[Sehun Birthday Project] Hesitate

Hesitate

Hesitate

Presented by Yuki Hwang

Starring

EXO’s Sehun as Oh Sehun

OC’s Ryu Na as Im Ryu Na

 

Supported by

EXO’s Chanyeol and Suho

 

Oneshot Length

PG-15 Rated

A AU, romance, fluffy, teenager story

All those connversations are originally created by my bad imagination. Some stories are inspired by my drama i’ve eve rseen. If you find the same story in another fiction, i’m sure that i haven’t read it yet. Casts are belonging totheir God, fans, friends, family, and agency.Ijust own thestory. Except forthe original cast, i created them by myself.

You are a stranger. It makes me hesitate

2016© Yuki Hwang Copyrights

××Happy birthday to uri maknae, Oh Sehun!!!××

*

Sehun berdiri di depan cermin sambil meneliti kembali setiap inchi penampilannya. Hari ini ia akan bertemu dengan Ryu Na. Hari ini Ryu Na berjanji akan memberi jawaban setelah satu minggu yang lalu Sehun menyatakan perasaannya di depan anak-anak seangkatannya. Ryu Na, gadis terpopuler dan Sehun kapten basket sekolah, siapa yang tak mendukung keduanya untuk menjadi pasangan?

Sebelum iameninggalkan kamarnya, Sehun kembali membenarkan rambutnya dan menghela napas panjang. Matanya tertuju pada pupil coklat miliknya. Ia harus optimis Ryu Na akan menerimanya. Pasti.

*

Sedangkan di waktu yang bersamaan Ryu Na tengah menata rambutnya. Mungkin dengan menjepit poni dan membiarkan rambutnya terurai pilihan yang bagus. Semalaman Ryu Na tak bisa tidur karena harus menyiapkan jawaban yang tepat untuk Sehun.

Setelah menanyakan pendapat teman-teman dan Suhosunbaetentunya, Ryu Na sudah mantap menerima Sehun. Apalagi Sehun tidak terlalu buruk untuknya. Ia juga tinggi dan tampan. Tipe idealnya sekali.

Hanya hal yang membuatnya tak yakin dan sekaligus terkejut, mereka belum pernah sama sekali bertegur sapa dan Sehun langsung menyatakan perasaannya.

*

[ flashback on ]

Siswi-siswi mengerumuni lapangan basket ketika pertandingan sengit dimulai. Permainan antara tim Chanyeol dan tim Sehun. Mereka sama-sama pemain terbaik yang dimiliki sekolah. Mereka juga tinggi, tampan, dan populer tentunya. Siapa yang tak mengenal mereka?

Murid-muridmulai menyerukan tim jagoan mereka. Namun, hanya Ryu Na yang melihat pertandingan itu dari jauh. Iamalah sibuk meneruskan novel bacaannya dan tidak terlalu tertarik. Hanya sesekali ia teralihkan perhatiannya ketika salah satu tim berhasil memasukkan bola ke keranjang lawan.

“Ryu Na-yaa,” Ryu Na menengok ke sumber suara. Suho rupanya, kakak kelas mereka.Katanyaiasudah lama dekat dengan Sehun dan Chanyeol. “Kau tidak melihat pertandingan?”

“Ani, sunbaenim,” jawab Ryu Na sambil menutup novelnya.

“Mau ke sana bersama?” tawar Suho. Ryu Na pun berpikir sejenak. Akhirnya iamengiyakan ajakan sunbaenya. Rasanya tidak sopan menolak ajakan dari sunbaeseperti Suho.

Mereka sekarang sudah berdiri di antara anak-anak yang dari tadi meneriakki tim jagoannya. Sekarang Chanyeol tengah mendribble bolanya. Dengan langkah kaki yang panjang dan tubuh tingginya ia bisa menghalau lawan di depannya. Dan satu lagi bola berhasil masuk. Papan skor menunjukkan angka 37 untuk tim Chaneol dan 32 untuk tim Sehun. Chanyeol langsung berhighfive bersama kawan satu timnya. Sedangkan tim lawannya mulai risau, terutama Sehun. Beberapakali ia mendesah.

“Sunbaenim,” panggil Ryu Na.

“Mwoya?” tanya Suho tanpa mengalihkan pandangannya dari pertandingan.

“Kau mendukung Sehun atau Chanyeol?” Suho mengalihkan pandangannya menatap Ryu Na yang memasang wajah penasarannya. Suho mengernyitkan dahinya. Sedetik kemudian Suho mengulas senyum mengembang.

“Mollayo,” Suho kembali fokus kepada pertandingan. Sedangkan Ryu Na tampak kecewa mendengar jawaban dari sunbaenya. “Memang kenapa?”

