Take It Slow—Chap.5B

58 copyTake It Slow

Absurd story by PutrisafirA255

【Main Cast】

Sehun Hester | Hanna Lee

【Other Cast】

Chanyeol Park | Hyena Kim

Baekhyun Byun | Helena Park

Lee Hanbin| More

「Angst, AU, Drama, Hurt, Comfort, Romance, Friendship, Family」

『PG-16』

ǁEdinburgh, Scotlandǁ and ǁSeoul, South Koreaǁ

「Chaptered」

♠Part 1: First Look

♥ Part 2: What’s Wrong? ♥Part 3: The truth

♥ Part 4: The Trouble was Come ♦Part 5A: Confuse 

♣Part 5B: Confuse

Bahagia itu tidak perlu barang mewah yang didambakan setiap orang, cukup kebahagiaan yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Itu jauh lebih berarti.

Tawanya bahkan tak pudar setelah melihat raut pucat Steven dari wahana menyeramkan—menurut Steven— rumah hantu yang telah Hanna pilih. Memang pria tegap itu tidak berteriak, karena dia lebih banyak menutup matanya. Tapi, Hanna enggan membiarkan momen itu terlewat begitu saja. Hingga akhirnya, tangan Hanna menangkup wajah berahang tegas itu untuk menatap para hantu—dengan terpaksa. Hanna benar-benar menikmati hiburan itu.

“Aku akan membelikanmu minum,” ujar Hanna final, setelah lelah menertawai pria jangkung yang masih mengatur napasnya itu. Tanpa menunggu jawaban dari Steven pun Hanna lekas pergi. Terpaksa menanti gadis Lee itu kembali, tangannya tergerak merenggangkan ikatan dasi. Sungguh sial, jas kebanggaannya memang sudah tak ia pakai, namun dasi biru bergaris itu masih melilit di kerah kemejanya.

“Dia memang gadis yang luar biasa,” gumamnya saat kembali mengingat raut muka ceria Hanna yang tak takut sekalipun melihat hantu menyeramkan. Tanpa ia sadari, senyumnya mengembang. Hari ini, ia berhasil membuat gadis itu tersenyum. Catat itu! Seorang Steven Hesler telah membuat Lee Hanna tersenyum. Ia tak akan melupakan hari ini begitu saja.

“Ini,” suara sopran milik Hanna menginterupsi lamunan manisnya. Terpaksa kembali ke alam sadar untuk lekas menerima sebotol air putih dari gadis itu. “Kau pasti melamun kotor, ya?” tanya Hanna menggoda Steven yang masih meneguk air minumnya. Tak memperdulikan Hanna yang sedang memberi tuduhan tak benar.

Damn it! Hanna mengutuk mata nakalnya saat melihat pemandangan luar biasa yang ia dapatkan dari sosok jangkung disampingnya. Cara minum yang terbilang cukup ‘menggoda’ itu berhasil membuat Hanna terpukau dalam hitungan detik. “Aku rasa kau yang sedang melamun kotor,” ujarnya tepat setelah menutup kembali botol minumnya. Melempar tatapan  ke arah Hanna hingga gadis itu tergeragap.

“A-aku? Kenapa aku?!”

Mendapati respon Hanna yang begitu kentara terkesan, maka Steven kembali menunjukkan aksinya. Meraih air minum Hanna yang masih dalam genggaman, lalu menundukkan kepala. Membuang air minum itu percuma, hanya untuk memperlihatkan seberapa besar karisma yang ia punya. Mengibaskan rambutnya yang awalnya tertata rapi, hingga akhirnya menimbulkan pekikan tertahan dari sebagian kaum hawa.

Berbanding terbalik dengan reaksi gadis-gadis bule yang menatap nakal ke arah Steven, Hanna justru menatap pria itu tak percaya. “Kenapa sore ini panas sekali ya?” tanya Steven sembari melirik ke arah gadis di sampingnya itu, hanya untuk melihat seperti apa reaksi gadis Lee itu. “K-kenapa kau tanya aku?!”

Setelah kalimat sarkastik yang terucap, Hanna lekas meninggalkan Steven yang masih mematung di bangku taman. Berjalan tergesa-gesa, hingga membuat dua sudut bibir Steven terangkat. “Kau lucu, Hanna-ssi.”

.

.

.

Tak mengindahkan perintah Baekhyun, Helena lekas mengambil langkah guna mengejar pria Byun itu. Agaknya urung berkat tangan kekar Sehun menahan. Meminta Helena menjawab lebih dulu kalimat yang sempat tertahan. Tapi, bagi Helena, Baekhyun lebih dari segalanya. Sehingga ia menepis kasar tangan itu untuk mengejar pria terkasihnya. Sebelum pergi Helena meyuarakan kalimat amarah yang menarik atensi pria dihadapannya itu. “Kau tahu kalau Hanna pergi tanpa memberi kabar apapun ‘kan? Jadi, jangan ganggu aku. Dia pasti berpikir kalau kita ada hubungan.”

Setelahnya, Helena merajut jejak tak kasat mata di petakan keramik untuk mengejar pria terkasihnya itu di lobby. Irisnya sudah menelanjangi berbagai sudut ruangan itu, tapi tetap saja ia tak menemukan. Hingga akhirnya ia menyerah dan memilih duduk di salah satu stand cafe. Menghempaskan punggung mulusnya untuk bersandar pada sandaran sofa.

