[Freelance] Proposal Married (Chapter 2)

proposal merried

PROPOSAL MARRIED
Chapter 1

Author : Rhifaery

Main Cast :  Sehun EXO  and Irene Red Velvet

Genre : Romance, Comedy, After married!^^

Rate : NC 17

Desclimer : All of the story based on my imagine ^^

Sehun POV

Aku berjalan memasuki kamar dan kulihat gadis itu, Irene masih tertunduk membisu. Tatatapannya kosong dan dia sama sekali tak bergerak. Persis patung. Kuputuskan untuk kali ini aku membiarkan saja ulahnya setelah tadi dia berteriak-teriak tidak mau ke bandara ataupun menaiki pesawat. Ya, aku tahu memang tak seharusnya aku memaksanya untuk menikmati hadiah dari Red Velved. Tapi ini adalah hadiah paling mahal yang pernah aku peroleh. Paket bulan madu ke Jepang dan hotel bintang lima. Tentu saja aku tak akan menyia-nyiakannya.

“Efek jettlag-mu masih belum pulih yah?” Tanyaku basa-basi sambil membereskan koper-koper yang masih berantakan. Harusnya aku menyadari bahwa mengajaknya bicara adalah tindakan bodoh karena kulihat dia sama sekali tak mengubrisku.

“Sudahlah… aku tahu apa yang kau rasakan Irena-ah. Lebih baik, kau nikmati saja honeymoon kepura-puraan kita kali ini. Kau tahu, Jepang benar-benar indah.” Sambungku tak menyerah. Aku pun melangkah ke belakang dan menyibak tirainya. Seketika terhamparlah sebuah lautan luas berwarna biru disertai burung-burung bertebaran di angkasa.

“Jangan kira jika kita di sini lantas kau bisa berbuat seenaknya Oh Sehun. Ingat, proposal kita masih berlaku!” Ucapnya ketus. Mengapa dia selalu membahas itu sih. Tapi mendengarnya berbicara tadi, bagiku sudah membuatku senang.

“Yayaya terserah kau saja lah.” Segera ku beranjak dari tempatku menuju ke tempat koper yang sudah kubuka. Ku keluarkan kotak-kotak hadiah dari para member EXO yang sengaja eomma bawakan kemari. Mungkin eommaku tahu bahwa aku dan Irene tidak punya cukup waktu untuk bersama jadinya dia membawakannya dalam wadah satu koper penuh.  

“Apa itu?”

“Hadiah pernikahan kita dari member EXO. Kau ingin membukanya bersamaku?” Tawarku yang langsung mendapat reaksi cepat darinya. Irene segera naik dan mendekat ke arahku. Tak ku kirah ekspresinya jadi sedikit heboh jika menyangkut soal hadiah. Lantas dia mengambil satu kotak warna merah jambu  yang ku duga dari Xiumin Hyung. Sebuah pakaian couple bergambar doraemon. Benar-benar hadiah aneh. Apa dia pikir aku bayi yang mau berpakaian bergambar kartun?

“Oh Sehun lihat. Ini sangat imut… aku ingin memakainya nanti.” Komentarnya yang lantas membuatku tersendak.

“Irene-ah, selerahmu benar-benar rendah.”

“Cih… kau ini. Wah lihaaattt Jam tangan Rolex Couple dari Kyungsooooo….!!!” Pekiknya pas di telingaku. Membuatku kaget saja.

“Coba ku lihat itu asli apa palsu?”

“Tentu saja asli. Setahuku Kyungsoo bukan pria perhitungan dan pelit seperti dirimu.” Ucapnya pedas. Ingin kujawab Aku perhitungan karenanya dirinya wanita matrealistis, tapi sudalah. Aku tahu wataknya seperti apa. Jika berdebat pastilah dia yang ingin menang.

Tanganku lantas membuka kado yang sebelumnya sudah ada di tanganku. Ada tulisan hangul besar yang ditulis secara rapi berbunyi: Untuk Irene dari Suho Oppa. Cih, apa-apan dia. Apa dia hanya memberi kado itu untuk Irene, bukan untukku?

“Apa isi kado yang ada di tanganmu itu?” Irene tiba-tiba bertanya. Segera ku sembunyikan kado itu dari tanganku agar tak terlihaat olehnya, “Ah, tidak apa-apa.”  

“Itu pasti dari Suho Oppa. Cepat berikan padaku.”

“Mana mungkin, dia kan tidak datang di pesta kita.”

“Dia datang. Tapi hanya menemuiku weekk!” Katanya  menjulurkan lidah, “Oh Sehun, cepat berikan padaku.”

“Tidak mau.”

“Berikaaannnn….- Gadis itu langsung menarik tanganku paksa dan berhasil menarik bungkus kado itu seketika. Sial, tak kusangkah jika tenaganya sebesar ini.  Hanya dengan melihat sekilas isinya, dia pun tiba-tiba tersenyum kecut, “Hanya sebuah buku. Benar-benar tidak menarik.”

Mendadak sedikit rasa bangga dan juga kecewa tiba-tiba terlintas di pikiranku. Bangga karena ternyata istriku ini sudah move on dari Suho Hyung dan kecewa karena tak kusangkah istriku bisa se-matre ini. Aku mengambil bukunya sekilas dan ketika kubaca judulnya, Membina Keluarga Bahagia” mendadak akupun mendukung pendapat Irene tentang hadiah yang tidak menarik.

“Lihat, ini dari Kai dan Krystal, kelihatannya sebentar lagi mereka akan menyusul kita.” Katanya tersenyum lantas memamerkan sebuah lampu tidur yang sangat indah dengan patung orang menikah. Sedikit terbesit rasa iri untuk mereka. Jika Kai dan Krystal menikah, mereka tentulah tidak mengalami masa-masa sulit seperti yang aku rasakan saat ini.

“Chen memberi kita boneka lucu. Lihat…!” Irene memperlihatkan sepasang boneka teddy bear yang keduanya salng berpelukan.

“Dari Lay, dia memberi kita sepasang sepatu merk terkenal.”

“Wah ini dari Luhan, dia memberi kita karikatur, apa-apaan ini aku tidak suka gambarnya.” Katnya lantas melemparkan hadiah yang Luhan Hyung berikan. Benar-benar kurang ajar. Dia membuangnya karena yang menjadi gambar itu adalah wajah kami berdua. Aissshh!

