[Sehun Birthday Project] Tak Perlu Terima Kasih untuk Cinta

PhotoGrid_1461209959035-1

“TAK PERLU TERIMA KASIH UNTUK CINTA”

Cast : Oh Sehun, Ai Mei (OC), Xiao Lu (OC), Kim Jongin, etc.

Genre : Fluff, Hurt/Comfort, Romance

Lenght : Oneshot

Rated : T

Disclaimer : Story belong to me. Cast belong to God.

Author : ren171

Enjoy it, guys! ^^

~

“Cinta?!”

“Tak perlu terima kasih untuk Cinta,

karena Cinta adalah ketulusan..”

~

“CINTA?!”

“BULLSHIT!! BAGIKU CINTA ADALAH BENCI!!!”

*****

“Besok aku ke China,”

“Kau gila Hun?!”

“….”

“Halo? Oh Sehun???”

“Iya, aku memang sudah gila sahabatku, Kim Jongin..”

Tut..tut..tuttt..

Oh Sehun, salah satu mahasiswa Universitas Seoul. Namja tampan berkulit putih dan tinggi menyandang gelar pangeran kampus. Hampir seluruh gadis memujanya, tetapi ia hanya merasakan jantungnya berdegup kencang saat bertemu “Yeoja” itu.

*****

“AI MEIIII!!”

“Xiao Lu!! Kau selalu mengagetkanku!!!”

“Maaf..hehe..sedang melamunkan pangeran misterius lagi?”

“Aaa..ehm….” celetuk sahabatnya berhasil membuat Ai Mei mati kutu.

“Oh! Lihat penggemarmu datang!”

“Hai Mei, pagi? Aku membawakanmu sarapan,”

“Arrrgghhh jangan lagi!!!” gerutu Ai Mei.

“Buat aku ya,” Xiao Lu menyerobot makanan di depan Ai Mei.

Seperti biasa. Masih pagi, Mei sudah harus meladeni para pemujanya yang tiada henti merecoki. Surat cinta, boneka, coklat, bunga, dll selalu memenuhi loker dan laci mejanya. Dia tak perduli!

“Permisi..??”

Terdengar suara di belakangnya.

“Siapa lagi ini? Mereka selalu mengesalkan!” batin Mei.

“Permisi..??”

“Apa?! Jangan mengikutiku!!!” Mei berbalik sambil berteriak.

“Astaga! Siapa dia? Mati aku!!” batinnya kemudian.

“Eunggg..mengikuti..? Haha! Oiya, dimana ruang Rektor?” ujar pemuda itu lagi sambil tersenyum menawan.

Tunggu..wajah dan bahasanya..Korea???

“Oh! Disana!” setelah berhasil menatap dari atas ke bawah dan sebaliknya, Mei menunjukkan ruangannya.

“Terima kasih…ehm…Ai Mei. Akhirnya…senang berkenalan denganmu.”

“Bagaimana kau tahu namaku?”

“Hehe..tertulis di nametagmu,” pemuda itu menahan tawa.

“Bodoh kau Mei! Sudah jelas masih tanya!” batin Mei sambil memejamkan mata meratapi kebodohannya.

Srettt~ Mei memutuskan pergi secepat kilat.

“Akhirnya aku menemukanmu, Ai Mei,” batin pemuda itu.

*****

Ai Mei bersama Xiao Lu makan siang di kantin. Tapi ia hanya melamun mengingat kembali sosok pemuda yang ia temui tadi.

“Dia mungkin orang Korea yang fasih berbahasa China,” batinnya.

“Permisi???”

Sial!!! Ada yang merusak lamunannya!

“Kau?!?!”

“Bolehkah aku duduk disini??”

“…..”

“Baiklah. Aku kira disini kosong.”

“Siapa yang…”

“Wah, sepertinya kita bisa berkomunikasi dengan baik. Aku Oh Sehun dari Korea. Kita berdua sama. Bisa berbahasa Korea dan China. Bisakah kita menjadi teman sampai aku kembali ke Korea?”

“Siapa yang menyuruhmu duduk?”

“Aaaa..mianhee. Aku suka cara bicara Koreamu,”

Heolll~

Ai Mei pergi. Entah darimana asal pemuda cerewet dan tidak nyambung itu, dia tak perduli.

