[FREELANCE] Thanatophobia

image

“Thanatophobia(Drabble)”

OC’s: Han yura / Oh sehun/ oh yuji/

Drabble/ Lil bit psychology / Romance/ Married life/OOC/ pg-13/The characters are belong to themselves. The OC and story are belong to me. Please don’t do copy and paste without my permission. Happy reading!

A present by Sebut Saja Tetelan

-RnR please-

Ketika tertidur dapat membuatmu takut setengah mati…
Aku akan menjagamu dari kematian sekuat yang aku bisa…
Hingga kematian itu akan datang dengan sendirinya padamu…
Aku akan menjaga tidurmu tetap lelap..

~~’u’~~’w’~~’m’~~’w’~~’u’~~

   Semarak menyambut disebuah gedung, burung burung merpati putih mulai dilepaskan, nuansa putih yang mendominasi, dengan dekorasi mewah dan petuah petuah menjadikan suasana disana amat sakral. Uskup katedral yang memimpin prosesi itu baru membacakan doa dan ayat-ayat kitab suci, seorang gadis bergaun putih bergerak gerak cemas. Ia menghitung bunyi lonceng menara saat sang uskup membaca ulang kisah sungai eden dan itouna. Cerita yang selalu mewakili bagaimana perasaan cinta; indah dan menyakitkan.
   Dan seorang pemuda mulai melangkah keatas altar, menunggu wanitanya naik  dengan paras wajah yang sangat gugup dan gemetar. Saat kisah sungai eden dan itouna selesai si wanita bergaun putih dengan penutup wajah jaring jaring yang juga berwarna putih sudah berada ditengah sasana, didalam ruangan yang penuh dengan para kerabat yang sengaja datang untuk melihat prosesi sakral dari dua orang anak adam dan hawa itu. Sambil menghadap uskup yang sejak tadi membaca kisah legendaris. Didepan sang uskup kedua mempelai mengucapkan janji sehidup sematinya dengan disaksikan oleh para kerabat yang diliputi rasa bahagia yang teramat sangat besar.
****
   Kedua mempelai tadi mulai beranjak menuju rumah barunya, hati mereka berdua masih diliputi rasa bahagia dan gugup yang amat sangat
“yura-ya..” nama si gadis disebut oleh sang pria yang mengenakan tuxedo lengkap dengan semua aksesorisnya, si gadis yang tengah larut dalam lamunannya tidak menyahut hingga pria nya mengulang menyebut nama si gadis
“han yura,,,” panggil si pemuda dengan mata setajam elang itu lembut, tampang nya memang sangar tapi siapa sangka hatinya selembut takoyaki, tatapan matanya meneduhkan seperti pohon alder tua yang menjulurkan akarnya hingga keluar tanah dan kata katanya semanis custard pudding?

   Akhirnya usaha si pemuda tidak sia-sia, istrinya menoleh dengan garis naik dan turun serupa kurva dibibir nya, senyum yang diterbitkan sang istri sangat manis, hingga bahkan mata yura tenggelam dilahap lipatan matanya
“ada apa sehun-ah?” tanyanya merdu dan lembut ditelinga sehun kata kata istrinya serupa wine terbaik yang pernah ada, serupa busa busa sabun yang dihembuskan, senyum yang tersungging itu tak kunjung luntur, sehun meraih tangan wanitanya menautkan jari jemari mereka dengan senyum tipis yang memabukan, meremas tangan perempuan yang amat ia puja dengan perlahan, lagi lagi hening merambati keduanya yang terus dilanda rasa canggung
“hei, bagaimana kalau nanti aku yang memasak untukmu?” lelaki itu berujar lagi dengan pandangan lurus melihat jalan, karena ia yang menyetir. Ingat? Yura memicingkan sebelah matanya, jujur saja ia tidak pernah tahu pemuda bertubuh jangkung itu bisa memasak.

