TAKE IT SLOW—CHAP.4

Take It Slow

Absurd story by PutrisafirA255

【Main Cast】

Sehun Hester | Hanna Lee

【Other Cast】

Chanyeol Park | Hyena Kim

Baekhyun Byun | Helena Park

Lee Hanbin| More

「Angst, AU, Drama, Hurt, Comfort, Romance, Friendship, Family」

『PG-16』

ǁEdinburgh, Scotlandǁ and ǁSeoul, South Koreaǁ

「Chaptered」

♠Part 1: First Look

♥ Part 2: What’s Wrong?♥Part 3: The truth

Part 4: The Trouble was Come[NOW]


“Selfish? That’s because I love you.”


Siapa gadis yang tak takut ketika dirinya dipermainkan oleh pria yang baru beberapa hari ia kenal? Tak terkecuali Hanna. Gadis Lee itu sangat takut bahkan merasa dipermainkan oleh takdir kala dipertemukan dengan pria seperti Sehun. Mengatakan dengan mudahnya perasaan suka, hingga seolah tak ada hal yang lebih penting untuk di bahas.

Pria itu baru saja mengungkapkan perasaannya. Perasaan yang memang sudah ia miliki saat keduanya pertama kali bertemu. Banyak orang bilang bahwa perasaan semacam itu adalah cinta pada pandangan pertama. Tapi, kesungguhannya benar-benar ternodai saat keseriusannya dipertanyakan.

Sehun tau Hanna pasti tak ingin terluka, begitu juga dengannya. Haruskah ia lompat dari gedung tinggi untuk membuktikannya? Ia sempat berpikir begitu, tapi urung kala memikirkannya dua kali. Terlalu berlebihan—pikir Sehun.

“Kalau kau mencintaiku, ceritakan semua tentang kakakmu yang membuatmu menyakitiku.” Pinta Hanna untuk kedua kalinya. Tak menciptakan jarak kembali diantara keduanya, Sehun justru semakin mendekat. “Bagaimana kalau meminta imbalan lebih dulu?”

Tentu saja Hanna segera mengambil langkah. Bangkit dari tempat tidur pria itu, lantas menatap Sehun tajam. “Jangan macam-macam denganku, Byuntae-ssi!”

Mendengar kalimat itu keluar dari bibir Hanna, tentu saja Sehun tertawa. Ia belum mengatakan apa yang ia inginkan, tapi Hanna sudah lebih dulu menolaknya. “Memangnya apa kau tahu apa yang aku inginkan?” ucap Sehun membuat Hanna terdiam sejenak dari langkah mundurnya. “Me-memangnya kau mau meminta apa?”

“Buatkan makan malam untukku, lalu aku akan menceritakan semuanya padamu.”

.

.

kitchen-island-apartment-kitchen-apartment-ikea-small-kitchen-modern-family-kitchens-ikea.jpg

Hanna menyesalkan keputusannya menerima permintaan Sehun. Pasalnya dalam kulkas dua pintu itu, tak ada bahan makanan apapun yang bisa dimasak. Padahal, apron chef sudah melekat di tubuh rampingnya. Sehun sebenarnya menyadari itu, ia hanya menunggu gadis kesayangannya itu marah.

Hanna lantas memutar badan. Mendapati Sehun yang tengah duduk dengan manis di hadapannya. “Apa aku bisa memasakmu?” tanyanya dengan nada sarkastik. Dikala Hanna kesal luar biasa, Sehun justru tersenyum dengan senangnya. “Bagaimana kalau aku memakanmu lebih dulu?” balasnya dengan senyum miring yang bisa langsung diartikan dengan mudah oleh Hanna.

“Dasar, Byuntae!” pekiknya dengan raut muka semakin marah. Tak ingin Hanna melanjutkan amarahnya lebih lama, Sehun akhirnya mengalah. Bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati Hanna. “Baiklah, aku akan mengantarmu ke supermarket. Tak jauh, kita hanya perlu—”

“Shireo!” Hanna melepaskan tangan Sehun dengan sekali hentakan. Sehun yang mendapati perlakuan itu pun membulatkan mata tak percaya. “Kau marah?” tanyanya dengan nada lemah. Sedangkan Hanna memutar bola matanya malas. Bukankah ia tahu jawabannya, mengapa harus bertanya?—batin Hanna.

Menyadari pertanyaannya menjadi pernyataan, maka dari itu ia membuang seluruh rasa egoisnya. “Baiklah, aku minta maaf.”

“Aku akan pergi sendiri,” ujarnya ketus sembari melepas apron chef-nya. Tak hilang akal, Sehun melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Hanna. Mendapati back hug yang dilakukan Sehun, ia lantas memberontak. “Le-lepaskan!”

“Jangan marah lagi dan ayo pergi bersama.” Pintanya. Mana mungkin Sehun bisa diam saja, Hanna marah  sebentar saja ia sudah kebingungan. “Baiklah, lepaskan sekarang, Byuntae-ssi.”

“My Name is Sehun, Hanna.”

Entah mengapa dan Sehun tak mau tahu juga, ia sudah mulai merasa nyaman dan juga candu ketika dihadapkan wajah cantik Hanna. Seolah ia adalah magnet berkutub utara dan Hanna selatan, sehingga ia akan mendekat jika dipertemukan dengan gadis itu.

“Okay, Sehun-ssi. Singkirkan tanganmu dan ayo cepat pergi. Kau tidak akan meninggalkan Vivi sendiri di rumah ‘kan?”

Sehun terdiam. Perlahan tangan kekar Sehun terlepas dan Hanna bebas dari rengkuhannya. Satu fakta mencengangkan namun menguntungkan yang ia dapat dari Sehun adalah kelemahannya terhadap Vivi. Dan ia semakin yakin, jika Sehun dihadapkan dengan dua pilihan yaitu dirinya dan juga Vivi, maka pria itu pasti merasa sulit memilihnya. Dasar pria aneh! Badannya saja besar, otaknya benar-benar childish!—batin Hanna.

.

.

Semenjak kedatangannya di Singapura, Luhan tak bisa berdiam diri. Ia masih memikirkan sosok gadis yang masih  terbaring lemah di tempatnya itu. Tangannya tergerak menuju dokumen yang baru saja dihadapkan padanya. Secarik kertas di dalam stopmap yang masih terbungkus rapi itu membuat dahinya berkerut. “Apa ini?”

Pria bernama Yixing itu menghela napas. “Ini adalah surat persetujuan untuk melakukan operasi yang—”

“Ketiga kalinya?” Luhan menyela. Ia sudah bosan dengan perawatan yang entah apa namanya itu, tapi bukankah itu justru semakin membuat Hanna tersiksa. Salahkan si brengsek itu yang membuat gadisnya menderita dan harus berakhir seperti ini. Sungguh. Seolah ia bisa merasakan kesakitan yang luar biasa. Sayangnya, pria bermarga Xi itu sudah kebal. Toh, ia juga sudah merasa tersakiti sebelumnya.

