Take It Slow[Chapter 2]

This fiction made by PutrisafirA255

With main cast Oh Sehun and Lee Hanna.

Had other cast like Park Chanyeol, Xi Luhan, Lee Hanbin, etc.

This fiction about friendship, brothership, romance, fluff, and more.

And I gave you disclaimer: Don’t be siders, always give your comment

after reading this fiction. I need your voice, so i can give you

better fanfiction. Typo everywhere.Thanks to read my imagination.

Part 1: First Look ♥ Part 2: What’s Wrong? [Now]


Selfish? Yes, I am


Hari ini Hanbin benar-benar merasa lelah. Hampir lima kali ia rapat hanya untuk membahas produk yang akan dikeluarkan oleh pihaknya—Samsung. Padahal, produk terbaru baru saja diluncurkan beberapa minggu yang lalu. Entah dirinya pun tak tahu apa yang sedang direncanakan oleh ayahnya itu.

“Hyung,” sebuah suara bass menghampiri indra pendengaran Hanbin. Ia menoleh ke arah pintu. Nampak kepala Baekhyun yang muncul dari pintu. “CEO ingin bertemu denganmu di ruangannya.” Lanjutnya kemudian. Merasa ada yang aneh, Hanbin lantas bertanya. “Kenapa tidak masuk saja?”

“Bisakah lebih cepat? Aku tak ingin gajiku dipotong, Hyung.” Pintanya. Tak menunggu lama, muncullah sosok Hanbin dari ruangannya diikuti Baekhyun di belakangnya. “CEO ingin bertemu dengamu. Beliau ingin membahas tentang Hanna. Aku mohon kau tidak memberitahunya kalau Hanna ada di Edinburgh.” Bisik Baekhyun pada Hanbin.

Alih-alih pusing, Hanbin justru menenangkan Baekhyun dengan senyum tipisnya. “Bisakah aku meminta bantuanmu?” tanya Hanbin kala keduanya sampai di depan ruang yang dituju. Baekhyun mengangguk ragu. “Saat aku selesai nanti, bawakan obat merah keruanganku.” Ujar Hanbin tenang. Berbanding terbalik dengan Baekhyun yang mulai menerka apa yang akan terjadi. “B-baiklah, aku harap kau akan memenangkan pertandingannya. Fighting!”

Hanbin tertawa ringan. Sekertarisnya itu memang yang terbaik—disaat seperti ini ia masih bisa menghiburnya. Kini, telapak tangan Hanbin sudah mulai memutar kenop. Perlahan sembari mendorongnya. Menampakkan sosok pria paruh baya yang tengah berdiri di depan rak buku di sudut ruangannya.

Menyadari kehadiran Hanbin, pria itu berbalik. Menyapanya dengan penuh semangat. “Ah, kau sudah datang. Duduklah,” ujarnya sembari menunjuk sofa didekat meja kerjanya. Hanbin lantas menuruti kata sang ayah. “Bagaimana kabarmu, Nak?”

Hanbin mendengus sambil melipat kemejanya hingga ke siku. “Sejak kapan kau peduli padaku?” cibir Hanbin. Alih-alih marah, pria itu justru tersenyum. “Kau adalah anakku, bukankah seharusnya aku peduli padamu?”

“Lalu, Hanna bukan anakmu?”

“Hanna juga anakku—”

“Kenapa kau diam saja di kabur dari rumah?!”

Bukan menjawab, pria itu mengubah raut muka poker facenya. Menghilangkan senyum tipis yang sedari ditunjukkan pada anak laki-lakinya itu. “Aku bukan membiarkannya. Aku justru memberikannya kesempatan untuk berlibur. Bukankah aku ayah yang baik?”

Sudah habis kesabaran Hanbin. Tiba-tiba ia merangsek maju mendekati ayahnya yang duduk tepat di hadapannya. Mencengkeram kerah kemeja hitamnya dengan penuh emosi. “Jangan pernah sakiti Hanna—”

“Dimana rasa sopanmu?!”

“Untuk apa aku sopan pada laki-laki sepertimu?!”

Tak dapat menahan emosi dan ego masing-masing, satu pukulan keras mendarat sempurna di pipi Hanbin. Meninggalkan bekas luka di sudut bibir pria itu. Setelah itu, keduanya justru terdiam. Diam dalam arti yang berbeda. Menahan rasa sakit—untuk Hanbin—dan rasa bersalah—untuk Sobin.

Hanbin tersenyum kecut. “Terima kasih untuk luka yang kau berikan. Setidaknya, dengan seperti ini kau tak akan menyakiti Hanna.” Ujar Hanbin sebelum melenggang keluar dari ruangan itu. Bukankah ramalannya tentang pukulan itu benar?

Take It Slow

Untuk pertama kalinya, Hanna merasa asing. Memang itu benar, karena ini pertama kalinya ia belajar di luar negeri. Tanpa dukungan maupun semangat dari orang tua. Sayangnya, Hanna bukan wanita yang rapuh dan mudah putus asa hanya karena masalah seperti itu. Baginya, mimpi menjadi seorang pengusaha adalah tujuan utama dalam hidupnya dan ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membuktikan pada seluruh dunia—ayahnya memang memiliki perusahaan yang dipuja, tapi ia tak mau bergantung nasib pada semua itu.

