The Little Mermaid

Parkhyunraa story

.

Oh Sehun X Son Seungwan

.

Fantasy || Romance

.

General

.

Hatinya adalah lautan

Dan lautan adalah hatinya

Note: kayaknya ini cerita panjang:v
-baca author note juga ya
.
.
.

Laut tampak sangat tenang hari ini.
Ombak memang masih bergulungan dan saling kejar di sana. Tapi laut tetap terasa sangat bersahabat hari ini. Dan itu membuat para nelayan senang bukan main.
Mungkin laut sedang memiliki mood yang baik.

Suara merdu itu mengalun lembut di dasar laut sana.
Ikan ikan berkumpul di sana untuk mendengar suara Indah itu. Bahkan arus air serasa melambat. Mungkin mereka juga ingin mampir sebentar untuk mendengar suara Indah itu.
Tumbuhan laut dan anemon juga nampak meliuk liuk pelan, seperti berdansa dengan arus. Mereka bergerak seirama dengan nyanyian indah itu.
Biota laut di sana nampak sangat bahagia dengan hiburan gratis ini.

“Hah.. berapa kali lagi aku harus bernyanyi?”

Entah pada siapa orang itu bertanya. Para ikan? kerang? kepiting? bintang laut? kuda laut? Atau pada plankton kecil yang tak kasat mata?
Entahlah. Mereka memang mendengarkan, tapi mereka tak bisa menjawab.
Mungkin jika para biota laut itu bisa menjawabnya, mungkin mereka akan meminta agar orang itu bernyanyi selamanya.

Ya, ketika orang itu bernyanyi dengan senang seperti ini, laut seisinya akan sangat tenang. Para ikan, kerang, bintang laut, kuda laut, dan bahkan ombak, akan sangat senang mendengar nyanyian indah yang mengalun di seluruh lautan.
Dan laut seisinya juga akan meraung saat orang ini menangis.
Ombak dan ikan juga tak dapat menyembunyikan kesedihan nya saat melihat satu saja air mata yang terjatuh dari mata orang itu.

Hatinya adalah lautan
Dan lautan adalah Hatinya.

“Seungwan ah, waeyo? Laut nampak berseri hari ini”

Datang seorang gadis cantik berambut blonde.
Sebenarnya ia tak bisa di sebut ‘orang’
Mereka memang seperti ‘orang’. Memiliki dua mata, satu hidung, bibir, dua tangan, dan sepuluh jari. Hanya saja, kaki nya tak menapak tanah. Sebenarnya itu juga bukan kaki. Apa ya.. mm.. ekor? Sirip?
Ah, molla.

“Jinjja? Aku hanya menjalankan tugasku”

Ayolah, bodoh jika gadis tadi percaya bahwa seungwan baik baik saja.
Senyum yang dari tadi tak pernah luntur itu salah satu buktinya.
Dia tengah bahagia.

“Bagaimana dengan para ikan?”

Terlihat jelas jika kali ini Seungwan tengah mengalihkan pembicaraan yanh akan semakin membuat senyumnya mengembang.
Melihat gadis di depannya yang kini tampak memicingkan mata.
Demi Raja Neptunus, ia benar benar tak dapat menahan senyumnya. Bahkan pipinya terasa pegal sekarang.

“Baik. Mereka sangat senang hari ini. Kami semua sangat terbantu karena kau melakukan tugasmu dengan baik”

Ya, laut yang sangat bahagia hari ini benar benar membantu tugas yang lain.
Yang lain?
Ya, keempat saudaranya dan ‘orang orang’ yang lain.
Mereka yang bertugas menjaga para binatang laut, menjaga keamanan laut, kejernihan laut, dan ketenangan laut.
Tapi, itu semua akan susah jika suasana hati laut sedang buruk. Dan kita tahu siapa si pemilik hati tersebut.

“Apa yang membuat mu sebahagia ini? Padahal kemarin kau membuat badai dan ombak besar”

Jika ditanya apa yang membuatnya bahagia, maka jawabannya adalah ombak itu.
Badai dan ombak besar yang terjadi karena murkaannya pada ayahnya kemarin itu yang membawa kebahagiaan hari ini.