“Kau kemana, Baek? Aku lelah mencarimu.” Gumam Helena sembari mengusap peluh yang sudah membasahi sudut dahi. Ia takut kalau Baekhyun membencinya karena berdua bersama Sehun, walau itu hanya sebuah kebetulan semata. Seharusnya pertemuan mereka di Edinburgh romantis. Seharusnya pria itu memeluknya dan megucapkan beribu kata rindu. Seharusnya. . . ya, hanya harapan yang mustahil. Mengalihkan rasa penat yang menyerang kepala, satu tangannya tergerak menuju pelipiss. Memijatnya pelan dengan mata terpejam.

 “Kau mencariku?”  suara bariton milik Baekhyun tiba-tiba terdengar hingga melewati indra pendengarannya. Menggugah atensi untuk segera membuka mata, lalu bangkit dari  kursinya. Merengkuh pria bermarga Byun itu secepat mungkin, hingga Baekhyun sejenak enggan bersuara. “Aku mencarimu, bodoh. Seharusnya kau tak salah sangka seperti itu.” Ujar Helena pelan dalam pelukannya. Mencoba menjelaskan walau pria berdarah Korea itu tak bergeming. Hendak memanggil namun urung berkat Helena menginterupsi.

“Helena—”

“Diam saja, okay?” pinta Helena kala mendapati Baekyun yang ingin mengakhiri rengkuhannya. Andai saja sosok Hanna yang melempar senyum ke arah Baekhyun tidak ada. Dan andai saja sosok Steven yang style-nya begitu acak-acakkan tak mengundang fantasi liar, tentu saja keduanya masih bisa bertukar rindu melalui pelukan hangat.

“Lakukan di tempat tertutup, arraseo!

Suara  Hanna menginterupsi kegiatan keduanya. Bukan, maksudnya membangunkan Helena dari alam bawah sadar. Keduanya melakukan itu di lobby apartemen dan itu sangat memalukan—menurut Hanna. Jadi, mau tidak mau, Helena melepaskan rengkuhannya. Membalikkan badannya, hingga hazelnya bisa melihat sahabatnya yang hilang dan membuat ponselnya berdering terlalu sering.

Perlahan, Helena mendekati Hanna. Namun, di saat ia akan melayangkan pukulan Hanna lekas menghindar. Bersembunyi di balik tubuh tegap Steven—mencari perlindungan. “Jangan bersembunyi, bebek! Sini kau!”

Helena yang masih kalut dengan amarahnya pun lekas mengejar Hanna yang berlindung dibalik tubuh tegap itu. Menghindarinya dengan tameng seorang direktur tampan yang sering menjadi incaran. Membuat para resepsionis berdecak iri hingga menatap remeh ke arah Hanna.

“Ke sini kau Hanna!”

“T-tunggu, aku bisa jelaskan semuanya,” Di sisi lain, Steven yang mencoba meluruskan kesalahpahaman pun harus di buat bingung oleh kedua gadis yang sedang bertengkar itu. Lelah tak kunjung bisa memukul sahabatnya itu, ia akhirnya menyerah. Berkacak pinggang dengan menghujam iris coklat Hanna. “Aku akan membunuhmu, Lee Hanna!”

Alih-alih gentar, Hanna justru mendorong punggung Steven agar segera menuju lift. “Annyeong!” pamitnya sembari melambaikan tangan, lalu melenggang pergi. “Awas kau—” kalimat Helena terhenti saat mendapati lengan Baekhyun melingkari pundaknya. “Aku rasa kau butuh hiburan, noona Helena.”

.

.

.

“Akhirnya,” Hanna bergumam. Terlalu lelah menghindar dari serangan Helena membuat dahinya berpeluh. Disodorkan sapu tangan milik pria Hesler pun ia tolak. Kendati ingin sekali menerima kebaikan itu, hatinya tak sampai. Ada perasaan tak enak karena pria jangkung di sampingnya itu terlampau baik. “Mau aku yang melakukannya?”

Hanna lekas meraih sapu tangan itu dengan tergesa. Pria disampingnya itu dingin, tapi cair di saat keduanya bertemu. Meski merasa aneh, Hanna pun bergeming. Menikmati setiap hiburan yang pria itu berikan. Bahagia itu tidak perlu barang mewah yang didambakan setiap orang, cukup kebahagiaan yang tidak bisa dibayar dengan apapun itu, jauh lebih berarti—menurut Hanna.

“Terima kasih,” ucapnya setelah mengembalikan sapu tangan itu. “Aku baru tahu, kalau gadis sepertimu sangat takut dengan temanmu tadi.” Steven berujar. Hanna menyunggingkan senyuman. “Dia seperti ibu bagiku. Terlampau baik untuk di sakiti, dan terlampau polos untuk dikhianati. Dia segalanya bagiku.” Jawab Hanna sembari menatap pintu lift yang sebentar lagi akan terbuka.

“Lalu, ibu kandungmu?”

Entah dapat insting darimana, Steven pun tak tahu. Ia hanya ingin menanyakan itu secara tiba-tiba. Alih-alih tersinggung ataupun marah, Hanna tersenyum tipis. “Ibuku, sudah meninggal sejak aku berusia lima tahun.” Ujar Hanna sekenanya.

