Take It Slow—Chap.5A

58 copy
PutrisafirA255 STORYLINE & ART

Take It Slow

Absurd story by PutrisafirA255

【Main Cast】

Sehun Hester | Hanna Lee

【Other Cast】

Chanyeol Park | Hyena Kim

Baekhyun Byun | Helena Park

Lee Hanbin| More

「Angst, AU, Drama, Hurt, Comfort, Romance, Friendship, Family」

『PG-16』

ǁEdinburgh, Scotlandǁ and ǁSeoul, South Koreaǁ

「Chaptered」

♠Part 1: First Look

♥ Part 2: What’s Wrong? ♥Part 3: The truth

♥ Part 4: The Trouble was Come ♦Part 5A: Confuse[NOW]

“Semuanya mengalir begitu saja. Masa lalu, kembali ke dalam kehidupan, lantas memorak-porandakan perasaan hingga larut dalam kesedihan. Mengambil keputusan sepihak, namun satu tujuan. Hanya demi menjaga perasaan yang sudah tumbuh sejak pertama bertemu, namun enggan dinyatakan dalam sebuah kalimat.”

♥Take I Slow♥

Walaupun Tuhan tak pernah mengabulkan apapun yang dia inginkan, setidaknya ia masih bisa melihat gadis itu hidup. Ia akan merasa bersalah selama hidupnya jika tak bisa menyelamatkan gadis itu. Ya, Hanna Alinson. Orang yang sudah mengisi kekosongan hatinya, namun kehilangan juga dalam waktu yang tak berselang lama.

“Aku ingin memberitahumu, Lu.”

Luhan mendongak mendapati namanya tersemat dalam kalimat yang disuarakan oleh Yixing. Suara itu terhenti sebentar, agaknya ragu dengan keputusan akan memberi tahu. Tapi, cepat atau lambat pria itu harus tahu ‘kan?

“Apa yang ingin kau katakan?” Luhan mencoba memecah keheningan yang dibuat pria Zhang itu. Yixing mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menimpali. “Aku datang ke sini untuk memberitahu kalau—” Lagi-lagi pria itu menghentikan kalimatnya. Membuat Luhan penasaran setengah mati hingga amarah mulai menguasai. “Cepat katakan! Jangan membuatku menunggu,” pinta Luhan dengan tak sabar.

“Hanna hilang ingatan,” Ujar Yixing dengan nada rendah. Luhan tergelak. Demi Tuhan! Kedatangan pria china itu dari Singapura ke Edinburgh hanya membuatnya semakin khawatir. “Tapi, tidak semua memori.” Yixing segera menambahi sebelum pria di hadapannya itu meluapkan semua emosi padanya. “Maksudmu?” tanya Luhan tak mengerti.

“Ya, kau tahu. Seperti kehilangan memori beberapa tahun yang lalu. Terakhir kali aku mencek kondisi ingatannya,” Yixing ambil jeda sejenak. Agaknya ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Beberapa hari sebelum Luhan membawa Hanna kembali ke Edinburgh, ia sempat bertanya. Hanya pertanyaan ringan yang tak membebani. Seperti; sekarang tahun berapa?

“Ia ingat kalau sekarang tahun 2014. Secara tidak langsung, ia kehilangan memorinya dua tahun yang lalu.“

Luhan bergeming. Tak percaya bahwa Hanna akan hilang ingatan. Melupakan semua kenangan yang ia lewati bersama gadis Alinson itu, dan kembali sebagai teman biasa. Lalu, untuk apa ia mengorbankan semuanya jika hanya dijadikan sebagai peran pengganti saja? Dalam opera milik Hanna Alinson, ia yang seharusnya menjadi pemeran pria utama. Bukan seperti ini.

Lambat laun, kakinya tak bisa menopang berat badan. Menggenggam pagar pembatas balkon, lalu memijit pelipis. Ia sudah tak tahu harus berbuat apa. Terlalu berat untuk memikirkannya terlalu jauh. Mengerti kondisi sang kawan yang tengah kesusahan, Yixing lekas menghibur. “Setidaknya ia ada di apartemenmu, Lu. Kau bisa menjaganya—”

“Tidak!” pekiknya sembari menepis tangan Yixing yang hendak membantu.  Ia sudah terbiasa sakit dan menanganinya sendiri, hingga tak perlu bantuan orang lain. Egois memang, dan Luhan menyadari itu. Tapi, pria Xi itu tak mau dianggap lemah. “Yang jadi masalah, Hanna masih ingat kalau Sehun itu pacarnya.”

Yixing tergelak. Ia tak tahu untuk yang satu itu. Ia hanya tahu, saat gadis bernama Hanna Alinson itu sadar dari koma panjangnya, memanggil satu nama asing di telinganya. Dan sekarang, ia ingat. Luhan sering sekali menceritakan tentang pria bernama Sehun itu. Dan cerita itu, tak pernah baik.

“Dan sekarang,” Kini, Xi Luhan mulai membuka percakapan lagi. “Gadis yang tinggal di sebelah apartemenku adalah gadis yang dicintai Sehun. Ini gila.” Umpatnya. Ia hanya ingin bertanya; mengapa Tuhan selalu membuat jalan hidupnya semakin sengsara? Well, Tuhan itu adil. Hanya saja semua ada waktunya.

“Kau harus menjauhkan Hanna dengan pria bernama Sehun itu, Lu.” Ujar Yixing memberi jalan keluar. Luhan mendongak. Segaris senyum pun ia ukir di bibir. Pria itu selalu berkepala dingin saat menghadapinya yang terlalu egois dan mementingkan diri sendiri. Sadar akan sikapnya yang kasar pada Yixing, ia lekas meminta maaf. “Maafkan aku, Lay.” Ujarnya.

“Tak apa,” sahutnya. “Aku suka kau memanggilku Lay. Aksenmu benar-benar lucu.” Lanjutnya sembari menatap sang dewi malam tengah menghiburnya dan juga Luhan. Bukankah sudah kubilang, Tuhan itu adil? Di saat makhluknya kesusahan, pasti ada sisi baik dari kesusahannya.

