TAKE IT SLOW—Chap.11

69 copy

Take It Slow

Absurd story by PutrisafirA255

【Main Cast】

Sehun Hester | Hanna Lee

【Other Cast】

Baekhyun Byun | Helena Park | Chanyeol Park

Lee Hanbin| More

「Angst, AU, Drama, Hurt, Comfort, Romance, Friendship, Family」

『PG-16』

ǁEdinburgh, Scotlandǁ and ǁSeoul, South Koreaǁ

「Chaptered」

♠Part 1: First Look

♥ Part 2: What’s Wrong? ♥Part 3: The truth

♥ Part 4: The Trouble was Come ♦Part 5A: Confuse 

Part 5B: Confuse ♣Part 6: Just The Two of Us ∇ Side story of part 6: Gone

♦ Part 7: Ending & Beginning ♥ Part 8: Two Lovers 

♣Part 9 : Goodbye Edinburgh, Welcome Seoul ♥ Part 10: The Secret

∇ Part 11 : Almost End [NOW]


Take It Slow


Selama ini Junmyeon hanya bisa memikirkan semua tentang Hanna. Seolah hidupnya bergantung dengan Hanna dan hanya Hanna yang ada di dalam kehidupannya. Bahkan tumpukan buku refrensi pun tak bisa membuat bayang-bayang masa lalu hilang dengan begitu. Ia masih mengingat dengan jelas, bagaimana Hanna sangat nyaman di dalam rengkuhan pria asing—bagi Junmyeon—itu.

Are you okay?

Suara sopran itu berhasil mengalihkan perhatiannya dari lamunan panjang yang tak berujung. “I’m okay, Grace. When you come to Seoul?” Timpalnya dengan beberapa anggukan, lalu dilanjutkan dengan kalimat tanya yang ditujukan oleh si gadis.

Si gadis yang dipanggil Grace tadi hanya tersenyum tipis. Ia segera mengambil kursi di samping Junmyeon yang masih berkutat di salah satu meja perpustakaan itu. “Yesterday,” timpalnya ringan, terkesan tak acuh. “So, i think you had a big prolem. Am I right?” tanyanya lagi dengan nada yang lebih mengintimidasi.

48c1edc91f34ab985f91d519

Junmyeon menghela napas. Ia tak mau menceritakan semua masalah yang sedang ia lalui saat ini. Namun, mengurangi rasa sakit yang sedang melanda bukan piihan yang salah, ‘kan?

Yes, you right.”ujar Junmyeon. Setelah dipikir-pikir, Junmyeon ingin mengurangi beban kisah cintanya dengan menceritakan semua kepada gadis kebangsaan Kanada berambut pirang itu. “Jadi, apa yang kau tunggu? Cepat katakan padaku! Apakah ini mengenai gadis yang kau ceritakan itu?”

Dulu, Junmyeon pernah bercerita mengenai Hanna yang sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi tunangannya—mengingat minggu besok adalah ulang tahun Junmyeon. Namun, ketika mengingat semua kenangan yang tercipta pada malam terbaiknya di Paris, ia harus berpikir kembali.

Can I ask you something?”

Grace lekas mengangguk, agaknya begitu semangat mendengarkan semua curahan hati sang sahabat. Setelah dirasa setuju, Junmyeon akhirnya menggemakan kalimat tanyanya, lebih tepatnya, pernyataan yang diubah menjadi pertanyaan. “Jika orang yang kau cintai tidak mencintaimu, apakah kau akan mengejarnya?”

Gadis Kanada itu terdiam sebentar. Ia menganalisis kalimat Junmyeon yang secara tak langsung menyangkut hidupnya sendiri. Tunggu! Bukankah ini berarti calon tunangan Junmyeon tidak mencintainya? Pikirnya.

Don’t say if—”

Yes, that’s true.” Sahutnya cepat, seolah ia tahu apa yang akan dikatakan Grace. “Jadi, aku butuh jawabanmu—Tidak, aku butuh pendapatmu, Grace.” Tambahnya kemudian. Pasalnya, Grace sedari tadi hanya memasang wajah terkejut dan tak segera menjawabnya. “Kau benar-benar ingin mendengarkan pendapatku?”

Junmyeon mengangguk.

“Aku pernah mendengar istilah ‘cinta tak harus memiliki’. Aku tahu betapa kau mencintainya. Pasalnya, kau benar-benar melakukan saranku sebelumnya (membawa Hanna ke Paris). Tapi, jika ia tak mencintaimu dan kau terus memperjuangkannya, bukankah berarti kau egois?”

Kalimat yang digemakan Grace bak pukulan telak bagi hati dan juga hidupnya. Semua yang dikatakan Grace memang benar, ia mencintai Hanna, bahkan sangat. Namun, ketika Hanna tak mencintainya dan ia selalu melakukan apapun agar gadis itu menjadi miliknya, bukankah sudah jelas Junmyeon egois? Memikirkan kebahagiaan dan kesenangannya sendiri tanpa memerdulikan orang lain.

.

.

.

“Hanna hanya mengalami trauma ringan karena sebelumnya ia juga pernah kecelakaan. Sebentar lagi dia akan sadar,” ujar pria paruh baya dengan jas putih kebanggaannya memberikan penjelasan. Bisa beliau lihat betapa khawatirnya semua anggota keluarga Hanna—sama seperti dulu. Karena, beliau-lah yang menangani Hanna dulu saat kecelakaan untuk yang pertama kalinya.