I’m so sorry to hear that,

“Tidak perlu merasa bersalah,” timpal Hanna menanggapi permintaan Steven. “Aku sudah merelakannya bahagia di sana, ” sambungnya di detik selanjutnya. Steve beruntung bertemu Hanna. Gadis itu cantik, pintar, tidak mudah putus asa, dan ceria. Walau mengesampingkan itu, tersimpan beberapa kekurangan yang memang wajar. Steven menundukkan senyumnya agar tak nampak oleh Hanna.

Lambat laun, pintu lift terbuka. Baik Hanna maupun Steven sudah kembali menegakkan badan setelah bersandar di dinding lift. Beristirahat sejenak sebelum Steven meninggalkan gadis itu pulang ke apartemennya. Hanna dan Steven akan melangkahkan kaki ketika sebuah pemandangan langka pun ia lihat. Seorang pria dengan seorang wanita berpelukan. Sayangnya, sang pria membelakangi Hanna dan Steven, sehingga wajah sang pria tak terlihat. Sadangkan sang wanita, ia lebih pendek hingga wajahnya pun terhalangi oleh punggung tegap itu.

Bagi Steven, tak perlu menunggu satu menit untuk tahu siapa pria itu. Kemeja biru dengan lengan yang digulung sebatas sikut, dan celana jeans merk Levi’s yang menjadi favorit adik laki-lakinya. Ya, Steven menduga kalau itu adalah adiknya—Sehun. Hanna yang berdiri di sampingnya justru menggenggam tangannya. Menggenggamnya erat, hingga nampak buku tangannya memutih.

Steven sempatkan menoleh sebelum memastikan bahwa pria yang ada di hadapannya itu adalah adiknya. Menampakkan raut cantik Hanna yang gelisah, seolah ia juga sependapat dengan Steven. Lama keduanya menunggu untuk mendapat jawaban, sebelum akhirnya sang pria mendorong wanita itu perlahan.

Steven yang pertama sadar akan kebodohannya membiarkan Hanna berdiri di sampingnya. Melihat adegan roman picisan yang tak menarik untuk dilirik. Wanita itu, Steven mengenalnya. Ia Hanna Alinson. Gadis yang menjadi pacarnya beberapa bulan, namun mencampakkannya demi sang adik. Sialan memang, tapi Steven harus bilang apa. Inilah yang ia benci ketika tahu kalau Sehun menyukai Lee Hanna. Kejadian ini akan terulang lagi.

“Steven,” Bak panggilan maut dari neraka, si gadis Alinson itu memanggil namanya. Membuat Sehun yang mau tak mau harus berpaling demi menatap sang kakak. Sehun terkesiap. Bukan karena Steven yang menangkap basah dirinya bersama Hanna Alinson, tapi sosok mungil di sampingnya yang membuatnya bergeming. Lama di cari keberadaannya, ternyata gadis itu ada di samping Steven. . . dan ikut melihatnya.

“Senang melihatmu masih hidup,”

.

.

.

Hanna tidak bodoh untuk menyadari kalau ada masalah yang tidak ia ketahui. Berbagai spekulasi pun turut membayangi otaknya, seolah ingin mendapatkan kejelasan yang lebih walau ia sebenarnya bukan siapa-siapa di antara ketiganya. Namun, karena Hanna terjebak, maka mau tidak mau ia harus ikut andil—sebagai pendengar yang baik.

“B-bagaimana bisa—” tanya Steven dengan terbata-bata. Kentara menahan emosi dengan pemandangan yang sungguh membuatnya ingin menghajar kembarannya itu. Bahkan tangannya sudah terkepal di sisi tubuh, menahan emosi hingga merasa bersalah karena sudah membiarkan Hanna melihat semuanya.

“Alvin.. aku—”

“Don’t call me like that, Mrs. Alinson. Terdengar sangat menggelikan di telingaku.” Timpal Steven cepat—kentara tak suka. Ia sudah tak mau berbasa basi lebih lama. Ia ingin sekali meninggalkan koridor apartemen Hanna. Namun, ia membatu. Keterkejutannya mengambil alih semua tenaga hingga ia hampir jatuh kalau saja tangan halus gadis Lee itu tidak menahannya. Memberi kekuatan baru tanpa ia sadari. Tak ingin nampak lemah di hadapan sang gadis pujaan hati.

“Aku ingin pergi,” Akhirnya Hanna berujar. Membuat semua pasang mata yang ada menatapnya. Mendengar permintaan Hanna yang terdengar hingga ke indra pendengaran pun membuat Sehun lekas mencegah. “Kau tidak akan pergi kemana-mana! Kau harus mendengarkan penjela—”

I don’t need your explanations, Mr. Sehun!” pekik Hanna menyalurkan amarah. Bahkan telunjuknya sudah terangkat untuk di arahakan pada pria dihadapannya. “Jangan pernah muncul dihadapanku lagi!” ujarnya sembari menarik lengan Steven untuk segera enyah dari tempatnya berpijak sekarang. Enggan mengulur waktu semakin lama. Karena, semakin lama ia dan Steven di sana, maka semakin banyak luka yang mereka dapatkan.

Bak orang bodoh yang tak punya tujuan hidup, Sehun membiarkan gadisnya itu pergi. Ia memang sudah mempersiapkan diri jika semua masa kelamnya akan membuat Hanna menjauh, maka dari itu ia lebih memilih untuk mengambil langkah mendekati gadis Alinson yang masih terdiam itu, lalu menyuarakan peringatannya.