♥Take I Slow♥

Mentari sudah menampakkan wujudnya. Menggantikan kerja dewi malam untuk menemani para manusia melakukan aktivitas padat mereka. Tak terkecuali dengan pria yang tengah menatap kopi dihadapannya itu dengan tatapan kosong. Tak ada yang menarik, baik untuk rasa ataupun untuk dipuji. Asapnya yang hampir menghilang menandakan bahwa lamunan pria itu sudah lama.

“Are you okay, Mr. Hesler?” Tanya seorang wanita cantik dengan blazer coklat muda beserta ikat pinggang kecil yang melilit sempurna di pinggang rampingnya. Begitu juga dengan sepatu khas kantoran yang tak terlalu tinggi dan sangat pas bagi pemiliknya. Namun, bukan berarti kecantikan paras dan senyum yang hampir setiap hari menyapanya bisa dengan mudah menarik atensi pria skotlandia itu. Pria itu hanya tersenyum tipis. Tanpa minat.

Model-Baju-Kantor-Masa-Kini-dengan-Stelan-Blazer 

“I’m okay, Mrs. Jenny.” Balasnya tanpa memandang wanita cantik di hadapannya itu. Ia masih sibuk mengamati kopi yang dibuat sekertarisnya dua jam yang lalu. “Aku tahu kau sedang tak baik-baik saja, Steve.” Ujar wanita itu sembari menarik kursi di hadapan Steven, lalu mendudukinya. “Kau bisa ceritakan jika—

“Tidak ada yang perlu diceritakan,” tukas Steven cepat. Ia tak mau lamunannya diganggu begitu saja. Ia masih ingin bergelut dengan pemikiran yang tengah memenuhi otak cerdasnya. Bahkan, ia masih enggan membuka stopmap merah yang berada di samping tangannya. Tak lama, akhirnya tersingkirkan dan ikut bersama tumpukan file yang masih tak sudi dilirik barang sedikitpun. “Baiklah,” Helaan nafas terdengar di detik berikutnya.

“Setidaknya, untuk yang satu ini kau tak bisa mengabaikannya.” Sela wanita bernama Jenny itu. Berhasil membuat wajah tampan yang dingin itu berubah seketika. Tergantikan dengan raut muka penasaran yang begitu kentara. Dahinya yang mulai berkerut, hingga sebelah alisnya ikut terangkat. “Apa?”

Jenny memberi jeda sejenak. “Aku ada berita bagus dan juga berita buruk. Kau pilih yang mana?” Jenny memberi pilihan pada pria Hesler itu. Steven melipat tangannya di depan dada. Mempertemukan punggung tegapnya dengan sandaran kursi kerjanya. “Meski keduanya akan berakhir mengecewakan, aku akan memilih berita bagus terlebih dahulu.” Pilih Steven final.

Jenny memajukan badannya. Seolah tak ingin memberitahukan siapapun barang angin sekalipun. “Kabar baiknya, perusahan kita mendapat bantuan modal tujuh puluh ribu euro.” Ucapnya dengan senyum yang ia bubuhi di setiap kalimatnya. Steven menghela napas lega. “Syukurlah kalau begitu,” tandas pria jangkung itu. Buru-buru Jenny mengangkat kedua tangannya ke atas. Tak membiarkan Steven puas begitu saja dengan informasi yang baru saja ia berikan. “Tunggu! Kau belum mendengar kabar buruknya, Steve.” Ujar Jenny mengingatkan.

Senyum pria itu memudar seketika. “Kabar buruknya—” Jenny mengambil napas sebelum melanjutkan. Ia belum siap melihat kemurkaan Steven yang jauh menyeramkan dari Adolf Hitler—menurutnya. Tapi, ia juga tak mungkin menyembunyikannya ‘kan? Bukankah lebih baik Steven mengetahui sekarang?pikir Jenny.“—yang menanam modal itu adalah ayahmu, Stephen Hesler. CEO dari RBS.”

Sontak Steven membulatkan mata seketika. Ternyata ayahnya itu tak main-main dnegan ucapan mereka terakhir kali. Pria itu akan melakukan apapun untuk membuat Steven bertekuk lutut di hadapannya. Mengikuti semua apa yang pria paruh baya itu minta—hingga tersenyum puas. Tak sadar, buku-buku  tangan Steven memutih. Menahan amarah untuk tidak meledakkannya di tempat yang tak seharusnya. Lebih memilih meninggalkan Jenny yang masih dalam diam dan menyeret tungkainya menuju sebuah ruangan di lantai dua belas.

Sesampainya di sana, ia mematung bak orang bodoh. Mendapati pemandangan yang tak seharusnya ia lihat, dan berakhir dengan rasa menyesal telah mendatangi ruangan itu. Ayahnya—Stephen Hesler— dan juga pemilik perusahaan—Kim Xiumin— bertatap muka dengan santainya. Seolah beban dan amarah yang tengah memuncak dalam diri Steven tak terjadi juga dalam diri atasannya itu. Ia benar-benar kecewa.

“S-Steve—” panggil Xiumin terbata-bata, sebelum akhirnya Steven lebih dulu yang menginterupsi. “Kalian lanjutkan saja, aku akan menunggu di luar.”

♥Take I Slow♥

Kedatangan si jangkung memang diharapkan. Terbukti ketika ia datang, Luhan menyunggingkan senyuman miring. Seakaan Sehun yang datang dengan raut muka menyeramkan itu tak bisa mengusiknya barang sedikitpun. Kendati ragu dengan rencananya, akhirnya ia membuka pintu setelah melihat sebuah layar kecil yang dipasang tak jauh dari pintu apartemen untuk melihat siapakah gerangan yang datang larut malam.

“Bagaimana kau—”

BUKK

Satu tinjuan keras melayang tanpa ampun menuju pipi sang sahabat. Mana peduli rasa persahabatan jika cemburu lebih mendominasi? Sehun pun termasuk. “Jangan dekati Hanna!” pekiknya sembari mencengkeram kemeja putih Luhan yang belum pria Xi itu ganti. Tangannya tergerak menuju sudut bibir. Ada darah di sana.

