[Sehun Birthday Project] I’m Loving You Today

Cover

[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] I’M LOVING YOU TODAY

Author : Sessil Lee

Recomended song : Baek Ji Young- I’m Loving You Today

Cast :

Oh Sehun

Lee Seul

Genre : Romance

Dia tak pernah tersenyum, dingin, tak bersahabat, dan selalu menyendiri.

Orang-orang menganggap gadis itu angkuh. Wajar memang, karena dia adalah putri pengusaha kaya raya. Selain itu rona wajahnya juga berbeda dari gadis kebanyakan. Mata obsidian tajamnya, beriris kebiruan. Gurat kemerahan di pipi yang putih serta tinggi badannya, idaman para gadis lain. Dia memang proporsional. Tapi ada yang selalu ingin Sehun selidiki, seputar bibirnya yang selalu pucat dan keberadaannya kerap menghilang sebelum bel sekolah.

Sampai detik ini pun gadis itu masih menyimpan misteri.

Sehun baru saja mengumpulkan arsip di kantor tempatnya bekerja sebagai freelance. Meski teknik fotografinya masih amatir, tak disangka beberapa perusahaan mengungkapkan ketertarikan mereka terhadap foto-foto hasil bidikan Sehun. Mungkin untuk beberapa orang yang melihat karyanya selintas akan memandang itu sebuah foto biasa, atau paling tidak mereka hanya berceloteh memuji angel dan keselarasan warna. Tapi untuk yang paham dunia fotografi, mereka pasti mengenal makna dibalik lembaran gambar itu. Bulan ini, dia sedang ingin menggunakan tema half precision. Presisi setengah dengan hasil sempurna.

Sehun sedang duduk di foodcourt kantor, sambil memainkan tombol kamera dia meneguk kopi di cangkir putih. Pagi musim gugur memang agak dingin, membuatnya terpaksa melilitkan syal cokelat yang nyaris tak pernah ia pakai.

Mata kecilnya mengoreksi gambar-gambar di layar kamera.

“Ouch!”

Jeosonghamnida, jeosonghamnida,”

Suara gaduh itu mengalihkan fokusnya. Dua orang perempuan ada di sana. Yang satu sibuk membungkuk-bungkukkan badan, satu lagi bersikap acuh. Sehun melihat siapa yang sedang berjalan setelah tersiram kopi dan seorang perempuan lain yang sibuk membersihkan sisa tumpahannya sambil bergumam jengkel. Jelas saja, kopi itu bukan miliknya dan dia tak sengaja menyenggol tangan perempuan tadi sampai minuman panas itu terjatuh. Tapi si pemilik hanya melenggang pergi tanpa merespon.

Sehun berhenti sebentar.

“Gwaenchanayo?”

Perempuan itu hanya tersenyum. Melihat targetnya semakin jauh, secepat mungkin Sehun segera berlari sampai berhasil mencegah pintu lift yang hampir menutup.

Tatapan tajam itu menembus seluruh tubuhnya, Sehun bergerak rikuh saat menyadari kalau ia terjebak dengan si perempuan stupa.

“Hai?” Sehun mengangkat sebelah tangan. “Kau masih ingat denganku?” Katanya lagi, berusaha mencairkan suasana.

Perempuan itu tak menjawab. Matanya dengan jeli mengawasi angka-angka di layar lift.

“Hey, kita pernah satu sekolah saat SMA, ah! bahkan satu kelas, benar ‘kan? selain itu pernah berada di klub yang sama saat di Universitas. Rasanya mustahil kalau kau sampai lupa padaku.” Sehun meracau.

Perempuan itu hanya mendelik sedetik.

“Ya, meski aku tidak jago dalam hal akademik, tapi reputasiku cukup baik. Aku juga, agak populer, sih.” Lanjut Sehun di tengah rasa gugup.

Tak ada respon. Usai Sehun mengucapkan kalimat itu, tak ada perubahan. Tepat saat lift terbuka, satu-satunya kata yang keluar dari mulut perempuan itu hanya kalimat “permisi” karena posisi tubuh Sehun yang terlalu condong dan menghalangi jalannya.

Sehun tak mau tinggal diam, kali ini dia benar-benar harus memperjuangkannya.

Dia memutuskam untuk ikut keluar, lalu mengikuti langkah gegas perempuan bernama ‘Lee Seul’. Perempuan itu berbelok di ruang depan sana. Menyadari beberapa orang yang saling membungkuk—memberi hormat—Sehun tahu akan satu hal: kalau Lee Seul bukanlah pekerja biasa. Langkahnya berhenti lalu menatapi papan penunjuk ruangan dari jarak 10 meter—tempatnya berdiri. Ruang manajer. Itu berarti Lee Seul adalah atasan Sehun.

