TAKE IT SLOW—CHAP. 9

58 copy

Take It Slow

Absurd story by PutrisafirA255

【Main Cast】

Sehun Hester | Hanna Lee

【Other Cast】

Baekhyun Byun | Helena Park | Chanyeol Park

Lee Hanbin| More

「Angst, AU, Drama, Hurt, Comfort, Romance, Friendship, Family」

『PG-16』

ǁEdinburgh, Scotlandǁ and ǁSeoul, South Koreaǁ

「Chaptered」

♠Part 1: First Look

♥ Part 2: What’s Wrong? ♥Part 3: The truth

♥ Part 4: The Trouble was Come ♦Part 5A: Confuse 

Part 5B: Confuse ♣Part 6: Just The Two of Us ∇ Side story of part 6: Gone

♦ Part 7: Ending & Beginning ♥ Part 8: Two Lovers 

Part 9 : Goodbye Edinburgh, Welcome Seoul [NOW]


Take It Slow


“Kau yakin akan ke Korea sekarang?”

Sehun mengangguk pasti. Bahkan semua pakaiannya sudah terkemas rapi di dalam koper. Kai pun hanya mendesah kesal. Pria itu terlalu senang, karena keinginannya telah terpenuhi. Tapi, ada satu hal yang pria Kim itu sembunyikan dan Sehun tak boleh tahu. Kalau Sehun sampai tahu sebelum sampai di Korea, maka dirinya akan berakhir di kandang Blacky—anjing hitam peliharaan Sehun yang punya gigi kelewat tajam. Okay, Kai harus berhati-hati saat bicara.

“Tak perlu bersedih, aku akan pulang.” Ujar Sehun saat mendapati sang sahabat termenung. Kai yang mendengar kalimat menjijikkan itu langsung mendecih. “Yang benar saja,” tukas Kai dengan nada tak bersahabat. Pria berkulit tan itu lantas mendekati Sehun yang duduk di tepi ranjang. Mengambil atensi lawan bicara agar lantas mendongak. “Kau sudah bilang pada Kate?”

Sehun menggendikkan bahunya acuh. “Aku sudah putus dengannya.”

Sembilan silabel yang terikat menjadi satu kalimat gila itu membuat Kai terkejut. Semudah itukah hubungan di mata Sehun? Well, Kai memang tak peduli, tapi itu keputusan yang tak manusiawi. “Kau dengan seenak jidatmu memutuskannya?”

Entah mengapa, Kai naik pitam dengan sendirinya. Ia merasa temannya itu sudah gila stadium akhir. Sungguh. “Mengapa jadi kau yang marah?” tanya Sehun tak percaya. Si hitam sudah berlebihan—pikirnya. “Dia hanya perlu kembali dengan mantan kekasihnya. Itu saja,” tambahnya dengan nada datar yang sungguh sangat acuh. Menghiraukan Sehun yang sudah bertindak kelewat batas, Kai mengurungkan niatnya untuk duduk di samping Sehun. “Aku pulang,”

“Tunggu,” ucap Sehun yang berhasil menghentikan langkah Kai. Pria itu lantas berbalik demi menatap sang sahabat. “Apa?” tanyanya tak minat. Tangan kedua pemuda itu terlipat di depan dada, lantas menyandarkan bahu kanan di ambang pintu kamar Sehun. “Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku, ‘kan?”

Setelah kalimat itu terucap, tentu saja Kai tergeragap setengah mati. Sehun tahu kalau ia berbohong? Darimana Sehun tahu secepat itu?

“A-apa maksudmu?”

Sehun bangkit. Mengambil langkah sembari memasukkan tangan ke dalam saku celana. “Apa kau—” Kalimat Sehun terpotong. Agaknya ragu untuk mengatakan apa yang ingin ia tanyakan. “A-aku. . . apa?!” Demi menutupi rasa gugupnya, Kai memekik. Cukup sudah membuat jantungnya berhenti berdetak!

“—kau tidak menyukai Kate, ‘kan?”

Demi semua kerang ajaib yang ada di lautan segitiga bermuda, Kai terbelalak. Bukan karena tuduhan yang ditujukan itu, tapi karena otak Sehun yang kelewat dangkal. “Aku masih mencintai Jenny, Hun.”

“Well, kau dulu hampir membunuh kakakku karena wanita itu. Tentu saja kau setia setelah mendapatkannya.” Ujar Sehun tanpa dosa sekaligus mengingatkan Kai tentang masa lalu. Kai pun mengangkat salah satu sudut bibirnya. Mendongak, lantas mengikuti cara main Sehun. “Setidaknya, aku sadar kalau wanita itu untuk dijaga, bukan untuk dipermainkan.” Ucapnya.

Tangan kai tergerak menunjuk Sehun. “Neo cheoreom.

.

:Take It Slow:

.

 

Hanna merasa kalau fokusnya enggan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah kantor. Apalagi cincin pemberian Junmyeon benar-benar mengusik ketenangannya. Ia bahkan tak berselera makan. Karena, ini pertama kalinya Hanna mendapat perlakuan manis dan juga. . . buruk dalam satu waktu. Junmyeon memberikan cincin itu sebagai simbol hadiah semata. Namun, yang menjadi atensi adalah kalimat yang digemakan Junmyeon setelahnya.

“Aku tahu, kau belum bisa mencintaiku. Setidaknya kau masih mau menerima cincin pemberianku.”

Sial! Hanna menggerutu salam hati. Benar ‘kan dugaan Hanna? Kalau ia menerima cincin dari Junmyeon, maka ia akan memberi secercah harapan untuk pria Kim itu. Tapi, jika tidak menerimanya, maka Hanna secara tidak langsung memutuskan hubungan. Dilema lebih menyedihkan daripada putus cinta.

