[FREELANCE] Birthday Wish [3/3]

image

Tittle: Birthday Wish
Author: LyWoo (Felicia Octine)
Lenght: 1-3
Rating: G
Genre: Sad, romance, etc.
Main Cast: Yoo Hyeji [OC], Oh Sehun [EXO K], Park Chanyeol [EXO K].
Disclaimer: Cerita ini 100% dari otak dan imajinasi saya dan beberapa ff, serta beberapa lirik lagu yang menginspirasi saya. Mohon maaf jika kesamaan dengan pihak lain. Tapi kalo emang sama persis alurnya, tegur aja saya, oke? ^^ FF ini pernah dipublish di LyWoo Fanfiction World dan EXO FanFiction Indonesia
Author’s Note: Warning! Typo merajalela, gaya penulisan aneh, amat sangat dramatis, dll. Plagiator dan silent reader’s, please go away~

__Happy Reading__
Chanyeol memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya begitu mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Lalu tersenyum kecil ketika matanya menangkap sosok gadis yang sedari tadi ditunggunya.
“Apa hari ini menyenangkan?” tanya Chanyeol penasaran karena melihat Hyeji yang berwajah sendu sejak memasuki kamar. Bukankah seharusnya gadis itu senang habis berkencan dengan Sehun?
Hyeji mengangguk singkat dan meletakkan mantel yang ia kenakan di sofa, lalu duduk di samping Chanyeol. Gadis itu mulai membersihkan make up tipis di wajahnya.
“Apa kau lapar? Aku sudah
“Aku sudah makan dengan Sehun tadi,” potong Hyeji sebelum Chanyeol menyelesaikan ucapannya.
Chanyeol mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tiba-tiba, dadanya merasa sesak begitu mendengar ucapan Hyeji. Ia memilih membaca buku pelajarannya. Aneh mungkin. Mengingat dia termasuk orang yang malas membaca, apalagi buku pelajaran. Namun, entahlah. Ia berpikir lebih baik diam dulu, sepertinya Hyeji sedang tidak ingin bicara.
“Chanyeol-ah.”
DEG
Mata Chanyeol melebar begitu menoleh dan mendapati keadaan Hyeji. Ia bisa melihat, wajah Hyeji yang sangat pucat dengan bibir yang pecah-pecah hingga sedikit mengeluarkan darah. Rambut gadis itu terlihat pendek sebahu, tidak panjang seperti sedia kala. Dan yang menjadi fokusnya saat ini, sebuah rambut palsu dengan model serupa dengan rambut Hyeji yang biasanya di pangkuan gadis itu.
“Hyeji-ya, itu…?”
Hyeji tersenyum tipis. “Ya, ini rambut palsu. Dan ini milikku,” jawabnya santai.
“Untuk apa?”
“Katanya, setelah melakukan kemoterapi, rambut akan rontok perlahan. Jadi kuputuskan untuk memotongnya. Aku takut kau dan Sehun mendapati ketika rambutku rontok. Jadi aku memotongnya, hehe. ”
Chanyeol diam. Matanya tidak lepas menatap Hyeji. Hatinya sakit mendengar penuturan gadis yang dicintainya itu. Gadis itu menundukkan kepalnya dan bahunya bergetar.
“Kau tahu, Chanyeol-ah? Hari ini, Sehun sangat baik padaku, lho. Bahkan, ia merebut first kissku.”
“….”
“Untungnya aku hari ini memakai rambut ini. Sehun berkali-kali mengusap rambutku hari ini. Hihi, aku sudah lama menginginkan hal itu terjadi. Yah, walau bukan rambutku yang sebenarnya. Tapi… aku sudah sangat senang dengan itu.”
“….”
“Sejam yang lalu, ia memintaku untuk tetap berada di sisinya. Chanyeol-ah, kau tahu ‘kan kalau itu hal yang sangat ingin kudengar darinya. Ugh, ba-bagaimana ini? Aku tidak bisa mengikuti permintaannya… Hiks, aku t-tidak bisa terus berada di sisinya… Mungkin bisa, bila aku mati dan menjadi hantu. Aku akan
Grepp
Chanyeol menarik Hyeji ke dalam pelukannya. Ia tidak tahan, dan tidak bisa melihat gadis itu menangis lagi. Belum lagi, tiap ucapan gadis itu selalu bisa menyayat hatinya.
Hyeji menumpahkan semua air matanya begitu berada dalam pelukan Chanyeol. Tangannya memeluk leher Chanyeol dengan erat. Ia menenggelamkan wajahnya di pundak Chanyeol dan menangis di sana.