Pandangan pertama di kelasnya, ia sempatkan menilik ruangannya dahulu. Baru kemudian, manusia yang menghuni kelas bisnis itu. “Introduce yourself,” pinta dosennya dengan ramah. Hanna mengangguk sebelum lisan ikut andil bersuara, “Hello, my name Lee Hanna. I hope you can received me be your friend. Thank you.”

Setelah mendengar perkenalan itu, sang dosen langsung menelisik tempat duduk para muridnya. Mencarikan Hanna tempat duduk yang masih kosong untuknya. “Ehm, Mrs. Lee, you can sit in Sehun side.” Ujarnya. Sontak hazel Hanna membulat kala melihat siapa chairmatenya. Laki-laki yang membuat moodnya buruk satu hari yang lalu.

“Mrs. Hanna?” panggil dosen yang merasa terganggu Hanna masih berada di depan kelas dan tak segera duduk —dengan kata lain, Hanna menghambat proses belajar mengajar. “A-ah, sorry.” Katanya. Tak ada pilihan lain, ia menyeret tungkainya menuju tempat yang telah dipilihkan. Karena, jujur kelas bisnis ini sudah penuh. Dan Hanna adalah salah satu murid yang beruntung untuk mendapatkan satu kursi di kelas itu.

Mengingat setiap tahun University of Edinburgh mendapat empat puluh tujuh ribu pelamar. Dan setiap dua belas calon mahasiswa/i harus merebutkan satu bangku di universitas elit itu. Oleh karena itu, banyak orang yang membicarakan Hanna—sebenarnya—karena keberhasilannya  memperebutkan kursi dengan mudah. Apalagi, ia orang asing.

“Kenapa aku harus bertemu dengan dia?” gerutu Hanna pelan, namun masih bisa didengar oleh Sehun yang duduk tepat di sampingnya. “Kau bisa pergi kalau tidak mau di sampingku. Masih banyak kelas yang bisa kau ambil selain kelas ini.” Ujar Sehun sembari membuka buku tebalnya, lalu membenarkan kaca matanya. “Kau mengusirku?”

“Aku hanya menyarankan yang terbaik untukmu.” Saran Sehun pada Hanna. Hanna menghembuskan napasnya kasar. Bagaimana bisa Tuhan mempertemukannya dengan laki-laki byuntae yang menyebalkan seperti itu?

Take It Slow

Chanyeol sedaritadi tak bisa diam. Bahkan tangannya sibuk memainkan ponsel dengan raut muka cemas. Ia sudah diberitahu ibunya bahwa Hanna masuk hari ini, tapi ia belum melihatnya sama sekali. Mengingat universitas ini terdiri dari enam bagian dengan luas kurang lebih tiga puluh lima hektar per bagian. Ia takut teman kecilnya itu akan tersesat.

Wae geurae?” tanya suara bass disampingnya yang sedang asik memakan makan siangnya. “Aku mencari temanku.” Ujar Chanyeol singkat. Sehun mengerutkan dahinya, “Teman yang mana?”

Chanyeol menepuk dahinya, setelah itu ia mengacak rambutnya frustasi. “Kenapa orang sepintar dirimu bisa menanyakan hal sebodoh itu, Hun?” Sehun tersenyum ringan. “Kau ‘kan terkenal di sini, jadi temanmu pasti banyak.”

“Mereka hanya ‘kenalan’. Sedangkan teman yang aku miliki itu hanya kau dan dia.” Jelasnya. Sehun terdiam. Ia tak mau ikut campur ataupun ikut pusing memikirkan masalah Chanyeol. Toh, ia punya masalah sendiri yang harus ia selesaikan. “Kau tidak makan? Bukankah kau akan ada tes hari ini?”

Chanyeol lagi-lagi menepuk jidatnya. “Ah, benar! Terima kasih, Hun. Kau sudah mengingatkanku. Aku mau ambil sandwich dulu.” Pamitnya lalu beranjak meninggalkan Sehun sendiri dengan buku tebal yang pria itu bawa. Sehun yang melihat tingkah kekanak-kanakan Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya. Pria itu memang lebih tinggi darinya, tapi pikirannya masih jauh dibawahnya.

Belum sempat kembali fokus pada buku tebalnya, ponsel Chanyeol berbunyi. Menandakan sebuah pesan singkat masuk. Tak ingin mengganggu privasi sahabatnya itu, Sehun akhirnya memilih untuk acuk tak acuh. Tapi, di saat ia akan kembali pada buku tebalnya, fokusnya hilang. Terbawa oleh pesan singkat milik Chanyeol yang pemilik ponselnya tak kunjung kembali. Yang Sehun takutkan, jika pesan itu dari suster Maria dan itu mendesak.

Pilihan terakhir yang diambil Sehun adalah mengambil ponsel Chanyeol dan membukanya. Menampilkan deretan hangul yang berhasil membuatnya mengerutkan dahi. Sejak kapan suster Maria menggunakan bahasa korea?— Sehun membatin. Ia memang tahu bahwa suster Maria bisa bahasa negeri gingseng itu, tapi hanya dalam keadaan tertentu. Dan yang membuat Sehun bingung adalah, nomor itu nomor internasional.