“Hanya tinggal satu hadiah lagi, kelihatannya dari Chanyeol dan Baekhyun. Apa mereka patungan?” Tanyanya melirik satu kado yang tersisa dan berada di tanganku.

“Kelihatannya sih begitu.” Tanpa pikir panjang aku pun membuka sebuah kado yang dibungkus rapi. Sejujurnya aku juga penasaran dengan apa yang di berikan Chanyeol Hyung. Mengingat, dia yang selama ini menjadi penasehat pribadiku tentunya kado ini akan sedikit lebih mahal.  

Namun apa yang aku duga tentunya jauh dari spekulasi ku. Irene melihat dengan mata kepala sendiri apa yang di letakkan di dalam kotak itu. Sebuah CD. Bukan hanya sebuah, mereka membeli CD yang sangat banyak. Barulah ketika aku memeriksanya, aku sadar ini bukan CD biasa. Ada gambar sampul wanita yah katakanlah berpose hot dengan seorang pria di sampingnya.

“Ck-ck-ck benar-benar di luar dugaan mereka ini.” Aku menggeleng-gelengkan kepala sekaligus menahan senyum. Kulihat Irene mengagah tak percaya dan juga kembali ke hobby awalnya, mematung.

“Oh Sehun, kau tahu apa artinya ini…?”

“Wae?”

“CEPAT SEWAKAN AKU KAMAR SENDIRIIIII….!!!!” Teriaknya yang langsung membuatku terjembab saking kagetnya.

“Ta-ta-tapi….”

“JANGAN KAWATIRKAN UANGMU… AKU YANG BAYAR!!!!”

“Oh baiklah.”

-o0o-

Irene POV

“Cepatlah sedikit aku sudah lapar…!!!” Teriak Sehun yang sudah menyerupai orang satu minggu tidak makan. Padahal dia sudah makan banyak di pesawat tadi.

“Nde… aku sudah selesai kok.” Balasku  cepat-cepat keluar untuk menemuinya. Seketika tatapannya melotot melihat penampilanku malam ini.

“Apa aku menunggu lama hanya untuk melihat penampilanku yang seperti ini ck ck ck?”

Aku melihat penampilanku sendiri. Celana panjang dengan kaos doraemon hadiah dari Xiumin Oppa. Aku rasa ini sudah cukup sopan dibanding pakaian yang dipersiapkan eomma-nya Sehun untuk liburan ini. Ya kau tak akan menyangkah jika semua isi koperku adalah baju-baju yang dipersiapkan eomma-nya Sehun yang hampir semuanya bermodel terbuka. Tentu saja aku tak mau memakainya. Di depan anaknya saja aku tak mau apalagi di depan banyak orang?  

“Sebenarnya kita akan makan dimana sih?” Kataku sambil menilik gaya berpakaiannya sendiri. Setelan jas berwarna hitam juga sepatu yang berwarna senada. Mungkin dia ingin sok-sok an meniru gaya pengusaha biar dikiranya dia memang banyak uang.

Sehun tak menjawab melainkan berjalan terus menuju lorong-lorong hotel sementara aku mengikutinya di belakang karena hanya dia yang tahu tempatnya. Barulah ketika kita sampai di restoran yang bertulisan huruf kanji (mohon maaf aku tidak membacanya) Sehun lantas menggandeng tanganku dan memilihkan tempat duduk untuk dua orang.

“Wareware wa tasukeru tame ni nanika dekiru koto?” Seorang pelayan langsung menyambut kami dengan berbahasa Jepang. Yang kurang lebih artinya adalah ada yang bias kami bantu.

Entah kenapa aku merasa tempat ini benar-benar tak cocok untukku. Maksudku tak cocok untuk kostumku malam ini. Dari dekorasi ruangannya saja, terlihat bahwa restoran ini sangat berkeas. Meja dan kursi ditata sedemikian teratur dengan kerlip lampu-lampu krystal di atasnya. Pengunjungnya pun bukan dari sembarang orang. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berkelas dengan berpenampilan glamor.

Watashi wa 2 tsu no yakiniku to remontī o chūmon shimashita.” Kata Sehun lantas menyerahkan buku menu itu. Aku kurang tahu berbahasa Jepang oleh karena itu kuserahkan semuanya padanya.

Sate chottomatte.”

“ Oh Sehun, kenapa membawaku ke tempat seperti ini?” Tanyaku sedikit berbisik se-peninggal pelayan tersebut.

“Ini adalah salah satu restoraan termahal di Jepang. Tidak sembarang orang bisa makan disini. Dengan begitu  setidaknya kau bisa sedikit berterima kasih padaku dan tidak menganggapku pria pelit. Arraseo?”

“Aku mengerjapkan mata begitu mendengarkan penjelasan terpanjang yang keluar dari mulutnya,  “Oh Sehun, bisa tidak kita makan di luar saja?” Sengaja aku memasang tampang se-innoncent mungkin agar dia mengabulkan permintaanku.

Dia lantas menghirup nafas panjang. “Kenapa lagi???”

“Kau tak lihat pakaianku? Aku merasa termarginalkan disini?”

“Kau tahu kan aku sudah menyiapkan banyak hal ini, bahkan dengan membooking tempat duduknya saja aku perlu membayar dulu.”

Ugh! Benar-benar jawaban yang mengesalkan. Bagaimana aku bisa tak menganggapnya pria pelit sedangkan dia masih menjadi pria yang perhitungan.

“Kalau begitu kau makanlah sendiri, aku makan di luar saja!” Segera ku beranjak dari tempatku berdiri dan berniat meninggalkannya.

“Hey… kau mau kemana makanannya sebentar lagi tiba…!!!”

Aku tak menggubris teriakannya. Segera kupercepat langkah kakiku untuk menuju ke tempat terdekat yang menjajakan makanan kaki lima. Namun jauh di luar dugaan, ternyata Sehun sudah ada di belakangku. Di menarik tanganku dan menyuruhku untuk duduk sebentar.

“Jika ingin keluar pakai ini dulu!” Katanya memakaikanku topi juga kacamata. Sebuah alat penyamaran yang diperlukan seorang idol.

“Kau tak perlu repot-repot. Red Velved bahkan belum debut di Jepang. Aku  belum setenar itu.”

“Red Velved memang belum terkenal, tapi kau tahu EXO sudah menjelajah di berbagai negara. Tidak ada yang tidak mengenal kami walaupun di kutub utara sekalipun.”