“Hajima. Kumohon, jangan berbicara seperti itu, Hyeji-ya… Kau tidak akan mati, kau akan tetap di sisiku bila terus menjalani kemoterapi itu! Kau akan hidup!” ucap Chanyeol, ia ikut menangis di pundak Hyeji. Tangannya memeluk pinggang gadis itu erat, seakan gadis itu akan melarikan diri darinya.
“Hiks, tapi Chanyeol-ah… Aku akan tetap mati. Semuanya hanya akan sia-sia,” dan menyakitkan.
Chanyeol memilih untuk tidak membalas ucapan Hyeji. Ia hanya terus menangis. Toh, percuma saja membalas ucapan gadis itu di saat seperti ini. Ia tahu betul, Hyeji akan semakin terbawa emosi dan mengucapkan kata-kata yang akan semakin menyakiti hatinya.
“Lakukan dan terus berada di sisiku. Aku akan selalu ada untukmu, mendukungmu, dan berbagi rasa sakit itu bersamamu.”
Dan malam itu, keduanya hanya terus menangis dan menangis sampai mata dan hatinya lelah.
***
“Yaa, Sehun-ah. Kau tidak makan?”
Pertanyaan Luhan membuyarkan lamunan Sehun. Ia hanya mengangguk malas, lalu mulai memakan supnya dengan perlahan.
Luhan mengangkat sebelah alisnya melihat sikap Sehun yang tidak biasanya jika ia tegur. Biasanya, anak itu akan membalas tegurannya dengan rentetan kalimat yang panjang dan isinya tidak jelas. Tapi tidak kali ini. Ia bingung. Bukankah seharusnya Sehun mengomentari sup buatannya yang terlalu asin hari ini?
Acara makan malam itu berlangsung hening, tidak seperti biasanya yang penuh obrolan antar keduanya. Keduanya menyantap makanannya dalam diam. Sebenarnya, hanya Sehun seorang. Karena sejak tadi, Luhan mengoceh tidak jelas tentang pasiennya di rumah sakit hari itu. Sehun tidak membalas, dan Luhan terus mengoceh tanpa memperdulikan hal itu. Namun, lama-lama bicara tanpa diperdulikan, membuat Luhan merasa kesal juga akhirnya.
“Yaa, bocah cadel! Apa telingamu rusak, hah? Atau kau bisu? Ayo balas ucapanku!” seru Luhan kesal dengan suaranya yang cempreng dan menimbulkan gema di apartement mereka.
“Aku sedang malas bicara denganmu, Hyung. Kau tidak enak dilihat dan suaramu menyebalkan. Aku bosan karena setiap kali selalu mendengar suaramu yang sama sekali tidak kuinginkan. Padahal, suara yang ingin aku dengar belum kudengar sama sekali beberapa hari ini,” balas Sehun panjang lebar dan berhasil membuat Luhan tersenyum senang karena akhirnya ia tidak merasa berbicara pada patung berwajah papan (datar). Namun, matanya melotot dan mulutnya terbuka lebar mendengar ucapan Sehun.
“MWOYA?! TIDAK ENAK DILIHAT KATAMU?! Dan OH! SUARAKU ITU SUARA EMAS, KAU TAHU?! DASAR CADEL SIAL
Luhan… Luhan… Luhan neomu yeppeo… (nada lagu ‘becak, becak, coba bawa saya’ xD)
“Pfft…,” Sehun menahan tawanya begitu mendengar nada dering telepon Luhan. Sedangkan Luhan, wajahnya memerah seperti kepiting rebus karena malu.
Sial, aku lupa mengaktifkan nada silent, rutuk Luhan dalam hati. Setelah berdeham keras, ia menjawab panggilan dari rekan kerja sekaligus sahabatnya, Xiumin atau bernama asli Kim Minseok.
“Yeoboseyo?”
“….”
“Ah, baiklah.”
“….”
“Ya, aku akan coba mengajaknya. Dan, kupastikan dia akan ikut,” ucap Luhan sambil melirik Sehun. Yang dilirik tidak sadar dan tetap fokus pada makanannya.
“….”
“Oke, bye.”
Klik
Luhan memutuskan sambungannya. Lalu ia beralih menatap Sehun. “Sehun? Besok ikut aku menjenguk pasienku ya?”
“Uhuuk!”
“Yaa! Hati-hati, dong! Dasar ceroboh!” Luhan memberikan segelas air putih pada Sehun yang langsung diminum dengan terburu-buru.
Sehun menaruh gelasnya di atas meja sambil menghela napas lega pasca kecelakaan tersedak yang dialaminya. Lalu ia menatap Luhan dengan tajam. “Hyung! Ini gara-garamu, tahu! Shireo! Aku tidak mau ikut menjenguk pasienmu itu. Itu ‘kan pasienmu, kenapa aku harus hmmpth!”
