Take It Slow—Chap.3

Take It Slow

Absurd story by PutrisafirA255

【Main Cast】

Sehun Hester | Hanna Lee

【Other Cast】

Chanyeol Park | Hyena Kim

Baekhyun Byun | Helena Park

Lee Hanbin| More

「Angst, AU, Drama, Hurt, Comfort, Romance, Friendship, Family」

『PG-16』

ǁEdinburgh, Scotlandǁ and ǁSeoul, South Koreaǁ

「Chaptered」 ±5.800 words

Part 1: First Look

Part 2: What’s Wrong?Part 3: The truth[NOW]

“Selfish? That’s because I love you.”

.

.

.

Sepintar-pintarnya Hanna, ia juga tak bisa menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Maka dari itu, ia mengganggu Helena yang asyik membaca novel untuk menjadi pendengar yang baik atas masalahnya. Mencoba memecahkan masalah yang kini tengah ia hadapi.

“Bukankah kau bilang mau bercerita? Tidak jadi?” tanya Helena yang merasa bingung dengan gesture yang dibuat Hanna sejak tadi—menggeleng lalu mengangguk, setelah itu menggeleng lagi. “Aku masih bingung, haruskah aku mengatakannya padamu atau—”

“Kau ragu bercerita padaku?” Helena merasa ada yang aneh dengan sikap Hanna. Tak biasanya anak itu meragukannya—Helena membatin. Hanna sering meminta sarannya untuk pilihan yang akan diambil. Seperti bekerja di bar misalnya, walau sarannya tak diindahkan pun ia tak marah. Itu hanya saran dan keputusan tetaplah ada di tangan Hanna. Ia sebagai sahabat hanya bisa memberi masukan yang baik.

Tapi, ini sangat berbeda. Hanna yang biasanya langsung to-the-point, justru sekarang sedang kalut dalam pikirannya sendiri. Ini sebenarnya sangat membingungkan, tapi apa daya. Helena hanya bisa menjadi pendengar yang baik. “Ani, bukan itu maksudku. Aku hanya merasa aneh dengan chairmate-ku.”

“Memangnya kenapa?” tanya Helena memandang Hanna sekilas.

Hanna terdiam. Sejenak berpikir, lalu menimpali. “Kemarin, aku menemuinya di bar tempatku bekerja. Tapi, saat ku tanya kemana dia, dia bilang dia ke gereja. Bukankah itu aneh?” tanya Hanna yang diakhiri dengan kalimat tanya. Helena yang mendengar itu turut andil berpikir. “Bisa saja dia membohongimu. Dia laki-laki ‘kan?”

Hanna sontak membulatkan matanya penuh. “Darimana kau tahu?!”

“Bukankah kau bilang dia ke bar? Meskipun aku tahu wanita tak mustahil ada di sana, setidaknya sesama jenis tak akan saling tertarik ‘kan?” Helena menjawab sekaligus memberikan alasan. “Kau pikir aku apa, huh?! Aku masih normal tahu!”

Tak menghiraukan pekikan amarah Hanna, Helena justru melanjutkan kalimatnya. “Tapi, jika dipikirkan lagi, aku rasa temanmu itu punya kepribadian ganda.” Kini Helena mulai menyampaikan hipotesisnya. Menopang dagu di atas bantal sembari tidur terlentang, lantas kembali berpikir.

“Kepribadian ganda?” Hanna membeo. Ia sempatkan membenahi posisi demi mendengarkan kejelasan lebih lanjut dari Helena. “Benar, seperti novel yang aku baca.” Ujarnya sembari mengangkat tinggi-tinggi buku yang tengah ia baca dengan posisi terlentang itu. “Kepribadian yang baik akan muncul ketika ia sedang merasa nyaman. Sedangkan, kepribadiannya yang buruk akan muncul saat ia merasa dalam keadaan terancam. Mungkin seperti itu?” katanya dengan mengutip kalimat yang tercetak dalam buku setebal tiga senti itu.

Hanna mendesah kesal. “Kenapa kau percaya sekali dengan novelmu itu, huh?” pekiknya sembari mengambil bantal di belakang badannya lalu melemparkan ke arah Helena. Melampiaskan amarah dengan serangan yang tak manusiawi itu. “Kenapa kau memukulku?! Aku tidak mau membantumu lagi,” ujar Helena—merajuk.

Helena menghembuskan napasnya pasrah. Ini semua salahnya, hingga akhirnya ia harus berpikir sendiri. Otak cerdasnya pun juga tak mau diajak kompromi, hingga akhirnya ia tidur dengan menarik selimut cepat-cepat.

Hanna berpikir dalam diam. Mungkin apa yang dikatakan Helena benar. Mungkin ini menyangkut masalah keluarga pria itu? Jika di kampus, ia tak bertemu dengan keluarganya. Jadi tak ada pertengkaran. Tapi, ketika malam pria itu bertemu dengan kelurganya, lalu bertengkar. Setelah itu, masuk ke bar untuk mencari pelampiasan. Lalu, kenapa dari sederet wajah temannya, Hanna tak melihat Chanyeol di sana?

Helena yang melanjutkan acara marah pun hanya terdiam. Hazelnya memang terfokus pada deretan kata yang tercipta menjadi sebuah kalimat di novel itu. Tapi, pikirannya entah kemana. Seperti dirinya ada tapi pikirannya tak sedang berada di sana.

Dalam hatinya, ia masih memikirkan Baekhyun yang entah apa kabarnya. Karena laki-laki itu tak menghubunginya selama beberapa hari. Walau ia dan Baekhyun belum menjalani hubungan yang layaknya pacar, hatinya tak bisa jauh dari pria itu.

“Kenapa kau melamun? Kau memikirkan Baekhyun?” tanya Hanna memecah keheningan setelah dirinya muncul dari dalam selimut. “Darimana kau tahu?” Helena menggendikkan bahunya asal. Mencoba mengelak walau sepenuhnya benar.

“Baekhyun kemarin menghubungiku, dia sibuk dengan project baru kantor. Mungkin beberapa hari—”

“Apa kau berpacaran dengan Baekhyun?” tanya Helena memutus kalimat Hanna. Didengar dari cara bicaranya, cemburu sangat menguasai. “A-apa?”

“Bagaimana Baekhyun bisa menghubungimu sedangkan aku  yang—” kalimat Helena terhenti sejenak. Mencerna kembali kalimat yang baru saja ia katakan. “Kenapa berhenti? Kau yang apa?” Hanna tersenyum miring—menggoda Helena yang salah tingkah.

“Tidak, tidak jadi.”

“Kenapa? Kau ‘kan belum berpacaran dengan Baekhyun.”

“Tapi, aku ‘kan—” Kalimat Helena terhenti—lagi—begitu juga dengan senyum Hanna yang semakin mengembang.

“Iya, aku tahu. Dia mengatakannya padaku karena dia punya LINE. Sedangkan nomormu sudah kau ganti. Kau tahu dia sangat bingung karena kau mengganti nomormu. Aku bahkan punya riwayat chatnya saat Baekhyun menanyakan nomormu dua puluh kali,” ujar Hanna seraya menyentuh layar ponselnya, lalu menunjukkannya pada Helena. “Aku benar-benar terganggu, tahu?”

“Dia ternyata—” gumam Helena sembari mengepalkan kedua tangannya lalu menutupi bibirnya yang tersenyum lebar. Kebiasaan Helena jika ia sedang merasa senang sekali.

“Oh God!”

.

.

.

Sehun merasa kembali mengenang masa lalu saat menginjakkan kakinya kembali ke rumah. Tinggal di apartemen sendiri, membuatnya rindu akan kenangan masa kecil bersama sang saudara yang kini entah kemana keberadaannya.