Aku memutar bola mataku jengah. Benar-benar menyebalkan bukan? Oh ayolah, EXO belum seterkenal Michel Jakson. Jika ada yang mengenalnya di kutub utara pastilah itu sekawanan beruang kutub yang mengincar daging-daging mereka.

Lantas Sehun berjalan tepat di sampingku melewati trotar yang menjual aneka jajanan kaki lima. Aku sedikit terharu dengan sikapnya kali ini. Dia benar-benar membatalkan makan di restoran berkelas itu demi mengikutika. Ya, perbuatannya yang itu memang patut kuancungi jempol. Namun gara-gara perbuatan itu juga, sikap pelitnya semakin menjadi-jadi. Dia menolak memberikanku makanan yang aku suka sebagai gantinya aku di suruh mencicipi sampel-sampel makanan yang di sediakan pedagang tanpa membayar. Benar-benar menyebalkan bukan?

“Kau sudah kuajak makan di tempat berkelas dan kau menolak. Sekarang rasakan sendiri resikonya seperti apa.” Gerutunya yang sambil mencomot makanan yang lagi-lagi hasil sampel. Aishhh… aku benar-benar malu mengajaknya. Ibu pedagang itu sampai menatapku tajam sehingga mau  tidak mau aku pun membeli makananya juga. Dan Sehun tentulah langsung merebut makanan yang baru ku beli itu, memakannya semua tanpa menyisakan untukku.

“Hei lihat itu sepertinya lucu.” Tiba-tiba saja Sehun menunjuk sebuah gantungan kunci berbentuk boneka kucing yang dipasang salah satu penjual. Aku pun berpendapat demikian. Itu sangat lucu.

“Wae, kau mau menyuruhku membelikannya untukmu, lebih baik aku pulang saja?” Kataku sinis dan langsung berniat meninggalkannya. Namun tiba-tiba saja pria itu menarik bajuku higga membuatku tertahan.

“Kemari.” Pria itu tiba-tiba menggeretku agar berdiri sejajar di sampingnya. Diambillah sebuah gantungan kunci itu lalu dia kaitan pada risleting tasku. “Aku hanya membalas dendam soal makanan saja.” Ujarnya lantas memberikan beberapa uang pada penjual itu.

Kini baru kusadari sebenarnya dia bukanlah tipikal pria yang sangat perhitungan. Buktinya dia bisa bersikap manis kepadaku. Untuk alasan mengapa dia membelikanku gantungan kunci berbentuk kucing karena dia pikir itu cocok dengan baju doraemon yang diberi Xiumin Oppa. Mungkin jika nanti aku memakai baju bergambar berlian, akan kupaksa dia memberikan berlian untukku pula hahaha.

“Kajja kita pulang!” Ujarnya mengajakku pulang. Dia merahi pundakku dan menuntunku untuk kembali pulang. Sejujurnya aku sendiri tak ingat tentang jalan yang barusan aku lewati. Kuikuti kemana langkah kaki itu pergi. Namun hanya sampai beberapa langkah, sebuah suara teriakan seorang wanita tiba-tiba menghentikan kami. “Oh Sehuunnn…!!!”

Kami menoleh bersamaan, tapi dengan cepat wanita itu tiba-tiba memeluk Sehun erat.

-o0o-

Siapa sih gadis itu? Apa maksud kedatangannya yang langsung memeluk Sehun dan mengajaknya menjauh. Memangnya apa yang mereka bicarakan sampai-sampai mereka tidak ingin aku mendengarnya.

Kulihat wajah gadis itu dari jauh. Ada garis-garis seperti keturunan orang  jepang namun dia berbicara menggunakan bahasa korea. Dibanding denganku, wajahnya memang sedikit lebih mudah, hanya saja kulitnya sedikit lebih gelap untuk seukuran orang jepang. Dengan pakaian yang sedikit terbuka seperti itu, aku yakin Sehun pasti menikmati pemandangan gratis hingga dirinya lupa bahwa aku masih disini.

Hampir setengah jam berlalu obrolan mereka ternyata belum usai. Apa-apaan mereka. Andai saja aku ingat jalan kembali ke hotel sudah pasti aku akan meninggalkan mereka berdua. Aku curiga Sehun menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam padaku. Jika dipikirnya usaha ini akan membuatku kesal setengah mati, maka hal itu sudah berhasil.

“Maaf sudah menunggu lama.” Sebuah suara yang sudah jelas suara siapa telah mengurangi  sedikit rasa kesalku padanya. Ya, setidaknya aku tidak menunggunya sampai ber-jam-jam dan menjadi obat nyamuk disini. “Kajja kita pulang.”

“Siapa dia?” Tanyaku acuh berusaha memyembunyikan rasa penasaranku padanya.

“Mantan.”

Mantan? Mantan katanya? Begitu mudahnya dia mengatakan bahwa gadis itu mantannya sedangkan dia juga sempat marah hebat saat mendengar kabar bahwa Suho Hyung adalah mantanku.

“Maksudku mantan teman sekelasku.” Sambungnya tersenyum. Ah, benar-benar sialan, dia memang ingin mengerjaiku rupanya.

“Kelihatannya dia suka padamu yah?” Kataku memancing.

“Tentu saja. Hanya wanita bodoh yang tidak menyukai pria tampan sepertiku.” Sekilas dia melirikku seolah-olah berkata bahwa akulah wanita bodoh yang di maksud, “Ya… dia dulu pernah suka padaku sih, hanya saja aku tidak menyangkah bahwa sekarang dia secantik ini.”

Aku memutar bola mata jengah, “Begitu…? Yah… tadi Suho Oppa juga sempat menghubungiku sih,  katanya dia juga ada di Jepang dan berniat menemui kita jika ada waktu.”

“Heeeii… sebenarnya apa yang membuatmu tak bisa berpaling padanya?”Katanya sedikit berteriak.

“Aniyo… mungkin uangnya yang lebih banyak dari uangmu.” Kataku lantas meninggalkannya yang terpaku tak percaya.Rasanya lucu jika sudah melihat ekspresinya saat itu. Sebenarnya tentu itu hanya akal-akalanku saja untuk menggodanya. Melihatnya perperilaku sok tampan dan sering menebar pesona tentu membuatku muak. Sekalipun hubungan ini tak ada apa-apanya rasanya kesal saja jika melihat teman hidupmu melakukan itu.