Tentu saja, Luhan tak terima. Namun, ia sudah tahu kalau ini ada hubungannya dengan Lee Hanna—wanita yang Sehun sukai. Luhan tak bodoh untuk mengerti, karena ia sempat melihat dari spion mobilnya saat perjalanan, Mercedez Bens GL 350 milik Sehun menguntit di belakangnya. Nampaknya Sehun benar-benar menyukai gadis itu—Luhan membatin. “Memangnya kau siapa?” tanya Luhan yang dipastikan akan memicu pertengkaran.

Sehun mendongkol. Agaknya sahabat karibnya itu meminta satu pukulan agar sadar akan kesalahan. Namun, seringan apapun tangan Sehun jika marah, ia tak bisa memukul sahabatnya begitu saja. Walau Luhan pernah bermain dengan mantan kekasihnya dibelakangnya, ia masih menganggap Luhan sebagai sahabatnya. Karena, pria itu juga memaafkannya untuk kesalahan yang secara tak langsung ia perbuat.

“Jangan bercanda, Lu!”

Alih-alih gentar, Luhan justru terkekeh. Sehun mengerutkan dahi. Adakah yang lucu dari kalimatnya? Lekas ingin mendapatkan jawaban, Sehun menguatkan cengkeraman tangannya. Menatap pria Xi itu dengan tatapan dingin seolah ingin segera membunuh Luhan. “Maksudmu Hanna yang mana?”

Sehun membeku. Untuk pertama kalinya ia terbungkam hanya dengan delapan silabel yang digabung menjadi satu kalimat itu. Luhan tersenyum menang. Bahkan, tangan Sehun perlahan merenggang. Membuat Luhan lebih leluasa untuk mengirup oksigen tamak. Tatapan pria Hesler itu kosong. Ia menjelajahi kenangan yang masih tersimpan apik dalam otak pintarnya. Hanna yang mana? Tentu saja yang. . .

“Apa maksudmu?”

Well, I ask you first, Mr. Hesler,”

Sehun mendorong tubuh tegap di hadapannya itu hingga membentur tembok. Mencengkeram—lagi— kerah Luhan hingga sang empunya mendongak. Untung saja perkelahian di depan pintu apartemen itu tak membuat sang tetangga merasa terusik. Mengingat setiap apartemen kedap suara—hingga seberapa besar teriakanmu dari luar tak akan berpengaruh untuk penghuni yang ada di dalam. “Apa yang tidak aku ketahui, Mr. Xi?!”

Luhan kembali menyunggingkan senyum manisnya. Rencananya berhasil! Luhan ingin mengatakan itu, namun belum sepenuhnya berhasil. Masih ada satu langkah lagi menuju keberhasilan. “Take it off, then i’ll show you.”

♥Take I Slow♥

Entah kenapa dan Sehun pun tak tahu jawabannya, ia ingin sekali menemui Lee Hanna. Padahal, akan bahaya jika Luhan tahu ia ada di apartemen Hanna. Sang pemilik saja memerbolehkan, kenapa ia yang harus ambil pusing? Persetan dengan Luhan maupun mantan kekasihnya yang ternyata ada di apartemen pria china itu. Ia hanya ingin menentramkan diri dengan melihat wajah lucu Hanna ketika marah. Jujur, Sehun menyukainya. Sedikit menghibur ketika ia sedang sedih.

“Kenapa kau di sini?” tanya Hanna kaget kala mendapati sosok tegap dihadapannya itu datang tanpa diundang. Apalagi Chanyeol sudah memperingatkannya untuk tak mendekati pria Hesler itu. Namun apa daya, si pria Heseler itu susah untuk diusir dan selalu tetap dengan pendiriannya. Dan Hanna juga enggan menanggapi lebih jauh hal-hal yang tidak penting seperti itu. Jadilah, sang pria lekas ditinggal masuk, dan membiarkan si Hesler mengikuti langkahnya masuk.

“Kau curang,” ujarnya. Hanna yang merasa bingung lantas memutar tubuh cepat. Membuat Sehun yang melihat isi apartemen itu terhenti. Takut-takut ia menabrak sang pujaan hati. “Apa?” tanyanya saat mendapati Hanna memicingkan mata. “Kenapa aku curang?”

Sehun menggendikkan bahunya acuh. “Well, kau sudah masuk apartemenku dan aku baru masuk apartemenmu.” Jawabnya. Hanna memutar bola matanya malas. Haruskah pertanyaan dan jawaban konyol itu ia dengarkan? Bisa-bisa ia telat ganti baju kalau mendengarkan ocehan Sehun yang tiada henti.

Meninggalkan Sehun tanpa izin, ia lantas menciptakan jejak tak kasat mata pada lantai. Berganti baju untuk lekas berangkat kuliah. Agaknya berat karena ia harus menghadapi si jangkung jika nanti berpapasan dan tahu ia berangkat dengan Sehun. Kenapa pria egois sekali? Hanna membatin.

Karena kedatangannya tak diharapkan, pria jangkung itu akhirnya memilih untuk sabarnya menunggu gadisnya keluar dari kamar. Duduk di sofa yang berada di ruang tamu apartemen itu, hingga iris coklatnya mendapati Hanna keluar dari kamarnya dengan kemeja bermotif kotak, ditemani bersama jas coklat panjang hingga lututnya. Sehun sempat menyernyit dan berpikir keras bagaimana caranya agar Hanna mengganti style-nya itu. Apadaya, Sehun tahu kalau gadis Lee itu sangat keras kepala dan susah sekali diajak kompromi.

tumblr_n1s9zrry8d1rexqqfo2_1280.jpg

“Mengapa kau melihatku seperti itu?” tanya Hanna membuyarkan lamunan pria yang tengah menatapnya intens. Sebenarnya, Hanna tak tahu apa maksud tatapan Sehun yang begitu. Ia pun tak mau memikirkannya. Bukannya mengalihkan pembicaraan ataupun segera mengajak gadis itu berangkat, Sehun justru mengeluarkan pendapatnya.

“Apa kau tak punya baju lain? Itu terlalu sederhana,” ujarnya jujur tanpa ada satu katapun kebohongan yang terselip. “Memangnya mengapa? Kau mau aku pakai hot pants ke kampus?” sentak Hanna yang langsung membuat Sehun skak mat. Bagaimana mungkin Sehun membiarkan gadisnya itu ditatap oleh pria hidung belang di luar sana? Ia tak akan mau barang sedikitpun.

