begitu mendengar suara bel yang menandakan seseorang memasuki cafe yang tengah di tempatinya sekarang. Dan hatinya menjerit senang mendapati orang yang ditunggunya sudah datang.
Hyeji berdiri dan menatap Sehun dengan senang sambil tersenyum manis. Sehun hanya menatapnya dingin lalu menarik kursi dan duduk di atasnya. Diikuti dengan Hyeji yang masih mempertahankan senyumnya, yang sebenarnya jika diperhatikan terlihat sekali jika itu adalah sebuah senyum paksa. Sehun tidak membalas senyumnya.
“Ada apa mengajakku ke sini?” tanya Sehun dingin sambil memasang poker face andalannya. Bahkan tidak ada permintaan maaf karena keterlambatannya seperti yang Hyeji harapkan.
Sambil tetap mempertahankan senyumnya agar tidak luntur karena rasa sesak yang dirasakannya, Hyeji mengeluarkan sesuatu dari tas selempang berwarna soft blue dari kain beludru yang dibawanya. Lalu menaruhnya di depan Sehun. “Ini untukmu.”
Sehun menaikkan sebelah alisnya, bingung. Ia mengangkat tangannya yang sejak tadi berada di atas kedua pahanya, namun menurunkannya kembali. “Untuk apa?”
Senyum yang sejak tadi Hyeji paksakan agar tidak luntur, kini luntur seketika. Tatapan hangatnya pada Sehun, kini sudah berubah menjadi tatapan terluka. “Kau tidak ingat, ini hari anniversary kita yang ke-3?” tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar. Matanya sudah berkaca-kaca siap mengeluarkan buliran bening yang menumpuk di pelupuk matanya. Namun dengan sekuat tenaga, ia menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah.
Sehun tertegun menatap mata Hyeji. Terlihat jelas rasa terluka yang tengah dirasakan gadis itu. Ia merutuk dalam hati, kenapa ia sebodoh ini? Seharusnya ia mengingat ucapan Chanyeol waktu itu. Hyeji gadis yang selalu mementingkan hari jadi mereka dan ulang tahunnya. Ugh, bahkan ia melupakan tekat yang sudah ia buat sendiri semalam.
Detik berikutnya, air mata jatuh bebas menuruni pipi Hyeji. Gadis itu menangis. Entah untuk yang keberapa kalinya. Hyeji menyerah. Padahal ia sudah sering mengatakan pada dirinya sendiri, untuk tidak menangis di hadapan Sehun. Tapi sekarang ini… hatinya benar-benar sakit. Ia pikir selama seminggu ia menjauhi Sehun, sebagai percobaan agar suatu hari saat ia menjauhi Sehun untuk selamanya ia bisa lebih kuat, laki-laki itu akan berintropeksi diri dan berubah. Tapi ternyata tidak. Usahanya untuk menjauhi laki-laki itu meski hanya seminggu, yang ia lakukan dengan susah payah, sia-sia. Sehun, kau benar-benar jahat, jeritnya dalam hati.
Sehun merasa dadanya sesak. Melihat gadis yang dicintainya menangis lagi karenanya. Karena kebodohan dan keegoisannya. Ia pikir hari ini akan menyenangkan, tapi ternyata tidak karena ia kembali membuat Hyeji menangis.
“Hyeji-ya, mianhaeyo… Kau tahu, aku sangat sibuk. Jadi sulit bagiku untuk mengingat tanggal penting seperti ini….”
“Aku tahu. Tapi, kau selalu bilang begitu tahun-tahun sebelumnya.”
“Hyeji-ya
Hyeji bangkit dari kursinya dan memakai tasnya kembali setelah memasukkan kembali hadiah darinya yang ditolak Sehun ke dalam tasnya. Yang membuat Sehun sedikit terperangah, tidak menyangka bahwa gadis itu akan benar-benar marah. Ia langsung menahan lengan Hyeji saat gadis itu hendak pergi.
“Eodiga?”
Hyeji mengusap air matanya, lalu mengukir seulas senyum getir di wajahnya. Ia tidak boleh menyerah dan melupakan tujuannya mengajak Sehun berkencan hari ini hanya karena masalah yang baru terjadi beberapa menit lalu. “Ayo kita ke Lotte World!” serunya dengan nada ceria yang dipaksakan.