   Ia rasa menyentuh dapur saja lelaki itu tidak pernah, bagaimana wanita itu dapat mengetahuinya? Lihat saja jari telunjuk kasar yang ter-iris saat mengiris bawang itu dan raut wajah persakitan si empunya jelas menujukan rasa perih yang teramat.
“lain kali biar aku saja yang memasak, aku tidak mau kau terluka sehun,,” suara mendayu lembut melisik di ujung telinga sehun, yang kini hanya memamerkan sederetan gigi putih yang tersusun rapi itu, ada kesungguhan dimata sang lelaki sebelum mulut berbau mentol itu kembali berucap
“hei, kalau begitu biarkan aku belajar memasak darimu, setidaknya kalau kau memasak aku bisa membantu hal remeh temeh” yura tersenyum lembut, senyum selembut kasmir itu mengingatkan sehun akan senyuman sang ibunda yang telah tiada karena telah berada dalam liang lahat, wanitanya dengan telaten, mengobati luka iris yang sedikit merobek bagian dermisnya dan memutus aliran darah, hingga darah bersibah di jari si lelaki kesayangan nya itu.

   “tugasmu hanya mencari nafkah, biarlah aku mengurus rumah ini dan dirimu setelah pulang mencari nafkah.” Yura tetap bersikeras. Bukan apa-apa, sehun adalah tipe orang yang tidak mau sedikitpun menyerah pada titik target yang ingin ia capai. Sehun mengerang ketika luka kecilnya secara tidak sengaja tertekan oleh jemari halus milik yura. Rumah yang akan mereka tempati beberapa bulan ini adalah rumah orang tua sehun yang tidak terpakai, mereka sengaja menempatinya, hingga proses administrasi apartment dan surat pernikahan mereka selesai. Rumah ini sesungguhnya terlalu besar jika hanya ditempati berdua, tapi memang itu yang dikatakan oleh orang tua yura, mereka bilang ‘anggap saja kalian sedang berbulan madu.’

   Sehun tetap bersikukuh pada pendirian nya, gadis yang menjadi istrinya itu hanya bisa menyunggingkan senyum tipis, sedikit khawatir pada lelaki yang keras kepala ini yang kembali mengacungkan pisau kearah wortel segar yang tadi gagal ia iris menjadi dadu dadu berwarna jingga, sekarang ia melakukannya dengan perlahan dan bertepuk tangan ketika dadu pertamanya berhasil terpotong dengan sempurna, menit-menit selanjutnya kubus kubus itu selesai dipotong, dan yura sudah selesai membuka kaleng kacang polong dan merebusnya,jadi hari ini menu makan malam mereka hanya nasi goreng dan potongan sayur mayur.

   Yura menata meja persegi itu dengan telaten, sementara sehun hanya memperhatikan ketenangan si gadis dalam menata meja makan yang lumayan besar,dan tentunya juga memperhatikan yura dengan surai selegam arang itu berkibar tipis karena hempasan angin yang masuk melalui kawat nyamuk di enterit rumah tua itu. Sehun memeluk gadis nya dari belakang, sebuah ketakutan menghinggapi si pemuda
“yura-ya,,, apapun yang terjadi, jangan tinggalkan aku ya,,” sehun menelusupkan wajahnya diantara rambut hitam pekat yura yang halus, menghirup wangi lily yang memanjakan hidungnya, lagi-lagi gadis itu menyunggingkan senyum yang tak terlihat oleh sehun, hatinya mengembang sejalan dengan makin berkembang senyum yang menghinggapi bibir peach nya, lalu kepala itu mengangguk perlahan
“ya, aku berjanji” ujar pelan itu mampu membuat sehun makin menyurukan wajahnya diantara rambut halus yura, dan gadis itu tak perlu mengubah posisinya hanya agar si pemuda merasa nyaman, seperti seorang bayi kecil yang merasa tenang didekapan sang ibu, pria itu sudah merasa nyaman dengan deru nafas yang teratur dibahu yura. Tak ada seorangpun dari mereka yang beranjak, takut kalau-kalau jarak yang ditarik akan membuat mereka menjauh atau semakin dekat, jujur sehun pun tak keberatan jika sepanjang waktu ia harus menghirup aroma lily dari rambut sang istri, itu menyenangkan.

