TAKE IT SLOW—CHAP.6&Announcement

58 copy

Take It Slow

 

Absurd story by PutrisafirA255

【Main Cast】

Sehun Hester | Hanna Lee

【Other Cast】

Chanyeol Park | Lee Hanbin

Baekhyun Byun | Helena Park

| More

「Angst, AU, Drama, Hurt, Comfort, Romance, Friendship, Family」

『PG-16』

ǁEdinburgh, Scotlandǁ and ǁSeoul, South Koreaǁ

「Chaptered」

♠Part 1: First Look

♥ Part 2: What’s Wrong? ♥Part 3: The truth

♥ Part 4: The Trouble was Come ♦Part 5A: Confuse 

Part 5B: Confuse ♣Part 6: Just The Two of Us[NOW]

“Selfish? Yes, I am.”

Semua orang terdiam. Seolah belum bisa mencermati apa yang baru saja dilakukan Luhan dua detik yang lalu. Steven bahkan ambruk, tak kuasa menopang tubuhnya. Sedangkan Chanyeol, ia membelalak tak percaya. Terlalu sulit dipahami, hingga suasana menjadi hening.

Luhan sendiri bergeming. Tangannya yang masih diangkat tinggi menuju target sasaran tak bergerak. Sorot matanya masih menampakkan amarah yang luar biasa. Tak merasa bersalah walau sudah menghilangkan satu nyawa yang begitu berharga.

“Vivi..”

Suara bariton itu melemah. Tak bisa menahan sesak di dada. Terlalu sulit mengilhami kejadian tragis di depan mata, hingga matanya menutup perlahan. Di menit kemudian, entah mendapat kekuatan darimana tangan Sehun berhasil bergerak menuju nakas yang ada di samping sofa. Mengambil FN 57 miliknya untuk segera dihadapkan menuju pria china itu.

300px-Five-seveN_USG.jpg

Luhan pun refleks mengarahkan pistolnya menuju Sehun. Ia tak bodoh untuk mengenali pistol asal Belgia berkaliber 5,7 mm itu dengan cepat. Tak peduli pistol itu jauh lebih unggul dari miliknya, hatinya tak gentar untuk melakukan perlawanan.

Sehun bukan tipikal orang yang pemaaf. Hingga ia lebih memilih bangkit tanpa menggeser satu senti pun dari arah sasaran. “Aku tahu kau tidak bodoh. Jantungku di sini, bukan di sini.” Cibir Luhan sembari menunjuk dada bagian tengahnya lalu beralih menuju bahu tegapnya. Tak gentar, tak juga takut. Ia masih dengan beraninya menunjukkan senyum remehnya.

“Kenapa—”

“Karena anjing itu masa lalumu dengan Hanna.”

Enggan menanggapi lebih lanjut, Sehun menarik slide pistolnya. Tak perlu berbasa-basi hanya untuk melayangkan satu nyawa lagi. Hendak menarik pelatuk kalau suara ponsel Chanyeol tak mencuri atensi. Menyuarakan nama gadisnya dengan nada gugup yang tak bisa disembunyikan. Sepertinya Chanyeol masih kalut dengan pertengkaran ‘gila’ kedua sahabatnya itu.

“Hanna? Y-ya, aku a-akan pulang.”

Tentu Chanyeol lebih memilih Hanna. Ia tak mau besok pagi terusik hanya karena mobil polisi datang kerumahnya dan menjadikan pria itu sebagai saksi mata. Cukup mereka berdua yang menyelesaikan. Toh, keduanya sudah dewasa. “Persetan dengan urusan kalian. Aku pergi,” kalimat sarkastik Chanyeol terdengar. Pria jangkung itu lekas membalikkan badan dan melangkah. Namun, terhenti di detik kemudian kala suar tembakan kembali terdengar. Ia berbalik setelah mendengar suara erangan dari salah satu aktornya. “LUHAN!” Chanyeol kini dibuat bingung berkat kedua sahabatnya yang tak bisa mengendalikan emosi.

Di saat Luhan mengerang kesakitan, Sehun justru membatu. Menyadari bahwa seorang Luhan yang baru saja membunuh anjing kesayangannya itu dengan mudah, juga menjatuhkan pistolnya dengan mudah. Hingga hanya Sehun yang menjadi pihak yang menarik pelatuknya.

“Aku tahu kau tidak akan membunuhku, Mr. Sehun Hesler.” Ujar Luhan sembari menahan darah yang mengucur di lengan kirinya. Bahkan senyuman tipis pun masih bisa pria itu berikan untuk Sehun yang masih mematung.

.

.

Lima es krim dan tiga coklat tak membuat suasana hatinya tenang. Berkali-kali ia menekan kontak Chanyeol untuk menelpon pria itu. Namun, segera urung dilakukan berkat nyali yang mendadak ciut. Sungguh, ia tahu bahwa laki-laki itu sedang menemui Sehun dan melakukan apapun untuk menyalurkan rasa sakitnya pada pria yang sudah menyakitinya.

“Hanna?”

Suara itu terdengar di saat yang tidak tepat. Barulah setelahnya, Hanna mengacak rambutnya frustasi. Ternyata, jari lentiknya tak sengaja menekan tombol call, hingga akhirnya terdengarlah suara bariton teman kecilnya. “Chanyeol?”

Hanna sejenak berpikir. Namun, otak pintarnya tak bisa berkata-kata. Hendak menanyakan keadaan Sehun, justru terciptalah suatu kalimat yang menyimpang dari hatinya. “B-bisakah kau pulang?” tanya Hanna dengan suara lirih. Hening tercipta beberapa saat, hingga akhirnya suara bariton di seberang sana menjawab.

“Y-ya, aku a-akan pulang.”

Selepas suara terakhir Chanyeol berkumandang, Hanna mematikan sambungannya sepihak. Ia tak mau dilema dengan keadaan yang bahkan dirinya sendiri tak tahu. Ia ingin tahu, tapi tidak untuk sekarang. Nyalinya belum terkumpul sepenuhnya untuk  berani bertanya.

“Hanna? Kau masih di sini?”

Suara lembut bak penghantar tidur pun mulai terdengar. Suara suster Maria yang sedari tadi mencari gadis kecilnya pun mulai khawatir lagi. “Ini sudah malam, Hanna-ah. Kau harus istirahat.” Pinta suster Maria sembari mendekati Hanna. Mengelus surai hitamnya, hingga Hanna tersenyum simpul. “Aku masih ingin di sini, Mom.” Ucap Hanna final.

Menyadari karakter keras kepala Hanna, beliau akhirnya bungkam. Memilih untuk singgah di samping Hanna, lantas menyuarakan pendapat. “Aku tahu, kau begitu marah sekarang. Tapi, jangan sampai kemarahanmu itu membuat dirimu rugi sendiri.”

Hanna menoleh. “Sebenarnya, apa yang terjadi antara kau dan Sehun?”

Hanna menggendikkan bahunya acuh. “Aku pun juga tak tahu apa yang terjadi.” Ujarnya. Lalu mengadah—sekedar menatap langit yang mendung hingga bintang tak berani menampakkan diri. Mungkin, mereka juga merasakan apa yang Hanna rasakan. Pikirannya seakan tertutup kabut hingga tak bisa berpikir dengan jernih.

“Kau tidak tahu?” suster Maria mengulangi beberapa kata yang menjadi pusat atensi. Hanna mengangguk, lantas menambahkan. “Yang aku tahu, hanyalah Sehun yang berpelukan dengan wanita lain. Steven yang marah dan Chanyeol yang  tiba-tiba pergi setelah aku menjelaskan.”