“Dokter Zhang!” panggil perawat wanita yang memasuki ruang atasannya tanpa mengetuk pintu. Merasa ada sesuatu yang darurat, maka Yixing sudah berdiri dan mendekati perawat itu. “Ada apa?”

Iris coklat Luhan mendapati perawat itu membisikkan sesuatu yang berhasil membuat raut muka sahabatnya itu menjadi berubah drastis. Namun, dikala pria Zhang itu menatap Luhan, tatapannya sungguh berbeda. “Apa yang—”

“Hanna sadar!”

Tak menunggu lebih lama, langkah besar Luhan menuntun tubuhnya untuk segera mendekati pujaan hatinya. Sayangnya, ia dapat hanya sebuah rasa sakit yang bisa membunuhnya saat itu juga.

“Sehun..” lirihnya dengan raut muka cemas beserta peluh yang sudah membasahi pelipis gadis itu. Bergerak gusar mencari kesadaran yang tak kunjung datang di kala ia membutuhkan. Sementara Yixing, pria china itu sudah lebih dulu mendekati Hanna. Melakukan segala upaya yang ia bisa untuk menghilangkan kecemasan Hanna yang semakin menjadi.

Tak butuh waktu lama, Hanna kembali tenang. Detak jantungnya yang terbaca oleh monitor kecil di sampingnya itu pun menunjukkan grafik yang normal. Mendapati keadaan tenang seperti semula, Luhan memberanikan diri mendekati gadis pujaannya itu.

“Aku tak pernah menyangka kalau Hanna akan sadar,” Yixing berujar, namun setelahnya menambahkan. “Dan memanggil nama itu lagi.”

Luhan mendengus. “Aku pikir dia akan melupakan semua yang terjadi satu tahun belakangan ini,” tangan Luhan tergera menuju surai coklat Hanna. Membelainya pelan, kemudian menginterupsi Yixing yang akan menimpalinya. “Nyatanya, dia masih teringat akan pria brengsek itu.”

Are you okay, Lu?” tanya Yixing. Ia tahu sahabatnya itu masih memiliki dendam yang begitu besar terhadap Sehun yang sudah merusak masa depan Hanna. Membiarkan gadis itu terluka dan mengambil keputusan final untuk bunuh diri. Memang cerita yang klise antara pasangan yang ada di muka bumi ini, tapi rasa cinta Luhan pada Hanna yang teramat besar membuat mata hati pria itu seakan buta.

“I’m not,” jawabnya singkat.

.

.

Lama berkeliling di supermarket, akhirnya kedua insan itu kembali ke apartemen tanpa tangan kosong. Membawa beberapa kantong plastik yang lumayan besar, lalu meletakkannya di pantri. “Aku akan memasak. Diam saja dan jangan berulah,” ujar Hanna mengingatkan Sehun yang hendak mengambil langkah mendekatinya.

Mendengar penuturan sang gadis, akhirnya Sehun mengambil langkah mundur. Melaksanakan perintah gadis pujaannya lantas memuji dalam diam. Nampaknya, Sehun sangat terpukau dengan tangan Hanna yang cekatan mengolah bahan. Ingin sekedar berbasa-basi, namun masih mengingat kalimat terakhir yang di lontarkan gadis Lee itu.

“Sudah siap,” ucapnya memberi tahu Sehun yang sudah kembali ke alam sadar. Menatap piring yang dibawa Hanna dengan senyum mengembang. “Katakan padaku bagaimana rasanya setelah mencicipinya.” Kata Hanna mengingatkan.

steak-sapi.jpg

Sehun mengamati terlebih dahulu tampilannya. Daging yang di siram saus barbekyu, beserta kentang goreng dan sayuran sebagai pelengkap. Mengundang atensi Sehun yang sebenarnya sangat kelaparan—mengingat ia hanya meminum bubble tea tadi siang—namun  seakan lupa kala Vivi membuatnya panik.

“Kau tidak suka? Aku menjamin rasanya enak walau aku jarang memasak di rumah.” Ujar Hanna membuyarkan lamunan Sehun. Suara sopran Hanna menginterupsi lamunan pria dihadapannya itu agar tak membiarkan masakannya berakhir sia-sia. Alih-alih menjawab, Sehun memotong daging itu dalam diam. Nampak sedikit ragu, namun ia berusaha menutupinya walau Hanna masih bisa membaca raut muka datar itu.

Hanna berharap banyak. Jika masakannya enak, mungkin tahun depan dia bisa membuka restoran bersama Helena, meskipun ia juga akan membutuhkan bantuan kakaknya—Hanbin. Lama menunggu komentar Sehun, Hanna akhirnya mencoba membaca raut muka pria Hesler itu. Berpikir. Memang apa susahnya mengatakan rasanya?— Hanna benci menunggu.

“Rasanya enak,” ujar Sehun dengan nada menggantung. “Tapi, sedikit asin.” Tambahnya. Karena Hanna memang sengaja membuat satu porsi, maka mau tak mau ia mengambil garpu Sehun dan mencobanya. “Tidak, rasanya pas.” Sanggah Hanna. “Aku akan memakannya,” Sehun merebut garpunya yang diambil Hanna. Namun, Hanna lekas mencegah. “Jangan dimakan kalau rasanya tidak enak.”

“Pasti akan enak kalau sambil melihatmu,” goda Sehun lalu kembali merebut garpu dari tangan Hanna. Hanna menaikkan sebelah alisnya. “Jadi, selain belajar bisnis kau juga belajar merayu?” tebak Hanna membuat Sehun menghentikan aktivitas makannya. Menatap Hanna intens. “Memangnya kenapa?”

“Kau tampak polos dan playboy diwaktu yang bersamaan.” Jawab Hanna dingin. Sehun menopang dagunya dengan kedua tangannya. “Kau tampak cantik dan menawan di waktu yang bersamaan.” Timpal Sehun, setelahnya ia kembali memakan steak buatan Hanna. Sungguh, jurus merayu Sehun itu benar-benar luar biasa. Hanna bahkan tak menyadari kalau pipi pualamnya sudah memerah sejak tadi.

Mengambil topik lain, Hanna akhirnya menyinggung perihal kakak Sehun—Steven. “Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan kakakmu? Mengapa kau seolah punya banyak hutang pada Steven sampai kau terkejut mendengarnya?”

Sehun benar-benar menghentikan acara makannya. Mengambil sehelai tissue, lalu membersihkan bibirnya. Meletakkannya, lalu melipat tangannya di atas meja. “Aku dan kakakku—Steven—berpisah setelah ia memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan.”

“Meski Edinburgh tak sebesar Korea, aku tetap saja tak pernah bertemu dengannya. Dia selalu menghindar.” Ujarnya dengan nada melemah di akhir kalimat. Hanna terdiam. Seolah pakemnya berbicara tak dapat mewakili rasa penasarannya lebih dalam. Namun, nyatanya Sehun tak berniat menghentikan penjelasannya.