From: 010-1225-2792

찬열아, 지금 어디야?’

(Chanyeol, kau sekarang dimana?)

Sudah kubilang ‘kan kalau belajar bahasa korea itu menguntungkan—Sehun membatin. Tanpa berpikir panjang, Sehun menjawab.

To: 010-1225-2792

Canteen.

Setelahnya, Sehun mengembalikan ponsel Chanyeol ketempat semula. Dan Sehun beruntung, Chanyeol baru datang kala aksi membajaknya sudah selesai. “Tadi ada yang mengirim pesan di ponselmu.” Kata Sehun singkat. “Jinjja?” tanya Chanyeol yang dibalas anggukan oleh Sehun. Chanyeol segera memeriksa ponselnya. “K-kau membalasnya?!”

“Setidaknya jawabanku benar.” Jawab Sehun datar. Emosi Chanyeol naik ke ubun-ubun. Sahabat pendiamnya itu memang benar-benar menghanyutkan. Belum lama Chanyeol mengutak-atik ponselnya, namanya dipanggil oleh seorang wanita. “Chanyeol-ah!”

Chanyeol mendongak. Mendapati wanita cantik yang tengah menghampiri dirinya. “Who are you?” tanya Chanyeol. Wajahnya sedikit tak asing, namun ia belum bertemu sebelumnya. “Kau menanyakan namaku?” tanya gadis itu dengan bahasa yang berbeda dari dirinya. Chanyeol mengerutkan dahinya. Meminta penjelasan lebih. “Aku Lee Hanna, Chan. Kau tak ingat denganku?”

Sontak Chanyeol bangkit dari bangkunya. Menangkup kedua wajah itu dengan cepat, membuat para gadis yang berada di sana melirik Hanna tajam. “Neo jinjja, Lee Hanna?” tanya Chanyeol tak percaya. Hanna yang ia temui dulu masih lebih tinggi darinya, tapi sekarang ia jadi lebih pendek. Semoga saja Chanyeol tak menyinggung tinggi Hanna. Jika Chanyeol menyinggung itu, maka hukuman yang akan didapatkan Chanyeol sangat menyakitkan. “Kau makan apa di korea? Kenapa pendek sekali?”

Tak menunggu lama, Chanyeol mendapat pukulan keras di dahinya. Membuat para wanita yang melihat kejadian itu memekik tertahan. Bagaimana bisa pujaan hati mereka diperlakukan seperti itu? Chanyeol segera melayangkan protes, “Kenapa kau memukulku?!”

Chanyeol membisikkan sesuatu di telinga Hanna. “Reputasiku di sini akan hancur kalau kau memperlakukan aku seperti ini,” tambahnya. Hanna hanya tersenyum. Setelahnya ia melakukan apa yang Chanyeol inginkan. Ia membelai puncak surai coklat Chanyeol lembut. Seolah keduanya seperti ibu dan anak. “I’m sorry, Chan.”

Chanyeol tersenyum lebar, menampilkan seretan gigi rapinya. Sudah lama ia tak bercanda dengan teman kecilnya itu. “Bukankah kau ada jam sekarang?” suara bariton menginterupsi. Keduanya terdiam sesaat. Setelah itu menyibukkan diri. Chanyeol yang langsung menatap arlojinya dan pamit ke kelasnya berlainan dengan Hanna yang mencari sumber suara. Setelah itu menatap tajam. “Kau lagi! Kenapa kau selalu mengikutiku?!”

“Aku tidak mengikutimu,” balas Sehun singkat. Hanna melipat tangan di depan dada, “Lalu, kenapa kau selalu menggangguku?”

“Siapa yang mengganggumu?”

“Kau!”

“Aku punya nama,”

“Aku tak butuh namamu!”

“Kau akan membutuhkannya.”

Perdebatan itu berhenti saat seorang mahasiswa mendekati Sehun. Membisikkan sesuatu, kemudian ditanggapi anggukan oleh Sehun. Tak lupa ucapan terima kasih ia lontarkan sebelum mahasiswa itu pergi. “Kau dan aku dipanggil ke ruang guru.”

“Aku?” Hanna bertanya yang ia sendiri tahu jawabannya. Hanna hanya memastikan bahwa laki-laki itu tak akan berbohong kepadanya. “Lalu siapa? Jika bukan karenamu aku tak akan di panggil ke sana.” Kalimat penutup Sehun sebelum bangkit. Sedangkan Hanna justru terdiam. “Kau akan tersesat nanti,”

“Aku punya peta,” ujarnya sambil mengangkat tinggi gulungan kertas yang sejak tadi ia genggam. “Akan lebih cepat jika bersamaku.” Timpal Sehun cepat.

“Jangan khawatir—”

“Aku tak khawatir padamu,”

Namja byuntae menyebalkan!”

Take It Slow

Seolah ia bisa merasakan jarum yang menusuk jantung tuannya, Baekhyun terdiam. Ia tak menyangka bahwa CEO yang selalu di sanjung di muka bumi akan melakukan hal sekeji itu. Sembari mengobati luka itu dengan raut muka yang serius, ia terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan itu.