“Mrs. Hanna Alinson,” panggil Sehun dengan nada datar—namun, terlihat mengerikan dimata Hanna. Gadis itu lekas mendongak, menatap hazel Sehun. “Kuingatkan sekali lagi, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi sejak satu tahun yang lalu. Jadi, jangan datang lagi padaku. Karena, aku masih mengingat caramu mengkhianatiku.”

“Sehun, what are you talking—”

“JANGAN PURA-PURA BODOH!” Sehun akhirnya meledak. Membuat Hanna terperanjat. Ia memang tak tahu apa maksud dari kalimat yang Sehun bicarakan. Yang ia ingat, keduanya masih menjalin kasih tanpa ada perselisihan sedikitpun. “Kau tidak ingat?” cibir Sehun.

Langkah pertama

“Kau sudah membohongiku.”

Langkah kedua

“Kau bilang ada tugas kuliah.”

Langkah ketiga

“Dan disaat aku menemui apartemenmu,” Kini langkah Sehun terhenti tepat ketika ia akan mengatakan apa yang menjadi inti dari ucapannya. “Kau tidur dengan laki-laki lain—oh, tidak. Jelas-jelas aku melihat itu Luhan. Lu-han!”

Napas Hanna tercekat. Kepalanya mulai pening, bahkan suara Sehun yang meninggi itu bak nyanyian neraka yang mengingatkannya pada sakit yang ia buat dahulu. Terpaksa memutar memori yang sudah terkubur jauh sesudah kalimat Sehun kembali menariknya paksa untuk lekas diingat. Hingga akhirnya, ia limbung jika saja pria yang baru menampakkan diri itu datang dan menahannya.

“APA YANG KAU KATAKAN PADANYA!” teriak pria bermarga Xi setelah mendapati tubuh Hanna lemas. Bahkan gadis itu tak mampu menopang tubuhnya sendiri hanya untuk berdiri. Alih-alih ikut memekik, pria Hesler itu justru menjawab dengan nada datar khas miliknya. “Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya ia ketahui.”

“DIA AMNESIA, BODOH!”

“LALU APA PEDULIKU!”

.

.

.

Setelah kesalahpahaman yang terjadi di antara keduanya, kini mereka justru terlihat lebih akur. Kendati tak lama bertemu, tak membuat hubungan mereka menjadi renggang. Hanya saja, sikap protektif Baekhyun tak bisa hilang begitu saja. Nyatanya, pria Byun itu sangat marah ketika melihat Helena berdua dengan seorang pria.

“Dia itu temannya Hanna. Jurusan bisnis.” Ujar Helena membuka percakapan. Tak perlu menunggu pertanyaan yang akan Baekhyun utarakan. Karena, Helena sudah mengenal Baekhyun selama hampir enam tahun. Baekhyun mengangguk sebagai jawaban tanpa bersuara. Mendapati raut muka Baekhyun yang masih enggan menimpali pun membuat Helena kembali gusar. “Kau masih marah?”

Baekhyun membenahi posisi duduknya—menghadap gadis yang berada dalam rengkuhan sepihak miliknya. “Bagaimana kalau aku masih marah? Apa yang akan kau lakukan?” tanya pria Byun itu dengan nada ambigu. Antara merayu dan juga merajuk. Kalau sudah begini, mau diapakan lagi?

“Baiklah,”

Setelah satu kalimat itu terucap, Helena lantas mencium bibir Baekhyun sekilas. Bahkan kecepatannya pun Baekhyun sampai tak bisa menghitung. “Kau mau menciumku atau mau menggodaku?” Protes Baekhyun. Helena menghembuskan napasnya kasar—marah. “Ini tempat umum, Baek.”

Dikala Helena mengingatkan, pria di sampingnya itu justru menggendikkan bahunya acuh. “Kalau begitu kita lakukan saja di tempat tertutup.” Usul Baekhyun cepat—tanpa berpikir resiko yang terjadi. Maka dari itu, jangan salahkan Helena kalau dua detik setelah kalimat itu terucap, jari lentik milik Helena lekas memukul dahi Baekhyun.

“Ya! Sakit tahu!”

“Kalau begitu jangan menggodaku, Mr. Byun.” Sahut Helena tak gentar. Bahkan raut muka manis khas Helena kini berubah seolah tak punya rasa bersalah. “Kau pasti tertular virus menyebalkan Hanna.” Cibir Baekhyun sembari menyentuh dahi tak bersalahnya yang menjadi korban.

“Ngomong-ngomong soal Hanna, kau tahu pria tadi ‘kan?” tanya Helena mengubah arah pembicaraan. Pertanyaan mendadak itu lantas membuat Baekhyun berpikir sejenak—sekedar mengingat mana pria yang dimaksud gadisnya itu. “Iya, memangnya kenapa?” tanya pria Byun itu sambil memainkan surai Helena. Seolah rambut pirang milik Helena itu milik barbie yang sering dimainkan anak perempuan. Entah kenapa ia senang sekali saat menyentuhnya. Karena ia merasa, Helena akan luluh saat ia mengusap surainya.

“Dia tampan sekali. Bahkan sikap gentleman-nya yang melindungi Hanna membuat aku iri.” Jelas Helena tanpa merasa berdosa. Tak ingkat kalau pria di sampingnya itu sangat sensitif jika mendengar pria lain yang terucap dari bibir sang pujaan hati. Baekhyun yang mendengar kalimat Helena lantas naik pitam. “Kau membicarakan pria lain ketika sedang bersamaku?!”