Karena hari sudah malam, kita lantas kembali ke hotel. Masih ada sisa dua hari untuk paket bulan madu ke Jepang ini. Dan aku tentunya tidak mau repot-repot memikirkan kemana aku akan pergi besok. Sehun lalu mengantarku ke kamar, lebih tepatnya kamarku sendiri karena aku memesannya dengan uangku. Sementara kamar Sehun sendiri terletak tepat disamping kamarku.

“Gomawo sudah mengajakku keluar malam ini.” Kataku tulus, sekalipun perjalanan kali ini tergolong kurang menyenangkan bagiku. Sehun sepertinya tak menanggapi ucapanku. Matanya menatap lurus ke depan membuatku waspada.

“Irene-ah, apa ini benar-benar kamarmu?” Tanyanya.

“Nde, kau yang memesankan untukku bukan?”

“Benar hanya saja aku tidak sadar pegawai hotel itu memberi nomor kamar yang seperti ini.”

“Kenapa memangnya?”

“Kau tahu bukan Nomor 666 adalah nomor setan. Angka itu dianggap sebuah angka keramat di Jepang. Masyarakat Jepang percaya jika seseorang dengan sengaja menggunakan angka itu, entah itu untuk nomor kamar, nomor telepon dan sebagainya maka orang itu akan didatangi roh gentayangan dan terkena kutukan.” Katanya yang lantas membuatku tertawa.

Apa katanya? Nomor setan? Terkena kutukan? Ya tuhan beri aku kekuatan untuk menghadami suami bodohku ini.

“Kau pikir aku percaya Oh Sehun, mana ada hantu di zaman modern begini hahaha?”

Sehun sepertinya terlihat kesal dengan ulahku saat ini, “Aku hanya memberitahumu, terserah kau mau percaya atau tidak?”

“ Sudahlah, aku tahu taktik busukmu. Kau sengaja memberi tahuku soal cerita seram agar aku ketakutan dan akhirnya pergi ke kamarmu bukan?”

“Hei bukan it…-

“Yayaya… tak perlu beicara lagi Selamat tidur Oh Sehun yang licik. Brruukkk!” Kututup pintu itu tepat di depan mukanya sekaligus menertawai cerita bodohnya itu dari balik pintu. Dibanding takut dengan cerita setan semacam itu, aku lebih takut dengan raja setan yang saat ini menjadi suamiku. Dan bagiku tidur di kamarnya sama saja menyerahkan diri ke nerakanya.

Ah sudahlah, tak usah dipikir lagi. Sekarang adalah saatnya tidur setelah menjalani aktifitas yang sungguh melelahkan. Segera aku melompat ke kasur empuk itu, rasanya benar-benar nyaman. Ini adalah pertama kalinya aku bisa tidur sendirian tanpa Sehun di sampingku.

Namun seketika mataku mendadak terbuka. Benarkah aku sedang sendirian sekarang? Dikamar yang seluas ini?Ah tidak, ayolah Irene, kenapa kau mendadak penakut seperti ini. Kamar ini tidaklah lebih besar dari dorm Red velved, tidak lebih besar dari tempat latiha Red Velved juga tidak lebih besar dari rumahmu. Jadi tidak seharusnya aku mendadak takut begini.

Sebisa mungkin aku mencoba memejamkan mata, tapi pkiran itu terus berputar di kepalaku. Bagaimana dengan angka setan, roh gentayangan yang Sehun ceritakan. Lalu kenapa ada suara seperti itu di hotel yang semahal ini? Dan langkah kaki siapakah yang berjalan di tengah malam seperti ini? Sudahlah tidak ada cara lain, bergegas aku mengambil selimut dan keluar dari kamarku saat itu juga.

“Oh Sehuuunnn…. Tolong buka pintunya…!” Brok brok brook!!! Aku mengetuk pintu kamar Sehun sekeras mungkin. Berharap pria itu keluar secepat mungkin.

“Oh Sehuuunnn… buka pintunyaa!!!” Teriakku sekali lagi. Bisa kurasakan suara derap langkah kaki itu semakin mendekat. Dimana sih orang ini. Kenapa lama sekali membukakan pintu untukku, “Sehunaaa, jebal…!”

Kataku sudah hampir menangis. Jika benar terjadi apa-apa padaku, aku bersumpah akan membunuh orang ini. Kurasakan semua bulu kudukku mendadak merinding. Aku tak tahu apa ini, entah orang yang berjalan di belakangku itu manusia atau setan. Aku benar-benar tak mau melihatnya. Dan tiba-tiba saja kurasakan sentuhan itu terarah pada pundakku, “SEHUUNNN… AKKKHHH!!!!!!!”

-o0o-

Sehun POV

Dan beginilah nasibku sekarang. Tidak di Korea tidak di Jepang selalu aku yang mendapat tidur di bawah sedangkan gadis ini tidur di atas ranjang. Selamanya keadaan ini tak akan pernah berubah selama proposal ini tidak diakhiri. Tadi Irene menggedor-ngedor pintu kamar layaknya orang kesetanan. Dia bilang dia sebuah langkah kaki telah mengejarnya dari tadi tapi begitu di lihat ternyata itu hanyalah pegawai hotel yang sedang shift malam.

Aku pun hanya bisa tertawa puas melihatnya.Dia lantas memohon-mohon tidur di tempatku walaupun sebelumnya dia menolak mentah-mentah. Baru kusadari kepalanya saja yang besar namun nyalinya sekecil krikil.Bahkan demi permohonannya itu dia rela tidur di bawah dan menyuruhku tidur di atas. Tapi pikirku pria macam apa yang membuat istrinya tidur di bawah.

“Sehunaa…” Pangilnya lirih.

“Apa?”

“Jangan tidur sebelum aku tertidur.” Katanya memerintah. Cih… memangnya dia siapa menyuruhku tidak tidur sebelum dia tertidur. Lebih baik jika kita tidur bersama-sama bukan?

“Sehun-ah, kau mendengarku tidak…??”

“Iyaaa… aku mendengarmu sekarang tidurlah!” Jawabku singkat yang sebetulnya adalah aku sama sekali tak peduli dengan ucapannya seperti dia tak peduli dengan semua ucapanku. Aku hampir saja memasuki dunia mimpi namun gadis itu berkata lagi.

“Sehun-ah, kau bisa mendongeng tidak, mendongenglah untukku.”

“Aishhh… aku sedang malas berbicara kenapa kau mengajakku bicara terus sih????”

“Ini semua salahmu. Aku yang awalnya menakut-nakuti dengan cerita bodohmu itu. Jika kau tidak bicara tadi aku pun sudah hidup dengan tenang tahu…!!!”