***

Ada alasan kenapa gadis itu masih jadi tipe paling atas dari standar perempuan yang Sehun suka: sebab Lee Seul berbeda. Saat SMA dulu, meskipun Sehun termasuk dalam kategori siswa hiperaktif dan suka tebar pesona, tapi dia tak pernah memasukkan gadis imut atau yang gemar merajuk sebagai gadis impiannya. Dia suka Lee Seul dengan cara menatapnya yang menikam, karakternya yang mirip es batu, juga nada bicaranya yang kasar.

Bukan sekali dua kali, tapi dia sering mengganggunya. Meski tak pernah terang-terangan menyatakan perasaan, namun mengingat dia punya modal kepopuleran di sekolah, lalu perempuan mana yang akan menolak saat diajak kencan?

“Hey nona Lee, kudengar kau menempati urutan teratas lagi, ya, di ujian kemarin?”

Sehun duduk di atas meja saat gadis itu sedang merapikan buku, memasukkannya ke dalam tas.

Tak menanggapi, Lee Seul segera beranjak. Sehun tidak tinggal diam, dia menyamakan langkah lee seul di selasar yang sudah sepi. Gadis itu seringkali pulang malam.

“Kau itu kenapa, sih? ada yang salah ya dengan dirimu? kau harus lebih santai sedikit, usiamu masih sangat muda, rasanya tidak perlu menganggap segala hal jadi serius.”

Langkahnya berhenti, kepalanya reflek menoleh ke arah Sehun, membuat pria itu agak berjengit, “Karena aku masih muda maka aku harus serius, kalau tidak siapa yang akan menjamin masa depanku?”

Mendengar kalimatnya praktis membuat Sehun mundur. Tapi bukan Berarti dia menyerah.

Selama ini dia memang tak pernah mempermasalahkan nilai. Sehun tidak pintar dan juga tidak bodoh.

Dia ingat saat hari kelulusan, dengan optimisme yang tinggi, Sehun memberikan kancing almamater pada Lee Seul—mengingat tradisi unik di Jepang. Mungkin karena tak tahu atau sengaja, justru Lee Seul malah membuangnya. Bukan tersinggung Sehun justru semakin tertantang.

Sehun semakin gencar, menggoda gadis itu dengan berbagai cara yang berkelas sampai akhirnya dia bisa memasuki universitas bergengsi yang sama dengan Lee Seul. Dia hanya ingin membuktikan kalau tak semua hal yang ada dihidupnya, dia anggap sebagai main-main saja. Tapi menganggap hal sepele jadi serius—seperti yang dilakukan Lee Seul—itulah yang masalah. Dengan tekad kuat Sehun ingin mengubah Lee Seul. Dia jadi lebih aktif mengikuti pergerakannya, mulai dari memilih kelas sampai komunitas yang sama. Sehun tergila-gila dan itu sangat terlihat bagi siapapun yang peka. Sayangnya tidak dengan Lee Seul. Gadis itu bahkan pernah menganggapnya sebagai benalu di komunitas pelajar kampus.

“Kau itu tidak punya otak atau apa?” sergahnya saat Sehun sengaja membuat kesalahan, alasannya cuma satu: membuat gadis itu berbicara.

“Sudah terlanjur, sekalipun diluruskan juga rasanya mustahil.” Sehun masa bodo, membuang kertas itu ke dalam tong sampah.

Sebenarnya Sehun hanya penasaran bagaimana cara gadis ini meluapkan emosi. Mengingat sikapnya yang tak bersahabat, bukan tidak mungkin luapan emosinya justru paling menyeramkan.

“Sudahlah, aku juga malas berurusan denganmu,” akhirnya dia pergi. Lee Seul hanya memarahinya sebatas itu padahal Sehun melakukan hal fatal dengan membuat klub pelajar kampus mereka terancam bubar. Sebagai ketua, Lee Seul justru urung untuk mengeluarkan Sehun—salah satu yang Sehun harapkan. Karena kalau kata itu sampai terucap, Sehun berjanji tak akan lagi mengganggunya. Hanya saja karena Lee Seul tak sampai hati memarahi, Sehun jadi semakin menguatkan posisi untuk bertahan.

Mungkinkah Lee Seul mulai menaruh simpati?