Ai Mei, tak ingin jatuh cinta…lagi. Dia mengubur semua pemikiran bahwa Cinta adalah Kebahagiaan. Sekarang baginya Cinta adalah Benci.

*****

“Hei, Mei!!”

Syuttt~

“Aaaahhhhh..!!”

Bugh~

Sungguh Mei mengutuk genangan air yang membuatnya terpeleset. Tetapi…kenapa tidak merasakan sakit??

Deg~

“Tampannya…senyumannya..tidak, tidak! Mei sadarlah!!!” batin Mei berkecambuk.

“Apa kau menyukai pose kita seperti ini? Aku tidak keberatan..”

Mei celingak – celinguk. Astaga!! Sekarang mereka dalam posisi memeluk seperti dansa??

“Apa kau bilang?!”

“Tak perlu terima kasih untuk Cinta!!”

“Lepas Sehun!!!”

Sehun? Rupanya Mei tidak terjatuh karena ditangkapnya.

“Kau cantik saat marah…,” ujar Sehun memasang wajah merona sambil menggigit bibir bawahnya.

“Kau gila!! Jangan ikuti aku lagi!!”

“Aku memang gila Mei, karenamu!! Tak perlu terima kasih untuk Cinta!!”

Cukup untuk hari ini merecokinya. Sudah seminggu ini Sehun terus saja mengganggunya, mengikutinya kesana kemari, memberinya perhatian dan mengawasinya, walau sang gadis tak pernah memberinya senyuman barang sedikit saja.

*****

“Mei, percayalah! Aku belajar bahasa China untukmu. Aku sengaja mengikuti pertukaran pelajar kemari untuk bisa menemuimu. Aku menghabiskan waktu setahun untuk mencarimu,”

“HAHA, YA Sehun! Berhenti mengatakan hal aneh!”

“Aku menyukaimu Ai mei, aku jatuh cinta padamu,”

“BODOH! Berapa kali harus kubilang aku benci CINTA!!”

Srettt~

“Beraninya kau…”

“Bagiku, Cinta adalah memberi dengan tulus. Aku tidak keberatan membuat pengakuan Cinta setiap hari,”

“Lepaskan aku..!” Mei meronta – ronta ingin lepas dari pelukan Sehun, namun gagal. Sehun semakin mempererat pelukannya.

Entah kenapa kini bulir air menggenangi mata Mei. Sebuah peristiwa pahit masa lalunya teringat kembali.

Flashback On

“Jangan tinggalkan aku Xiumin-ah, kumohon!!!”

“Berhenti mengganggu hidupku Ai Mei!!!”

Brukkk~

Ai Mei tersungkur ke tanah. Dia tak perduli rasa sakit itu karena kenyataan yang diberikan Xiumin, pacar 3 tahunnya jauh lebih menyakitkan. Entah berapa kali air matanya terkuras habis. Xiumin menduakan dan memanfaatkannya. Dia memang pandai bersandiwara menutupi semua kebusukannya di depan Mei.

Xiumin membeberkan semuanya, memutuskan Mei di depan umum, di acara perpisahan sekolah. Mei yang sudah sangat mencintainya, memutuskan menyusul Xiumin yang meneruskan kuliah ke Korea. Mei rela belajar bahasa Korea. Namun naas, Xiumin membuatnya malu kedua kalinya. Sungguh saat itu Mei tak punya semangat hidup. Ia tak percaya cinta pertamanya yang bahagia seperti gayung bersambut, hanyalah ilusi air di padang pasir. Tak pernah ada. Bullshit!! Sejak saat itu, dia menganggap Cinta adalah Benci.

Flashback Off

“Aku tahu kau takut jatuh cinta lagi. Tapi…ingatlah, kuberikan seluruh hati dan jiwaku ini tulus hanya untukmu, aku akan menunggu,” Sehun mengelus lembut surai rambut Mei.

“Hiks..hiks..hiksss..” Mei tak sanggup lagi menahan air matanya. Sungguh kenangan itu menyakitinya. Tanpa sadar ia membenamkan wajahnya pada dada bidang Sehun dan memeluknya. Tersungging senyum dari wajah tampan Sehun, sungguh baginya saat ini ia ingin menghentikan waktu.