“Kamsahabnida, Seongsaengnim.” Ujar Hanbin pada dokter itu ketika hendak mengukir jarak keluar dari ruangan. “Aku bisa gila,” desis Baekhyun pelan. Pria itu hampir mati saat mendengar Hanna kecelakaan dan masuk rumah sakit. Dan yang lebih gila, saat Baekhyun memberitahu Sehun, pria Hesler itu lantas mengucapkan serangkaian umpatan demi memenuhi rasa kesal yang melingkupi otaknya.

Pasalnya, Sehun tak bisa menyiapkan penerbangan begitu saja. Ia masih punya segudang masalah di kantor dan harus diselesaikan sesegera mungkin. Mengesampingkan kekesalannya, Baekhyun lantas menghampiri Han ahjussi  yang masih bersalah mengenai insiden yang telah terjadi.

Ahjussi,”

“Maafkan Saya, kejadian tadi benar-benar diluar kendali.” Ujarnya memotong kalimat Baekhyun. Ia begitu merasa bersalah, karenanya, Hanna harus dirawat di rumah sakit dan sudah membuat semua orang panik. Hanbin yang menyadari itu ikut mendekat. Walau sebenarnya ada rasa kesal dan juga kecewa, namun rasa kasihan-lah yang mendominasi. “Bisakah Anda menceritakan kejadiannya?”

Pria yang sering dipanggil Han ahjussi itu membuang fokusnya ke depan—mencoba mengingat secara detail. “Karena hampir jam sembilan malam, jalanan mulai sepi. Maka dari itu saya hanya fokus menuju jalanan tanpa memerdulikan sekitar. Namun, tiba-tiba saja dari lawan arah ada cahaya yang sangat menyilaukan, hingga akhirnya Saya sadar bahwa itu adalah sebuah kendaraan yang memang sengaja mengemudi berlawanan arah. Setelah itu, Saya membanting setir ke pinggir jalan yang semua toko-nya sudah tutup untuk menghindari lebih banyak korban.”

Hanbin dan Baekhyun mengangguk, sedangkan Helena yang baru saja datang memekik sembari menghampiri Hanna yang masih berbaring di tempat tidurnya. “Hanna baik-baik saja, ‘kan?” cecar Helena pada Baekhyun yang membawanya kedalam rengkuhan. Mencoba memberikan ketenangan, walau sahabat Hanna itu nampak tak peduli.

“Hanna baik-baik saja. Ia hanya mengalami trauma ringan.” Jelas Baekhyun sembari mengusap puncak surai Helena. Ia tahu, Helena pasti akan khawatir setelah mengetahui kalau Hanna lagi-lagi mengalami kecelakaan, namun jika ia tak memberitahu, Helena akan jauh lebih marah padanya. Ia tak mau bertengkar dengan Helena untuk yang kesekian kalinya.

“Kau tak perlu khawatir, Lena. Semua akan baik-baik saja,” Hnabin turut andil menenangkan. Helena sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, jadi ia juga tak mau membiarkan Helena turut sedih dengan apa yang menimpa adik kandungnya sekarang.

“Kau sudah memberi tahu Sehun?”  bisik Helena pada Baekhyun. Keduanya pun akhirnya melepas rengkuhan. “Aku sudah memberitahunya. Hanya saja ia tak bisa ke Seoul minggu ini. Banyak tugas yang harus—”

“Sudah kuduga. Dasar pria!” umpat Helena. Gadis itu sangat kesal mendengar serangkaian alasan yang klasik seperti itu. Walau sebenarnya ia tahu masalah Sehun, tapi apakah Hanna juga tidak penting? Pikir Helena. Baekhyun yang mendengar umpatan Helena lantas menyahut. “Aku juga pria, Lena. Dan kau seharusnya mengerti masalahnya. Dia seperti ini juga untuk masa depan Hanna dan untuk memperjuangkannya.”

“Tapi, Baek. Hanna ‘kan—”

“Sudah, biarkan Sehun menyelesaikan semuanya. Bukankah kita juga keluarga Hanna? Yang terpenting adalah kesehatan Hanna sekarang.”

.

.

.

Setelah hampir sembilan jam menunggu, akhirnya sang empu sudah sadar. Matanya menyipit tatkala cahaya pagi sudah menyinari kota Seoul. Mengajak semua orang bergelut dengan pekerjaan mereka masing-masing, hingga lupa diri jika sudah berhadapan dengan yang namanya berkas.

“Hanna!”

Gerakan tangan Hanna berhasil membangunkan Hanbin dari tidurnya. Ia memilih menemani Hanna hingga sadar, namun pada akhirnya juga tertidur sembari menautkan jarinya pada jemari lentik sang adik. Hanna yang merasa terpanggil lantas melayangkan segaris senyum tipis pada sang kakak. Mimpi terburuknya akhirnya selesai. Dan orang yang pertama kali bisa ia lihat kembali setelah role film hitam putih itu berputar adalah sang kakak, Lee Hanbin.

Oppa,” panggil Hanna lemah. Hanbin segera menanyakan kondisi sang adik yang berhasil sadar selama sembilan jam tertidur. “Kau baik-baik saja? Ada yang sakit? Apakah perlu kupanggilkan dokter?” Hanbin mencecar sang adik yang masih lemah dengan deretan kalimat tanya yang justru membuat Hanna tersenyum. Bukankah wajah Hanbin lucu jika seperti ini? Ia begitu menyukainya.

Nan gwenchanha, Oppa. Geokjeongma,” ujar Hanna disela-sela kekehan kecilnya yang ikut menggema. Hanbin menautkan kedua alisnya. “Mengapa kau tertawa? Memangnya apa yang lucu?” tanya Hanbin kembali. Tak habis-habisnya menambah kalimat tanya kepada Hanna yang belum genap sepuluh menit sadar.

