[Sehun Birthday Project] Meilleur Père (Best Father)

Meilleur Pere

Meilleur Père (Best Father)

Author : Lulu Kim

Cast : Sehun (EXO), Kim Yoomi (OC), Oh Aeri (OC)

Genre : Family

Length : Oneshot

Rate : T

Disclaimer : This fanfiction is MINE! Don’t Bash and Don’t Copas!

 

.

.

_Lulu Kim Story Line_

.

.

_Meilleur Père (Best Father)_

.

..

Saat menikah, Oh Sehun masih terlalu muda. Saat menikah, Oh Sehun tidak tahu bagaimana sosok wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya. Saat menikah, Oh Sehun tidak tahu apapun selain berdiri di depan altar dan mengatakan iya pada pertanyaan yang diajukan oleh pendeta. Pernikahan ini adalah hasil dari perjodohan. Hasil dari jalinan bisnis yang harus diperkuat oleh ikatan para penerusnya. Sehun tidak tahu mengapa hal seperti ini harus terjadi, namun ia tahu satu hal … hidupnya akan segera berubah.

“Sehun-ssi.”

Itu panggilan dari Yoomi, wanita yang terjebak bersama Sehun dalam ikatan -yang seharusnya- suci dan penuh cinta ini.

“Ya?”

“Apa yang harus kukenakan malam ini? Ibumu dan ibuku memberi hadiah yang sama,” ujar Yoomi malu-malu sembari menunjukan dua pasang piyama yang terlihat tidak berbeda dalam pandangan Sehun. Ya, setidaknya kedua piyama itu sama-sama memiliki bahan yang sedikit dan tipis. Tipe-tipe baju yang sesuai untuk menggoda pria. Dan Sehun tentu paham itu.

“Pilihlah mana yang kau suka,” putus Sehun pada akhirnya. Menimbulkan gurat kecewa pada wajah Yoomi. Oh ayolah, jawaban seperti itu sama sekali tidak membantunya. Tapi saat Sehun menambahkan, “toh malam ini kau tidak membutuhkan kain apapun,” membuat gurat sedih itu berubah menjadi semburat malu yang terlihat samar di kedua pipi Yoomi. Kamar bernuansa peach itu memang sengaja dikondisikan remang-remang, namun Sehun punya penglihatan setajam mata elang untuk melihat setiap tingkah malu-tapi-mau yang ditunjukan Yoomi beserta segala kecanggungannya. Yang entah mengapa, membuat Sehun tersenyum.

            “Kemarilah … istriku.”

Dan malam itu, menjadi malam yang tidak akan pernah Sehun lupakan. Malam dimana pertama kali dalam dua puluh satu tahun eksistensinya, ia menemukan arti cinta dalam rengkuhan gadis yang bahkan baru ia kenal. Ia tidak tahu mengapa, tapi Sehun mensyukuri pernikahannya ini.

“Sehun-ssi, aku hamil.”

Lima minggu kemudian, Sehun mendengar kabar itu. Hatinya seakan meletup-letup bahagia, namun entah mengapa, wajah datar itu tidak menampilkan ekspresi yang berarti. Tetap datar-datar saja, seperti biasanya. Mungkin karena dari lahir memang begitulah tampilan wajah Sehun. Atau mungkin ia memang tidak terlalu terkejut. Entahlah mana yang benar.

“Itu kabar bagus.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Yoomi tidak paham, apakah suaminya itu benar-benar senang?

“Sehun-ssi, maukah kau-“

“Maaf Yoomi-ya, ada rapat yang harus kuhadiri saat ini juga. Aku akan menelfon ibu dan memberi tahunya tentang hal ini. Ibu pasti senang.”

Sehun mengambil jasnya yang tersampir di lengan sofa lalu segera beranjak pergi. Meninggalkan Yoomi yang tanpa sadar meneteskan air mata saat ia mengusap perut datarnya.