“Aku hanyalah bayangan untuk mereka, Mom.” Kata Hanna lemah. Tak mampu mengucapkan kalimat yang mengganjal dalam hatinya. “Mereka—Sehun, Steven dan Chanyeol— yang membuatku bahagia. Tapi juga jatuh disaat yang bersamaan.”

Mengerti arah pembicaraan, suster Maria lantas bertanya. “Kalau ada kesempatan, kau mau mendengarkan penjelasan mereka?”

Hanna mengangguk pelan. “Tentu. Tapi, tidak dengan Sehun, Steven maupun Chanyeol.” Jawabnya mantap—tanpa ragu sedikitpun. Menyadari kejanggalan, suster Maria kembali bertanya. “Kenapa dengan mereka?” tanya beliau penasaran.

Jawaban sederhana Hanna pun terdengar. “Karena aku tidak bisa percaya dengan mereka—” Hanna membuang napasnya kasar, lalu tangannya terkepal. Menahan buliran liquid yang sudah mengaburkan pandangannya. “—lagi.”

.

.

Helena tidak bodoh untuk menyadari bahwa barang yang ada dalam genggaman Baekhyun itu hasil karya desainer kesukaannya—Anne Avantie. Cincin bernama Sekar Jagad milik desainer asal Indonesia itu sungguh sangat mengesankan. Memiliki detail yang rumit. Bermotif batik dengan makna hubungan yang serasi dan harmonis antara manusia dengan sang pecinta, alam, dan sesama. Sungguh romantis untuk ukuran childish seperti Baekhyun.

model-cincin-terbaru-kekaseh-anne-aviantie.jpg

“Kau membelinya untukku?” tanya Helena kalut. Ia terlalu kaget dengan perlakuan Baekhyun hari ini. Terlalu cepat hingga Helena pun tak mampu mengilhami. “Sebenarnya aku belum siap memberikannya. Tapi, melihat kau bersama dengan pria lain, rasanya aku ingin memilikimu sekarang juga.” Jelas Baekhyun panjang lebar. Nampaknya, pria Byun itu sudah tak ragu untuk mengikat Helena ke dalam ikatan suci pernikahan.

You’re so selfish, Mr. Byun.”

And you’re the one and only for me, Mrs. Helena.” Timpal Baekhyun dengan bahasa inggrisnya yang terdengar aneh di telinga Helena. Mendengar beberapa kesalahan dalam pengucapan sang pujaan hati pun lantas di suarakan. “Don’t speak english, Mr. Byun. Itu sangat aneh.”

Baekhyun tertunduk lesu. “Tapi, yang lebih aneh kata-katamu sangat menyentuh.” Sambungnya setelah mendapat reaksi lucu dari sang calon suami. “Aku memang bakat di bidang itu.” Ujarnya, setelah itu keduanya terkekeh.

“Kau pergi ke Indonesia?”

Baekhyun menggeleng sebagai jawaban. “Bukan aku, tapi Hanbin Hyung. Dia urusan di Jakarta. Setelah itu dia ke sini.” Tutur Baekhyun sembari meraih tangan kanan Helena untuk disematkan cincin darinya itu. “Aku kira kau ke sana, Baek.” Gumam Helena.

Baekhyun kemudian berlutut di hadapan gadis itu, lalu memasangkannya tepat di jari manis Helena. “Aku akan mengajakmu ke The Royal Palace Jewelry saat kita akan menikah. Kau bisa memilih apapun yang kau suka di sana.” Ujar Baekhyun tulus—tanpa ada yang dilebihkan atau dikurangkan sekalipun.

“Aku mencintaimu, Mrs. Byun.”

“Aku menunggumu menjadi direktur, Mr. Byun.”

.

.

Pagi ini, matahari tak terlalu nampak. Membuat hawa dingin lebih menusuk kulit putihnya jika hanya menggunakan jas panjang tipis yang ia pakai kemarin—Hanna memutuskan untuk menginap di gereja bersama suster Maria kemarin. Maka dari itu, Hanna menghampiri Chanyeol untuk meminta bantuan. Mengantarkannya kembali ke apartemen agar lekas menghangatkan tubuh dengan jas tebal kesayangannya

“Ya, aku akan mengantarkanmu ke apartemen.”

Hanya itu kalimat yang bisa Chanyeol suarakan. Selebihnya, ia tak mampu. Sekedar menanyakan kabar ataupun kejelasannya. Itu justru akan membuat Hanna mengingat kejadian yang menyakitkan. Ia tak mau kalau Hanna kembali mengingat sahabat sialannya itu lagi. Sungguh. Kejadian kemarin masih saja mengusik ketenangan hati.

“Hanna, kau bisa kembali setelah sarapan—”

“Aku akan sarapan di apartemen. Kebetulan aku ada jadwal siang.” Tolak Hanna. Ia tak mau merepotkan wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu. Alih-alih mengiyakan, suster Maria justru menyanggah keputusan final Hanna. “Tidak! Kau harus sarapan Hanna. Setidaknya sepotong roti.”

Setelah suster Maria memaksa Hanna, gadis Lee itu akhirnya menurut. Enggan membuat orang ia sayangi khawatir. Memilih duduk di samping Chanyeol, lantas mengigit sudut roti panggang yang ada di hadapannya. Ia pun tak ingin membuka percakapan lagi. Karena ia tahu, Chanyeol sedang tidak ingin membicarakan apapun saat ini. Dan Hanna sendiri pun juga tak mau mendengarkan penjelasan. Adil ‘kan?

“Kalian ada masalah?” tanya suster Maria saat mengetahui keduanya diam. Tak mau menyuarakan barang stau kalimat pun. Dan suster Maria sendiri belum lupa dengan apa yang dikatakan Hanna kemarin. Hanna tak mau mendengarkan penjelasan apapun. Baik dari Chanyeol, Steven, maupun Sehun sendiri. Namun, beliau asing dengan keadaan yang hening seperti ini.

“Ya,”

“Tidak,”

Chanyeol lantas mencibir jawaban Hanna. Menoleh hanya demi mendapatkan atensi sang empu. “Jangan berpura-pura seolah kau sendiri baik-baik saja, Hanna-ssi.”

Kalimat itu, sama seperti yang Hanna sampaikan pada Steven kemarin malam. Sama ketika ia mencibir Steven yang nampak baik-baik saja di hadapannya. Alih-alih marah, Hanna justru tersenyum. Karena, orang yang nampak bahagia itu, justru menyembunyikan sakitnya lebih banyak. Atau bisa disimpulkan, mereka menghibur diri sendiri dengan berpura-pura baik-baik saja.

“Aku baik-baik saja, sungguh. Keberadaanmu di sini sudah membuatku senang. Jadi, untuk apa bersedih lagi?”

Kalimat itu berhasil menghentikan mood seorang Park Chanyeol yang enggan mendengar lebih kebohongan itu. Mereka sudah berteman sejak kecil. Jadi, Chanyeol sangat tahu karakter Hanna ketika dia sedang menyembunyikan kesedihannya.

“Mom, we’ll go.”

Setelah itu, Chanyeol menarik paksa Hanna untuk segera mengikuti langkahnya. Tak mengizinkan gadis itu barang berpamitan dengan ibunya. Hati pria Park itu sudah dongkol. Sangat. Maka dari itu, jangan salahkan Chanyeol jika pria itu memecahkan kaca mobil orang lain di parkiran kampus. Sudah biasa, dan tak perlu diambil pusing.

“Bagaimana kabarmu?”