Alih-alih menjawab, Hanna malah membuang fokusnya menuju pintu ruang inapnya. Bisa ia lihat sang ayah yang berdiri tegap diambang pintu, membawa buah tangan berupa parsel buah dalam genggamannya. Hanna tersenyum menyambut pria paruh baya itu. “Kau sudah sadar?” tanya Tn. Lee sembari mendekat pada Hanna.

Kembali tak menjawab, ia malah memeluk sang ayah. Ini jarang sekali terjadi—tidak! Ini bahkan tak pernah terjadi dan tak akan pernah terjadi jikalau tak ada insiden yang menimpa Hanna kemarin. “Ayah, maafkan aku yang tak pernah mendengarkanmu.” Ujarnya. Entah apa yang ada dipikiran Hanna, yang pasti gadis itu pasti sudah mengingat semuanya. Hanbin pun sempat berpikir seperti itu.

“Apa maksudmu, Hanna?” Tn. Lee bertanya. Agaknya bingung dengan sikap sang bungsu yang tiba-tiba saja meminta maaf. Hanna kembali mengeratkan pelukannya, “Aku lari hanya karena keputusan Ayah yang melarangku belajar bisnis. Padahal, itu semua pasti demi kebaikanku.”

Tn. Lee bergeming. Jadi benar, bahwa Hanna sudah mengingat semuanya—beliau membatin. Tak berpikir lama, Tn. Lee lekas membalas rengkuhan sang anak perempuannya. “Tidak, seharusnya Ayah yang meminta maaf karena sudah mengekangmu dan membatasi keinginanmu. Ayah hanya tak mau kehilangan orang yang Ayah sayangi untuk yang kedua kalinya.”

Ketika kalimat itu selesai terucap, tiba-tiba saja ingatan Hanna menuju ke masa lampau. Dimana Hanna melakukan percakapan dengan ayah Sehun mengenai ibunya yang lari bersamanya.

“Ayah,” panggil Hanna disela-sela rengkuhan keduanya. Sang Ayah yang masih merindukan sosok gadis kecilnya itu lantas menunduk, “Aku sudah tahu mengenai ibu,” ujarnya perlahan. Ia mendongak demi menatap sang Ayah yang kentara terkejut. Kelopak matanya membulat, begitupun dengan Hanbin yang menampakkan raut wajah yang sama.

“K-kau mengetahuinya?”

Hanna mengangguk. “Ayah tahu Stephen Hesler? Dia yang memberitahuku mengenai masa lalu Ayah, Beliau, dan juga Ibu,” jawabnya. Tn. Lee membuang fokusnya. Beliau tersenyum kecut tatkala mengingat semua itu. Karena itu adalah kenangan pahit yang seharusnya terkubur dalam-dalam dan tak akan pernah terbongkar. Namun, fakta tak mengizinkannya.

“Jadi, dia mengatakannya?” Tn. Lee kembali bertanya. “Beliau mengaku menyesal, namun aku terlanjur memakinya dan akhirnya pergi dari Edinburgh karenanya. Aku bahkan meninggalkan Sehun yang—”

“Kau sudah mengingatnya?”

“Sehun?!”

.

.

.

Baekhyun terlebih dulu menjemput sang kekasih di mansion milik keluarga Jacobs. Sialnya, ia kembali bertemu dengan sang calon mertua yang sudah merestui hubungan keduanya. Walau sebenarnya Baekhyun tak tahu, gadis itu melayangkan ancaman kepada sang Ayah dan hanya diketahui oleh kedua manusia itu.

“Kau mau menjemput Helena?”

Suara bariton berat itu menyapa Baekhyun diawal perjumpaan hari ini. Baekhyun lekas menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, lantas menjawab, “Annyeong haseo,” sapanya. Kemudian dilanjutkan dengan jawaban yang seharusnya ia utarakan. “Ya, Saya ingin menjemput Helena. Kami akan kerumah sakit menjenguk Hanna.”

Tn. Jacobs mengangguk ringan. “Aku rasa Helena masih lama mempersiapkan diri. Bukankah secangkir kopi bagus untuk udara pagi yang sedikit dingin ini?” usulnya. Baekhyun yang agaknya ragu akhirnya mengangguk demi menghormati ajakan sang calon mertua.

“Siapkan dua cangkir kopi dan antarkan ke taman belakang.” Pinta Tn. Jacobs pada salah satu pelayan. Beliau lantas merengkuh bahu tegap Baekhyun dengan satu tangannya, sedangkan tangan yang lainnya menunjuk ke arah taman. “Maafkan pertemuan kita sebelumnya yang terlalu canggung dan juga serius. Aku belum pernah menghadapi calon menantu sebelumnya.” Ujarnya sembari menggiring Baekhyun menuju tempat tujuan.

Sesampainya di sana, Beliau mempersilahkan Baekhyun duduk. “Bagaimana menurutmu mengenai taman ini?”

Tanyanya mencoba mencari topik yang patut dibahas. Baekhyun pun mengangguk pelan, “Saya rasa Anda terlalu banyak menempatkan pot tanamannya pada satu sisi. Bukankah lebih baik jika mereka tidak ditempatkan disatu sisi yang sama?”