“Aniyo. Aku hanya mendengar dari anak-anak kau dekat dengan mereka. Kalau seperti ini aku jadi bingung kau mendukung siapa. Hampir setiap mereka memasukkan bola kau bersorak. Apa mungkin kau mendukung keduanya?” Suho terkekeh.

“Mungkin saja jika aku benar-benar tak memiliki pilihan yang pasti,” Suho melipat kedua tangannya di depan dada. “Sebenarnya kita bertiga dekat,” Ryu Na menatap Suho yang tampak menerawang jauh. Ia mulai penasaran.

“Kami bertiga dekat sejak kecil. Namun aku juga tidak tahu pasti apa yang membuat Sehun dan Chanyeol seperti kucing dan anjing. Yang aku tahu kita jarang berkumpul lagi saat aku masuk ke sekolah menengah atas. Aku dengar mereka memperebutkan sesuatu jadi mereka seperti itu,” terang Suho.

“Benarkah sampai seperti itu?” Suho menganggukan kepalanya.

“Aku juga tak habis pikir. Hanya karena sesuatu mereka bisa bermusuhan seperti sekarang,” Ryu Na tampak memikirkan sesuatu. Kemudian pikirannya buyar ketika anak-anak bersorak. Sehun baru saja memasukkan bola ke keranjang lawan. Kedudukan hampir setara. Chanyeol tampak sedikit geram. Sehun menyeringai.

Permainan semakin memanas ketika waktu hampir habis. Kedua tim belum ada lagi yang memasukkan bola. Pendukung tim tak lelah memberikan semangat terbaiknya. Di detik-detik terakhir Sehun berhasil menguasai bola. Ia mendribble bolanya. Sampai akhirnya dia berhadapan langsung dengan Chanyeol. Sehun mematung untuk beberapa saat. Kemudian ia memberanikan mendorong tubuh Chanyeol hingga tersungkur ke tanah.

Prriiiitttt….

Bola masuk ke keranjang bersamaan dengan bunyi peluit yang ditiup wasit. Permainan dimenangkan tim Sehun. Tim Sehun saling berjingkrakan saking senangnya. Sedangkan kawan satu tim Chanyeol membantu Chanyeol berdiri. Mereka memapah tubuh Chanyeol berhadapan dengan Sehun.

“Baik, kau menang sekarang,” suara riuh dari pendukung Sehun mulai mereda. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Atmosfer tegang dirasakan keduanya. “Kau bisa milikki dia sepuasmu,” Chanyeol berjalan dengan dibantu oleh teman setimnya. Sehun menatap punggung Chanyeol. Kemudian matanya tengah mencari-cari seseorang. Dengan langkah yang yakin Sehun berjalan keluar area lapangan. Ia sudah berdiri di hadapan Ryu Na. Semua tatapan tengah mengarah padanya. Sedangkan Ryu Na merasa kebigungan lalu memberi isyarat meminta pertolongan kepada sunbaenya, Suho. Namun Suho malah menjauhi keduanya.

“Jadilah kekasihku,” Rasanya seperti ada sengatan listrik menyengat seluruh tubuhnya. Terutama bagian jantung yang langsung berdetak tak berirama. Sehun masih berdiri di sana menunggu jawaban dari Sehun. Ryu Na menatap lekat netra Sehun. Mencari kebohongan yang coba dijalankan Sehun. Namun, nihil. Sehun sedang berbicara serius. Setelah diam untuk waktu yang lama, Ryu Na membuka suara.

“Nae?” Anak-anak yang mendengarnya sedikit terkejut. “Naega wae?” lanjut Ryu Na yang tentu saja membuat Sehun tersohok mendengarnya.

“Karena,” gumam Sehun. Anak-anak-terutama-murid-perempuan menunggu dengan penasaran. Sejurus kemudian tangan Sehun menarik lengan Ryu Na menjauhi kerumunan orang-orang.

*

[ flashback off ]

“Aku mengamatimu sejak lama,”Ryu Na ingat betul bagaimana Sehun mengatakannya. Setiap kata yang keluar dari bibir Sehun terus terngiang di telinganya. Tentu ini sangat mengusik.

“Aku tunggu di pusat perbelanjaan kota Gangnam,” Ryu Na kembali memasukkan ponselnya setelah mengirim pesan pada Sehun. Ia kembali memantapkan hatinya lagi sebelum benar-benar menerima Sehun.

*

Di lain tempat, Sehun tengah menyusuri jalanan kota. Hari ini cuaca sangat cerah di awal musim panas. Ia tengah melihat gerai-gerai yang terletak di pinggir jalan. Mungkin ia bisa memberikan sesuatu untuk Ryu Na.

Langkahnya terhenti di sebuah toko bergaya vignette-classic. Suara lonceng berbunyiketika ia mendorong pintu. Seorang wanita paruh baya menyambutnyadengan hangat. Kira-kira usianya enam puluhan.