“Ayahku sangat ambisius terhadap perusahaannya. Sehingga aku dan Steven harus menuruti semua keinginan ayah.” Sehun menghembuskan napasnya kasar. “Kami harus melanjutkan perusahaan yang sudah membesarkan namanya.”

Hanna kembali terdiam. Mengingat kata ‘ambisius’ Hanna jadi kembali mengingat ayahnya. Seambisius apapun ayahnya terhadap dunia bisnis, tetap saja Hanna dilarang mengikuti jejaknya. Berbanding terbalik dengan pria di hadapannya itu.

“Tapi, aku dan Steven memiliki prinsip hidup yang sama. Kami tidak akan bergantung pada orang tua.” Ujar Sehun sebagai kalimat penutup. Mendapati raut muka Hanna yang tak bersahabat, Sehun terdiam. Menikmati lekukan wajah Hanna yang selalu membuatnya candu dan ingin terus melihatnya.

“Apa yang kau lihat?”

Sehun tersadar dari lamunannya. “Aku? Tentu saja melihatmu.” Jawabnya polos. Benar ‘kan apa kata Hanna? Badannya saja kekar, tapi otaknya benar-benar childish. “Sekarang giliranmu.”

Sehun memajukan badannya. Mengikis jarak walau masih menjaga jarak aman. “Mengapa kau datang ke Edinburgh?”

Mendapati kalimat itu yang diutarakan Sehun, ia lantas terdiam. Menimang-nimang kembali jawaban yang akan ia lontarkan. Apakah pria ini bisa dipercaya?—batin Hanna meracau. Sungguh, ia masih ragu.

Keterdiaman Hanna membuat Sehun paham. Gadis dihadapannya itu belum bisa menerima dirinya. Alih-alih marah, Sehun justru tersenyum. Bukankah itu bagus? Gadis yang tak memilih pria dengan sembarangan, dan bisa menjaga rahasia serta martabat di kala hati tengah bergulat.

“Tak apa, kau bisa menceritakan lain kali,” Sehun lekas menimpali. Tak menghilangkan senyum yang sudah ia pasang dengan baik, walau secercah harapan terhadap keterbukaan Hanna tentang keluarganya. Hanna benar-benar merasa tidak enak, sungguh. Hatinya bergejolak, seakan ingin meminta maaf walau lisan entah kenapa tak mau diajak kompromi.

“S-Sehun..”

“Ya?” Sehun mendongak mendapati namanya dipanggil. Mendapati raut muka penyesalan Hanna. “I’m sorry. It’s not meaning if I not trust you. Really,” ujar Hanna melemah di akhir. Di satu sisi, ia ingin sekali menceritakan masalahnya sama seperti yang pria itu lakukan. Tapi, di sisi lain, ia tak bisa menceritakan apapun kepada orang yang baru saja ia kenal. Apalagi belum genap satu bulan.

“Tak apa.” Timpal Sehun mencoba memecah keheningan. “Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang.” Sambungnya. Hanna hanya terdiam, belum beranjak mengekori Sehun yang siap dengan kunci mobilnya. Masih memikirkan keegoisannya. Di saat pria itu terbuka, kenapa ia tidak? Kenapa hatinya masih sangat ragu?

“Sehun..”

“Ya?”

“Antarkan saja aku ke gereja. Aku ingin bertemu dengan suster Maria.”

.

.

Seperti yang Hanna inginkan, Sehun mengantarkan Hanna terlebih dahulu di gereja. Membicarakan hal-hal masa lalu sebagai pelepas rindu, hingga kejadian yang baru saja ia alami sebagai topik baru. Bersyukurlah Hanna punya ibu kedua yang siap menampung setiap curahan hatinya. Pasalnya, semenjak ibu Hanna meninggal saat ia berusia dua tahun, yang ia punya hanyalah suster Maria. Namun, Tuhan berkehendak lain saat suster Maria harus pindah ke Skotlandia. Ia hanya memiliki Hanbin sebagai teman, kakak, sekaligus ayah yang dekat dengannya.

“Eomma,” panggil Hanna. Suster Maria yang mendapati panggilan sakral itu pun lantas menoleh. Menampakkan wajah cantik Hanna yang tengah dirundung lara. “Kau ada masalah?” tebak suster Maria seolah ia bisa dengan mudah membaca pikiran dan raut muka Hanna. Hanna mengangguk sebagai jawaban. “Sehun mengungkapkan perasaannya padaku.” Ujarnya dengan tatapan lurus yang kosong.

Ali-alih terhenyak, suster Maria justru tersenyum. Ternyata, Sehun yang awalnya ragu dengan perasaan yang menganggu itu, kini berani mengungkapkannya. “Dia memang menyukaimu, aku tahu itu.” Jawabnya. Hanna pun menoleh, mencoba mendengar penjelasan yang lebih. “Minggu lalu, ia datang ke gereja. Padahal sudah larut malam. Dan aku tahu, ketika Sehun datang ke gereja larut malam, maka ia punya masalah yang besar.”

“Aku kira tentang keluarganya yang lagi-lagi membuatnya tesiksa. Tapi, ternyata tentang perasaan yang membuatnya bingung.” Jelas suster Maria panjang lebar. “Perasaan?” Hanna mengulang satu kata yang menjadi pusat atensinya. Lagi-lagi, suster Maria tersenyum. “Dia menyukaimu.”

Tak perlu ditanya, Hanna bungkam dalam sekejap. Seolah kenyataan mengajaknya bergelut dengan masa lalu. Dimana Sehun ternyata sudah menyukainya, disaat ia dan pria Hesler itu belum terlalu dekat. Mengingat Sehun yang ia pikir punya kepribadian ganda, ternyata yang satu adalah kembarannya. Terlampau berpikir jauh, hingga akhirnya menyesatkan pikiran dan hatinya.

Hanna masih ingat betul ketika ia dan Sehun berdebat perihal kemana pria itu pergi. Nyatanya memang benar. Sehun pergi ke gereja. Malam hari. Dan hanya untuk meminta pendapat suster Maria, tentang rasa sukanya pada Hanna. Sungguh, Hanna ingin menceburkan dirinya ke laut. Argumennya terhadap Sehun sudah melebihi batas. Kenyataannya, Sehun Hesler, adik dari Steven Hesler, menyukainya.

“Mungkin dengan kedatanganmu dalam dunia barunya, kau bisa membuatnya menjadi pria yang jauh lebih baik.” Kalimat itu terdengar tiba-tiba ketika Hanna masih berkutat dengan alam bawah sadarnya. Membuatnya bangun, lalu mencermati kalimat itu lagi. “Dia pernah mengalami luka yang cukup dalam, dan baru berani membuka diri kala pertama kali bertemu denganmu.”

“Pertama bertemu?”

“Tatapan matanya tak bisa berbohong. Kau begitu marah saat itu, tapi ia hanya bergeming. Kau pasti tahu maksudku.”

Hanna kembali bungkam. Ia juga mengingat momen itu. Dimana ia tahu ketika Sehun tiba-tiba berada di bawah meja, dengan alasan akan mengambil mainan. Ia sangat ingat ketika ia mengatakan bahwa ia sangat membenci Sehun dan melabeli pria itu sebagai ‘namja byuntae sialan’. Nama panggilan yang bagus.