Sehun menatapnya bingung. Tidak menyangka dengan sikap Hyeji yang tiba-tiba berubah dengan sangat cepat. Lalu detik berikutnya, tangannya yang semula menahan tangan Hyeji, kini digenggam erat dan ditarik oleh gadis itu. Yang membuatnya mau tidak mau ikuti berdiri dan mengikuti langkah gadis itu. Ia tersenyum kecil melihat tangan Hyeji yang mungil, namun tetap berusaha mengenggam jarinya yang lebih besar.
Srett
Hyeji terkejut. Pipinya memanas dan ia merasa ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Sehun membalik keadaan dengan mengenggam telapak tangannya dan membuat jarinya tenggelam di antara jari-jari Sehun yang mengenggamnya. Membawanya berjalan menuju halte bus terdekat. Rasanya hangat sekali, ya Tuhan~
Perjalanan menuju Lotte World memakan waktu satu jam. Selama perjalanan, Hyeji tidur dengan kepalanya yang bersandar di bahu Sehun. Sehun tidak keberatan, melainkan tersenyum tipis sambil memandangi wajah Hyeji yang terlihat damai saat tidur. Sesekali, tangannya terulur untuk menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu ke belakang telinganya.
Bus tiba di tujuan. Sehun segera membangunkan Hyeji dengan menepuk-nepuk pipi gadis itu dengan lembut. Namun ia tidak sadar juga.
“Yaa! Ireona, Hyeji-ya. Kau mau kucium, eoh?”
BRUKK
Hyeji yang tengah berpura-pura tidur, refleks mendorong dada Sehun untuk menjauh. Wajahnya merah padam melihat tatapan Sehun yang menggodanya sambil berkata, “kau pura-pura tidur rupanya.” Ugh, Hyeji merutuki kebodohannya dalam hati. Ah, tapi bukankah sayang jika ia tidur dan tidak bisa menikmati waktunya dengan Sehun? Jadilah ia menganggap tindakan itu sudah benar.
Setelah tertawa sebentar, Sehun segera menarik pergelangan tangan Hyeji begitu mendengar peringatan supir bus yang akan segera jalan kembali dan membawanya keluar bus. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan.
Mereka menikmati kencan mereka di Lotte World dengan mencoba berbagai wahana seru. Mereka tersenyum dan tertawa bersama-sama dengan bahagia sambil bergandengan tangan. Yang tentu saja menjadi perhatian orang-orang yang ada di sana. Beberapa memuji keromantisan keduanya.
“Sehun-ah, kajja! Kita berfoto di sana!” ajak Hyeji sambil menarik-narik ujung kemeja berwarna hitam bagian lengan yang dikenakan Sehun.
Sehun terkekeh dan mengusak rambut Hyeji. Hal yang sudah lama ingin ia lakukan pada Hyeji. “Kau berposelah, aku akan memotretmu,” ucapnya sambil menyalakan kamera di ponselnya.
Hyeji sedikit kecewa karena Sehun menolak berfoto bersamanya secara tidak langsung. Namun, ia segera berlari ke sebuah pohon yang berhias bunga-bunga kecil begitu melihat Sehun sudah siap dengan ponselnya. Ia tersenyum manis dan mulai berpose. Sehun pun memotretnya berkali-kali.
Setelah puas, Hyeji kembali ke tempat Sehun lalu merebut ponsel Sehun dan melihat-lihat foto yang diambil. Ia tersenyum sendiri memperhatikan foto dirinya. Sehun menatap orang-orang yang lewat sambil meminum coffenya.
“Wah, manis sekali mereka,” puji Hyeji saat melihat sepasang kekasih yang tengah berfoto bersama. Yang laki-laki tampak memeluk perut gadis itu dari belakang sambil tersenyum ke arah kamera, dan yang perempuan menempelkan pipinya dengan pipi laki-laki itu sambil ikut tersenyum ke arah kamera juga. Rasa iri muncul di benaknya. Ia juga ingin bisa berfoto seperti itu dengan Sehun.
Sehun memang selalu tidak peka. Ia malah memainkan ponsel Hyeji yang ia ambil dari tas selempang gadis itu, lalu melihat-lihat isinya. Bibirnya kadang mengerucut melihat percakapan Hyeji-Chanyeol di pesan. Belum lagi, wallpaper ponsel kekasihnya itu bergambar foto Chanyeol dan Hyeji yang saling membentuk simbol hati dengan tangannya dan keduanya tersenyum dengan menampakkan gigi.
“Sehun-ah, ayo kita berfoto bersama!” seru Hyeji dengan ceria.