“Ya, Ibu pasti senang. Tapi kenapa kau tidak, Sehun?”

~oOo~

“Sehun, untuk sementara waktu ini, biarkan Yoomi tinggal bersama Ibu.”

Tiga bulan pertama dari masa kehamilan Yoomi. Seharusnya, ia meminta ini-itu pada Sehun. Pria itu sudah mempersiapkan diri untuk bangun tengah malam seandainya Yoomi meminta hal-hal aneh di jam-jam yang aneh pula. Sehun sudah mencari tahu tempat-tempat yang menjual mangga muda, kimchi, bakso ikan dan berbagai jenis makanan yang biasanya diinginkan oleh ibu-ibu yang tengah hamil muda. Tapi sayangnya, persiapannya itu sia-sia saja karena dalam tiga bulan ini, Yoomi tidak pernah meminta apapun pada Sehun selain mengambilkan minum atau mengusap perut wanita itu ketika ia merasa mual.

Dan sekarang, ia harus membiarkan Yoomi tinggal di tempat lain? Bagaimana Sehun bisa?

“Yoomi sedang hamil, Bu. Biarkan aku saja yang menjaganya.”

“Tapi ini keinginan Yoomi.”

“Oh, baiklah. Untuk hari ini saja, ok?”

Untuk hari ini saja? Sepertinya tidak begitu. Yoomi tidak ingin kembali pada Sehun bahkan hingga dua bulan kemudian. Membuat Sehun selalu terjaga di tengah malam dengan pandangan rindu pada ruang kosong di ranjang mereka. Entah mengapa, selalu ada butir memalukan yang berhasil lolos dari iris Sehun saat menyadari, ia tidak bisa melakukan apapun untuk istrinya yang tengah hamil. Itu melukai harga diri seorang Oh Sehun, sekaligus melukai perasaannya sebagai seorang calon ayah.

“Baby yang ingin.”

Itu alasan Yoomi yang membuat Sehun tidak berdaya saat ia membujuk wanita itu untuk kembali dalam perlindungannya.

“Kalau begitu biarkan aku tinggal di sini juga.”

“Tidak boleh. Baby tidak mengijinkan.”

Sehun menghela nafas pasrah. Tidak ada gunanya memaksa, jadi dia kembali pulang malam itu tanpa hasil seperti sebelum-sebelumnya. Ia merindukan Yoomi. Merindukan setiap pelukan hangat yang mereka bagi di atas ranjang yang sama. Merindukan tingkah malu dan ragu saat Yoomi tiba-tiba memeluk Sehun di pagi hari. Ia merindukan kehadiran wanita itu di dalam rumah mereka. Ini gila, tapi akhirnya Sehun memilih cara lain untuk membawa pulang Yoomi.

Di tengah malam yang dingin dengan rintik-rintik hujan itu, Sehun membawa Yoomi yang terlelap. Menculik istrinya dari rumah ibu mertua tanpa sepengetahuan siapapun. Namun Sehun segera menyesali tidakannya ini ketika Yoomi terbangun di rumah mereka dan tidak bisa tidur lagi hingga hampir pagi. Sehun juga baru menyadarinya ketika ia tidak sengaja mendapati Yoomi terisak di depan layar televisi yang menyala.

“Baby sayang, Eomma mohon, jangan seperti ini. Appamu bisa sedih jika tahu kau tidak mau dekat-dekat dengannya.”

Itu ucapan Yoomi disela-sela isak. Membuat Sehun tidak tega dan menghampiri Yoomi dengan segumpal penyesalannya.

“Maafkan aku, tidak seharusnya aku memaksa seperti ini.”

Yoomi terkejut. Tidak menyangka suaminya itu bangun karena isakan yang sudah ia usahakan sereda mungkin. Dan lebih tidak menyangka lagi ketika pebisnis muda itu berlutut dihadapannya dengan tangan yang terulur untuk mengusap perut Yoomi penuh sayang. Menghantarkan rasa hangat di sekitar tempat bayi mereka tumbuh. Yang entah mengapa, membawa perasaan lain pada hati Yoomi

“Apakah Baby tidak pernah merindukan Appa?”