“Baiklah,” ujar Sehun sembari mengambil tas punggung hitamnya, lalu bangkit. Mendahului Hanna yang tengah menatap punggungnya dengan tatapan heran. Perubahan yang signifikan dari sifat dan sikap Sehun itupun membuat Hanna berpikir keras. Sebenarnya apa yang dipikirkan pria itu?

Baru akan mengukir jejak selangkah, Sehun segera berbalik. Menghampiri cepat Hanna yang masih diam di tempat, lalu membawanya dalam rengkuhan. Memberi jarak untuk tangannya menyibakkan helaian rambut Hanna ke belakang telinga. Di susul dengan kalimat yang membuat Hanna bergidik ngeri. “Aku rasa pakai hot pants juga tidak apa-apa. Asalkan hanya aku saja yang melihat.” Katanya tepat di dekat telinga Hanna. Setelah itu, Sehun membebaskan Hanna dari rengkuhannya. Memberi kesempatan Hanna untuk memukul dahi pria Hesler itu dengan cukup keras.

“Dasar byuntae!” pekik Hanna setelah ia mengambil langkah mundur bersamaan dengan erangan Sehun yang terdengar cukup nyaring.

♥Take I Slow♥

 nike-air-max-90-infrared-gs-1.jpg

 Sepatu merk Nike Air Max infrared sebatas mata kakinya itu sudah mengukir jejak sebelum Sehun keluar dari mobilnya. Ia sedikit trauma atau lebih tepat disebut malu dengan apa yang diucapkan pria itu setengah jam yang lalu. Menurut Hanna, kata-kata yang Sehun ucapkan itu terlalu terbuka. Dan ia yakin, bahwa dirinya bukan satu-satunya yang menjadi korban bualan sejenis rayuan maut pria itu.

“Hanna!”

Sebelum menoleh, Hanna terdiam sejenak. Menghentikan langkahnya sejenak, sebelum otak mencoba mengingat suara bariton itu. Chanyeol—Batin Hanna. Dan ternyata instingnya benar, pria jangkung itu lekas berdiri di hadapan Hanna. “Ada apa?”

Chanyeol menatap Hanna, lalu lisan lekas menimpali. “Mengapa kau bersama Sehun? Bukankah aku sudah memperingatkanmu?” tanya pria Park itu dengan nada marah. Siapa yang tidak marah jika peringatannya diabaikan? Itulah yang Chanyeol rasakan sekarang. Hanna hanya menimpali dengan kalimat singkat sebelum langkah kembali mengukir jejak. “Dia menjemputku dan aku butuh tumpangan.”

Chanyeol yang merasa diabaikan lantas kembali menghampiri Hanna. Bedanya, pria Park itu mencengkeram kedua bahu Hanna—hingga gadis itu tak bisa menghindari iris hitam Chanyeol. “Aku bisa menjemputmu. Aku mohon, Han. Dengarkan aku. Kau percaya ‘kan padaku?”

Hanna mengangguk lemah. “Ya, aku percaya.” Timpalnya dengan fokus yang dibuang ke sembarang arah, agar hazelnya tak bertumbrukkan dengan iris hitam Chanyeol. “Tapi, dia sudah banyak membantuku. Dan aku tak bisa mengabaikannya begitu saja, Chan.”

“Kau tak bisa mengabaikannya?” Chanyeol mengulang kalimat kedua yang gadis itu lontarkan. “Kau bahkan mengabaikanku, Lee Hanna!” Chanyeol memekik marah. Kentara sangat tak suka kedekatan antara Hanna dan juga Sehun. “Aku kecewa padamu!”

Sepeninggal Chanyeol, Hanna masih terdiam di tempat. Menerka apa sebenarnya yang terjadi antara Sehun dan Chanyeol. Bukankah mereka berdua sahabat? Dan juga sudah saling mengenal selama sepuluh tahun? Lantas mengapa pria itu begitu marah? Hanna bahkan kini dibuat bingung oleh sikap keduanya.

“Kau ada masalah dengan Chanyeol?” tanya Sehun setelah perdebatan itu berakhir. Memang tak terlalu jelas tadi—mengingat jarak yang digunakan Sehun untuk mencuri-dengar agak jauh—maka dari itu ia memastikan melalui analisa yang ia buat. Hanna menggendikkan bahunya. “Aku rasa ada yang salah dengan kalian. Aku ingin bicara denganmu.”

Tak menunggu lama, Hanna lekas menarik lengan kekar itu menuju sebuah kelas yang masih kosong. Melepaskannya saat dirasa sudah sampai. Menghela napas beberapa kali, hingga akhirnya lisan ikut mendominasi tanpa ada interupsi dari sang pria Hesler itu. “Bisakah kalian berkelahi tanpa menyangkut-pautkan aku?”

“Aku yang tidak tahu apapun tiba-tiba harus menjauhi salah satu diantara kalian.” Hanna mengambil jeda beberapa sekon untuk kembali menghembuskan karbon dioksidanya. Menghirup oksigen banyak-banyak, hingga akhirnya keluar dalam bentuk rangkaian silabel. “Berhenti membuatku terkungkung dalam masalah kalian. Aku tidak mau ikut campur dan terlibat.”

Setelah itu, Sehun hanya bisa terdiam. Mencoba mengilhami setiap suku kata yang keluar dari bibir mungil itu. Terasa begitu menyakitkan kala melihatnya hampir meneteskan air mata. Sebegitukah Hanna merasa sakit berkat keegoisannya dan Chanyeol?

Ia tak mampu mengukir jejak kakinya keluar dari ruang kelas yang kosong itu, hingga seseorang yang lebih tinggi darinya itu membuka pintu, lekas menginterupsi terlebih dahulu. “Aku sudah memperingatkanmu, Hun. Kau hanya akan menyakiti—”

“AKU MENCINTAI LEE HANNA! BISAKAH KAU PERCAYA?!”