***

Ada alasan kenapa Lee Seul masih setia menggunakan transportasi massal.

Dia selalu memilih tempat duduk di dekat kaca, menatapi gerak semu bangunan di jalanan Seoul, lampu-lampu malam, atau malah menatapi bayangan dirinya sendiri yang memantul di kaca hitam dengan latar gelapnya malam. Wajahnya yang tak pernah segar, bahkan dia merasa makin pucat saja. Kalau tidak mengalasinya dengan make-up, pasti beberapa orang akan berkomentar menanyakan kondisi tubuhnya. Tak ada yang tahu. Lee Seul memang menyembunyikan semua itu rapat-rapat.

Ada alasan kenapa ia jadi perempuan antisosial. Ada alasan akan semua sikap dingin yang selalu ia tunjukkan pada siapapun. Ada alasan juga kenapa ia masuk dalam kategori orang paling jarang tersenyum atau bersenda gurau. Semua itu bukan pribadinya, tapi karena menderita penyakit langka membuat karakter baru yang melekat dalam diri Lee Seul. Ada alasan juga kenapa dia selalu menganggap pria itu tidak ada, sebab jantungnya akan berdenyut cepat dan mau tak mau Lee Seul akan diketahui sebagai pribadi yang lemah.

Bis berhenti. Lee Seul masih tenggelam dalam lamunannya melalui media kaca yang juga memantulkan bayangan beberapa orang di dalam bis. Saat pintu bis menutup, seseorang mengisi bangku di sebelah Lee Seul. Tapi perempuan itu terlalu sibuk dengan rentetan monolognya sendiri, dia bahkan tak menyadari kalau seseorang yang duduk di sana adalah pria yang beberapa detik lalu terlintas dalam ingatannya.

Sehun—dengan kamera yang menggantung di leher—menatap wajah lesu gadis itu sebentar dari pantulan di kaca. Lagi-lagi Lee Seul tidak sadar. Sebenarnya bukan cuma kali itu saja, tapi hampir setiap hari Sehun jadi penjaga maya Lee Seul. Menunggu di halte pagi hari sampai mengantarnya pulang secara diam-diam. Urusannya jadi tambah rumit saat Sehun turun di tempat asing dan dia harus mencari taksi untuk mengantarnya kembali ke kantor—karena kendaraannya tertinggal di sana.

Deg!

Jantungnya nyaris melompat saat tahu kepala Lee Seul terkulai di bahunya. Sehun bergerak-gerak kecil tak ingin mengusik ketentraman perempuan itu, dia hanya memastikan kalau posisi tubuhnya bisa membuat Lee Seul nyaman. Saat kepala Lee Seul bergerak-gerak menggelikan, Sehun menahan napas sedetik. Gelenyar aneh mengepung dirinya yang kaku. Boleh jadi dia memang sering tak diketahui mengikuti gadis itu, namun ini adalah kali pertama Sehun merasakan kerasnya kepala Lee Seul. Dia melirik sebentar, merasakan wangi amber menguar dari rambut cokelat halus yang menimpa wajah tirus Lee Seul. Melihatnya membuat Sehun gemas sendiri, ingin menyingkirkan helai demi helai, karena mungkin saja dia bisa puas memandangi Lee Seul dari jarak sedekat ini. Dengan posisi yang membuat dia tersenyum-senyum sendiri.

Bis kembali berhenti sementara tubuh Lee Seul masih belum bergeming.

Beberapa orang sudah bersiap melangkah. Setelah mereka keluar kini hanya tersisa dirinya dan Lee Seul.

“Ini sudah pemberhentian terakhir, memangnya kalian mau terus naik sampai mana?” sang kondektur menegaskan.

Sehun terlonjak. Pemberhentian terakhir? Itu berarti jauh sekali untuk kembali ke kantornya. Tanpa sadar dia bergerak, membuat pundaknya naik dan seketika itu juga Lee Seul terbangun. Seketika peremuan itu membatu saat sadar kalau yang pertama kali ditatap mata merah itu adalah sosok Sehun.

“K—kau?” alisnya mengerut.

Sehun nyengir. “Aku tidak tega membangunkanmu, kau sudah melewati halte tempat tinggalmu.”