“Jangan menangis, aku disini untukmu..” Sehun mengecup puncak kepala Mei.

*****

“Terima kasih sudah mengantarku pulang,”

“Tak perlu terima kasih untuk Cinta,” Sehun mengusak rambut Mei.

“Pulanglah,”

“Sampai besok juga, kita akan bertemu lagi, daaaa..” Sehun melambai – lambaikan tangannya ketika Mei berbalik menatapnya dalam diam.

“Memang aku bilang apa? Dasar cowok aneh!” batin Mei, yang kemudian mengukir sedikit senyum. Apa kata Bulan malam ini?? Seorang Ai Mei tersenyum setelah sekian lama.

*****

“Untukmu,”

“Apa???”

“Bubble tea. Kesukaanku, hehe..” Sehun menyodorkan segelas bubble tea setelah mereka lelah berolahraga bersama.

Setelah kejadian malam itu, mereka menjadi akrab. Karena Sehun bahagia bersama dengannya. Sehun tanpa henti berusaha menaklukkan hati Mei yang mengunci hatinya dengan gembok China. Untuk membuktikan perkataan Sehun sebenarnya Mei mulai membuka hatinya.

“Ya!! Ini berat! Lihatlah, tanganku akan patah, aahhh…Mei..aahhhh..” Sehun menggetarkan tangannya seakan bubble tea yang dibawanya adalah batu bacan yang besar! Haha!

“Issshhh..” Mei mengambil bubble tea dari tangan Luhan sembari memutar bola matanya malas. Dia mulai mengenal Sehun.

“Ahhh, syukurlah. Apa kau tahu itu sangat…”

“Huusshhh!! Kau cerewet sekali!” Mei meletakkan jari telunjuknya mengenai bibir Sehun.

Sehun terdiam menatap lekat manik mata brown milik Mei, begitu juga Mei.

Deg~

Jantung siapa yang berdegup kencang ini???

Srettt~

Mei segera menarik jarinya lalu menyeruput bubble teanya. Sedangkan Sehun menghabiskan bubble teanya sekali teguk. Kikuk sekali.

*****

Waktu Sehun hanya tinggal beberapa hari saja di China.

“Hei Mei, kau sudah jadian sama Sehun, cowok albino Korea itu?” Xiao Lu menyodokkan sikunya pada Mei yang sedari tadi sibuk membaca buku. Sungguh sebenarnya itu hanya alasan menghindari semua pertanyaan kepo sahabatnya.

“Belajarlah,”

“Ayolah Mei, katakan padaku,” sekarang sahabatnya menarik – narik lengan Mei, memasang wajah terimutnya.

“Tidak! Kita hanya teman! Dan satu lagi, jangan panggil dia albino!” Mei berkata hanya dengan satu tarikan nafas kemudian kembali meraih bukunya.

“Ehm, aku rasa kau jatuh cinta padanya Mei. Semoga dia bisa tinggal di China,” seru lirih Xiao Lu yang berhasil membuat jantung Ai Mei serasa berhenti sejenak.

“Aku? Jatuh cinta? Dia orang Korea, bagaimana bisa tinggal di China?” berbagai pertanyaan memenuhi otak Mei hingga membuatnya tak bisa tidur.

*****

“Hun?”

“Halo Jong,”

“Hei, kau tak merindukanku? Berapa lama lagi kau disana? Sepertinya gadis itu membuatmu menetap selamanya,”

“Ya Kim Jongin! Setiap hari kau merengek memintaku pulang melebihi ibuku. Apa kau mencintaiku? Ha?”

“Dasar namja albino aneh! Aku masih normal! Kau anggap apa Kristal?”

“HAHA! Dasar Kkamjong!! Sepertinya hubungan cintamu dengan Kristal akan bertahan lama,”

“HAHA! Bilang saja kau ingin aku mendoakanmu berhasil mendapatkan cinta gadis Chinamu itu. Tenang saja, dia pasti akan jadi milikmu Sehun. Kapan kau kembali?”

“Eungg..sebentar lagi. Bagaimana Korea?”

Bla~ bla~ bla~

Begitulah percakapan dua namja bersahabat dari kecil itu berakhir dengan ejekan tiada henti. Persahabatan bagai kepompong.