Apalagi saat melihat fotonya dan juga saudarannya yang terbingkai manis, kesadaraannya benar-benar diuji. Perlahan tangannya terangkat untuk menyentuh foto yang terlindungi oleh kaca itu. Mengusapnya perlahan, sembari mengucapkan kalimat-kalimat rindu yang tak pernah tersampaikan.

“Aku sangat rindu padamu, Hyung. Kau dimana sekarang?”

Tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh bahunya tanpa izin. Membuat sang empunya menoleh kebelakang, hendak melihat siapa pemilik tangan itu. “Eomma,” gumamnya pelan. Wanita yang di panggil pun tersenyum lantas menjawab, “Kau rindu dengan Steven?”

Sehun tersenyum tipis. “Aku rasa dia sudah bahagia sekarang dengan kehidupan barunya.” Sehun berujar. Tak mau menampakkan kesedihan yang tengah ia rasakan. “Dia sangat mirip denganmu. Kalian pasti punya ikatan batin, sampai kau tahu kalau dia bahagia.” ujar Nyonya Oh sembari memandang foto kedua putranya itu. Entah kenapa, kata-kata itu terlontar begitu saja.

Sangat mirip? Kenapa tiba-tiba Sehun merasa ada yang aneh. Seolah ia kembali langsung pada kejadian enam jam yang lalu. Saat ia dan Hanna meributkan masalah kepergiannya. Hanna yang bersikeras ia pergi ke bar, sedangkan Sehun yang menyangkal dengan tegas bahwa dirinya pergi ke gereja. Bukankah ini berhubungan?

“Kau pasti lapar, eomma sudah menyiapkan makan malam untuk kita.”

“Kita?”

“Aku, kau dan juga ayahmu.”

Sehun terdiam. Mengingat terakhir kali disaat ia dan juga ayahnya bertemu, tak ada percakapan layaknya anak dan juga ayah. Yang ada hanyalah antara kolega kerja yang saling menyerang. Dan ia tak mau lagi ini terjadi. Cukup sudah membuat pikirannya penuh, ia tak mau memikirkan banyak masalah.

Good night, Dad.” Sapanya dengan nada khasnya. Pria yang dilabeli ‘ayah’ itu hanya mendongak, lalu berkutat lagi dengan iPad yang tengah dipegangnya. Melihat perlakuan itu, Nyonya Oh pun segera menatap Sehun dan tersenyum, agar perasaan Sehun tak terusik dengan sikap dingin sang ayah.

“Eomma akan ambilkan steak kesukaanmu,” ujarnya setelah melihat Sehun duduk di posisinya. Memastikan anak bungsunya itu tak pergi sebelum menyentuh makanan yang ia buat beberapa jam yang lalu.

“Bagaimana dengan kuliahmu?” Suara bass mulai menggema. Menyapa indra pendengaran Sehun, hingga ia menoleh. “Baik-baik saja,” jawabnya dengan senyum tipis—hanya untuk menghargai usaha sang ibu yang menginginkan kedamaian dalam rumahnya. “Pastikan kau mendapatkan predikat terbaik saat lulus nanti.”

“Tentu saja, dan aku akan merintis karirku dengan usaha dan kerja kerasku sendiri tanpa bantuan orang lain. Termasuk kau, Mr. Hester.” Ujar Sehun dengan menekankan kalimat terakhir. Pria yang dipanggil Hester itupun menarik sebelah ujung bibirnya ke atas. “Kau akan meneruskan usaha keluarga Hester. Akan ku jamin itu—”

“Meskipun aku tahu kau akan menghalalkan segala cara mendapatkan apa yang kau mau, aku akan tetap berusaha dan mencapai apa yang aku mau. Pantas saja Steven sangat membencimu. Caramu sangat licik, Mr. Hester.”

Setelah rangkaian silabel yang tergabung menjadi kalimat itu selesai terucap, maka Sehun segera mengundurkan diri sebelum membuat pertengkaran yang membuat ibunya kembali sedih. Dan ia tak mau itu. Biarkan rasa sakit itu ia yang rasakan, asalkan ibunya tetap merasakan kebahagiaan walau hanya sepihak.

“Kemana Sehun?” tanya Nyonya Oh pada Pria yang tengah menyantap makan malamnya itu. Sebelum menjawab, pria paruh baya itu justru mengambil sapu tangan di samping piringnya, lalu membersihkan bibir. “Dia bilang ada yang harus ia selesaikan.”

“Kau mengusirnya lagi, Hester.” Tebak nyonya Hester dengan nada sinis.

.

.

.

Lagi-lagi, kejadian yang ia benci kembali terulang. Melihat pria chairmate-nya yang mabuk sendiri di tengah sepinya pengunjung. Membuatnya kembali pulang terlambat hanya untuk mengurus pria yang sampai sekarang pun ia tak tahu siapa namanya. Sudah beberapa hari ia dan pria itu saling berbicara, tapi ada saja hal yang membuatnya lupa untuk menanyakannya.

“Kenapa kau harus mabuk saat aku mau pulang?” Hanna menggerutu kala ia harus mengantarkan pria itu menuju taksi. Tubuhnya bahkan sempat limbung demi mengangkat tubuh jangkung itu. Berkali-kali mengumpat pun tak membuat ia semakin membaik. Terbukti saat si jangkung itu sudah naik taksi, sang sopir menanyakan kemana ia harus membawa pria itu. Yang menjadi masalah, mana Hanna tahu dimana rumahnya?

Mau tak mau, Hanna harus mengambil dompet pria itu untuk melihat kartu identitasnya. Merogoh jaket hitam yang masih melekat di tubuh tegap itu. “Kau bisa mengantarnya ke sana,” ujar Hanna sambil menunjukkan kartu identitas pria itu.

Setelah melihat, sopir itu lekas mengembalikannya kepada Hanna. Belum sempat Hanna mengembalikannya lagi pada dompet pemiliknya, tubuhnya limbung setelah mendapati lengan kekar pria itu menariknya. Jatuh tepat di atas dada bidangnya. “Apa yang kau lakukan!”

Bukannya melepaskan tangan Hanna, ia justru tergerak menuju pintu di sisi kirinya yang masih terbuka, lalu menutupnya dengan sepihak. “Jalan!” pintanya tanpa menunggu Hanna yang bersiap melancarkan aksi protesnya. Tapi, di satu sisi Hanna merasa aneh dengan sikap chairmate-nya itu. Diletakkannya punggung tangan miliknya pada kening pria itu, lalu mengerjap beberapa kali.

“Kau sakit, Byuntae-ah.” Gumam Hanna selepas menarik tangannya. Pria itu tak menggubris kalimat Hanna. Yang jelas, ia tak bisa mengucapkan satu katapun. Selurus persendiannya lemas. Bahkan kepalanya mulai pening. Hingga yang bisa ia lihat setelah itu, langit-langit kamarnya yang putih dan juga handuk kecil yang menempel di keningnya.

“Kau sudah sadar, Steven-ssi?” suara sopran Hanna menggema ke seluruh ruangan kamar hingga terdengar sampai indra pendengarannya. Sempat ia mencoba bangkit, namun segera dicegah oleh Hanna. “Kau masih demam. Jangan banyak bergerak.”

“Siapa kau?” kini giliran suara bass yang mendominasi. Hanna lantas mendongak, mencari iris coklat pria itu. “Kau lupa padaku? Oh God!” jari telunjuk Hanna terarah menunjuk dirinya sendiri, tak lupa dengan nada sinis. Tak lekas mendapat jawaban, pria yang dipanggil Steven itu justru mengerutkan dahinya. “Aku Lee Hanna.”