“Kau di sini?” suara bariton itu lekas menginterupsi lamunan Hanna. Sang kakak yang baru saja pulang. “Mengapa pulang lebih awal? Kau sakit?” tanya Hanbin dengan dua kalimat tanya dalam satu tarikan napas. Agaknya sang kakak begitu menghawatirkan adik kecilnya itu. Hanna lekas menggeleng. “Tidak, aku hanya ingin pulang.” Ucapnya dusta. Hanbin lantas mendekati Hanna, lalu mengambil tempat di samping Hanna yang tengah duduk di pinggir kolam.

Desain-Rumah-Mewah-Dengan-Kolam-Renang.jpg

Sebelum mengawali percakapan selanjutnya, Hanbin mengendurkan lilitan dasi di leher tanpa melepasnya. Sekedar mencari kebebasan untuk menghirup oksigen. “Kau ada masalah, Han. Jangan bohong.” Hanbin berucap. Hanna bak maling ketahuan, namun senetral mungkin ia mendatarkan raut wajahnya. “Kau jadi peramal sekarang?” tanya Hanna mencoba bercanda, namun justru terdengar sarkastik. Hanbin tersenyum tipis, adiknya memang tak pernah bisa bercanda seperti kebanyakan orang pada umunya. Bukan salah pada kalimatnya, lebih tepat salah pada intonasinya.

“Jika itu bisa membuat Apple Inc. bertekuk lutut, mengapa tidak?” sahut Hanbin. Ia hendak menidurkan tubuhnya kalau tangan Hanna tak segera menahan dasinya. “Kau tidak lupa ‘kan?” tanya Hanna mencoba mengingatkan. Hanbin menyernyit. “Lupa apanya?”

“Sebelum rapat, di kantorku.” Jawab Hanna sembari memberi clue. Hanbin memutar role sendainya film untuk mencari dimana adegan yang Hanna maksud. Sebelum rapat ia sempatkan menuju cafetaria. Mengambil nampan sarapan yang sebenarnya sudah sangat telat, mengingat jam saat itu sudah menunjukkan angka sebelas. Setelah selesai dengan kegiatan sakral—sarapan—itu, Hanbin mendapat telepon dari ayahnya kalau sang adik belum datang.

Lalu, Hanbin menuju kantor Hanna dan mendapati gadis itu melamun. Setelah itu. . . Oh, Gosh! Hanbin mengutuk dirinya tadi pagi. Mengatakan inisial ibu kota yang sudah menyakiti adiknya. Mengais serpihan luka kalau sampai Hanbin mengatakannya. Edinburgh. Kota itu hampir ia sebut saat percakapan pagi tadi dengan Hanna. Damn it! Hanbin mendengus. “Iya, aku ingat.”

Hanna lekas memiringkan tubuhnya agar bisa leluasa berbicara dengan sang kakak. Kedua kaki jenjangnya ia tekuk, lantas kedua tangan bertaut di bawah lutut. “Kalau begitu ceritakan, Oppa.” Pinta Hanna. Dapat Hanbin tahu kalau adiknya itu menginginkan penjelasan yang lebih. Mengingat Hanna kehilangan ingatannya saat kecelakaan tiga tahun yang lalu dan selalu bersikeras ingin tahu akan masa lalu.

Tapi, Hanbin tak akan pernah melakukan itu. Perubahan drastis yang terjadi pada Hanna setelah pulang dari Edinburgh sangat kentara. Hingga ia dibuat bingung—bagaimana caranya agar Hanna tak termenung dan menangis lagi. Hanna pun akhirnya menyerah kala Hanbin berpegang teguh dengan pendiriannya. Enggan memberitahu yang sebenarnya.

Keterdiaman Hanbin membuat Hanna tahu kalau pria itu masih enggan. Padahal nada suaranya sudah dibuat separau-paraunya supaya Hanbin lekas luluh. Nyatanya, kakaknya itu masih tak mau. “Baiklah, kalau kau tak mau menceritakannya.”

Hanna lantas bangkit. Kepalnya menunduk, masih ingin mengatakan banyak hal yang belum terealisasikan. “Aku memang tak tahu apa yang terjadi dengan masa laluku. Tapi, bisakah kau mengatakannya kalau itu masa lalu yang buruk?” tanya Hanna. Hanbin menghela napasnya kasar. “Masa lalumu itu menggangguku, Han. Kau berubah lebih kejam setelahnya,” Hanbin pun akhirnya ikut bangkit. Menggenggam kedua bahu sang adik, lalu menatap iris coklat itu dalam.

“Aku tak mau kau jadi seperti ini, Han. Kau dulu selalu bercerita denganku dan tak pernah menutupi apapun. Tapi, setelah masa lalumu itu, kau menjadi dingin.” Satu tangan Hanbin tergerak menuju puncak surai coklat Hanna, lalu mengusapnya pelan. “Jigeum cheoreom(seperti sekarang).

Seulas senyum pun ia bubuhi di akhir kalimat. Membuat Hanna menyernyit tak paham, lantas ditinggal dengan kuriositas yang menupuk bak bukit. “Aku rasa aku tak perlu mengingatnya,” gumam Hanna pelan. Menatap kepergian sang kakak yang hendak membersihkan diri, lalu termenung sendiri. Fokusnya pun ia buang menuju Samsung Notebook 7 Spin putih miliknya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Mengambil tak lebih dari sepuluh  langkah untuk menuju ruang di samping kolam renang, lantas membukanya. Menampakkan sebuah email yang baru saja dikirim oleh Baekhyun—sekertarisnya.

Ngomong-ngomong soal Baekhyun, apakah pria itu tahu masa lalunya? Tentu saja, bukan? Ada secercah harapan yang timbul dari hatinya, namun ada juga sedikit keraguan dalam otaknya. Tak lupa kalau Hanbin dan Helena lebih memilih bungkam. Memang ia berniat untuk menyerah dengan masa lalunya, tapi itu sangat mengganggu benaknya. Seolah suara bisikan maut yang selalu datang di saat yang tidak tepat. Salahkan kuriositas Hanna yang terlalu besar, hingga ia tak peduli apapun yang terjadi.