“Kau harus ikut atau aku akan menarik kartu kreditmu! Ingat, di sini aku yang bertanggung jawab atas dirimu, Oh Sehun. Aku bisa melakukan apa pun jika aku mau,” ancam Luhan lalu ia menarik tangannya yang ia gunakan untuk membekap mulut Sehun dan kembali menyantap makanannya.
Sehun menghela napasnya dalam-dalam. “Baiklah. Aku akan ikut besok,” ucapnya dengan nada pasrah. Bibirnya mengerucut sebal.
“Hahaha! Geurae, aku tidak akan menarik kartu kreditmu,” Luhan tertawa puas. Apalagi setelah melihat wajah Sehun yang menurutnya benar-benar lucu. “Lihat wajahmu! Astaga, aku tidak percaya kau bisa punya kekasih dengan wajah seperti itu!”
‘Kekasih?’ulang Sehun dalam hati. Tiba-tiba, moodnya kembali memburuk mengingat hubungannya dengan Hyeji yang semakin tidak jelas saat ini.
Krieet
Sehun mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. “Hyung, aku ke kamar dulu. Besok kalau sudah mau berangkat, bangunkan saja.”
Luhan mengangkat alisnya bingung dengan sikap Sehun yang tiba-tiba berubah 180 derajat. “Kau kenapa?”
Sehun tidak membalas dan pergi ke kamarnya dengan langkah lunglai. Luhan memandangi punggung Sehun yang perlahan menghilang. “Oh, astaga!” ia menepuk jidatnya sendiri. “Aku mengungkit kekasihnya! Ish, neomu pabboya!”
***
Aku termenung sambil memandangi langit yang cerah lewat jendela kamarku. Inilah hal yang selalu kulakukan selama beberapa bulan terakhir. Kalau tidak memandangi langit dari jendela kamarku, pasti jalan-jalan keluar untuk sekedar menghirup udara segar. Itu pun hanya 1-2 jam.
Sesekali, kulirik ponselku yang tergeletak di atas meja nakas di samping tempat tidurku. Berharap benda persegi itu bergetar, walau hanya sebentar. Aku selalu merasa bosan berada di kamar ini. Dan kebosananku berkali lipat karena sudah tiga hari ini, Chanyeol sibuk dengan urusannya sendiri dan tidak pernah menjengukku.
“Aish, Yoo Hyeji… Kenapa kau berpikir seperti itu? Chanyeol ‘kan punya kehidupannya sendiri… Kau seharusnya tahu posisimu.”
Ya, Chanyeol memang sibuk dengan urusan sekolahnya akhir-akhir ini. Pelaksanaan ujian kelululusan bisa dihitung jari, ia harus tinggal di sekolah lebih lama untu itu. Aku sendiri juga mendukungnya, aku tidak mungkin bukan membuat masa depannya berantakkan hanya karena minta ditemani sepanjang hari?
Kadang muncul penyesalan dalam diriku. Kenapa dulu aku mengikuti permintaan Chanyeol begitu saja? Mungkin kalau saja aku bersikeras untuk tetap sekolah, aku masih punya kesempatan untuk memiliki ijazah SMA. Ah, tidak. Ini sudah takdirmu, Yoo Hyeji. Kau harus menerimanya.
Kriiet
“Annyeong, Hyeji-ya!” suara pintu yang terbuka diikuti sapaan ceria yang tidak asing bagiku, membuatku tersadar dari lamunanku.
Di ambang pintu, seorang namja berjas putih yang biasa dikenakan seorang datang, melambaikan tangannya padaku. Dengan sebelah tangan lagi ia masukkan ke dalam kantung celananya. Senyumku langsung mengembang melihat dirinya.
“Ah! Luhan Oppa!” pekikku senang.
Luhan Oppa berjalan menghampiriku. “Wah, apa hari ini suasana hatimu baik, Nona Yoo Hyeji?”
Aku tersenyum padanya. Ah, akhirnya ada seseorang yang mengunjungiku. “Ya, bisa kau lihat. Oppa, mana sepupu yang waktu itu Oppa bicarakan? Bukankah kau bilang akan membawanya mengunjungiku?” tanyaku sambil sesekali melirik pintu. Berharap ada seseorang yang masuk.
Kulihat raut wajah Luhan Oppa berubah. Eh? Ada apa?
“Mianhae, Hyeji-ya. Eum, bagaimana ya. Dia tidak mau ke sini, mengingat ia tidak terlalu suka bertemu dengan gadis asing yang tidak ia kenal. Kau tahu ‘kan, dia
“Gwaenchanayo. Oppa, aku mengerti. Umurnya denganku sama, bukan? Aku tahu perasaannya,” potongku cepat. Aku tidak mau Luhan Oppa menyalahkan dirinya sendiri atau orang lain hanya karena diriku.
