[Sehun Birthday Project] From Caramel Macchiato to Espresso

From Caramel Macchiato to Espresso

From Caramel Macchiato to Espresso

.

.

A Whitearmor Story

.

.

.

EXO’S Oh Sehun and Kim Jongin

OC’s Jung Hyeri

f(x)’s Krystal Jung

One Shot | AU and Sad Romance | General

“Our first date was sweet like a Caramel Macchiato. But as time went by, those feelings went down like dripping down Espresso.”

Oh Sehun membungkukkan badannya tepat sembilan puluh derajat di hadapan seorang pelanggan. Sudah tak terhitung ia mengucapkan permintaan maaf karena kesalahannya. Beberapa saat yang lalu, ia secara tidak sengaja menumpahkan secangkir Espresso panas ke pakaian pelanggan yang memesannya. Beruntung pelanggan itu tidak mengalami luka bakar karena tersiram minumannya sendiri.

“Maafkan aku, Tuan,” ulang Sehun lagi.

Pelanggan itu mendengus kesal dan menatap Sehun tajam, “Lain kali kau harus lebih berhati-hati! Untung saja aku tidak meminta ganti rugi atas kesalahanmu ini,” balasnya ketus lalu segera keluar dari kafe.

Hyeri yang sedang berada tidak jauh dari sana, mendengar keributan yang terjadi. Ia pun melangkahkan kakinya mendekat. Tidak banyak yang bisa ia lihat karena pelanggan tersebut sudah lebih dahulu pergi. Ia berdiri tepat di samping Oh Sehun yang masih bergeming di tempatnya.

“Ayo ke ruanganku,” ucap Hyeri sedikit berbisik. Ia lantas melangkahkan kakinya ke ruangan pun Oh Sehun. Setelah memastikan pintu dan jendela ruangannya tertutup rapat, Hyeri mulai membuka pembicaraan dengan pria di hadapannya.

“Ada apa denganmu, Oh Sehun?”

Sehun menyandarkan punggungnya pada kursi, ia menatap langit-langit ruang kerja Hyeri tak bersuara. “Kau tidak pernah terlihat seperti ini sebelumnya. Jelaskan padaku.” Suara Hyeri yang menuntut jawaban lagi-lagi terdengar oleh Sehun.

Pria di hadapan Hyeri membuang napasnya asal lantas berdiri dari kursinya. “Aku hanya lelah, Jung Hyeri.” Sehun akhirnya membuka mulutnya, suaranya terdengar parau. Hyeri pun bangkit dari kursinya lalu mendekati Sehun.

“Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya mengganggumu.”

Sehun berbalik, ia tersenyum tipis pada Hyeri kemudian melangkah keluar. Hyeri yang masih tinggal dalam ruangan pun terdiam. Kepalanya terus berpikir mengenai tingkah pola kekasihnya akhir-akhir ini. Jujur saja sepekan belakangan ini, Hyeri sering menerima laporan dari karyawan yang lain serta pelanggan mengenai kinerja Sehun.

Beberapa orang mengatakan ia sangat ceroboh. Koki di bagian dapur mengatakan jika Sehun sudah memecahkan dua piring, lima gelas, dan satu mangkuk besar. Tak hanya itu, ketika ia menyajikan pesanan kepada pelanggan ia pernah menumpahkan minuman karena tersandung tali sepatunya sendiri sampai menyiram pelanggan dengan air karena terpeleset.

Jika Sehun mengatakan lelah, maka Hyeri pun.

Tujuh tahun yang lalu, saat ia dan Sehun masih berada di sekolah menengah atas merupakan awal dari pertemuannya dengan pria bernama Oh Sehun. Keduanya saat itu adalah sosok yang banyak diperebutkan oleh siswa-siswi di sekolahnya.

Bagaimana tidak?

Jung Hyeri adalah gadis yang pandai dalam pelajaran dan mudah bergaul dengan siapa saja. Sikapnya yang ramah dan hangat saat bersosialisasi yang menyebabkan ia dengan mudah masuk ke kalangan manapun. Selain itu, ia juga merupakan sosok yang tegas, disiplin, serta perfeksionis. Itulah yang membuatnya terpilih menjadi ketua klub jurnalistik.

Oh Sehun sendiri adalah sosok pria atletis. Tingginya yang hampir mencapai 1,8 meter membuatnya menjadi kekasih idaman para gadis. Selain itu, ia juga pandai menari namun jangan pernah menyuruhnya menyanyi sebab suaranya akan membuat para pendengarnya sakit telinga. Namun meskipun begitu, gadis yang menyukainya tidak kunjung menyurut.