“Itu karena kau saja yang terlalu penakut!”

“Kau yang membuatku jadi penakut sekarang.”

Dan pertengkaran malam ini kembali terjadi. Aku yang sebenarnya sudah mengantuk mendadak rasa kantuk itu hilang saat dia mengajakku berdebat lalu menjawabnya dengan komentar-komentar yang tidak penting. Namun pada akhirnya akulah yang selalu mengalah untuknya. Sudah kubilang, kepalanya itu sekeras batu.

“Baiklah-baiklah, aku akan mendongeng untukmu.” Ujarku mengakhiri perdebatan kami. Dia tersenyum simpul dan mengganti posisinya ke ujung tempat tidur agar bisa melihatku.

“Dahulu kala, hiduplah seorang putri.”

“Putri yang cantik dan juga baik hati….” Sambungnya.

“Ya, kau benar. Putri yang cantik juga baik hati. Karena itu banyak pangeran dari negeri seberang yang…-

“Pangeran-pangeran tampan yang ingin melamarnya. Aku benar bukan?” Gadis itu menyelah lagi.

“Kalu begitu kau saja yang cerita.“

“Ah, tidak-tidak kau saja yang melanjutkannya.” Gadis itu seketika meringkuk di atas tempat tidur. Memainkan ujung bantal sambil menatap wajahku yang mulai bercerita.

“Salau satu pangeran yang wajahnya di luar standar ingin melamarnya. Namun Sang putri ingin memberikan syarat yang sangat berat. Yakni supaya pangeran itu membuatkan 1000 istana untuknya dalam waktu semalam.”

“Hah… apa Sang Putri termasuk wanita yang gila harta.”

“Ya begitulah. Kau tahu apa yang terjadi pangeran itu pun akhirnya berhasil membuatkan istana untuk Sang Putri. Hanya saja ketika dihitung, jumlah istana itu hanya 999 saja. Sang Putri pun akhirnya menolaknya. Karena kesal Sang Pangeran itu pun mengutuknya hingga menjadi batu.”

Aku mengakhiri ceritanya dan kulihat wajah gadis itu masih terbengong-bengong atas apa yang barusan ku ucapkan. “Apa cerita itu fiktif atau benar-benar ada?”

“Molla, aku hanya tahu kalau cerita itu dari Indonesia. Kau tahu apa kesimpulannya?”

“Apa?”

Segera aku berdiri menghampiri tempat tidurnya. Aku menarik selimutnya hingga selimut itu menutupi tubunya hingga sempurna. “Tidurlah sekarang jika kau tidak mauku kutuk  menjadi batu.”

“Aishh… kau kan belum mengatakan itu fiktif atau tidak?”

“Beberapa hal fiktif bisa menjadi nyata jika kau mempercayainya.” Kulihat Irene mengangguk setuju dengan senyum yang terkembang dibibirnya. Sebelum dia benar-benar memasuki alam mimpi aku pun membisikkan sesuatu,

“Tidurlah, aku akan menunggumu hingga kau tertidur.”

-o0o-

Irene POV

Seberkas sinar matahari yang terpantul pada kaca-kaca ruangan seketika membuatku terbangun dari tidur. Ini sudah pagi namun kulihat jam di dinding masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. Itu berarti harusnya aku tidur satu jam lagi menilik kebiasaan di Korea yang bangun setiap pukul 08.00.

Namun samar-samar, sebelum kulanjutkan tidurku aku mendengar suara pria itu, Oh Sehun, sedang mengobrol lewat telepon.

“Nde, aku sudah melakukannya Hyung…. Haruskah aku menceritakan detailnya…. Ya tentu saja itu rahasia…. Kalau kau ingin tahu rasanya mengapa tidak kau cari istri sendiri saja…. Hyaaakk hentikan Hyung aku tidak mau membahasnya lagi…. Baiklah aku tutup teleponnya.”

Bluukk!!!Sebuah bantal sengaja aku lempar dan tepat mendarat dengan mulus mengenai mukanya.

“Oh Sehun… apa yang kau lakukan padaku?” Tanyaku sedikit menggeram. Salah satu tanganku menggenggam bantal lagi mengantisipasi apa yang akan terjadi.

“Eh kau sudah bangun… Bagaimana tidurmu, nyenyak?” Dia berkata dengan sedikit cengengesan. Tak seperti biasanya jika dia akan langsung marah jika aku melakukan hal itu padanya. Tapi melihat ekspresinya yang tidak biasa kali ini membuatku yakin bahwa dia…

“KATAKAN APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU SEMALAM OH SEHUUUNNN… BLUKK  BLUKK  BLUUK!!!” Kataku berteriak sambil memukulkan bantalku padanya.

“Heeiiii Hentikan… apa kau sedang kesurupan Irene-ah??”

“CEPAT KATAKAN APA YANG KAU PERBUAT KEPADAKU SEMALAM????”

“Melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun???”

“Lalu yang kau bicarakan dengan Hyung-mu?”

Sehun menatapku penuh selidik. Seketika bibirnya membentuk senyum evil yang demi tuhan itu adalah senyum yang paling ku benci seumur hidupku. “Ooo… jadi kau benar-benar tak sadar kita melakukan apa semalam?”

“Ap-apa??”

“Kita bahkan sudah setengah jalan….” Dia menatapku intens dengan kedua tangan yang digerak-gerakkan seolah-olah kita benar…

“HEI HEII APA YANG KAU LAKUKAN, KAU MAU MEMBUATKU MATI YAH???” Dia berteriak keras saat kututupi mukanya dengan bantal. Ya benar aku benar-benar ingin membunuhnya jika dia melakukannya di luar kesadaranku.

“Kau benar-benar menyebalkan Oh Sehun. Awas saja jika kau benar-benar melakukannya.”

“Ah, sudalah. Kau memang gadis kurang ajar. Aku bisa mati kalau di sini terus.” Katanya sebelum dia bergegas meninggalkan kamar sendirian. Tak urung aku pun penasaran kemana dia akan pergi, “Oh Sehun, kau mau kemana?”

“Pergi. Tenang saja, pagi-pagi begini tidak ada hantu yang terlihat.” Katanya lalu menutup pintu.