Sehun menatap Hyeji sebentar yang tengah menatapnya dengan mata berbinar dengan senyum lebar di bibirnya, namun ia menggeleng tanda tidak setuju. Dan kembali membongkar isi ponsel Hyeji.
Hyeji mendesah kecewa karena Sehun menolak ajakannya. Ia memandang iri sepasang kekasih itu. Bahkan keduanya kini sedang saling suap-menyuap es krim setelah sesi berfotonya selesai.
Aku hanya ingin mengukir kenangan yang indah denganmu, Sehun…
Hyeji ternyata tidak menyerah begitu saja begitu mengingat kembali tujuannya sebelum berangkat kencan tadi. Ia melirik Sehun yang asik dengan ponsel miliknya, lalu merebutnya dengan gerakan cepat.
“Yaa!” protes Sehun merasa tidak senang. Padahal ia tengah menggeledah galeri foto gadis itu. “Biarkan aku melihatnya, Hyeji-ya!”
“Ini ‘kan milikku. Pakai saja milikmu sendiri,” gerutu Hyeji sambil memeriksa kembali ponselnya setelah mengembalikan ponsel milik Sehun. “Untuk apa melihat foto-fotoku, huh?”
“Aish! Cepat sini, aku lihat dulu! Aku berhak melihat semua isi ponselmu!”
“Hm?”
“Yoo Hyeji!”
“….”
“Yaa! Pppali!”
“Belikan es krim lalu berfoto dulu denganku. Baru aku akan membiarkanmu melihat isi ponselku!”
Sehun mengangkat sebelah alisnya. Sejak kapan Hyeji berani mengancamnya? Astaga… sepertinya image yang sudah ia pertahankan luntur karena kencan hari ini. Dengan terpaksa, ia menyetujui kesepakatan aneh itu dengan menganggukan kepalanya sambil tetap memasang poker face andalannya yang sempat hilang tadi.
Hyeji tersenyum puas, lalu segera menarik tangan Sehun ke sebuah kedai es krim terdekat.
“Ahjussi, dua es krim coklat ya,” ucap Hyeji pada penjual es krim itu. Lalu ia melirik pada Sehun di sebelahnya. “Ahjussi, kau pesan apa?” godanya sambil tersenyum geli karena melihat wajah Sehun yang masam.
“Apa kau bilang? Ahjussi?!” tanya Sehun kaget. “Ck, tidak perlu. Aku tidak berminat pada makanan bocah,” sahutnya dengan nada kesal lalu membuka dompetnya dan memberikan sejumlah uang pada Hyeji untuk membayar es krim.
Hyeji menggerutu begitu Sehun meninggalkannya menuju sebuah bangku kosong yang terletak di bawah sebuah pohon rindang. Ia segera membayar pesanannya dan mengucapkan terima kasih pada penjual es krim tersebut, lalu dengan kedua tangan yang penuh es krim, ia menghampiri Sehun dan duduk di sampingnya.
“Hm, ini enak lho, ahjussi,” ucap Hyeji sambil menjilati es krimnya bergantian. Dari kiri, lalu kanan. Benar-benar terlihat seperti anak kecil.
Sehun sedikit terkekeh geli melihat tingkah kekanakan Hyeji yang sudah lama tidak dilihatnya. Lalu ia kembali fokus pada game yang sedang ia mainkan di ponselnya.
“Huaa~ Es krimnya manis sekali! Aku jadi mau lagi!” seruan Hyeji mau tidak mau membuat Sehun menoleh padanya. Dan matanya terbelalak melihat kedua tangan gadis itu yang tadi penuh es krim, kini kosong.
“K-Kau sudah menghabiskannya?!” tanya Sehun tidak percaya.
Dengan ekspresi polosnya, Hyeji menganggukan kepalanya. “Aku memang cepat kalau makan es krim!”
“Astaga, Hyeji-ya! Ini baru 2 menit, dan kau sudah menghabiskan dua es krim? Apa kau membuangnya saat aku tidak memperhatikanmu?”
“Iya, iya, ahjussi. Kau ini tidak percaya sekali, sih. Sudah, ayo kita berfoto!”
Hyeji berdiri sambil terus tersenyum lebar dan menarik tangan Sehun, bermaksud mengajaknya berdiri juga. Namun, Sehun malah menarik tangannya dan membuat ia jatuh terduduk di pangkuan Sehun. Wajahnya memerah seperti tomat.