Praktis wajah Lee Seul menoleh ke arah kaca, memerhatikan kondisi di luar yang sepi. Dia bangkit. Tanpa memandang Sehun, tubuhnya mendesak pria itu agar membuat jalan untuk dirinya keluar. Sebisa mungkin Lee Seul berusaha menghindar. Saat terbangun tadi tubuhnya seperti terbakar. Kenyataan kalau Sehun bahkan tak lebih dari satu jengkal di dekatnya membuat Lee Seul cemas setengah mati. Pasalnya, degup jantung Seul jadi tak karuan dan kini dia bisa merasakan efek itu menjalari seluruh tubuh.

Dia menghindari berlari, tapi bagaimanapun caranya Lee Seul lebih berusaha untuk menghindari Sehun. Sakit. Rasa itu kian menggerogoti sampai membuatnya kesulitan bernapas. Kepalanya pusing, seketika itu juga pandangannya kabur dan seluruh tubuhnya kebas. Lee Seul merasakan dirinya tak berdaya dan ambruk.

“Seul~ah! Seul~ah!” suara Sehun mengisi kekosongan.

***

“Sinkop vasovagal? Bukankah itu penyakit langka?”

“Ya, ini memang sangat langka, tapi bukan berarti tidak ada yang mengidapnya, kan?” dokter berjas putih itu menganalisis hasil diagnose, “semuanya serba melemah, mungkin setelah ini dia tak boleh lagi terlalu lelah. Karena akibatnya bisa fatal.”

Sehun lemas.

Dia pernah membaca tentang penyakit aneh itu sekali, tapi tak terbersit kalau pengidapnya adalah seseorang yang berada di sekitarnya. Setelah melihat kancing menggelinding dari saku baju Lee Seul, detik ini Sehun bisa menyimpulkan apa alasan gadis itu selalu menghindar dan berpura-pura tak mengenalnya. Karena Lee Seul mencegah jantungnya berdetak dengan tempo cepat. Sehun tak pernah tahu kalau resiko dia yang selalu berada di sekitar Lee Seul akan sefatal ini.

Dia pernah melihat Lee Seul tak sadarkan diri, saat lomba estafet di sekolah dulu. Lee Seul tak sengaja mengahantam kepala Sehun dengan tongkat estafet lalu Sehun pura-pura pingsan, tapi justru dia sudah pingsan lebih dulu. Jadi, apakah itu bukti kekhawatirannya terhadap Sehun?

Mengingatnya membuat Sehun tersenyum sendiri.

“Seul~ah, sudah lama ‘kan sejak kau pingsan terakhir kali? kau bilang sudah bisa mengontrol emosimu, mengurangi aktifitas fisik, dan mencegah jatuh hati pada siapapun, lalu kenapa bisa begini lagi?”

Sehun melihat percakapan Seul dengan teman perempuannya lewat kaca pintu.

“Kau sangat mencemaskanku, ya?”

“Siapa yang tidak akan cemas saat aku tahu apa kelemahanmu!”

Pertama kalinya, Sehun lihat senyum itu menghiasi wajah lembut Lee Seul. Tak sengaja pandangan mereka bertemu. Sejenak mereka berbagi momen beku, lalu tanpa mengulur waktu dia segera memutar kenop pintu dan masuk ke dalam sana.

“Terimakasih,” ucap Seul dengan nada lemah.

Sehun tersenyum. “Aku yang seharusnya berterima kasih.” Tangannya bergerak, merogoh saku celana dan mengeluarkan sesuatu di sana. Kancing almamaternya dulu diserahkan pada Seul.

Gadis itu agak terkejut.

“Ehm.. sepertinya aku harus keluar dulu,” teman Seul memotong dengan dehaman sarat arti. Dia lalu melangkah keluar, membiarkan waktu membungkus momen kebersamaan mereka berdua.

Sehun duduk di ujung brankar, “maaf, karena aku sudah membebanimu. Menanggung perasaan ini pasti sangat sulit, bukan?”

Seul menunduk. Air matanya bergulir, membasahi selimut di tubuhnya.

“Lebih sulit lagi kalau aku sampai membuang perasaan ini jauh-jauh.”

Sehun menelusuri tangan lembut Lee Seul, lalu menggenggamnya seolah tak akan pernah melepaskannya.

“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya? kalau aku tahu, kita pasti akan mengatasinya bersama-sama tanpa kau harus menderita sendirian seperti ini.”

“Aku hanya ingin berusaha membuatmu membenciku, bukan mengasihaniku.”

Tangan itu semakin dierat. Kali ini Sehun mengangkat wajah Seul yang tertunduk.

“Aku menyayangimu, sangat. Jadi aku akan selalu berusaha membuatmu merasa nyaman, bukan mengasihanimu.”

