[Sehun Birthday Project] Hi! Again

hi again

[Sehun birthday project]

Hi! Again

Oleh : Hadzina Mulier

Main Cast : EXO Sehun

Genre : Thriller

Rating : General

***

“ … lagipula tak akan ada yang peduli tentang dia bahkan hidup atau tidak.”

Sehun tersenyum separuh dalam duduknya, mendengarkan saja dengan tenang sembari kedua tangannya terkait damai di atas perut. Kakinya saling bersilangan, satunya bertumpu di atas satunya yang lain. Air mukanya dingin, seolah begitu mustahil dijangkau tangan manusia.

Orang-orang penggemar kabar burung itu memang mengatakan kebenaran, tepat sekali, batinnya sinis.

Siapa yang peduli pada eksistensi makhluk menjijikkan yang setiap napasnya bahkan hanya kehinaan yang menguar? Hidup orang lain terlalu suci untuk dicoreng tinta hidupnya yang sebusuk tahi.

Hahaha, batinnya tertawa-tawa, meski mimiknya masih sebeku bongkahan es di kutub dunia, baik yang kanan maupun kiri, atau orang-orang lebih suka menyebutnya selatan dan utara.

“Tapi jika kita memikirkannya lebih dalam,”

Suara lembut itu dipotong oleh yang lain yang terdengar lebih ceria, “Memikirkan si hina itu? Hahaha!”

Tiga suara itu melebur dalam tawa sebelum si ketiga menanggapi, “Apa yang terjadi jika kita sudi memikirkan lebih dalam?”

“Dia adalah mayat hidup yang terlampau ganteng, andai kata boroknya tidak bertumpuk nanah, atau sekurang-kurangnya di tubuhnya dipenuhi kadas, demi bulan aku rela menjilat ludahku hanya untuk bertopeng akrab dengannya.”

Tawa menggelegar penuh kebahagiaan itu sampai ke telinga Sehun dengan baik, bibir tipisnya yang merah muda pucat membentuk cekungan, seakan dirinya juga turut dalam leburan tawa sinis orang-orang di balik punggungnya tersebut.

Atau sekurang-kurangnya hanya tubuh yang penuh kadas maka dirinya akan menjadi satu di antara tiga mulut yang penuh tumpukan sampah itu, sayang teramat sayang boroknya memang bahkan banjir nanah sana-sini.

Memang begitu disayangkan, sambung batin Sehun tertawa remeh.

Lantas dengan gerakan yang luwes tubuh jakung yang terlihat kurus kering itu bangkit dari sofa ruang tengah, berjalan penuh kepercayadirian sambil menyimpan kedua tangan di balik saku celananya.

Sehun menyetop langkah tepat di depan tiga wanita ayu berpakaian glamor yang sontak keenam biji mata itu terbelalak dramatis, seolah adegan sang anak yang meludahi wajah sang ibunda yang suci baru saja terputar jelas di wajah Sehun, hingga dirinya disambut sedemikian luar biasa. Sehun terkekeh-kekeh di depan ketiga adik ibunya tersebut, menggaruk kepala belakangnya untuk memperoleh kesan polos dan lugu, serta lidah yang dipamerkan sedikit.

Keterdiaman ruang kotak di sana menjadi begitu dingin dengan aura mencekam ketika waktu yang berjalan hanya diisi oleh cengiran imut Sehun di depan para bibinya. Tujuh sekon berselang mungkin lidah Sehun sudah kering, atau tangannya mulai kelelahan menggantung, jadi ia putuskan untuk membuang gambaran lugu khas anak lima tahun itu dengan santai. Yang didapatinya adalah masih keterkejutan ketiga bibinya yang seakan tak berkesudahan.

Demi menyapa sang bibi, Sehun melambai pelan, “Hai, Bibi Mari, Bibi Najung, dan Bibi Gaeul. Apa adegan sang anak yang meludahi wajah ibunya masih belum berhenti terputar di sini?” telunjuknya menuding hidungnya sendiri, lantas tertawa kencang karena tak ada respon yang diterimanya.