Hanna memberanikan diri memulai percakapan, ketika Chanyeol mulai menginjak pedal gas. Ia tak mau persahabatannya dengan Chanyeol berakhir begitu saja. Lima belas tahun berteman, itu bukan waktu yang singkat. Walau pria itu pernah meninggalkannya ke Skotlandia, tapi perhatiannya tak lekas pudar. Ia tak mau kehilangan sahabat yang berharga. Cukup para pria yang membuat kekacauan dalam hidupnya saja yang pergi.

“Dia kemarin hampir terbunuh. Aku dan Steven hampir membunuhnya.”

Sontak Hanna terbelalak. Tak perlu waktu lama untuk menelaah arah pembicara keduanya. Namun, Hanna tetap bergeming. Membiarkan pria Park itu melanjutkan kalimat yang ingin pria itu sampaikan. “Aku tahu Sehun dan Steven menyukaimu. Tapi, mereka punya masa lalu dan juga masa depan yang tak pernah bisa kau pahami, Han.“

Hanna hanya tersenyum tipis. Enggan menimpali kalimat Chanyeol barang satu kata sekalipun. Bukan karena gengsi ataupun takut ditertawai. Ia hanya belum bisa mengambil sikap—sebagai seorang Lee Hanna, bahkan Hanna pun bingung, kenapa dirinya bisa selemah ini ketika dihadapkan dengan masalah yang semacam ini. Bukan Lee Hanna yang biasanya.

“Aku mohon, Han. Kembalilah ke Ko—”

“Kalau kau menginginkan itu, maka jawabanku adalah tidak.” Timpal Hanna. Gadis Lee itu bukan pecundang yang mundur begitu saja. Hanna hanya belum bisa menyikapinya dengan kepala dingin. Hanya itu. Ia tak mau kalut dalam emosi, seperti tiga orang itu yang menyelesaikanya dengan berkelahi.

“Kita sudah sampai. Aku akan berangkat dengan Helena, nanti.”

Kalimat itu membuat Chanyeol bungkam. Mengijak rem, sesudah percakapan singkat keduanya berakhir dengan kalimat Hanna yang terdengar seperti permintaan untuknya. “Aku akan menjemputmu”

“Kau hanya akan memerumit masalahnya, Chan.” Sahut Hanna tetap pada keputusan finalnya. Setelah itu, Hanna keluar dari mobil Chanyeol disertai senyum manisnya. Lalu melenggang pergi, seolah Chanyeol sudah tak lagi dihadapannya.

“Aku baru tahu, Han. Cintamu pada Sehun terlalu besar.” Ucapnya ketika seorang Le Hanna tak lagi nampak di kaca spion mobilnya. Lima kata yang digemakan Hanna tadi sudah membuktikan, kalau Hanna tak ingin ia ikut campur. Biarkan pertengkarannya hanya Sehun-Hanna-Steven yang menyelesaikan. Jika itu kemauannya, aku tak akan menolak—Chanyeol berujar dalam hati.

.

.

.

Meski jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi, Steven tak mau beranjak barang selangkah pun. Ia masih ingin menjaga adiknya itu jika sewaktu-waktu Chanyeol maupun Luhan datang dengan membawa pistol yang jauh lebih besar. Katakan saja Steven berlebihan, ia masih trauma dengan kejadian yang menimpa adiknya kemarin.  Walau dirinya ikut andil.

Merasa bosan, Steven akhirnya merogoh saku dalam jasnya. Mengambil ponsel yang sudah hampir seharian ia abaikan. Karena Steven mengubah profil ponselnya menjadi silent, hingga tak ada yang mengganggunya dengan Hanna saat berusaha untuk menghibur gadis Lee itu. Yang justru berakhir dengan kejadian yang tak mengenakkan.

Tiba-tiba saja Hanna terlintas di pikirannya. Keadaan gadis itu sangat berbanding terbalik setelah pulang dari taman bermain.

60 panggilan

58 pesan

2 pesan LINE

Dan Steven tersadar saat pemberitahuan itu ada di layar lima inci ponsel pintarnya. Lima puluh panggilan dari sekertarisnya, dan sisanya dari Xiumin. Empat puluh pesan dari Jenny, dan sisanya dari Xiumin juga sekertarisnya. Lalu, dua pesan LINE dari—

“Hanna?” sontak Steven membeo. Ia mengerjap beberapa kali untuk menajamkan mata, bahwa ia tak salah lihat. Benar! Ini Hanna. Batin Steven gembira. Tak menunggu lama, Steven lantas membuka. Menampilkan beberapa pesan yang memang belum ia baca, namun hanya satu tujuannya.

‘Apa Sehun baik-baik saja?’

‘Aku dengar dari Chanyeol, kalian berkelahi.’

Steven membuang karbon dioksidanya kasar ke udara. Bagaimana bisa gadis itu masih memikirkan pria yang sudah menyakitinya? Hanna itu polos atau bodoh? Hanya Hanna dan Tuhan yang tahu. Alih-alih menjawab, Steven justru menekan tombol voice call. Menelpon gadis itu untuk membicarakan sesuatu dengan Hanna.

Tak disangka, Sehun menampakkan wujudnya dari belakang ketika Steven sibuk menunggu Hanna mengangkat telponnya. Dan Sehun pun tak perlu ikut campur. Karena, kemarin malam ia terjaga dan sudah mengambil keputusan. Seorang Sehun Hester akan menjauhi Hanna untuk kebahagian gadis Lee itu.

“Kau tak perlu ke sini, Sehun baik-baik saja.”

Sehun sontak menghentikan langkahnya kala sang kakak menyebut namanya dalam percakapan. Gadis itu mau ke apartemennya, untuk melihat keadaannya. Sehun tersenyum, namun memudar setelah mengingat keputusannya semalam.

“Dia masih istirahat, aku akan menjaganya.”

Sehun mencibir dalam hati. Memang kakaknya itu tak pulang setelah pertengkaran hebat kemarin. Tapi, mengingat pria itu menyukai Hanna juga membuat hatinya mencelos seketika. Ingin marah, namun urung dilakukan. Di sini, ialah pihak yang salah dan patut disalahkan.

“Maafkan aku, Hanna.” Gumam Sehun, lalu merajut langkah besarnya kembali.

.

.

Bukan. Bukan apartemen yang ia tinggali bersama Helena yang menjadi tujuannya. Tapi, apartemen sebelah yang mengundang atensi Hanna untuk lantas di kunjungi. Menekan bel beberapa kali, lalu menunggu sesaat. Setelahnya, suara pintu di buka mengundang Hanna untuk mengadah.

“Luhan?”

“Hanna?”

Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Luhan yang bertanya dalam hati kenapa Hanna tiba-tiba ada di depan apartemennya, dan Hanna pun demikian. Bertanya-tanya kenapa Luhan yang menempati apartemen itu. Setahu Hanna, apartemen di sebelahnya itu ditinggali oleh mantan kekasih Sehun. Dan setahu Luhan, Hanna tak tahu kalau ia ada di sana. Keduanya punya kuriositas yang harus di

“K-kau ada di sini?” Luhan memecah keheningan. Sekedar mengembalikkan kesadaran Hanna yang masih dibawah alam sadar. Hanna lantas mengerjapkan mata, lalu tersenyum canggung. “Bolehkah aku masuk, aku harus menemuinya.”

“Menemuinya?” Luhan menggemakan kata yang menarik atensinya. Hanna mengangguk sebagai jawaban. Tak tahu cara menolak keinginan Hanna, Luhan lantas mengizinkan. “Aku rasa kau sudah tahu kebenarannya. Tapi, satu yang harus kau ingat,”

“Apa?”