Mendapat clue bukan berarti pria itu tahu maksud Hanna, alisnya bahkan sekarang bertautan. Seolah berpikir dua kali lebih keras dari biasannya. “Apa aku harus menjelaskannya? Kita itu chairmate. University of Edinburgh.”

Steven terdiam. University of Edinburgh? Siapa yang kuliah di.. Tunggu! Jangan-jangan, yang dimaksud Hanna adalah Sehun—saudara kembarnya. Memang belum banyak yang tahu perihal keluarga Hester yang mempunyai keturunan kembar. Karena keduanya—baik Sehun maupun Steven—tak mau hal itu diekspos. Apalagi untuk pencitraan. Keduanya sangat tak suka akan hal itu.

Tapi, jika keadannya seperti ini, bukankah ini menguntungkan. Sebut saja Steven gila karena memanfaatkan kepolosan seorang gadis muda yang ia perkirakan berusia dua puluh tahun itu. Namun, pesona akan gadis itu sungguh mungusik jiwa. Terlebih dengan wajah eropa walau asia lebih mendominasi.

Selfish? Yes, he is. Walau ia memikirkan kepentingan dirinya sendiri dengan membohongi gadis itu, setidaknya rahasia itu akan terbongkar ‘kan. Lagi pula kesempatan tak akan datang dua kali. Ini saatnya membuka lagi hati yang telah tertutup hampir dua tahun lamanya.

“Kau lihat apa, Byuntae!” suara Hanna kembali menggema setelah kesunyian yang Steven buat sendiri. “Nope,” ujarnya datar. Ingin rasanya ia lebih lama bersama gadis itu, namun apa daya. Dilihat dari gesture Hanna yang sedari tadi gelish, membuat Steven tak bisa mengkungkung gadis itu terlalu lama. “Pulanglah, aku baik-baik saja.”

Hanna mengerjap. Mana mungkin ia meningglakan pria itu sendiri? Apalagi keadaannya tidak sehat. “T-tidak, aku akan menemanimu. Dan besok aku akan memberitahu Mrs. Clara kalau kau tidak masuk.” Jawab Hanna cepat. Steven menatap gadis dihadapannya itu tak percaya. “Cepat tidur, aku akan menemanimu.”

“Tidak perlu—”

“Tinggal tidur apa susahnya?”

Oke, untuk kalimat yang satu ini Steven mengalah. Gadis dihadapannya itu keras kepala dan tak suka diperintah. Sejauh itu, itulah kepribadian Hanna yang bisa ia baca. Tak mau membuat keributan ditengah malam, Steven akhirnya mengalah.

.

.

.

Sang dewi malam kini telah menggantikan kerja sang surya. Menggelapkan langit bukan berarti menghentikan aktivitas para manusia yang gila akan harta dan kekuasaan. Mereka yang rela menghabiskan waktu dengan berkutat bersama tumpukan kertas, tanpa peduli akan apa yang terjadi di sekitarnya.

Tapi, itu jelas bukan gaya Hanbin. Di saat seperti ini, ia berkutat dengan puluhan map hanya agar ia bisa bertemu dengan adik tercintanya. Jika kembali ke masa lalu, ia masih mengingat betul sikap Hanna. Gadis itu selalu memperjuangkan apa yang ia inginkan. Tak peduli halangan apapun yang ia hadapi, ia akan melakukan segalanya.

Dimulai dari kaburnya gadis itu selama tiga hari, yang ternyata menginap di rumah kawannya—Helena. Dengan alasan bahwa ia hanya ingin masuk ke jurusan bisnis di University of Seoul. Tapi, ayahnya sangat menetang dengan alasan Hanna adalah perempuan. Memang tak masuk akal sebenarnya, karena sekarang banyak wanita muda yang berkarier di dunia bisnis.

Bukan hanya sekali ataupun dua kali. Hanna sering sekali kabur untuk menghindari ayahnya beserta kehendak yang menuntut Hanna untuk membelokkan cita-citanya. Memaksa ambil jurusan akutansi—walau sebenarnya Hanna pun bisa mengambil jurusan itu. Sekali lagi, Hanna bukan tipe orang yang mudah menyerah dengan apa yang ia inginkan.

Dan yang terakhir, kepergian Hanna hingga tiga minggu lamanya. Di saat itu Hanbin memang kewalahan karena Samsung ingin mengeluarkan produk yang akan menyaingi iPhone. Membuatnya semakin sibuk hingga tak bisa bertemu Hanna walau hanya beberapa menit saja.

Sekarang, ia tak mau menyia-nyiakan apa yang menjadi miliknya. Ia masih mengingat pesan terakhir eommanya sebelum meninggal, bahwa ia sebagai kakak harus bisa melindungi Hanna bagaimana pun caranya. Apalagi memang tak bisa dipungkiri kedekatan keduanya membuat pasangan masing-masing cemburu—dulu. Tetapi, baik Hanna maupun Hanbin tak pernah ambil pusing perihal itu.

“Hyung, kau pasti sangat lelah.” Suara bass Baekhyun tiba-tiba menyapa indra pendengarannya. Merasa terpanggil, Hanbin lantas menegakkan badannya yang lemas di sandaran kursi. “Kau jauh terlihat lelah darku, Baek.” Ujarnya dengan kekehan yang terdengar di setiap katanya. Bagaimana tidak, melihat kelopak mata Baekhyun yang tertutup rapat, tapi masih bisa menanyakan keadaannya.

“Aku rasa aku akan pingsan setelah ini. Kau benar-benar hebat! Masih bisa bangun meski kita bekerja hampir enam belas jam.” Gerutu Baekhyun dengan nada ambigu—antara memuji dan mengutuk tuannya itu. Hanbin yang mendengar itu pun tersenyum lebar. Ia sangat bersyukur punya sekertaris sebaik Baekhyun.

“HYUNG!!”

Hanbin terlonjak dari kursinya saat Baekhyun memanggilnya tiba-tiba dengan keras. “A-apa? Ada apa?” tanya Hanbin masih dengan keterkejutannya. “RBS mau bekerja sama dengan kita!”

“Jinjja?!” Kini Hanbin ikut merasakan euforia yang dibuat oleh Baekhyun. Sudah lama ia menunggu kabar dari bank terkenal di Edinburgh itu, dan akhirnya ia mendapatkannya. Ia membutuhkan project yang bisa membawa Samsung menuju kota itu. Hingga akhirnya, kunjungannya itu tak membuat ayahnya curiga.

“Lalu, mereka menanyakan kapan kau akan ke sana untuk rapat.” Baekhyun kembali berujar. Hanbin yang awalnya tersenyum lebar, kini terdiam. Menatap lurus-lurus jam kecil yang sengaja diletakkannya di atas meja. Seolah melihat kalender walau hanya dengan menatap benda kecil itu. Setelah lama berpikir, Baekhyun akhirnya mendapatkan jawabannya.

“Tanggal 21 Juli, tepat dengan ulang tahun Hanna.”

.

.

.

Hanna sangat merasa bersalah karena ia telah berjanji bahwa tak akan meninggalkan Steven, tapi pada kenyataannya ia justru pulang tak kurang dari satu jam setelah mengatakannya. Maka dari itu, kini ia lebih memilih mengajak sepatu hitam kesayangannya mengukir jejak dengan langkah panjangnya agar lekas sampai di kelas. Memastikan apakah pria jangkung itu masuk kuliah atau tidak.

“Apa kau sudah sembuh? Kenapa masuk kuliah?” tanya Hanna sesampainya ia mendapati sosok jangkung itu duduk manis di tempatnya.