“Apa yang kau pikirkan, Baek?” tanya Hanbin mendapati Baekhyun yang terdiam, walau tangannya tetap bergerak. Baekhyun mendongak, mendengar namanya dipanggil. “Ada apa, Hyung?”

“Kenapa kau melamun? Mukaku bisa merah semua kalau kau mengobatiku seperti ini.” Canda Hanbin namun ditanggapi serius oleh Baekhyun. “Jinjjayo? Maafkan aku,” ia lantas segera mengambil kassa yang baru. Alih-alih menerima, Hanbin justru mencengkeram tangannya. “Aku baik-baik saja,”

“Sebenarnya apa yang terjadi, Hyung? Aku tak tahu ternyata CEO Sobin bisa sejahat itu padamu,” ujar Baekhyun jujur. Hanbin terkekeh pelan, lalu melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Baekhyun. “Entahlah, CEO Sobin sedikit sensitif hari ini.”

Baekhyun tahu kalau tuannya itu menyembunyikan sesuatu. Baekhyun bukan orang bodoh yang mudah ditipu begitu saja. “Baiklah, aku akan mengatakannya padamu.” Ujar Hanbin akhirnya, seolah ia tahu bahwa Baekhyun mengetahui kebohongannya. “Kami bertengkar perihal Hanna.”

Sontak mata Baekhyun membulat penuh. Ini tentang Hanna? Sahabatnya yang kini tengah melarikan diri ke Edinburgh itu?

“Memangnya ada apa dengan Hanna?”

Hanbin menghela napas panjang. Setelahnya ia memepertemukan punggungnya dengan sofa, mengistirahatkan badannya itu sejenak. “Ini sebenarnya masalah keluarga. Karena kau sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, sama seperti Hanna, maka aku akan memberitahumu.”

Baekhyun terdiam. Ternyata keberadaannya dianggap lebih oleh tuannya itu. Apa katanya? Adik? Ini terlalu berlebihan—batin Baekhyun. Menepis pikiran negatif dan lebih memilih menjadi pendengar yang baik, Baekhyun menatap Hanbin. “Sebenarnya, Hanna dilarang sekolah jurusan bisnis.”

Jujur, Baekhyun terhenyak perihal yang satu itu. Selama tiga tahun ia berteman tentang Hanna, tak sekalipun Hanna menyinggung soal itu. Padahal, Hanna sering menceritakan tentang Junmyeon—siswa kelas sebelah yang disukai Hanna. Tapi, kenapa tidak yang satu ini?

“Hanna tidak pernah cerita padaku, Hyung. Aku bahkan tidak tahu selama ini kalau Hanna ternyata punya masalah sebesar itu.” Sesal Baekhyun akhirnya. Hanbin tersenyum kecut. Setelahnya lisan mulai menimpali, “Aku jauh lebih menyesal, Baek. Disaat ia membutuhkanku, aku justru sibuk dengan project baru Samsung. Sedangkan, ketika ia memulai hidup barunya dengan bahagia, aku justru baru menyadarinya.”

Baekhyun terdiam, ia tak bisa menimpali lebih banyak lagi. Ternyata seorang Hanbin yang ia kenal sangat menyayangi Hanna bisa mengabaikan adik kesayangannya. Pantas saja, Hanna pernah datang ke taman—basecamp Hanna, Helena dan dirinya di sekolah—sambil menunduk dan tak mau berbicara sama sekali. Kenyataan ini benar-benar membuatnya dilema. Antara marah dan juga kasihan.

“Kau mau membantuku ‘kan, Baek?”

Baekhyun mengangguk.

“Bantu aku pergi ke Edinburgh.”

Take It Slow

“Kenapa aku malah menemaninya di sini?” gerutu Hanna sembari membuka buku tebal yang telah dipilihkan Sehun untuk membantu menyelesaikan tugas kuliah keduanya. Sehun yang mendengar itu hanya tersenyum. Bukankah ini kesempatannya untuk mendekati gadis itu?

Satu jam yang lalu, dosennya memanggil dirinya dan juga Hanna ke ruang guru. Karena Hanna adalah murid baru ditengah-tengah semester, maka dosen meminta Sehun untuk membantu Hanna dalam mengejar keterlambatannya. Maka dari itu, sekarang Hanna terjebak di dalam perputakan University of Edinburgh yang  luasnya puluhan meter dengan ribuan buku hingga petang menjemput.

Hanna menilik jam tangan Baby-G putih yang melingkar apik di pergelangan tangannya. Menampakkan jarum pendek diangka tujuh. Hanna bergerak gelisah. Meskipun ia punya background keluarga yang mapan bahkan ayahnya adalah orang terkaya di korea, ia membiayai kehidupannya sendiri di kota ini.

Mengingat ia harus membayar € 17,000 untuk biaya sekolah, maka ia sudah memutuskan untuk mengambil pekerjaan paruh waktu di sebuah bar terkenal di Edinburgh. Helena sebenarnya sudah memperingatkan Hanna agar mencari pekerjaan lain selain di bar, tetapi dengan pertimbangan yang matang oleh Hanna, maka Helena sudah tak bisa mencegah lagi. Toh, gajinya bisa membayar kuliah sekaligus bertahan hidup di kota manis itu.