Kenapa Tuhan senang sekali mempermainkan perasaannya? Di saat ia ingin sekali fokus pada sekolahnya, kenapa ada saja masalah yang harus ia hadapi? Kenapa harus serumit ini? Pertanyaan itu hanya menjadi mimpi buruk Hanna, dan ia tak ingin memikirkannya, walau hati masih tetap menggumamkan.

.

.

.

Dua cassanova itu terdiam. Seolah membiarkan angin malam menyapa kulit putih keduanya. Tersenyum saat mengadah, melihat betapa indahnya dewi malam saat menerangi bumi beserta dengan bintang yang menemani. Sungguh luar biasa.

Dibalik keterdiaman mereka, masing-masing punya masalah yang ingin mereka sampaikan. Sekedar membagi rasa gundah, agar terasa lebih ringan dan tak membebani. Namun, yang berani membuka percakapan hanyalah si jangkung—Chanyeol.

“Apa hubunganmu dengan Hanna?”

Empat kata itu berhasil menarik atensi Sehun. Pria Hesler itu menoleh, mendapati sahabatnya yang tengah mengadah—masih tetap ingin menikmati indahnya malam. Sehun menghembuskan karbon dioksidanya perlahan sebelum lisan menimpali. “Hanya teman.”

Benar, dan Sehun memang tidak berbohong. Ia memang sudah menyatakan perasaannya terhadap Hanna, tapi gadis Lee itu masih enggan memberi jawaban. Jadi, tak ada pihak yang memulai kebohongan ‘kan?

“Dia memang terlihat kuat. Menghadapi masalahnya tanpa air mata, tapi dalam hatinya ia tersiksa. Sungguh, Hun. Jangan mengulangi kesalahanmu pada gadis yang sama—”

“Jangan pernah samakan Lee Hanna dengan dia!”

“Nyatanya seperti itu, Hun. Aku hanya takut kau akan menyakiti Hanna.” Nada yang awalnya terdengar lembut, berubah menjadi tinggi dalam seketika. Mencoba menyadarkan Sehun dari segala kesakitan masa lalu yang mengungkung diri, hingga akhirnya tak bisa menatap masa depan. Berkutat pada luka, hingga akhirnya menyiksa banyak pihak.

Sehun terkekeh. “Sebenarnya kau anggap Hanna apa?” tanya Sehun dengan nada tak bersahabat. Seolah menantang Chanyeol dengan kalimatnya. Pria Park itu terdiam, namun lekas menimpali. “Tak lebih,”

“Dari sahabat.” Sambungnya di detik selanjutnya. Sehun mendecih. “I know you more than yourself, Chan. You’re more naughty than me.”

“But, I not as bastard as you, Hun.” Timpal Chanyeol cepat. “Jujur, aku memang pernah menyukainya semasa kecil. Dia gadis yang tangguh, dan tak pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia mau.”

“Tapi, di saat aku mengungkapkannya, yang aku dapatkan hanyalah jawaban polosnya. Dia mengatakan bahwa dia sangat menyukaiku—” Chanyeol menggantungkan kalimatnya. Menghela napasnya kasar, lalu mengerjap beberapa kali. “—sebagai kakaknya.”

Sehun bungkam seribu bahasa. Tangan yang sempat terangkat untuk menghajar pria Park itu justru terkulai lemas di sisi tubuhnya. Seolah ia mendapat umpatan setara caci maki, namun juga mendapat pencerahaan di saat yang bersamaan. Hatinya serasa dipermainkan oleh pria yang lebih tinggi darinya itu. Dibiarkan melayang, lalu terjatuh dengan cepat. Mengingat betapa brengseknya ia di masa lalu, membuatnya berpikir dua kali tentang kalimat sukanya pada Hanna.

“And as Hanna’s brother, let me give you notice.”

Sehun menoleh. Hendak melayangkan protes, namun lebih dahulu diinterupsi oleh Chanyeol. “Don’t give her pain. Hanna has sickness more than you. If you want to know.” Chanyeol memperingatkan sekaligus memberitahu.

Selepas percakapan sengit antara Sehun dan Chanyeol, Hanna datang dengan suster Maria di sampingnya. Pria Hesler itu terkejut kala mendapati mata Hanna yang memerah daripada sebelumnya. Sehun yang khawatir lantas beranjak mendekati Hanna. Namun, belum sempat selangkah ia ambil, tangan kekar Chanyeol mencegah. Mengambil alih kunci mobil Sehun, lantas merengkuh Hanna dengan satu tangannya.

“Aku akan mengantarkanmu. Sehun ada urusan dengan eomma.” Kata Chanyeol final—tak bisa diganggu gugat lagi. Mendengar itu, Hanna hanya mengangguk, dan berjalan melalui Sehun. Ia tahu, pasti ada sesuatu diantara kedua pria itu. Enggan mencari keributan di tengah heningnya malam, Hanna menurut.

.

.

.

Tak perlu heran bagaimana Steven bisa menjejakkan kakinya di gereja saat Sehun tengah berbicara dengan suster Maria di sana. Pria itu mencari tahu dimana Hanna, dan akan menceritakan semuanya sebelum terlambat.

Awalnya, ia menanyakan tempat tinggal Hanna pada atasan gadis itu—Kris. Pria china itu sempat mengelak, sayangnya sangat sulit mengelabuhi seorang steven, dan akhirnya ia menjawab. Ketika Steven berhasil menemukan rumah Hanna, ia justru hanya mendapati roommatenya mengatakan hal yang membuat mood-nya memburuk.

‘Hanna tidak ada di rumah. Kau bisa mencarinya di gereja, kalau mau.’

Dan sekarang, di saat ia ingin menemui Hanna untuk menjelaskan semuanya, ia justru dihadapkan dengan saudaranya—Sehun. Bungkam diambil sebagai pilihan utama, sebelum rengkuhan posesif yang ia terima dari sang adik membuatnya mengambil tindakan.

“Steve, I miss you so much—”

“But, I’m not,”

Sehun melepaskan pelukannya setelah mendapati kalimat sarkastik keluar dari bibir saudaranya itu. Ia tak menyangka akan mendapatkan kalimat menyakitkan seperti itu. “Hyung,” gumam Sehun pelan, namun masih terdengar hingga ke telinga Steven. “Jangan panggil aku seperti itu, aku membencinya!”

Sehun terdiam. Sungguh, kenyataan yang seperti ini membuatnya sangat terpukul. “I’m sorry—”

“Sebanyak apapun maaf yang kau lontarkan dari mulutmu itu, aku tak akan pernah memaafkanmu.” Ujar Steve, penuh dengan penekanan dan tak ingin lagi di bantah. Ia sudah muak dengan kenyataan harus bertemu dengan saudaranya itu. Masa lalu yang kelam saja sudah berhasil mengusik jiwanya. Dan ketika ia akan memulai hidup baru dengan gadis yang ia sukai, kini justru kembali diingiatkan dengan kejamnya masa lampau.

