[Sehun Birthday Project] Love T(rain)

love t(rain)

Love T(rain)

Tittle                           : Love T(rain)

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Oh Sehun
  • Ryu Jung In (OC)

Other Cast                :

  • Kim Jong In / Kai
  • Lee Hyojin (OC)

Genre                        : Romance

Rating                        : T

Length                       : Oneshot

Diclaimer                  : ff asli buatan otak author terinspirasi dari imajinasi author dan pengalaman saat menunggu kereta lewat, Sehun serta Jong In milik Tuhan, orangtuanya, sementara OC milik Author.

~Happy Reading~

Sehun mengeluarkan ponsel ketika ia merasakan benda persegi itu terus bergetar di sakunya. Terpampang foto seorang gadis yang tengah cemberut ketika ia melihat layar ponsel. Sehun tersenyum sekilas sebelum menjawab panggilan tersebut.

“Aku masih ada di stasiun, belum satu hari kau sudah rindu pada kami ya?”

Jong In datang menghampirinya dengan dua gelas kopi yang masih hangat. Ia sodorkan segelas kopi untuk Sehun.

“Siapa? Hyojin?” tanya Jong In setelah menyeruput sedikit kopi miliknya.

Sehun mengangguk dan kembali berbicara di telepon. “Iya, pastikan kau memesan makanan untuk kami-” belum ia menyelesaikan kalimatnya, Jong In keburu menyambar ponsel Sehun dan berbicara pada Hyojin.

“Heh gadis berisik!, pokoknya kau tunggu kami dengan tenang dan jangan sampai lupa memesan ayam panggang untukku!”

Sehun kembali tersenyum, ia yakin jika mereka sudah sampai di Seoul nanti akan terjadi perkelahian kecil antara Jong In dan Hyojin. Ia tak heran, mereka sudah berteman sejak di sekolah menengah pertama sampai sekarang berkuliah di universitas bergengsi di Seoul. Pertengkaran Hyojin dan Jong In tak lain hanyalah bahan candaan karena kedua orang itu sedang bosan atau merindukan satu sama lain.

“Hey Jong In!, keretanya sudah datang!” seru Sehun ketika mendengar pengumuman melalui speaker.

Sehun segera beranjak menuju peron dan di ikuti oleh Jong In yang masih sibuk berdebat dengan Hyojin melalui telepon. Seperti orang yang taat aturan lainnya, Sehun dan Jong In berdiri di belakang garis kuning, menanti kereta yang akan membawa mereka kembali ke Seoul setelah hampir delapan jam berada di Daegu untuk menemui nenek Jong In yang sedang sakit.

Daegu adalah kampung halaman Sehun, jadi ia bersedia menemani Jong In sekaligus berkeliling kota sekedar mengingat masa kecilnya. Alasan mereka tak mengajak Hyojin karena gadis itu tak menyukai nenek Jong In. Bukan benci atau semacamnya, ia hanya tak suka karena dirinya terus di sangka pria oleh wanita berusia hampir sembilan puluh tahun itu. padahal berulang kali Hyojin menjelaskan kalau dia adalah wanita, namun nenek Jong In sama sekali tak peduli atas pengakuannya.

Sementara Jong In sibuk menelpon, Sehun terus menatap kereta yang datang. Ia sedang berharap. Memohon kepada Tuhan agar setidaknya ia di beri kesempatan sekali lagi agar secara kebetulan ia bisa bertemu -atau setidaknya melihat- gadis itu. Walau sebentar, setidaknya ia ingin mengetahui namanya daripada terus-terusan menyebutnya dengan panggilan ‘gadis itu’.

“Wah, sudah lama juga ya kau tidak ke Daegu untuk melakukan kebiasaan konyol itu!”

Ternyata Jong In sudah selesai ‘berdiskusi’ dengan Hyojin, ponselnya pun sudah berada di saku jaket Sehun tanpa pria itu sadari. Rupanya Sehun terlalu lama melamun hingga tak sadar dia dan Jong In sudah berada di dalam kereta. Keduanya segera duduk. Segaja mereka memilih duduk berhadapan karena keduanya suka melihat pemandangan melalui jendela. Yah, meskipun tak banyak pemandangan bagus yang bisa di lihat, setidaknya mereka terhibur dengan melihat keluar jendela.

“Dulu kau suka sekali naik kereta, melakukan perjalanan dari Seoul ke Daegu dan sebaliknya. Padahal kau tak punya saudara lagi di Daegu setelah pindah ke Seoul. Beruntung aku dan Hyojin mengikutimu jadi kami tahu hal bodoh apa yang Oh Sehun lakukan sampai bolak-balik pergi ke kampung halamannya.”

Sehun terkekeh pelan, “Ya, dan aku sangat terkejut saat Hyojin memukul pria tak di kenal sampai harus di bawa pergi oleh petugas stasiun.” Katanya sambil mengingat masa lalu.