Luhan Oppa menepuk kepalaku sambil tersenyum. “Aku janji akan membawanya merayakan ulang tahunmu dua minggu lagi.”
Aku menggelengkan kepalaku mendengar janjinya. “Oppa, tidak perlu. Lagipula, belum tentu aku bisa merayakannya
“Kau bisa, Hyeji-ya,” potong Luhan Oppa. Kedua tangannya menangkup kedua pipiku, membuat wajah kami saling bertatapan. “Aku yakin kau bisa. Kau
Aku tersenyum tipis. Lalu menggelengkan kepalaku perlahan. “Aku tahu kondisi tubuhku sendiri, Oppa. Aku tidak akan bertahan lama….”
“Hanya dua minggu, oke? Aku ‘kan seorang dokter, kau harus percaya padaku! Kau pikir kau lebih pintar, huh?! Aku ini dokter terahli di sini asal kau tahu,” ucap Luhan Oppa.
“Ya, dan kau pandai berbohong. Dokter lain tidak mengatakan hal yang sama denganmu.”
Setelah ucapan terakhirku itu, Luhan Oppa diam. Ah, lihat. Aku benar, bukan? Ia selama ini berbohong padaku.
Merayakan ulang tahun bersama orang-orang yang kusayangi. Aku benar-benar menginginkannya. Tuhan, apa aku masih memiliki kesempatan itu?
***
Hari demi hari berlalu. Kondisi Hyeji semakin lama semakin memburuk. Gadis itu lebih sering menghabiskan waktunya dengan tidur atau melamun. Ia juga selalu menolak saat disuruh meminum obatnya. Alasannya, tidak ada gunanya lagi.
Hal ini tentu saja membuat Chanyeol dan Luhan dokter yang bertanggung jawab atas Hyeji merasa sangat khawatir. Chanyeol yang sudah melaksanakan ujiannya, semakin sering berada di rumah sakit menemani Hyeji. Laki-laki itu bahkan sering kabur dari sekolah saat jam pelajaran kosong. Keberadaannya cukup membawa hasil yang baik, Hyeji akan meminum obatnya setelah dipaksa berulang kali oleh dirinya dan Luhan. Walau hanya sesekali gadis itu menurut.
Hari ini hari libur. Chanyeol memutuskan untuk menemani gadis yang ia cintai itu sehari penuh. Ia juga berencana mengajak gadis itu keluar untuk berjalan-jalan. Mengingat Hyeji selama ini selalu berada di rumah sakit, pasti gadis itu perlu udara segar, pikir Chanyeol.
“Hyeji-ya, ayo kita keluar jalan-jalan. Kau mau ke mana hari ini?” ajak Chanyeol sambil meletakkan keranjang berisi buah-buahan kesukaan Hyeji yang baru dibelinya di meja nakas.
Hening.
Hyeji memandang lurus ke langit lewat jendela di sampingnya. Tatapannya kosong. Bahkan orang yang melihatnya ragu apakah telinga gadis itu masih berfungsi dengan baik. Karena ia tidak merespon sama sekali ajakan Chanyeol.
Chanyeol memandang Hyeji miris. Sungguh, hatinya benar-benar terluka dan perih melihat keadaan gadis yang sangat ia cintai itu. Walau Hyeji bukan termasuk orang yang periang, tapi, selama ini ia tidak pernah melihat gadis itu seperti ini. Bahkan sejak menjauh dari Sehun.
Oh Sehun, laki-laki itu sudah tidak pernah menanyakan kabar Hyeji seperti dulu. Begitu pula dengan Hyeji. Gadis itu tidak pernah lagi mengungkit tentang Sehun. Chanyeol merasa senang dan lega, karena itu berarti mereka benar-benar tidak akan kembali bersama. Bukankah ia harus senang? Tapi… entahlah. Ia merasa, sejak saat itu pula Hyeji berubah.
Chanyeol mendudukkan dirinya di pinggir ranjang yang Hyeji tempati. Tangannya terulur dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Kulitnya bisa merasakan dengan jelas betapa halusnya permukaan kain yang melingkupi kepala Hyeji. Ugh, rasanya ia rindu kelembutan rambut gadis di sampingnya ini. Sudah lama sekali, ia tidak menyentuhnya lagi. Ah, ralat. Ia tidak akan bisa menyentuhnya lagi.
Sejak menjalani pengobatan, rambut Hyeji terus rontok. Hingga akhirnya, ia mencukur habis rambutnya. Hal itu membuatnya selalu memakai topi dari benang wol setiap waktu. Bahkan saat tidur.