Hanna still shocked because her fight with Sehun. Aku harap kau tak mengungkit—”

But, I must. Aku jauh lebih terpukul dengan kejadian kemarin, Mr. Xi.” Timpal Hanna cepat. Tak mau dianggap sepele masalahnya. Ia lebih sakit, lebih terpukul dan lebih dari semuanya. Tapi, bukan itu maksud Luhan. Hanna yang ada di hadapannya itu jauh lebih kuat daripada Hanna yang ada di dalam sana.

“Aku tidak akan menyakitinya. Percayalah padaku.”

Luhan bungkam. Memilih minggir untuk memerluas jalan Hanna menuju ke dalam. Menampakkan ruangan yang didominasi warna hitam dan putih. Dan juga seorang wanita berambut pirang tengah duduk di kursi meja makan. Menyantap sarapan dalam diam. Rambutnya pirang, sama seperti wanita yang kemarin Hanna lihat. S line yang begitu kentara, membuat siapapun iri melihatnya. Tak terkecuali Hanna. Sekarang ia tahu, kenapa Sehun sempat suka dengan gadis Alinson itu. Ternyata, pria byuntae di semua dunia sama saja.

Perlahan, Hanna mendekat. Lalu duduk di seberang gadis itu. Hanna sempat melihat gadis itu membulatkan mata, namun tatapannya kembali dingin. Seolah kosong, namun penuh dengan keskitan akan masa lalu. Keduanya terdiam lama. Luhan akan membuka percakapan ketika akhirnya si gadis Alinson itu menyuarakan pertanyaan yang sudah Hanna duga sebelumnya. “Siapa kau?” tanyanya sembari meletakkan sandwich yang Luhan buat. Hanna menampakkan senyumnya.

“Aku punya nama yang sama sepertimu, tapi tidak dengan kehidupanmu.” Ujar Hanna dengan nada ambigu. Gadis Lee itu memberi petunjuk pada gadis di hadapannya. “Namamu Hanna?” tebaknya kemudian. Hanna mengangguk, senyumnya pun tak pudar. Sekedar memberi kesan baik pada gadis Alinson itu. Namun, sang gadis berambut pirang itu justru tersenyum remeh. “Kau wanita yang disukai Sehun? Aku rasa dia salah memilih.” Cibirnya kemudian.

Beruntung Hanna sudah menyiapkan diri dengan kemungkinan yang akan terjadi. Jadi, Hanna hanya perlu memberi aba-aba agar Luhan tak menghentikan suara gadis itu. “Kau sudah sarapan? Aku ingin me—”

“Kau tak perlu soal hubungan kami yang kau rusak.”

Sungguh, kata-katanya berbanding terbalik dengan penampilannya. Begitu anggun saat melihat dari luar, namun bengis saat sudah berkenalan. Hanna harus kebal dengan makhluk yang satu itu. “Tidak, aku ingin mengajakmu mengelilingi Edinburgh. Kau pasti sudah menghafal semua rute di sini.” Ujar Hanna dengan lembut.

Pemilik nama Hanna Alinson itu memicingkan matanya. Mencurigai sosok gadis yang memunyai nama yang sama dengannya itu. “Aku tidak akan menyakitimu. Luhan akan memenggal kepalaku kalau aku sampai melakukan sesuatu padamu.”

Merasa namanya di sebut, Luhan pun menyahut. “I trust you, Mrs. Lee.”

Are you sure?” kalimatnya itu ditujukan pada Luhan yang nampaknya lebih percaya gadis asing itu daripada dirinya. “She’s like devil in my eyes,” tambahnya dengan nada sarkastik yang luar biasa menyakitkan. Tak punya pilihan lain, Hanna hanya terdiam. Senyum tipis pun ditambahkan. Penuh paksaan, dan gadis Alinson itu tahu.

Yes, I am.” Batin Hanna mengamini.

Hanna berbohong. Pada Chanyeol yang mengatakan akan ke kampus bersama Helena, Baekhyun yang akan ke rumah temannya dan juga Helena yang akan menyendiri di gereja. Ia tahu resiko apa yang akan ia dapatkan. Namun, inilah keputusan yang sudah ia ambil ketika memakan lima es krim dan tiga coklat pemberian Chanyeol kemarin. Nampak serakah memang, tapi pria Park itu tahu apa yang ia inginkan.

Kini keduanya berakhir di bangku saat pertama kali ia menginjakkan kaki di Edinburgh untuk pertama kalinya. Menikmati kembali masa lalu yang indah saat bertengkar dengan Helena perihal Starbuck dan juga Baekhyun. Si gadis Alinson itu hanya terdiam. Sedangkan Lee Hanna, ia justru banyak menceritakan perihal kehidupannya.

“Aku punya anjing, namanya Blacky. Itu pemberian Baekhyun untukku karena berhasil membantunya menyatakan cinta.” Ujar Lee Hanna sembari meminum bubble tea yang ia beli sebelumnya. Gadis Alinson itu masih terdiam. Bayangan akan Vivi yang ia adopsi untuk menemani Sehun yang sendiri dan kesepian di apartemen. Walau setelah itu, Sehun mengeluh pada Hanna karena Vivi tak mau menurut.

“Aku suka membantu Baekhyun. Dia murah hati. Meskipun dia sangat banyak bicara.” Sambungnya kemudian, lalu di tutup dengan kekehan. Diam-diam Hanna tersenyum. Namun, enggan menampakkan. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menampakkan senyum manis yang selalu membuat Luhan jatuh hati tanpa ia sadari.

“Aku juga punya kakak bernama Lee Hanbin. Dia itu sangat tampan. Dia juga sangat perhatian.”

Sebelum melanjutkan, Lee Hanna terdiam sejenak. Membuat Hanna mendongak, mencoba menoleh ke arah gadis Lee itu. “Sayangnya, ayahku tidak sepertinya. Beliau terlalu—” Lagi, Lee Hanna tak bisa menyambung kalimatnya. Tiba-tiba dadanya sesak. Terlalu banyak kejadian yang gadis itu sembunyikan. Ayahnya tak mengizinkan untuk mengambil jurusan bisnis. Ayahnya tak pernah mengirim pesan dengan pertanyaan apa kabar. Dan ayahnya itu terlalu ambisius untuk melakukan apapun yang beliau mau, tanpa menanyakan lebih dulu apakah Hanna setuju atau tidak.

“Aku juga punya anjing. Namanya Vivi.” Si Gadis Alinson, kini berani membuka percakapan. Enggan melihat gadis disampingnya itu melakukan percakapan monolog. Tak mau dianggap sebagai orang yang terlalu arogan membiarkan temannya berbicara sendiri. Lee Hanna menoleh, sembari mengusap pipinya yang basah tanpa ia sadari sebelumnya.

Vivi. Hanna menggemakan nama anjing kesayangan Sehun dalam hati. Lalu menelaah dalam diam, sembari mendengarkan kalimat gadis berambut pirang itu. Ia rasa, Sehun masih menyukai gadis Alinson itu. Karena, di saat Vivi sakit, wajahnya benar-benar absurd. Dan Hanna masih mengingat itu. “Tapi, sepertinya Vivi sudah dibuang.”

Lee Hanna sontak menggeleng. “Tidak! Sehun bahkan sangat menyayanginya. Kau tahu? Saat Vivi sakit, muka Sehun langsung pucat. Sungguh, aku tidak bohong.” Ujarnya dengan nada yang dibuat seyakin mungkin. Bahkan, ia menambahkan satu senyum sinis untuk menunjukkan betapa Hanna iri akan kepedulian pria Hesler itu pada Vivi.