“Dan kau masih menunggu gadis itu?”

“Hyojin maksudmu?”

Jong In berdecak sebal, tak menyangka Sehun akan pura-pura tak paham meskipun pria itu tahu betul siapa gadis yang Jong In maksud.

“Gadis itu!, bukannya Lee Hyojin!” seru Jong In, tak sadar bahwa suaranya sudah mengganggu orang-orang di kereta.

“Kecilkan suaramu!” Sehun memeringatkan, “Kau bisa membuat kita di lempar keluar karena berisik!”

Jong In menghela nafas, “Jawab saja. Kau masih berharap melihat gadis tak jelas itu lagi kan?” tanyanya sambil bersedekap.

“Hey, jangan menyebutnya gadis tak jelas!. Aku yakin ia adalah wanita baik-baik.”

“Kau bahkan belum pernah bicara dengannya.” Sindir Jong In dan hal itu sanggup membuat Sehun terdiam. Sekali lagi Jong In menghela nafas, “Dengar, aku tidak paham bagaimana caramu jatuh cinta. Gadis yang kau sendiri tak tahu siapa namanya, alamat rumahnya, sifatnya, keluarganya… jatuh cinta hanya karena brepapasan di kereta? Cinta pada pandangan pertama?. Benar-benar tidak masuk akal!”

“Aku juga tidak mengerti.” Lirih Sehun dengan lemah. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi seraya melihat keluar jendela. Menatap apapun yang bisa ia tatap dan tidak ingin membahas mengenai gadis itu bersama Jong In lagi. Setidaknya untuk saat ini.

***

Ternyata hujan mengguyur kota Seoul saat Sehun dan Jong In turun dari kereta. Sehun harus rela mendengar gerutuan Jong In mengenai mereka yang tak membawa payung dan harus menunggu di depan stasiun sampai taksi yang mereka pesan datang. Sehun tak acuh, menurutnya hujan adalah waktu yang tepat untuk menenangkan diri, dimana tetesan hujan terdengar merdu walau kadang suhu yang dingin membuat Sehun tak nyaman.

“Ah sial!, udaranya dingin sekali.” Jong In menggosokkan kedua tangannya, “Sehun-ah!, aku mau beli kopi. Kau ikut atau diam membeku disini?”

“Tetap disini.”

Jong In mengangguk paham, “Sesuai harapanku. Telepon aku kalau taksinya sudah datang, mengerti?” katanya dengan sedikit mengancam. Ia takut karena Sehun bisa saja melakukan hal kejam seperti meninggalkannya misal.

“Iya, iya, sudah kau pergi sana!”

Jong In pergi dan tinggal Sehun seorang yang menunggu di depan stasiun. Malam semakin larut namun hujan tak kunjung reda. Taksi yang ia pesan juga tak kunjung datang. Karena bosan, ia memutuskan untuk pergi menyusul Jong In. Pria itu mengirim pesan pada Sehun bahwa ia berada di café tak jauh dari stasiun. Memang tak jauh, tapi hujan yang semakin deras sepertinya mampu untuk membuat tubuhnya basah.

Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya Sehun putuskan untuk nekat menembus derasnya air yang turun. Anehnya, ia tak merasa basah kuyup padahal jelas-jelas ia berjalan tanpa perlindungan payung.

“Eoh?”

Ia agak terkejut ketika sebuah payung hitam sudah bersedia menghalau air hujan agar tak mengenai dirinya. Sehun segera menoleh lantas terbelalak melihat siapa orang yang telah berbaik hati memayunginya. Mulutnya terbuka, namun tak bisa mengeluarkan suara apapun.

“Kenapa berhenti?, saya bisa mengantarkan anda sampai ke sebrang.”

Sehun bergeming, ia tak bisa mencerna perkataan gadis di depannya karena terlalu terkejut. Ia ingin berterima kasih pada Tuhan. Bahkan jika ia bisa, pria itu ingin sekali bersujud sambil menyerukan kebahagiaan karena Tuhan telah berbaik hati padanya. Setelah sekian lama menunggu, setelah sekian lama berlaku konyol dimana sahabatnya pun menertawainya karena jatuh cinta pada gadis misterius yang hanya bisa ia lihat sekilas melalui kereta. Dia tidak menyesal, sedikit saja tidak.

“Anda tidak apa-apa?” gadis itu bertanya, sekedar memastikan bahwa Sehun tidak gila atau terkena serangan jantung hingga terdiam seperti patung.

“Jung In-ah! Sedang apa kau disana?”

Gadis itu menoleh, ia memberi tanda pada teman-temannya bahwa ia akan segera menyusul mereka. Setelah itu ia kembali pada Sehun yang masih diam sambil terus menatapnya.

“Kalau anda berniat diam disini, saya akan pergi.”