“Aku mencari Hanna, apakah dia ada di sini suster?”

Merasa di ajak bicara, suster Maria lekas mendongak. Diawal pertemuan mereka yang tak berlangsung damai, wanita paruh baya itu hanya menjadi pendengar dan pengamat yang baik, tak lebih. Beliau tak mau ikut campur perihal masalah kakak-beradik itu.

“Dia baru saja pulang—”

“Untuk apa kau menanyakan Hanna?”

“Untuk apa kau harus tahu?!”

“Dia milikku!”

.

.

.

Selama perjalanan menuju apartemennya, Hanna dan Chanyeol saling terdiam. Hanna yang sibuk dengan alam bawah sadarnya, dan Chanyeol yang sibuk membagi fokusnya—antara menyetir maupun memikirkan pembicaraanya dengan Sehun beberapa menit yang lalu.

Tak mau terkungkung pada hening lebih lama, maka Hanna memberanikan diri membuka percakapan lebih dulu. Mencoba bersikap baik layaknya teman. Mengingat pertemuannya dengan Chanyeol yang belum sempat bertukar rindu pun sudah membuat Hanna—sangat—menyesal.

“How are you, Chan?” tiga silabel yang dibubuhi panggilan khususnya untuk pria itu pun berhasil mencuri atensi Chanyeol. Seulas senyum manis ia berikan pada gadis di sampingnya, lalu menimpali. “I’m not okay, Han.” Jawab Chanyeol dengan raut muka gelisah, namun disamarkan dengan senyum yang masih bertengger manis membingkai wajah tampan itu.

“Maafkan aku. Ini pertemuan kedua kita, dan tak ada percakapan yang—”

“Bicara padamu saja aku sudah senang.” Sahut Chanyeol cepat. Tak ingin membiarkan Hanna bergelut dengan rasa bersalah. Mendengar jawaban itu, Hanna terkekeh pelan. “Aku baru tahu, ternyata seorang Park Chanyeol masih suka membual seperti itu,”

Alih-alih menjawab, Chanyeol tersenyum. Lalu memutar setir kemudi ke tepi jalan. “Ada restoran korea di sini. Dan aku ingin makan malam denganmu, Han.” Ujarnya memberitahu sekaligus meminta. Hanna terdiam untuk sesaat. Ia sadar, di apartemen Sehun tadi ia hanya merasakan steak buatannya, tak lebih. Dengan senang hati, Hanna menerima tawaran sahabat kecilnya itu.

“Pesan saja, aku yang bayar.” Kata Chanyeol setelah ia dan Hanna mendapat meja di sudut ruangan. Pria itu memilih meja paling sudut karena banyak kenangan yang ia tinggalkan di sana. Dan ia ingin Hanna menjadi salah satu dari kenangan yang akan mengingatkannya jika mendengar kota Edinburgh—suatu saat.

“Kau pasti sering ke sini ‘kan?” tebak Hanna. “Pilihkan aku makanan yang paling kau sukai di sini. Apapun makanan yang kau sukai, aku pasti menyukainya.”

Kau bahkan menyukai apa yang aku sukai, kenapa kau tak menyukaiku ketika aku menyukaimu?—batin Chanyeol meracau. Sungguh ia tak bisa melupakan kenangannya bersama Hanna begitu saja. Namun apa daya, Hanna menganggapnya tak lebih dari seorang kakak. “Aku akan memesan. Kau tunggu di sini,”

“Kenapa tidak memesan di sini saja?” tanya Hanna heran. Bukankah biasanya pelayan yang menghampiri pelanggan? Lantas kenapa Chanyeol dengan kurang kerjaan menghampiri mereka?

“Aku mengenal pemilik restoran ini. Dan aku akan meminta mereka memberi kita menu yang spesial.” Jelas Chanyeol sebelum beranjak dari kursinya. Mengedipkan sebelah matanya, lalu mengangkat ibu jari dengan senyum lebarnya. Mendapati Chanyeol yang kembali bersikap kekanak-kanakan membuat Hanna tersenyum. Memikirkan betapa pedulinya pria itu terhadapnya.

Oh, sebenarnya pria itu sudah lama memperhatikan Hanna. Jika tidak, mana mungkin mereka akan berkomunikasi seminggu sekali dengan surat dan video call? Padahal Chanyeol sudah meninggalkan gadis itu selama belasan tahun. Hanna saja yang tidak peka—atau mungkin menganggap perhatian itu tak lebih dari seorang kakak terhadap adiknya.

Kembalinya Chanyeol secara tiba-tiba membuat Hanna kaget. Ekspresinya yang membulatkan mata tanpa henti itu membuat jari Chanyeol mencubit pipi pualamnya pelan. “Kau tidak pernah berubah, ya? Memikirkan apa sampai kaget seperti itu?”

Hanna memincingkan mata. “Kau juga sama sekali tak berubah, Chan.” Ujar Hanna sarkastik. “Dengan mudah kau membacanya.”

Membaca yang di maksud Hanna adalah mengetahui sebab keterdiamannya. Pasalnya, Chanyeol hafal betul raut muka Hanna ketika banyak masalah. Dan begitu, Hanna lebih nyaman berbicara dengan Channyeol—karena pria itu mudah sekali untuk paham dengan perasannya. Satu lagi poin yang Hanna suka, Chanyeol tak memilih kubu mana yang benar maupun salah. Sehingga, pria jangkung itu lebih memilih menjadi penengah.

Dan kini, percakapan keduanya berakhir dengan suara Hanna yang mendominasi. Ya, Hanna menceritakan semua yang terjadi pada Chanyeol. Sebrengsek dan senakal apapun Chanyeol, pria itu masih punya sisi dewasa. Ketika merasa sedih, Hanna dengan mudah menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Chanyeol, lalu menangis sesenggukan di sana.

“Jadi, begitu. Sehun mengungkapkan perasaannya padamu?” ulang Chanyeol sebagai tanda ia paham dan mengerti dengan cerita Hanna. Gadis Lee itu mengangguk. “Aku terlalu takut untuk mengambil langkah yang salah. Apalagi belum genap satu bulan aku mengenalnya.”

Chanyeol mengucapkan beribu terima kasih pada Tuhan yang sedang berpihak padanya. Ia sangat tahu karakter Hanna, gadis kecilnya itu tak mudah menjatuhkan pilihan. Maka dari itu, ia tak luput menjadi tempatnya untuk meminta pendapat. Sama seperti sekarang. “Menurutmu aku harus bagaimana?”

“Bukankah setiap hubungan harus mengetahui sifat satu sama lain?” tanya Chanyeol, mencoba membuka pendapatnya dengan pertanyaan terlebih dahulu. Hanna mengangguk. “Berarti kau butuh waktu ‘kan untuk mengenal lebih jauh tentang Sehun?”