“Nenek Inha belum pulang, dan aku juga akan pergi sebentar lagi,” lanjut Sehun seraya melempar senyum sekali lagi, terlihat semakin menakutkan di mata ketiga wanita yang duduk berjajar di sofa ruang tamu itu, dari senyum yang pertama Sehun berikan, “jadi jangan ragu untuk melanjutkan bincang-bincang hangat kalian. Jarang sekali, loh, kalian bisa berkumpul, kan. Sayang sekali ibuku sudah mati terlebih dahulu, ya.”

Tiga bibir berpoles gincu berwarna mencolok itu masih enggan terkatup bahkan ketika Sehun telah enyah dari hadapan dengan tawa-tawa menyeramkan. Dalam keheningan itu untuk mengumpati sang keponakan rasanya masih terlalu menakutkan jadi mereka hanya terpekur mirip orang dungu yang tak tahu tiga adalah hasil tiga ditambah nol.

***

Namanya Oh Sehun, rangkaian kata yang katanya diberikan oleh kakek dari ayahnya yang sebulan lalu menyusul ibunya ke neraka. Katanya pula, ia lahir tengah malam, tepat jam 12 lewat 4 menit, yang kemudian seluruh keluarganya lebih suka menganggap dirinya lahir pada tanggal 12 April, alih-alih tanggal sehari sebelumnya, meski jam hanya lewat empat menit. Angka dua belas lebih cantik, kata ibunya dulu, katanya. Katanya lagi, dia adalah cucu yang diharap-harapkan, namun yang didapatinya adalah ayah dan ibunya yang saling memukul hingga Sehun enggan melihat wajah keduanya.

Terlalu banyak Sehun disuguhi katanya, hingga ia bahkan meragukan bahwa dirinya benar-benar lahir dari rahim seorang manusia. Oleh karena tubuhnya yang selalu penuh borok yang kapanpun siap meletupkan nanah-nanah bau, bak gunung yang memuntahkan lahar, mengapa rasanya akan lebih nyata jika dirinya dilahirkan oleh iblis?

Anak iblis, itu terdengar lebih keren, ya, kan?

“Jadi besok Sehun-a akan mati dan terlahir kembali?” Sehun mengangguk ringan, “hihihi… Sudah mati 22 kali, apa tidak mau mencoba untuk jangan bangun dan lahir lagi, Sehun-a?”

Butuh perjuangan yang tidak mudah setiap harinya bagi Sehun untuk membuka mata setelah semalam nyawanya tak lagi menempel pada raganya, ribuan kali hal itu terjadi dan mustahil jika ia berujar tak kenal lelah. Dua puluh dua itu masih belum dikalikan dengan miliaran juta ribu detik yang ia lewati selama menapak di dunia. Belum lagi pemberontakan yang belakangan ini gencar ia lakukan di sekolahnya, membuatnya dicap sebagai anak bandel. Sehun adalah orang yang paling lelah di dunia ini.

Namun bagi kebanyakan orang, momen ulang tahun adalah sarana pengucapan rasa sukur atas umur, napas, dan kesehatan yang telah diberikan Tuhan sambil tersenyum. Mereka meyakini bahwa hari lahir adalah hari dimana mereka akan selayaknya bayi yang baru dilahirkan, kembali suci dan berhak mendapatkan keberkahan yang lebih dari tahun sebelumnya.

Kembali suci namun borok bernanah ini tak kunjung hilang hahahaa, Sehun tertawa dalam hati, mencemooh garis hidupnya yang ironis. Atau memang benar aku anak iblis makanya tidak bisa disucikan hahahaaa.