Gadis itu berbalik tapi Sehun dengan cepat menahannya.

“Siapa namamu?”

“Apa aku tidak salah dengar?, kau bicara dengan banmal?!”

Tanpa melepas tautan tangan mereka, Sehun kembali bertanya.

“Siapa namamu?”

“Maaf, tapi kenapa kau harus tahu?”

Sehun agaknya kesal dengan sifat keras kepala gadis itu, perangai yang baru ia ketahui karena ini kali pertama dia bisa berbicara pada gadis itu bahkan mendengar suaranya.

Tapi ia dengan sabar kembali bertanya, “Boleh aku tahu namamu?”

“Jung In, Ryu Jung In. kau puas?, sekarang lepaskan aku!”

Sehun melepaskan tangannya seraya tersenyum lebar. Sementara gadis itu mendengus sebal akan kelakuan Sehun yang dia anggap tak sopan apalagi ia tidak mengenal Sehun sebelumnya.

“Kau memang tidak mengenalku, tapi percayalah… aku sering sekali melihatmu.”

Gadis bernama Jung In itu menaikkan sebelah alisnya.

“Banyak yang ingin aku tanyakan padamu. Dimana kau tinggal?, kenapa setiap aku pergi ke Daegu aku selalu melihatmu?, apa kau tinggal di Daegu? Atau Seoul?, kenapa saat ini aku tidak bisa berhenti menatapmu?”

“Tuan, anda terlalu banyak bertanya.” Kata Jung In sambil menyeringai, nampaknya ia kesal sekali dengan sikap Sehun.

“Apakah aku… jatuh cinta padamu?”

Pertanyaan terakhir Sehun membuat Jung In terdiam. Sedangkan Sehun malah semakin mendekatkan wajahnya pada Jung In. semakin dekat dan semakin dekat, hingga Jung In dapat merasakan desah nafas Sehun yang hangat menerpa pipinya. Tapi gadis itu segera tersadar. Ia mendorong dada Sehun dengan satu tangannya, dimana dorongan itu cukup keras untuk membuat Sehun jatuh ke aspal.

“Orang aneh!” pekik gadis itu lantas beranjak pergi meninggalkan Sehun.

“Aku pasti akan bertemu lagi denganmu!” teriak Sehun, “Dan jika itu terjadi maka kau tidak boleh menghindar!” lanjutnya meski gadis itu tak menoleh sedikit pun.

Sehun bisa melihat Jung In menggelengkan kepala tak karuan. Mungkin gadis itu berfikir Sehun adalah pria gila yang aneh, entahlah, Sehun hanya terlalu bahagia sehingga begitulah cara dia untuk mengekspresikan perasaannya. Ia membiarkan Jung In pergi, bukan karena terlalu bodoh dengan melepas gadis yang sudah dia cari sejak lama. Dia hanya percaya pada takdir. Jika mereka bertemu lagi, maka Sehun tak segan untuk melamar gadis itu di pertemuan kedua mereka. Dan ia yakin akan hal itu, bahwa mereka akan kembali bertemu.

“Oh Sehun!, sedang apa kau duduk disini?. Kau buta dan tidak bisa merasakan hujan ya?!”

Jong In yang baru datang menarik Sehun agar segera bangun. Bukannya bangkit, Sehun malah tidur telentang dan tertawa seperti orang bodoh.

“Kim Jong In!, kau apakan sahabat baikku sampai gila seperti ini eoh?!”

Hyojin yang datang bersama Jong In malah menyalahkan pria bermarga Kim itu. Hyojin menendang kaki kiri Jong In dengan keras membuat pria itu berteriak kesakitan.

“Sakit!, kenapa kau malah memukulku?!”

Jong In balas memukul kepala Hyojin. Gadis itu tak terima. Ia lantas menutup payungnya dan menggunakan benda itu untuk balas memukul punggung Jong In tanpa ampun.

“Aaarggh sakit!, hentikan!”

“Dasar sialan!, dasar sialan!, KIM JONG IN SIALAN!”

Kedua orang itu terus berkelahi tanpa menghiraukan hujan yang sama sekali belum reda. Sehun sendiri yang sudah basah kuyup masih santai berbaring dan menatap langit yang mendung walau pandangannya terhalang oleh air hujan. Entah kenapa langit gelap yang cukup menyeramkan untuk manusia normal itu tampak sangat indah bagi Oh Sehun. Teriakan dan umpatan teman-temannya, hujan yang tak kunjung reda, pakaian yang basah, kegilaannya karena berbaring di tengah jalanan, semuanya ia tak acuhkan. Sehun terlalu sibuk mengurusi kebahagiannya saat ini.

Bahkan senyuman Jung In dari sebrang jalan pun ia tak sempat mengetahuinya.

~THE END~

Advertisements

One thought on “[Sehun Birthday Project] Love T(rain)”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s