“S-Sehun-ah, kau mau apa, eoh?” tanya Hyeji yang merasa gugup dan berdebar. Ia berusaha menutupi wajah bersemunya, agar tidak terlihat oleh Sehun. Namun percuma, kedua tangannya di genggam Sehun, dan posisi duduknya sedikit menyamping.
Sehun menaikan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Hyeji. Lalu ia sedikit menyeringai setelah mengetahui hal yang tengah dipikirkan gadis itu. Dengan lembut, ia menarik dagu Hyeji dan menghadapkannya padanya, membuat mereka saling berhadapan. “Kira-kira apa, hm?” bisiknya lembut di telinga Hyeji.
“S-Sehun… Ini tempat umum…,” balas Hyeji dengan suara rendah dan tenggorokan yang terasa tercekat.
Hyeji ingin menjerit. Sehun benar-benar membuatnya mematung kaku. Matanya bahkan tidak bisa lepas dari mata laki-laki itu. Seakan matanya dikunci agar terus menatap mata Sehun. Wajahnya dan Sehun kini sangat dekat. Bahkan hanya 7cm. Ia merasa sesak napas, jantungnya berdetak tidak teratur.
Sehun memajukan wajahnya, membunuh jarak di antara mereka. Ia terkikik geli dalam hati melihat ekspresi Hyeji saat ini. Benar-benar manis, menurutnya.
Hyeji memejamkan matanya rapat-rapat. Tidak berani memikirkan apa yang akan terjadi, meski sudah terpikirkan. Degup jantungnya semakin keras ketika ia merasakan sesuatu mengenai permukaan bibirnya. Oh tidak
“Se
“Buka matamu.”
Sesuai perintah, Hyeji mulai membuka matanya perlahan dengan takut-takut. Yang ia lihat pertama kali adalah wajah tampan Sehun yang dihiasi seringai kecil di bibirnya.
“A-apa yang baru saja ter
Sehun mengangkat sebuah tissue yang terdapat noda berwarna coklat di permukaannya, menunjukkannya pada Hyeji. “Kau pikir apa, huh?” tanyanya dengan nada menggoda.
“Yaa! Oh Sehun!” jerit Hyeji kesal lalu bangkit dari posisi memalukan menurutnya itu. Dengan memasang wajah kesal, ia berdiri di hadapan Sehun yang sedang tertawa kecil.
“Hahaha, memang apa yang kau pikirkan, eum?”
Mati aku, jerit Hyeji dalam hati.
“Ah… sepertinya kau terlalu sering menonton drama sampai berpikiran mesum seperti tadi, ‘kan? Ckck….”
“Yaa! Apa-apaan kau, Sehun-ah?” Hyeji tidak terima. “S-sudahlah, ayo penuhi janjimu, ahjussi!”
“Tidak jika kau masih memanggilku dengan embel-embel itu!” rajuk Sehun. “Memang aku terlihat setua itu, eoh?”
Hyeji tertawa senang melihat ekspresi masam Sehun. Ia menarik tangan Sehun dan membuatnya berdiri. “Aniyo. Kau sangat tampan, kok! Bahkan melebihi personel EXO dan Boyfriend sekali pun!”
“Benarkah?” tanya Sehun tidak percaya. “Aku bahkan melihat foto mereka dalam satu album di ponselmu, sampai seribu foto. Sedangkan fotoku hanya
“Maka dari itu, ayo kita berfoto! Agar aku bisa menyimpan banyak fotomu!”
Sehun mendesah, pasrah saja ketika tangannya ditarik oleh Hyeji. Ia berdiri di bawah sebuah pohon, sedangkan Hyeji sibuk berbicara dengan seseorang yang sepertinya akan membantu memotret mereka.
“Ayo, kita buat kenangan indah!” seru Hyeji senang ketika ia sudah berdiri di samping Sehun.
Sehun hanya memasang wajah datarnya saat difoto, sedangkan Hyeji memeluk lengannya sambil tersenyum manis. Menyadari Sehun yang berekspresi tidak senang saat difoto, ia mulai merengek pada laki-laki itu.
“Sehun-ah, jebal… Ini terakhir kalinya aku meminta hal seperti ini. Aku berjanji!”
“Lain kali saja, aku sedang badmood.”
“Sehun-ah….”
“….”
“Sehunnie? Kasihan pemotret itu, dia menunggu!”
“….”