Hei, tunggu! Helena belum menjelaskan sisanya, Byun Baekhyun.

“Aku memang tahu, kalau aku sudah meninggalkanmu ketika aku bekerja di kantor Hanbin hyung dan kau di Skotlandia. Tapi, mendengar kailmat itu rasanya aku ingin meledak. Kau tahu itu?” Kini Baekhyun melepaskan rengkuhan sepihaknya. Bangkit dari bangku taman, lalu berkacak pinggang. Mata coklatnya yang teduh berubah menjadi gelap.

“Lalu kau mau apa, hm?” Tak gentar, Helena justru menantang Baekhyun yang enggan bermain-main. Okay, ini saatnya Baekhyun memantapkan hati. Baekhyun mencondongkan badannya mendekati Helena, lantas memasukkan tangan ke dalam saku celana. Enggan menikmati dinginnya malam yang begitu menusuk. “Aku mau kau memakai ini,” Seiring dengan kalimatnya itu selesai terucap, tangannya kembali keluar. Namun, tidak dengan tangan kosong.

“Aku mau kau menikah denganku,”

.

.

.

Tidak untuk ditangisi, tidak juga untuk disesali. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi pria yang bahkan belum sepenuhnya ia kenal. Terbukti. Hari ini, semua rahasia yang disembunyikan pria itu terbongkar. Ingin rasanya menjerit, namun pita suara tak mau menuruti. Ingin ia memukul, namun tangan tak mau di ajak kompromi. Dan berakhirlah ia sekarang di mobil Steven yang belum lama ia tumpangi.

Are you okay?” Suara bariton Steven memecah keheningan. Ingin rasanya pria itu menarik tubuh gadis Lee itu kedalam rengkuhan. Namun, kenyataan sudah menampar kedasarannya. Ia tahu, Sehun menyukai Lee Hanna, begitu juga sebaliknya. Tatapan kosong gadis itu soelah menjawab semua pertanyaan yang ada dalam benaknya—selama ini.

“Jangan berpura-pura seolah kau sendiri baik-baik saja, Steven-ssi.” Hanna mencibir. Ia tak mau di kasihani dan tak mau dimengerti. Butuh kesunyian untuk sendiri, hingga akhirnya menutup mata untuk menghilangkan bayangan dari orang yang sudah berhasil menyakitinya. “Aku memang sedang tidak baik-baik saja,” Steven lekas menimpali.

“Setidaknya aku masih bisa menahan emosi untuk sekarang.” Tambahnya di menit berikutnya. Keheningan masih mendominasi. Terpecah kemudian kala Hanna membuka suara untuk yang kedua kalinya. “Aku ingin pergi dari sini,” pintanya pada Steven yang agaknya enggan untuk menginjak pedal gas. Tak ingin berpisah dengan sosok Hanna yang menguatkannya sekarang—tanpa gadis itu sadari.

Tak ada pilihan lain. Ia tak mau menjadi lebih egois jika tak ingin menyakiti Hanna. Segera melajukan kendaraan untuk mengabulkan permintaan si penumpang. Berharap masih bisa bertemu tanpa rasa canggung di pertemuan berikutnya. Terlalu bagus disandingkan dengan pecundang jika ia mengungkapkan rasa sukanya. Tak mau dituduh mengambil kesempatan dalam kesempitan, hingga akhirnya gadis itu meninggalkannya.

Sesampainya di halaman gereja, mobilnya lekas berhenti. Ingin mengucap salam perpisahan, namun urung dilakukan. Keterdiaman Hanna membuat nyalinya ciut dalam sekejap, hingga akhirnya hanya menyuarakan dua kalimat disertai nama sang pujaan. “Good night, Hanna.”

Pemilik nama pun hanya mengangguk lemah, lalu mengukir jejak menuju dalam gereja. Nampak sepi, hingga akhirnya ekor mata mendapati suster Maria mendekat. Beserta tatapan khawatir yang sangat Hanna rindukan. “Ada masalah?” tebak suster Maria setelah mendapat rengkuhan dalam dari gadis kecilnya itu.

“Hm,” gumam Hanna membenarkan argumen wanita paruh baya di hadapannya. Ia lebih mengeratkan kembali pelukannya. Menyandarkan kepala di pundak suster Maria  dalam diam. Mendapati kode nonverbal yang sedang disampaikan padanya, suster Maria pun lantas membalas pelukan Hanna. Seolah sedang menyalurkan ketenangan pada gadis kecilnya itu. Tak lupa sentuhan halus di punggung Hanna pun membuat suasana gadis itu jauh lebih baik.

“Kalian manis sekali,”

Keduanya mengukir jarak ketika mendapati suara bariton dengan pemilik yang sedang berkacak pinggang sekarang. “Eomma, aku iri. Hanna bahkan belum pernah memelukku seperti itu.” Gerutu pria jangkung itu sembari menyandarkan tubuhnya pada dinding gereja. “Park Chan pervert!”

Chanyeol tersenyum. Agaknya mood Hanna sudah kembali. “Aku ingin bicara denganmu.” Pinta Hanna lantas mengalungkan tangan kanannya pada leher Chanyeol, lalu menariknya sepihak. Alhasil, Chanyeol yang lebih tinggi dari gadis Lee itu harus menundukkan kepalanya. “Ya, Park Hanna! Lepaskan, eoh!”