Si Alinson lantas tersenyum lebar. “Benarkah?”

Andaikan keduanya tahu, Vivi sudah tenang di alam sana. Satu senyuman beserta anggukan Lee Hanna loloskan. “Kau memercayai orang yang tepat untuk merawatnya.” Jawab si gadis Lee. “Tapi, tidak untuk perasaan. Aku pernah merasakannya.”

Hanna menyernyit. “Apa maksud—”

“Aku ingin bubble tea lagi. Kau mau ikut?”

.

.

.

Seperti seorang maling. Sehun bahkan menutupi lukanya dengan jaket panjang, masker dan juga celana jeans panjang. Hanya demi menutupi  semua lebam yang ia dapat kemarin. Berada di rumah selama dua belas jam hanya akan membuatnya ingat tentang kejadian kemarin.

Maka dari itu, Sehun memutuskan untuk menyegarkan pikirannya dengan segelas bubble tea. Bukankah itu ide yang bagus? Hanya dengan segelas bubble tea, pikirannya akan kembali tenang. Itulah yang terlintas di benak Sehun.

Setelah bersiap-siap, Sehun lantas keluar dari kamarnya. Membuat Steven yang baru saja datang setelah berganti pakaian menyernyit. “Kau mau kemana, Hun? Kau belum sembuh—”

“Kau mau aku sembuh ‘kan?” tanya Sehun ketika langkah kakinya menuruni anak tangga. Setelah berada tepat di samping sang kakak, Sehun lantas menambahkan. “Gantikan aku ke kampus. Kau bisa menemui Hanna di sana. Jam sebelas nanti.”

Kontan Steven membulatkan mata. “Are you crazy?!” pekik Steven. “Tunggu! Jangan bilang kau menghindari—”

Bukan mengelak, Sehun justru membenarkan. “Ya, aku menghindarinya.” Ujarnya dengan nada tenang, seolah tak ada beban. Mengundang Steven untuk memuntahkan amarahnya. Hendal menambah jejak tangannya di wajah tampan sang adik. “Kau gila? Kau mau mundur—”

“AKU SUDAH MENYAKITINYA, STEVEN HESLER! Jadi, jangan buat aku menyakitinya lagi. Itu ‘kan yang kau mau?” Sehun kini ikut naik pitam. Ia hanya ingin yang terbaik untuk Hanna, walau harus berakhir melihat sang kakak dengan gadis pujaan hatinya berdiri di altar suatu hari nanti. Ia sudah menyiapkan mental untuk yang satu itu.

“LALU KAU KIRA DIA AKAN BAHAGIA TANPAMU? DIA MENCINTAIMU, BRENGSEK!” Kini kedua tangan Steven ikut andil dalam pertengkaran. Mencengkeram kerah jaket sang adik, hingga sang empunya mendongak. Bukannya gentar, Sehun justru menimpali. “Kalau begitu kenapa tidak kau yang membuatnya bahagia?”

Enggan menambah koleksi lebam sang adik, Steven justru melepaskan cengkeramannya. Membiarkan Sehun bernapas. “Kalau begitu, pergilah. Aku akan merebutnya darimu.”

Tak ingin menggubris, Sehun lantas mengukir jarak keluar dari apartemen sebelum Steven menutup kalimatnya dengan kalimat yang sangat Sehun benci. “Dan aku akan membangun keluarga yang bahagia. Bersama dengan Hanna dan anak kami kelak.”

Sehun mencelos. Kalimat itu harusnya Sehun yang mengatakannya pada ayah Hanna sebagai izin untuk memersunting Hanna. Kalimat itu, harusnya Sehun yang mengatakannya untuk mengancam Steven agar tak lagi mendekati Hanna. Tapi, kenapa semua berbanding terbalik?

“Jadi, kau mau aku melakukan itu?”

Two bubble tea and strawberry chesse cake.”

Pelayan yang ada di hadapannya lantas menekan beberapa kali layar monitor di hadapannya. Setelah membayar, Hanna melangkahkan kakinya ke meja yang dipilih gadis Alinson itu. Dan seperti dé javu, kembali ke masa di mana Sehun dan juga dirinya pertama kali—tidak, terakhir kalinya ia marah sebelum kejadian kemarin malam.

“Kau menyukainya?” tanya si Alinson pada Hanna dengan nada yang datar plus ambigu menurut gadis Lee itu. Bukan tanpa sebab ia bertanya, karena Sehun juga menyukainya—bahkan sangat. Tak ada menu favorit Sehun selain bubble tea dan juga mocchachino di Starbuck. Satu anggukan pun dijadikan sebagai jawaban.

“Ya, aku suka. Memangnya kau tak suka? Rasanya sangat enak kalau kau belum tahu.” Hanna menjawab dengan senyum lebarnya yang justru melukai gadis Alinson di hadapannya. “Sehun sangat menyukainya. Dan aku tahu, kau pasti juga menyukainya.”

Kalimat terakhir yang disuarakan itu begitu ambigu. Hingga Hanna pun menaikkan sebelah alisnya untuk mendapat penjelasan yang lebih. Namun, seorang Hanna Alinson itu pendendam yang ulung. Jadi, jangan salahkan dia jika tak mau menjelaskannya. Sama seperti yang Hanna lakukan sebelum beranjak ke tempat berpijaknya sekarang.

Alih-alih menjawab, ia justru menyuapkan sesendok strawberry chesse cake ke dalam mulutnya. Hanna yang menyadari itu langsung terdiam. “Kau tahu? Aku belum pernah punya teman sebaik kau, Lee Hanna.”

Kalimat itu membuat Hanna terdiam sejenak. Ternyata ia berhasil mengambil hati gadis dingin itu. Dan sekarang saatnya ia melakukan langkah terakhir. Karena, jika ingin mendapatkan hasil yang memuaskan, harus dengan kepala yang dingin. Bukan hanya sekedar amarah yang mendominasi, hingga tujuan pun tak tercapai.

“Terima kasih sudah mau menjadi temanku.” Ujar Hanna sembari meminum bubble tea miliknya. “So, do you can help me as your friend?

Gadis berkebangsaan Skontlandia itu lantas menghentikan aktivitas makannya hanya demi mendengar kelanjutan gadis di hadapannya itu. Anggukan pun dijadikan jawaban. Sebelum melanjutkan kalimatnya, Hanna lebih dulu menghela napasnya, lalu dihembuskan perlahan.

“Bisakah kau jaga Sehun untukku?”

Sebelas silabel yang dirangkai menjadi sebuah kalimat bak pesan terakhir itu membuat si Alinson terdiam. Ia tak bodoh untuk menyadari apa tujuan gadis itu mendekatinya, lalu dilabeli menjadi teman. Ternyata, gadis itu menginginkan sebuah permintaan yan tak mungkin ia sanggupi.

Are you lost your mind?”

Bukannya marah saat mendapat umpatan, Hanna justru membenarkan. “Ya, aku sudah kehilangan akal untuk menghadapi situasi rumit seperti ini. Aku sering mendapatkan masalah yang jauh lebih rumit.” Ucap Hanna kemudian. Ini keputusan yang sudah Hanna ambil. Dan hanya ia yang tahu. “Tapi, ini semua menyangkut masalah hati. Akan lebih baik jika aku pergi dan tak memilih keduanya.”