***

   Malam mulai menggelayuti sebagian bumi, bulan purnama penuh yang indah, yura menatap bulatan bercahaya yang merajai angkasa itu dengan berbinar binar, matanya menatap penuh harap, gadis bersurai kelam itu selalu memuja malam, malam selalu membuatnya tentram dan mendapat inspirasi untuk semua jurnal tulisnya.

   Sehun kembali menghampiri sang istri yang terduduk diteras seraya memandangi langit yang gemerlap, yura menolehkan kepalanya,
“yura-ya,, bisakah kita tidak tidur hari ini saja saja?” yura memicingkan matanya tangan nya mengatup menimbulkan bunyi ‘plok’ yang lembut ditelinga sehun, gadis keluarga han itu tersenyum manis sangat manis seperti gula gula
“ide bagus! Aku ada film horror baru, kita tonton bersama ya” yura memamerkan puppy eyes nya, sehun mengangguk, maka mereka bergegas masuk kedalam, menyiapkan karpet berbulu lembut, bantal, televisi, popcorn, minuman bersoda dan apapun yang bisa membuat mereka nyaman menghadapi serentetan adegan berdarah dan menyeramkan yang akan disuguhkan dalam DVD itu.

   Entah sudah berapa kali yura berteriak histeris dan memeluk pergelangan tangan sehun, sedangkan pemuda itu tetap asik memakan popcorn caramel microwave yang di siapkan sang istri tadi. Rasa kantuk mulai menyergap yura, namun sound effects itu sedikit mengganggu rasa kantuk yang membelai mata legam nya, Walaupun pada akhirnya dengkuran halus terdengar di telinga sehun.

   Lelaki itu mulai kalang kabut dihinggapi rasa kalut, gadis nya tertidur ditengah tengah film yang berisik,  sehun mulai tak peduli lagi dengan adegan pembunuhan itu, sekarang yang menjadi fokusnya teralih pada yura, alih alih memperhatikan wajah manis si gadis, ia justru sudah menjadi sangat panik.
“YURA-YA! YURA-YA BANGUN!!” sehun berteriak kencang Sambil menepuk pipi gadis nya dengan kencang, sekencang yang ia bisa, mau tidak mau, yura ditarik paksa ke alam sadar setelah mimpinya baru dimulai. Gadis yang masih menumpulkan nyawa itu semakin tergagap gagap saat sehun mendekap nya sangat erat, seperti dia baru saja pergi lama sekali, lalu sehun mengecup dahi gadisnya dengan kencang sekali, dan yura masih gelagapan dengan kelakuan pria-nya.

   Sehun menatap mata sang gadis dengan tatapan tajam dan gadisnya hanya memicingkan mata
“hei? Kau kenapa dear?”
Sehun akhirnya gelagapan sendiri karena tahu hal Bodoh telah ia lakukan, sebuah bayangan buruk terlintas dihadapan nya tentang kehilangan dan kepergian membuatnya semakin cemas dan mulai gelisah, sebuah bayangan kelam menghampiri benaknya, hatinya terganggu. Pria itu langsung merengkuh tubuh mungil wanitanya, yura dapat dengan jelas mendengar degup jantung sehun yang bertalu talu.
“thanatophobia, kumohon jangan tinggalkan aku,” sehun hanya mendesis sambil mulai menahan laju air matanya, jujur yura bahkan tak tahu sehun punya phobia aneh itu. Phobia terhadap kematian, ya yura juga takut akan kematian yang menjelang, tapi sehun berbeda, ia selalu takut kalau tidur itu mengantarkan nya kepada kematian. Terlebih pada malam yang membuatnya akan mengantuk. Ibu yang meninggal saat tertidur membuat sehun ketakutan setengah mati terhadap tidur.