Didetik selanjutnya, Sehun meledak. Mengapa kesungguhannya tak pernah terbayarkan? Gila memang ia berani mengungkapkan rasa sukanya pada gadis yang tak genap satu bulan ia kenal itu. Tapi, ia bersungguh-sungguh untuk yang satu ini. Ia tak mau terkungkung masa lalu yang selalu membuatnya terpuruk dan tak mau mengambil langkah. Cukup! Hanya sampai sini saja rasa sakit akan masa lalu itu membuatnya jatuh.

“Percaya kau bilang?” terdengar suara bariton itu remeh. Tak menerima dengan mudah kesungguhan yang disuguhkan padanya itu. “Berapa kali aku harus percaya padamu kalau akhirnya kau mengingkarinya? BERAPA KALI KU TANYA?!” Kini, giliran si pria Park yang mengeluarkan amarahnya. Tak terima dengan nada tinggi yang dilontarkan sang sahabat.

“Kau bahkan membuat gadis bernama Hanna  Alinson itu hampir mati dengan sia-sia. Hanya karena kau mencampakkannya begitu saja.” Cicit Chanyeol. Namun, ia tak lekas berhenti. Terbukti dengan kalimat berikutnya yang terdengar di pria Hesler itu, “Dia koma selama setahun, Hun! Dan bahkan di saat ia terbangun, gadis itu masih sempat memanggil namamu. LALU KAU SEKARANG MENGAMBIL HANNA-KU?!”

Sehun termangun. Bukan nada tinggi yang diberikan Chanyeol padanya. Melainkan saat kata terbangun yang membuatnya blank seketika. “Kau bilang dia bangun?” Sehun membeo. “Kau tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu?”

Sontak Sehun segera menarik kerah kemeja Chanyeol. Mencengkeramnya kuat-kuat, hingga Chanyeol hampir terjerembab karenanya. “Persetan dengan dia! Dia yang berselingkuh lebih dulu dengan Luhan di belakangku! KAU PERLU TAHU ITU, PARK!”

“Berselingkuh?” Chanyeol terdiam walau tangan kekar sahabatnya itu masih bertengger manis di kerahnya. Untuk fakta yang satu itu, ia belum tahu. Yeah, semua fakta yang ia tahu tentang mantan kekasih Sehun yang mempunyai nama yang sama dengan Hanna.

“Sudah kuduga, kau tak tahu cerita yang sebenarnya ‘kan? Maka dari itu, jangan menyalahkanku seenak jidatmu.” Akhirnya, Sehun melepaskan cengkeraman tangannya itu. Meniggalkan Chanyeol sendiri yang masih setia dengan keterkejutannya. Semua orang selalu menyalahkan tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya. Padahal, ia adalah pihak yang tersakiti. Namun, ia justru yang menjadi pusat perhatian berkat kesalahan yang dilakukan orang lain.

♥Take I Slow♥

Selama pelajaran berlangsung, Hanna tak bisa memusatkan fokus pada apa yang sedang di terangkan oleh dosen. Irisnya memang menhadap ke depan, namun tatapannya kentara kosong hingga di tegur oleh sang dosen. “Mrs. Hanna? Are you listen me?”

Mendapati namanya di panggil, Hanna lekas menimpali. “Ya, Mr. David. I’m so sorry.” Sesalnya. Setelah itu Hanna mencoba memfokuskan atensi. Tapi, tetap saja pikirannya melayang kemana-mana. Sebenarnya, tanpa Hanna ketahui, Sehun sempat mencuri pandang gadis Korea-Amerika itu. Melemparkan tatapan heran dan sesal di waktu yang bersamaan. Sungguh, ini benar-benar mengganggu.

“Kau mau pergi kemana? Dua jam lagi pelajarannya dimulai.”

Hanna sadar, suara bariton itu adalah milik Sehun yang kini semakin keras. Tapi, Hanna tak mau peduli. Itu juga berlaku untuk Chanyeol. Keduanya harus tahu kalau suasana hatinya sedang tak baik. Setelah dosennya memberi teguran, Hanna memilih untuk membolos jam kedua. Apa gunanya hadir jika fokusnya tak ada di sana?

Terlalu kalut dengan pikirannya, Hanna tak sempat memperhatikan jalan hingga akhirnya ia tak sengaja menabrak orang. Salahkan suasana hatinya yang masih buruk, hingga pria tak bersalah itu menjadi pelampiasan amarah Hanna. Bahkan sang pria tak bersalah itu harus menampung segala umpatan Hanna.

WHAT THE HELL ARE YOU DOING NOW?!”

Hanna meledak dalam sekejap. Membuat pria yang ada di hadapannya itu membulatkan mata. Tak sampai di situ saja, racauan Hanna masih berlanjut. “Wae geuraesseo?! Wae manhi namja jeongmal nappeunya?!” kalimat yang diperdengarkan dengan aksen korea yang fasih itu pun membuat pria dihadapannya menyernyit. Namun, lambat laun ia tersenyum. Seolah di hadapannya ada pertunjukan yang lucu. Padahal,segala umpatan keluar dari bibir cherry itu.

“Aku benci keadaan seperti ini. Aku tak bisa memilih satu di antara keduanya. Mereka. . terlalu berharga bagiku. Mengapa mereka begitu egois. Aku benci menjadi pecundang seperti ini.” Setelahnya Hanna mengusap pipinya yang basah karena liquid yang menetes. Ia lekas mendongak. Terbesit niat untuk meminta maaf, namun urung kala terkejut dengan sosok yang ada di hadapannya.

“Sudah selesai?” suara bariton familiar itu menggema hingga ke indra pendengaran Hanna. Si gadis Lee yang masih terkejut itu justru membulatkan mata. Apakah ini kembarannya? Heol, daebak! Seoah ia bisa menatap duplicate dari pria byuntae itu. “Aku rasa kau butuh tempat yang baik untuk menenangkan diri.”

Take It Slow

Awalnya, Steven datang ke University of Edinburgh untuk menemui Sehun. Ia ingin menanyakan apakah sang kembaran itu juga ikut campur soal perusahaan. Mengingat hanya Sehun yang masih berhubungan dengan ayahnya dan masih sering berkunjung daripada dirinya. Namun, takdir berkata lain. Ia justru dipertemukan oleh si gadis ‘aneh’ yang terakhir kali mengira kalau dirinya adalah temannya—Sehun.