*****

“Ahhh…dingin sekali malam ini!!” Sehun melepas jaketnya lalu memasangkannya ke tubuh Mei. Mereka dalam perjalanan pulang.

“Tidak usah, aku…” Mei ingin menolak tetapi Sehun kembali membenahi posisi jaket itu.

“Lalu Kau?”

“Aku baik – baik saja. Tak perlu terima kasih untuk Cinta,”

Deg~

“…..” Mei menunduk, entah kenapa sejak mengenal Sehun, laju jantungnya susah dikendalikan.

“Hei, kau tersenyum Ai Mei! Tunggu, kenapa wajahmu memerah?” Sehun memegang pipi Mei tanpa dosa.

“Si..siapa yang memerah?! Ini karena…aku sangat kedinginan! Aiishhh!”

Srettt~

Mei berlari meninggalkan Sehun. Tidak! Mei tak ingin ketahuan oleh Sehun. Entah sihir apa yang dipakai Sehun hingga bukan hanya senyuman tapi wajah merona Mei sekarang sudah ia dapatkan. Sehun tahu pasti Mei sudah berubah.

“Jangan tinggalkan aku!!” Sehun berlari mengejar Mei.

Cetakkk~

“Ohhhhh!”

Brukkk~

“Mei! Kau baik – baik saja?” Sehun memegang kaki Mei yang sepertinya terkilir akibat adegan lari – larian ala india itu. Tersandung dan jatuh.

“Ahhh..sedikit sakit Hun…aahhh..” Mei sedikit mengerang.

Hun? Apa Sehun tak salah dengar?

“Naiklah..” Sehun berjongkok membelakangi Mei.

“Kau ini mau apa? Aku bisa berdiri. Lihat…aahhh!”

“Naiklah Ai, tolong…”

Ai? Sungguh panggilan itu terdengar manis di telinga Ai Mei.

Mereka sangat dekat sekarang. Deru nafas Mei mengusik leher Sehun, begitu hangat hingga membuatnya diam seribu bahasa. Mei semakin tak bisa mengatasi laju kencang jantungnya. Mungkin Sehun bisa mendengarnya, tapi bersyukurlah karena Sehun sendiri sedang asyik menata perasaan tak karuan yang menyelimutinya. Mereka terdiam..

“Ai? Mei? Kau tidur?”

Masih dengan posisi menggendong Mei di belakang punggungnya, Sehun memutar sedikit kepalanya ke belakang untuk memastikan.

Cup~

Sehun berhenti, memaku. Segera ia memutar kepalanya kembali ke depan.

“Lembut..,” batinnya.

Sehun menarik bibirnya kedalam diikuti gerakan lidah membasuh bibirnya.

“Manis…,” batinnya lagi.

“TIDAKKK SEHUN! KAU MENCIUMNYA!!!” batin Sehun terus mencambuk – cambuknya. Sungguh ini tak sengaja.

*****

“Kita sampai!!!”

“…..”

Entah apa yang sedang dimimpikan Ai Mei begitu lelapnya. Sehun pun mengantarnya kedalam. Syukurlah hanya Kakak perempuan Mei yang di rumah.

“Baringkan saja dia di kamar,” seru Kakak Mei dari arah dapur. Peluh keringat Sehun membuat Kakak Mei harus menyediakan minuman.

Sehun membaringkan Mei perlahan. Lalu menatap wajah cantiknya. Dielus surai rambutnya, kemudian mengecup dahinya.

“I’m really love you Ai Mei,” serunya lirih.

*****

“Hoaammpphh, pagi kak!”

“Yang digendong pacar kesiangan nih bangunnya?”

OH DAMN!!!

“Sehun bukan pacar kak,” ujar Mei Kikuk.

“Kau jatuh cinta padanya?”

“…..”

“Kemarin dia menitipkan permintaan maaf karena tidak bisa berpamitan denganmu,”

“HAHA! Cuma pamit pulang saja seperti mau kemana,”

“Iya, dia pulang ke Korea Mei,”

Deg~

KOREA?!?!?!

*****

Setahun kemudian…

“Ayolah Hun, lambat sekali jalannya!” Jongin menyeret sahabatnya dengan paksa.

“YA!! JONGIN!! KAU INI…”

“Berbaliklah sahabat albinoku!!”