“Masa bodoh!” ucapnya. “Aku akan menelpon Baekh—” tambahnya, namun lekas terhenti saat satu nama memenuhi layar ponselnya. Menarik atensi untuk lantas diangkat tanpa perlu basa-basi lagi. “Taeyeong?”

.

:Take It Slow:

.

Pria itu sudah duduk manis dengan kemeja merah muda dan jeans biru Levi’s kebanggaannya. Tak lupa, satu ransel hitam merk Polo Milano coklat itu ia bawa. Semua barangnya yang penting ada di sana. “Wanna some wine, Sir?” ujar seorang pramugari cantik berbadan S line yang sungguh menawan. Namun, secantik apapun pramugari itu, fokus Sehun masih tetap menuju pada layar MacBook Pro miliknya. “No, thanks.” Sanggahnya dengan senyum manis yang tambahkan di akhir kalimat. Membuat sang pramugari diam-diam ikut tersenyum.

Well, Sehun tak kaget dengan perlakuan para pramugari yang menatapnya intens. Kaca mata bulat yang bertengger di atas hidung, alis bertaut yang kentara serius, juga rahang tegas pria itu yang menggoda. Sungguh, sedikit Sehun gerak saja sudah membuat para wanita itu memekik tertahan. Diam-diam Sehun mengulum senyum. Bukan untuk para wanita itu, melainkan foto seorang gadis yang ia dapatkan dari Kim Kai.

Dalam foto itu, Lee Hanna menggunakan pakaian casual putih yang dipadu dengan jas biru muda sebatas lutut. Sayangnya, Sehun tetaplah seorang pria. Rok itu sangat mengganggu—Sehun membatin. Roknya lima senti di atas lutut menampilkan kaki jenjangnya yang putih. Seolah bisa bertelepati, Sehun menggumamkan satu kalimat harapan untuk Hanna yang ada di sana. “Aku harap kau mau mengancingkan jasmu.” Gumam Sehun. Setidaknya, jika jas Hanna terkancing, maka akan menutupi roknya. Well, Sehun masih peduli hingga detail seperti itu.

Sehun hanya tak mau pria hidung belang menatap apa yang ia punya. Memang terdengar egois, namun itulah yang Sehun tekankan untuk Hanna seorang. Ia bahkan tak peduli para gadis yang menyadang label ‘mantan’ memakai rok sependek apapun. Hanya berlaku untuk Hanna, dan untuk gadis Lee itu. Ia ingin Hanna menjaga apa yang seharusnya menjadi miliknya. He’s so selfish.

 f675ae2fb97172ccb06aa4d560ea5ae

Where she’ll go?” tanya Sehun pada Kai yang tengah bersiap tidur. Pria itu pun hanya memutar iris coklatnya kesal. “Penguntit itu bilang Hanna pergi ke sebuah mansion.” Jawab Kai dengan menekankan satu kata  dalam kalimatnya. Penguntit. Kai pun tak jauh berbeda. “Mansion?” Sehun membeo. Kai yang terganggu akhirnya lekas melepas sandal rumahnya, lalu menyandarkan punggung tegapnya di dashboard kasur. Membiarkan sahabatnya itu mengoceh sesuka hati, hingga satu kalimat terakhir membangunkannya.

“Mungkinkah Jane.. ehm, jeon.. tidak. Siapa namanya?” tanya Sehun saat ia tak bisa mengingat nama kekasih Hanna. “Junmyeon, Hun. Kim Junmyeon.” Ujar Kai membenarkan dengan suara paraunya. Bahkan anjing manis peliharaan Kai pun tahu, kalau pria Kim itu terlelap sebentar sebelum menimpali, saking panjangnya curahan hati Sehun. “Ah, terserah. Aku tidak peduli,”

Kai dalam hati mengumpat. Sudah diberi tahu malah tidak peduli. Dasar gila!—maki Kai dalam benaknya. “Entahlah, aku mengantuk. Good night, Blacky.” Ucap Sehun lantas mematikan sambungan kala Kai hendak memprotes. Sialan kau Sehun! Bisa-bisanya pria tampan sepertiku disamakan dengan anjing peliharaan—gerutunya. Well, candaan Sehun memang keterlaluan. Seperti biasanya.

.

:Take It Slow:

.

“Kau ada masalah?” Hanna mengusap tangan pria itu dengan lembut. Kepalanya mendongak untuk menatap sang lawan bicara yang tengah duduk di bangku taman rumahnya itu. “Aku hanya merindukanmu, Han.” Ucap pria itu sembari mengulas senyum tipisnya. Hanna justru menyernyit. Ia tahu kalau pria itu sedang tidak baik-baik saja. “Ceritakan saja padaku, aku akan mendengarkannya,Taeyeong-ah.”

Pria yang dipanggil Taeyeong itu lantas menunduk. Kembali mengulas senyum yang tak akan pernah pudar. “Kapan aku bisa melihatmu tersenyum?” tanya Taeyeong dengan nada yang lirih. Seolah menggumamkan satu kalimatt penentu masa depan yang enggan ia ungkapkan sebelum waktunya. Diam-diam Hanna menitihkan air mata. Genggamannya pun ia eratkan sebagai tanda bahagianya. “Aku sangat manis saat tersenyum, kalau kau mau tahu.”

Terdengar suara kekehan Taeyeong setelahnya. “Aku ingin sekali melihatnya. Tapi, sayang. Aku—”

Hanna lekas menginterupsi. “Semua manusia punya kekurangan, Tae.” Hanna berujar. “Aku pun juga. Hilang ingatan itu adalah mimpi terburukku. Lebih-lebih aku tak tahu apa yang terjadi di masa laluku.” Tambahnya. Senyum yang Taeyeong tampakkan untuk Hanna seorang memudar. Tergantikan oleh raut muka tak suka. “Hei,” ucapnya dengan nada sedikit meninggi. “Jangan sedih,”

Tangan Taeyeong mengusap jari lentik Hanna, menyalurkan kehangatan yang terasa dari tangan besarnya. Sedangkan si gadis Lee itu justru tersenyum. Ia memang tak ingat kenangannya bersama Taeyeong. Tapi, sekarang ia tahu mengapa Taeyeong sangat dekat dengannya. Wajahnya benar-benar tampan untuk silsilah keluarga Lee. Senyumnya yang manis, wajahnya seperti model, dan ramahnya yang bisa mencairkan suasana beku yang tercipta oleh Hanna sendiri. Taeyeong orang yang bisa di andalkan.