Dia memang membuat ombak besar kemarin. Suasana hatinya benar benar buruk hari itu.
Ia menangis sejadi-jadinya ketika ia mendengar keputusan ayahnya yang akan menikahkannya dengan lelaki berekor kerajaan tetangga.
Tapi ia tidak mau itu. Ayolah, siapa yang mau melepas masa muda hanya untuk melayani suami? Yang jelas itu bukan seungwan.

Hari itu Seungwan berenang entah ke mana. Ia hanya pergi mencari tempat untuk sendiri.
Dan, di sanalah ia melihatnya.
Melihat orang yang membuat nya bahagia hari ini tengah mengambang di tengah laut.
Tenggelam?!
Seungwan yang panik langsung saja membawa orang itu ke daratan.
Berbagai spekulasi muncul di benak gadis berambut merah itu.
Apa dia berniat bunuh diri? Atau dia adalah korban pembunuhan? Atau dia jatuh dari kapal? Atau dia didorong jatuh dari kapal? Dan apa dia mati?

Seungwan bernapas lega saat melihat perut orang itu naik turun meski tak seirama.
Untung saja dia tidak mati. Dia masih bernafas.
Tapi, Seungwan terpaksa harus meninggalkan orang itu sebelum ada yang melihatnya.

Dan setelah itu, untuk pertama kalinya, Seungwan merasakan debaran aneh di dadanya.
Oh, cerita ini terdengar semakin bagus setiap diceritakan kembali.

“Aniyo Sooyoung ah, aku hanya merasa bersalah karena ulahku kemarin, jadi aku membalasnya dengan cara ini”
Sooyoung hanya mengangguk pelan.

Ah.. alasan yang bagus, Seungwan.
Dan kenapa kau percaya saja, Sooyoungie?

“Baguslah kalau seperti itu. Aku akan pergi menemui ayah dulu”

Sooyoung berbalik dan pergi menuju tempat di mana seungwan seharusnya berada.
Ayah?
Seketika hatinya campur aduk. Mengingat keputusan yang ayahnya pilih kemarin.
Tidak. Kenapa harus dirinya? Kenapa bukan keempat saudarinya?
Ia tidak bisa menarima ini. Ia tidak mau menikah dengan putra tunggal kerajaan sebelah itu. hati seungwan tidak mencintainya. Hatinya tak bergetar untuk putra tunggal kerajaan sebelah itu.
Karena hatinya hanya bergetar untuk orang itu.

“Aku tidak bisa merenima pernikahan ini. Aku tidak mau. Aku tidak suka. Astaga, aku bingung sekarang”

Dia kalut dan itu membuat laut sedikit panik.
Apa yang harus ia lakukan?
Ia tak mencintai pangeran tetangga sebelah.
Ia malah menyuka orang yang jatuh ke laut karena ulahnya kemarin.
Bahkan dia tidak tahu siapa orang itu, di mana rumahnya, siapa namanya, dan apa pekerjaannya. Apa mungkin orang itu cuma nelayan?
Tapi, jika dilihat dari caranya berpakaian, ia tak nampak seperti nelayan.
Pakaiannya terasa lembut saat seungwan menyentuhnya, berbeda dengan pakaian orang biasa.
Dia juga sangat wangi untuk menjadi seorang nelayan, berbeda dengan nelayan yang harus berbaur dengan ikan dan tak sempat menyemprotkan parfum.
Kulitnya juga sangat putih, Kontras dengan para nelayan yang selalu berjemur di bawah matahari dari pagi hingga sore.
Rambutnya juga dipotong sangat rapi, persis seperti pangeran dari tetangga sebelah yang akan menikah dengannya. Hanya saja ada satu yang berbeda.
Orang itu memiliki dua kaki.

Uh, seungwan bisa gila jika terus mengingat orang itu. Rasa rindu yang membuncah benar benar tidak bisa ditahan.

“Aku harus pergi ke atas dan menemukan orang itu. Persetan dengan ayah atau pangeran”

Hei! Jangan bodoh. Kau tidak bisa berenang di darat!