Awal pertemuan mereka persisnya terjadi saat sekolah mengadakan acara bazzar untuk kegiatan amal yang rutin diadakan. Saat itu kelas Hyeri mengusung tema coffee shop dan kelas Sehun mengusung tema photobooth.

“Oh Sehun! Bagaimana jika kita istirahat dulu?” tawar salah seorang kawannya yang berkulit kecoklatan—Kim Jongin.

Sehun mengangguk lantas segera berlari menghampiri Jongin yang berada di luar area photobooth milik kelas mereka. Mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sambil melihat-lihat tema apa yang diambil oleh kelas lain.

“Aku pikir kelas kita akan menjadi yang paling banyak menyumbangkan uang untuk kegiatan amal,” ujar Jongin percaya diri.

“Kau benar sekali!” balas Sehun sambil tertawa lepas. “Oh, ada apa di sana? Kenapa ramai sekali?!” tanya Sehun tiba-tiba seraya menunjuk sebuah tenda yang dikerumuni lautan manusia.

Keduanya lantas berjalan mendekati kerumunan itu. Mereka nampak kewalahan untuk membelah kerumunan tersebut. Tak jarang beberapa orang yang mereka lewati harus meneriaki mereka karena dituduh menyela antrian. Sehun tidak habis pikir jika ternyata kerumunan ini disebabkan mereka mengantri untuk membeli sesuatu.

“Astaga, ada di mana Kim Jongin?” Sehun melayangkan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri sambil mencari-cari Jongin di tengah kerumunan.

Ketika Sehun tengah mencari, matanya menangkap sosok gadis yang tengah memainkan tangannya untuk melakukan atraksi ala barista yang tengah disaksikan oleh beberapa orang di depannya. Merasa gadis itu adalah penyebab kerumunan tersebut, Sehun yang penasaran berjalan mendekat.

“Aku pesan caramel macchiato satu,” ucap seorang gadis.

“Aku juga!” pekik Oh Sehun refleks, membuat orang-orang di sekitarnya menatap dengan tatapan mengintimidasi.

“Aku tidak melihat pria ini di dalam antrian!” keluh salah seorang pengunjung disusul beberapa gumaman pengunjung lainnya yang ikut menyetujui.

“Dia adalah siswa di sekolah ini dan dia hanya sedang melihat-lihat saja bukan untuk membeli.” Sebuah suara yang tak familiar terdengar. Sehun tercengang ketika mendapati seseorang yang mengeluarkan suara itu jauh di luar dugaannya.

Gadis pemilik suara itu adalah Jung Hyeri. Dari balik meja tempatnya meracik minuman, ia tersenyum samar pada Sehun. Tak lama setelah itu, tatapan kesal dari para pengunjung berangsur mereda, semua aktivitas kembali seperti sedia kala. Sehun bernapas lega, ia pun mendatangi Hyeri yang masih sibuk meracik pesanan.

“Jika kau masih mau caramel macchiato, aku akan membuatkannya saat istirahat,” bisik Hyeri. Sehun mengangguk paham. Ia pun memperhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh Hyeri. Sehun akui jika kemampuan gadis itu benar-benar luar biasa meskipun belum seahli para barista yang selama ini pernah ia lihat. Setidaknya Hyeri mampu membuat orang-orang tersihir untuk membeli dan merasakan sendiri racikan kopi buatannya.

Cukup lama Sehun menunggu sampai tiba waktunya istirahat makan siang untuk mereka. Di saat itu pula, ia akhirnya berhasil menemukan Jongin lengkap dengan seorang gadis yang sepertinya dari sekolah lain tengah mengapit lengan Jongin.

“Astaga! Aku menyesal sudah mengkhawatirkanmu!” umpat Sehun kesal.

Jongin tertawa kecil lalu memukul lengan Sehun asal, “Terima kasih karena sudah mau terpisah dariku. Perkenalkan ini Krsytal, ia baru saja pindah dari Amerika.”

Jongin memperkenalkan gadis di sampingnya dengan senyum merekah. Sehun rasa temannya yang satu ini sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Siapa yang tahu?

“Ini pesananmu,” potong Hyeri sambil mengulurkan segelas caramel macchiato dingin kepada Sehun.

Dengan senang hati, Sehun mengambil segelas caramel macchiato yang ia tunggu. Tanpa menunggu lama, ia segera menyesapnya. Pada tegukan pertama, ia merasa caramel macchiato itu biasa saja namun pada tegukan selanjutnya, ia menyukainya.