“Hye… Apa kau mendengarku?” Chanyeol kembali membuka suaranya.
Lagi, gadis itu tidak menjawab. Bahkan ia tidak menggerakkan bola matanya sekali pun.
“Hye
Drrt…
Ponselnya yang berada di dalam saku celananya bergetar. Dengan malas, Chanyeol melihat dan membaca sebuah pesan yang diterimanya.
“Hhh…,” Chanyeol menghela napasnya dalam-dalam. “Hye, aku harus pergi. Ayah meminta bantuanku untuk mengurus perusahaannya. Besok ulang tahunmu, bukan? Aku akan kembali tengah malam nanti dan kita akan merayakannya bersama.”
“….”
“Kau mau kubelikan kue rasa apa kali ini? Coklat? Strawberry? Ah, atau rasa blueberry?”
“….”
Chanyeol mengacak rambutnya frustasi. Demi Tuhan! Kenapa Hyeji tidak merespon ucapannya sama sekali? Apa gadis itu hanya menganggapnya angin lalu? Ck, lama-lama ia kesal sendiri.
“Hye, kau tidak boleh seperti ini. Kau pikir, kau bisa sembuh dengan berdiam diri seperti ini? Ayolah, kau harus ceria agar bisa sembuh! Aku begitu sulit mencari waktu agar bisa menjengukmu, kau tahu?! Ayah membutuhkanku dan mengancam tidak akan membiarkanku menemuimu jika tidak menurutinya. Dan kau?! Aku sudah datang dengan susah payah, kau malah tidak mengacuhkanku seperti ini!”
“….”
“Yaa! Yoo Hyeji
“Pergilah.”
Mata Chanyeol melebar mendengar ucapan Hyeji. Apa ia tidak salah dengar? Ia sudah bicara panjang-lebar, dan hanya dijawab satu kata? Dan gadis itu mengusirnya?
Hyeji mengangkat kepalanya, dan matanya tepat bertatapan dengan bola mata Chanyeol.
“Kau punya orangtua yang bisa mengaturmu, Chan. Sedangkan aku tidak. Kau tidak perlu mencemaskanku seperti ini. Jangan jadikan diriku alasan.”
“B-bukan itu maksudku. Aku
“Kubilang pergi, dasar bodoh!”
DEG
Chanyeol membeku. A-apa? Apa barusan Hyeji membentaknya? Dan… gadis itu mengatainya bodoh?
Hyeji membuang wajahnya ke arah lain. Matanya memanas dan siap mengalirkan air mata. “Pergilah,” suaranya terdengar lebih rendah dan sedikit serak. “Kumohon. Aku tidak mau menjadi beban untukmu.”
Chanyeol mendesah. Sungguh, ia tidak bermaksud seperti itu. Ia perlahan berjalan ke arah pintu kamar. Tidak ada gunanya bicara dengan Hyeji saat ini. Tangannya sudah menyentuh knop pintu yang terasa dingin. Namun, sebelum memutar kenop pintu, ia melirik Hyeji yang sedang memandang lurus ke arah jendela. Ia bisa melihat setitik air mata di sudut mata gadis itu. Hatinya sakit melihat hal itu.
“Aku akan kembali. Jaga dirimu, Luhan akan segera datang.”
Tidak ada jawaban. Dan dengan berat hati, Chanyeol memutar knop pintu. Meninggalkan Hyeji sendirian di kamar rawatnya.
Sepeninggalan Chanyeol, suasana kamar yang hening digantikan dengan suara isakan tangis. Hyeji menundukkan kepalanya dan mulai menangis. Sebenarnya hatinya merasa sakit saat menyuruh Chanyeol pergi. Ia tidak menginginkan Chanyeol pergi. Ia ingin Chanyeol menemaninya, bercanda bersama, dan mencari tahu kabar Sehun. Tapi setelah mengetahui semua hal yang disembunyikan Chanyeol, ia memutuskan untuk tidak melakukan itu semua.
***
Suara derasnya hujan di Kota Seoul malam ini membuat Hyeji tidak bisa tidur. Ia duduk di pinggir ranjangnya sambil menatap jendela yang tertutup. Sudah 1,5 jam ini ia melewati waktu dengan posisi yang sama tanpa bergerak sedikit pun. Apa yang ia lihat? Apakah tetesan air hujan yang banyak itu? Iya dan tidak. Lebih tepatnya, Hyeji menatap tetes demi tetes air hujan itu dengan pandangan kosong. Ia hanya mengarahkan matanya pada tetesan air yang banyak itu.