Sehun yang mengamati gesture Hanna pun mulai jengah. Melepaskan kaca matanya, lalu melipat tangan di depan dada. “Kau ada kencan?” tanya Sehun spontan. Ia sebenarnya mulai marah sekaligus malas menanggapi sikap Hanna yang gelisah.

Kencan? Hanna berpikir dua kali. Jika ia mengatakan ‘ia’ maka ia bisa lari dari ruangan sial itu. Tapi, jika ia mengatakan ‘tidak’ maka tugasnya akan selesai lebih cepat. Lalu, ia harus pilih yang mana?

“Kau bisa pergi jika tak mau menjadi perawan tua.”

Hanna menaikkan sebelah alisnya. Kenapa ada laki-laki di dunia ini yang menyebalkan seperti laki-laki dihadapannya? Tapi, jika bukan karena laki-laki itu, mana mungkin ia dapat bantuan mengerjakan tugas dari dosen botak itu? Tunggu! Kenapa ia justru membahas dosennya yang botak? Hanna menggelengkan kepalanya bar-bar.

“Kau tak mau pergi? Yakin?”

Pertanyaan itu berhasil menghentikan aksi bar-bar Hanna. Tak lupa tatapan tajam dilayangkan gadis itu sebagai hadiah atas kalimat Sehun. “Aku akan pergi! Kenapa kau sibuk sekali mengurusi  hidupku?!”

Hanna lantas meraih tas punggung hitamnya dan melenggang pergi. Namun, belum genap selangkah Hanna berbalik. “Siapa namamu namja byuntae?”

“Aku? Kenapa kau ingin tahu?”

“Tinggal jawab apa susahnya?”

“Cari tahu saja sendiri,” ujarnya final plus nada datar yang membuat emosi Hanna naik ke ubun-ubun. Apalagi saat Sehun sengaja berhenti disampingnya, hanya untuk mengatakan satu kalimat dekat dengan indra pendengarannya. “Bukankah sudah kubilang, kau akan membutuhkan namaku?” Setelah itu, Sehun meninggalkan Hanna. Tak lupa dengan beberapa buku dan laptop yang sudah dijinjing dengan tangan kanan.

“Dasar namja byuntae menyebalkan!”

Take It Slow

Minuman memabukkan itu seolah menjadi minuman sehari-hari di sini. Menggantikan air mineral yang biasa dikonsumsi hingga menjadi barang asing. Apalagi menjadi destinasi para wisatawan yang ingin mencicipi rasa whisky yang berbeda dari yang lain. Apa yang membuatnya beda pun, Hanna tak ingin mengetahuinya. Toh, di sini ia hanya menyajikan minuman yang di pesan lalu melenggang pergi tanpa peduli.

Sudah banyak cerita memang yang membuat Hanna terbelalak. Dimulai dari pengunjung yang tak pernah surut, kemudian ditambah dengan fakta bahwa harga whisky itu sangat mahal. Memang sangat disayangkan jika uang banyak hanya dibuang untuk barang haram itu. Tapi, jika bukan karena minuman itu, maka kuliahnya juga akan berhenti. Mereka  telah dibutakan oleh kesenangan duniawi dan tak bisa lepas dari semua itu. Ia dilema.

Hari pertama bekerja, kesan pertama yang didapatkan gadis Lee itu adalah menakjubkan. Melihat tumpukan botol whisjky seperti tumpukan buku di perpustakaannya itu membuat bibirnya tak terkatup dengan baik. Yang kedua, ketika bartender menyiapkan pesanan. Proses pembuatan dan menyajikannya pun membuat Hanna tertarik untuk mencoba. Kalau pun Hanna tertarik, ia takkan bisa. Merasakan saja tidak pernah, apalagi membuatnya?

Beralih dari analisisnya, maka kini ia siap menjalankan tugas. Mengantarkan pesanan ke meja tujuan, lantas mempersilahkan pengunjungnya untuk menikmati pesanannya. Kala ia mendongak, ia menyadari sesuatu yang begitu ganjil. Lantas ia tajamkan pandangan hanya untuk memperjelas hingga suara bariton pemilik mulai menyapa pendengarannya. “What are you looking for?”

Hanna tergeragap. Ia segera menegapkan tubuhnya lalu meminta maaf. “I’m so sorry.” Ujarnya lalu melenggang pergi. Kenapa begitu mirip?— batin Hanna. Itu terlalu mirip hingga ia tak bisa mencari perbedaannya. Lalu untuk apa kaca mata yang biasanya bertengger manis di hidung bangirnya jika setiap malam dia keluyuran seperti itu? Apalagi di bar dan malam hari. Meski tak bersama wanita ataupun sebagainya.

Tunggu! Kenapa Hanna berpikir tentang laki-laki yang tak ia ketahui namanya itu? Toh, mereka bertemu belum genap sehari, dan ia sudah berpikir yang tidak-tidak? Ini negara bebas ‘kan? Siapapun berhak datang ke sini, walau mengecap pendidikan di Universitas Edinburgh sekalipun. Sama sepertinya, semua orang punya alasan tersendiri ‘kan?