Akhirnya, Steven hanya mengangguk paham kala Hanna mengatakan masalahnya pada pria itu. Entah kenapa dan Hanna pun tak tahu, ia merasa Steven akan menjadi pendengar dan penasihat yang baik. Steven jauh lebih dewasa dari Sehun walau keduanya lahir pada jam yang sama. Pria itu bisa memberi beribu solusi, dengan pembawaanya yang begitu tenang. Mungkin karena mereka mempunyai kehidupan yang berbeda? Steven yang sudah bekerja dan Sehun yang masih kuliah. Atau bisa disimpulkan, Steven sudah tahu bagaimana karakter orang karena ia adalah business man dan Sehun masih kekanak-kanakan karena pria itu masih bersekolah. Mungkin sepert itu?

“Memangnya, apa hubunganmu dengan Sehun?”

Kalimat tanya yang tiba-tiba berkumandang itu sukses membuat Hanna bungkam. Berpikir dua kali untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Masalahnya, Hanna memulai ceritanya dari ia bertemu dengan Vivi—anjing kesayangan Sehun—dan berakhir dengan perkelahiannya dengan dua pria yang dekat dengan dirinya. Tak lupa memotong adegan keduanya saat melakukan percakapan di dapur ataupun hal-hal yang bersifat privasi. That’s really mainstream.

“A-aku, hanya berteman dengannya. Tak lebih,”

Tapi, dia menyukaimu—batin Steven tak berani menyuarakan kalimatnya. Ini memang salahnya yang tak jujur terlebih dahulu. Atau setidaknya ia memberi tahu yang sebenarnya. Masalahnya, saat itu ia tengah sakit dan tak harus banyak-banyak istirahat. Hingga akhirnya terjadi kesalah pahaman antara Sehun dan Hanna, membuat keduanya justru semakin dekat. Kenapa ceritanya jadi rumit begini?

“Sebelumnya, aku ingin meminta maaf karena aku tak mengatakan lebih dulu kalau aku kembarannya Sehun.” Ujar Steven pelan, kentara juga rasa menyesal yang terdengar di setiap silabelnya. Hanna menyernyit. “Kalau aku boleh tahu, mengapa kau tak mengatakannya?”

Skak mat! Steven mati kata. Seakan kalimat maaf yang telah ia siapkan itu berbelok jauh dari pemikirannya. Menganggap kalimat itu tak akan terlontar, hingga ia santai dan percaya diri kalau permintaan maafnya akan diterima. Dia bukan wanita yang mudah mendapat kalimat tanpa alasan. “A-aku terpaksa,”

“Karena?” Hanna dengan cepat menginterupsi. Steven mencoba mencari kalimat yang sesuai, namun tak mengungkapkan niatnya terdahulu. “Aku rasa saat itu waktunya tidak tepat. Kau tahu ‘kan saat itu aku sedang sakit.” Beruntunglah Steven yang bisa mengatakan kalimat itu tanpa gugup. Walau kaki dan tangannya mulai berkeringat.

Nampaknya Hanna berpikir sejenak. Menimang kembali alasan yang sedikit masuk akal itu. Mengingat saat mereka terakhir kali bertemu, Steven sedang sakit. Jadi, mungkin Steven tidak berbohong soal itu. Toh, dia sudah mengaku. Untuk apa lagi di perdebatkan?

“Baiklah,” ujar Hanna kemudian. “Lalu, mengapa kau diam saja saat aku membentakmu?” Kini Hanna mencari topik lain yang lebih menarik—menurutnya— untuk dibahas. Steven tersenyum. “Aku harus menjawab jujur atau bohong?”

Hanna menyipitkan matanya, menatap tajam. “Tentu saja harus jujur,”

Steven semakin tersenyum. “Jujur, aku jauh lebih suka gadis yang dingin dan berbeda sepertimu.” Jelasnya membuat alis Hanna bertaut—kentara tak paham maksud pria Hesler itu.  “Entahlah. . yang aku lihat kau begitu lucu saat marah. Like a babies.”

Hanna membalas sinis kalimat Steven. “Kau mau menggodaku? Itu tidak akan mempan, Steven-ssi! Bagaimana bisa aku terlihat lucu saat marah?” Steven yang mendengar itu tertawa. Matanya membentuk setengah bulan sabit. Tawanya begitu lepas, hingga Hanna tanpa sadar ikut tersenyum karenanya. Ia belum pernah melihat Sehun tertawa seperti itu. Bukankah ekspresi mereka saat tertawa sama saja? Masa bodoh. Ia tak mau berpikir tentang Sehun sekarang.

“Kau benar-benar beda, Hanna-ssi.”

Hanna menggendikkan bahunya. “Apanya yang beda?” Hazel Hanna menilik lagi dirinya dari bawah hingga ke atas. “Aku tahu memang style-ku sangat sederhana. Bahkan Sehun mengataiku pagi tadi,” gumam Hanna spontan sembari menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, lalu memasukkan kedua tangannya pada saku jas. Membuat senyum Steven memudar seketika. Nama itu seolah suara neraka yang akan menyeretnya ikut ke dalam hawa panas dan mematikan. Mengapa disaat momen semanis ini, Hanna harus menyertakan Sehun juga—pikir Steven. Tak tahukah ia cemburu. Mana Hanna tahu?

Mendapati keterdiaman Steven, Hanna lantas memutar otak. Mengais ingatan tak lebih dari dua menit untuk mencerna kembali kata-katanya. Adakah yang salah dari ucapannya? Padahal pria itu snagat baik sekali padanya. Dan tak lebih dari dua puluh empat jam pertemuan mereka, ia mengacaukan segalanya. Oh, Tuhan. Hanna memang sudah besar dan berpikir positif, tapi kepolosannya itu tak bisa dipungkiri. “Apa aku salah bicara, Steven-ssi?”