Clek
Chanyeol masuk dalam keadaan basah kuyup. Ia mengacak-ngacak rambutnya yang basah. Lalu melepas jasnya yang juga sangat basah dan menyampirkannya di gantungan baju yang ada di pojok kamar. Matanya melirik punggung Hyeji yang membelakanginya. Kedua alisnya bertaut bingung. Apa Hyeji tidur dengan posisi seperti itu? Lantas kenapa ia tidak melihat dirinya?
“Hyeji-ya, kau sedang apa?” tanya Chanyeol, tangan kirinya sudah berada di pundak kanan Hyeji.
Hyeji mengangkat wajahnya untuk menatap Chanyeol. Kedua tangannya mengambil alih mengenggam tangan Chanyeol yang tadinya berada di pundaknya. “A-astaga! Kenapa dingin sekali, Chan? Kau terkena hujan?” tanyanya khawatir. Ia menempelkan tangan itu di pipinya, berharap bisa memberikan sedikit kehangatan.
Chanyeol terkekeh pelan melihat Hyeji yang mengkhawatirkannya. Ia melepaskan tangannya dari pipi Hyeji, lalu menepuk pelan puncak kepala gadis itu. “Aku pakai jas tebal yang tidak membuat kemejaku basah, kok. Sudah ya, aku mau tidur dulu. Aku sangat lelah hari ini,” ucapnya lalu berjalan menuju sofa di kamar itu. Ia merebahkan tubuhnya di sofa yang panjangnya tidak cukup menampung kedua kakinya yang panjang.
Hyeji baru akan menyuruh laki-laki itu untuk mandi terlebih dahulu, namun menutup bibirnya kembali begitu mendengar dengkuran halus dari Chanyeol. Ia menghampiri laki-laki itu dengan membawa sehelai selimut tebal miliknya yang bergambar Hello Kitty. Lalu menyelimuti tubuh Chanyeol dengan selimut tersebut.
Hyeji berjongkok, mensejajarkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Chanyeol dari samping dengan jelas. Ia tersenyum, Chanyeol benar-benar tidak berubah. Wajahnya masih saja terlihat polos seperti anak kecil saat tidur seperti ini. Ah, lalu telinganya yang lebar itu. Ia menarik-narik pelan telinga Chanyeol yang ia rasa makin lebar dari tahun-ke-tahun. Jari telunjuknya dengan gemas menusuk-nusuk pipi Chanyeol yang ia pikir sangat menggemaskan. Uh, sudah lama aku tidak mencubitnya. Ia terlalu tinggi untuk dijangkau, sih~
Drrt…
Hyeji mengambil ponselnya yang ada di atas meja di sampingnya. Ia melihat siapa orang yang menghubunginya.
DEG
Jantung Hyeji berdegup keras. Tangannya tiba-tiba dingin dan keringat dingin mulai bercucuran. Ia menelan salivanya dengan gugup. Dengan jari yang bergetar, ia menekan tombol untuk mengangkat panggilan itu.
“Kau sedang bersama Chanyeol, ‘kan?”
Gulp
Lagi-lagi Hyeji menelan salivanya dengan susah payah. Ia menggenggam ponselnya seerat mungkin, seakan ponselnya itu dilapisi minyak yang bisa membuatnya jatuh begitu saja. Suara yang terdengar dingin itu sukses membuatnya mati kutu.
“Cih, sudah kuduga. Yaa, apa kau tahu? Chanyeol kabur dari acara perusahaan yang sangat lebih penting dibanding dirimu hanya untuk melihatmu! Sial, sebenarnya siapa keluarganya, hah?!”
Hyeji menggigit bibirnya takut. “M-mianhaeyo, ahjussi. Aku akan menyuruh Chanyeol pulang
“Dengan keadaan di luar yang sedang hujan deras seperti ini?! Dia tidak membawa mobil karena terburu-buru, bodoh! Kau mau dia sakit agar bisa menemanimu seharian menunggu kematianmu di rumah sakit, ya?!”
DEG
“A-ahjussi, bukan itu maksudku. Dan… bagaimana kau tahu kalau aku sakit?”
“Chanyeol yang memohon-mohon padaku agar membiayai pengobatanmu, dengan balasan ia akan menjadi penerusku. Cih, omong kosong. Bahkan ia sering mencari waktu untuk pergi menemuimu!”
‘Jadi, selama ini Chanyeol bohong padaku? Pengobatan gratis itu sebenarnya tidak ada?’ batin Hyeji. “Jeongmal mianhaeyo ahjussi, aku sungguh tidak tahu. Chanyeol bilang pengobatan ini gratis
“Kalau kau merasa bersalah, jauhi Chanyeol mulai sekarang juga!”