Lagi-lagi Hanna mengangguk, kemudian terdiam. “Tapi, ada hal yang harus kau ketahui tentang Sehun. Karena ini—”

Kalimatnya terhenti kala seorang pelayan datang dengan beberapa porsi makanan yang sudah di pesan. “Silahkan, jika perlu bantuan jangan sungkan-sungkan memanggil.” Ujarnya ramah dengan aksen korea yang sangat fasih. Hanna mengangguk antusias dan Chanyeol menggeram dalam hati.

Hanna sudah mengambil sumpitnya lebih dulu daripada Chanyeol. Ia sudah nampak kelaparan dan bebannya sedikit menghilang ketika ia menceritakannya pada pria itu. Setelah beberapa suap makanan ia masukkan ke mulut, Hanna lantas membuka kembali percakapan. “Kau tadi mau bilang apa, Chan?”

“Lanjutkan saja makanmu.” Timpal Chanyeol tanpa memandang Hanna. Sepertinya, suasana hati pria Park itu sangat buruk. Hanna yang acuh melanjutkan kembali ritual makannya.

.

Sekembalinya dari restaurant korea itu, Hanna jauh lebih talkactive daripada sebelumnya di mobil. Ia bahkan sempat menceritakan masa kecilnya bersama Chanyeol dulu. Namun, dengan pengecutnya Chanyeol justru mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Hanna tentang masa lalu Sehun.

“Kita sudah sampai,” ujar Hanna dengan nada kekanak-kanakannya. Chanyeol tersenyum. Ia lantas mengikuti sosok mungil Hanna keluar dari mobil. Mendekati Hanna, sebelum membawanya dalam dekapan. Setelah merasa cukup, Chanyeol lantas menambah jarak agar iris coklatnya bisa menatap hazel Hanna. “Can I give you notice, Honey?”

“Sure, why not?”

“As Sehun’s friend. Please don’t closer with that guys. I know him more than ten years, Han.” Ujarnya sebagai kalimat penutup perjumpaan mereka. Setelahnya, sosok jangkung itu menghilang dari pandangannya bersama mobil hitam Sehun. Ini menguatkan dugaan bahwa memang dua pria itu sedang dalam masalah—Chanyeol dan Sehun.

.

.

.

Netra hitamnya tak bisa terpejam walau sudah meminum obat tidur. Banyak pikiran yang melayang dalam otak cerdasnya. Semua yang dialaminya hari ini sangat membuatnya terpukul. Apalagi setelah gadis yang selama satu tahun ia tunggu kehadirannya, tak mengharapkannya.

Enggan berkutat dengan masalah yang ia lalui, tubuh tegapnya itu sudah memasuki bar Scotch Wisky yang terkenal di seluruh pelosok negeri itu. Seolah lupa kalau menikmati indahnya surga alkohol itu memerlukan uang yang tak sedikit, ia tetap saja menginjakkan kakinya di sana.

CJW_5814_overview.jpg

Ia justru terdiam kala makanan kelas atas yang tersaji, bersama dengan satu jenis whisky yang telah ia pesan sebelumnya. Sebenarnya, bukan makanan seharga € 65.00 yang menjadi pusat atensi. Melainkan pramusaji yang mengantarkannya menuju meja yang telah di pesan pria itu. Wajahnya yang familiar mengudang memorinya untuk kembali ke masa lampau. Mencoba mengingat, hingga akhirnya ia memanggil gadis itu.

“Hey, you.” Panggilnya sambil menunjuk pramusaji wanita itu. Ia segera mendekat mendapati dirinya dipanggil. “Maybe I ever saw you?” tanyanya membuat gadis itu mengerutkan dahi. “Really? I think we never—”

“Oh, ya!” pekik pria itu membuat gadis itu kaget. “You’re Sehun’s friends. Right?” tebaknya. Mendapati raut muka bingung dari gadis itu, ia lantas memperkenalkan diri terlebih dahulu. “My name is Luhan. We met when Vivi was sick.”

Gadis itu terdiam sejenak, lalu menimpali di menit kemudian. “Kau yang merawat Vivi?” tanyanya memastikan. Luhan tersenyum. “Apa keadaan Vivi sudah membaik?” tanya Luhan basa-basi. Gadis di hadapannya itu tersenyum kikuk. “Aku kira dia sudah lebih baik. Ada Sehun yang menjaganya.”

Luhan mengangguk pelan. “What’s your name?” Luhan mencoba mencari tahu nama gadis itu. Ia rasa gadis itu sangat baik. “My name is Lee Hanna. You can call me Hanna.”

Sontak Luhan membulatkan mata. Nama itu begitu familiar, dan nama itulah yang membuat moodnya buruk setelah pulang dari Singapura. Nama gadis yang sudah berhasil memporak-porandakan hatinya hingga hancur berkeping-keping. Enggan kembali ke masa menyakitkan itu, hingga ia memilih mencari pembahasan lain.

“A beautiful name. Aku juga punya teman dengan nama yang sama, sepertimu.” Cicit Luhan kemudian. Entah kenapa ia ingin sekali membahas masalah lain. Sayangnya, ia baru mengenal Hanna dan tak tahu harus membahas apa. “Really? I think she’s really important to you.” Balas gadis Lee itu.

“How you know?”

“Because you say if that’s a beautiful name.” Jawabnya dengan nada sedikit tergesa. “Aku permisi, masih ada banyak pelanggan.” Pamit Hanna pada Luhan. “Tunggu!”

Mendapati dua silabel itu menggema hingga ke gendang telinganya, maka dari itu ia berbalik. “Are you need something?” tanyanya dengan sopan. “Jam berapa kau selesai bekerja?”

.

.

.

Ternyata bukan hanya kebohongan semata. Hanna benar-benar kaget ketika sosok tegap itu masih menunggunya di  meja sejak dua jam yang lalu. Seolah lupa kalau masih banyak urusan yang harus diselesaikan. Pria itu hanya bisa bergeming, ataupun menggerutu. Ia bahkan masih bisa mengulas senyum manis yang membuat Hanna sedikit terpesona.

“Kau masih di sini?” tanya Hanna dengan nada kaget yang begitu kentara. Luhan tersenyum tipis. “Bukankah sudah ku katakan kalau aku akan menunggumu pulang?” ingatnya pada Hanna. Gadis keturunan Korea-Amerika itu terdiam. “Dan kau benar-benar menungguku? Dua jam?”

Berbanding terbalik dengan Hanna yang masih setia dengan keterkejutannya, Luhan justru beralih bangkit dari kursi dan menghampiri Hanna. “Bukankah aku sudah berjanji. Tak bagus jika mengingkarinya ‘kan?”

Hanna tersenyum. Ternyata tak semua pria itu byuntae dan jahat, suka mengingkari janji dan selalu menyakiti. Terbukti dengan pria yang tengah membayar tagihannya itu. Pria itu menepati perkataannya, padahal ini baru pertemuan untuk yang kedua kalinya dan mereka tak terlalu dekat.