Tak menjawab, Steven justru memainkan bibir cangkir putih yang berisi mocchachino di hadapannya itu. Membiarkan Hanna dilingkupi rasa bersalah, lalu mengajukan satu pertanyaan yang terdengar memaksa di telinga. “Kalau kau merasa seperti itu, bisakah aku meminta sesuatu darimu?”

♥Take I Slow♥

Hampir lima jam pria jangkung itu berdiri di depan pintu apartemen seseorang. Entah apa yang dilakukannya—Tidak, siapa yang ditunggunya itu masih misteri. Masalahnya, yang menghuni apartemen itu lebih dari satu orang. Maka dari itu, lebih baik menunggu untuk mengetahui jawabannya.

Seolah orang dungu yang baru di usir dari rumahnya karena tak membayar uang sewa, ia pun bergeming. Duduk bersandar pada pintu apartemen sembari memainkan ponselnya beberapa kali untuk ditempelkan ke indra pendengaran. Menunggu suara sopran yang telah lama ia nanti, namun hanya mendapati suara wanita yang mengatakan kalimat yang ia benci. Nomor Hanna tak aktif. Itu berarti, Hanna memang sengaja menghindarinya.

Tapi, yang menjadi masalah di otak briliannya itu, Hanna tak kunjung pulang. Padahal dirinya sudah menunggu sejak jam lima sore—setelah jam kuliah selesai—hingga sekarang jam sepuluh malam. Jujur, ia sangat lelah. Bahkan sempat berniat untuk meninggalkan tempatnya berpijak sekarang kalau tak mengingat akan sosok mungil itu. Sungguh, ia tak mau kehilangan untuk yang kesekian kalinya.

“Sehun?”

Mendapati dua silabel namanya di panggil, maka ia lekas mendongak. Hampir memekik girang kalau saja yang ada dihadapannya itu Hanna. “Who are you?” tanyanya datar, dengan raut muka sebal yang begitu kentara. Gadis yang berada di hadapannya itu bukanlah gadis yang ia tunggu. Tentu saja Sehun hampir meledakkan emosi jika tak bisa mengendalikan diri.

“My name is Helena—Hanna’s roomate. Hanna pernah bercerita tentangmu.”

Alih-alih membalas juluran tangan yang diberikan secara percuma oleh Helena, Sehun justru segera memuntahkan segala keingintahuannya terhadap Hanna. “Kau temannya Hanna?” tanya Sehun masih dengan raut muka datar, namun raut penasaran terbaca oleh Helena. Mendengar pertanyaan itu untuknya, Helena menganggukkan kepala guna menjawab—membenarkan argumen Sehun.

 “Dia tidak menelponku dan ponselnya tidak aktif.”

Seolah bisa membaca pikiran, Helena menjawab semua rasa penasaran yang tengah melanda si pria Hesler itu. “Darimana kau tahu jika aku ingin menanyakan tentangnya?” Helena menghela napasnya kasar. “Bukan hanya kau yang menanyakan itu. Chanyeol, suster Maria dan Mr. Kris juga—”

Belum sempat merampungkan jawabannya, Helena di suguhi pemandangan yang luar biasa. Di mana sosok pria yang tengah menjadi penanggung jawab atas rindu yang melandanya datang begitu saja. Nampak seperti halusinasi bagi Helena, tapi tidak dengan Sehun yang mengikuti kemana arah fokus gadis itu jatuh.

Pria dengan kemeja biru tua yang tengah menatap tajam dirinya dan juga Helena secara bergantian. Seolah ia mengajak pacar orang lain dan tertangkap basah. Membuat Sehun menoleh pada gadis yang tengah menatap pria itu dengan tatapan tak percaya. Oh, Tuhan! Kenapa semuanya jadi serumit ini? Padahal ia hanya berniat mencari Hanna dan mengatakan semua yang terjadi. Hanya itu dan tak ada niatan lainnya.

“Lanjutkan pembicaraan kalian, aku akan menunggu di lobby.” Ujarnya final memecah keheningan. Helena terdiam. Pasokan kata yang terangkai dalam kalimat di dalam otak pun tak bisa diucapkan. Pakem bicara yang sudah ia kuasai sejak umur dua tahun pun tak mau turut andil membantu.

“Baekhyun—” Hanya itu yang mampu keluar dari bibir mungil Helena sebelum mendapati sosok Baekhyun menghilang dari pandangannya.

♥Take It Slow♥

[Preview Next Chapter]

“Dia memang gadis yang luar biasa,”

“A-aku? Mengapa aku?!”

 “Lakukan di tempat tertutup, arraseo!”

“Sehun?!”

 “T-tunggu, aku bisa jelaskan semuanya,”

“Dia seperti ibu bagiku. Terlampau baik untuk di sakiti, dan terlampau polos untuk dikhianati. Dia segalanya bagiku.”

 “Don’t call me like that, Mrs. Alinson. Terdengar sangat menggelikan di telingaku.”

“I don’t need your explanations, Mr. Sehun!”

“JANGAN PURA-PURA BODOH!”

 “Aku harap dia akan mati setelah kau menghajarnya.”

 “AKU INGIN DIA MATI, CHAN!”

“Kau gila? Dia sudah hampir sekarat, Lu!”

[TBC]

Annyeong! Aku balik lagi dengan FF absurd yang bikin readers bingung dan suka bertanya/?

Udah tahu ‘kan kalau di sini Hanna ada dua? Namanya Lee Hanna—Korea— dan Hanna Alinson—Skotlandia. Untuk kedua visualnya, ini dia. . .

 Hanna-lee Hanna.jpg

 Yehet! makasih buat yang masih stay tune di sini. Maapkan aku juga yang gak bikin intro dan langsung bikin epep tak mutu seperti ini. Tapi apa daya, jujur aku gak suka bikin intro. Entah kenapa dan aku pun tak tahu jawabannya. Untuk lebih mengenal aku, silahkan klik di sini. Kalo yang enggak juga gak papa.

Jadi semuanya juga udah tahu ‘kan kalau si Alinson ini pernah jadi pacarnya Sehun? Tapi, di suatu waktu(ada di chap depan) si Hanna rambut pirang ini justru berselingkuh. Apalagi, waktu si Luhan lagi deket-deketnya sama SeChan. Tapi, Chanyeol-nya gak tahu kalau mereka putus gegara si gadis pirang ini selingkuh. Gituh..

