[Sehun B-day Project] Social Media

“SOCIAL MEDIA”

PUTRISAFIRA255

OH SEHUN  KIM HANNA

ROMANCE, FLUFF, RELATIONSHIP

PG-15

“Masih tentang Sehun yang tidak mudah di tebak,

serta KIm Hanna yang masih meragukannya.”

 

 

Sosial media adalah tempat di mana semua manusia mencurahkan segala apa yang mereka rasakan ke dalamnya. Bukan hanya remaja, kini selebriti dan orang dewasa pun juga sudah ambil peran. Mereka yang ingin di kenal publik pun tak memikirkan bagaimana kerugian yang di timbulkan. Pernah mendengar istilah ‘ponsel mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’? Jika belum, mungkin ini salah satu contohnya.

Hanna yang seharusnya bahagia justru terlihat murung sejak kedatangannya bersama Sang Pacar di taman. Semula yang berniat mengusir kejenuhan justru di suguhi pemandangan tak mengenakkan. Berakhir bersama sepi walau di sampingnya masih ada namja jangkung yang telah ia terima sebagai pacarnya dua tahun yang lalu.

Tak mau mengalihkan perhatian, membuat Hanna semakin sebal. Bagaimana tidak? Ia mengajak kekasih tercintanya itu ke taman untuk menghabiskan weekend berdua. Sedangkan, yang di gagas justru tak peka—kendati demam situs jejaring sosial telah menjangkitnya. “Sehun,”

Merasa di panggil, ia mendongak. Mencari hazel pemilik hatinya, lalu bergumam. “Ehm.. apa?”

“Kau tidak lapar?” tanya Hanna yang hanya di hadiahi gelengan kepala oleh Sehun, kemudian  berlanjut dengan kalimat, “Aku tidak lapar.” Siapa wanita yang tidak marah jika dirinya di tak di anggap kehadirannya oleh orang lain? Terlebih lagi oleh kekasih. Bukankah itu menyebalkan?

“Sehun,” panggil Hanna—lagi— yang di hadiahi genggaman tangan oleh Sehun,namun tangan yang lain masih sibuk berkutat dengan ponsel. “Besok ayah dan ibuku ingin bertemu denganmu.” Ujarnya mencari topik yang mungkin bisa di bahas oleh keduanya. Mendengar penuturan Sang Kekasih, Sehun pun mengangguk, setelahnya bergumam—mengiyakan. “Ehm,”

Sudah! Kesabaran Hanna sudah terkuras habis untuk menghadapi namja kekanak-kanakan itu. Tangannya tergerak merebut ponsel dari pemiliknya, lalu mencecar habis dengan amarah yang sejak tadi ia pendam dalam-dalam di relung hati. Mencoba mengilhami keadaan walau akhirnya emosi mengambil alih kesadaran. Memuntahkan segala isi dalam pikiran, hingga akhirnya Sehun jadi kebingungan.

“Kenapa kau mengabaikanku?!”

“Aku tidak menga—”

“Apa kau punya pacar baru?!”

“Ani, aku tidak—”

“Lalu, kenapa kau mengabaikanku?!”

Sehun terdiam. Mengalihkan fokusnya pada ponsel yang tengah di genggam erat oleh Hanna. Memberi petunjuk agar Hanna melihat sendiri apa yang tengah ia lakukan di saat keduanya sedang menghabiskan waktu bersama. Sadar kemana arah sorot mata Sehun, Hanna pun ikut menjatuhkan fokusnya. Berakhir pada ponsel pintar 5.5 inci yang kini berada di genggamannya.

Tak menunggu lama, layar ponsel pun menjadi saksi bisu betapa Sehun sangat mencintainya. Ditambah lagi dengan kalimat penjelas yang baru saja menyapa pendengaran. “Awalnya aku mau memberitahumu, tapi aku rasa kau tidak akan menyukainya,”

“Temanku merekomendasikan akun itu untuk mencari cincin pernikahan. Apa kau mau memilihnya? Aku takut kau tak suka—”

Akhirnya, air mata pun megalir tanpa di sadari oleh Hanna. Tak kuat lagi membendung tangis bahagia dan juga tangis penyesalan di saat yang bersamaan. Bahagia kala mengetahui bahwa Sehun tak mengabaikannya—bahkan masih memperdulikannya— dan menyesal karena telah meragukan ketulusan hati hanya demi memenuhi ego sendiri.

Sehun yang sadar akan tangis Hanna pun segera mengambil sapu tangan dari saku celananya. Mengusap pipi tirus itu perlahan, hingga air mata tak lagi menghias wajah kekasihnya. “Maaf aku membuatmu menangis.”