Deg~

“Aku belum sempat bilang, terima kasih untuk datang menemuiku, terima kasih telah membuatku tersenyum, terima kasih sudah jatuh cinta padaku. Aku sangat bahagia bisa mengenalmu. Dan aku belum bilang…AKU CINTA KAMU OH SEHUN!”

“Ai..Mei???”

Cup~ Ai Mei mengecup bibir Sehun sekejab.

“Aku sudah tahu semuanya. Kau tahu tentang aku dari kakakku kan? karena saat kau sampai di China kau bertemu dengannya. Terima kasih sudah menyadarkanku tentang Cinta,”

“Kenapa kau..”

“Aku sengaja ke Korea untuk bersamamu. Aku akan tinggal disini bersamamu! Lihat…”

Ai Mei menunjukkan surat pindahnya.

“Tapi..”

“Surat – surat ini membuatku lama sampai disini,”

“Bagaimana…”

“SELAMAT ULANG TAHUN SEHUNNIE!”

“Mwo???”

“Tak perlu terima kasih untuk Cinta!!!”

Senyum merekah diantara keduanya.

“Aku mencintaimu Ai Mei!!! Kau hadiah terindah untukku!!”

“Aku juga mencintaimu Oh Sehun!!!”

Mereka saling menatap kemudian saling menautkan bibir, saling menyesap untuk mengobati kerinduan.

“Dan apa kau tahu? Selama setahun aku menangisimu!!!” seru Ai Mei di tengah tautan bibir mereka.

“Hushhh!”

Sehun segera menyerobot bibir tipis Ai Mei. Menarik pinggangnya untuk memperdalam ciuman. Tapi sekejab saja..

“Tunggu!! Aku ingat sesuatu Hunnie!! Kau pangeran misteriusku!!!”

*****

Flashback On

Tiga tahun lalu, Ai Mei menangis tersedu – sedu sambil berlarian di Korea, bukan China. Semua karena Xiumin.

“Si..siapa kalian?”

“Hai cantik. Bermainlah dengan kami!”

“Tidak!! Tolongggg!!!”

“Ayo sayang!!”

“LEPASSSKKAANN!! TOLONGGGG!!”

“LEPASKAN DIA!!!”

“Siapa kau?!”

“Aku bilang lepaskan atau..”

“ATAU APA?!”

“YAAAAKKK!!

BUGH!! DUGH! BUGH!!! POW!!!

“PERGI KALIAN!!!”

“Kau tidak apa – apa?”

“hiks…hiks..hiks..”

“Mereka sudah pergi, jangan menangis..”

Dia menyeka air mataku? Siapa dia? Masker itu membuatku tidak bisa melihat wajahnya.

“Terima kasih sudah menolongku.”

“Oh, busnya datang. Cepat naik!”

“Ahhh..Sekali lagi terima…”

“Tak perlu terima kasih untuk Cinta!!”

Di dalam bus Mei menatap pangeran misterius yang menolongnya tadi. Sesaat ia teringat “Tak perlu terima kasih untuk Cinta!”. Kata – kata itu…

“Oh apa ini? Kartu Pelajar? Ai Mei? Beijing???”

Pemuda itu memungut Kartu Pelajar Ai Mei yang tak sengaja terjatuh. Lalu ia membuka maskernya.

“Aku Oh Sehun. Sepertinya aku jatuh cinta padamu Ai Mei, sampai bertemu lagi..”

End~

~

A/N

Thanks a lot for kakak admin yang mengadakan “SEHUN & LUHAN BIRTHDAY PROJECT” #KISS AND HUG

Wish for happy reading to admin and chingu semuanyaaaaa!!! ^^

Give me review, please…biar lebih baik kedepannya. Ya? Ya? Oke ya??? Aku sudah beraegyo loh ini, 😀

Teengggkyuuu~~

Advertisements

One thought on “[Sehun Birthday Project] Tak Perlu Terima Kasih untuk Cinta”

  1. waaah….akhirnya happy ending.
    jd sehun pangeran misterius yg udh nolong ai mei dlu ya,, sehun nekat bgt deh smpe di bela”in dateng ke china cuma buat nyari gadis itu….
    aaah….seneng bgt deh,akhirnya perjuangan sehun gk sia” 🙂

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s