Tn. Jacobs meneliti bagian yang dimaksud Baekhyun. Beliau kemudian ikut mengangguk setuju, “Kau benar juga, lalu bagaimana menurutmu? Haruskah aku membuangnya?” Tn. Jacobs menimpali. “Tidak perlu, Anda bisa memindahkannya ke sisi selatan taman, lalu menambahkan dengan kolam ikan—mungkin. Selain agar tatanannya indah, juga bisa membantu fotosintesis tanaman. Karena mereka akan susah tumbuh jika kurang mendapatkan cahaya.”

“Maksudmu, berebut untuk hidup?” timpal Tn. Jacobs. Baekhyun terkekeh pelan, “Bisa dibilang begitu. Bukankah itu seperti Anda dan Juga Saya, Tn. Jacobs?” tanya Baekhyun mencoba memberi kode. “Apa maksudmu?”

“Saya tidak bermaksud menyalahkan Anda, tetapi Saya hanya menyampaikan pendapat mengenai pandangan Saya terhadap Anda.” Entah mendapat keberanian darimana, Baekhyun mampu mengatakan dan juga menyimpulkan dengan cepat semua kalimat kiasan yang Tn. Jacobs ucapkan. “Katakanlah Anda tak bisa hidup tanpa Helena jikalau ia menikah dengan Saya. Bahkan Anda takut dengan pekerjaan Saya yang hanya sebatas sekertaris CEO. Kemudian, jika suatu saat Saya tak bisa menghidupi kebutuhan Helena, ia akan menderita.”

“Maka dari itu, ketakutan Anda hanya akan mengekang Helena hingga ia tak bisa memilih apa yang ia inginkan. Orang tua memang tak salah untuk ikut andil dalam kehidupan anak mereka. Namun, bukankah membatasi antara aspek sosial dan juga kehidupan pribadi itu melanggar hak asasi manusia?”

Pria yang sudah menginjak kepala lima itu bergeming sejenak. Ia mencoba mencerna kalimat Baekhyun yang mengajaknya berdebat mengenai pandangannya selama ini menjadi seorang ayah. Pria Byun itu bahkan berani menyalahkannya—namun sialnya kalimat Baekhyun itu juga mengusik ketenangannya. Karena, dari semua tuduhan yang dituturkan dengan lembut itu memang benar adanya.

“Kau memang benar. Helena itu cahaya bagiku. Aku membutuhkannya untuk hidup dan aku akan melakukan apapun untuk kebaikannya. Karena aku seorang ayah yang hanya menginginkan kebaikan untuk anaknya.”

“Namun, Anda juga melakukan apapun untuk mencapainya. Seperti tanaman, mereka yang tumbuh lebih tinggi akan mendapatkan cahaya lebih banyak. Sedangkan tumbuhan yang lebih rendah akan kalah dan akhirnya mati.” Sahutnya cepat. Mencoba mengubah pemikiran pria paruh baya itu. Walaupun sebenarnya sulit.

“Lalu, sebenarnya kesalahan apa yang dimiliki tumbuhan yang tubuhnya rendah? Haruskah mereka menyalahkan sang pemilik? Atau bahkan sang pencipta?” tutup Baekhyun kemudian. Jika Baekhyun yang mati-matian mengungkapkan semua yang ia rasakan dengan kalimat kiasan, maka Tn. Jacobs malah mengulum senyum bangga diam-diam.

Beliau beralih menuju kopi yang baru saja tiba. Menyesapnya pelan, sebelum asapnya hilang ditelan udara pagi yang menusuk kulit. “Apa yang membuatmu yakin bahwa kau bisa membahagiakan anakku, Byun Baekhyun-ssi?” tanya Tn. Jacobs setelah selesainya menikmati secangkir kopi miliknya.

Baekhyun menghela napasnya. Ia menegapkan badan guna menambah keyakinan. Setelahnya, ia menimpali dengan keyakinan penuh. “Saya sudah melewati banyak hal. Dimulai dari hidup susah ditengah kota elit seperti Seoul. Menduduki jabatan yang bahkan enggan dilirik orang, hingga menjadi sukses seperti sekarang tanpa bantuan maupun mengandalkan koneksi.”

“Dan dari semua kehidupan yang sudah Saya jalani, sebagian besar Saya lewati bersama Helena. Anak gadis Anda sudah berhasil masuk kedalam sejarah kehidupan Saya hingga sekarang. Dan sampai saat ini, belum ada gadis yang bisa menggantikan posisinya. Karena, hanyalah Helena yang bisa menempati posisi itu.”

.

.

.

Setelah melalui berbagai negosiasi dengan Tn. Lee dan Hanbin, ia akhirnya bisa berdua bersama Hanna. Dalam satu ruangan dan tanpa siapapun di sana. Walau Hanbin siap membunuh Sehun jikalau pria Hesler itu berani menyakiti Hanna. Namun, Sehun sudah berjanji tak akan menyakiti dan juga membebani Hanna. Padahal, ia tak tahu konsekuensi apa yang akan ia hadapi jika mengetahui semua kenyataan pahit itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya Sehun mencoba memecah keheningan yang mulai tercipta sejak lima menit yang lalu. Agaknya kedua insan itu masih bingung bagaimana caranya melayangkan rengkuhan guna mengikis rasa rindu yang sudah lama menumpuk.

Hanna menganggukkan kepala sebagai jawaban, namun bibirnya masih bungkam. Semua pertemuannya bersama pria Hesler itu tak pernah berakhir baik. Ia pernah meninggalkannya di airport, lalu bertemu kembali ketika Hanna sudah berdampingan dengan Junmyeon, dan kini dipertemukan kembali dengan keadaan canggung yang luar biasa.