“Ada yang bisa kubantu, anak muda?” sapanya. Sehun menelusuri setiap sudut toko ini. Baru kemudian ia menjawab,

“Apa ada barang yang cocok untuk pasangan?” wanita tersebut tampak mengingat sesuatu. Kemudian ia seperti mendapatkan ingatannya.

“Ada. Kau bisa ikuti aku,” wanita bergaya sedikit nyentrik itu berjalan mendahului yang diekori Sehun. Mereka berhenti di etalase berisi beberapa barang sedikit kuno.

“Kau bisa miliki ini. Namanya kalung amour,” wanita itu menunjukkan sepasang kalung dengan simbol cinta dan berlian kecil di ujungnya bewarna merah muda.” Kalung ini memiliki filosofi, siapapun yang memilikinya akan selalu terjalin hubungan. Entah hubungan saudara, orangtua, sahabat, atau kekasih. Hubungannya akan selalu abadi,” Sehun tahu itu hanya filosofi atau bahkan mitos tetapi dalam hatinya terbesit rasa percaya meski hanya sedikit.

“Oke, aku beli,”

*

Sehun memasukkan kotak kecil berwarna biru safir ke kantung jaketnya. Senyum terus mengembang di wajahnya. Jantungnya pun rasanya tak karuan. Entah mengapa ia sangat nervous bertemu langsung dengan Ryu Na. Ini pertama kalinya mereka akan menghabiskan waktu bersama. Ia tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun hari ini.

“Pemirsa, peristiwa baru saja terjadi,” Sehun mendengar suara reporter yang bersumber dari salah satu televisi yang dipajang di luar toko elektronik.

“Gedung pusat perbelanjaan di kota Gangnam baru saja rubuh siang ini. Kejadian ini menimbulkan setidaknya lebih dari lima ratus jiwa. Kepolisian tengah menyelidiki kasus ini. Disinyalir bangunan rubuh karena kesalahan pada konstruksi…” pikiran Sehun langsung melayang pada gadis yang hendak ia temui. Ia melihat kesekelilingnya. Ia baru menyadari bahw aorang-orang tengah berlarian menuju ke gedung perbelanjaan yang memang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Sehun pun langsung mengambil langkah seribu seperti orang-orang lakukan.

“Aku akan memberi jawaban satu minggu dari sekarang,” perkataan Ryu Na membuat Sehun berlari sekuat tenaga. Ia bahkan menabrak beberapa orang yang lalu lalang. Tanpa mempedulikannya, ia terus berlari. Sampai ia berhenti di ujung jalan, tepat di zebra cross. Beberapa meter dari sini ia bisa melihat kerumunan orang-orang dan petugas yang sedang mengevakuasi korban.

Sehun gelisah. Ryu Na pasti ada di dalam. Dia pasti salah satu korban. Sehun menyebrang tanpa berpikir panjang, membuat beberapa kendaraanharus berhenti mendadak. Ia berlari menuju kerumunan orang-orang itu. Bebrapa petugas medis membawa korban yang bersimbah darah.

“Tuhan, tolong selamatkan Ryu Na,” Ya, setidaknya Sehun hanya bisa berharap.

*

Setelah dua jam mencari, Sehun tak kunjung menemukan Ryu Na. Ia kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat di bangku panjang yang terletak di trotoar jalan. Kemana lagi dia harus mencari Ryu Na? Rasa takut dan khawatir terus mengganggu pikirannya. Sehun memejamkan matanya sejenak. Jika memang dia menjadi salah satu korban, berarti Ryu Na memang tidak ditakdirkan untuknya. Sehun mengeluarkan kotak kecil yang ada di dalam sakunya. Ia bingung apa yang harus ia lakukan dengan kalung tersebut.

Sehun memutuskan meninggalkan kawasan tersebut dan pulang ke rumah. Ia berjalan melalui zebra cross tempatnya memyebrang tadi. Sehun menundukkan kepalanya sambil menunggu lampu merah untuk penyebrang berganti menjadi hijau. Ia mendesah, membuang napasnya kasar. Lalu ia mendongakkan kepalanya.

Dari kejauhan gadis dengan pakaian casual khasnya berdiri dan tersenyum ke arah Sehun. Beberapa kali ia mengerjap, meyakinkan kalau dirinya tidak sedang berhalusinasi. Kemudian gadis itu melambaikan tangannya. Sehun tak percaya.

Im Ryu Na. Dia masih hidup. Lampu merah berganti hijau. Ia langsung melangkahkan kakinya dengan terburu-buru sama dengan pejalan kaki lainnya. Ia bernapas lega. Ternyata ia masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan Ryu Na.

“Kau tampak ketakutan sekali,” ujar Ryu Na yang disusul dengan senyum manisnya. Sehun mendekap Ryu Na erat-erat. Kakinya terasa sangt lemas.