Hyeji mendesah kecewa karena Sehun tidak menanggapinya. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kau benar-benar jahat… Aku membencimu,” desisnya dengan suara bergetar.
Sehun sedikit tersentak mendengar ucapan Hyeji. Ia sadar, ia kembali mengecewakan gadis itu. Begitu Hyeji hendak menghampiri orang yang memotret mereka untuk membatalkan pemotretan, ia segera menahan lengannya.
“Geurae, hanya satu kali.”
Hyeji tersenyum lebar. “Gomawo!”
Mereka mulai berpose. Kini, bukan hanya Hyeji yang tersenyum manis, Sehun juga melakukannya dengan lengan yang dipeluk gadis itu.
“Hana, deul
Begitu aba-aba terakhir, Sehun mengubah pose mereka. Sehun segera memeluk erat pinggang Hyeji, lalu mengecup pipi gadis itu. Mata Hyeji membulat kaget.
“ set!”
Cekrek!
Dan terekam sudah moment manis itu.
Hyeji menundukan wajahnya yang terasa panas. Matanya juga mulai kembali berkaca-kaca. Perasaan bahagia begitu membuncah dalam dirinya. Ia benar-benar tidak menyangka bahkan sebelumnya tidak berani mengharapkannya bahwa Sehun akan melakukan hal manis seperti itu. Sehun mencuri first kissnya, meski hanya di pipi. Namun itu semua mampu membuatnya merasa lebih bahagia di sisa-sisa hidupnya.
Sehun menerima ponsel Hyeji dari laki-laki yang membantu memotret mereka dan mengucapkan terima kasih, lalu kembali pada Hyeji dan melihat hasil foto yang diambil tadi. Senyuman tipis muncul di bibirnya. Geli rasanya melihat foto terakhir tadi, ia masih tidak menyangka dirinya bisa melakukan hal semanis itu. Ia melirik Hyeji, yang sedari tadi menundukkan kepalanya setelah selesai berfoto. Kedua alisnya bertatut bingung.
“Hye, kau kenapa?” tanya Sehun lembut sambil menepuk pundak Hyeji pelan. Ia sendiri tidak sadar dengan perubahan sikapnya hari ini. Entahlah, tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap lebih baik pada Hyeji mulai hari ini. Mengingat ia sudah terlalu sering menyakiti gadis itu.
Hyeji benar-benar ingin mengeluarkan air matanya saat ini begitu mendengar suara Sehun yang sangat lembut. Sehun lagi-lagi mampu membuatnya tersentuh entah untuk yang ke berapa kalinya hari ini. “G-gwaenchannayo,” jawabnya pelan. Tenggorokannya terasa tercekat.
Sehun mengusap puncak kepala Hyeji dengan lembut. “Lalu setelah ini kau mau ke mana lagi? Hari sudah hampir malam.”
“Bisa kau temani aku ke supermarket? Kita beli beberapa bahan masakan, lalu membuat makan malam sendiri untuk merayakan hari anniversary kita! Eotteokhae?” usul Hyeji bersemangat.
Sehun mengangguk setuju. Ia sendiri masih sibuk melihat-lihat isi ponsel kekasihnya itu sambil berjalan mengikuti Hyeji yang berjalan duluan di depannya menuju halte bus terdekat.
Saat perjalanan, Hyeji kembali tidur dengan kepalanya bersandar di bahu Sehun. Sehun sibuk melihat-lihat isi ponsel Hyeji. Tanpa sepengetahuan gadis itu, ia mengirimkan beberapa foto Hyeji ke ponselnya. Terkadang, ia menghapus foto-foto hasil selfie Chanyeol yang tersimpan di ponsel Hyeji dengan raut wajah kesal. Bisa-bisanya, gadis itu tidak mempunyai foto dirinya yang notabene kekasihnya, tetapi malah menyimpan foto laki-laki lain. Sehun benar-benar merasa cemburu. Dengan iseng, ia mengirimkan foto dirinya sendiri yang menurutnya cukup bagus dari ponselnya ke ponsel Hyeji.
Mereka turun di halte bus yang dekat dengan rumah Hyeji. Kemudian mereka mampir ke supermarket terdekat untuk membeli berbagai macam bahan masakan. Hyeji asik memilih, sedangkan Sehun mendorong trolly yang berisi bahan-bahan masakan di belakang Hyeji. Ia tersenyum kecil menyadari tingkah mereka yang sudah seperti sepasang suami-istri. Ia harap, suatu hari nanti, ia bisa menjadi pendamping hidup Hyeji.