“Maaf sudah menunggu, aku akan mengantarkanmu pulang.” Ujarnya dengan santai sembari memasukkan dompetnya lagi pada saku dalam jas. Merasa tidak enak hati, Hanna lekas menolak. “Tidak, perlu. Aku bisa pulang sendiri.”

“Tapi, ini sudah hampir jam sebelas malam,” sanggah Luhan cepat. “Tidak baik jika wanita berjalan sendiri,” tambahnya. Hanna terdiam. Memikirkan berulang kali ajakan pria itu. “Baiklah,” ucapnya final, membuat Luhan tersenyum simpul.

Berdasarkan kesepakatan tadi, maka dari itu Hanna sekarang duduk di samping kursi kemudi yang tengah di duduki oleh pria itu. Membicarakan soal Edinburgh terlebih dahulu, lalu ke bagian yang sebenarnya ingin Luhan tanyakan sejak tadi. Kalimat yang sudah ia persiapkan selama dua jam itu kini akan diubahnya dalam suara bariton lembut khas miliknya.

“Apa hubunganmu dengan Sehun?” tanya pria keturunan China-Amerika itu. Hanna menoleh. Terdiam sejenak untuk sekedar memikirkan jawaban apa yang akan ia lontarkan. Dan akhirnya keputusannya final. “Dia chairmate-ku.”

“Ah, begitu?” Luhan membeo. “Berarti kau juga mengambil jurusan bisnis, ‘kan?” tebak Luhan yang langsung dibalas anggukan oleh Hanna. “Aku lihat kau sangat dekat dengan Sehun.” Ujar Luhan mengambil kesimpulan sepihak. Untuk yang satu itu, Hanna menolak. “Tidak, aku tidak begitu dekat dengannya. Dia pria yang mudah marah, pemaksa, namun juga—”

Romantis. Hanna ingin sekali melanjutkan kalimat yang tertunda itu. Namun, apa daya. Hanna tak bisa mengatakan itu pada sembarang orang, walau pria di sampingnya itu adalah teman baik Sehun sekalipun. “—sedikit baik.”

Luhan yang mendengar lanjutan dari jawaban Hanna lekas tertawa. Hanna yang melihat pemandangan langka itu lantas mengabadikannya melalui tatapan mata yang akan menyimpan ke memori otaknya dengan otomatis. Senyum pria itu manis—hingga sayang untuk di lewatkan. “Kau benar-benar polos, Mrs. Lee.”

Hanna mengulum senyum. Entah perjalanan macam apa ini yang membuat Hanna merasakan kecanggungannya sendiri. Berbeda dengan pria china itu. Pria itu bahkan tak gugup sama sekali.

“Aku harap kita akan menjadi teman yang baik, Hanna.”

.

.

.

[Preview Next Chapter]

“Are you okay, Mr. Hesler?”

“Setidaknya, untuk yang satu ini kau tak bisa mengabaikannya.”

 “Kau tak bisa mengabaikannya?”

“Kau ada masalah dengan Chanyeol?”

“AKU MENCINTAI LEE HANNA! BISAKAH KAU PERCAYA?!”

“Aku ingin memberitahumu, Lu.”

 “Tentu saja harus jujur,”

  “Memangnya, apa hubunganmu dengan Sehun?”

 “Berselingkuh?”

 “Jujur, aku jauh lebih suka gadis yang dingin dan berbeda sepertimu.”

 “Sehun?”

Halloww../alay kumat/

Maapkan dakuh yang lupa nulis ‘preview next chapter’/pelupa / khilap/

Okay, mari kita bercuap-cuap sebentar. Chap kemarin Hanna ‘kan mikirnya kalo Sehun itu kena D.I.D—sejenis penyakit yang mengakibatkan sang penderita mengalami kepribadian ganda. Dan waktu nama kakaknya Sehun dipanggil, jelas Sehun kaget. Karena kakaknya sehun… rahasia/di chap berikutnya baru ada.

Perbedaan Sehun dan Steven itu ada pada kehidupan mereka. Kalo Steven itu udah mandiri dan bisa cari uang sendiri. Sayangnya dia suka mabuk/gituh ceritanya/ dan Sehun. Di sini aku kasih dia peran ala cowok pinter, berprestasi dan gak aneh-aneh.

Masih bingung ya? Aku aja juga bingung/?/ Yang pasti, chap lima aku bagi jadi dua bagian. Dan untuk bocorannya; di chap 5A ada yang jealous and 5B ada adegan tembak-tembakan/?/

Untuk Steven, visualnya mirip banget sama Sehun. ‘kan mereka kembar. Untuk yang gak bisa bayangin, nih aku kasih visualnya. sesuai dengan bingkai foto yang dilihat sehun di chap kemarin.

SPAO-Lookbook5.jpg
Steven-Sehun

Jangan lupa, satu yang paling penting. Tinggalkan komentar di bawah. Karena, aku udah berencana chap 7 akan di password. Untuk meringankan beban, bukankah lebih baik meninggalkannya sekarang/ceilah apaan-_-/ Karena aku gak on terus, jadi maap buat yang komentar. Karena, gmailku juga lagi error, jadi pemberitahuannya juga error kayak yang punya/eh?

Terima kasih bagi yang menunggu FF absurd ini. Untuk yang masih bingung dan ingin bertanya, silahkan. Aku pulang 😉 Have a nice day!

Advertisements

48 thoughts on “TAKE IT SLOW—CHAP.4”

  1. Serius untuk kedua kalinya aku bingung -_- jadi hanna beneran ada dua dan itu beda orang kan??? Cuma sama nama doang? Dan hanna itu ga ada kaitannya sama hanna yg satu lagi kan?? *apa sih jadi muter muter gitu wkwk*

    Truss luhan sama sehun masa lalunya ada kaitan sama hanna yg satu itu kan?

    Dan jangan bilang nanti ada cinta segi empat /antara sehun hanna yg diedinburgh steven sama chanyeol/ dan jangan bilang si lulu ikut ikutan lagi

    Yah pokoknya ditunggu selanjutnya ya hwaiting^^

    *btw aku bingung mau manggil apa nih aku takut kami ga suka dipanggil thor ato min trus juga aku ga tau kamu line berapa jadi aku juga takut kamu ga suka dipanggil kak ato eonni jadi enaknya aku manggil kamu apa? Ato putri-ssi aja? Tapi tersetah kamu enaknya dipanggil apa okey*

    Like

    1. Aku jawab ya biar gak bingung.:)
      Tapi, semua pertanyaanmu itu jawabannya bener semua.:D
      Enggak kok, Ceritanya masih Sehun-Hanna-Steven. kalo Chanyeol itu udah pernah nembak tapi ditolak(waktu kecil). Jadi, dia lebih milih menjadi kakak yang baik untuk Hanna. Gitu ceritanya.