   Maka gadis itu hanya terdiam dalam sunyi dan sehun yang mulai tenang, otaknya bergulat dengan batin lembut yang ia miliki, sebuah cairan mulai merembes dari matanya, sebuah ketakutan juga menghampirinya, bagaimana kalau sehun merasa mati hanya karena ia tinggal, atau justru sebaliknya, ia tidak bisa hidup tanpa sehun karena ia terlalu mencintai sehun.
“aku sudah berjanji tadi, tidak kah kau ingat? Aku sudah berjanji didepan uskup, didepan orang tua mu, orang tua kita, para kerabat, bahkan dihadapan mu disaksikan alam yang bersuka cita sayangku. Tak akan pernah aku mengingkari nya. Maka aku akan menjaga tidurmu tanpa ada kematian yang mengintai,” yura melepas pelukanya menatap iris sehun dengan kesungguhan yang dalam, ada rasa lega dihati sehun.

***(1 years latter)

   Sebuah garis melengkung menghiasi wajah bulat makhluk mungil yang menggenggam tangan ibundanya dengan nyaman, sang ayah ikut menyaksikan wajah bidadari mungilnya dengan bahagia, putri pertamanya, membuat si lelaki berbadan atletis itu merasa sebagai lelaki sejati.
“yuji ini ayah, selamat datang dirumah bidadari kecil” pria itu memanggil putrinya dengan suka cita, menyambut kedatangan istri dan putrinya dengan gembira.

   Si istri menaruh putrinya yang telah tertidur diatas ranjang bayi, menyapa rambut blonde pria yang telah menjadi suami nya setahun lalu itu, dengan jari telunjuknya.
“ sehun-ah”
sapanya lembut, kantung mata yang mengambang jelas dibawah mata si wanita, kadang membuat pria itu khawatir akan kesehatan istrinya, maka pria itu menggenggam lembut lengan si wanita yang memelintir rambut blonde yang indah.
“aku ingin tidur”
Wanita itu mengucek matanya dengan perlahan, pria itu mengerti kelelahan istri nya, ia tersenyum kecil, sedikit rasa takut menghinggapi otaknya.
“Berjanjilah untuk kembali lagi” yura mengecup pipi pria nya dengan lembut sebagai ucapan terima kasih.

   Setahun Inilah masa yang cukup menyenangkan sesungguhnya bagi yura, sayang nya ia harus selalu menjaga diri agar tidak tertidur, supaya sehun tidak panik ketika melihatnya tengah menggelayuti alam mimpi. Sungguh yura bersumpah, itu bukanlah hal yang menyulitkan nya, bahkan ketika sehun bangun dengan tiba tiba dan gelisah, karena takut ia akan berada dialam baka yang menyeramkan. Kepanikan yang menjadi tak sedikitpun membuat wanita itu menyerah terhadap keadaan. Ia sudah sangat mencintai pria itu. Terlebih saat ini ada sesosok gadis mungilnya yang menggemaskan.

  Tangisan itu mulai menambah ke hangatan malam dirumah keluarga oh. Seorang wanita cantik tengah menimang anak perempuan nya dengan sabar.
“yeobo,,” panggil sang suami dengan manja, yura mulai menduduki sofa menyusui nya dengan perlahan karena gadis nya itu mulai tertidur. Gumam diudarakan sebagai jawaban untuk sehun takut kalau kalau yuji yang telah terlelap bangun lagi karena kegaduhan suaranya.
“jangan pernah tinggalkan aku,,” itu sudah yang kelima kali hari ini sehun katakan, memang selalu begitu ia akan selalu mengulang kata kata itu setiap hari, sebelum sehun tidur, sebelum ia tidur, bahkan setelah bangun tidur.