Setelah merasakan sensasi berbeda caramel macchiato racikan Jung Hyeri, Sehun mulai merasa tertarik dengan gadis itu. Pada kesempatan-kesempatan yang lain Sehun mulai bergerak perlahan tetapi pasti untuk mendekati Hyeri. Sehun akui untuk memenangkan setidaknya atensi dari gadis itu sangat sulit karena ia dikenal memiliki selera yang tinggi kepada lawan jenis.

Namun bukan Oh Sehun namanya jika tidak berusaha hingga mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia tidak pernah lelah untuk mendapatkan atensi Jung Hyeri dimulai dari hal-hal kecil seperti menyapa setiap bertemu bahkan mengirimi bekal makan siang. Semua usahanya ia rasa bisa memenangkan hati gadis itu.

Pembuktian kerja kerasnya itu terbayar manis ketika upacara kelulusan tiba. Sehun menunggu Hyeri tepat di depan pintu aula sambil menggenggam kancing baju kedua miliknya cemas. “Ini adalah saatnya atau tidak sama sekali,” gumamnya seraya menenangkan diri.

Di antara kerumunan siswa yang baru saja keluar dari ruang aula, kedua manik mata Sehun terus mencari sosok Hyeri. Jantungnya berdegup tidak karuan sebelum akhirnya berhasil menemukan Hyeri. Sehun lantas berlari menghampirinya. Sambil mengatur napasnya, Sehun menggenggam tangan Hyeri untuk membawanya sedikit menjauh dari keramaian.

Hyeri memandang Sehun bingung. Keduanya masih bergeming. Sehun menarik napasnya dalam lalu mengulurkan tangan kanannya yang terkepal pada Hyeri. Ia membuka tangannya perlahan. Hyeri memandang sebuah kancing berwarna keemasan berada di atas telapak tangan putih milik Sehun.

“Kau tahukan jika kancing kedua seragam ini sangat penting?” Sehun memulai prolognya. Hyeri mengangguk, ia paham. Kancing kedua merupakan kancing yang letaknya paling dekat dengan hati sementara seragam adalah sesuatu yang dipakai setiap hari selama tiga tahun bersekolah.

“Jadi, apakah ini artinya—” gumam Hyeri.

“Aku ingin menyerahkan hatiku yang ku ibaratkan dengan kancing ini,” potong Sehun. Tangannya yang gemetar berusaha meraih tangan Hyeri, memberikan kancing baju miliknya ke genggaman gadis itu.

Hyeri tersenyum malu jika kembali mengingat kejadian itu. Kedua pipinya kini pasti sudah bersemu merah. Ia menyentuh kancing baju keemasan yang menjadi liotin pada kalung sederhana buatannya. Pada akhirnya, ia menerima perasaan Sehun. Mereka resmi menjadi sepasang kekasih selepas upacara kelulusan.

Sama halnya yang biasa dilakukan para kekasih, mereka juga menghabiskan waktu akhir pekan bersama-sama. Kadang Hyeri menemani Sehun bermain basket bersama kawan-kawannya atau memotong rambut di tukang cukur langganan pria itu. Sebaliknya, Sehun juga tidak pernah absen mengantar-jemput Hyeri untuk kursus menjadi barista.

Namun entah mengapa semenjak ia memutuskan untuk merintis usaha kafe, hubungannya dengan Sehun semakin merenggang. Hyeri yang menuntut kesempurnaan sedangkan Sehun yang menginginkan kebebasan. Mereka yang dulu seolah dua kutub yang saling tarik-menarik lambat laun malah menjadi dua buah kutub senama yang saling tolak-menolak.

Di sisi lain, Sehun sendiri masih belum bisa hidup tanpa Hyeri. Tujuh tahun bersama bukanlah waktu yang singkat. Sehun mungkin sudah jatuh terlalu dalam pada perasaannya terhadap Hyeri namun perasaan itu pulalah yang justru membunuhnya perlahan. Sehun hanya ingin bebas seperti dulu. Ia lelah dengan semua tuntutan gadis yang dulu ia perjuangkan mati-matian.

Sehun melangkahkan kedua tungkai panjangnya memasuki ruangan Hyeri. Di sana, gadis itu masih berada di belakang meja kerjanya. Jemari mungilnya menggenggam sebuah benda yang tidak asing baginya—kancing kedua seragam milik Sehun. Hyeri yang mendengar suara pintu terbuka lantas menoleh pada sumber suara. Ia melihat Sehun di ambang pintu dan mempersilahkannya masuk. Suasana kecanggungan masih mengitari mereka.