Samcheon isseo(Paman ada)?” tanya Hanna memecah keheningan. Taeyeong pun lantas mengangguk. “Isseoyo.” Sahutnya. “Wae geurasseo(apa ada masalah)?” tanya Taeyeong kemudian. “Nan—

Belum selesai Hanna menjawab, Baekhyun mengiriminya sebuah pesan. Mengingatkannya tentang penerbangan yang sudah terjadwal jam sepuluh malam nanti. Hanna tidak perlu menunggu penerbangan komersial untuk mengantarkan dirinya ke Edinburgh. Yang harus diingat; Samsung itu punya aset yang lebih untuk sekedar membeli private jet. Jadi, Hanna tidak perlu susah-susah menunggu jam keberangkatan seperti kebanyakan orang lain.

Sebenarnya, Hanna tak enak hati jika harus meninggalkan Taeyeong yang membutuhkan dirinya. Bahkan pria Lee itu menelponnya dengan ponsel bodyguard-nya—mengingat Taeyeong yang tidak boleh menggunakan ponsel pribadi. “Tae,”

“Pergilah, aku tahu kau pasti sibuk ‘kan?” Taeyeong melukis segaris senyum di bibirnya. Nampak berat hati, namun tak mungkin jika ia mengungkukung sepupunya yang lebih tua dua tahun darinya itu. “Jaga pola makanmu. Aku akan menunggumu,” sambungnya. Hati Hanna mencelos. Kata-kata Taeyeong begitu menyentuhnya. Ia beruntung bisa mempunyai mood booster seperti pria Lee itu.

“Baiklah, kau bisa menjemputku di bandara hari minggu.”

“Kau tidak pakai private jet?

“Spesial untukmu, aku akan pakai pesawat saat pulang agar kau bisa menjemputku,” jelasnya dengan senyum lebar, lalu satu tangannya tergerak menuju puncak kepala Taeyeong lantas mengacaknya gemas. Taeyeong pun hanya tersenyum senang. Setidaknya, penantiannya tak sia-sia untuk gadis yang sudah ia anggap seperti kakakknya itu.

.

:Take It Slow:

.

Sepatu hitam khas kantoran milik Sehun berhasil menginjak bandara Incheon dengan selamat. Senyumnya yang ia kulum kuat-kuat pun akhirnya ia lepas. Ia terlalu senang kala menyadari dirinya sudah sampai di Korea. Ia ingin segera menemui gadisnya dan melepas rindu bersamanya.

Di negeri paman Sam sana, Kai bisa bernapas lega. Ia tak akan mendapat amukan dari Sehun, walau tak bisa selamanya ia sembunyi di balik punggung tegap itu. Namun, apa daya. Ia tak bisa melawan semua keputusan tiba-tiba Hanna yang tanpa sepengetahuan Sehun mengalihkan tugas kepada sang kakak—Hanbin. Yang berarti, usaha Sehun datang ke negeri gingseng itu tak lebih dari misi yang dilimpahkan pada pria Hesler itu.

“Kau dimana?” suara bariton dari seberang line bertanya. Sehun sempatkan dahulu menoleh ke segala arah untuk mencari sosok yang lama ia nanti. “Hyung!” pekik Sehun memanggil ketika mendapati pria dengan kemeja berwarna dark teal bermotif kotak yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

Merasa terpanggil, pria itu lantas mencari arah sumber suara. Menelusuri setiap sudut pelataran bandara dari sesaknya para pendatang yang satu tujuan seperti Sehun. Tak lama kemudian, senyum pria itu terlukis. Menghampiri Sehun yang melambaikan tangan sebagai sapaan pertama, lantas mendekap layaknya sahabat yang tak bertemu lama.

“Kyungsoo Hyung,” ucapnya sembari menepuk punggung pria bernama Kyungsoo itu dengan seulas senyum yang ia bubuhkan. Sedangkan pria yang direngkuhnya itu meninggal kesan yang berbeda dari yang Sehun tunjukkan. “Kau gila, Hun. Ini sudah tujuh belas tahun sejak kau meninggalkanku di sini.” Ujar pria bermata bulat itu. Mendengar penuturan sang sahabat kecil, Sehun kembali tersenyum. “Sepertinya kau benar-benar merindukanku,” sahutnya.

Kyungsoo melepas kaitan keduanya. “Aku sudah mencarikan apartemen yang kau inginkan. Sekarang, giliranku yang meminta bantuanmu.” Tiba-tiba saja Kyungsoo menyangkut pautkan bantuan dengan imbalan. Baiklah, untuk yang satu ini Sehun hanya bisa menjadi pendengar yang baik.

“Aku mau Range Rover-mu.”

.

.

.

Perbedaan lima belas jam dengan Seoul tak membuat Hanna terbuai akan tidur malam di kasur hotelnya. Nyatanya gadis Lee itu justru memilih segera berganti baju, lalu bersiap dengan segala aktivitasnya. Hari ini, ia dijadwalkan akan menemui pihak RBS untuk merundingkan perpanjangan kontrak yang sudah lama terjalin. Karena Baekhyun yang tak bisa menemaninya, ia harus mengurus pertemuan itu sendiri.

Good morning, Mrs. Hanna,” sapa perwakilan dari RBS yang diutus menjemput Hanna di lobby. Pria dengan jas hitam beserta dasi merah maroon itu menarik perhatian Hanna. Hingga sang empunya mendongak dari ponselnya. “Good morning too, Mr. David.” Ucap Hanna sembari bangkit peraduannya. Tangannya tak segan menjabat pria di hadapannya itu. Mencoba meninggalkan kesan baik, walaupun kesan sombong dan disiplin tak bisa ia hindari.