Sial. Aku benar-benar sendirian sekarang. Aku merasa sedikit menyesal tentang apa yang ku lakukan kepadanya tadi. Jika dia benar-benar melakukannya, sudah pasti aku benar-benar merasakannya kan? Ya pada dasarnya aku yang terlalu bodoh jika menerima bualan tidak bermutunya itu.  Lama ku terdiam sampai akhirnya aku memutuskan untuk kembali tidur. Namun sedetik kemudian aku terkejut dengan adanya sebuah kotak dan setangkai mawar di atas meja. Aku membuka kotaknya dan menemukan sebuah kalung berliontin sebuah gembok. Untuk ku kah kalung ini? Di dalamnya  tidak  ada sebuah note atau tulisan yang tertuju padaku. Hanya saja aku benar-benar yakin jika kalung ini untukku. Hahahaha rasanya aku ingin tertawa. Apa ini benar-benar Oh Sehun. Rasanya ini berbeda dengan Sehun yang ku kenal. Jika kebetulan tadi pagi dia membahas soal ini dengan Hyung-nya tentunya aku tak akan semarah ini.

“Kajja, kau sudah siap?” Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan lamunanku. Kulihat dari ujung Sehun sudah berdiri gagah dengan kameja peach lengkap dengan masker kacamata dan alat penyamarannya.

“Ka-kau mau kemana?”

“Aku meninggalkanmu tadi supaya kau cepat-cepat mandi dan bersiap-siap. Kenapa kau malah mematung seperti orang bodoh disini….!!!!” Katanya naik pitam.

“Oh baiklah-baiklah.”

-o0o-

Rupanya kali ini Sehun mengajakku ke Disney Sea, sebuah taman bermain yang sangat terkenal di Jepang. Aku benar-benar senang. Sebenarnya aku memang suka ke tempat taman  hiburan yang di dalamnya menyediakan aneka wahana-wahana seru. Selain itu di Disney Sea, aku juga dapat melihat laut dan juga gunung fuji yang berdiri kokoh.

Tanpa rasa sabar aku pun segera mencoba berbagai wahana yang di tawarkan dari tempat ini. Mulai dari  bianglala terbesarnya, komidi putar, wahana bawah tanah,  dan terakhir adalah jet coaster yang dimana itu adalah salah satu jet coster tertinggi di dunia. Tentunya itu sangat memacu adrenalin semua orang yang mencobanya. Hanya saja aku tidak sadar bahwa Sehun adalah sosok yang… yah katakanah payah dalam hal begitu. Sepanjang kereta itu meluncur dia terus menerus berteriak layaknya orang gila.Teriakannya hampir menyerupai wanita melahirkan saja. Sampai saat kereta itu mendarat Sehun pun masih berteriak kencang dan langsung memuntahkan semua isi perutnya.

Setelah tragedi Jet Coster, Sehun benar-benar kesal padaku dan tidak mau naik wahana lagi. Dia mengataiku bahwa aku wanita alien yang tidak mempunyai rasa takut. Sehun mabuk berat setelahnya, dan sebagai istri eh maksudku partner yang baik tentunya aku harus setia di sampingnya. Ah dasar payah. Jika dia bilang nyaliku sekecil kerikil maka akan aku bilang bahwa nyalinya sendiri sekecil pasir.

“Irene-ah, cepat foto aku.”  Katanya ketika keadaannya sudah mulai membaik.

“Memangnya apa yang mau kau foto dari keadaanmu yang tertutup begini?” Balasku mengingat gaya busana kami yang sudah menyerupai teroris. Jaket hitam, topi hitam, kaca mata hitam juga masker hitam. Itu dilakukan agar tidak ada fans yang mengenal kami.

“Tak masalah. Yang penting aku masih terlihat tampan, eh ayo foto denganku.” Dan dia langsung menarik tanganku untuk berfoto selfis dengannya. Benar-benar pria aneh. Lebih aneh lagi karena aku menuruti kemauannya.

“Oh Sehun lihat ada anak kecil.” Kataku menyadari ada anak laki-laki kecil yang berusia sekitar 5 tahun. Dia menarik-narik ujung pakaianku dan seperti meminta pertolongan.

Anatahadare?” Sehun bertanya dengan bahasa Jepang yang artinya siapa kamu.

“Eomma-eomma….” Rupanya anak itu berbicara bahasa Korea. Apa dia sedang tersesat dan berusaha mencari ibunya?

“Kau mencari eomma-mu, dimana dia?” Kataku sedikit menunduk.

“Tadi eomma disini. Dia disini tadi….” Katanya hampir menangis. Mungkin dia tak mengerti bahasa Jepang, begitu dia tahu aku dan Sehun berbicara bahasa Korea, dia pun memutuskan meminta tolong pada kita.

“Baiklah, ayo ikut aku, eonnie akan membantumu mencari eomma.” Kataku namun tiba-tiba Sehun menarik tanganku seolah-olah tidak setuju jika aku membantunya.

“Apa kau berpikir kita akan membantu dia? Kita bahkan tidak kenal siapa dia, tidak usah berlagak menjadi pahlawaan.” Katanya sedikit berbisik.

“Lalu, kau ingin aku meninggalkan disini saja. Dimana hati nuranimu Oh Sehun!”

“Aishhh… kau ini, Baiklah kita bawa dia ke pusat keamanan saja, biar petugasnya saja yang mengurus.”

“Tidak mau, aku ingin mencari ibunya.” Kataku keras kepala. Membuat anak itu tersenyum senang dan mengulurkan kedua tangannya ke arahku minta ku gendong. Melihat badannya yang sedikit berisi untuk anak seusianya, membuatku merasa sangsi. Dan benar saja, jangankan menggendongnya, mengangkatnya saja akupun tidak kuat.

“Sudahlah biar aku saja.” Sehun tiba-tiba menyelah dan langsung mengangkat anak itu di gendongannya. Membuat anak itu merasa senang dan tertawa-tawa saat Sehun mengangkatnya di puncak kepalanya. Sementara aku mengikutinya di belakang.

“Katakan pada Hyung, siapa namamu?” Tanyanya.

“Namaku Oh Sehun.” Jawaban polos namun langsung membuat mataku dan Sehun bertatapan.

“Jinja, namamu benar-benar Oh Sehun??”

“Eo… kata eomma dia memberi nama itu agar nanti aku bisa menjadi namja yang tampan.”

Hueekkss! rasanya aku ingin muntah. Tidak diragukan lagi jika eomma anak itu adalah fans beratnya. Sehun menatapku sedikit dengan gaya yang arogan. Seolah-olah membenarkan perkataan anak kecil itu. “Wah… eommamu pasti mengidolakan boyband yang sangat terkenal itu yah?”