Sembuh? Memang siapa yang sakit? Kini batin Sehun mulai meracau. Memikirkan apa yang sebenarnya Hanna maksud. Apalagi dengan gerakan tiba-tiba punggung telapak tangan Hanna menempel dengan cepatnya di dahi Sehun. Membuat pria itu mengerutkan dahinya samar—bingung namun senang disaat yang bersamaan.

“Kau sudah sembuh. Cepat sekali?” gumam Hanna setelah menarik tangannya kembali. “Memangnya aku sakit apa?”

Hanna terdiam. Ia lupa kalau Sehun mengidap penyakit yang D.I.D yang mempunyai kepribadian ganda. Dan sekarang, dia pasti lupa dengan jati dirinya. “A-ah.. tidak. Hanya saja aku lihat kau kelihatan pucat.” Timpalnya mecari alasan lain yang sedikit masuk akal.

“Kulitku memang putih,” tukas Sehun

“Kau sangat percaya diri sekali, Byuntae-ssi”

“Aku punya nama, Hanna-ssi.” Protes Sehun yang langsung mendapat kerjapan lucu dari mata bulat Hanna. “Kau sudah tahu namaku?” Tanya Hanna dengan mata bulatnya yang tak berhenti mengusik atensi Sehun untuk menikmati lucunya wajah Hanna.

“Tentu,” tukas Sehun cepat. Tak mau kalah, Hanna pun lekas membalas, “Aku juga tahu namamu,”

Sehun yang mendengar kalimat itu langsung memusatkan fokus. Hanya saja ia masih bisa menutupi raut penasarannya dengan wajah khasnya—dingin. “Namamu adalah Steven Hesler. Aku pintar ‘kan?”

Tak perlu ditanya bagaimana ekspresi Sehun saat tahu nama saudaranya itu di sebut. Alisnya kini bertaut, seolah ingin menerkam Hanna saat itu juga. Jangan lupakan tangan Sehun yang langsung mencengkeram bahu Hanna cepat. Membuat Hanna yang awalnya tersenyum kemenangan menjadi takut setengah mati.

“Darimana kau tahu nama kakakku?”

“Kakak?”

“Cepat jawab,Lee Hanna!”

Kini cengkeraman Sehun melewati batas hingga Hanna menggeram kesakitan. Mengubah raut menyeramkan pria jangkung itu menjadi raut penuh kekhawatiran. “A-apa aku menyakitimu?” tanya Sehun dengan tatapan tak percaya. Dia begitu terkejut saat menyadari perlakuan kasarnya itu.

“Kau sudah menyakitiku! Kau tahu itu!” Pekik Hanna pada Sehun.

“Ma-maaf. A-aku tidak bermaksud—”

“Aku membencimu!”

.

.

.

Meskipun terlihat seperti orang bodoh yang baru merasakan jatuh cinta, Sehun tak bergeming. Ia tetap mengikuti Hanna kemanapun gadis itu pergi. Karena suster Maria pernah bilang pada Sehun bahwa Hanna baru pertama kali datang ke Edinburgh. Dan ia takut kalau emosi yang tengah menguasai gadis itu membuatnya kehilangan arah.

Awalnya, iris gelap Sehun menangkap sosok Hanna yang tengah menggerutu di bangku taman kota. Ia ingin sekali mendengarkan rangkaian silabel tertahan yang diucapkan Hanna. Sadar diri, Sehun mengurungkan niatannya. Ia tahu, posisinya sekarang hanyalah menjadi sosok stalker yang kurang kerjaan. Menguntit seorang gadis dari kejauhan lalu berkamuflase lagi jika Hanna bangkit dari tempatnya.

Sekarang, setelah Hanna membuang kekesalannya di taman, ia menyeret tungkainya menuju tempat yang lain. Sebuah cafe yang tak asing baginya. Starbuck. Tempat yang sering ia kunjungi bersama Chanyeol ketika hang out. Setelah memilih minuman, Hanna lekas memilih meja lalu meminum pesanannya. Bersyukurlah Starbuck memiliki sekat dengan bahan yang bisa tembus bahan. Sehingga ia bisa melihat apa yang Hanna lakukan di dalam sana.

Namun, rasa ingin tahunya pada apa yang dilakukan Hanna jauh lebih besar daripada pelajaran yang sering ia dengarkan oleh dosennya. Alisnya bertaut bersama dengan kerutan yang tercipta di dahinya saat melihat Hanna membeli dua bubble tea. Untuk siapa yang satunya?

Hingga akhirnya, Sehun mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya menemui Hanna walau tak berhadapan langsung dengan gadis itu. Ia lebih memilih duduk di meja sudut ruangan—dengan alasan agar lebih dekat dan lebih leluasa menjaga Hanna.

Lama ia mengamati Hanna, hingga gadis itu bangkit dari kursinya dengan membawa satu bubble tea yang masih penuh beserta ponsel hitamnya. Sontak Sehun langsung mengambil pose bermain ponsel—agar Hanna tak mengenalinya. Tapi, sial beribu sial, Hanna justru mendatangi meja Sehun. Meletakkan bubble teanya lalu merebut ponsel Sehun secara sepihak.

“Jangan bersikap baik seperti ini, membuatku terlihat menyedihkan!”

Sehun yang baru saja mendongak pun membulatkan mata. Tak bisa berkata apa-apa walau bibirnya ingin bicara. Mengucapkan beribu maaf, namun entah kenapa sulit sekali mengutarakannya. “A-aku minta—”

“Maaf?” sela Hanna. Gadis Lee itu langsung tersenyum sinis. “Aku tidak tahu apapun dan tiba-tiba kau menyakitiku—”

“Sorry—”

“—Lalu kau meminta maaf dengan mudahnya? Katakan apa yang salah dari ucapanku, Hester-ssi!” Habis sudah kesabaran Hanna pada pria jangkung di hadapannya. Walau tampak sekali raut bersalah dari wajahnya, tak membuat Hanna berhenti begitu saja. Ia hanya ingin meluapkan emosinya lalu pergi meninggalkan pria itu. But, Damn it! Hatinya membuat kakinya beku. Tak bisa bergerak walau otak sudah memerintah.

Oh God! What the hell about this situation? Hanna mengumpat dalam hati. Pada akhirnya juga pertahanannya runtuh hingga punggungnya bertemu sandaran kursi. Tak lupa ia melipat tangan di depan dada dan membuang fokusnya ke sembarang arah sebagai bentuk amarah yang masih tak mau lenyap.

Bodohnya pakem bicara yang sudah ia kuasai sejak usia satu tahun pun tak bisa andil dalam percakapan. Hingga akhirnya kalimat Hanna-lah yang menyapa pendengarannya untuk terakhir kali. Ia hanya bisa menunduk dan menyesal atas amarah yang tak bisa ia tahan beberapa jam yang lalu. Fokusnya bahkan mulai kabur—ia teringat kalimat suster Hanna yang mengingatkannya untuk menghilangkan ego dalam diri. Tapi, kenapa itu susah sekali? Ia tak mau kehilangan orang yang ia cintai sekarang ini.

Sehun pun terdiam seribu bahasa kala melihat tangan Hanna bergerak meraih bubble tea yang sudah dibiarkan sejak tadi. Mendorongnya hingga mendekati tangan Sehun yang kini bertautan di meja. “Minumlah, aku membelikannya untukmu.”

Tentu saja Sehun terhenyak. Wanita itu masih bisa baik padanya, padahal sikapnya hari ini keterlaluan. “’Aku—”

Terkutuklah ponsel lima inchi yang berdering meminta atensi pada Sehun yang tengah mencoba mengungkapkan penyesalannya. Menyadari Sehun membutuhkan ponselnya, lantas Hanna dengan segera mengembalikannya. Perlahan Sehun mengambil ponselnya itu dengan lembut, dan berakhir dengan suara bariton yang meninggi.