“Terima kasih untuk waktumu. Aku ada jam pelajaran sepuluh menit lagi.” Sahutnya lalu bangkit dari kursi. Menjejakkan sepatu Vans SK8 kesayangannya.

vans-sk8-hi-mte-fall-2014-colorways-01.jpg

“Aku sudah menyakitinya, Lee Hanna. Tak ada tempat untukku di hatinya,” ujarnya membuat langkah Hanna terhenti. Manik biru si Alinson beralih menuju Lee Hanna, lekas menambahkan kalimatnya yang masih rumpang. “Lagi.”

Hanna masih terdiam di tempatnya. Ingin rasanya segera lari untuk menyembunyikan butiran liquid yang sipa membasahi pipi, namun dengan bodohnya ia masih enggan beranjak. Agaknya ia ingin mendapatkan yang lebih dari sekedar cerita singkat itu. Sayangnya, harapan Lee Hanna musnah kala mendapat kalimat baru Alinson yang menggema. “Perlu ku antar?”

“Tidak perlu, kampusku dekat dengan cafe ini. Maafkan aku yang meninggalkanmu di saat seperti ini. Aku harap kau akan mengabulkan permintaanku ini.” Setelah itu, sosok Hanna tak lagi nampak di ruangan itu.

Sehun membelalakkan matanya. Mendengar kalimat itu langsung dari sang empu membuat hatinya mencelos sepersekian detik. Mencoba menelaah namun tak lagi ada banyak waktu. Hingga akhirnya, langkah panjang mengukir jejak di keramik guna menarik lengan sang pujaan hati. Mendapat atensi hingga tatapan tajam sekaligus tak percaya dari gadisnya.

“Le-pas-kan, Mr. Hesler!”

Tak memerdulikan Hanna yang meronta ingin dibebaskan, Sehun pun justru mencengkeram lengannya lebih kuat. Enggan melepaskan barang sejenak. “Big no! Kau pikir ini Starbuck milik ayahmu yang bisa mengantarmu pulang? Ikuti aku dan jangan membantah.”

Lagi-lagi, dé javu. Sama seperti masa lalu, Sehun yang menarik lengannya ke mobil, dengan kata-kata yang sama untuk menghentikan pemberontakan yang  pria itu dapat. “Memangnya kau siapa bisa mengaturku seperti itu?!”

Come on, Hanna. Please hear me,” nada Sehun kini mulai melemah. “Aku ingin mendengarkan penjelasanmu, tapi tidak di sini.” Sambungnya kemudian. Hanna ingin menangis, namun tak mungkin. Hanna ingin memukul pria itu, tapi tak sanggup. Cobaan hidupnya lebih menyedihkan sekarang.

Kini, keduanya berakhir di dalam mobil setelah Sehun berhasil membujuk Hanna. Menginjak pedal gas untuk meninggalkan pelataran Starbuck yang hari ini tak terlalu ramai. Tak mengundang atensi para warga Skotlandia yang menganggap bahwa ini semua adalah penculikan. Walau semua pakaian yang ia gunakan bertanda produk NIKE, bukan berarti ia lolos begitu saja. Jeruji besi akan menunggu, jika itu benar-benar terjadi.

“Ke apartemenmu?”

Sehun lekas menggeleng. “Di sana ada Steven. Aku tak akan membiarkanmu bertemu dengannya.” Ujar Sehun final, tak mau lagi dibantah. Sehun nampaknya sudah lupa akan keputusan kemarin malam. Ingin menyerahkan pada Steven yang menurutnya tepat, namun menarik kembali ucapannya. Hanna sendiri pun tak bisa menolak. Hanna merasa kalau ia selalu lemah jika dihadapkan oleh pria Hesler itu. Lebih tepatnya, kelemahan yang menguatkan. Namun bisa berbalik menjadi kekuatan yang melemahkan. You know what I mean?

Sesampainya di sebuah gedung, tangannya berakhir di dalam genggaman si Hesler. Menariknya sepihak, lantas memasuki gedung yang akan membawanya ke sebuah tempat. Menekan tombol bernomor empat belas kala sampai di lift. Itu berarti, Sehun mengajaknya ke rooftop.

“Rooftop?” Hanna menyuarakan satu kata yang terlintas di pikirannya. Sehun semakin mengeratkan genggamannya. Satu anggukan pun ia loloskan. Sesampainya di sana, Sehun menarik kembali gadis itu. Mengajaknya menuju tepi rooftop yang terbatasi oleh pagar. Terdiam sesaat, untuk sekedar memandangi indahnya Edinburgh dari atas sana. Hanna pun mulai tertarik, mengikuti ke mana arah fokus Sehun dibuang.

“Kau mau kembali ke Korea?”

Alih-alih menjawab, Hanna terdiam. Mencoba menarik kembali tangan, namun sadar kalau pria di hadapannya itu terlampau kuat. Hingga akhirnya, satu anggukan ia tampakkan sebagai jawaban. “Ayahku sakit.” Ujarnya. Hanna tak bohong. Kemarin, Hanbin sempat mengunjunginya. Mengabarkan bahwa sang ayah masuk rumah sakit berkat sakit jantung yang kembali menyerang. Namun, yang ia sembunyikan, Hanna harus melanjutkan karir sang ayah di Samsung Group untuk sementara waktu. Dan tak akan tahu apa yang aka terjadi di masa mendatang.

“Apa itu sebuah alasan—” Sehun meraih bahu Hanna, lalu menjatuhkan fokus dalam manik coklat gadis Lee itu. “Bukan, itu sebuah jawaban, Hun.” Tukas Hanna kemudian. Tak lelah menginterogasi layaknya polisi, Sehun kembali bertanya melaui tatapan elangnya. Hanna yang menyadari sosok Sehun haus akan jawaban untuk memenuhi kuriositas itu pun langsung menambahkan. “Kau bertanya, dan aku menjawab.”

“Lalu, di saat aku membutuhkanmu, kau meninggalkanku?”

Hanna tersenyum lembut. “Kau yang menginginkannya, Hun. Kau menyerahkanku pada Steven—” setetes liquid pun akhirnya lolos dari irisnya. Hanna sudah menahan, namun hatinya tetap memberontak. Sehun pun terbelalak. Bagaimana Hanna bisa tahu? Bukankah hanya ia dan Steven yang ada di sana? Tidak mungkin Steven mengatakannya, kakaknya itu bukan orang yang suka mengadu.

“Bagaimana—”

“Steven tadi menelponku. Dia bilang akan memberikan ponselnya padamu, karena ponselmu tidak aktif.” Hanna mulai menjelaskan. “Dan kau berdebat tentangku, sebelum sambungannya mati.” Tutupnya kemudian. Sebenarnya, Steven tidak mematikan sambungannya. Tapi, pria itu menjatuhkan ponselnya untuk mencengkeram kerah jaket Sehun saat pria itu dikuasai emosi. Itu terjadi begitu saja tanpa Sehun-Hanna-Steven sadari.

“Aku lelah, Hun. Aku bukan pacarmu, aku bukan kekasih ataupun istrimu. Tapi, saat mendapat kisah cinta yang begitu memuakkan membuatku—”

I’m so sorry—”

“AKU BELUM SELESAI, SE-HUN!”

Hanna meledak. Sehun selalu menginterupsi dengan kata-kata yang sama. Dan itu membuat si gadis Lee memekik. “Aku tidak tahu kalau kau memutuskan hubungan dengan Hanna secara sepihak. Membuat Hanna patah hati lantas bunuh diri. Namun, Luhan datang dan menyembukannya.”