      *Aku liner 00. Tanggal 18 baru masuk SMA/-_-*MOS 4 hari.
      Aku sihh terserah aja, kalo lebih muda aku lebih suka di panggil ‘eon’ ;D

      Like

      1. Jinjja??? Line 00? Aku juga wkwkwk
        Tapi aku udah naik kelas 2 smk jadi enaknya manggil apa nih aku ga nyangka kita seumuran wkwk

        Like

  2. koq konfliknya makin rumit ya????
    itu hanna ada 2orang gitu….
    dan mereka dua”nya ada hubungannya ama sehun?
    sebenernya lee hanna suka sehun gk sih???
    itu jg knp muncul luhan??? cukup chanyoel aja lah saingan sehun….belum lagi steven jg suka hanna….jadi makin rumit kan????
    kakak bilang dsini sehun perannya anak pintar dan gk neko”? tp knp luhan bilang kalau sehun yg udh menghancurkan masa depan hana(singapore) sampe dia mncoba bunuh diri segala????
    berarti dsini sehun badboy gitu?
    masa lalu sehun gimana sih? penasaran bgt aq….kyknya kelam bgt ya 🙂

    Like

    1. Sehun itu bukan badboy, kok. Ada masa lalu antara Sehun-Hanna Alinson yang bikin Sehun marah(gitu ceritanya)
      Di chap 5A besok ada kok penjelasannya. Tunggu aja yakk..:D
      Makasih udah komen FF absurd aku:D

      Like

  3. akhirnya di post juga nih ff,, udah nunggu banget soalnya,, tapi baru baca n komen sekarang, kemarin kehabisan kuota *aduh jadi curhat nih aku hehe*
    makin penasaran sih sama lanjutanya,, sehun punya masa lalu yg kelam(?) sama hanna yg koma gitu ya?? terus luhan suka sm hanna yg koma dn bnci sma sehun ya ?? terus knp luhan msih dket sma sehun ?? mau bls dndam ya?? *opini yg gaje

    okee di tunggu next chapter aja deh biar nggk bingung,,

    Like

  4. ya ampunn, udah mikir yang nggak-nggak eh ternyata cuma kepingin dimasakin sesuatu hahahaha
    sebenarnya awalnya bingung ko’ bisa sih luhan udah ada disingapure aja, apa dia ada dua lagi kaya si hanna? tapi pas liat akhir-akhirnya ternyata nggak, emangnya ada apa sih? hanna kedua itu masa lalunya sehunkan? terus gimana ceritanya sampe si luhan benci banget sama sehun atas kelakuannya? huwaaaa penasaran 😦 oh iya jadi itu si luhan pura-pura baik ya? buktinya waktu disingapure dia benci banget sama sehun karena hanna kedua yang dicintainya adalah orang yang mencintai sehun nah pas dikorea langsung berubah! apa jangan-jangan ia punya kepribadian ganda? aihhh kkkkk~ bercanda agak ngerti ko’ walau masih penasaran gimana masa lalunya..
    ahh gue juga penasaran masalah ayahnya sehun dan steve! sebenarnya kenapa sih mereka kayak gitu? 😮
    baiklah baiklah tahan penasarannya :v (y)
    thanks ya, semangat terus 😉 :*

    Like

  5. Pertanyaan di sini, hubungannya sehun sama luhan apa? Kenapa luhan bisa benci sama sehun? ..
    Perusahaan hanbin kerja sama sama steven kan? Kapan nyusul nya? Duhhhh .. #abaikankomentaraku 😄

    Like

  6. Uuuhhh…
    Ga ketebak deh jalan ceritanya..
    Hanna yang koma itu mantannya sehun apa gmna??
    Luhan Pas hanna sadar dari koma terus manggil sehun… kan kaya benci banget sma sehun..
    Nah ini knpa luhan malah ada ditempat sehun ngurusin vivi???
    Sehun sma steve knapa musuhan??
    Janngan bilang karna hanna yg koma itu..

    Like

  7. sumpah ffnya bikin penasaran bgt deh, kepo bgt sama hub hanna-sehun-luhan, maksutnya hanna yg coma ya, si chan kok gtu si? apa dia masih suka ya sama si hanna

    Like

  8. ohh benerr ..jadi hanna ada duaaa, & dua”nya ga adaa hubungan apapunnn.. trs hanna yg satunya yg lagi sakit itu ada hubungan di masa lalu sm sehun, apa mereka dulu saling mencintai..?? sepasang kekasih kah..?? knpa hanna yg sakit waktu sadarr dia manggil nama sehun.. ?? sbnrnya masalalu mereka tu sprti apasih..?? & knpa klo sehun kenall betul sm hanna (yg sakit) dia ga sekalipun jenguk hanna..??
    trs hubungan sehun sm luhan ituu teman yg sprti apaaaaa..?? aishhh.. luhan suka hanna kan..?? hanna yg satunya
    chanyeol dulu suka hanna, sampai skrng apa masih..??
    trs trs knpa steven benci sehun..??
    banyak bgt pertanyaan, sampe ada beberapa yg lupa mo nanyain huaaaaa.. tekateki bgt

    Like

  9. Yuhuuuu… Author bertemu lgi denganku yg suka komen yg tdk sesuai dri bacaan maupun yg sesuai bacaan, yg komen geje jga sperti skrg 😁
    Aku penasaran bgt sma Sehun-Steven, Sehun-Luhan, Sehun-Hanna Koma, Sehun-Chanyeol dan lain-lain
    Maka dari itu aku langsung nextt ya Thorrr 😉

    Like

  10. Hanna hanna hanna!!!!???? Masih tanda tanya bsr djidatku. Hahh
    Masa lalu hmm steve dan sehun knp mrk? Apa karn hanna dmasa lalu? Luhan dan hanna? Ah sehun dan hanna mas lalu? Ah tidak tidak chan?
    What the hell??? Apa penghianatan trjadi dsni?….ahhh pucing pala berby

    Like

  11. Ini sebenernya kisah cinta sapa sih:3
    Banyak amat ah yang suka hanna:v
    Sehun suka, steve suka, chanyeol ‘pernah’ suka elah ditambah luhan muncul :3
    Oya disini si lulu jadi antagonis kah?
    Hmm keren min ceritanya ribett tapi bagus seriusan:3

    Liked by 1 person

  12. oh ternyata hanna ada dua. eemm…
    terus kenapa steven sangat benci sm sehun. sebenarnya masalalu seperti apasih yang di lalui mereka, sehingga sprt itu. Aduh penasaran.

    Liked by 1 person

  13. sehun itu gimana sih orgnya masih belum paham. badboy yg sering ke gereja ? hahah cukup bingung ternyata. sehun yg sering ke gereja gak sangka bisa skinship ke hanna ya. wajar hanna bilang byuntae ahahahha.. tapi wajar juga sih sehun kan suka hanna. kan bingungkan di wajarin gini hahaha. tapi krna itu ceritanya pun selalu jadi bikin penasaran. yehey.

    Liked by 1 person

  14. POKOKNYA INI TUH TAHU BULAT BANGET DEH (lah?). Pokoknya gak ngerti lagi deh sama nih ff, bisa memporak porandakan hati ini (lebay edition), luhan pura pura baik depan sehun apa gimana? Selalu di buat penasaran nih raisa

    Liked by 1 person

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s