“Why—”

Hanna hanya bisa menangkap wajah serius dan khawatir Sehun kala mendengarkan apa yang diucapkan oleh sesorang di seberang line sana. Walau Hanna tak tahu apa yang keduanya bicarakan, ia tahu kalau Sehun harus pergi meninggalkannya untuk urusan yang serius.

Setelah memutus sambungan, Hanna lantas menginterupsi Sehun yang baru akan berujar. Seolah tahu apa yang akan ia katakan. “Pergilah, aku baik-baik saja.” Sehun yang mendengar keputusan sepihak Hanna lantas menggeleng tegas. “Big no! Kau pikir ini Starbuck milik ayahmu yang bisa mengantarmu pulang? Ikuti aku dan jangan membantah.”

“Memangnya kau siapa bisa mengaturku seperti itu?!”

Percakapan keduanya tak berakhir indah. Padahal baru beberapa detik yang lalu Hanna menyatakan damai. Dan kini amarahnya telah dipancing oleh pria bermarga Hester itu. Sehun yang kalut dengan keadaan mendesak akhirnya meraih lengan Hanna dan menariknya keluar. Membukakan pintu mobil untuk Hanna, namun lagi-lagi terhambat. “Come on, Hanna. Please hear me,” nada Sehun kini mulai melemah. Membuat Hanna mendapatkan ujian yang lebih berat daripada pertengkaran keduanya. Hatinya terenyuh dengan permintaan Sehun, dan berakhir dengan masuknya ia ke mobil.

“Thank you,” ucap Sehun sebelum menghidupkan mobilnya. Hanna tak bergeming. Ia lebih memilih memandangi Edinburgh dengan sejuta keindahannya. Namun, itu semua tak bisa membuat otak Hanna kalut akan pikiran-pikiran yang bersarang di otaknya. Sungguh, ia membenci rasa ingin tahu tanpa ada jawaban. Hanna memberanikan diri bertanya, tapi pria Hester itu lebih dulu menyela.

“Vivi tiba-tiba sakit dan sekarang ada di apartemenku.” Kata Sehun dengan suara yang lebih tenang. “Dan disaat yang bersamaan aku tak bisa meninggalkanmu sendiri, aku tahu kau tak tahu jalan pulang.”

“Darimana kau tahu kalau—”

“Kau di sini baru beberapa hari. Mustahil kau mengingatnya jika IQ-mu tak tinggi.” Sebenarnya kalimat awalnya begitu manis didengarkan membuat Hanna merasa tenang. Tapi, bersamaan dengan kelanjutan kalimat yang disambungkan Sehun dengan tiba-tiba membuat Hanna ingin mengunyah pria itu saat ini juga. “Siapa Vivi? Apa dia pacarmu?”

God bless you, Hanna! Batin Hanna merutuki kalimat yang keluar. Disaat yang ingin keluar adalah umpatan, kenapa kalimat itu yang justru terucap. Hanna mengigit bibirnya pelan—kebiasaannya jika disituasi yang canggung. Tiba-tiba saja kegundahan yang melanda hati Sehun kini berpaling pada kalimat yang baru saja menggema di mobilnya. Apa yang gadis itu katakan? Vivi pacarnya?

“Aku akan memperkenalkannya padamu nanti,”

.

.

RBS_2123247b.jpg

Walau tiga huruf besar itu hanya refleksi di kaca, ia begitu membencinya. Bagaimana bisa kembali lagi pada tempat yang paling ia benci di muka bumi ini. Sayangnya, ia hanya bisa menurut saat ibunya mengancam akan bunuh diri jika ia tak menemuinya di sana. Memang terdengar konyol, tapi ia tetap saja menurutinya.

Tiba-tiba seorang wanita muda mendekatinya. Mengucapkan beberapa amanat yang disampaikan pada atasannya pada Steven. Pria itu terdiam, namun lekas mengukir jejak panjang untuk segera melaksanakan amanat. Menghentikan kakinya kala tempat yang dituju sudah di depan mata. Hingga akhirnya tangan meraih kenop pintu.

“Kau sudah datang?” Sapa wanita muda yang tengah duduk di sofa kala ia menampakkan diri. Sedangkan pria paruh baya yang tengah duduk di kursi kerja pun hanya mendongak singkat. Tak lupa sopan, Steven membungkukkan badannya 90o. “Kemari,” pinta suara bass yang ikut duduk di samping istrinya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Oh saat suaminya dan Steven telah menduduki sofa. Sebagai jawaban, Steven hanya mengangguk bersama senyum tipisnya. “Bagaimana karirmu?” suara Tuan Hester bertanya. Steven tersenyum tipis. “You know more than me, Dad.”

Tuan Hester menyernyitkan dahi—pura-pura tak tahu. “Don’t act like that, Dad. Really nasty.”

Menuruti keinginan sang putra sulung, ia lantas menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Kau tahu aku akan mendapatkan apapun yang kumau, Steve.” Tuan Stephen berujar tanpa keraguan. Seolah ia yang paling berkuasa. “Aku rasa kau salah ayah. Karena apapun yang aku mau, aku akan memperjuangkan.” Ujar Steven tak kalah mantap.

“Jujur, aku sangat benci ketika nama kita punya cara baca yang sama.”

“Dan aku lebih benci ketika kau lebih memilih perusahaan sialanmu itu, Steve!”

Steven tersenyum kecut. “Apa kau pikir perusahaanmu tidak sialan? Dengan mudahnya kau membuat bank lain tak percaya pada perusahaanku dan akhirnya diambang kehancuran? Aku tak bisa biarkan itu. Walau perusahaan itu bukan milikku, setidaknya aku bisa membeli apartemen tanpa uangmu!”

Habis sudah kesabaran yang telah ia kumpulkan sejak pertama kali menginjakkan kakinya di kantor itu. Terlebih lagi dengan kalimat memuakkan yang ia dapatkan dari sang ayah. Membuatnya ingin menyarangkan pukulannya pada pria itu. Tapi, sebesar apapun amarahnya, ia tak akan kelewat batas.

“Aku pergi,”

Hanya itu kalimat yang berhasil memutus percakapan panas yang terjadi antara keduanya yang sudah tak bisa ditolerir lagi. Nyonya Oh yang tak tahu apapun menghela napas panjang. “Kenapa kau suka sekali mencari keributan dengan putramu?”

“Kau tak perlu mengetahuinya.” Tuan Stephen berujar lantas bangkit. “Aku memang tak perlu tahu karena aku hanya istri yang kau jadikan status saja. Aku rela kau selalu menyakitiku.” Ujar Nyonya Hester dengan penekanan penuh di setiap silabel.

“Aku tahu, masa lalu kita membuatmu tak bisa menghargai keberadaan Steven dan juga Sehun. Tapi, setidaknya jangan melakukan lagi kesalahan itu pada anak-anak kita. Mereka sudah dewasa, Stephen. Kau harus tahu itu.” Wanita bermarga Oh yang sudah menjadi pasangan sehidup-semati tuan Hester pu lekas meledak. Bahkan, tiga kalimat itu harus di rangkai beberapa tahun yang lalu untuk mengucapkannya. Lidah tak mampu membela diri kala harga diri jauh tinggi.

“Memang yang terjadi di antara kita seperti kisah Stephen dan juga Sehun. Tapi, setidaknya mereka masih bisa melanjutkan kehidupan mereka—” Tuan Hester menggantungkan kalimatnya. Ingin meraih gelas di meja, lalu melemparnya ke arah dinding. Namun, ia tak mau mengotori ruang kerjanya hanya untuk tingkah konyol seperti itu. Lebih memilih melanjutkan kalimat yang belum rampung. “—dengan orang yang mereka cintai.”