“Panggil namaku dengan benar!”

“Nyonya Park,”

“Aku akan membunuhmu, Chan!”

Mendengar percakapan kecil keduanya membuat suster Maria tersenyum. Mereka akhirnya bisa kembali tersenyum dan kekanak-kanakan seperti dulu. Ingin rasanya membuat Hanna menjadi menantunya. Sayang, Hanna tak menghendaki Chanyeol, melainkan pria lain yang sudah menarik hati gadis keras kepala itu.

.

.

.

“SEHUN BERPELUKAN DENGAN HANNA?!”

Suara bass dengan volume tinggi itu akhirnya memecah keheningan malam. Apalagi saat mendapati Hanna yang masih menikmati es krim tanpa memerdulikan pekikannya, Chanyeol mendongkol. “Dan kau masih bisa nampak bahagia seperti itu?!” cibir pria jangkung itu kemudian. Ia tahu, di saat sedih Hanna pasti tersenyum untuk menghibur diri sendiri. Gadis itu memang egois, tak mau berbagi kesedihan.

Enggan menanggapi, Hanna hanya menatap Chanyeol dengan tatapan sendunya yang samar, lalu membuang fokus ke sembarang arah. “Lalu, aku harus bagaimana? Dia bukan pacarku,” sahutnya tanpa minat. Hanna memang merasa jantungnya akan berhenti berdetak saat Sehun diam saja tak melakukan apapun untuk membela diri atapun menghindar dari pelukan gadis yang bernama. . . Hanna? Oh, bahkan nama mereka sama. Well, hidup kadang tak adil.

Chanyeol membuang karbon dioksidanya kasar. Ia tak habis pikir dengan sahabatnya yang satu itu. Keadaannya jelas tidak baik, tapi kenapa ekspresinya bisa setenang itu. “Aku rasa kau butuh sendiri. Aku akan meninggalkanmu,” ujarnya, lalu mengambil langkah sebelum suara sopran Hanna menggema.

“Dan menghajar Sehun. Begitu?” timpalnya sarkatik, namun tetap dengan tatapan mata yang dibuat setenang mungkin. Jika ada sebuah drama yang Hanna mainkan, maka ia akan memerankan tokoh psikopat yang ahli. Tatapannya hangat, namun hatinya begitu dingin.

Chanyeol membalikan badan hendak pergi, namun terhenti kala kalimat itu terdengar melalui indra pendengarannya. “Aku rasa lima es krim dan tiga coklat bisa menenangkan suasana hatimu. Telpon aku kalau kau membutuhkanku.” Ujarnya tanpa mengagas kalimat Hanna. Setelah itu, ia kembali meninggalkan Hanna yang masih duduk dengan tenang di bangku taman belakang gereja.

“Aku harap dia akan mati setelah kau menghajarnya.” Gumamnya ambigu. Tentu saja ia tidak menginginkan itu. Tapi, bukankah lebih baik jika pria itu mati? Jadi, dia tak akan tersakiti lagi. Gila memang kedengarannya, tapi itulah yang Hanna inginkan. Sejahat apapun Hanna, ia masih punya rasa peduli dengan orang yang dicintai. Cinta memang tak bisa di tebak.

.

.

.

Jangan salahkan Steven jika kini pria itu menghajar kembarannya sendiri. Dan juga jangan hentikan Chanyeol yang kehadirannya tak di sadari dan tiba-tiba menyarangkan tinjunya ke perut Sehun hingga tubuh tegap itu terhuyung ke belakang. “WHAT THE HELL ARE YOU DOING?!”

Pekikkan itu membuat Sehun bergeming di atas lantai. Tubuhnya lemas, bahkan luka di sudut bibir, pipi, dan hidung yang dibuat oleh kembarannya sendiri belum hilang. Ia sudah mendapatkan pukulan kembali. “K-kau,” panggil Chanyeol sembari telunjuk mengarah ke Sehun yang masih tergeletak di lantai. Nadanya terputus—kentara menahan emosi yang ingin meluap. Sudah hilang kesabarannya. Satu peringatan—Oh, tidak! Chanyeol bahkan sudah memperingatkan berkali-kali tapi tak pernah di gubris. Ia benci itu.

“Diam saja saat Hanna memelukmu? PRIA MACAM APA KAU, BAJINGAN!” Chanyeol segera mengungkung tubuh tegap itu, lantas kembali menyarangkan pukulan di pipi kanan Sehun. Steven yang tak tega akhirnya turut andil melerai, walau sebenarnya ia ingin memukul kembali saudaranya. “Chanyeol, stop it now!”

Setelah perintah itu terdengar, Chanyeol menghentikan pukulannya. Membiarkan sahabatnya itu menghirup napas barang sebentar. Pria jangkung itu bangkit, lalu mengacak rambutnya frustasi. “Ini semua salahku, seharusnya aku membunuh pria brengsek—Sehun—itu terlebih dulu.” Chanyeol berujar. Sepertinya pria Park itu menyesal tidak melakukan niat terpuji itu sejak dulu.