“Benar, aku tidak bisa berenang di darat. Dan orang orang juga akan terkejut bila melihat mahluk seperti ku. Aku bisa mati di sana.
Ah, tapi aku sangat ingin bertemu dengannya. Hatiku bisa saja meledak jika tak bertemu dengannya. Ah! Ottokhe?!! ”

Oke, itu berlebihan memang. Tapi itu wajar untuk seseorang yang sedang merasakan jatuh cinta. Apalagi itu jatuh cinta yang pertama untuknya.
Jantung benar-benar berdegup kencang, mulut serasa seperti ingin berteriak, bibir juga tak berhenti tersenyum, dan matapun enggan tertutup, seungwan tidak bisa menahan ini semua.

“Aku harus menemuinya. Dia pasti bisa membantu”

Para ikan dan hewan lain yang tadi menjadi saksi kebimbangan seungwan hanya bisa menatap kepergian gadis berambut merah itu.
Oh, kalau saja mereka bisa berbicara, pasti hewan itu akan berenang secepat kilat untuk bertemu raja dan mengadu kalau salah satu putrinya sedang mencoba kabur dari kehidupannya.


“Permisi, apa ada orang? Soojung-ssi?”

Seungwan celingukan mencari si pemilik rumah dari jendela bulat di dekat pintu.
Kemana si pemilik rumah pergi dan meninggalkan rumahnya dalam keadaan pintu tak terkunci seperti ini?
Apa orang nya di dalam? Apa sebaiknya seungwan masuk saja? Tidak. Itu bukan ide bagus.
Seungwan nampak sedikit ragu untuk masuk ke dalam rumah kecil yang agak antik itu.
Yak, seungwan, apa yang kau lakukan?

“Ooh.. daebak! Bagaimana ia mendapatkan semua ini?”

Aku yakin jika seungwan tau kalau dia lancang. Dia memasuki rumah itu tanpa izin dan kini menyentuh barang barang antik si pemilik rumah.
Mungkin seungwan benar benar sedang bersemangat, hingga ia tidak bisa menunggu lebih dari lima menit di depan rumah yang tak kunjung dibuka pintunya.

“Putri? Astaga, suatu kehormatan kau mau berkunjung ke sini. Ada perlu apa hingga kau bersedia datang kemari?”

Seungwan sedikit terlonjak saat tiba tiba gadis cantik berbaju biru itu sudah berdiri di belakang nya.
Oh, bahkan sekarang ekspresi wajah seungwan terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah.
Ayolah, menyelinap masuk ke rumah orang bukanlah style seorang putri kerajaan.

“Mm.. soojung-ssi, ada sesuatu yang penting”

Kali ini seungwan mengubah ekspresi wajah nya menjadi se serius mungkin.
Seungwan menatap mata gadis kurus dengan rambut hitam panjang di depannya.

“Maukah… kau membantu ku?”

Terlihat sekali ada keraguan yang tersirat di kalimat seungwan barusan. Seungwan takut jika soojung tak mau membantu nya dan malah mengadukan pada ayahnya. Semuanya bisa kacau jika soojung melakukannya.

Soojung diam sebentar.

“Apapun untuk tuan putri”

Desahan lega keluar dari mulut seungwan saat mendengar jawaban dari soojung.
Astaga, dia benar-benar harus berterimakasih pada soojung.

“Apa yang tuan putri butuhkan?”

“Tolong jangan beritahu siapapun jika.. aku.. meminta mantra padamu”

Butuh lebih dari sepuluh detik bagi soojung untuk mencerna kalimat seungwan.
Seungwan yang gusar dengan aksi diam soojung pun langsung menarik tangannya.

“Kumohon. Aku akan memberikan apapun jika kau mau memberiku sebuah mantra dan tutup mulut atas semua ini”

Soojung terkejut ketika seungwan memohon padanya.
Apa kau pernah melihat seorang putri memohon seperti ini? Yang benar saja. Arogansi orang seperti mereka terlalu kepala bahkan hanya untuk menundukan kepala.

“Mantra apa yang putri butuhkan?”

Sebuah mantra adalah hal yang mudah bagi soojung. Asalkan mereka mau menukar mantra dengan barang yang soojung mau, mantra apapun akan soojung berikan.