“Aku ingin mengatakan sesuatu,”

“Aku dulu,” timpal Hanna. Gadis itu akhirnya mau membuka suara walaupun berawal dari empat silabel yang terangkai menjadi satu kalimat perintah. “Aku ingin kau menjauhiku. Ini demi kebaikan kita berdua. Semua kenangan yang kita lalui hanya akan ada masalah tanpa ada ujungnya. Aku tak mau menyakitimu seperti sebelumnya—”

“Kau memang akan menyakitiku, namun aku akan terus mengejarmu hingga kau kembali kepadaku, Han!” sahut Sehun dengan beberapa penekanan dalam beberapa kata. “Kau memang banyak menanggung luka tanpa ku ketahui. Dan aku dengan brengseknya meninggalkanmu tanpa mencarimu kembali—”

“Semuanya sudah berakhir, Hun. Aku tak ingin menyakitimu dengan berbagai fakta yang ada. Cukup menjadi pukulan telak bagiku. Aku mencintaimu, Hun. Jadi, dengarkan aku,”

“KAU YANG DENGARKAN AKU, LEE HANNA!”

Habis sudah kesabaran yang Sehun siapkan sebelumnya. Kalimat Hanna bertele-tele dan tak bisa ia terima. Ia hanya menginginkan kebahagian yang sudah dirancang bersama, namun mengapa ceritanya jadi berubah sejauh ini?

“AKU MENCINTAIMU! Apakah kalimat itu tak bisa membuatmu yakin padaku? Aku menyukaimu, mencintaimu, bahkan rela mati demi dirimu. Mengapa kau tak mau mengerti!”

“Ayahmu sudah membunuh ibuku.” Ujar Hanna mengubah topik pembicaraan menjadi lebih sulit dimengerti. Entah keberanian darimana, ia mampu mengatakan semua rahasia besar itu. “Apa maksudmu? A-ayahku, membunuh ibumu?” Sehun akan jatuh jika saja penjelasan Hanna berikutnya semakin membuatnya terpuruk.

“Iya, ibuku meninggal ketika kecelakaan pesawat, dimana ia akan lari bersama ayahmu. Namun, sialnya, ayahmu selamat dan ibuku tidak.” Jelas Hanna dengan kelopak mata yang mulai tergenang. Ia mati-matian menahan semua sakit dan juga liquid yang siap menetes kapan saja. “Ayahmu yang menceritakannya padaku, agar aku meninggalkanmu.”

“Tapi, yang lebih sial saat aku tak bisa melupakanmu, Hun. Itu merupakan pukulan telak bagiku.” Tambah Hanna. Ia masih mendominasi percakapan hingga akhirnya tubuh jangkung itu jatuh. Lututnya menjadi tumpuan, sedangkan tangannya mengibas lemah. Ia sudah tak bisa mendengar semua kenyataan pahit itu.

Sedangkan Hanna, gadis itu terisak seiring jarum jam berdetak melewati angka-angka yang tak akan ada habisnya. Satu, hingga dua belas. Hingga akhirnya kembali menuju angka yang sama. Seperti cinta mereka berdua. Seolah sulit sekali menentukan tujuan, hingga akhirnya selalu menemui masalah dan tak akan ada habisnya. Namun, bukankah manusia lebih kuat ketika mereka bisa menyelesaikan masalah?

Di tengah suasana mencekam yang terjadi, Tn. Lee tiba-tiba menampakkan diri. Beliau sudah mendengar semuanya. Bukan bermaksud mencuri dengar, tapi ia hanya khawatir apa yang akan dikatakan anak muda itu akan menyakiti putri bungsungnya. Namun, semakin lama semakin larut kedalam percakapan menyedihkan itu.

“Kau putra Stephen Hesler?”

.

.

.

Baekhyun yang datang bersama Helena hanya bisa membelalakkan mata ketika kedua insan yang berbahagia itu mendapati sang kakak dan juga ayah dari Hanna berada di luar. Lalu, siapa yang menjaga Hanna didalam?

“Apa Hanna baik-baik saja, paman?” tanya Baekhyun dengan raut muka kentara cemas. Ia bahkan segera menghampiri pria paruh baya itu dengan cengkeraman di kedua bahu. “Hanna baik-baik saja.” Sahutnya lemah. Tn. Lee tak tahu harus menjawab apa. Pasalnya, ia tak tahu menahu mengenai kehidupan Hanna. Sehingga ia hanya bisa menyerahkan semua keputusan itu kepada Hanbin—anak sulungnya.

“Lalu, mengapa paman dan juga hyung ada di sini?” ia kembali bertanya, seolah tak ada kalimat tanya yang habis untuk dipertanyakan dan dicarikan jawaban. “Hanna bersama dengan Sehun—”

“KAU YANG DENGARKAN AKU, LEE HANNA!”

Suara bariton memekik itu berhasil mencuri atensi empat anak manusia yang sedang menerka-nerka apa yang terjadi di sana. Baekhyun yakin, Sehun pasti sedang bertengkar dengan Hanna mengenai kenangan mereka berdua. Hanbin yang tak terima pekikkan itu dikumandangkan lantas bangkit. Enggan mengulur waktu sampai adiknya menangis keras dan tak lagi berdaya.

Namun, urung dilakukan, Tn. Lee lebih dulu menahan Hanbin yang hendak merangsek maju. Mengerjakan tugas seorang ayah yang sebenarnya. Melindungi dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Sesekali menjadi pahlawan tak masalah, ’kan?

“Ayahmu sudah membunuh ibuku.”