Sehun memandangi wajah mungil Seul yang masih belum mau menatapnya. Dia mendaratkan kecupan singkat di dahi gadis itu, membuat Seul setengah membatu.

“Jadi, apa sekarang kau sudah bisa mengontrol degup jantungmu?”

Mendengar gurauan Sehun, Seul meninju kecil dada pejalnya.

Tiba-tiba saja lelaki itu menyingkap selimut yang mengurung tubuh Seul, lalu mengangkatnya ke kursi roda di pojok ruangan.

“Kau mau menculikku?”

“Ya, aku akan menculikmu.”

Sehun memosisikan tubuh Seul, mengambil selimut lalu menyampirkannya di tubuh bawah perempuan itu. Dia mulai mendorong, lalu berjalan keluar melewati selasar rumah sakit sampai akhirnya menunggu di depan lift. Seul pasrah kemana pun pria itu akan membawanya. Selama itu bersama Sehun, dia juga pasrah akan hal buruk yang mungkin saja terjadi.

“Kau tahu, ini seperti mimpi bagiku,” ungkap Seul sambil menggenggam tangan Sehun di dorongan kursi roda.

Sehun membuat tubuhnya agak merunduk lalu berbisik di samping Seul. “Kau tahu, ini lebih mirip fatamorgana bagiku. Lee Seul yang selama ini terkenal akan karakternya yang mirip stupa, ternyata hanya seorang gadis biasa.”

Seul terkekeh.

“Omong-omong, apa jantungmu baik-baik saja?”

Seul mengangguk. “Tidak seburuk yang kubayangkan sebelumnya.”

“Seharusnya kau mencobanya dulu, sebelum menyerah di awal. Kau kan tidak tahu jawabannya sebelum menjalani prosesnya.”

“Ya, seharusnya aku tidak pernah menghindarimu dan membuat diriku kelelahan sendiri.”

 

Lift berhenti.

Tempat itu menghadap pintu kaca yang kemudian Sehun buka. Angin berembus cukup kencang. Dia membuka jaketnya untuk disampirkan di tubuh Lee Seul.

“Janjiku adalah selalu membuatmu merasa nyaman,” katanya tepat di depan wajah Seul.

Sehun kembali berdiri lalu mendorong kursi roda itu lebih jauh lagi. Di rooftop mereka dapat melihat gedung-gedung berbaris, dan kilauan lampu yang mengisi sungai Cheonggyeocheon.

“Aku ingin menanyakanmu sesuatu?”

“Hmh?”

“Kenapa kau tidak pernah tersenyum?”

Seul mengembuskan napas sejenak. “Karena bagi orang sakit sepertiku, setiap hari dunia terasa gelap.”

Hening. Sehun seolah merasakan derita Lee Seul, sampai menyentak batinnya.

Tangan perempuan itu lalu bergerak, mengusap tangan Sehun yang masih belum melepas dari dorongan kursi roda. “Hanya melihatmu, seolah aku memiliki cahaya.”

Sehun tersenyum, lalu bergerak memutar langkah sampai tiba di depan Lee Seul. Dia berlutut di sana, di depan seorang perempuan dengan dua linang air matanya.

“Kau tahu kalimat apa yang paling kusukai?” Sehun menguji.

Lee Seul menggeleng singkat.

“Aku mencintaimu hari ini.”

Senyum Lee Seul seketika merekah.

“Hanya hari ini?”

Sehun menarik napas. “Karena kata ‘besok’ hanya berlaku untuk sekarang, tapi kata ‘hari ini’ berlaku sampai kapanpun.”

Lee Seul menggenggam tangan Sehun. Lelaki itu mengecup bibirnya singkat lalu kembali berbalik. Mereka menatapi sungai Cheonggyeochon dengan riaknya yang tenang dari atas sana.

~END~

Advertisements

One thought on “[Sehun Birthday Project] I’m Loving You Today”

  1. sehun sweet bgt…
    dia tdak prnh mnyerah untuk mmperjuangkan cintanya.
    tp aq masih bngung dgn pnyakit yg di derita lee seul, apa pnyakitnya itu brhubungan dgn jantung?
    knp dia tdak boleh marah, tdak boleh lelah dan tdak boleh mmbiarkan jntungnya brdetak cepat?
    apa ini ada kaitannya dgn pnyakit jantung nya?
    dia mnghindari sehun krna tdak mau jntungnya bkerja cepat,sbab dia sbnernya jg menyukai sehun dari dlu..

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s