Tut… tut…
Tuan Park menutup teleponnya. Ponsel di tangan Hyeji meluncur begitu saja dari tangannya dan jatuh di pangkuannya. Bahunya bergetar, matanya terpejam dengan air mata yang mengalir deras, dan kedua tangannya menutupi mulutnya agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membuat Chanyeol terbangun dari tidurnya. Ia menangis selama 2 jam hingga pukul 3 pagi. Matanya menjadi sangat bengkak dan sembab. Hyeji memutuskan untuk pergi tidur, dan bertekad untuk melakukan hal yang ia pikirkan sambil menangis esok hari.
Menjauhi Chanyeol.
***
Seorang laki-laki berkulit pucat dengan rambut coklat yang sangat kontraks dengan warna kulitnya itu merebahkan dirinya di atas dedaunan yang berserakan di bawah pohon maple. Sebelah tangannya ia letakkan di belakang kepalanya sebagai bantal. Ia memejamkan kedua matanya, menikmati suasana segar yang ia rasakan saat ini.
Tes
Matanya refleks terbuka begitu merasakan sesuatu yang basah mengenai kelopak matanya. Ia memperhatikan dengan seksama objek yang berada tepat di depan matanya.
DEG
“Hye… Hyeji-ya?” gumamnya.
Gadis di hadapannya tersenyum dengan setetes air mata di sudut mata kirinya. Bola matanya yang berwarna hitam pekat terlihat berkaca-kaca bagai bola kristal. Wajahnya menyilaukan, seperti pantulan cahaya bulan di malam yang gelap. Matanya sedikit terasa perih dan berkunang-kunang memperhatikan wajah gadis di hadapannya ini.
“Oh Sehun, aku mencintaimu.”
Tangan Sehun telurur untuk menyentuh wajah gadis di hadapannya. Menangkup kedua pipi yang terasa sangat lembut itu dengan kedua tangannya. Ia menghapus air mata di sudut mata Hyeji dengan jempolnya.
“Bisakah kau mengatakan kalau kau mencintaiku, Sehun-ah?” mohon Hyeji dengan suara yang terdengar lirih. Hampir putus asa.
Sehun tersenyum lalu mengangguk. Bibirnya terbuka perlahan, dan mengucapkan satu kalimat yang sejak dulu ingin ia sampaikan pada gadis yang ia cintai di hadapannya ini. “Aku juga mencintaimu.”
Dan, wush…
Sosok itu pergi seiring hembusan angin yang sedikit besar menyapu wajah tampannya. Tubuh Sehun terlonjak ke depan dan terduduk. Napasnya menjadi tidak beraturan. Tangannya menyibak poni di keningnya yang basah karena berkeringat dingin. Ia memperhatikan sepasang cincin yang melekat di jari manis dan kelingkingnya.
“Bagaimana bisa? Tidak mungkin….”
Drrt…
My Girl is calling…
Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Ia pikir, nomor itu sudah dibuang oleh Hyeji karena setiap kali dihubungi, pasti tidak bisa. Ada apa Hyeji menelponnya setelah 3 bulan lamanya tidak bisa dihubungi?
“Y-yeoboseyo?”
“Sehun? Jadi benar ini kau?!”
Kenapa malah suara Luhan hyung?
“Hyung, kena
“Yoo Hyeji, pasienku yang sering kuceritakan itu jatuh pingsan dan meninggal tiba-tiba di dekat sekolahmu. Jadi, dia itu kekasihmu, Sehun-ah?! Cepat datang ke rumah sakit!”
DEG
Tenggorokan Sehun terasa tercekat. Matanya memperhatikan sepasang cincin yang ada di tangannya dengan bola mata yang berkaca-kaca. Dengan cepat, ia bangkit dan berlari keluar dari sekolahnya. Matanya melebar begitu mendapati kerumunan orang-orang yang mulai bubar. Kakinya melangkah mendekati kerumunan yang mulai bubar itu. Pendengarannya menangkap beberapa bisikan orang-orang di sana.
“Sepertinya gadis itu terkena serangan jantung.”
“Ya, kupikir juga begitu. Dia tiba-tiba jatuh saat ingin menyebrang jalan. Beruntung tidak ditabrak.”
“…Aku pikir pembuluh darah otaknya pecah.”
“Kasihan sekali gadis itu. Padahal ia masih remaja dan sangat cantik.”
Pikiran Sehun tiba-tiba menjadi kosong. Tubuhnya terasa amat sangat lemas dan tidak bertenaga, bahkan untuk berdiri.
“Taxi!” panggilnya dengan tangan melambai-lambai pada taksi yang lewat. Tanpa buang waktu, ia memasuki taksi itu. Setelah mengatakan tempat tujuannya, supir taksi itu langsung menancap gas. Dan taksi itu melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.