“Aku ingin bicara—” ucap Sehun dan Hyeri bersamaan lalu kembali terdiam.

“Kau saja duluan,” lanjut Sehun.

“Tidak. Kau saja, Oh Sehun,” tolak Hyeri.

Sehun menarik lalu menghembuskan napasnya perlahan, berusaha menacari ketenangan dan keyakinan yang ia tadi dapatkan. Ia ingin berpisah dengan Hyeri dan mendapatkan kebebasannya. Namun hatinya masih ingin bersama dengan gadis perfeksionis itu. Sehun dilanda kebingungan.

“Ayo ikut aku, Hun. Nanti akan ku buatkan kopi,” saran Hyeri. Ia tersenyum pada Sehun dan mengajaknya keluar dari ruangan.

Setiap langkah kakinya, Hyeri merasakan rasa sakit. Entah apa yang mendasarinya namun ia tahu jika Sehun dan ia tidak bisa bersama lagi. Ia tahu semakin lama bersama dengan pria itu justru akan membuatnya bersalah. Hyeri sadar jika ia terlalu banyak menuntut sedangkan Sehun tidak ingin dituntut.

“Kau masih saja handal sama seperti kita pertama kali bertemu,” puji Sehun saat melihat Hyeri meracik secangkir kopi untuknya. Gadis itu tersenyum singkat lalu kembali fokus dengan apa yang ia lakukan. Sehun masih terus mengamati setiap pergerakan kecil darinya.

Espresso?

Hyeri mengangguk ketika Sehun melihat secangkir espresso sudah terhidang di hadapannya. Uap putih masih mengepul dari cangkir kopinya. Ia meniup cairan pekat itu sebelum menyesapnya lamban. Indera perasanya mulai merasakan sensasi rasa pahit yang dominan.

“Bagaimana rasanya?” tanya Hyeri pelan.

“Bukankah itu pertanyaan retoris, Jung Hyeri?” balas Sehun, ia tersenyum. Hyeri hanya membalasnya dengan anggukan kepala.

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Oh Sehun?”

“Sama sepertimu.”

“Apa maksudmu?” Dahi Hyeri mengerut. Ia masih menatap Sehun mencari jawaban pasti.

“Semua yang ingin kau katakan sudah terwakili dengan secangkir espresso ini. Aku… benar, kan?”

Hyeri masih bergeming. Ia mengalihkan pandangannya dari Sehun. Menatap Sehun malah membuatnya semakin merasa bersalah tetapi membayangkan tidak bersama dengan pria itu juga membuatnya sakit. Sehun yang selama ini selalu menjadi pelindung serta membuatnya tetap merasa tenang.

Ketika Hyeri butuh tempat untuk memaki, Sehun ada di sana.

Ketika Hyeri butuh tempat berteriak, Sehun ada di sana.

Ketika Hyeri butuh tempat bersandar, Sehun ada di sana.

Sehun selalu ada untuk Hyeri namun tidak dengan dirinya. Hyeri bahkan menilai dirinya sangat jahat sekarang. Dan berpisah adalah jalan yang terbaik. Meskipun rasanya sakit namun lambat laun semua akan baik-baik saja.

“Sebaiknya kita jalani kehidupan kita masing-masing mulai sekarang,” gumam Hyeri. Ia pun mengembalikan kancing kedua seragam kembali pada pemiliknya. Sehun menatap kancing itu cukup lama lalu bailk memandang Hyeri.

“Jaga dirimu baik-baik, Jung Hyeri.” Sehun bangkit dari kursinya dan berbalik menuju pintu keluar. Hyeri memandang punggungnya yang semakin menjauh. Di saat Sehun menjejakkan kakinya ke luar, air mata Hyeri tumpah.

Tamat.

Advertisements

2 thoughts on “[Sehun Birthday Project] From Caramel Macchiato to Espresso”

  1. yah mereka putus ya, knp gk lgsung nikah aja ya cz kan sayang udh pacarsn selama 7th tp malah kandas gitu aja….
    klau emg masih saling cinta harusnya mreka jg berani mnjalin komitmen dong,,
    sayang bgt deh klau harus putus gt aja 😦

    Like

    1. Terima kasih sebelumnya sudah mau menyempatkan untuk membaca 🙂

      Iyaaa, kadang lamanya suatu hubungan engga menjamin semuanya akan berakhir bahagia. Jadi di sini aku lebih menitikberatkan pada hal itu^^

      Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s