Dua jam setelahnya, tepat pukul 19.05 Dinner mereka dimulai. Menyiapkan hidangan untuk acara dinner mereka menyita waktu sebanyak satu setengah jam, dan itu terasa sangat melelahkan. Tapi kini, mereka menatap kagum berbagai hidangan yang tertata rapih di meja. Oh, jangan lupakan tiga batang lilin dan dua tangkai mawar merah yang ditata rapih di sebuah vas yang diletakkan di tengah-tengah bersama hidangan untuk dinner mereka. Lampu ruangan mati, dan mereka hanya mengandalkan cahaya lilin untuk makan. Namun, suasana itu benar-benar terasa romantis.
Hyeji tersenyum-senyum tidak jelas memperhatikan lilin dan mawar yang terlihat indah di hadapannya. “Wah, aku baru pertama kali makan dengan suasana yang seperti ini!” pekiknya gembira sambil menatapi satu persatu hidangan yang tersaji, mempertimbangkan mana yang akan ia cicipi terlebih dahulu. Kedua tangannya masing-masing menggenggam garpu dan pisau.
Sehun mendengus mendengar ucapan Hyeji yang menurutnya sangat kekanakan. “Jinjja? Aku tidak percaya. Seharusnya Chanyeol sudah pernah mengajakmu makan yang seperti ini,” balasnya asal yang entah kenapa tiba-tiba memikirkan nama Chanyeol di otaknya. Yang terlintas di pikirannya adalah ‘Chanyeol pasti sering makan bersama Hyeji dengan suasana seperti ini.’.
“Kenapa tiba-tiba menyebut Chanyeol?” gerutu Hyeji yang merasa kesal karena Sehun menyebut nama orang lain di tengah aktivitas mereka. Benar-benar merusak suasana, menurutnya.
Sehun diam saja tidak menanggapi. Ah, lebih tepatnya tidak mau memperburuk suasana. Hyeji yang merasa diabaikan, mengangkat bahunya acuh dan mulai berdoa. Perutnya sudah berteriak minta diisi. Begitu juga dengan Sehun. Setelah berdoa, mereka mulai menyantap hidangan yang dibuat oleh mereka sendiri. Terkadang, desisan muncul dari bibir keduanya karena makanan yang mereka buat ada beberapa yang terasa asin, dan terkadang hambar. Setengah jam kemudian, keduanya menyelesaikan acara makannya karena merasa kenyang. Masih cukup banyak hidangan yang tersisa. Namun, mereka benar-benar tidak kuat untuk menghabiskannya lagi dan memilih untuk membiarkannya.
“Sehun, ayo kita lihat kembang api di Sungai Han!” ajak Hyeji setelah mengingat jadwal kegiatan terakhirnya bersama Sehun yang sudah ia rencanakan untuk hari ini.
Sehun yang masih merasa pengap karena perutnya terlalu penuh, menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Ia menatap Hyeji tajam. “Aku tidak kuat berjalan, bodoh. Kenyang sekali!”
Hyeji sedikit tercekat mendengar kata ‘bodoh’ dari bibir Sehun. Namun ia segera menormalkan ekspresinya kembali. Ia meraih tangan Sehun yang berada di atas meja, lalu sedikit meremasnya. “Kumohon, sekali ini saja. Ini yang terakhir,” ucapnya memohon sambil menatap mata Sehun dalam-dalam.
Sehun balik menatap mata Hyeji. Terbesit rasa bersalah di hatinya melihat tatapan Hyeji yang terlihat sedikit terluka. Dan akhirnya, ia menyetujui ajakan Hyeji. Ia ingin memanfaatkan hari ini untuk menunjukkan rasa cintanya pada Hyeji.
***
Chanyeol menatap bubur ikan yang sudah ia buat untuk Hyeji dengan nanar. Bubur itu sudah dingin. Ia mengira Hyeji akan segera kembali karena ini sudah pukul 9 malam. Tapi, ini sudah lewat 2 jam dari waktu kembali yang Hyeji janjikan. Gadis itu berjanji akan pulang pukul 7 malam, dan Chanyeol pikir pada jam itu Hyeji belum makan jadi ia memutuskan untuk membuatkan gadis itu sedikit makanan.
Drrrt
Getaran ponselnya yang terletak di meja nakas menyadarkan Chanyeol dari lamunannya. Ia meletakkan bubur itu di meja nakas, lalu membaca pesan masuk dari Hyeji, gadis yang ia tunggu.