Alih-alih menjawab ataupun mengangguk, Hanna justru memeluk Sehun. Sangat erat, hingga Sehun pun dibuat bingung olehnya. “Maaf aku meragukanmu, Hun. Aku mencintaimu.” Kini, giliran Sehun yang mengeratkan pelukan keduanya. “Aku lebih mencintaimu, Sayang.” Ujarnya, lalu mengambil jarak demi mempertemukan hazel keduanya. “Karena aku belum membelinya, jadi aku hanya bisa menunjukkan gambarnya,”

“Hun—”

“Will you marry me, Honey?”

Hanna menggeleng cepat, sebelum lisan menimpali, “Aku tidak mau kalau hanya gambar, Hun. Aku mau yang asli.” Sehun yang merasa di ragukan kembali menjawab, “Aku akan membelinya, segera!”

Namun, lagi-lagi Hanna menggeleng. “Ani, bukan itu maksudku,”

“Lalu?”

Hanna menangkup wajah Sehun perlahan. Mencuri kesempatan di kala waktu masih mengizinkan. Merangkum segala ketampanan yang tercipta hanya demi ego sendiri. Tak mau ketampanan yang dimiliki Sang kekasih, dinikmati oleh orang lain. Mencuri atensi namja di hadapannya itu dengan tatapan, lalu mengakhirinya dengan sapuan seringan kapas di indra perasa. Hanya terdiam kala di hadiahi kecupan kecil pembangkit adrenalin yang tertidur beberapa saat, lalu mengambil alih pekerjaan yang di mulai sang kekasih. Tak membiarkan Hanna bernapas walau hanya lima detik setelah menghadapi manuver berlebih seorang Oh Sehun.

Sayangnya, Hanna tak ahli dengan urusan duniawi seperti itu. Mendorong tubuh atletis itu perlahan, hingga tautan pun berakhir protes. Urung dilakukan, ponsel miliknya yang masih digenggam Hanna pun berdering. Kentara sekali memihak Hanna—untuk kali ini. “Angkat dulu,”

“Shireo!(Tidak mau!)”

“Sehun… Bagaimana jika itu telepon penting?”

“Huh! Baiklah, tapi ingat permainan yang kau mulai harus kau selesaikan. Arra?”

Sadar akan apa yang di bicarakan Sehun, kakinya mengambil langkah menjauh. Menyelamatkan diri sebelum leher jenjangnya menjadi korban di kala sang dewi menerangi malam. Tak ingin memakai scraf di musim panas—yang pada akhirnya ia harus menjawab pertanyaan tak manusiawi dari kawan seperjuangannya.

Untungnya, Sehun bukan pria kebanyakan di luar sana. Tak bisa menjaga tanggung jawab yang diberikan, hingga akhirnya berakhir dengan perpisahan. Ia selalu bisa menjaga batasan yang telah di tentukan, dan itu salah satu sebab kenapa Hanna yakin melanjutkan hubungan keduanya menuju hubungan yang lebih serius. Jika memikirkan semua itu, pipinya pasti sudah merah. “Kau memikirkanku, ya?” tebak Sehun yang tiba-tiba datang setelah urusan dengan kantornya selesai.

“Ani!”

“Bohong,”

“Jangan membuatku marah, Hun.” Hanna mengingatkan. Dan Sehun mengalah, “Baiklah. Aku kalah,” ujarnya jujur yang di selingi kekehan di akhir kalimat. Berakhir dengan senyuman yang memeta pada wajah keduanya, lalu berjalan beriringan. Menghabiskan waktu tanpa ada lagi pengganggu…

…Media sosial

˪END˥

Ini FF apaan yak? Ane kagak paham/alay kumat/ Ekhem…. Balik lagi dengan FF absurd tak berbentuk milikku yang aku persembahkan untuk ulang tahun suami tercinta #PLAK/dihajar readers/

Okay, berhubungan dengan ulang tahun Sehun oppa yang ke-23(umur korea), aku ucapkan minal aidzin/eh, salah/ Saengil Chukkahaeyeo, chagiya! Semoga semakin dewasa—bukan mendewasai lho—/ehh/ bisa mencintai para EXO-L hingga akhir hayat menjemput dan selalu di berikan kebahagiaan. Love you more than i love Chanyeol oppa[orangnya dateng].

Thanks to my amore[readers] yang mau baca.. see you next time in my FF absurd tak berbentuk yakk…

Advertisements

6 thoughts on “[Sehun B-day Project] Social Media”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s