[Freelance] What A Period!

images (19)

Title: What a Period!

Author: speakforeign (@trias0699)

Cast: Oh Sehun, Kim Raejin (OC), Park Chanyeol

Genre: Friendship, fluff, romance (?)

Length: Ficlet

Rating: G

Disclaimer: story line is definetly by my own fantasy. Plagiarism is strictly prohibited!

A/N: Cast hanya milik Tuhan, their fams, agency, and fans. I just own the plot and OC. Sorry for typos and absurd story.

Be a wise reader, guys! Happy reading ^^

.

.

.

.

Hari pertama dalam period memang kadang menjengkelkan. Apalagi teman yang ku anggap baik sebelumnya, bisa berubah menjadi sangat menyebalkan ketika aku dalam period.

“Ya! Sehun-ah, jangan ganggu dia. Kau tidak tahu ini tanggal berapa hah?”, oh ternyata Park Chanyeol paham tentang siklus 23 atau 28 hariku. Mendengar Chanyeol berbicara aku hanya menidurkan kepalaku dalam lipatan tangan di meja menahan sakit yang menjalar dibawah perutku.

“Maksudmu?”

Ya Tuhan, kau bodoh atau bagaimana sih? Kita sudah berteman sejak kecil, bahkan kau ingat kapan aku mendapat period pertamaku, Oh Sehun. Asal kalian tahu, ia terdengar sangat polos ketika mengajukan pertanyaan tidak berbobot itu pada Chanyeol.

“Huh, Sehun-ah, aku sedang dalam masaku. Jadi tolong kau buang jauh-jauhaegyo-mu yang selalu kau tampakkan, arraseo?”, kataku yang menekankan pada kalimat ‘arraseo’ pada Sehun. Aku mohon kau paham sekarang.

“Eoh? Aku paham sekarang. Baiklah. Itu akan mengerikan jika monster sudah keluar.”

PLAK!

“Ya! Maksudmu monster siapa hah? Aku? Sehun-ah!”, aku menyentil dahi namja bermarga Oh itu. Rasakan kau!

“Eoh! Ini sakit, Raejin-ah! Dasar yeoja!”

“Aigoo,, bisa tidak kalian jangan bertengkar?! Ini membuatku pusing! Ya Tuhan, ampuni teman-temanku.”

“Sebaiknya kau tidak mendengarkan kami jika membuatmu pusing.”

“Hey! Kau, Park Chanyeol!—“

“Ya! Aku Park Chanyeol. Kau mau menyentil dahiku juga?! Aish.. Jinjja.”

Ya Tuhan, mereka makin tidak jelas saja. Ini masih pagi dan mereka sudah membuat moodku turun. Aku membuang nafas kasar berusaha tidak terpancing perkataan Chanyeol.

Aku melihat Sehun duduk disampingku setelah meletakkan tasnya di meja Chanyeol yang berada persis dibelakangku. Apa dia mau menggangguku lebih lama lagi? Astaga.

“Kim Raejin—“

“Apa? Kau mau menggangguku lagi?”, kataku ketus.

“Santailah, aku hanya ingin mengajakmu pergi sepulang sekolah.”

Kedua mataku melebar mendengar perkataan Sehun tersebut. Aku menatapnya serius. Beberapa minggu ini memang aku dan Sehun lebih banyak menghabiskan waktu sendiri-sendiri. Bahkan ketika ada tugas kelompok aku lebih memilih bersama Chanyeol daripada Sehun. Pikirku, aku bosan dengannya.

“Pergi? Kemana?”, jawabku dengan nada lirih.

“Kemana saja yang kau mau. Aku ingin menghilangkan monster premenstruasi syndrommu.”

Astaga, Sehun! Ini kau atau bukan? Mengapa kau tiba-tiba berubah setelah sekian lama kau menjadi teman konyolku?

“Baiklah. Tapi kau tidak apa-apa kan?”

“Maksudmu?”

“Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya.”

“Ah, tidak. Aku hanya merindukanmu. Itu saja.”

Dia merindukanku? Bahkan rumah kami bersebelahan. Mengapa alasan yang kau buat ‘aku merindukanmu’? Lalu kau merindukan apa dariku? Bukankah itu alasan yang terlalu berlebihan untuk orang yang selalu kau lihat setiap hari? Ah makin banyak pertanyaan yang otakku ajukan sepeninggal Sehun ke tempat duduknya.

*~*~*~*~*~*~*~*

“Kau mau bubble tea juga?”

“Eoh? Ya, samakan saja denganmu.”

Ya Tuhan, aku rasa ini bukan Sehun yang biasa, ini kepribadian Sehun yang lain. Tapi mungkinkah dia berkepribadian ganda? Astaga, cukup sudah, Kim Raejin.

Aku dan Sehun duduk-duduk santai menghadap kearah sungai Han yang alirannya sangat tenang. Membuatku dan Sehun makin damai sambil menikmati bubble tea yang tadi dibeli.

“Bagaimana rasanya saat tidak denganku?”, Tanya Sehun memecah keheningan.

“Apa itu penting?”

“Jawab dulu pertanyaanku.”

“Itu—“, aku berhenti sejenak. Entahlah, aku berpikir itu sungguh menjengkelkan. “Biasa saja. Kau?”

“Kau menyiratkan sesuatu yang lain, Rae-ah. Aku akan jawab setelahmu.”

“Itu menjengkelkan. Kkeut.”, aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Aku juga.”

“Aku tadi mengatakan kalau aku ingin menghilangkan monster premenstruasi syndromemu.”, Sehun balik menatapku penuh pengharapan.

“Apa itu penting?”