   Jarum pendek mulai menunjuk ke-angka 3. Sudah setengah malam ia lalui, dan sehun belum juga bangun gelisah, maka wanita manis yang sedari tadi menghitung dentingan jam sedikit lega atas kemajuan suaminya itu. secangkir kopi dan dentingan jarum mengganti detik, berlomba lomba meniupkan kantuk kepada satu satunya makhluk yang masih terjaga itu. Sayang nya ia sudah terlalu banyak tertidur siang tadi, kasurnya mulai berderit saat sehun menggerakan tubuhnya kencang.
“YURA! YURA! APA AKU MASIH HIDUP?!”
Teriakan kencang itu sudah ditamatkan yura setelah beberapa hari sehun mengakui penyakitnya. Pria itu masih gelagapan, jujur Walaupun sudah seringkali melihat sehun gelagapan mencari oksigen seperti itu, masih ada rasa menyayat yang menghimpit hati nya. Lahar hangat mulai membasahi pipi nya yang mulus, wanita itu merengkuh tubuh tegap sehun yang mualai panik sendiri.
“tenang lah sehun-ah kau masih disini, bersama ku dan yuji. Tidurlah yang lelap aku akan menjagamu.”
Suara yura terdengar gemetar, tersilih oleh isakan nya. Pundak lelaki itu melemah, dia sudah tidur lagi, pelukan yura selalu menjadi ketenangan nya. Teriakan sehun mengusik tidur yuji yang damai, maka yura menaruh kepala suaminya dibantal dengan perlahan karena yuji mulai menangis.

***

   Tahun demi tahun beranjak meninggalkan  sepasang wanita dan pria, beranjak seperti yang dilakukan anak semata wayang mereka, oh yuji. Yang mulai membangun rumah tangganya sendiri, hanya tinggal mereka dan raga renta nan tua yang membalut ruh uzur mereka.

   Rambut berwarna mereka mulai terganti dengan warna alam yang natural, putih, hampir seluruh nya putih baik si pria maupun wanita. Wajah yang biasanya dihiasi garis senyum yang tiada henti hentinya itu kini menyisakan banyak kerutan disana sini. Namun satu yang tak pernah mereka hilangkan, cinta dan kesetiaan dalam diri mereka. Selalu ada cinta yang menempati ruang terbesar dihati mereka. Seolah nama pasangan masing masing telah terukir dihati mereka secara permanent, seolah tak ada lagi yang dapat memisahkan mereka hanya maut yang menggerayangi disetiap tidur lelapnya. Dengan sang pria yang semakin gelisah.

   Wanita tua itu mulai menyeruput teh hijau kentalnya, duduk dikursi goyang dan menikmati hangatnya mentari senja disisa hidupnya. Sore hari selalu sama saja baginya, seperti menjadi pengantin lagi saja. Sebuah tangan dengan perlahan menggenggam punggung tangan nya yang mulai keriput.
“yura-ya,,,” hatinya berdesir, suara bariton pria nya itu selalu mampu membuat jantunganya lebih bekerja dengan cepat, lebih cepat dari biasanya. Wanita itu menengadah hanya untuk menatap paras tampan suaminya, tak ada yang berubah menurut yura, bahkan ketika usia sudah merenggut ketampanan pria itu, sungguh ia masih menganggap pria nya itu tampan. Dengan kerutan disekitar matanya dengan rambut yang memutih perlahan itu. Prianya tetap tampan.
   “aku ingin tidur…”
Pria itu menatap istrinya dengan tatapan memohon. Wanita itu tersenyum manis, akhir akhir ini sehun selalu minta agar tidurnya lebih cepat, itu artinya yura juga harus tidur cepat. Ia mengangguk setuju. Sehun menggandeng wanitanya hingga pintu kamar mereka, bergegas seperti dikejar kejar oleh seorang rentenir.