***
Sehun berlari menyusuri lorong rumah sakit secepat yang ia bisa. Jantungnya berdegup kencang. Matanya bergerak gelisah mencoba menemukan angka ‘121’ di pintu kamar rumah sakit tempatnya berada saat ini.
BRAKK
Langsung dibukanya dengan kasar kamar dengan pintu bernomor 121. Napasnya terengah-engah, tangannya masih memegangi gagang pintu. Ia mematung melihat objek di depan matanya saat ini.
“Sehun? Kau sudah datang? Kemarilah…,” ucap seorang lelaki berbalut jas putih yang berdiri di samping Luhan, Xiumin.
Tanpa suara, Sehun mendekati objek yang menjadi perhatiannya saat ini. Ia berhenti begitu melihat wajah Luhan dan Xiumin yang terlihat sedih dan ekspresi Xiumin yang menatapnya dengan tatapan yang seolah mengatakan ‘kau harus sabar ya’.
Sehun membuka bibirnya yang entah sejak kapan menjadi sulit dibuka. “H-hyung, ada apa ini?”
Luhan mengalihkan tatapannya dari gundukan selimut putih di hadapannya pada Sehun. Tanpa berkata apapun, ia pergi keluar kamar setelah sebelumnya menepuk punggungnya pelan. Begitu pun dengan Xiumin yang mengekori Luhan dari belakang.
Kini tersisa dirinya dan seorang lelaki yang duduk di samping ranjang di hadapannya. Sehun sedikit memincingkan matanya melihat lelaki yang terasa familiar baginya.
Dan saat itu pula, lelaki itu mengangkat kepalanya yang semula tertunduk. Mata mereka berdua bertemu.
DEG
Park Chanyeol?
“Kau sudah datang?” suaranya terdengar serak khas orang habis menangis. “Tidakkah kau menyesal baru datang sekarang?”
“Apa mak
“Kau bodoh sekali! Kenapa kau baru datang setelah ia pergi hah?!”
Sehun mematung. Mencoba menyerap dan memahami ucapan Chanyeol baik-baik. Entah kenapa, pikirannya sangat kacau hari ini. Ia benar-benar merasa bodoh.
Terdengar suara decitan kursi yang ditarik ke belakang, Chanyeol berdiri. Lalu melangkah mendekati Sehun. Ia menarik pergelangan tangan kiri Sehun dan meletakkan secarik kertas di telapak tangannya.
“Bacalah dan lakukan permintaan di dalamnya. Itu jika kau laki-laki sejati.”
Setelah mengucapkan itu, Chanyeol pergi. Bunyi pintu yang ditutup seakan menyadarkan Sehun dari lamunanya. Sehun baru sadar apa yang tengah ia lakukan. Dengan tergesa, ia mendekati gundukan selimut putih di hadapannya dan duduk di kursi tempat Chanyeol tadi.
Napasnya tercekat melihat gundukan itu. Buliran bening entah sejak kapan sudah mengalir dan menganak sungai di pipinya. Dengan tangan gemetar, ia membuka secarik kertas yang Chanyeol berikan padanya sebelum pergi tadi.
Permintaan di ulang tahunku. Sehun-ah, nyanyikan lagu selamat ulang tahun saat hari ulang tahunku. Lalu kau akan bisa melupakanku selamanya.
Sehun menghirup napasnya dalam-dalam dengan mata terpejam. Lalu menatap gundukan putih di hadapannya, dan perlahan tangannya terulur lalu menarik selimut putih itu. Air matanya semakin mengalir deras melihat wajah gadis yang sangat ia cintai yang terlihat sangat pucat dengan bibir yang memutih.
Sehun mengangkat pergelangan tangan yang terasa kaku dan dingin itu. Lalu menempelkannya pada sebelah pipinya. Berharap membuat tangan itu kembali menghangat meski ia tahu itu mustahil.
“Melupakanmu?” gumamnya lirih. “Maaf, kupikir aku tidak bisa melakukan permintaan terakhirmu ini.”
Helaan napas terdengar di ruangan itu. Mengingat suasana dalam ruangan amat sangat sepi.
“Tapi ijinkan aku kembali melakukan permintaan terakhirmu saat terakhir kita bertemu.Tanpa paksaan apapun dan aku dengan tulus mengucapkannya.
Aku mencintaimu, Yoo Hyeji.”
.
.
.
END

Akhirnya aku bisa juga menyelesaikan ff ini sampe tamat~ *sujudsyukur
Ok, yang berkenan mohon tinggalkan komentarnya ^^ Hargai karya orang lain.
Thanks for read~ 

Advertisements

One thought on “[FREELANCE] Birthday Wish [3/3]”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s