Pertayaan itu … entah mengapa membuat hati Yoomi mencelos. Ia tidak bermaksud membuat Sehun merasa tidak berarti. Semua ini terjadi begitu saja. Bukan keinginannya untuk meminta menjauh.

“Sehun-”

“Jangan menangis lagi. Aku akan siapkan mobil dan kita akan kembali ke rumah ibu sekarang juga.”

Sehun sudah meraih tengkuk dan lutut Yoomi. Bersiap untuk menggendong waniata itu, namun urung ketika Yoomi justru menahan lengan Sehun dan menggeleng kecil.

“Apakah Baby juga tidak suka digendong?”

“Tidak, bukan begitu.”

“Baiklah, aku tidak akan menggendong. Tapi kau-“

“Sehun.”

“Ya?”

“Baby kita sepertinya berubah fikiran,” cicit Yoomi. Kepalanya mendadak tertunduk dan Sehun menyadari ada semburat merah di kedua pipi Yoomi. “Dia ingin tidur dengan Appanya.”

“Benarkah?”

“Uhum,” Yoomi mengangguk malu-malu, “tapi, ada satu syarat.”

“Apa itu? Pasti akan kupenuhi.”

“Baby ingin diusap lagi seperti tadi.”

Sehun mengedip beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum begitu lebar. Entah kenapa, ada letupan bahagia yang memenuhi relung harinya sama seperti ketika ia mendengar kabar bahwa ia akan menjadi ayah lima bulan yang lalu. Bedanya, ia tersenyum kali ini dan menciumi wajah Yoomi beberapa kali sebagai bonusnya.

Untuk pertama kali dalam hidup seorang Oh Sehun, ia bahagia dan bangga dalam waktu yang bersamaan. Setelah hari itu, ia selalu menyempatkan waktunya untuk mengusap perut buncit Yoomi. Sesekali ia mengajak bayi mereka mengobrolkan hal-hal ringan dan mencium wanitanya sebagai bonus dan ungkapan terima kasih.

“Baby suka diperhatikan Appa,” kata Yoomi hampir di setiap pagi seakan mengingatkan Sehun akan rutinitasnya menyapa bayi mereka yang masih dalam kandungan itu. Dan Sehun selalu tersenyum. Ia senang bisa begitu berarti dalam masa kehamilan istrinya.

“Selamat, anak anda perempuan.”

            Lalu ketika hari yang dinanti tiba, Sehun tidak bisa berhenti mencium wajah Yoomi dan mengucapkan beribu terima kasih meskipun wanita itu tidak bisa merasakannya karena terlelap pasca melahirkan. Dia pasti lelah. Sehun ingat bagaimana Yoomi menarik rambutnya dan menggigit lengan Sehun sebagai pelampiasan atas rasa sakit yang ia rasakan. Sehun tentu saja tidak keberatan. Ia senang Yoomi membagi rasa sakitnya dan membuat Sehun semakin memahami posisinya sebagai seorang suami sekaligus ayah.

            “Dokter! Pasien mengalami pendarahan!”

            Dan waktu seakan berlalu begitu menyakitkan. Sehun tidak tahu bagaimana persisnya. Semua terjadi begitu cepat. Ia diusir keluar dari ruang bersalin dengan bayi yang sudah bersih dalam gendongannya. Hampir dua jam ia menunggu dan ketika dokter wanita yang membantu persalinan Yoomi keluar, jantung Sehun berdetak begitu keras. Peluhnya bercucuran dan fikirannya kacau karena bayi mereka mendadak menangis.

            “Maaf Tuan Oh, kami sudah berusaha semampu kami.”

            “Apa maksudmu? Istriku baik-baik saja kan?”