“Tapi, yang Luhan dapatkan hanyalah luka. Sama seperti yang aku rasakan saat ini.” Bukannya menjawab, Sehun justru menarik pinggang Hanna, agar mengurangi jarak yang tercipta. Mendekat demi memertemukan dahi keduanya, lantas menjawab. “Maafkan aku, Han. Banyak hal yang belum kau ketahui.” Setelahnya, sebelah tangan ia gunakan untuk membuka masker, lalu membuangnya asal. Menangkup wajah blasteran itu dengan kedua tangan besarnya.

Sehun memertemukan ujung hidung keduanya. Bahkan Hanna bisa rasakan hembusan napas Sehun. Terlalu dekat—Hanna membatin. “Tapi, hanya satu yang perlu kau ketahui. Aku sangat mencintaimu.” Setelah kalimat itu terucap, bibir Sehun menyapu lembut milik Hanna. Menyalurkan semua perasaan yang selama ini datang tanpa komando, lantas tersakiti tanpa diketahui. Hendak menyalahkan, namun tak tahu pada siapa. Tuhan selalu membuat jalan cintanya berliku, namun ia sadar kalau ada batas penantian yang akan membawanya menuju kebahagiaan yang sebenarnya.

Semuanya mengalir begitu saja. Masa lalu, kembali ke dalam kehidupan, lantas memorak-porandakan perasaan hingga larut dalam kesedihan. Mengambil keputusan sepihak, namun satu tujuan. Hanya demi menjaga perasaan yang sudah tumbuh sejak pertama bertemu, namun enggan dinyatakan dalam sebuah kalimat. Tidak, Sehun sudah melakukannya, tidak dengan Hanna.

“Aku mencintaimu, Mrs. Hesler.” Ujar Sehun ketika peraduan lembut keduanya terlepas, tergantikan dengan kalimat manis yang mengundang senyuman sang lawan bicara. “Me to, Mr. Hesler.” Balas Hanna, masih bertahan dengan posisi keduanya yang masih menjadikan dahi sebagai tumpuan agar menjaga jarak.

“Jadi, buang jauh-jauh niatmu membeli tiket untuk meninggalkanku.” Sehun kembali mengecup bibir Hanna singkat, namun jantung gadis itu berdegup terlalu kencang. Membuat pipi pualamnya merona, mengundang minat sang pria untuk kembali menggoda. Sebelum akhirnya mendengar penolakan gadis pujaannya. “Untuk itu, aku tak bisa.”

Sehun lantas menciptakan jarak. “Kenapa?”

Hanna mendorong dada bidang Sehun agar melepaskan tangannya dari wajah cantiknya. Membiarkan surai coklatnya terombang-ambing bersama dengan angin yang menyapa. “Aku akan—” Melanjutkan perusahaan ayahku dan melupakanmu—batinnya. Ingin sekali Hanna mengatakan semua itu, sayangnya nyalinya tak cukup besar untuk merealisasikan.

“—merawat ayahku hingga beliau sembuh.” Sambung Hanna kemudian. “Tapi, kau akan kembali ‘kan?”

Bukannya menjawab, Hanna justru kembali menghapus  jarak untuk memertemukan bibir keduanya. Melumat lembut, demi menghentikan pertanyaan yang di lontarkan Sehun. Karena, dirinya sendiri pun tak tahu apa jawabannya. Ingin mengungkap kenyataan, namun enggan membuat Sehun kembali terpuruk. Pukulan para orang terdekat pun masih bisa Hanna lihat. Ia tak mau menambahkan walau tak tampak.

Sehun menarik kepalanya. Menciptakan jarak. Bukan untuk bertanya, melainkan untuk mencibir. “Kau menciumku karena jawabannya—” Hanna yang bingung karena hipotesis Sehun benar lantas kembali mengecup bibir itu singkat. “Jangan bicara!” pinta Hanna. Ia lelah atau lebih tepatnya malu jika harus mencium pria itu beberapa kali hanya untuk membuatnya bungkam.

“Apakah kau akan menciumku lagi kalau aku mengatakannya?” goda Sehun pada Hanna yang sudah beranjak meninggalkannya sendiri. Senyum miring pun ia tampakkan selagi mengukir jarak untuk menyejajarkan langkah kakinya dengan Hanna. Gadis itu merutuk dalam hati, pesona seorang Sehun Hesler lebih kuat daripada sang kakak—Tidak! itu berlaku untuk semua pria yang pernah mendekatinya.

“Jangan ikuti aku!”

“Cium aku dulu,”

“Sehun!”

ǁNext Chap Preview│

“I’m Sehun’s father.”

 “Terima kasih,”

 “Aku yang membuat ibumu meninggal.”

 “Dulu?”

“I love your mother—”

 “Bisa dibilang begitu,”

 “Kalau selangkah lagi masuk ke sana, akan kupastikan kau melihat jasadku, Lee Hanna.”

 “Pulang?”

I’m okay.

Author’s note

ATTENTION PLEASE!

NEXT CHAP AKU PROTECT! Aku udah bilang ‘kan? Jadi, siap-siap tukar poin. Ikuti rulenya di bawah ini.

Komentar minimal 4 chapter: password for side story of chap 6

Komentar chap 1-6: password for side story of chap 6 until chap 7<Tidak menerima alasan; koneksinya lemot kak, dsb.>

Side story of chap 6+chap 7: 5.913 word /sayang ‘kan kalau gak baca?/

Tahu maksudnya? Ada dua chapter yang aku protect—side story chap 6 dan chap 7. Side story of chap 6 itu berhubungan dengan apa yang terjadi di chap 7, begitu juga untuk chap 8. Jadi, tanpa side story chap 6 dan chap 7 kalian gak akan tahu maksudnya chap 8. Ini sebenarnya salah satu strategiku untuk mengurangi siders. Yang baca banyak, tapi yang komentar sedikit banget. Jadi, manfaatkan poin kalian dengan sebaik-baiknya. /kayak alfamart aja-_-/

Contact:

FB: putri safira

Line: putriwahono255

WA: 087736388377

Email: putrisafira255@gmail.com

Jangan lupa sertakan ID saat berkomentar. Satu lagi, password berbentuk 12 digit angka—yang pasti gak bisa di hack ‘kan? /nyengir ala papa ceye/Dan untuk hiatus, aku rasa gak hiatus yang bertaun-taun gitu yak.. lebih tepatnya semi-hiatus. Banyak banget yang harus aku pelajari tahun ini, karena. . aku mau ngejar jackpot/jalur undangan/ yang harus dikejar dimulai dari sekarang. Jadi, siap-siap pantengin SFFI kalo aja tiba-tiba aku muncul tanpa diharapkan/gak ada yang mau nunggu/ *pulang gandeng bang Baek.

Bagi yang ingin bertanya, silahkan. Have a nice day!

Advertisements

44 thoughts on “TAKE IT SLOW—CHAP.6&Announcement”

  1. Yuhuuuu update juga wkwk
    Yah akhirnya sehun-hanna ada kejelasan walaupun cuma sedikit /langsung ditendang sama putri/ wkwk

    Dan reaksi pertama pas baca.. Suee ternyata vivi yg ketembak -_- ,, udah panik kirain sehun yg ditembak

    Aku chat kamu dulu yaww buat minta pw *cus gandeng papih thehun *

    Like

    1. Aku gak kuat bikin romance-nyaaaaaa…/epek fangirl suka baper/

      Huahahhaha /Tawa ala ceye/ Abisnya Vivi beruntung banget sih bisa dipeluk sama Sehun/epek fangirl kurang belaian/

      Maapkan aku yang baru bales, jangan lupa pass-nya itu ada dua yakk 🙂

      Like

  2. Sehun mah gimana sih, katanya mau jauhin lee hanna biar ga tmbah sakit, tp giliran hanna mau move on ehh malah sehun yg ga rela x_x
    Btw lee hanna beneran mau ninggalin sehun ke korea?
    Nextnya ditunggu eonn~
    Moga aku di ksh pw’a yaa :”D

    Like

    1. Sehun mah sukanya gitu. Kayak di konser. Aku kira dia nangis gegara terharu sama EXO-L. Eh, ternyata dia nabrak kamera. Sungguh Sehun yang tidak terduga.