.

.

Mobil SUV Termahal - Land Rover Range Rover Sport Supercharged Autobiography -2014.jpg

“Kenapa kita justru ke toko ini?” tanya Hanna sedikit sebal dengan keputusan tiba-tiba pria Hesler itu. Range Rover sport  keluaran 2014 milik Sehun menepi tanpa sepengetahuan Hanna. Pria itu lantas keluar, berjalan memutar hingga berada di depan pintu Hanna. “Kau tidak mau keluar?” tanyanya saat mendapati Hanna dengan tatapan tajam.

Mau tidak mau, Hanna akhirnya menurut. Mengikuti langkah besar pria di hadapannya menuju sebuah toko kecil dengan tak minat. Kendati ingin segera pulang dan mmecahkan barang di apartemennya, ia kembali terjebak dengan pria itu. Salahkan dirinya yang tak mau menunggu Helena pulang. Dan ini adalah pertama kalinya ia membolos di saat ia belum genap satu bulan. Luar biasa.

Ipad_2910.jpg

“Gelang couple?” Hanna bergumam melihat benda yang disodorkan Sehun. Menatap lamat-lamat kemudian menatap manik coklat Sehun dengan raut penuh tanda tanya. Ali-alih menjawab, Sehun justru tersenyum bahagia. “Kau tahu logo ini?” tanya Sehun pada Hanna yang masih membatu. Hanna menggeleng pelan.

“Infinity. Dan ini,” jari telunjuk Sehun terarah menuju gembok beserta kunci yang tergantung di lain sisinya. “Ini melambangkan kesetiaan?” tebak Hanna. Sehun kembali tersenyum. Gila memang kalau Sehun mengatakan perasaannya, padahal mereka belum genap satu bulan bertemu, apalagi mengenal. Namun, dengan ringan tangannya pria Hesler itu memberi Hanna gelang couple. Berharap, tanpa mengatakannya pun Hanna akan tahu maksudnya.

“Aku akan membelikan ini, kau tunggu di sini.” Pinta Sehun sembari meninggalkan Hanna sendiri. Kesempatan itu pun tak disia-siakan Hanna. Gadis itu suka dengan hal-hal sederhana, namun begitu romantis. Dan Sehun melakukan untuknya. Dan itu adalah pertama kalinya.

Menghilangkan kebosanan, Hanna lekas mengedarkan pandangan. Menyentuh beberapa barang couple yang mungkin akan menarik perhatiannya. Tak menunggu lama, jari lentiknya terhenti menyentuh sebuah benda yang berbeda dari yang lain.

dc3su4b-dream-catcher-suede-beads-blue.jpg

“Dream catcher?”

Hanna tak mengira benda itu akan ada di kota sebesar Edinburgh. Memang benda itu sudah terkenal sejak lama, namun tak ada yang seindah ini—batin Hanna kagum. Warna bulunya biru, warna kesukaannya. Dan bentuk serta warnanya pun berbeda dari yang ada. Hanna ingin memilikinya.

“Kau ingin itu?” suara bariton khas Sehun menginterupsi. Menangkap maksud tatapan kagum sosok gadis keras kepala di sampingnya itu. “Iya,” jawabnya jujur. Sehun tentu akan dengan senang hati membelinya—banyak pun tak apa. Namun, urung dilakukan berkat kalimat Hanna yang terdengar kemudian. “Tapi, tidak untuk sekarang.” Sahut Hanna di detik selanjutnya. Membuat Sehun menghela napasnya—menahan sikap to-the-point Hanna. Meraih lengan Hanna lembut, untuk kemudian di ajak menuju mobil.

“Ini,” Sehun mengeluarkan gelang yang baru saja ia beli. Menarik pergelangan tangan Hanna untuk kemudian di pasangkan di sana. “Jangan di lepas,”

“Kau pemaksa dan juga kasar,” gerutu Hanna. Bukannya marah, Sehun lebih memilih tersenyum, lalu menjawab, “Maafkan untuk sifat kasarku. Tapi, kalau untuk yang satu itu aku tak bisa menghilangkannya.”

Hanna tak perlu dua detik untuk mengerti. Sifat yang tidak bisa di hilangkan—pemaksa. “You’re so selfish, Mr. Hesler,” Cibir Hanna. “Setidaknya kau masih mau berada di sampingku,” timpal Sehun menggoda Hanna. “Jalan atau aku yang akan turun dari mobil!” ancam Hanna yang disambut tatapan kaget Sehun. “Aku akan jalan,”

.

.

“Jadi, mana Vivi-mu itu? Kau mau membohongiku dan mengajakku ke apartemenmu hanya agar aku memaafkanmu? Yang benar saja!” gerutu Hanna saat tak mendapatkan objek apapun yang bisa ia panggil dengan dua silabel itu. “Damn it! Darimana saja kau, Hun? Vivi tidak mau makan,”

Suara bass dari pagar pembatas lantai atasnya menggema hingga Hanna dan Sehun mendongak. Mendengar pengaduan itu, Sehun lekas menaiki tangganya buru-buru, meninggalkan Hanna yang masih ingin memuntahkan segala kemarahannya pada Sehun. Karena tempatnya berpijak sekarang ini bukanlah rumahnya, maka ia lebih memilih menaik tangga dengan segera hingga ia berdiri tepat di sebuah kamar besar dengan warna abu-abu yang lebih mendominasi.

Merasa terganggu pandangannya akan punggung tegap Sehun, maka Hanna lebih memilih merangsek maju untuk melihat secantik apa sosok Vivi yang berhasil membuat pria itu begitu khawatir. “Ja-jadi, ini yang namanya Vivi?!”

Seolah ditimpa seribu buku tebal dari perpustakaan, Hanna hampir terkulai lemas. Jadi, ini yang namanya Vivi?!— sekali lagi ia mengatakna kalimat yang sama dalam batinnya. “Dia sepertinya memakan sesuatu yang membuatnya sakit. Aku sudah memberinya suntikan pereda rasa nyeri dan juga obat. Aku akan kesini besok untuk melihatnya lagi.”

“Thanks, Lu. Tapi, kenapa kau bisa di sini?”

Pertanyaan Sehun berhasil membuatnya mendongak. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi hanya kita berdua.” Ujar Luhan menekankan tiga kata terakhir. Peka jika Hanna masih terhenyak dengan kenyataan Vivi, maka dari itu ia lebih memilih mendorong punggung Luhan hingga keluar dari kamarnya.

Sedangkan Hanna pun memberanikan diri mendekati makhluk hidup bernama Vivi yang tengah berbaring di tempat tidur Sehun. “Jadi, kau yang namanya Vivi,” ujarnya pelan. Didetik selanjutnya, Hanna mengigit bibir, merutuki kebodohannya yang mengira bahwa Vivi adalah pacar Sehun. “And Sehun’s girlfriend is puppy,” lanjutnya dengan nada putus asa.

Seolah tahu bahwa gadis di hadapannya itu sedang kesusahan, maka dari itu Vivi mendekati Hanna dengan sisa-sisa tenaganya. Meletakkan kepalanya yang berbulu putih itu dengan lemas. Seolah ingin bermalas-malasan dan ingin berbagi kesedihannya dengan Hanna. “Kau pasti merasa sakit sekali ya?” ujarnya lagi pada Vivi yang dibalas gonggongan lemahnya.

Tak lama kemudian, datanglah Sehun dengan raut muka yang begitu datar, hingga Hanna pun tak bisa mendeskripsikan apa yang sedang terjadi oleh pria itu. “Kau baik-baik saja?”