“Aishh,, jinjja. Kim Raejin-ah! Apa di dunia ini tidak ada yang penting bagimu?”

“Ya! Tidak ada. Kenapa? Kau mau apa? Apa aku terlalu penting untukmu sehingga kau ingin—“

Astaga, ini diluar dugaanku. Monster itu tadi datang lalu kembali lagi keasalnya ketika Sehun mendekapku erat. Sangat erat. Nafasnya terdengar memburu di bahuku.

“Kau benar. Kau sangat penting untukku.”

“Sehunnie…”, aku mencoba melepaskan pelukannya, tapi itu malah membuat Sehun makin mengeratkan pelukannya padaku.

“Tubuhmu membutuhkanku untuk meyalurkan hormon oksitosin padamu. Hanya sejenak, Rae-ah. Tetaplah seperti ini.”

Bulir-bulir kecil mulai mengalir dari mataku. Aku merasakan kenyamanan itu.Hormon oksitosin?

“Kau…”

“Apa sudah lebih nyaman?”

Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Tatapan intimidasinya menatapku lekat-lekat. Kedua lengannya memegang bahuku lembut. Dan sesekali menyeka bulir yang menetes dipipiku.

“Itu fungsinya aku untukmu. Menyalurkan oksitosin untuk manusia satu ini.”, perlahan senyumannya mencuat dari bibirnya.

“Hmm. Terimakasih, Oh Sehun.”

“Hmm.”

Keheningan antara aku dan Sehun muncul lagi. Aku rasa kegiatan tadi membuatku sedikit canggung padanya.

“Bersikaplah biasa, Rae-ah.”

“Eoh? Aku, a—kku sudah biasa.”, aku menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal.

“Kau mau tahu sesuatu?”, Tanya Sehun tiba-tiba.

Entahlah, aku cukup bersemangat menyimak ceritanya. Aku mengangguk pelan.

“Tapi kau jangan cemburu ya?”

“Ya! Sehun-ah!”

“Pemilikmu datang, nona Kim.”

Astaga, dia memelukku lagi. Pemilikmu? Apa maksudnya itu?

“Aku sudah memliki kekasih. Kau tahu? Itu sangat menyenangkan.”

“Tunggu. Barusan kau—“

“Jangan salah paham dulu, Rae-ah. Aku menyayangimu sebagai keluarga dan sahabat. Tidak lebih.”, air mukanya berubah agak kesal menjawab perkataanku yang ia potong. Mian, Sehun-ah. Hehe. Apa aku tadi terlalu percaya diri? Hmm.

“Lalu?”

“Go Ah Ra, murid kelas 2-3. Kau tahu kan?”

“Ah Ra?! Ya Tuhan, kau sangat beruntung! Ia kan primadona seantero sekolah. Bagaimana bisa kau menaklukan wanita itu?! Aha, aku bangga padamu,brother.”, aku menepuk-nepuk bahu Sehun berkali-kali. Sungguh, aku sangat senang ia telah memiliki kekasih. Tidak, aku tidak akan cemburu. Akupun statusnya sama dengannya..

Sehun hanya menunduk mengangguk kecil. Terlihat semburat merah menutupi sebagian wajah dipipinya. Ia pasti sangat senang membagi ceritanya denganku.

“Kau tahu? Selama aku tidak denganmu, Chanyeol mulai mendekatiku dan mencoba mengambil hatiku. Dan akhirnya diberhasil. Aku berpacaran dengan Chanyeol.”

“Astaga, Raejin-ah, kenapa kau tidak memberitahuku tentang ini?! Kau…aish.”, wajahnya berubah kesal lagi. Ia memalingkan wajahnya dari hadapanku. Kau lucu sekali, Oh Sehun.

“Mian, Sehun-ah. Hmm, boleh aku memelukmu lagi? Aku ingin monsterku benar-benar pergi.”, pintaku.

Tanpa berkata apa-apa, Sehun membuka lebar kedua lengannya menandakan aku boleh memeluknya lagi.

Bunyi getaran dari dalam sakuku mengakhiri kegiatan berpelukan itu.

>> Chanyeol
‘Apa sudah selesai?’

“Siapa?”

“Park Chanyeol.”, senyumku mengembang ketika aku mengatakan namanya.

“Wah, temanku ternyata sudah dewasa sekarang.”, goda Sehun yang membuat sedikit semburat merah menyelimuti pipiku.

“Aha, aku harus segera membalasnya.”

“Baiklah, itu harus.”

<< Raejin
‘mungkin sebentar lagi. Kau datang saja dulu, nanti aku diantar Sehun.’

>> Chanyeol
‘Baiklah, aku akan menunggumu. xoxo

<< Raejin
’saranghaja xoxo.’

“Aku pikir aku berlebihan ketika chat dengannya.”

“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?”

“Lihatlah, xoxo. Itu seperti… Ah sudahlah..”

Aku menyandarkan kepalaku di bahu Sehun. Perasaan nyaman menyelimutiku. Sepertinya monsterku benar-benar sudah pergi ketika Sehun ada bersamaku. Tangan Sehun menepuk-nepuk pundakku lembut.

“Kau harus mengantarku ketempat yang sudah dijanjikan Chanyeol, Sehunnie.”, pintaku yang masih nyaman menyandar pada bahu Sehun.

“Aku mau. Tapi belikan aku bubble tea dulu.”

“Hmmm, mana uangnya?”

“Uangmu dong! Bagaimana kau ini?!”

“Ya!”

“Kau mau aku peluk lagi, ya?”

-kkeut-

Advertisements

4 thoughts on “[Freelance] What A Period!”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s