Hampir beberapa jam laki-laki yang berhasil mencuri atensinya itu duduk bersama teman laki-laki sebayanya. Walau shift-nya sebentar lagi akan habis, tapi rasa penasaran yang ada dalam otak Hanna tak kunjung sirna. Seolah itu adalah hal yang sangat mengusik dan butuh penjelasan segera. Memangnya siapa dia? Kenapa harus peduli dengan orang lain? Ia lagi-lagi menggelengkan kepala. Mencoba menghilangkan pikiran itu walau tak kunjung berhasil.

Beberapa temannya mulai meninggalkan tempat walau sempoyongan saat berjalan. Berbeda dengan laki-laki yang menjadi pusat atensi, ia justru tertidur di bar itu. Ini tidak akan mengganggu perjalanan pulangnya ‘kan? Ia ingin segera tidur lalu menikmati bunga tidur yang telah menggodanya sejak tadi.

He’s here, again.” Suara bass itu datang dari belakang Hanna, membuatnya terkejut. Namun, setelah ia tahu siapa pemiik suara, ia lantas bertanya. “He’s always come here, Mr. Kris?”

Pemilik nama Kris itu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang Hanna ajukan. “But, not like now. He’s so absurd. More than last week.” Tambahnya. Hanna hanya mengangguk kecil. Seolah mendapat pelajaran berharga yang akan menambah nilainya. “Do you know him?”

Hanna sontak membulatkan mata. Setelahnya ia menggeleng pasti. “No! I don’t know him.”  Harga dirinya akan turun 180o jika mengakui bahwa Hanna mengenal pria itu. Mencoba mengalihkan pembicaraan, namun sayang tak berhasil.

It’s time to—”

Help him. Take his handphone and call the family.”

Dan akhirnya, Tuhan tak mengizinkan Hanna pergi walau hanya selangkah saja. Segala protes dan juga alasan yang ia pakai tak berguna sama sekali, yang akhirnya berujung pada penderitaan pertama pada hari pertama juga ia bekerja.

Take It Slow

Banyak hal yang dipikirkan oleh Sehun. Salah satunya tentang pertemanan Hanna dan juga Chanyeol. Ia tahu bahwa Chanyeol sangat populer di universitasnya, tapi sebanyak apapun wanita yang mendekati pria itu ia pasti tahu. Dan entah kenapa dari sekian banyak gadis yang mengejar Chanyeol, hanya satu wanita yang mengganggu pikirannya.

Gadis yang mengatainya byuntae hanya karena mainan Justin. Gadis yang menggerutu tak jelas di sampingnya hanya karena tak ada tempat lain. Dan juga gadis yang membuatnya tersenyum sendiri saat di perpustakan. Semua itu karena gadis keras kepala yang baru saja ia kenal.

Oh God! Sehun mengacak rambutnya frustasi. Pikiran itu tak mau hilang dan terus mengusik ketenangannya. Apa yang harus ia lakukan?

Menghentikan aktivitas belajarnya, ia dengan cepat mengambil jaket hitam yang tergeletak di tempat tidur beserta kunci motornya, lalu melenggang pergi. Tinggal di apartemen membuat ia sedikit bebas ingin pergi kemana pun. Tetapi, bukan berarti ia pergi ke sebuah bar ataupun ikut balapan dengan Chanyeol. Tapi, ia lebih memilih ke gereja lalu menceritakannya kepada suster Maria.

Persis seperti sekarang, kini ia sudah duduk di bangku jemaat bersama dengan suster Maria yang juga duduk di sampingnya—siap mendengarkan apa yang akan Sehun katakan.

“Mom, kenapa aku jadi bingung seperti ini?” ucapnya sembari menatap lurus ke depan. Suster Maria menyernyitkan dahinya—tak paham dengan apa yang Sehun maksud. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Ini sebenarnya sangat rahasia. Tapi, aku akan mengatakannya.” Sehun menarik napasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Gadis yang bermain piano saat lunchtime concert beberapa hari yang lalu, aku rasa—”

“Kau menyukainya?” timpal suster Maria. Sehun menggeleng pelan. “Terlalu cepat untuk mengatakan bahwa aku menyukainya. Baru beberapa hari kami bertemu, dan tak pernah akur,”

“Benci bisa jadi cinta, Hun. Itulah hukumnya. Kau hanya belum berani menyadari kalau itu adalah perasaan suka. Harus berapa lama kau akan menutupinya?”

“Dan cinta juga bisa jadi benci, Mom. Jangan lupakan itu,” tambah Sehun. Mengingat masa lalu yang membuatnya benar-benar terpuruk sangat mengganggu. Itulah kenapa ia sangat bingung. Di satu sisi, ia sangat senang saat berada di samping gadis itu. Tapi, di satu sisi gadis itulah yang telah mengingatkan Sehun kembali pada masa lalu.

By the way, kau sudah tahu nama gadis itu?” tanya suster Maria mengalihkan pembicaraan. Sehun menggeleng—lagi. “Dia.. keras kepala. Susah diatur, dan suka membantah. Jadi, untuk menanyakan ataupun mendekatinya aku rasa butuh waktu yang lama.” Ujar Sehun jujur. Karena itulah kesan yang Sehun lihat sejak awal bertemu hingga sekarang.