“Tolong berikan aku.. sepasang kaki”

“Kaki?”

Soojung memang bisa memberikan mantra apa saja asal dibayar. Sepasang kaki juga bukan hal yang sulit untuknya. Tapi, untuk apa putri meminta kaki?

“apa yang akan anda lakukan dengan sepasang kaki itu putri?”

“Aku ingin menemui seseorang di sana”

“Seseorang? Jangan bilang jika—”
“Kumohon sembunyikan ini”

Seungwan tidak bisa menyembunyikan fakta jika ia menyukai seorang anak manusia, hingga ia rela menukar ekornya dengan kaki.

Soojung hanya diam. Apakah ia salah jika harus membantu putri ini kabur?
Apakah ia harus mengadu pada raja jika putrinya ini meminta sepasang kaki?
Tapi, apa untungnya dia mengadu?

“Baiklah. Lalu, apa yang akan putri berikan padaku?”

Seungwan sempat bernafas lega ketika mendengar jawaban soojung, sebelum ia mengingat dan merutuki kebodohannya.
Apa yang akan ia berikan pada soojung? Ia tak membawa benda apapun sekarang. Apa yang akan ia gunakan untuk menukar mantra itu?
Oh, sungguh dia tak mau kembali ke rumah untuk mengambil barang mewah dari kamarnya.

“Soojung-ssi, aku tak membawa apa sekarang.
Umm.. apakah harus kutukar dengan barang? Apa bisa kutukar dengan yang lain?”

Seungwan benar benar berharap soojung mau menukar dengan yang lain. Ia bisa saja menyuruh ikan ikan itu untuk mengambilkan uang yang banyak untuk soojung.

“Mm.. aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Tapi boleh juga”

Seungwan benar benar tak dapat memyembunyika senyumnya. Pipinya pegal sekarang.

“Katakan. Apa yang kau butuhkan?”

“Mm.. bagaimana jika anda berikan.. suara anda?”

Seungwan tidak terkejut. Banyak yang menginginkan suaranya dari dulu.
Tapi, apakah benar jika dia menukar suaranya dengan kaki?

“Baiklah”

Soojung menang kali ini.
Sambil tersenyum, tangannya menggenggam erat sebuah toples.

“Tapi putri, dengar baik baik. Mantra ku selalu punya efek samping. cintamu harus terbalas. Karena kaki itu sudah tahu jika kau sedang mengejar cinta. Jika cintamu tak terbalas, kaki itu akan berlari sia sia kan. Kaki itu akan hilang jika kau gagal mendapatkan hatinya. Dan satu lagi, kaki itu akan hilang dengan ragamu juga”

Tunggu. Apa itu maksudnya mati?
Ya! Ini tidak benar!

Seungwan hanya panik sambil membuka mulutnya.
Berharap muntahan sumpah serapahnya akan terdengar. Tapi, suaranya tidak keluar!

“Tenanglah putri, kau akan langsung bangun dengan sepasang kaki di pinggir pantai sana”

Soojung mendekat dan menjentikkan jari.
Lalu semuanya gelap.


“Agassi, gwaenchana?”

Oh, apa kini dia sudah mati? Apa orang di depannya ini adalah malaikat? Wah, beruntungnya ia bisa bertemu malaikat yang mirip orang itu.
Tunggu!

Seungwan langsung mendudukan dirinya setelah ia sadar kalau ia belum mati. Dan ia sangat sadar untuk mengerti jika orang di depannya ini bukan malaikat.
Astaga, ia benar benar ingin berteriak sekarang.

“Kau baik baik saja?”

Ia benar-benar ingin berteriak saat suara berat itu kembali menyapa telinganya.
Tapi, ia hanya bisa menganggukan kepalanya. Suaranya tak bisa keluar.

Baiklah, ia benar benar gugup sekarang. Ia bisa melihat mata lelaki itu dengan jelas. Bahkan mata hitam itu dapat merefleksikan wajahnya yang sekarang tampak seperti orang bodoh.
Hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, oh astaga! Ia bisa mati.
Seungwan hanya bisa meremas pelan gaun merah muda yang setengah basah karena ombak yang dari tadi terus mengenai kakinya.
Kaki?