Can we go now?” tanyanya. Hanna pun hanya bisa mengangguk setuju. Ia sebenarnya ingin sekali mengunjungi cafe yang langganannya—Starbuck. Sayangnya, setelah ini Junmyeon tiba-tiba menginginkan dirinya lekas menyusul ke Prancis. Hanna sebelumnya sudah menolak, namun bisa apa. Pria itu selalu bisa mendesaknya dengan berbagai cara.

Dalam perjalanan, Hanna melemparkan fokusnya menuju luar jendela. Menatap pemandangan Edinburgh yang nampak tak asing dalam ingatan. Mencoba memaksakan diri menuju masa lalu, justru membuat kepala Hanna tiba-tiba pusing. Gadis itu lekas memijat pelipis agar sakitnya lekas berkurang. “Are you okay, Mrs. Hanna?”

Hanna yang sibuk memijit pelipisnya hanya mengangguk lemah. Di Seoul, ia bisa menyuruh Baekhyun membeli aspirin. Namun di sini, tak ada yang bisa ia mintai bantuan. Karena menurutnya, obat pereda sakit kepala itu adalah sebuah rahasia yang harus dijaga. Bahkan Hanbin pun tak tahu perihal ini. Karena, jika pria itu tahu, maka dipastikan Hanna akan mendapatkan ceramah dari Hanbin dan juga Junmyeon. Ia bosan.

Tak lama kemudian, mobil yang ia tumpangi sampai juga dipelataran kantor RBS. Ia lantas turun setelah pria yang menjemputnya tadi membukakan pintu, lalu menunjukkan ruang kerja Presiden Direktur mereka. Tibalah Hanna di depan sebuah ruangan yang bertuliskan ‘CHAIRMAN, STEVEN HESLER’

Semuanya nampak tak asing bagi Hanna. Untuk yang kesekan kalinya pening mulai mendominasi kepalanya. Tidak! Ia harus kuat! Hanna mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri. Rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang ia pimpin. Ia akan dicap sebagai pimpinan yang malas dan tak bisa menepati janji.

Mengesampingkan semua yang ia rasakan, Hanna akhirnya masuk menuju kantor itu. Menampakkan seorang laki-laki yang masih berkutat dengan tumpukkan dokumen yang harus ia pelajari. Bahkan kedatangan Hanna pun terlambat ia sadari. “Sorry, I’m so busy—”

Suara bariton itu berhenti kala mendapati sosok gadis pujaanya dahulu yang pergi meninggalkan adiknya. Memberikan luka baginya dan juga Sehun, hingga si bungsu lebih memilih untuk pergi ke Cupertino, Amerika. Merajut masa depan di sana, hingga dipercaya menjadi bagian dari perusahaan Apple Inc.

“Hanna?” gumam Steven kala fokusnya terhenti pada gadis dihadapannya. Sedangkan Hanna, gadis itu menyernyit tak mengerti. “Pardon me?” ucap Hanna demi meluruskan medan perang yang belum ia ketahui. Gadis Lee itu merasa ada yang aneh saat pertama kali menginjakkan kakinya di Edinburgh. Bahkan berkali-kali Hanna merasa de javu.

Perlahan Steven bangkit dari kursi kerjanya. Mendekati Hanna yang berdiri tak jauh darinya. “Neo na gieokhae anhae?” tanya Steven sembari menunjuk dirinya sendiri. Hanna memang merasa tak asing, tapi ia tak yakin kalau dirinya ingat. “Nuguseyo?” Alih-alih bertanya, Hanna justru melontarkan pertanyaan kepada Steven. Membuat pria Hesler itu terbelalak. Jadi, Hanna tak mengingatnya?

Neo wae geurae? Nan Sehun hyung. Steven,”

“Sehun?” Hanna membeo. Ia yakin kalau sebelumnya dirinya pernah menginjakkan kaki di Edinburgh dan menciptakan semua kenangan di sini. Sayangnya, belum sempat semua kuriostasnya mendapat jawaban, gadis itu lebih dulu tak sadarkan diri dalam rengkuhan Steven. “Hanna!”

.

.

.

“Baekhyun?”

“Sehun?”

Kedua casanova itu saling melempar pandangan bingung. Baekhyun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya terhadap kedatangan Sehun yang tiba-tiba. Bahkan pria itu dengan berani menghadang Sehun yang hendak masuk ke ruangan Hanna. “Apa yang kau lakukan?”

“Aku mau bertemu dengan Hanna,”

“Darimana kau tahu kalau Hanna ada di sini?”

“Bukan urusanmu,” sahut Sehun sengit. Pria itu tak suka tujuannya dihalangi oleh siapapun. Terlebih Baekhyun yang  ia tahu adalah mantan kekasih Helena dan juga teman Hanna. “Dia tidak ada di sini,” Baekhyun menimpali setelah mendapat tatapan tajam dari pria Hesler itu. Sehun yang tak percaya dengan perkataan Baekhyun menepis lengan pria Byun itu.

“Kau hanya akan menyakitinya, Sehun-ssi.”

Sepuluh silabel yang terangkum menjadi satu kalimat itu lantas menjadi fokus Sehun pria itu lekas berbalik demi mendapat kejelasan lebih lanjut. “Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Tapi, tidak di sini.” Ucap Baekhyun. Sehun yang untuk kesekian kali tak percaya akhirnya menurut. Mengikuti langkah kaki panjang itu hingga menuju cafetaria yang letaknya masih satu gedung dengan Samsung Headquarter.

Keduanya terdiam cukup lama. Pasalnya Baekhyun bingung harus menjelaskannya darimana, dan Sehun hanya menjadi pendengar yang baik sebelum akhirnya pria Hesler itu menggemakan suara bariton miliknya. “Apa yang ingin kau katakan?”