“Kalau kau sudah tahu sifatnya, seharusnya kau tak memaksakan kehendak. Aku tahu itu memang sifat yang tak bisa kau hilangkan, tapi setidaknya kau bisa menutupinya.” Kata suster Maria sebelum bangkit. Setelah itu, beliau menambahkan. “Jangan sampai dia hilang dari pandanganmu hanya karena sifat burukmu itu.”

Sehun termenung saat mendengar kalimat terakhir suster Maria sebelum meninggalkannya sendiri di sana. Benar! Ini saatnya untuk memperbaiki diri dan juga mencari pendamping hidup yang bisa menjaganya dalam suka maupun duka. Sekarang ia tahu, perasaan apa yang hingga di hatinya.

Take It Slow

Hanna masih merasakan gelisah memikirkan apa yang akan terjadi padanya. Sialnya, pagi ini Hanna berangkat terlambat karena salah bus, dan harus duduk lagi bersama pria itu. Tak perlu ditanya seberapa benci Hanna pada pria itu—Sehun maksudnya—karena selama dia menyebalkan, maka  Hanna akan membencinya.

“Kenapa diam saja?” tanya Sehun sebagai kalimat pembuka. Sehun merasa ada yang aneh dari gadis itu. Jika biasanya ia akan menggerutu atau mendengarkan penjelasan dosen, sekarang Hanna nampak melamun memikirkan sesuatu. “A-apa?”

“Tidak jadi,” jawab Sehun singkat. Tak mau memulai perdebatan walau sebenarnya empat silabel yang dikatakan itu bisa menjadi masalah. Hanna mendengus sambil mengepalkan tangannya. Mengangkatnya ke atas, sempat ia berpikiran untuk menghajar pria di sebelahnya itu, tapi ia urungkan. “Kau mau memukul—”

“Apa kau kemarin pergi?” tanya Hanna tiba-tiba. Sontak Sehun menghentikan aktivitasnya hanya untuk memandang Hanna. Membuat jantungnya dua kali lebih cepat, walau sudah menghindari hazel Hanna beberapa kali. “M-memangnya kena—”

“Jawab aku, namja byuntae. Tinggal menjawab apa susahnya, sih?!”

Sehun lebih memilih mengangguk sebagai jawaban. Hanna membuang pandangannya ke segala arah. “Jadi benar. Semalam itu dia,” gumam Hanna pelan. Sehun hanya melihat bibir gadis itu tergerak tapi tak bersuara. Membuatnya penasaran hingga akhirnya bertanya, “Kau tahu dari mana kalau aku pergi—”

“Aku akan menjawabnya, nanti. Banyak yang aku ingin tanyakan padamu.”

“Tentang apa?”

“Bukankah sudah kukatakan nanti saja?!”

Baiklah, Sehun menghentikan kalimatnya. Dia masih teringat dengan kata-kata suster Maria kemarin kalau ia harus menghilangkan rasa ego agar Hanna tak menghilang dari pandangannya. Jujur, Sehun tak tahu harus apa jika kehilangan Hanna, mungkin ia sangat merindukan gadis itu.

Take It Slow

Ruangan terbuka yang tak pernah ramai. Ditunggu oleh banyak mahasiswa/i yang belajar di sana. Menjadi tempat berkumpulnya para gerombolan murid yang ingin menyantap makan siang. Ya, benar! Kantin. Tempat Hanna dan Sehun melakukan percakapan yang lumayan panjang jika dibandingkan hari-hari kemarin.

“Bukankah banyak yang ingin kau tanyakan padaku?” ujar Sehun mengingatkan Hanna yang tengah melamun. Mendapati suara bariton yang menyapa indra pendengarannya, membuat Hanna mendongak. “A-ah? Iya, aku lupa.” Kata Hanna sembari menepuk dahinya.

“Tapi, aku bingung mau mulai darimana.” Tambahnya. Sehun menaikkan satu alisnya. Apakah sebanyak itu hingga ia tak bisa mengatakannya—Sehun membatin. Apa jangan-jangan tentang percakapannya dengan suster Maria? Bisa saja ‘kan Hanna datang ke gereja dan mendengar percakapannya kemarin malam? Jantung Sehun berdetak dua kali lebih cepat.

“Kemarin kau pergi kemana?”

Apa Hanna sedang memancingnya untuk mengatakan perasaannya? Sehun menggeleng. Kalau pun Hanna menginginkan itu, seharusnya tak perlu bertele-tele. Dari yang Sehun baca, karakter seperti Hanna itu adalah suka to-the-point. “Aku ke gereja,”

“Jangan bohong!” bentak Hanna lalu menyampingkan tubuhnya agar bisa menatap Sehun lebih dalam. Mencari kebohongan di mata Sehun, tapi tak kunjung ia temukan. “Aku tidak bohong!”

“Aku melihatmu kemarin! Sangat jelas,”

“Aku bertemu suster Maria—”

“Aku melihatmu di bar!”

.

.

.