“Sebrengsek apapun dia, aku akan mencegahmu untuk membunuh adik—”

Kalimat Steven terhenti seiring menggemanya suara sepatu milik pria Xi yang tak diharapkan kedatangannya. Aku telat—batinnya. Langkahnya terhenti sepuluh meter dari tiga orang itu. Namun, tak menunggu lama, ia berlari untuk melayangkan sebuah tendangan pada pria Hesler itu. Menyadari bahwa keselamatan adiknya terancam, maka Steven lekas menghadang Luhan dengan tubuh tegapnya. Membiarkan pria itu menendangnya hingga terpental, hingga akhirnya Chanyeol mendorong keras pria itu hingga ikut terjatuh. “Kau gila? Dia sudah hampir sekarat, Lu!”

“AKU INGIN DIA MATI, CHAN!”

Hening. Tak ada yang mau menanggapi kalimat itu untuk sesaat, sebelum Steven bangkit dan membantu Sehun agar lekas berdiri. Namun, alih-alih menerima bantuan, Sehun justru menepis tangan Steven. “Aku pantas mati. Bunuh aku. Aku sudah melanggar janjiku untuk tidak menyakiti Hanna. BUNUH AKU, LU!”

“Dengan senang hati,” ujarnya sembari merogoh saku dalam jas, dan mengeluarkan Heckler and Koch USP kesayangannya tanpa ragu. Pistol yang sudah beroperasi sejak tahun 1992 itu dapat menembakkan catridge 9x18mm Parabellum. Pistol semi otomatis dengan mekanis sungsang terkunci itu digadang menjadi pistol terbaik di dunia karya USP Heckler & Koch.

“Sekali kau menarik pelatuknya, maka aku akan membuatmu mati tanpa tangan, Lu!” ancam Steven sembari mencengkeram bahu pria Xi itu. Steven tak main-main. Ia benar dengan ucapannya sekarang. “Dia bahkan hampir membunuh Hanna—ku. Jadi, tidak salah ‘kan jika aku membalaskan untuk gadisku?”

“Sungguh, Lu. Aku akan membuang jasadmu ke segitiga bermuda kalau kau sampai membunuh Sehun!” Kini Chanyeol angkat suara. Enggan menjadi penonton bayaran yang hanya diam dan tak melakukan apapun. Dua tahun cukup membuktikan kalau pria bermarga Xi itu tak pernah bermain dengan apa yang sudah ia mulai.

“LUHAN!”

“JANGAN!”

DOOR

.

.

.

[PREVIEW NEXT CHAPTER]

“Hanna? Y-ya, aku a-akan pulang.”

“Kau menyukainya?”

“Chanyeol?”

“Ya,”

“Bagaimana kabarmu?”

She’s like devil in my eyes,”

 “Aku mohon, Han. Kembalilah ke Ko—”

 “LALU KAU KIRA DIA AKAN BAHAGIA TANPAMU? DIA MENCINTAIMU, BRENGSEK!”

“Terima kasih sudah mau menjadi temanku.”

“Le-pas-kan, Mr. Hesler!”

“Kenapa?”

“Apakah kau akan menciumku lagi kalau aku mengatakannya?”

Author’s. Note:

Halo semuanya… Maaf untuk ff gaje tak terkenal yang ganggu notifikasi email😥

Aku berencana mau hiatus setelah chap 6 di post. Rasanya berat sih😭tapi mau gimana lagi? Harus fokus karena aku jurusan bhasa yang susahya luar biasa. Okay. Ckup sekian, untuk side story chap 6, aku protect.

Advertisements

45 thoughts on “Take It Slow—Chap.5B”

  1. yaaaaakkkk luuuhaaaaannn kenapa kamu tega mau bunuh sehun,, akuu tidaakk rela, kasian sehun tauukk/hiks/ mendingan luhan aja yg mati hehe,,

    aduuh, kenapa mau hiatus aku jadi sedih/hikshiks/ gimana nasib ni ff, terus kalo mau minta pw gimana caranya ???

    di tunggu chap 6 nya

    Like

  2. Hiatus?? Kamu seriuss?? Yahhhh
    Tapi terserah kamu juga sih itukan hak kamu lagian sekolah kan wajib

    Dan kenapa sehun ditembak???? Luluuuu kamu jahattttt kasian sehun udah babak belur dipukulin sama steven +chanyeol ditambah luhan aduhhh

    Dan gimana kelanjutan sehun-lee hanna nih? Jgn marah dong hanna..

    Dan baekhyunnnnn ahhh so swetttt dasar cabe,, udah segala ngajak nikah lagi wkwk

    Chap 6 mau kamu protect? Cara dapetin pwnya gimana??
    Au tunggu kelanjutannya ya

    Hwaiting,, hwaiting,, hwaiting ^^

    Like

    1. Mangapkan aku yang baru bles, kakak. Jaringan lemot dan baru bisa bales. Hiatusnya paling cuma dua minggu/mungkin?/

      Untuk passwordnya, ketenuannya ada kok kak di chap depan 🙂 makash sudah comment

      Like

  3. oh tidak…..knp jadi makin rumit????
    jadi yg mnghancurkan masa depan hanna(pirang) itu bukan sehun kan, yg meniduri dia itu luhan kan? bukan sehun kan kak?? aq lega bgt ternyata sehun gk ngelakuin itu 🙂
    tp dsini aq jg nyesek cz sehun dan lee hanna jadi makin mnjauh….
    gimana nasib sehun ntr coba???
    lee hanna kamu harus maafin sehun okey….dia gk salah koq ^__^
    terus knp sehun dan steven selalu mmperebutkan gadis yg sama sih?? kyk gk ada cwe lain aja, huft….
    tapi bukannya waktu pelukan itu sehun smpat mndorong hanna(pirang) ya, itu kan berarti dia jg gk tinggal diam dong wktu dipeluk?
    cuma sehun awalnya terkejut/syok atau bgmana ya, shingga mmbiarkan hanna(pirang) meluk dia??