Baekhyun mengela napasnya panjang sebelum akhirnya menimpali. “Hanna berubah semenjak kepulangannya dari Edinburgh.” Baekhyun akhirnya menemukan topik pembuka yang pas. Pria itu bahkan sudah berani menatap lawan bicaranya. “Dia jauh lebih dingin dan tertutup. Tak terkecuali denganku.”

Sehun masih setia bungkam menahan semua kuriositasnya. Mendengarkan semua penjelasan yang akan Baekhyun utarakan. “Aku memang tak tahu apa yang terjadi diantara kalian. Yang pasti, banyak perubahan yang terjadi padanya. Ia bahkan dengan bodohnya menyetir di jalan yang berlawanan arah hingga akhirnya menabrak mobil dan lupa ingatan. Dia memang sahabatku yang paling bodoh.”

Baru saja Sehun akan mengucapkan satu huruf dari kalimatnya, Baekhyun lebih dulu menginterupsi. “Dan untuk pertama kalinya aku paham mengapa Hanna melakukannya. Karena dia mencintaimu, Hun. Sehari sebelum kecelakaan itu terjadi, dia pernah bilang padaku—”

“Aku akan mati kalau sampai Sehun meninggalkan jasadnya tanpa raga,” lanjut Baekhyun mengutip kalimat Hanna yang pernah ia dengar. Punggung tegap Sehun menyapa kasar sandaran kursi. Hatinya mencelos dengan fakta yang mengejutkannya. Ia baru tahu seberapa besar Hanna menyukainya, walau gadis itu tak pernah menyatakannya. “Awalnya aku pikir kau akan mencarinya. Namun faktanya, kau malah pergi entah kemana hingga Hanna berani melakukan hal yang nekad seperti itu.”

Sehun menyadari kebodohannya. Pria itu sempat melayangkan ancaman yang mengatakan bahwa Hanna akan melihat jasadnya jika tetap pergi. Saat itu, Sehun sangat kalut hingga tak bisa berpikir dengan jernih. Ia tak tahu kalau kejadiannya akan sesulit ini. Ia memang egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia bahkan sempat bersenang-senang di Cupertino. Padahal Hanna sedang menderita di Seoul. Ia memang pria yang kejam. Satu pukulan telak pun ia dapatkan hari ini.

“Aku ragu jika memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki semuanya.” Suara bariton Baekhyun memecah kesunyian. Pria itu merangsek maju dengan siku sebagai tumpuan di atas meja. “Tapi, demi kau dan Hanna, aku akan membiarkanmu menyelesaikannya.”

.

.

.

“Kau baik-baik saja?”

Steven lekas mendekati Hanna yang baru saja membuka kelopak matanya. Kesadaran Hanna belum terkumpul sepenuhnya, hingga ia hanya menggeram ketika pening kembali menyerang. “Mengapa aku ada di sini?”

“Kau tadi pingsan, dan aku langsung membawamu kerumah sakit. Syukurlah kau tak apa.” Jelas Steven sembari membantu Hanna bersandar di headboard kasur. “Kamsahabnida,” ucap Hanna. Gadis itu kembali menatap Steven. Pria itu tak asing. Bahkan Hanna bisa melihat wajah pria itu dalam rekaman negatif hitam putih yang sekelebat datang dalam otaknya. Hanna semakin yakin.

“Apakah kau tahu tentang masa laluku?”

Seperti orang bodoh, Hanna memang sering sekali menanyakannya pada semua orang. Di awal pertemuannya dengan Baekhyun dan Hanbin, Hanna juga menanyakannya. Helena dan juga Chanyeol yang saat itu berkunjung bersama juga sempat ia tanyai. Namun, mereka diam-diam sepakat kalau tak akan memberitahukan yang sebenarnya. Sungguh Hanna yang malang.

“Aku amnesia.” Tambah Hanna kemudian setelah mendapati raut muka Steven yang kentara bingung. Setelah mendapat petunjuk dari sang empunya, Steven lantas mengangguk ragu. Bukankah itu berarti Hanna tak ingat dengan Sehun? Kalau begitu, bolehkah Steven egois sekali saja untuk mendapatkan kembali hati Hanna yang sebelumnya sudah dimiliki oleh adiknya?

“Jika kau ingin tahu, aku tahu orang yang tepat.”

Mendengar kalimat itu, Hanna menyunggingkan segaris senyum manisnya. Jari lentiknya bahkan tergerak menyentuh telapak tangan Steven. “Aku tahu kau orang yang baik.” Hanna berujar. Senyumnya pun masih enggan pudar, hingga Steven hampir saja mengedepankan ego. Memutar balikkan fakta agar sang gadis pujaan yang telah kembali  itu jatuh kedalam pelukannya.

Orang yang baik? Lalu mengapa kau tak memilihku—Steven berujar dalam hati. “Lalu, siapa orangnya?” Hanna akhirnya memberanikan diri menanyakan pria yang dimaksud oleh Steven. Pria Hesler itu terdiam untuk beberapa saat, namun akhirnya menimpali. “Kau akan bertemu dengannya.”

“Maksudnya?”

“Dia punya wajah yang sama denganku. Kau pasti akan bertemu dengannya.” Ujar Steven yakin. Walaupun sebenarnya ia tak begitu yakin setelah menelaah. Jikalau adiknya itu sudah mencari Hanna, bukankah gadis dihadapannya itu sudah mengetahui tentang Sehun?

.

.

.

Setelah semuanya selesai, Hanna lekas menuju bandara. Melanjutkan perjalanannya menuju Paris menyusul Junmyeon yang sudah menyiapkan acara makan malam dalam cruise di sungai Seine. Hanna tahu kalau pria itu merelakan banyak uang hanya demi acara ini. Hanna pun tak acuh dan kembali merajut jejak tak kasat mata menuju kapal yang sudah dipesan sebelumnya.

Sungai-Seine.jpg

“Annyeong,” sapa Junmyeon dengan senyum yang merekah. Bisa Hanna lihat betapa bahagianya Junmyeon kala melihatnya sudah sampai dan menepati janjinya untuk datang ke tempat yang sudah ia siapkan. Sayang sungguh sayang, Hanna tak bisa menyukainya lebih dari seorang kakak. Padahal pria itu selalu ada untuknya.