Seungwan langsung menyingkap gaunnya hingga sebatas lutut.
Astaga, kaki! Soojung tak berbohong. Ia benar benar harus berterimakasih dengan semua ini.

“Um, sepertinya kau tak baik baik saja. Mungkin kepalamu terbentur. Kau harus bertemu tabib”

Seungwan yang kelewat senang sampai melupakan lelaki yang di depannya yang dari tadi menatapnya bingung.
Ia sempat terkejut saat Seungwan menyingkap gaunnya.
Dan ia lebih terkejut lagi saat sekarang Seungwan sedang tersenyum manis padanya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain membalas senyuman Seungwan.
Dan Seungwan juga tak kalah terkejut ketika melihat orang itu membalas senyumnya.

“Mm.. para pengawalku ada di sana. Apa kau mau ikut aku ke rumah. Kau bisa bertemu tabib di sana”

Orang bodoh mana yang akan menolak tawaran ini? Bukan Seungwan tentunya.
Dia mengangguk semangat.



“Jadi.. apa yang membuatmu tenggelam?”

Suara itu menyadarkan Seungwan dari lamunanya.
Seungwan sudah bertemu tabib. Tabib bilang tak ada luka berat di tubuhnya. Hanya saja pita suaranya rusak sehingga tak bisa mengeluarkan suara. Seungwan tak terkejut dengan fakta itu. Memang dia yang membuat suaranya hilang dan diganti dengan kaki panjang yang kini menjadi penopang tubuhnya.

Kini mereka sudah duduk di meja makan besar yang terdapat di rumah orang itu.
Orang itu sudah mengenalkan namanya. Dia sehun. Oh Sehun. Seorang putra mahkota.

“Jadi.. apa kau didorong seseorang?”

lagi lagi Seungwan harus disadarkan oleh suara berat itu. Mungkin orang tersebut juga heran mengapa Seungwan hanya terbengong menatap menu makanan di meja makan. Seungwan juga tak kunjung mengambil makanan yang sudah khusus dibuat untuknya.
Tapi, bagaimana Seungwan mau makan? Ia tidak tega. Semua ini.. ikan!
Seumur hidup, Seungwan belum pernah memakan mahluk kecil yang selalu menari nari saat ia bernyanyi. Dan sekarang?

“Lalu.. apa kau terjatuh? ”

Oh, Seungwan sampai lupa pada pangeran tampan ini karena terlalu kasihan pada teman teman kecilnya.

Seungwan hanya mengangguk kecil untuk jawaban dari pertanyaan Sehun.

“Kau seharusnya lebih berhati hati, um…?”

Seungwan tau jika sehun menanyakan namanya. Tapi, bagaimana dia bisa memperkenalkan dirinya?

Seungwan lalu menunjuk nunjuk lehernya pada sehun yang masih menunggu jawaban.
Ais.. apa dia lupa?

“Ah, maaf, aku lupa. Kalau begitu kau tulis saja namamu”

Tulis?
Seungwan tidak bisa menulis!
Seungwan segera menahan tangan sehun yang baru saja berdiri untuk mengambil kertas dan pulpen.
Sehun menatap Seungwan bingung. Lalu tatapan bingung itu dihadiahi gelengan oleh Seungwan.

“Apa? Kau tidak mau memberi tahu namamu? Atau.. kau.. tidak bisa menulis?”

Seungwan hanya diam. Susah menjelaskan semuanya tanpa kata kata.
Seungwan memang tak bisa menulis. Tak perlu menulis untuk mengendalikan laut.

“Lalu aku harus memanggilmu siapa?”

Ingin sekali Seungwan mengusulkan banyak nama bagus untuknya. Tapi, bagaimana ia mengatakannya?
Ternyata benar benar susah melakukan ini semua.

Baiklah, aku akan memanggilmu rambut merah saja. Bagaimana? ”

Sehun yang dapat melihat ekspresi senang di wajah Seungwan hanya bisa tersenyum. Astaga, gadis ini benar benar lucu.