            Dokter wanita itu menggeleng. Ada setetes air di sudut matanya yang membuat jantung Sehun seakan luruh hingga ke ujung-ujung kaki. Tanpa sadar, ia menangis begitu memalukan seiring dengan rengekan bayi mereka.

            “Pukul 09.12. Itu waktu terakhir dia menghembuskan nafas terakhirnya.”

            Ini terlalu cepat. Bagaimana ia bisa hidup tanpa Yoomi? Bagaimana anak mereka bisa tumbuh tanpa ibu? Sehun merasa hancur, tapi rengakan di dalam dekapannya membawa kembali seluruh kendali. Sehun harus kuat. Setidaknya, sebagai seorang ayah, ia harus kuat. Dan demi anak mereka yang masih lemah, Sehun harus kuat.

~oOo~

            “Appa, bisa tolong ikatkan rambut Aeri?”

            “Appa sibuk, Aeri.”

            Oh Aeri. Balita perempuan berparas manis itu tumbuh dengan baik bersama Sehun. Usianya baru empat tahun dan ia hanya bisa mengenal sosok seorang ayah dalam kehidupan nyatanya. Sedangkan sosok ibu ia dapatkan dari cerita sang nenek dan sedikit tambahan dari ayahnya. Meski begitu, Oh Aeri belum pernah mengeluh tentang keadannya yang tanpa ibu. Ayahnya sudah lebih dari cukup. Ia tegas, tetapi juga hangat dan perhatian. Hanya kadang-kadang saja menyebalkan. Well, seperti saat ini contohnya. Saat rambut panjang terasa mengganggu dan Aeri bahkan belum bisa mengikatnya sendiri.

            “Baiklah, Appa. Aeri akan minta pada bibi Park saja.”

            Bibi Park adalah tetangga mereka yang memiliki seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Ia sudah seperti ibu kedua bagi Sehun yang selalu bersedia membantu Sehun menjaga Aeri. Dan Park Chan Yeol adalah anak Bibi Park. Dia suka sekali menarik ikatan rambut Aeri. Terkadang ia juga mengajak balita perempuan itu memanjat pohon. Sehun selalu berhasil dibuat jantungan mendadak karena terlalu khawatir. Ia harus benar-benar mengawasi Aeri saat gadis kecilnya itu bermain dengan Song Chan Yeol.

            “Tunggu, Aeri.”

            “Ya, Appa?”

            “Kemarilah, biar Appa yang ikat rambutmu.”

            “Benarkah?”

            Mata gadis kecil itu berbinar senang lalu segera menghampiri Sehun dan duduk di atas pangkuannya. Meskipun sedikit susah karena Sehun duduk di balik meja kerjanya.

            “Hari ini, kau di rumah saja. Jangan bermain dengan Chan Yeol.”

            “Kenapa?”

            “Tidak apa-apa. Appa hanya ingin kau di rumah dan menemani Appa. Bisa kan?”

            “Baiklah, Appa.”

            Sehun tersenyum. Ia sudah selesai dengan rambut Aeri dan ia meraih jemari mungil putrinya. Mengecek apakah kuku Aeri sudah panjang.

            “Tunggu di sini sebentar. Appa akan ambil pemotong kuku,” ujar Sehun sembari mengangkat Aeri dan mendudukannya di meja kerja. Tepat saat itulah, pigura duduk di meja jatuh. Tentu saja, Sehun buru-buru mengambilnya.

            “Apa itu foto Eomma?”

            Sehun tersenyum. Ia usap foto itu lalu menunjukannya pada Aeri. Terlihat seorang wanita dengan perut buncit yang dipeluk seorang pria dari belakang.

            “Ini foto keluarga kita, Aeri. Ini Eomma, Appa dan Aeri.”

            “Aeri tidak lihat ada foto Aeri.”

            Sehun terkekeh pelan. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala putrinya dengan sayang, “tentu saja. Kan Aeri masih di dalam perut Eomma.”