“Kau pasti lelah. Maafkan aku yang—”

“Tidak, aku justru berterima kasih padamu sudah mengajakku ke sini. Ini pertama kalinya aku datang ke Paris,”Ujar Hanna meluruskan, namun ia lekas melanjutkan kalimatnya yang rumpang. “Bersama seorang pria.” Tambahnya. Ada secercah harapan yang timbul kala Hanna mengatakan itu. Seolah hanya ia yang bisa mendekati Hanna dan hanya dia yang berhasil menciptakan kenangan indah. Rencananya berhasil.

Di atas meja, semua tersaji dengan baik. Tenderloin steak, Champagne dan juga dessert sebagai makanan penutup. Semua makanan kesukaannya ada di sana. Ia tak perlu tahu mengapa pria Kim itu bisa tahu, karena pastilah dkakaknya Hanbin yang memberitahu. Well, ia tak terlalu peduli, nyatanya semua itu berhasil menggugah selera makan Hanna hari ini. “Silahkan duduk,”

Hanna pun perlahan menduduki kursi yang sudah ditarik oleh Junmyeon, kemudian disusul dengan pria itu. Keduanya nampak canggung untuk sesaat, sebelum akhirnya Junmyeon mengalihkan pandangannya pada champagne. “Bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya sembari menuangkannya pada gelas tinggi milik Hanna terlebih dahulu. Hanna pun hanya tersenyum tipis, “Masih seperti biasanya.”

Junmyeon menganggukkan kepalanya. Ia hampir kehabisan kata-kata untuk membuka pembicaraan dengan Hanna. Karena gadis itu selalu menimpalinya dengan kata-kata simple seperti biasa. “Sebenarnya, aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Junmyeon akhirnya menyampaikan niatnya pada Hanna. Gadis itu pun mendongak dari Tenderloin steaknya, menatap Junmyeon penuh. “Sebenarnya, mengapa kau mau menerima lamaranku?”

Kini, Hanna benar-benar terdiam. Haruskah ia mengatakannya kalau itu semua menyangkut nama baik perusahaannya? Ataukah Hanna berbohong kalau ia mulai menyukai Junmyeon? Tidak—kata mulai itu pun sudah menyatakan bahwa Hanna memang tak menyukai Junmyeon dari awal. Lalu, apa yang harus Hanna katakan?

“Aku—”

Pakem bicara yang sudah dianut sejak kecil pun hilang entah kemana. Tergantikan oleh rasa canggung beserta bingung yang mendominasi. Agaknya pria dihadapannya pun tahu kalau ia sedang memilih jawaban yang pas untuk menutupi perasaan sebenarnya. “Kau. . mengapa?” Junmyeon akhirnya kembali menggemakan suara. Ia lelah menunggu dan juga lelah mencintai secara sepihak.

“Aku ingin mencari udara segar,” ucap Hanna. Katakanlah Hanna bodoh, karena kalimat yang keluar justru kalimat tak berbobot yang terpaksa dituruti oleh Junmyeon. Pria itu lantas bangkit dari kursinya dengan senyum manis yang diumbar pada Hanna, lalu melaksanakan apa yang diinginkan gadis Lee itu. Tak lama kemudian, cruise mereka menepi.

Perlahan, Hanna menginjakkan kakinya pada daratan. Disusul Junmyeon dibelakangnya. “Kau tak suka kapal?”

Pertanyaan lagi. Hanna bosan dan ia hanya ingin menikmati Paris pada malam hari. tapi, setidaknya pria itu membuat mood-nya kembali lagi setelah hampir empat jam berbicara mengenai kerja bersama Steven Hesler dan juga perjalanan pesawat komersial pertamanya. “Daripada kapal, aku lebih membenci pesawat.”

Junmyeon menoleh, “Mengapa?” tanyanya sekali lagi. Tanpa mengalihkan fokus, pandangannya tetap mengarah ke depan. “Aku juga tak tahu mengapa, yang pasti aku merasakan dadaku sesak.” Ujarnya menjelaskan. Bahkan perasaan itu semakin menjadi ketika ia menginjakkan kaki di bandara Edinburgh. Seolah pernah terjadi sesuatu besar di sana. Kenangan yang memang ia lupakan, namun perasaannya masih ada sampai sekarang. Ia tak bisa berbohong mengenai itu.

“Tunggu,” suara Junmyeon memecah keheningan diantara keduanya. Walau suara keramaian sudah menemani keduanya. Hanna pun ikut menghentikan langkah kala Junmyeon menginterupsi. “Aku rasa ponselku tertinggal,” ucapnya sembari merogoh saku dalam jasnya. “Aku akan mengambilnya, kau—”

“Aku akan menunggu di sini.” Sahut Hanna cepat. Ia ingin sekali memanfaatkan kesendiriannya menyusuri sungai Seine. Junmyeon pun mengangguk, lantas berlari demi mengejar kapal tadi yang masih syukurnya masih menepi di dermaga. Walaupun jaraknya lumayan jauh.

Hanna kembali merajut langkah santainya kembali. Lagi-lagi fokusnya ditujukan pada menara Eiffel yang berdiri kokoh di sana. Ia ingin sekali mengunjunginya, namun tak ada celah bagi nama Junmyeon di otaknya. Entah mengapa, Hanna ingin sekali saja memilih dan egois untuk masalah hatinya.

“Hanna?”

Suara bariton itu berhasil menarik atensi sang pemilik nama agar lekas menoleh. Menciptakan peraduan iris yang menyatukan keduanya. Hanna benar-benar terkejut, wajahnya sama persis dengan Steven yang ia temui pagi tadi. Pria itu memakai kemeja putih yang lengannya digulung hingga sebatas lutut, dengan satu kancing teratas dibiarkan terbuka. Tunggu—jangan-jangan yang dimaksud Steven mengenai masa lalunya adalah pria di hadapannya sekarang ini?