   Yura mulai menyelimuti suaminya yang telah berbaring. Lalu beranjak mengambil secangkir ocha pahit yang belum selesai ia minum. Saat ia kembali kedalam kamar yang remang itu, lelakinya telah terlelap, tak apa, pikir nya, mugkin pria itu sudah sangat lelah hari ini. Maka jadilah setiap detik jam menyapa gendang telinganya hingga tengah malam, sehun masih belum gelisah juga, bahkan ia telah mendengar dengkuran halus yang keluar dari bibir prianya.

   Kalau seperti ini maka yura bisa saja tidur sekarang juga. Bertahun tahun hidup dengan sehun membuatnya terbiasa tidur siang namun tidak  dengan tidur malam, tak biasanya ia tidak bisa menahan rasa kantuknya yang terlampau berat, kantung kantung mata yang mengambang diatas kulit keriputnya itu seharusnya mampu membuat ia bisa menahan kantuk lebih lama, namun malam ini rasa kantuk menggerayangi mata yang ber iris buah zaitun muda  itu. Tanpa sadar dirinya telah ter apung dalam arus mimpi yang menenangkan.

   Sebuah sinar membuat wanita tua itu perlahan membuka matanya. Berusaha ber-adaptasi dengan sinar sinar menyilaukan sang mentari. Rasanya sudah sangat lama ia tidak bangun dengan cara  seperti itu. Dibangunkan oleh mentari pagi yang menyorot tirai kamarnya serupa senter yang diarahkan. Sadar bahwa ada seseorang disebelahnya yang terlihat damai dalam tidurnya. Wanita itu tersenyum, senyum yang manis hingga pipinya membuat lengkungan. Ini yang selalu ia inginkan, bangun lebih cepat dari suaminya, menyiapkan sarapan, lalu membangunkan lelaki itu untuk pergi kerja.

   Yura menggelung rambut nya membuat rambut yang memutih itu tertata rapi, perlahan yura dengan tubuh ringkih mendudukan dirinya dan bersandar pada hardboard, mengguncang tubuh suaminya dengan lembut, sang suami tak kunjung bangun juga. Mungkin tidurnya terlalu lelap, itulah yang dipikirkan wanita itu, sekali lagi ia coba namun dengan lebih kencang Sambil menyebut nama suaminya lembut. Tak ada respon. Yura memeluk lelaki yang meringkuk itu, memeriksa detak jantung suaminya, tangan keriputnya ia taruh dilubang hidung suaminya.

   Nihil. Pria itu telah bertemu dengan ibunya. Seperti ada belati yang menghujam jantung yura, rasanya seperti ia ingin mati saja. Menyusul lelaki itu.
“aku telah menjagamu lama sekali, apakah tadi tidurmu lelap sayang?”
Lahar bening mulai membanjiri pipi dengan smiling line itu, ruangan yang bernuansa putih itu seakan menjadi kelabu bagi yura. Hatinya sangat sakit, namun rasa rasa nya ia telah mengemban tugasnya dengan sangat baik.

Aku tahu, hidupmu tak akan lebih lama dariku…
Namun aku tak tahu akan secepat ini….
Rasanya baru kemarin aku menjadi pengantin wanitamu..
Aku kira cinta sejati itu tidak ada..
Aku tahu, kau lah cinta sejatiku…
Tahun tahun sisa hidupku pasti akan terasa sepi…
Kau tahu apa sebabnya?
Kau tidak ada oh sehun…

************************************************************************************************
The End!
P.S. udah bacakan? Pasti nya udah. Jadi jangan jadi silent reader yang ga bertanggung jawab. Tolong comment dibawah ya. Jangan diem aja. Silahkan comment kritik justru lebih baik lagi, semoga kalian suka ya sama ceritanya thank you

With love
sebut saja tetelan ♡

Advertisements

12 thoughts on “[FREELANCE] Thanatophobia”

  1. kirain yg kena thanatophobia itu yura ternyata sehun, sabarnya yura gak ada duanya, gak kebayang aja bertahun” hidup dgn pola tidur kaya gitu demi menjaga sehun, gimana rasanya.?? keren nih, ngena banget..

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s