Sama seperti semua author, aku juga mau di bawah FF-ku ada komentar yang bikin aku semangat nulis lagi. Dari total yang ±130 readers yang baca, masa cuma 3 orang yang komentar. Kan sayang banget ya? Maka dari itu, luangkan waktu dua menit aja untuk komentar. Aku memang gak bisa bikin FF yang bagus kaya author panutan aku. Tapi, aku harap anda semua mau berkomentar. Thanks and have a nice day :*

Advertisements

47 thoughts on “Take It Slow—Chap.5A”

  1. steve juga suka sma lee hanna ?? bakalan ada perang saodara(?) nih 🙂
    aku tunggu apdetanya lagi thor.. semangaaaaattt !!!

    Like

  2. Keknya aku ga jadi yg pertama kali ini wkwk gara gara tugas numpuk yg padahal baru masuk sekolah /apa sih jadi curhat/

    Pas aku cek email ternyata udah diupdate ffnya seneng bangett…

    Steven minta apaan ke lee hanna? Dan kenapa hanna alinson harus lupa ingetan

    Dan ada baekhyunnn,, oh ayolah baek jangan salah pahan sama helena okay plis konfliknya udah banyak

    Tapi kenapa baekhyun dateng?? Dan gimana hubungan sehun lee hanna?? Masih gantung nichh /apa sih jadi alay wkwk/

    Yaudah lah dari pada makin ga jelas komennya ditunggu selanjutnya ya putri…

    Hwaiting ^^

    Like

  3. Ditunggu chapter selanjutnya… makin seru dan kepo kuga soal kesalahan sehun di masa lalu, apa yang membuat steve benci sama sehun, dan pernyataan kalo mantan sehun itu namanya hanna semua?? Keep writing and fighting yoo 😉

    Liked by 1 person

  4. hanna jangan ama steven dong…..
    sama sehun aja ya????
    itu steven mnta apa lagi sama hanna….
    baekhyun cemburu tuh, salah paham…
    aq tunggu nextnya kak ^_^
    berharap hubungan sehun dan hanna makin deket 🙂

    Like

  5. Waw super complicated x_x
    Sehun-hanna-steven, trus chan nganggep hanna lebih dari temen kah??
    Ditambah hanna 1 lg udah bangun dari koma? Jangan sampe jadi penghalang sehun-lee hanna :”D

    Like

  6. udah ada chanyeol sama steve nih yang suka sama lee hanna, gimana itu yah!! yang satu tmen sendiri tapi salah paham sama sehun dan satu lagi kembarannya yang entah kenapa benci banget sama sehunn.. bisa-bisa perang dunia terulang lagi nih hahahah *alay! iya tau -_-
    baiklah mungkin menurut hanna saat ini hanya sehun yang ada dihatinya kkk~ aduhhh :v
    kira-kira kalau hanna alinson muncul ditengah lee hanna dan sehun gimana jadinya yah? lagian kenapa nama mereka bisa sama sih! kesell >_< kan gue jadi keingin another miss oh *aihh 😦
    hmm sebenarnya masih agak aneh juga sih perihal kalau yang katanya sehun sama hanna alinson putus hanya karena gadis itu selingkuh sama luhan yang notabanenya sahabat sehun sendiri tapi sekarang masih deket aja bahkan saat sehun tau kalau luhan nusuk dari belakang, aneh kan!!
    si luhan juga awalnya kasih kesan baik tiba-tiba jadi nyeremin kayak gitu, ukh!!!
    oh iya thanks ya thor, semangat terus 🙂 😉

    Like

  7. New readers boleh ikut komen kan?😁
    Ihiy fanfiction nya seru sekali, kubaca berulang ulang loh untuk menemani tidur/jomz. Wah disini ada luhan aku jadi flashback pas masih ber12 gitu hm. Tapi seruuu semangatttt

    Like

  8. finally rasa kepoku terjawab sudah, ternyata hanna alinson itu selingkuh sama sehun, “Sudah kuduga, kau tak tahu cerita yang sebenarnya ‘kan? Maka dari itu, jangan menyalahkanku seenak jidatmu.” Akhirnya, Sehun melepaskan cengkeraman tangannya itu. Meniggalkan Chanyeol sendiri yang masih setia dengan keterkejutannya. Semua orang selalu menyalahkan tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya. Padahal, ia adalah pihak yang tersakiti. Namun, ia justru yang menjadi pusat perhatian berkat kesalahan yang dilakukan orang lain”. setuju bgt sama yg dibilang my baby sehunieee, kan kasian sehun dihakimi sama orang2 palagi luhan knp harus benci sama sehun itu kan salah dia hanna bunuh diri kan gaada salahnya sehun mutusin hanna alinson kan udah diselingkuhi.

    Like

  9. maaf komenku diatas absurd bgt terus ada yg salah nulis lagi, tp udh terlanjur kekirim, aku nulis kyk lagi ngmng soalnya jd pas ketulis ternyata absurd bgt

    Like

  10. Baru ada 35 komen Thorr, mau diramein sma aku ngga?? 😁😄 kalo mau, aku dengan senang hati akan meramaikan.a demi Author, apa sihh yg ngga buat Authorr, mnta komen doang, aku ladenin…
    Skipp
    Makin mitmitmit rumit ajaa nih jalan cerita hahehahe 😁
    Next aja lahh

    Like

  11. Ohhhh… apa ini cnta segi empat OH NO.
    Knp pula hanna allison it hrs hlg ingtam dan cmn imgt sehun knp tdk skliam aj semua ingatanx hlg hihihi jahat bamget aku yah maafin.
    Oh y apa akn trjad ssuatu

    Like

  12. Haduh ah hanna yang koma itu kok kelihatannya bakal mempersulit keadaan ya?:3
    Kok aku rasa masalah bentar lagi tu muncul gara” si hanna yang baru sadar itu:3
    Udahlah ah jan gangguin sehun hanna kesian loh biarin mereka bersatu:v
    Gatega lah masalahnya ada aja :3

    Liked by 1 person

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s