“Molla?” Jawab anak itu yang semakin bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang Sehun lontarkan.

“Katakan pada Hyung, apa eommamu sangat cantik?”

“Nde dia cantik. Seperti noona ini.” Perkataannya seketika membuat pipiku merona. Baru sekecil ini saja Oh Sehun junior sudah ahli dalam menggombali wanita bagaimana jika dia dewasa nanti. Jika nanti aku bertemu eommanya akan kuberitahui bahwa keputusan memberinya nama Oh Sehun adalah salah.

“Baiklah karena kau mengatakan noona ini cantik bahkan sebelum kau melihat muka aslinya, hyung akan membelikanmu ice cream.”

“Benarkah Hyung, Asssyyyiiikkkk…!!!” Sehun segera menurunkan anak itu ke tanah. Lalu di ajaknya anak itu ke gerai ice cream terdekat dan membelikannya ice cream seukuran jumbo. Terlihat sekali bahwa Oh Sehun junior merasa sangat senang. Mereka berdua tertawa bersama-sama dan itu membuatku merasa sedikit… aneh.

Aku tak pernah menyangkah jika Sehun bisa sedekat ini dengan anak kecil. Padahal kupikir Sehun benar-benar membawa anak itu ke pusat keamanan. Dugaanku ternyata salah. Dia mengantar anak itu ke tempat-tempat terakhir bersama eommanya tadi, meskipun tidak ada hasil. Jika anak itu mulai menangis maka dia akan mengusap air matanya dan menggendongnya seperti anaknya sendiri. Sangat manis.

“Eommaaa…..!!!” Anak itu tiba-tiba berteriak dan berusaha melepas dari gendongan Sehun, “Hyung itu eommaku, eommaaa….!!!”

Sosok wanita paruh baya yang berusia sekitar hampir tiga puluhan tiba-tiba mendekat ke arah kami, “Sehunnn…. Oh Sehun anakku, kemana saja kau nak, eomma kawatir denganmu.”

Keduanya lantas berpelukan erat. Kulihat Eomma anak itu mengusap sisa-sisa air mata yang masih melekat erat di wajahnya, “Bagaimana keadaanmu nak, kau tidak apa-apa?”

Dia menggeleng dan menunjuk kami berdua, “Hyung dan Noona itu telah membantuku eomma.”

“Arigato Gozaimasu, karena menyelamatkan anakku. Aku sama sekali tak bisa berpikir jika sesuatu terjadi padanya.”

“Gwanchena, anak anda sangat manis, lain kali hati-hati jika membawanya.” Ucap Sehun tulus. Begitupun denganku yang tersenyum kepada eomma itu.

“Hyung kemarilah.” Oh Sehun junior menyuruh Oh Sehun senior untuk menunduk. Saat itulah dia terlihat membisikinya sesuatu. Aku tidak bisa mendengarnya karena bisikannya tidak begitu jelas. Dan semakin membuatku penasaran saat Sehun menatapku senyam-senyum sendiri begitu mendengarkan bisikannya.

Begitu Sehun kembali berdiri, hal naas tiba-tiba terjadi. Kacamata yang digunakan Sehun terjatuh sehingga terlihatlah jelas wajahnya saat ini. “YA Tuhan Sehun EXO???” Pekik eomma anak itu yang langsung mengundang beberapa pengunjung lain.

Dalam sekejap semua pengunjung yang kebanyakan wanita langsung mengejar kita. Spontan Sehun menarik tanganku membawaku untuk berlari bersamanya. Sial! Benar-benar sial. Harusnya kejadian ini tidak terjadi padaku hari ini. Ibu anak itu harusnya tidak perlu memekik berlebihan melihat Sehun. Tak tahukah jika dirinya sedang berhutang budi karena kita yang menolong anaknya?

Nafasku mulai berat dan aku benar-benar tak kuat berlari lagi. Sementara itu di belakang kita sudah ada puluhan wanita yang mengejar sekaligus meneriaki namanya. Aku benar-benar sial. Nama Sehun yang diteriaki harusnya aku tak perlu berlari.

“Sehuunnn… aku capek!” Rintihku lemah.

“Ayolah jangan berhenti Irene-ah, kau mau mati disini?” Tanyanya yang begitu sangat menyebalkan. Dia semakin cepat saja mengajakku berlari. Sungguh aku benar-benar tidak kuat. Mau mati rasanya.

Sementara itu pasukan wanita-wanita gila itu semakin gencar mengejar kita. Bahkan salah satu dari mereka ada yang berhasil menarik sweaterku dan syukurlah aku berhasil menggelak. Karena kejadian itu aku menjadi sadar bahwa salah satu tanganku tidak ada yang menompang. Kedua tanganku bebas dan kulihat Sehun telah berlari jauh dariku. Layaknya tidak percaya dengan tindakan apa yang dia lakukan aku pun berdiri mematung.

Para wanita gila itu berlari melewatiku karena memang bukan aku target mereka. Salah satu dari mereka ada yang sempat menatapku sekilas namun akhirnya pergi juga mengejar idolanya. Ah sudahlah, mungkin itu adalah salah satu taktik Sehun untuk menyelamatkanku. Dan yang harus kulakukan adalah tetap menunggunya disini.

-o0o-

Sehun POV

Hampir setengah jam aku berlari. Sampai akhirnya aku pun bersembunyi di balik semak-semak berharap dengan begitu para fans-fans ku akan kehilangan jejakku dan tidak mengejarku lagi. Barulah menunggu sekitar lima belas menit aku keluar dari tempat persembunyian dan menukar bajuku dengan Bapak-bapak tua penjual balon yang kebetulan lewat disampingku. Ini ku lakukan agar penyamaranku tidak muda di ketahui karena kadangkala fans-fans ku itu terlalu pandai melebihi  dari diriku sendiri.

Aku tidak mempedulikan bau baju ini yang sungguh membuat hidungku berteriak. Karena yang terpenting dari semua ini adalah bahwasahnya aku selamat. Ya aku selamat. Namun baru kusadari selamat saja belum cukup karena ada satu orang yang belum kusadari sekarang nasibnya bagaimana. Irene….

Bergegas aku mengambil ponsel dari dalam sakuku, menghubunginya serta menanyakan dimana keadaannya. Tidak diangkat. Ku coba lagi berkali-kali namun hasil tetaplah sama, tidak diangkat. Apa mungkin dia tidak membawa ponselnya?Aisshhh… ini benar-benar membuatku gila.Kemana dia? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja?