Hanna pun lekas menoleh pada Vivi yang masih nyaman bermanja-manja dengannya. “Kau bertanya padaku atau pada Vivi?” Tanyanya dengan nada bingung yang begitu kentara. Membuat Sehun mengulum bibirnya agar tawanya tak lepas. “Kau, Lee Hanna.”

Mendengar jawaban itu Hanna menggeleng. “Kau sudah membohongiku, Hester-ssi.” Sontak Sehun mengerutkan dahinya. “Kenapa kau tak bilang kalau Vivi itu anak anjing?”

Tak perlu ditanya lagi. Sehun langsung mendekati Hanna yang duduk di tepi kasurnya. Duduk disamping Vivi yang enggan bergeser sedikitpun. “Lalu kenapa kau mengira kalau Vivi itu pacarku?” Hanna terdiam, namun lekas menjawab. “Aku melihat kau sangat khwatir saat Vivi sakit. Tentu saja aku langsung mengira kalau Vivi itu pacarmu,” ujarnya dengan nada rendah sembari menatap Vivi.

“Tapi, aku lebih mengkhawatirkanmu.” Ujar Sehun sembari memajukan wajahnya. Mengikis jarak yang tercipta. Tentu saja, Hanna membulatkan matanya melihat gesture yang Sehun ciptakan. Jari lentiknya pun spontan menahan dada bidang pria dihadapannya itu. Membuat Sehun tersenyum kemenangan“A-apa yang kau lakukan?”

“Hari ini aku merasa seperti penguntit bodoh yang mengikutimu kemanapun kau pergi.”

“…” Hanna bergeming.

“Tapi, entah kenapa rasanya itu tak semenyedihkan apa yang orang pikirkan. Karena aku menyukaimu.”

Hanna terhenyak mendengar pengakuan itu. Baru beberapa hari mereka bertemu dan pria itu langsung mengatakannya? Hanna menetralisir degupan kencang jantungnya. Mencoba berpikir dengan kepala dingin. Bagaimana kalau pria itu menjebakknya? Apalagi tempatnya berpijak adalah milik pria itu.

“Hahaha, kau pasti bercanda.” Hanna membuat-buat nada tertawanya. “Kau pasti mau mengatakannya agar aku memaafkanmu ‘kan? Lalu besok kau meninggalkanku dan pergi bersama wanita lain. Pasti itu,” Sehun menghela napas. Apakah kesungguhannya itu tak ada artinya di mata Hanna?

“Apa aku terlihat seperti orang yang ingin mempermainkanmu?” Sehun kembali mengikis jarak setelah memindahkan Vivi tidur di bantalnya. “Jangan mendekat!” pinta Hanna dengan mendorong lebih kuat dada bidang itu. Sayangnya, tenaga Sehun jauh lebih besar darinya. “Kalau aku mempermainkanmu, tentu saja aku akan melepaskan pakaianmu sekarang juga. Nyatanya juga tidak ‘kan?”

Alih-alih percaya, Hanna justru memberi Sehun syarat. “Kalau kau mencintaiku, ceritakan semua tentang kakakmu yang membuat kau menyakitiku.” Pinta Hanna untuk kedua kalinya. Tak menciptakan jarak kembali diantara keduanya, Sehun justru semakin mendekat. “Bagaimana kalau meminta imbalan lebih dulu?”

.

.

.

Selang infus dan juga monitor kecil di sampingnya tak henti-hentinya bekerja. Sudah hampir satu tahun gadis itu terbaring lemah di tempat tidurnya, tapi belum ada satupun tanda-tanda kehidupan. Walau ruangan itu sangat besar, yang terdengar hanyalah suara dari monitor kecil  yang menunjukkan grafik.

“Kapan dia akan sadar dari komanya?” suara bariton menyela lebih dulu sebelum pria berjas putih itu menyapa. “Kau pasti sangat merindukannya, Lu.” Balasnya tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan sebelumnya. “Ya, aku sangat merindukannya.”

Tangan Luhan tergerak menuju kaca yang menjadi pembatas antara ia dengan ruangan gadis itu. Menjadi celah agar hazelnya masih bisa melihat betapa menderitanya gadis yang ia sayangi hingga akhirnya berakhir seperti ini. Terlihat seolah ia menyentuh gadis yang telah mencuri hatinya sejak belasan tahun yang lalu. “Hanya Tuhan yang tahu. Jikalau ia bisa sadar, kemungkinannya hanya dua puluh persen.” Ujarnya lemah.

Luhan menoleh. Tangan yang awalnya bertengger manis menyentuh kaca tergerak menuju bahu pria disampingnya. “Aku mohon padamu. Lakukan apapun agar Hanna sadar. Aku sudah membawanya jauh-jauh ke Singapura hanya untuk pengobatannya.”

“Tapi, Lu. Itu mustahil!” ujarnya mencoba menyadarkan. “No, Yixing! Nothing is impossible! You can do that. I trust you.” Luhan menyangkal. Ia masih menginginkan gadis bernama Hanna itu tetap hidup. “Jika seandainya si brengsek itu tak mengkhianati Hanna, dia pasti masih bisa menjalani hidupnya.”

“Nyatanya Hanna seperti ini karena ia mencoba bunuh diri, Lu. Jangan lupakan fakta yang satu itu.”

.

.

.

“Memangnya apa kau tahu apa yang aku inginkan?”

 “Kau marah?”

“Hanna sadar!”

“Sehun..”

Are you okay, Lu?

“I’m not,”

“Kau tampak polos dan playboy diwaktu yang bersamaan.”

“Sekarang giliranmu.”

“Mungkin dengan kedatanganmu dalam dunia barunya, kau bisa membuatnya menjadi pria yang jauh lebih baik.”

“Sebenarnya kau anggap Hanna apa?”

“Jujur, aku memang pernah menyukainya semasa kecil. Dia gadis yang tangguh, dan tak pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia mau.”

“Dia milikku!”

How are you, Chan?

“Aku kira dia sudah lebih baik. Ada Sehun yang menjaganya.”

 “Tapi, ada hal yang harus kau ketahui tentang Sehun. Karena ini—”

“Lanjutkan saja makanmu.”

 “Kau masih di sini?”

“Aku harap kita akan menjadi teman yang baik, Hanna.”

[TBC]

Sebenernya ada rahasia yang aku sembunyikan di sini. Salah satunya adalah saat aku mempost FF-ini. Liat respon yang aku dapat. Tapi, dari banyaknya readers yang baca, hanya beberapa yang berkomentar. Dan untuk itu, aku akan mempost setiap chapter ketika ada perkembangan daripada chapter sebelumnya.

Memang FF aku gak sebagus para author lain yang bisa merangkai kata-kata dengan begitu baik. Tapi, setidaknya beri aku semangat. Mungkin saja para readers tidak sempat untuk membuat komentar yang panjang dan apalah itu. Sebenernya sedikitpun gak papa. Aku tetap menerimanya. Tapi apa daya, takdir berkehendak lain/?/

Aku sadar, memang berkomentar itu gak semudah yang di bayangkan. Tapi, aku mohon sekali aja, aku masih baru dan ingin mendapat banyak masukan. Apalagi kalau ada salah kata, aku pasti akan menerimanya dengan tangan terbuka.

Jadi, untuk yang masih menikmati FF ini, aku mohon dengan sangat untuk meninggalkan komentar, sebelum aku membuat author’s notenya jadi lebih panjang/hampir 160 word/

Dan untuk readers yang sudah meninggalkan jejak, terima kasih. Semoga yang di atas membalas kebaikan kalian*berkah ramadan/?