“Sehun-a mau kado apa?” Mina bertanya seraya menopang dagu, kedua mata bulatnya berkedip-kedip cepat ketika angin kencang menerpa dan meletakkan debu-debu nakal dalam matanya, membuat Sehun di hadapannya terkekeh.

Sepertinya Sehun menggunakan enam sekon, atau lebih, atau kurang, untuk terdiam sejenak. Memikirkan apa kiranya hadiah yang diinginkannya untuk menjadi kado satu-satunya yang akan ia peroleh di 22 tahun ini.

Tidak ada, akumenginginkan tidak ada.

“Kosong? Sehun-a susah menjawab hihihi.”

Karena memang tidak ada yang diinginkan Sehun saat ini, sedangkan Mina akan tetap memberinya kado meski ia berkata tidak. Jung Mina memang selalu menjadi gadis mungil yang ceria, rambutnya yang ikal menggantung itu selalu dikucir kuda, yang akan selalu bergelantungan ke kiri dan sebaliknya seirama gerakan tubuhnya. Sehun selalu suka memandangi wajah kecil itu berlama-lama, seakan hatinya akan penuh sesak oleh kebahagiaan hanya dengan memandangi wajah yang tak pernah bersedih itu.

Jung Mina, Jung Mina..

Sehun mengulang nama tersebut dalam hati, tak terhitung jumlahnya. Dalam tiap sebutannya terhadap nama itu, ingatan akan pertama kali mereka jumpa akan selalu terputar otomatis dalam benak Sehun. Sosok gadis yang ditemukannya tengah tertawa keras-keras siang itu di depan tubuh kucing yang koyak terlindas ban mobil. Sosok gadis yang selalu dijauhi karena tingkah dan polanya yang menyeramkan, tidak normal, lebih-lebih kikikan tawanya yang terdengar lembut dengan nada rendah, sudah menyerupai tawa setan.

Namun Jung Mina di mata Sehun adalah sosok gadis yang alih-alih melihat nanah di sekujur tubuhnya sebagai tumpukan tahi, justru menyeka boroknya dengan telanjang tangan. Mina berhasil membuatnya merasa diperlakukan secara sewajarnya, bukan anak nakal yang bapaknya adalah seorang penjudi kelas kakap dan ibunya yang suka tidur di sembarang ranjang. Bukan anak dengan borok yang penuh nanah. Seorang gadis yang begitu sempurna, perpaduan kepintaran, keteguhan, dan kejenakaan yang tertimbang pas, umpama nikmatnya kopi dengan satu seperempat sendok yang setiap pagi ia racik sendiri, begitu nyaman di lidahnya, Jung Mina begitu pas di hatinya.

“Teng.. teng.. teng..”

Sehun mengerjap dua kali ketika Mina menciptakan suara tersebut dengan bibirnya yang mungil, dilihatnya gadis itu tengah mengetuk-etuk permukaan jam tangannya yang bundar sembari menghasilkan suara nan menggemaskan tersebut. Sehun diam-diam tersenyum melihat aksi itu.

Ketika Mina mengangkat pandangan pada Sehun yang sudah terlebih dahulu memandangnya, ia mengedip sekali dan tersenyum lebar, “Mina pulang dulu, Sehun-a. Jangan lupa untuk membiarkan pintu tidak terkunci.”

Walau dikunci gadis itu sudah seolah memiliki kunci cadangan sendiri hingga dengan mudah keluar masuk rumahnya, pikir Sehun tersenyum separuh seraya mengangguki salam pamit si gadis yang kemudian berlarian kecil menghampiri limusin yang sudah menepi di pinggir trotoar tepat di depan kafe tempat mereka bercengkrama.

“Papai, Sehun-a…” meski tak mendengar geleyar suara nyaring nan menggemaskan itu namun gerak bibir Mina yang menyembul dari jendela mobil itu dengan mudah Sehun baca, hingga ia balas melambai rendah sebelum limusin itu menghilangkan Mina dari pandangannya.