      Well, lihat Side story-nya ajah/promosi/

      Kalo mau pass-nya, contact aku ya? 🙂

      Like

      1. Hahahaha iya,salpam alias salah paham itu mah eonn. Sue bner. Udah moment bagus ‘mengharukan’ brg exo-l eh nyatanya gara2 nabrak kamera dia nangis wkwk dasar

        Okesip eonn XD
        Ditunggu aja pkoknya side story/chapt 7nya kkk~

        Keep writing^0^

        Like

  3. oh tidak knp dsini lee hanna masih salah paham ama sehun?
    sehun mutusin hanna pirang itu kan bukan tanpa alasan? dia mutusinnya kan karna si cwe udh selingkuh sama luhan kan?
    siapa pun knp gk ada yg mau mnjelaskan sama lee hanna sih? sehun jg knp diam aja…..
    stelah ini konfliknya pasti makin rumit, apalagi hanna mau balik ke korea dan lupain sehun? andweee….
    jangan dong kak, sbelum hanna kmbali ke korea aq harap dia udh tau kbenaran yg sesungguhnya tntg sehun…..bhwa dsini sehun tidak depenuhnya salah, dan justru sehunlah yg tersakiti dsini…
    aq tunggu next nya 🙂
    please bikin happy ending sehun-lee hanna 🙂

    Like

    1. Iya, udah dijelasin di chap sebelumnya kalo Sehun di sini enggak Bad boy 😀

      Sehun diem aja, mungkin lagi mikirin aku kali/ditendang readers:)/

      Haha, mian kalo aku gak bisa buat mereka bersatu. Masalahnya aku udah bikin sampe chap 9 dan udah mentok nih pikiran. Jadi, siap-siap baper dan serangan jantung 😀 Makasih udah koment 🙂

      Like

  4. udaah apdet rupanya,,
    aku suka aku suka, konfliknya makin rumit yaa,, hanna jangan tinggalin sehun ke korea, kasian sehunnya,, jangan luapain sehun juga,,

    next chap.nya aku tunggu
    BIG LIKE pkok.nya !!

    Liked by 1 person

    1. Iya, kita genk yang paling rame 😀

      Kayaknya kamu udah komentar di semua chap ‘kan? Berarti kamu bisa dapetin side story chap 6 plus chap 7.

      Tapi,kalo semisal baru komen 3-4 chap doang, kamu cuma dapet side story chap 6.

      Aku emang orangnya ribet. Yang simple aja dibikin susah/digampar readers:D/

      Jangan lupa mintanya dari kontak aku di atas ya 🙂

      Like

      1. Hahahaha rame sampe ga bisa dibls komenanya XD terlaluu wkwkwk

        Aku comment smua chapt dong eonn B-) \gaya sok cool/

        Kalo begitu aku mau minta passnya dong eonn :3 \ceritanya aegyo/
        aku udah add di fb tp blm di konfirm eonn T.T

        Like

  5. ya ampun viviiiiiiiiiiiiiiiiii, huaaaaaaaaa masa iya!! kan kasihan si sehun! luhan jaat banget sihh.. keselll :/ kalau itu terjadi dikehidapan nyata sehun pasti sedih seesdihnya, jadi bayanginkan..
    awal baca sehun sama hanna agitu banget sih! gampang banget ngelepasin orang yang dicintai mereka sampe rela memberikan cintanya untuk orang lain tapi pas akhirnya ternyata eh ternyata mereka malah— ahhhh gu seneng demi apapun!! mereka sweet banget, kenapa dari dulu nggak kayak gitu aja hahhh.. 🙂 ^_^ semoga masalahnya nggak bikin nyesek yah, tapi pasti bakal rumit banget deh.. nggak rela kalau hanna ninggalin sehun, pokoknya nggak mau thor, ayo dong bkin hanna nggak kekorea.. waktu itukan pas bilang sama chanyeol nggak akan pergi nah sekarang apa!! aduh hanna lebih baik bahagia aja deh sama sehun disitu.. yaya 😦
    thanks ya thor, semangat terus 🙂

    Like

  6. Aku pembaca baru di ff ini hehe^^
    Aku tadi baru baca dari chapter 1 dan fix ini ff seru parah dan bikin aku kepo maksimal😒
    Aku lebih nge ship sehun-hanna daripada steven-hanna gimana dong?😔
    Tapi seru kok semangat yaaa💜❤💕

    Liked by 1 person

  7. itu part terakhir so sweet banget >< ..
    Tdi sempet shock, kirain mau nembak sehun, tapi nyatanya yang ditambak malah vivi, gak terima juga sih kasian kan sehun gak ada yang nemenin #okehiruakan 😄

    Liked by 1 person

  8. duh greget bgt sama sehun-hanna, hanna lee ya. semoga mereka bedua tetep bisa bareng deh kasian liat mereka dlm kesalahpahaman mulu, pokonya figthing buat couple ini

    Like

  9. Yuhuuuu, I’m back Authorr. Wah wahhh, point yaaa?? Aku banyak point.a kya gtu?? Aku kan selalu komennn, nntr aku WA feh bwt mnta nntu PW chap 6 n 7
    Aku penasaran beudddddd Thor thor…
    Ku tunggu balesan PW.aa 😉

    Like

  10. Huiii.. lap keringattt…hihihi
    Ah hanna allison it sifatx brbeda dgn pnampilan yg anggun
    Ku kira dy orng yg brhari lmbut trxata g. Dingin,pendemdam iuhhhh….
    Ahahah aku kir sehun betul” akn mmberkan hanna k steve terxt g jadi hahah dsar it mah cuek” butuh.
    Tp suka akhirx mrk bs mngtarakn prasaan mrk masing stlah ap yg tlh trjadi.

    Like

  11. Busettt vivi wkwk:3
    Kesian asli dia mah gasalah apa” main kena tembak aja:3
    Tapi gapapalah /eh yang penting bukan osh
    OSH!! NGAPAIN COBA KASIHIN HANNA KE STEVE? NYESEK TAURASA LU:3
    hanna juga ahhh gausah terlalu dibaikin lah si hanna2 itu ngelunjak kan dia :3
    Hiii bisa”nya dia masih sabar gitu ngadepin hanna2 sabar yaaak hatimu sungguh baik:3

    Liked by 1 person

  12. vivi jadi korban yaampun. malang nasib mu vivi.. turut berduka cita vivi.. sehun sama lee hanna itu kok kaya cinta terlarang yaaa. udah cukup selesai urusan sama steve luhan chan dan ini nambah urusan org tuaa. sehun hanna urusin kuliah dulu mending. kalo kalian berjodoh kalian juga pasti di satukan kembali wkwkwk.. eaaa

    Liked by 1 person

  13. Kirain yg ketembak thehun, tapi malah vivi yg ketembak huhuhu. Itu luhan nembak dirinya sendiri kah? Apa ketembak sama si sehun?

    Like

  14. Kok ngakak ya ternyat vivi yang ketembak, aku rela kok hun jadi vivi eh gk jadi deh masa disamain sama binatang hehehe. Jeh Sehun yang mau ditinggal hanna takut gak balik lagi 😁

    Liked by 1 person

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s