Chanyeol-ah, mianhae. Mungkin aku akan pulang telat malam ini. Aku akan melihat pertunjukkan kembang api di Sungai Han dengan Sehun. Maaf, sebenarnya aku sudah jauh-jauh hari merencanakan hal ini. Tapi, aku tahu kau tidak akan mengijinkanku pergi semalam ini jika aku mengatakannya padamu. Jadi, yah… Pokoknya, mianhae Chanyeol-ah. Aku hanya ingin membuat kenangan lebih dengan Sehun di hari terakhirku bertemu dengannya hari ini.
Sampai jumpa nanti 🙂
*Jangan balas pesanku, karena Sehun terus mengecek ponselku sejak tadi. Pesan ini pun akan langsung kuhapus!
Chanyeol menghela napasnya dalam-dalam setelah membaca pesan dari Hyeji. Pertunjukkan kembang api. Ia juga berniat mengajak Hyeji melihatnya kembali seperti tahun lalu. Biasanya, mereka akan selalu melihatnya bersama tiap tahun. Tapi kali ini, gadis itu melihatnya bersama laki-laki lain. Kekasihnya, bukan dirinya yang hanya seorang sahabat dari Hyeji.
“Setidaknya, aku yang akan ada di sampingmu sampai hari terakhirmu, Hyeji-ya….”
***
Setelah melihat pertunjukkan kembang api, Sehun mengantar Hyeji pulang. Hyeji merutuk, sebenarnya ia ingin langsung ke rumah sakit agar bisa segera bertemu dengan Chanyeol. Namun, Sehun tidak membiarkannya pulang sendirian. Yang membuatnya terpaksa pulang ke rumahnya dulu, baru ke rumah sakit.
“Gomawo, Sehun-ah. Hari ini kau benar-benar baik padaku,” ucap Hyeji sambil membungkukan tubuhnya sedikit di hadapan Sehun.
Sehun mengacak lembut rambut gadis itu. “Ne, cheonmaneyo. Kau juga, terima kasih, Hyeji-ya. Aku benar-benar merasa berbeda hari ini. Maaf, aku baru bisa bersikap seperti ini padamu setelah 3 tahun kita bersama,” balasnya dengan nada menyesal. Yah, 3 tahun ini, ia sadar dirinya memang egois. Terlalu mementingkan gengsi, dan tidak mementingkan bagaimana perasaan kekasihnya itu.
Hyeji tersenyum haru. Sebelum Sehun membalikkan tubuhnya, hendak meninggalkannya, ia menahan lengan laki-laki itu terlebih dahulu. Yang sontak menimbulkan tatapan penuh tanya dari laki-laki itu. Ia membuka telapak tangan Sehun, lalu meletakkan sebuah kotak yang tadi ingin ia berikan pada Sehun saat di cafe di sana.
“Sehun-ah, ini hadiah dariku. Kuharap kau mau menerimanya….”
“Hye
“A-aku benar-benar mencintaimu, Sehun!”
“….”
1 detik…
2 detik…
24 detik…
Hyeji menggigit bibirnya yang sedikit bergetar karena Sehun tidak membalas ucapannya. Bulir bening mulai meluncur bebas dari pelupuk matanya. Sudah kuduga. Kau tidak mencintaiku.
“Tidak adakah yang mau kau katakan padaku, Sehun-ah?”
“….”
“Geurae, gomawo untuk hari ini. Aku benar-benar bahagia dan merasa kau sangat berbeda hari ini. Gomawo, kau sudah membiarkanku melihat Oh Sehun yang hangant dan romantis hari ini. Kau tahu, aku tidak pernah menyangka kau bisa bersikap seperti itu padaku. Bahkan mengingat sikapmu dulu, aku tidak pernah berani membayangkannya. Tapi yang tadi… Itu benar-benar hebat, hidupku terasa lebih bahagia dan berarti setelah hari ini, kau tahu?”
“….”
“Bisakah aku minta satu hal untuk yang terakhir kalinya?”
“Mwo?”
“Bisakah kau mengatakan, kau mencintaiku? Aku tidak pernah mendengarnya selama kita bersama. Hanya aku yang mengatakannya, dan kau tidak pernah membalasnya,” suara Hyeji benar-benar terdengar serak saat ini.
“….”