            “Aeri dulu di perut Eomma ya?”

            “Iya, sayang. Selama sembilan bulan.”

            “Apakah itu lama?”

            “Tidak. Itu sebentar. Sangaaaat sebentar.”

            Suara Sehun mengecil di kata terakhirnya. Aeri menyadari itu. Tangannya terulur ke pipi Sehun. Pria itu sedang menunduk dan Aeri masih duduk di atas meja kerja Sehun yang tinggi. Jadi tangannya bisa sampai dengan mudah.

            “Tapi sekarang Aeri sudah keluar. Dan Aeri akan menemani Appa sangaaaaaaat lama.”

            Sehun tersenyum kecil. Cara Aeri bermanja-manja pada Sehun hampir sama dengan Yoomi. Polos dengan binar cantik di kedua irisnya.

            “Benarkah?”

            “Ya. Janji!”

            “Janji!”

Sehun mengaitkan kelingkingnya pada kelingkin mungil Aeri. Namun sedetik kemudian, pria itu memekik pelan dan menepuk jidatnya. “Oh astaga! Appa ada rapat penting hari ini.”

            Sehun mungkin tidak sadar, ucapannya itu berhasil membuat Aeri melunturkan senyum. Baru beberapa menit yang lalu Sehun meminta Aeri tinggal di rumah dan sekarang Appanya itu akan pergi? Hei, itu tidak adil. Aeri menggembungkan pipi sebagai bentuk protes awalnya.

            “Eumm, apa Aeri mau ikut?” tanya Sehun hati-hati yang langsung mendapat gelengan dari putri tunggalnya itu.

            “Tidak. Aeri tidak mau disuruh menunggu di kantor Appa yang membosankan itu seperti minggu lalu.”

            “Kalau begitu, Appa antar kau ke rumah Bibi Park ya?”

            “Katanya tadi tidak boleh main dengan Chan Yeol Oppa.”

            Oh, sial. Sehun diam sejenak sebelum menghela nafas dan meraih ponselnya di saku. Sedangkan Aeri sudah bersiap untuk menangis. Ayahnya itu pasti akan menelfon nenek dan Aeri tidak suka itu karena nenek selalu lebih punya banyak larangan.

            “Sekretaris Kim, tolong handel rapat kali ini. Aku tidak akan pergi ke kantor.”

            Tapi sepertinya, dugaan Aeri salah. Sehun tersenyum padanya lalu menggendong tubuh mungil Aeri dengan lengan kokohnya.

            “Aeri mau ice cream?” tanya Sehun dan Aeri mengangguk semangat.

            “Ya!”

            “Baiklah kita beli bersama.”

“Chan Yeol Oppa juga suka ice cream loh, Appa.”

“Kalau begitu, kita beli juga untuknya.”

            “Eummm … apakah Eomma juga suka ice cream?”

            “Entahlah, Appa tidak tahu. Eommamu jarang meminta sesuatu pada Appa.”

            “Kalau begitu, kita belikan juga untuk Eomma ya, Appa?”

            Sehun terkekeh pelan lalu mencium pipi berisi Aeri. Pipinya mirip dengan Yoomi dan itu membuat Sehun senang menciumi putri kecilnya.

            “Sepertinya, Eommamu lebih suka bunga. Ah, dan dia juga juga saat kita mengunjunginya.”

            “Kalau begitu, kita membeli bunga dan pergi ketempat Eomma dulu saja ya, Appa?”

            Dan kali ini Aeri yang mencium pipi Sehun sembari memeluk leher ayahnya itu dengan erat. Seharusnya, Yoomi melihat hal ini. Melihat bagaimana anak mereka begitu bahagia dekat dengan ayahnya. Melihat bagaimana Sehun menjadi sosok ayah terbaik bagi anak mereka. Yah, seharusnya.

_FIN_

Advertisements

3 thoughts on “[Sehun Birthday Project] Meilleur Père (Best Father)”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s