[Sehun Birthday Project] Seeing You (or Not)

1011369_558667757526734_231069570_n

SEEING YOU (OR NOT)

(another special birthday-fic for the April boys ^^)

 

oneshot by hyeonMP

starring EXO’s Oh Sehun, OC’s Reyn | mentioned!EXO’s Zhang Yixing

rated PG-15 | romance, angst, slight!dark and crime

disclaimer | fic ini dibuat due to event Sehun-Luhan Birthday di EXOFFI, meskipun alurnya tidak berhubungan dengan birthday >< /maaf :”/ I only own the plot, please do not plagiarize

.

.

.

“Kamu harus percaya aku”

Karena kamu tidak punya pilihan lain

.

.

.

.

Siluet seorang pria berkemeja merah maroon dengan kerah terbalut dasi senada dapat ditilik dari salah satu jendela rumah minimalis di gang pinggiran kota Seoul. Dengan lengan baju dilipat setengah hingga ke siku, laki-laki bersurai cokelat itu menyamankan posisi duduk di kursi piano. Irisnya melirik kilat ke figur lain di seberang yang tak punya arah pandang jelas, lantas segera menarikan jemari lentiknya ke garis hitam putih alat musik itu—menyadari sedang ditunggu.

Alunan musik khas denting piano menghapus kesunyian di sudut ruangan, pun membuat gadis yang menjadi audien tunggal pertunjukkan kecil itu menoleh ke sumber suara—lantaran tak pernah tahu dimana piano di ruang senyapnya sebenarnya terpampang.

Si gadis mengulum senyum, merasakan damai nan sejuk membalut suasana dingin di sekitarnya. Satu menit, dua menit, hingga akhirnya sampai di menit ketiga—permainan piano pria itu terhenti. Bukan berhenti paksa—tentu, namun berakhir dengan semestinya—ditutup rangkaian nada akhir yang indah.

Puas melihat gadisnya menarik ujung bibir, laki-laki semampai itu berdiri, sesegera mungkin menghampiri insan berparas rupawan dan berteduhkan rambut lurus sepunggung. Diturunkan tubuhnya hingga bertumpu pada satu lutut, si pria berdasi membuat kontak antar telapak dengan gadis itu—membuatnya sedikit terjingkat.

Si pria menatap lembut kedua manik biru gadisnya—dalam dan penuh kasih sayang, meski dirinya sendiri sadar betul akan realita bahwa si gadis tak pernah membalas pandang netra miliknya.

“Sehun?”

Tuju binarnya masih kemana-mana, tak tentu dan penuh kekosongan, gadis itu melontar konversasi pertama. Presensi pria di depannya sudah tertebak mudah hanya dari hembus napas yang ia helakan.

“Apa aku bermain dengan lebih baik, Re?”

Sehun melintaskan ujung ibu jarinya ke permukaan kulit si gadis. Memanggil namanya kilas, dengan pertanyaan yang tak begitu butuh jawaban.

“Kamu tidak pernah berubah, dari dulu sudah sangat indah, Sehun. Berhentilah bertanya sesuatu seperti itu.”

Keduanya pun terkekeh dalam hening. Ruangan itu biasanya penuh beku, tak ada cahaya mentari yang menaikkan temperatur meski celah jendela terbuka lebar. Namun hari ini, tanpa setitik sinar dari pusat tata surya, hanya seorang Sehun di sana dapat membalikkan keadaan begitu saja. Dengan senyum di masing-masing gurat, kedua insan itu sudah merasa hidupnya lengkap. Mari mengabai pada kenyataan yang meraung bahwa perasaan indah itu tak bisa saling ditukar lewat sorot manik.

“Ada kiriman obat, Re?”

Yang ditanya turun intensitas kebahagiaan sekilas. Namun di sela kalimat berikut, Reyn kembali meluluhkan senyum pada raut malaikatnya.

“Ada di meja makan. Nanti saja membuangnya, sekarang duduklah di sampingku.”

Sehun pun menurut, kini membenarkan posisi—duduk bersisian dengan gadis tersayangnya itu. Reyn yang berpemandangan kosong nan gelap pun menolehkan kepala ke arah beban tubuh Sehun terasa menambah berat sofa.

“Aku minta maaf, Re. Tidak bisa lama-lama hari ini. Tapi janji, besok aku akan masak sarapan. Kamu tidak usah pesan roti.”

Belum sempat satu respon terjamah, keduanya diinterupsi klakson mobil yang memekik rungu, seakan memanggil-manggil nama Sehun. Reyn menoleh lagi, kini ke arah berlawanan dimana indera pendengarannya yang tajam menangkap rangsang bunyi audiosonik itu.