“Hallo, Wendy?” Tak berhasil menghubunginya, aku pun mendapat ilham untuk menghubungi Wendy saja. “Ehm… kau tahu dimana Irene?”

“Kau ini bicara apa? Bukankah dia bersamamu???” Katanya yang kontan naik darah.

“Yah… dia memang bersamaku tadi, hanya saja…-

“Oh Sehun, jangan bilang jika Irene menghilang?”

“Yaaahhh… dia memang menghilang maksudku, aku sudah menghubungi ponselnya dan dia sama sekali tak menjawabnya.”

“Oh Sehuuuuunnnnnn…. Apa kau gila? Bagaimana mungkin kau menghilangkan istrimu sendiri? Mengapa kau bodoh sekalih sih, Irene itu sama sekali belum mengenal Jepang. Bagaimana jika hal buruk terjadi pada…-

KLIK! Langsung kututup pembicaraan itu secara sepihak. Sebuah keputusan salah jika aku bertanya padanya. Baiklah, aku akan mencari sendiri keberadaannya. Segera kuberbalik arah menuju tempat tadi. Dan hasilnya membuatku menyesal karena tidak ada Irene disana. Aku juga mencari ke seluruh penjuru Disney Sea, namun masih tidak kutemukan perempuan yang berpakaian seperti dirinya.

Aissshhh… dimana sih kau Irene? Sampai sore hari aku pun memutuskan kembali ke Hotel. Namun mustahil dia bisa kembali ke sana mengingat dia tidak mengingat jalanan Jepang dengan cukup baik. Aku juga menanyakannya ke petugas resepsionis hotel dan dia sama sekali tak melihat wanita yang ku ciri-cirikan itu.

Aku benar-benar frustasi. Haruskah kulaporkan saja pada polisi? Namun urusannya akan semakin runyam. Apalagi jika media sampai mengetahui berita ini. Sekali lagi aku pun memutuskan untuk kembali ke Disney Sea. Walaupun terlalu jauh jarak menuju kesana, hal itu tak ada apa-apanya dibanding aku harus kehilangan… istriku.

“IRENEEE…!!!!” Teriakku begitu sampai disana. Keadaan malah semakin parah. Taman bermain itu sudah tutup dan hanya ada segelintirr orang yang berlalu-lalang sekarang.

“Ireeennneee kau dimana???” Teriakku sekali lagi. Terbesit perasaan takut jika gadis itu kenapa-napa. Sungguh aku tidak akan bisa memafkan diriku sendiri jika benar terjadi apa-apa dengan gadis itu.

Ireeennneee Anata wa doko ni imasu?” Teriakanku semakin melemah karena perasaan takut yang berlebihan.

Pluk! Kurasakan seseorang baru saja melempariku dengan batuan kerikil mengenai punggungku. Disaat aku menoleh kudapati Irene telah berdiri di ujung jalan dengan ekspresi yang sulit dijelaska.

“Kenapa lama sekali, kau tak tahu yah, aku benar-benar takut disini…!!!” Katanya lantas menangis.

Tanpa banyak kata aku segera berlari kepadanya dan memeluknya erat. Aku bersyukur bahwa benar tak terjadi apa-apa kepadanya, “Minhae, Minhaeyo Irene-ah?”

“Sehun… aku takut….” Katanya merintih. Aku sama sekali tak mampu berkata apa-apa. Membayangkan dia yang sendirian, ketakutan dengan bekas air mata yang masih nyata di wajahnya. Aku benar-benar tak bisa membiarkan hal ini terjadi lagi.

Kuberanikan diri untuk merengkuh wajahnya dan menciumnya dengan lembut. Apa yang kulakukan ini adalah ekspetasi bahwa aku benar-benar takut kehilangannya. Terserah jika setelah ini dia akan menamparkau atau tidak. Namun yang terjadi Irene justru membalas ciumanku. Dia mengalungkan tangannya di leherku dan membalas sama lembutnya denganku. Membuat darahku seketika  berdesir dan jantung berdetak dengan keras tak terkendali.

Aku membuka mata dan menatap gadis itu. Disaat tatapan kami bertemu barulah dia secara respek menyudahi ciuman kami.

“Min… min… minhae….” Katanya yang langsung memalingkan muka. “Aku hanya terbawa suasana akting.”

Aku hampir tertawa mendengar alasannya. Sejak kapan dia masuk dalam dunia seni peran. Dan akting, benar-benar alasan yang bodoh bukan?

“Kau tida dengar yah, tadi sutradara bilang cut itu artinya kita harus mengulangi adegan kita lagi.” Kataku menggoda. Seperti biasa dia langsung naik pitam.

“Heh Oh Sehun, kau pikir kau siapa? Kau berani bayar berapa sampai-sampai menyuruh mengulang adegan?”

“Berapapun yang kau inginkan. Ayolah kita harus mengulang kembali karena itu akan menaikkan rating drama kita.”

“Hyakkk Oh Sehun jangan mendekat… Jangannnn mendekaaaattttt!!!”

Tbc

Jangan mendekat Oh Sehun… Jangan mendekat ke Irene mendekat ke aku saja

*hahaha #authorsomplak

Sebelumnya maksih udah menyempatkan diri untuk baca cerita GeJe plus Random ini. Sejujurnya aku sangat terharu dengan komentar di chapter 1 yg kemarin. Ya lumayan banyak sih, lumayan ngisih semangat buat author baru kayak aku. And well karena aku author yg tergolong baru mohon kasih kritik saran bila ada kesalahan kata atau keanehan ide dari awal hingga akhir. Gomawo…

Advertisements

2 thoughts on “[Freelance] Proposal Married (Chapter 2)”

  1. Annyeonghaseyo. Gue mau komen dichapter 1 tapi gak bisa. Jadi gue komen dichapter ini. Gue ngerasa ff ini bagus. Gue bener2 dapet feelnya. Dn gue rasa ff lu jini udah lumayan baik. Entah itu dari segi cerita, penulisan dan kata. Gue emang cuma readeer tapi gue juga bnyak baca ff yang bagus jadi gue sdikitnya tau. Dan karna gue lihat ini terkhir post bln juli, gue harap dibulan oktober ini lu lqnjutin tulisan lu. Gue akan simpen alamat ini di daftar ff gue

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s