With Love,

—Putrisafira255

Bonus Pict 😉
Advertisements

50 thoughts on “Take It Slow—Chap.3”

  1. bagus ceritanya,, itu kok ada 2 ya hanna nya,, jng2 hanna yg koma itu ada hubungannya dgn sehun ya?? terus apaan sih rahasianya.. jadi penasaran bngt nih,, btw mian aku baru komen di part ini… di tunggu next nya thor… jgn lama2 abdetnya yhaa… hehehe fighting !!!

    Liked by 1 person

    1. Aku juga bingung. Hanna ada dua, Sehun ada dua, mungkin Chanyeol nanti juga ada dua kali ya 😀
      Rahasianya.. udah ketulis kok. Aku emang terbiasa post kalau ada peningkatan readers. Mian, but itu penting untuk meningkatkan motivasi:)
      Makasih undah komentar, Have a nice day!

      Like

  2. Jujur aku bingung tau itu yang bagian terahir cuplikan atau bukan sih
    Aku tuh lola loh kalo masalah teka teki LOL

    dan kenapa hanna ada banyak banget? *gabangetjugasih*
    Maklumin aku yang sedikit lola ini ya wkwk
    keknya masih banyak teka tekinya nih

    Pokoknya ditunggu kelanjutannya ya
    Hwaiting^^

    Liked by 1 person

  3. aq bingung nih, knp ceritanya makin rumit ya????
    jadi sehun itu punya kmbaran gitu?
    terus yg koma itu hanna siapa???
    hanna yg sama sehun bukan?
    knp luhan jg suka sama hanna?
    ini hannanya ada berapa sih? terus di knp mncoba bunuh diri?
    apa gara” sehun?
    ini alurnya flashback kah?
    aq bingung kak, bnyak pertanyaan yg menumpuk diotakku 🙂
    ditunggu lanjutannya ya kak, moga dichapter depan bisa terjawab semua rasa penasaranku….
    semangat ^_^
    oh iya aq suka bgt sama moment sehun-hanna sweet bgt 🙂

    Liked by 1 person

    1. Iya, Sehun punya kembaran. Kalo itu Hanna siapah? nama panjangnya Hanna markonah/Hahaha/ *becanda.
      Pertanyaannya banyak bangetz, aku sampe beralih ke sindrom alayyzz/?/
      Enggak kok, alurnya masih tetep maju. engak mundur gak juga cantik/kena virus syahrini./
      Semoga kejawab yah.. abis aku udah terlanjur bikin chap 7, jadi buat ngerombak susah/mian/ Have a nice day!

      Like

  4. Halo saya pembaca baru. Awalnya agak bingung sih tapi pas tahu sehun punya kembaran gambarannya hampir terlihat jelas. Aku ngak bisa banyak komentar karena baru baca so aku cuma mau bilang keep writing and fighting author… 😉

    Like

    1. Iya, si Alinson bunuh diri gegara Sehun. Untuk aja ada si angel Lulu. Kalo Sehun sih tahu, cuma dia gak mau tahu lagi. /Do you know what i mean?/

      Lee Hanna? cari cogan lainnya/digampar/

      Terima kasih sudah berkomentar 😀

      Like

  5. yaaa elahhh gue salah, gue kira si steven itu Luhan dan ternyata bukan.. aduhh ada-ada aja deh! malu-maluin hahahaha
    kira-kira apa yang akan terjadi dengan sehun dan hanna juga vivi yang bersama mereka!! apakah sesuatu hal akan terjadii?? ehh tunggu! kelupaan muji vivi yang imut dan manisnya kaya sehunn kkkk~ 😀 :v :p
    ituuuuuu thor ituuuuuu apppaaaaa? rahasia apa???? 😮 kenapa ada dua, sehun hanna ko’ bisa ya? masa lalu kah atau apa kahhh.. huwaaaa gagal paham 😥 baiklah mari cepat baca kelanjutannya hehe..
    oh iya ff ini bagus banget ko’ keren malah (y) fighting terus yaaaa :* :*

    Like

  6. Pas part terakhir, aku langsung gak mudeng/? Maksudnya gimna, kenapa hana tiba tiba di rumah sakit, perasaan tadi hana ketemu sama luhan waktu jenguk vivinya..

    Like

  7. Itu hanna koma , bagian masa lalu apa hanna.a ada dua??
    Luhan siapanya hanna??
    Hubungannya sehun sma hanna yang koma apa??
    Apa sehun cowo yang selingkuhin hanna sampe hanna bunuh diri terus koma??
    Apa gmna??
    *banyak nanya*

    Liked by 1 person

  8. duh ffnya penuh misteri pokoknya misterius bagt deh, itu kok hanna ada dua ya terus apa hub antra hanna sama luhan sama sehun jga dan itu luhan kok biasa aja ya sama si sehun kan malah baik gtu sama si vivi

    Like

  9. yg terakhir itu bikin bingung, hanna..??? hanna mana yg dimaksud..?? hanna ada dua..?? juga..?? itu namanya aja yg mirip atoo semuanya mirip..?? serius bikin bingung..
    .trs sbnrrnya sehun ma steven tu knpa sih..?? kok bisa ga cocok gitu sm ayahnya…tp hubungan sehun steven baik” aja kan..??
    banyak bgt pertanyaan kk..

    Like

  10. Apakah Hanna juga kembar?? Knpa si Author hobi bgt nulis anak kembar sih thorr..
    Yaudah terserah Author.a deh, toh aku jga suka 😁
    Hanna kembar, ngga cman muka tpi nma.a jga kembar, knpa bsa gtu ya??
    Trus hrs.a Luhn tau ngga sih klo cewe yg Sehun bwa k Apartemen itu Hanna?? Kan muka.a mirip, nntr kya Hanna yg ngira Sehun itu Steven, kkeut.
    Next yaa

    Liked by 1 person

  11. Ohhh jadi Sehun punya saudara kembar
    Nah loh Hanna jadi benci Sehun eh tapi ujung2nya rada baikan. Vivi jadi cast juga trnyata wkwk sampe2 Hanna bilang dia pacarnya Sehun -_-“

    Liked by 1 person

  12. Aduh aduh
    Hanna disakiti sama sehun?
    Kapan sehun nyakitin??:3
    Ini hanna ada banyak? ato alurnya maju mundur yaa asli min aku bingung :3 ehehe
    Trus apalagi ahh sehun ada kembaran plis yang Satu aja udah cakep apalagi ada dua plisss😂
    Hanna beruntungnya dirimu dikerubungi /yakali semut/ sehun sehun yang tamvann:3

    Like

  13. Aduh aduh
    Hanna disakiti sama sehun?
    Kapan sehun nyakitin??:3
    Ini hanna ada banyak? ato alurnya maju mundur yaa asli min aku bingung :3 ehehe
    Trus apalagi ahh sehun ada kembaran plis yang Satu aja udah cakep apalagi ada dua plisss😂
    Hanna beruntungnya dirimu dikerubungi /yakali semut/ sehun sehun yang tamvann:3
    Bagus minn 😗😗😗

    Liked by 1 person

  14. kenapa hanna dirumah sakit, yg ku taukan hanna bersma sehun?
    terus apa hubungan hanna dgn luhan, apa mereka saling kenal. klu begitu kenapa hanna tdk menyapa luhan td ketika ketemu sm vivi brsma sehun.
    aduh jd pusing sendiri.

    Liked by 1 person

  15. Awalnya sih nebak kaya si sehun kata katanya tuh seolah udah kenal sama Hanna apa lagi kan ada kata kalo gak salah “aku tidak mau kehilangan orang yang ku cintai lagi”(?) Jadi apakah dulu si hanna sama sehun udah pernah kenal? Aaaa baca nih ff deg-degan wkwkwk

    Liked by 1 person

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s