Inginnya juga melihat sendiri, apa mobil yang terparkir disana dan siapa yang duduk di depan kemudinya, namun Reyn tahu kemampuannya terbatas. Ia bersyukur tiap malam karena dianugerahi telinga berpendengaran tajam kendati indera penglihatannya tak berfungsi.

“Itu siapa, Sehun? Kamu mau kemana?”

Sehun berdiri, menilik sedikit si sumber suara klakson sebelum menatap gadisnya dalam-dalam. Reyn masih menatap lurus tanpa tuju, membuat Sehun bebas dalam memasang ekspresi.

“Itu Yixing-ge, ada yang harus dikerjakan di studio. Deadline dua hari lagi, mendadak.”

Kuesionnya terjawab lengkap, namun urat keraguan masih terselubung di benar Reyn. “Benar?”

Menahan seluruh aksi jawab dan lontar emosinya, Sehun menarik salah satu ujung bibir. Sebuah seringai penuh arti pun terhias di wajah berpalet pucat itu. “Benar, kok. Kamu harus percaya aku, Re.”

Karena kamu tidak punya pilihan lain.

Reyn mengulum senyum lagi—final. “Baiklah, hati-hati.”

Sehun menarik ujung bibir satunya—menampakkan ulas senyum lagi sebagai tetanda perpisahan dengan gadisnya. Diusap pelan ujung surai Reyn sebelum melangkahkan kaki keluar rumah.

Beberapa detik ditunggu Reyn, hingga suara kecil dari kenop pintu yang ditutup dari luar terdengar. Dua sekon lain dibiarkannya lewat, sebelum akhirnya meminggirkan obsidian—gerik yang disimpannya daritadi. Netra biru laut itu menatap penuh fokus ke dua orang lain di luar—menghapus segala fakta yang tampak sekian menit lalu tentang keterbatasannya.

Tahu dilempari seringai oleh Sehun sekitar lima kali enam puluh detik lampau, kini dibalasnya penuh meski pria itu tak sadar. Bagaimana akan sadar jika atensinya sekarang resmi ditarik gadis lain—berpelukan sebentar di samping mobil yang terparkir di depan rumahnya sebelum beranjak ke tempat lain dimana Reyn tak pernah tahu apa yang terjadi. Ya, jika Sehun berpikir Reyn tak pernah tahu, maka kesalahan terbesar ada padanya. Jika Sehun bisa selingkuh di tempat lain yang tidak dapat dijangkau oleh manusia biasa tanpa indera keenam, mengapa harus menampakkan sisi biadab itu di sini, tepat di depan matanya?

Tertawa pelik, Reyn tahu betul dirinya sangat lebih daripada Sehun. Di mata pria itu Reyn lemah, penuh kekurangan, tapi justru Sehun yang tak pernah melihat kepalsuan hal tersebut. Bukan salah Reyn, benar-benar bukan. Cepat atau lambat, toh, Sehun akan tahu. Tapi sayangnya, Reyn bisa mengambil tindakan tepat waktu.

“Halo, Yixing-ge?

Nah, tahu-tahu sebuah ponsel sudah berada di genggaman Reyn. Memanggil sosok terpercaya lain, Reyn bisa memastikan Sehun akan menyesal telah menyebut nama itu untuk berbohong padanya.

“Aku sudah selesai dengan Sehun. Dia makhluk terkutuk.

Aku tidak ingin ada makhluk terkutuk di sekitarku,

jadi lebih baik dia dihilangkan saja, ya?

Nyawanya bukan sesuatu yang berharga lagi sekarang.”

Merasa kata-katanya sudah cukup, Reyn memutus sambungan telepon itu. Kini ia hanya menunggu waktu berlalu, tak yakin apa yang bisa terjadi di masa depan. Namun yang bisa dipastikannya adalah sarapannya besok bukan masakan Sehun.

-fin

.

.

A/N : >.< >.< waaah akhirnya selesai juga hikseu :” maafkan hyeon bikin ceritanya engga jelas gini, maaf kalau sampai akhir kata masih ga bisa dimengerti alurnya juga :” hyeon lagi engga semangat nulis, tapi ada event di EXOFFI, makanya pengen ikut huhu >< hyeon gatau ini nge feel atau engga, terus ceritanya ketangkep apa engga, tapi ini udah ide terbaik yang muncul di otak hyeon, masalahnya pelangi(?)nya masih usang(?) dan imajinasi hyeon terbatas banget hiks :” makasih banget yang udah baca sampe akhir, dan ini super pendek ya, engga ada 1000 words :3 sekali lagi makasiiiiih buat semuanyaaaa, LUV YA :*

  1. Maaf ini ff-nya engga ada hubungan sama ulang tahun-nya Sehun :”

.

.

Lastly, kindly visit my personal blog^^

https://hyeonmp.wordpress.com/

 

Advertisements

One thought on “[Sehun Birthday Project] Seeing You (or Not)”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s