Tangan Tn. Lee hendak memutar kenop pintu sebelum suara sopran Hanna menggantikan pekikkan bariton Sehun. Menimpali dengan suara lemah, namun masih bisa terdengar dengan jelas. Apa maksud kalimat Hanna? Ayahmu? Bukankah berarti pria yang ada di dalam sana adalah anak dari orang yang selama ini ia benci—Stephen Hesler?

“Iya, ibuku meninggal ketika kecelakaan pesawat, dimana ia akan lari bersama ayahmu. Namun, sialnya, ayahmu selamat, sedangkan  ibuku tidak.”

 “Ayahmu yang menceritakannya padaku, agar aku meninggalkanmu.”

“Tapi, yang lebih sial saat aku tak bisa melupakanmu, Hun. Itu merupakan pukulan telak bagiku.”

Cukup sudah! Tangan yang sebelumnya urung memisahkan keributan diantara anaknya dan juga anak rivalnya, kini sukses menjadi pusat perhatian. Beliau bahkan bisa melihat bagaimana perasaan dua insan itu ketika pertama kali melihat. Hanna yang menutup bibirnya kuat demi meredam isak tangis, sedangkan Sehun, pria Hesler itu bertekuk lutut di hadapan Hanna yang masih duduk di tempat tidurnya.

Sehun mendongak setelah menyadari kedatangan ayah Hanna diambang pintu. Pria paruh baya itu menatapnya terkejut, seolah ikut menanyakan kebenaran yang tak sengaja terdengar. “Kau putra Stephen Hesler?” tanya suara bass berat itu.

Butuh satu menit bagi Sehun untuk mencerna semua kata-kata dan merangkainya menjadi sebuah kesimpulan yang bisa ia ambil demi memenuhi kuriositas. Nama ayahnya dengan lengkap dan lancar diucapkan oleh ayah Hanna. Pria itu mengucapkannya seolah kenal dan sudah lama mengetahui satu sama lain.

Tak terduga dan juga tak bisa dinalar, Sehun bangkit dari peraduannya. Berlutut di hadapan Tn. Lee dengan kepala menunduk. Seolah ia amat menyesal dan ingin menebus segala dosa-dosanya. “Tuan Lee, atas nama ayahku, Stephen Hesler, meminta maaf yang sebesar-besarnya tentang masa lalu kalian yang berimbas kepadaku dan juga Hanna. Aku mencintai putrimu, sungguh. Namun, karena kesalahan ayahku, kami harus menanggung beban dan juga kesulitan.”

“Berdiri—”

Bukannya menuruti perintah Tn. Lee, Sehun malah semakin menjadi-jadi. Pria itu bahkan menyentuh kedua kaki pria paruh baya itu, dengan menggumamkan beberapa kalimat yang menegaskan betapa ia terluka mengenai masa lalu mereka. “Aku mohon, maafkan kesalahan ayahku. Atas nama ayahku, aku minta—”

“Berdirilah, nak. Jangan memohon,” ujar Tn. Lee sembari menjangkau bahu lebar Sehun, lantas mengajaknya bangkit. Ini bukan kesalahannya, dan ia tak seharusnya mengutuk Hanna dan juga Sehun dengan sederet luka masa lalu yang masih saja diungkit hingga sekarang. Rasa egois sudah hilang dari dirinya sekarang.

Mereka hidup bukan dijamannya dan bukan juga reinkarnasi dari percintaan masa lalu Tn. Lee yang rumit.  Mereka bereka berbeda dan ia tak mau anaknya ikut merasakan kesakitan yang sama. “Aku memang membenci ayahmu, bahkan mendengarnya pun membuat otakku mati rasa.”

Sehun semakin jatuh terlalu dalam, hingga hatinya semakin sesak mendengar seluruh kalimat itu. Namun, kalimat itu masih rumpang, dan sang empunya akan melanjutkan. “Tapi, melihat semua usaha dan juga pandanganku terhadapmu, kau sangat menyimpang dari Stephen. Kau pria yang baik dan aku percaya padamu.”

“Aku tak akan mempermasalahkan itu semua. Hanya saja, masih banyak masalah di depan yang perlu kalian hadapi. Entah itu besar ataupun kecil. Jikalau kalian memang benar-benar saling mencintai, kalian akan bersatu. Bukankah begitu?”

.

.

.

Junmyeon berhasil menarik atensi seluruh keluarga besarnya yang datang untuk jamuan acara makan malam. Pria itu sudah mengambil keputusan, bahwa ia akan memutuskan acara pertunangan sebelum dimulai. Pria itu punya tekad yang bulat, dan tak mau dianggap sebagai pecundang yang mengedepankan ego demi diri sendiri.

“Kau yakin?”

Junmyeon mengangguk yakin, bahkan sangat yakin. Hanna tak menyukainya, dan ia tahu betul itu. Bahkan ketika gadis itu mengantarkannya ke bandara, jari manisnya tak lagi terlingkar cincin platinum pemberiannya. Itu saja sudah menjadi bukti kuat. Dan semakin diperkuat dengan adegan roman picisan di pinggir sungai Seine. Semuanya jelas dan terpampang nyata.

“Kenapa tiba-tiba sekali? Bahkan pertunangan kalian tinggal menghitung hari.” Ny. Kim turut andil mengintrogasi putra sulungnya itu. “Hanya saja, aku dan Hanna tak saling mencintai. Kami memang menjalin hubungan selama dua tahun, namun itu tak membuktikan apapun kalau kami memang saling mencintai.”

“Apa yang kau katakan sebenarnya, oppa?” Kim Junhee ikut berpastisipasi. Agaknya tak mau begitu saja memutuskan hubungannya dengan Hanna—yang sudah ia sukai sejak awal pertemu. Kesan gadis Kim itu terhadap Hanna benar-benar berbeda. Hanna adalah gadis yang kuat dan pekerja keras. Sehingga Kim Junhee senang sekali menjadikan Hanna sebagai panutan.