Sehun minggir dari pandangannya pada jendela di samping kirinya, berpindah pada sepiring salmon segar yang tak terjamah, makanan Mina yang belum tersentuh si gadis. Senyumnya lagi-lagi timbul, tipikal senyum yang akan membangkitkan perasaan was-was bagi pemirsanya.

Jika diingat-ingat Mina memang akan selalu memesan makanan segar dan membiarkannya tetap utuh, setiap kali mereka berdua pergi makan.

***

“Bhaaaah….!!”

Sehun sedikit terlonjak ketika sebuah wajah begitu dekat di penglihatannya. Tidurnya yang tak pernah nyenyak itu jadi terganggu karena suara-suara berisik yang tercipta dari tamu tak diundang itu.

Adalah Mina yang menyungging demi menempatkan wajahnya sejajar dengan wajah Sehun yang tertidur pulas di atas empuknya bantal berbulu angsa. Dia terkikik senang ketika Sehun terkejut dan mendorong dahinya untuk menjauh. Mina bangkit dan duduk bersimpuh menghadap Sehun yang enggan bangun dari terlentangnya, dia terdiam sembari tersenyum lebar memandangi tangan-tangan Sehun yang mengusap kelopak mata.

“Hai, lagi!” Mina berbisik di samping telinga Sehun ketika pria itu sudah bangkit dan duduk menatapnya sayu, tubuhnya mendekat pada si pria untuk mengalungkan tangan di leher Sehun, “selamat mati dan lahir kembali, Sehun-a. Hihihi.”

Usai melerai pelukan tersebut Mina kembali terduduk bersimpuh, menggerak-gerakkan kucir kudanya sambil menanti reaksi Sehun yang sepertinya masih belum sadar betul.

“Sehun-a!”

“Hn? Ya, aku sudah bangun.” Sahut Sehun pelan, enggan memecah hening lebih lebur dari ini, ia suka ketenangan dan kegelapan seperti kamarnya ini.

“Lihat hadiahmu!” Mina berseru gembira, menghidupkan lilin yang telah ia siapkan untuk menerangi selimut Sehun.

Air muka Sehun datar, selimutnya yang putih bersih entah bagaimana sudah berubah pekat. Beberapa sekon Sehun menekuri perubahan warna tersebut sebelum kembali memandang Mina. Si gadis mengangguk-angguk senang, telunjuknya lantas menuding selimut Sehun yang masih menutupi tubuh bagian si pria itu, dengan semangat.

“Lihat! Lihat kemari, Sehun-a! Ini, ini, ini, apa? Hihihi…”

Tak serta merta Sehun menyahut, hanya menunduk menekuri tunjukan Mina. Tiga bibir yang lengkap dengan gincu, enam bola mata, dan tiga jari yang masih dilingkari cincin berlian. Perlahan senyum Sehun terbit.

“Bibi Mari, Bibi Najung, dan Bibi Gaeul. Kkhh.” Sehun terkekeh, menyentuh potongan jari di pangkuannya dengan senyum yang begitu lebar.

Tepuk tangan Mina terdengar lirih dengan pekikannya. Sekali lagi kejutannya berhasil untuk ulang tahun Sehun. Ini sudah yang ketiga, tak sabar ia menanti yang keempat dan seterusnya. Ia merangkak cepat menuju belakang punggung Sehun yang masih menikmati kado darinya itu untuk memeluk si pria dari sana, menitipkan dagunya yang sempit pada pundak kiri Sehun yang tersenyum padanya lewat lirikan tipis.

Berbisik Mina di tengah gelapnya malam di kamar si pria, “Dua tahun sebelumnya adalah ibumu, setahun lalu ayahmu, dan kini tiga bibimu. Kau bersyukur, kan, dengan hidupmu, Sehun-a?”

“Ya.”

“Selamat hari lahir. Hihihii.”

Tamat.

Advertisements

One thought on “[Sehun Birthday Project] Hi! Again”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s