“Kau tidak tahu, Im Ryu Na. Aku hampir saja mati,”

*

Ryu Na menyeruput es lattenya. Kemudian ia menyelipkan rambutnya yang mengganggu ke belakang telinga. Keduanya masih terdiam setelah beberapa menit yang lalu duduk di cafe kota Gangnam.

“Maaf telah membuatmu khawatir,” ada nada penyesalan yang Sehun tangkap. Kemudian ia menatap Ryu Na.

“Aku sedikit terlambat karena harus membantu ibu. Setelah selesai membantu aku dengar pusat perbelanjaan rubuh. Aku pun langsung pergi mencarimu,” Sehun mengulas senyum.

“Gwenchana,” Sehun menggelengkan kepalanya. “Yang penting kita selamat,” Ryu Na mengangguk setuju. Keduanya kembali diam dan canggung. Keduanya tampak sibuk mencari topik pembahasan.

“Aku pikir kau akan langsung menanyakan jawabannya,” Sehun kembali menatap lekat gadis di hadapannya. Kemudian ia teringat tujuan sebenarnya mereka bertemu.

“Kau sudah menyiapkan jawabannya?” kalimat itu terlontar secara spontan dari mulut Sehun membuat Ryu Na tersenyum kecil. Kemudian Sehun menggaruk tungkuknya yang tidak gatal.

“Sehun-aah,” suasana mulai menjadi serius. Sehun pun membenarkan posisi duduknya.” Aku tidak tahu apa alasanmu menyatakan perasaanmu. Aku juga belum pernah mengenalmu sebelumnya. Kita mungkin hanya sekedar tahu dan pernah atau sering lihat. Namun satu hal yang pasti, saat kau menyatakan perasaanmu, aku menerimanya sebagai ha lyang positif,”

“Chankaman,” potong Sehun. Ryu Na mengernyitkan dahinya. “Aku tidak siap mendengarnya,” ujar Sehun yang membuat Ryu Na tertawa geli.

“Ayolah. Ini bukan hal yang terlalu serius,” ucap Ryu Na di tengah tawanya. Sehun teringat dengan kalung yang ia beli tadi. Kemudian ia mengeluarkannya dan menyodorkan kepada Ryu Na.

“Karena aku tidak siap mendengar jawabanmu secara langsung, jawab dengan ini,” Sehun membuka kotak kecil berisi kalung tersebut.” Jika kau menerimaku, maka kenakanlah. Jika kau menolakku, kembalikkan saja padaku,” Ryu Na menyeka air mata tawanya. Ia mulai serius sekarang.

“Sehunbenar-benarserius,”

“Baiklah,”Sehunmenutupmatadantelinganyaseolahtakutsesuatuyangburukakanterjadi.”KausiaptuanOh?”Sehunmenganggukankepalanyadenganmatayangmasihtertutup.

Suasanaheninguntukwaktuyanglama.PikiranyangburukmulaimemenuhiotakSehun.Baik,diaakansangatmalujikaRyuNamenolaknya.

Sebuah tangan terjulur meraih tangan Sehun.Membuat sang pemilik tersadar dan membuka matanya.

“Tuan Oh, bisakah kau bantu aku memakaikan kalung ini?” Sejurus kemudian senyum mengembang terpancar di wajah Sehun. Apa ini artinya dia diterima?

“Apa artinya?” tanya Sehun tak percaya.

“Kau yang menentukannya, Tuan Oh,” Sehun bisa merasakan jantungnya berdentum begitu keras. Desiran darahnya pun terasa. Ia melihat Ryu Na yang tersipu dengan pipi kemerahan. Dia cantik sekali, pikir Sehun.

*

[RyuNaPOV]

Aku tahu. Meski aku sempat ragu untuk menerima Sehun atau menolaknya, aku tahu Sehun tak memiliki niat jahat padaku. Suho sunbae menceritakan banyak hal tentang Sehun.

“Tapi Sehun belum pernah berpacaran dengan siapapun. Dia memang populer di kalangan wanita, tetapi tidak berarti dia dengan mudah menyatakan perasaannya pada wanita. Sehun juga orang yang sangat tulus. Kau beruntung mendapatkannya, Ryu Na,” ujar Suho sunbae.

Ya semoga saja benar. Aku menjadi wanita yang beruntung memiliki kesempatan mengenal Sehun lebih dekat.

FIN

 

Advertisements

One thought on “[Sehun Birthday Project] Hesitate”

  1. jadi sehun dan chanyoel mmperebutkan ryu na ya?
    tp sehun bner” tulus kan ma ryu na,bukan hnya skedar taruhan kan?
    ah seneng nya….akhirnya ryu na nerima sehun jg 🙂

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s