“Maafkan aku,”

Lima silabel yang terangkum sebagai sarat akan penyesalan itu menggema sebelum Junmyeon menginjakkan kaki menuju pelataran mansionnya. Ia meninggalkan makan malam, padahal belum menyentuh sedikitpun hidangan yang tersaji. Mungkin juga malam ini ia akan menginap di hotel, menyendiri tanpa ada penolakan dari keputusannya.

Ia sudah lelah dengan semua yang terjadi. Ia lelah mencintai sepihak dan mengejar wanita yang bahkan tak mencintainya sedikipun. Dulu, ia pernah dengan brengseknya terbesit pikiran jahat demi mendapatkan gadis Lee itu. Mencuri pertahanan demi ego yang mengendalikan alam bawah sadar. Tak peduli bagaimanapun caranya, yang terpenting adalah mendapatkan apa yang ia mau.

Namun, hidup sudah mengajarinya bagaimana cara agar membunuh ego. Mengedepankan kebahagiaan orang lain sebelum dirinya sendiri. Tak mau berbahagia ria ketika orang lain sengsara. Mendapatkan apa ia inginkan dengan cara yang kotor itu hanya akan menambah masalah tanpa menyelesaikannya. Berlari dari apa yang seharusnya dihadapi, namun sembunyi dengan tameng tanpa peduli. Junmyeon bukan orang sepicik itu.

Dan kini, ia hanya bisa melangkah gontai menuju ruang rawat Hanna. Sejak sehari mendapat berita itu, Junmyeon belum sempat menjenguk. Maka dari itu, Junmyeon kini akan menemuinya sekaligus mengatakan apa yang sudah menjadi keputusan finalnya.

Sayangnya, Tuhan berkehendak lain. Sesampainya di ambang pintu, ia justru menemukan ruangan VVIP itu bersih tak berpenghuni. Apa ia salah ruangan?

“Permisi,” ucapnya pada salah satu perawat yang sedang merapikan kembali ruangan itu. Sang perawat yang merasa diajak bicara lantas mengalihkan fokusnya. “Iya, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan lembut. Junmyeon mengedarkan pandangannya sejenak—memastikan hipotesisnya benar. “Apakah pasien yang bernama Lee Hanna sudah pulang?”

Perawat itu terdiam sekejap, setelahnya mengangguk—membenarkan. “Benar, Ny. Lee Hanna sudah pulang. Mungkin sekitar setengah jam yang lalu.”

Junmyeon pun tersenyum, “Ah, baiklah kalau begitu. Saya permisi,”

.

.

.

Hanna menggenggam tangannya di atas pangkuan. Entah kenapa, ia selalu merasa tenang ketika bisa menatap dewi malam bersama bintang yang menemani. Seolah mereka itu selalu bersama dan bersinar tanpa halangan suatu apapun.

Namun, keheningan itu terusik ketika suara bass memanggil namanya. Memaksa kuriositas Hanna agar lekas menoleh guna menatap siapa pemilik suara itu. “Junmyeon?” gumam Hanna. Gadis itu terkejut ketika Junmyeon tiba-tiba saja ada di mansionnya tanpa pemberitahuan. “Bagaimana kabarmu, Hanna? Maaf aku tak bisa menjengukmu kemarin.” Sesalnya.

“Aku baik-baik saja. Aku tahu, kau pasti sibuk.” Sahutnya sembari bangkit dari bangku, lalu mendekat pada Junmyeon yang masih menunggu kedatangannya. “Tunggu! Kau ada masalah?” tanya Hanna dengan nada khawatir. Gadis itu tahu sekali bagaimana raut muka Junmyeon yang setiap bertemu dengannya nampak senang, kini berubah seolah terbebani.

“Ayahmu ada?” tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Hanna sekarang. Karena itu hanya akan membuatnya terpuruk dengan semua keputusan yang ada. Sebagai jawaban, Hanna mengangguk. “Mau kupanggilkan?”

“Tentu,” sahut Junmyeon dengan senyum tipisnya. “Kau bisa menunggu di ruang keluarga selagi aku memanggil—” Usul Hanna, namun lekas diinterupsi oleh Junmyeon.

“Kenapa di ruang—”

“Karena kau sudah kuanggap sebagai keluarga. Jadi, jangan membantah lagi, okay?”

Junmyeon terdiam, dan itu menandakan bahwa Junmyeon sudah menurutinya dan ia harus segara memanggil Tn. Lee. Disepanjang perjalanannya menuju kamar sang ayah, tersimpan berjuta kuriositas yang menumpuk mengenai kedatangan pria Kim itu ke mansionnya. Jarang sekali Junmyeon datang jika tidak karena acara yang menyangkut hubungan keduanya.

Sepeninggal Hanna, pria Kim itu lekas melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga Lee. Di sana, ia diguhi interior yang luar biasa. Ruangan itu terkesan bergaya eropa, dengan berbagai furniture bergaya serupa. Membuatnya sedikit tertegun, namun terkesan lebih mendominasi.

Desain-Ruang-Tamu-Gaya-Victorian-Klasik.jpg

“Kau siapa?”

Junmyeon lekas berbalik ketika mendapati suara bariton menyapa pendengarannya. Jika itu suara Hanbin, ia bisa mengetahuinya dalam sekali dengar. Namun, suara bariton itu nampak berbeda. “Kau siapa?” tanya Junmyeon kembali, enggan menjawab pertanyaan sebelumnya.