“Jadi, rambut merah, kau harus lebih berhati-hati ketika lewat di bibir pantai. Aku tahu jika tenggelam itu benar benar menyakitkan. Aku pernah merasakanny”

Seungwan yang dari tadi hanya menunduk sambil mendengarkan, kini beralih menatap sang pangeran.
Sehun yang sadar akan ekspresi ketertarikan di wajah Seungwan pun langsung menyambung ceritanya.

“Beberapa hari yang lalu, aku terjatuh dari kapal karena ombak besar menerjang kapal kami. Entah apa yang membuat laut begitu marah hari itu, yang jelas laut begitu mengerikan hari itu”

Seungwan benar-benar ingin tertawa karena ini. Apakah pangeran akan membunuh Seungwan jika ia tahu kalau Seungwan adalah pelaku dari kecelakaan kapalnya?

“Rasanya benar benar sakit saat air memasuki hidung dan telingaku. Bahkan telingaku sampai berbunyi nyaring ketika aku jatuh semakin dalam. dan kemudian aku tak ingat apapun.
Aku di temukan oleh seorang nelayan di pinggir pantai. Entah siapa yang menolong ku.
Aku berusaha mencari orang itu dan mengundangnya ke pestaku sebagai ucapan terimakasih”

Alis Seungwan langsung terangkat saat mendengar kata pesta. Seungwan suka pesta. Di bawah sana juga sering mengadakan pesta. Pesta ulang tahun, pesta kelahiran bayi, pesta penyambutan, dan pesta kenaikan pangkat. Itu semua sangat mengasyikkan.

Sehun yang mengerti dengan ekspresi wajah Seungwan hanya tersenyum kecil.

“Ya, pesta. Akan ada banyak orang, makanan, minuman, gaun bagus, dan lampion. Dan, akan kupastikan kau ada di sana juga”

Seungwan tersenyum lebar saat mendengar kalimat terakhir sehun. Apa maksudnya ia diundang ke pesta?.
Entahlah, Seungwan terlalu senang untuk memikirkannya.



Hari hari Seungwan benar benar bahagai.
Seungwan selalu menunggu pagi di pinggir pantai. Dia tidak bisa jauh dari laut.
Lalu ia akan berjalan sebentar hingga sampai ke dekat istana untuk bertemu sehun yang biasanya tengah berkuda di sekitar istana.
Dia benar-benar bahagia, karena tanpa bicarapun sehun bisa mengerti apa yang di maksud olehnya.
Mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Dari pagi hingga sore, Seungwan akan bersama sehun, melakukan hal-hal seru yang baru bagi Seungwan. Lalu malam, Seungwan akan menunggu pagi dengan bermain bersama para hewan di pinggir pantai. Bernyanyi riang dan mengabarkan pada orang di bawah sana bahwa ia baik baik saja dan tengah bahagia sekarang.

Seungwan selalu menunggu pagi dengan sabar. Menunggu waktu dimana ia bisa mendapat hal baru dari sehun.
Seungwan bisa berkuda sekarang, bisa membaca, menulis, memanah, dan ia masih menunggu hal apalagi yang akan bisa ia lakukan.
Sehun bahkan memberikan gaun padanya. Gaun putih bersih yang akan ia kenakan pada pesta di istana nanti.


Seungwan sedikit mengangkat gaun putihnya yang sesekali terinjak oleh kakinya. Ngomong ngomong soal kaki, sekarang ia sudah bisa berjalan dengan baik setelah sebelumnya ia masih belum seimbang saat berjalan.

Ini adalah kali kedua dia masuk ke dalam istana.
Sehun dan Seungwan hanya bermain di dekat istana biasanya.

Mata Seungwan benar benar termanjakan dengan banyaknya lampion di kebun belakang istana milik Sehun. Banyak sekali orang orang dengan gaun bagus yang tengah bercengkrama. Ingin rasanya Seungwan juga ikut bergabung dengan mereka. Tapi apadaya dia tak dapat mengeluarkan suaranya.
Tapi, ada satu orang yang mengerti dirinya tanpa harus dengan berbicara. Dia..
Sehun!

“Hai rambut api, kenapa kau terlambat?”