“Kau—”

Hanna kembali dikejutkan dengan pria yang tiba-tiba mengikis jarak itu. Menariknya kedalam rengkuhan sepihak tanpa Hanna sadari sebelumnya. Gadis itu hanya bisa terdiam dengan kalimat-kalimat yang pria itu gumamkan. “Mianhae, Hanna-ah. Aku baru menemuimu sekarang,” ucapnya sembari mendekap kepalanya, hingga sekarang wajah Hanna tenggelam ke dalam pelukan hangat pria itu.

Hanna pun tak tahu mengapa ia tak memberontak. Atau setidaknya, ia melakukan penolakan yang bisa membuat kesalahpahaman antara ia dan juga Junmyeon nanti. Pasalnya, pria Kim itu sudah kembali ketika Sehun mendekap Hanna dengan begitu erat. Meninggalkan ia menjadi penonton seandainya opera, dan menjadi seorang paling bodoh di dunia yang suka memaksakan kehendak. Tetap berpegang teguh pada keyakinannya bahwa Hanna sudah membuka diri untuknya. Nyatanya—

[TBC]

Everybody…

Siap-siap baper! Sehun akhirnya menyusul Hanna dan juga kecelakaannya udah terungkap. Tinggal nunggu keduanya punya banyak problem di chap depan yang harus dihadapi/padahal belum bikin/

Okay, karena masalah mereka yang numpuk banget aku sampe gak tahu apa aja yang harus diselesaikan/bunuh author/ pokoknya, bentar lagi akan END. Aku sudah putuskan karena tak mau readersku tercinta semakin bingung dengan alur cerita yang apalah-apalah khasku.

Sebelumnya himbauan kepada siders dan honeyku semua yang sekarang entah kemana udah gak komen lagi, aku menunggu kalian komentar. Makasih

Stay tune and take it everyting with slow.

 Visit : http://putrisafira255site.wordpress.com

 

Advertisements

24 thoughts on “TAKE IT SLOW—CHAP. 9”

  1. Hohohoo akhirnyaaa sehun ketemu hanna lg… Tp perasaan trakhir sehun di korea yg lg ktmu sm baek, tau2 nongol di paris…
    Kasian junmyeon yg cintanya sia2 ga kebales 😦 dr pada sm hanna yg ngegantung, mending sm aku aja oppa XD lopyuselalukok \peluk junmyeon/

    Nextnya ditunggu eonn !! XD

    Like

  2. Ige mwoyaa???? Kenapa barus tbc di bagian yg penting?? Kamu jahat put..

    Dan akhirnya sehun ketemu sama hannaaa whuaaaa.. Ga sabar nunggunya cyinnn wkwk

    Oh aku inget kejadian dibandara yg bikin nyesek hiks 😭kasian sehun disitu,, tapi itu juga yg bikin hanna kecelakaan,, serba salah deh

    Pokoknya ditunggu lanjutannya ya dongsaeng ku tercintahh wkwk
    Semangat ^^

    Like

  3. Aihh kenapa tbc nya pas bagian seru-_-
    Ih seneng sehun nya ketemu hanna lagi aku seneng ih parah💕 kenapa end nya cepet banget? Jangan cepet cepet atuh ini ff seru banget tauu😒 walaupun masih new readers tapi gatau kenapa aku suka banget sama ff ini omaygat. Semangaaat!!!

    Like

  4. akhirnya saat2 yang aku tunggu tiba, sehun ketemu sma hanna,, yeaaay!!!!
    smoga hanna cpet inget ma sehun yah, and smoga happy ending

    di tunggu chap 10 nya put

    Like

  5. Ohhh jadi hanna amnesia gara2 kecelakaan diseoul..
    Kayanya dia masih mikirin kata2 ayahnya sehun tapi juga ga bisa lepasin sehun ..
    Uhhhh hana kenapa ga ngmg ajah jadi kan ga slah paham..

    Like

  6. Ternyata kecelakaan Hanna karena rasa cintanya pada Sehun. Waaahh timpukin Sehun karena baru nemuin Hanna pas dua udah sama Junmyeon. 😥 Akhirnya mereka ketemu juga semoga saja Hanna cepet pulih Ingatannya.

    Like

  7. Hhuuaaa akhirnya mereka—Sehun Hanna— bertemu jugaaaa, aaaa senangnya, tpi kesian jga tuh si Suho 😂
    Btw aku ngga tau mo ngomong ala lagi, karena terlalu senang dengan Sehun yg meluk Hannaaaa aku jgamau dong dipeluk Sehunn 😂
    Nexxtt

    Liked by 1 person

  8. Yaahh si junmyeon liat:(
    Sebenernya sih kasian juga sama junmyeon
    Cintanya bertepuk sebelah tangan /huhu:(
    Tapi yaaa hanna-sehun harus balikan lagi sih
    Apa daya lah:3
    Semoga hanna sehun cepet selesain masalah:3
    Si junmyeon juga dapet pengganti yaaak:3

    Like

  9. akhirnya hanna dan sehun bisa bertemu. aku penasaran apa yang akan sehun jelasnya kepada hanna setelah pertemuan itu. Kasihan jg sih junmyeon krn disini cintanya harus bertepuk sebelah tangan. Apaka junmyeon akan merelahkan hanna dengan sehun ataukah dia kan besifat egois agar tetap mendapatkan hanna?

    Liked by 1 person

  10. GILA BUKALAP*K GILA SEHUN GILA SAMPE RELAIN CUY (maaf capslock jebol wkwkwk numpang iklan kak). Untung steven gak ngambil kesempatan dalam kesempitan, itu si cahyo sebenarnya kemana? Intinya cahyo itu gaib gitu (sok tau). Kak itu yang pas Sehun keterangan yang pas Sehun datengin hanna kok bajunya dilipat hingga lutut? Jadi bingung wkwkwk, udah sekian gitu aja dari tahu bulat

    Liked by 1 person

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s