Merasa tidak dipedulikan, Hyeji membalikkan tubuhnya untuk beranjak pergi. Kesabarannya sudah benar-benar habis. Namun niatnya terhenti ketika merasakan sepasang tangan melingkar di perutnya. Sehun memeluknya dari belakang. Laki-laki itu meletakkan dagunya di bahu Hyeji. Hal itu sukses membuat tubuh Hyeji menegang seketika.
“S-Sehun?” tanya Hyeji dengan napas tercekat begitu Sehun membalikkan tubuhnya. Mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
Hyeji memejamkan matanya. Napasnya berhenti ketika merasakan hembusan napas Sehun yang terasa hangat menerpa wajahnya. Jangtungnya semakin berdegup kencang tidak beraturan. Kemudian, ia merasakan sesuatu yang lembut menyetuh bibirnya. Ia yakin, ini bukan sebuah jari dan sebagainya. Dari teksturnya… ini pasti… ASTAGA!
1 detik, 2 detik…
Ciuman itu sedikit lama. Meski hanya saling menempel, hal itu sudah bisa membuat Hyeji merasa hampir mati.
Detik ke-5, Sehun melepaskan kontak itu. Matanya yang terlihat sayu menatap hangat pada mata Hyeji yang kini sudah terbuka. Ia mengangkat tangannya, menghapus sisa air mata di pipi Hyeji menggunakan kedua ibu jarinya dengan gerakan lembut.
“Aku juga mencintaimu. Jangan pernah meninggalkanku, karena aku juga tidak akan melakukannya. Buang jauh-jauh gambaran diriku yang dingin di masa lalu! Aku akan berubah untukmu mulai sekarang. Aku akan berubah!”
Hyeji tersenyum miris mendengar ucapan Sehun. Ia senang, mendengar balasan pernyataan cinta Sehun untuknya. Ini balasan pernyataan cinta pertama yang ia dengar dari Sehun selama 3 tahun mereka menjadi sepasang kekasih. Ia merasa sangat bahagia mendengai untaian kalimat itu dari bibir Sehun. Namun, ia tidak bisa memenuhi permintaan laki-laki itu. Tidak akan bisa, mengingat pada kenyataannya, hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu. Ia mengangkat tangannya, menangkup kedua pipi Sehun dengan kedua tangan mungilnya. Mempertemukan bibir mereka kembali, saling menempel sebentar. Lalu melepaskannya kembali. Ciuman perpisahan.
“Gomawo, Sehun-ah. Dari dulu, aku selalu berharap kau bersedia mengambil first kiss-ku. Tidak kusangka, kau benar-benar mengabulkan harapanku tanpa harus kuminta!”
“Benarkah? Kau mesum sekali!” Sehun mencoba bercanda dengan sedikit tertawa pelan.
Hyeji tersenyum lebar. “Aku benar-benar bahagia! Selamat tinggal!” Lalu gadis itu berbalik dan berlari memasuki rumahnya.
Sehun masih mematung meski Hyeji sudah meninggalkannya. Ia memegangi dada sebelah kirinya, yang terasa sedikit sesak. Entah kenapa, ia tidak tahu pasti. Namun pikirannya dipenuhi dengan Hyeji. Ia merasa ingin memeluk gadis itu lebih lama. Tidak mau berpisah dengannya.
“Bukankah besok kami akan bertemu lagi? Ck, apa yang kau khawatirkan Oh Sehun?”
Sehun berbalik dan mulai melangkahkan kakinya menuju jalan pulang ke rumahnya. Ia berusaha mengabaikan rasa rindunya pada Hyeji yang muncul tiba-tiba. Ia bingung kenapa perasaan itu bisa muncul, mengingat mereka baru bertemu beberapa menit yang lalu. Jadi, ia memutuskan untuk mengabaikan perasaan itu.
Seandainya Sehun tahu itu adalah saat terakhirnya melihat Hyeji, ia pasti akan memanggil gadis itu dan memeluknya erat-erat. Dan memohon pada Hyeji untuk tidak meninggalkannya dan tetap tinggal di sisinya.
_To Be Countinued_
Gomawo buat reader’s yang udah bersedia meninggalkan jejaknya ( Aku harap di chapter ini kalian juga mau meninggalkan jejak kembali. Dan untuk para sider’s semoga kali ini mau meninggalkan jejaknya..
Sekian, sekali lagi makasih buat yang sudah baca dan meninggalkan jejak <3.

Advertisements

3 thoughts on “[FREELANCE] Birthday Wish [2/3]”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s