Entah sejak kapan namanya menjadi rambut api. Tapi yang jelas, sehun memanggilnya seperti itu saat mereka sudah lebih dekat. Dan itu sebuah kemajuan bukan?
Dan untuk masalah terlambat, ia memang terlambat. Ia tidak bisa berjalan cepat di tengah hutan dengan pakaian yang menjuntai panjang seperti ini.

Seungwan hanya bisa tersenyum kecil untuk membalas sapaan sehun.

“Hei, kau lihat orang itu? Dia adalah Kim Jong In. Putra tunggal kerajaan sebelah. Banyak yang bilang jika ia tak kunjung di jadikan raja karena ia menolak permintaan ayahnya untuk berhenti menari”

Sehun tak menunjuk orang yang ia maksud, ia hanya menatapnya. Dan Seungwan bisa tau mana orang yang dimaksud sehun. Dia adalah orang dengan kulit coklat yang tengah becanda dengan beberapa gadis.
Menari dianggap bukanlah hal bagus untuk seorang lelaki. Lelaki yang menari dianggap tabu oleh orang-orang. Tapi tidak ada salahnya jika lelaki menari kan?
Bukan hanya Kim Jong In. Sehun juga membicarakan banyak orang. Seperti Xi Luhan lelaki cantik yang beristri dua, Kim Jun Myeon dan istrinya hanya mengincar harta, Byun Baekhyun yang katanya gagal menikah, dan masih banyak lagi. Hingga..

“Dan yang itu..”

Kali ini sehun menunjuk gadis berambut sebahu dengan gaun coklat yang tengah tersenyum ke arah mereka.

“Dia.. calon istriku”


Laut mengamuk lagi hari ini.
Ombak bergulung tinggi lalu menabrak bibir pantai dengan kasar. Bahkan suaranya membuat orang enggan untuk keluar dari rumah.
Berbeda dengan orang-orang yang enggan keluar rumah. Gadis itu baru saja akan kembali ke rumah. Dia.. Seungwan.
Seungwan memutuskan kembali ke rumah ketika akhirnya sehun menikah dengan gadis itu. Gadis berkaki dua yang sehun cintai.
Bodoh! Dia tidak akan bisa menyatakan perasaannya sampai kapanpun.
Dia sudah kehilangan segalanya. Semuanya sudah ia berikan agar ia dapat bertemu dengan sehun.

Ombak ombak raksasa itu memakan tubuh Seungwan yang tadi berdiri di pinggir pantai. Menyeret tubuh kurus itu masuk ke dalam laut.
Seungwan hanya bisa memejamkan mata. Merasakan kakinya yang mati rasa. Ia sangat takut untuk membuka mata. Sangat takut untuk melihat kaki, tangan, dan badanya yang kini berpencar menjadi buih dan melebur dengan air laut.



“Tuan, para warga tak dapat melaut hari ini. Laut tak berangin hari ini”
“Apa?”

Nelayan memang tak akan bisa melaut dengan kondisi laut yang seperti ini.
Tak ada angin, tak ada ombak. Matahari pun bersembunyi di balik mendung. Air sama sekali tak bergerak. Mereka diam tak bersuara seperti biasanya.
Laut seperti tak memiliki kehidupan.
Itu benar.
Karena hati lautan sudah mati.
.
.
haii~ akhirnya aku ngepost juga.
Tapi gini ni. Baca yaa!
Kalian tahu the little mermaid kan? Tau dong tokoh disney princess berambut merah itu.
Nah, jadi ini adalah kisah asli dari the little mermaid karya Hans Christian Andersen yang aku ubah tokohnya dan kutulis dengan caraku *wezehhh*kibasrambut* tapi jalan cerita adalah milik dia.
*Dari TK, aku udah dicekokin sama dongeng macem ini. sampe dulu aku punya cita cita jadi putri duyung:v
Dan cerita yang difilmkan sama walt disney itu udah diubah menjadi lebih layak untuk ditonton anak anak:v
Dan yang kutulis ini adalah kisah aslinya.
Kenapa aku nulis ini? pengen aja:v
Soalnya aku suka banget sama Ariel.
oke.. koreksinya tolong tulis di komentar.

Advertisements

One thought on “The Little Mermaid”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s