Hai! Aku sebenernya bingung mau bilang apa, tapi karena kayaknya ada part yang bikin bingung untuk chap kemarin, jadi aku akan menjelaskannya di sini.

Hanna itu sebenernya udah lulus dan kabur dengan alasan bahwa ayahnya gak mau si Hanna-nya itu masuk jurusan bisnis. Kalo menilik lagi di chap kemarin, dia bahkan gak sengaja/ gak sadar kalau bilagn ke Hanbin dia gak bakal rebut perusahaan ayahnya itu.

Dan maapkan daku, yang tlah mengganti marga B.I jadi Lee. Nanti gak nyambung dong ayah sama adik marga Lee, masa kakaknya marganya Kim?

Dan untuk kedepan banyak chap yang bikin bingung dan penasaran. So, leave a review to me, okay?

With Love,

—Putrisafira255

Advertisements

44 thoughts on “Take It Slow[Chapter 2]”

  1. itu yg dilihat hanna mungkin luhan ya???
    cz luhan kan emang sdikit mirip sama sehun,hehehe….
    oh iya, orang dimasa lalu sehun siapa sih, yg udh bikin sehun terluka…penasaran deh….
    jadi hana itu kaburnya jg udh lama ya? sejak lulus SMA lgsg kabur kah atau gmana????
    dan apa alasan ayah hanna yg melarang hanna untuk kuliah bisnis, apa benar agar hanna tidak bisa mrebut perusahaannya?
    ditunggu moment manis sehun dan hanna ya kak, semangat 🙂

    Liked by 1 person

  2. Sehun duluan yg mulai care ke hanna hahaha
    Enak ya jadi hanna, temeny namja nya tamvan tamvan kkk~

    Hanna ngotot ktmu sehun di bar, tp sehun ngaku nya ga ke bar tp kegereja, nah lohh

    Like

    1. Abisnya oppa-oppa cogan semua yang jadi cast-nya 😀

      Tuh ‘kan bingung sendiri? Aku gak tahu dapet ide darimana bisa munculin Steven dengan cara seperti itu. Maapkan aku yang tidak sempurna. /LOL/

      Makasih sudah berkomentar:)

      Like

  3. aku kira pas hanbin bilang ke baekhyun buat ambil obat merah itu untuk rencana apalah apalah, tapii ehh ternyata buat ngobati luka. udah mikir jauh-jauh! astaga ada-ada aja 😀 :v
    cinta emang gitu ya, bahkan dalam 1 detik 1 jam 1 hari aja bisa suka.. hebatnya pandangan pertama kkkk~
    sebenarnya apa sih masalah sebenarnya hanna sama sobin sobin pemilik samsung itu?? 😮
    mungkin Luhan kali hanna, dilihat-dilihat nama luhan juga baru muncul dichap ini!
    kenapa sifatnya selalu berprasangka buruk, orang sehunkan anaknya baik jadi mainnya juga digereja doang.. dasar! kan kasihan 😀
    oh iya emangnya kemana keluarga sehun, gimana biografi kehidupannya? jadi penasaran untuk tau semuanya haha nggak sabar baca kelanjutan cerita jadinya 🙂 (y) 😉
    keren thor bagus pokoknya, thanks :*

    Like

    1. Cie.. yang pernah cinta pada pandangan pertama. Kamu lebih tahu ternyata daripada authornya/ehey/

      Sobin itu akan dijelasin di chap 7/jauh amat/ Jadi, siap-siap aja ikutin rulesnya di chap 6. Makasih udah komentar:)

      Like

  4. anyyeong. . . Ini udah ada beberapa chapter yaa. .
    Di sini sehun nggak punya banyak kepribadiankan? Kayak teman hanna bilang 😀

    Like

  5. kk.. aku bingung, disini tadi kan sehun ke gereja yaa..?? trs yg dilihat hanna itu siapa..?? beneran sehun..?? ato orang lain..?? klo beneran sehun berarti setelah ke gereja dia ke bar..?? tpkan sehun disini ga pernah ke bar..
    apa sehun punya sodara gitu..??
    asihhh pusingg.. bikin penasaran ihhhh
    ayoo makin deket ajaa terussss 😀

    Like

  6. Lah kok???
    Kok bisa si hanna bilang ke bar?
    Tapi osh ke gereja??
    Ini hanna salah orang atau si sehunnya yang boong kali yaa??
    Yaudah min aku read dulu chap selanjutnya yaa :3

    Liked by 1 person

  7. mianhae author, sbnarnya sblm aku buat comment di CHAP.1 aku sudah baca smpai CHAP.2. tp untuk comment sbmnya aku seolah2 bertingka br membacanya. Tp jujur kata ini ff keren benar, tdk ada kebohonga di sana. sekali lg maaf author.
    untuk CHAP 2. Aku pusing hanna lihat siapa di bar?. Bukannya sehun prg kegereja?

    Liked by 1 person

  8. TAHU BULAT TAHU BULAT (numpang jualan). Tumben sehun duluan yang maju wkwkkw, kak itu seharusnya bukan “어띠야?” harusnya “어디야?” sama itu kak juga “No! I don’t know” mungkin typo jadi “No! I do know” udah sekian gitu aja dari tahu bulat

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s