    Like

      1. Nah loh baru tau aku kalo ngetik bisa keceplosan wkwkwkwk

        Jangan dibikin rumit ya eonn hubungan mereka :”D (read :helena-baek)
        Cukup teruras hatiku dgn hanna n heslertwins X3

        Like

  4. huwaaaaaaa gilaaaaaaaaaaaaa itu si steven sama hanna ya ampun gue kesel banget sumpah.. :/
    si sehun juga apa-apaan sih! hanna alinson pengganggu, menyebalkan ish!!!! :/ :/
    tapi—- nggak bisa nutupin juga kalau gue bahagai liat baekhyun sama helene, feelnya ngena pas baekhyun bilang mau menikah sama helena awww ya ampunnn gimana ini. gue seneng sesenengnya hehe. b
    ukh baca aca chap ini perasaan jadi campur adukkk -_- apalagi lihat sehun yang dihajar merek bertiga walau si steven yang ternyata masih sayang juga sama sehun dan chanyeol yang masih punya hati dan peduliii pas luhan mau bunuh sehun.. ahh gue terharuuu 😥 si luhan gila + jahat banget sih, setidaknya elu juga yang salah.. udah tahu awalnya si hanna alinson milik sehun, tapi malah direbut dan nusuk dari belakang. seharusyakan si sehun yang marah bukan elu haduhhhh ada-ada aja :/ 😦 chanyeol and steven bantu sehunn yahh, aku nggak mau terjadi sesuatu padanya huaaaaa 😦 😥 😥 aduhh gimana kelanjutannya yah, baca previewnya bikin greget..
    makasih untuk chap ini ya thor, semangat terus 🙂 😉

    Like

    1. Itu mah baper berkat jomblo. Jadiya pengen banget dapet momen yang manis-manis gituh…/anjayy../

      Gue suka ama Luhan, dia juga iri sama Vivi yang bisa digendong setiap hari…

      iya, jangan lupa banyakin komen biar dapet PW/promosi.. :)/

      Like

  5. gak bisa comment apa apa, daebak lah pokonnya, kamu yg line 00 aja bisa bikin ff yg keren gini, lah aku yg line 98 #gaknanya gak bisa bikin ff yg keren kaya gini #okeabaikan

    Liked by 1 person

  6. Kenapa hidup sehun disini suram sekali😂
    Moodboster banget ih ini ff😂 kasian sehun di chapt ini bonyok HAHAHAHAHAH. Semangaaaat next chapteeer

    Like

  7. kenapa pada kek gtu si sama sehun dia kan gk sepenuhnya salah tp knp pihak sehun yg tersakiti terus, aku kasian bgt sama kamu sehuniee, kalo gtu mending kamu sama aku aja hun. /eh

    Like

  8. Nah kan trjadi kslapaham lagi… arrrghhh knp hanna alison tb” mncul meluk sehun… apa mmg btul allison it slingkuh dgn luhan.
    Oh steve prna pacrn sm allison it dan bgmn bisa dy brpacarn dgn sehun jg dan ujungx dy jg slinkuh dgn luhann ohhh tidak ini rumit…
    Hahh knp sehun tdk jlasin smua khanna apa yg sbnarx trjadi biar hanna tdk slm paham bgni.
    Dan juga
    APA SEHUN DITEMBAK hahh?????

    ANDDWEEEEEEE…….

    Like

  9. Yaelaaahhh
    Xi luhaaann nembak sapa lagi ahh 😦
    Jangan tembak si sehun handsome ituuu
    Bener kan masalahnya tuh jadu rumitt gini deh:3
    Eh min btw aku suka loh ceritanya banyak cast nya trus saling berhubungan satu sama lain jadi kek greget gitulahhh:3
    Keren min asli jadi gabosen baca soalnya masalahnya adaa aja :3

    Liked by 1 person

  10. aduh hanna salah paham. ini jg sehunko tinggal diam saja, jelasin sm hanna dong apa yg dia lihat itu bukan apa2. bukan diam saja.
    eh luhan mau bunuh sehun, aduh kenapa jd rumit begini sih masalahnya.

    Liked by 1 person

  11. steven sama sehun kembar smpe kisah cintanya juga kembar. suka sama satu cewek yg sama pulaa. mereka sepertinya kembar identik ahaha. sian sehun udah dihajar chan – steven eh ditambah luhan. padahal sehun juga perasaannya tersakiti.

    Liked by 1 person

  12. Awalnya bingung sama jalan ceritanya karakternya banyak banget 😂😂😂 tapi semakin kesini makin seru makin bikin penasaran, what happen with my thehun?

    Liked by 1 person

  13. Yah yah tahu bulat gpp kan? Itu yang ketembak si steven deh kayanya iya si steven ah (lho kok mulai sewot sih?). Thehun udah sini mending sama gua aja deh serius dua rius deh 😁

    Liked by 1 person

  14. knp jadi makin rumit????
    jadi yg mnghancurkan masa depan hanna(pirang) itu bukan sehun kan, yg meniduri dia itu luhan kan?
    Sehu luhan steven chayeol hanna ini jadi cinta segi berapa coba !?

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s