I first who ask you, man.” Ujarnya sarkatis. Pria bertubuh jangkung itu mendekati Junmyeon dengan tatapan tajam. Menyelidik dari atas hingga bawah, hingga akhirnya kembali lagi kepada peraduan maniknya. “Tunggu. Sepertinya aku mengenalmu, bukan?”

“Kau mengenalku? Tapi aku tidak—”

“Kau tunangannya Hanna?” suara bariton itu kembali menginterupsi untuk kesekian kalinya. Setelah menyelidik hanya berbekal gambar, kini ia bisa menemui pria itu langsung. “Kami belum resmi bertunangan,” ralat Junmyeon. Diam-diam, tangan keduanya mengepal di sisi tubuh. Memendam amarah yang kentara hingga akhirnya Hanna yang turun tangan.

“Sehun? Ada urusan apa kau kesini?”  suara sopran Hanna berhasil memecah keheningan yang mencengkam. Kedua pria itu lekas mengalihkan perhatian menuju sosok gadis itu beserta sang ayah yang ada disampingnya. Menatap Sehun dan Junmyeon bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan.

Alih-alih menjawab, Sehun justru mempertanyakan pertanyaan yang sebenarnya membuat dirinya sendiri tersudut. Statusnya di sini hanyalah sebagai masa lalu Hanna yang tak berarti apa-apa, bahkan belum mengenal sisilah keluarga Lee. Sedangkan Junmyeon, pria itu sudah diperhitungkan untuk menjadi pendamping Hanna dan status keluarganya melebihi Sehun. Posisi Sehun terancam!

“Apakah dia tunanganmu, Hanna-ah?” tanya Sehun dengan nada yang mungkin bisa mengindikasikan syarat akan keterkejutannya yang diluar ekspektasi. “Dia. . . calon tunanganku.” Jawab Hanna pelan. Namun, suaranya masih bisa terdengar hingga ke cuping telinga Sehun. Pria Hesler itu mendesah. Jadi, ini yang dimaksud ‘masalah di depan’, kata Tn. Lee. “Junmyeon? Mengapa kau mencariku?” suara bass berat Tn. Lee memecah keheningan yang tercipta—lagi.

Junmyeon yang merasa dipanggil lantas mengalihkan perhatiannya menuju Tn. Lee yang hendak mengajaknya berbicara. Sebenarnya, sebelum berangkat ia melangkah dengan pasti dan bersikukuh akan memutuskan hubungan mereka. Namun, mengapa sekarang ia jadi ragu setelah melihat pria asing yang sialnya ‘lebih’ darinya?

“Saya ingin mengatakan sesuatu, Tn. Lee. ”

“Ya, katakan saja. Tak perlu sungkan.”

Junmyeon menyempatkan diri menatap kembali pria yang berdiri tak jauh darinya. “Saya ingin mengajukan pertunangan Saya dengan Hanna. Tiga hari lagi,” ujarnya pasti, bahkan tanpa rasa ragu yang terselip disetiap katanya. Baik Hanna, Sehun dan Tn. Lee dibuat terkejut dengan peryataan itu. Pria ini sedang tak bercanda, ‘kan? batin Hanna.

.

.

.

“Helena, Hanna mengirim pesan.” Ujar Baekhyun memberitahu. Keduanya sedang menyantap makan malam dan makanannya baru saja disajikan. “Balas kalau begitu,” sahut Helena yang asik mengaduk mangkuk ramennya. Sumpit yang sudah ditangannya pun dengan lihai mengapit mie yang tersaji di dalamnya. “Helena, ku mohon serius kali ini.”

Baiklah, Helena yang mendengar rengekan Baekhyun lekas menghentikan aktivitasnya sejenak. Mengalihkan atensinya menuju layar ponsel lima inci Baekhyun yang dihadapkan padanya. “Bantuan?!” pekik Helena sembari merebut ponsel itu dari sang empu. Ditangan Helena, gadis itu diam-diam membalas pesan Hanna.

“Baekhyun-ah,” Helena memanggil Baekhyun yang kini giliran sibuk dengan ramen miliknya. Tatapan mata gadis itu kosong, ia terlalu syok dengan balasan yang Hanna kirimkan. “Apa? Ada masalah?” tanya Baekhyun selagi mulutnya sibuk menguyah ramen.

“Sehun dan Junmyeon ada di rumah Hanna,” sahut Helena lemah. Ia tak bisa membayangkan bagaimana seorang Sehun yang tak bisa mengendalikan emosi bisa menghadapi Junmyeon yang pintar berkelit dan mematahkan lawan dengan kata-kata tajamnya. Oh, ini perang dunia ke tiga! Seru Helena dalam hati sembari mengacak rambutnya frustasi.

Enam kata yang dikumandangkan Helena menjadi pukulan telak bagi Baekhyun. Bahkan pria Byun itu sempat tersedak setelah mendengarnya. “Sehun dan Junmyeon bertemu?! Di rumah Hanna?!”

“Hanna bilang kita harus membantunya. Masalahnya semakin rumit.”

“Rumit apanya?”

“Junmyeon mengajukan tanggal pertunangan mereka.”

.

.

.

“Kenapa tiba-tiba sekali, Junmyeon-ah? Bukankah kalian sudah menetapkan tanggal pertunangannya?” tanya Tn. Lee yang sebenarnya masih terkejut, namun menetralisirnya sebaik mungkin. Ia tahu bagaimana perasaan Sehun saat ini, karena umurnya sudah menginjak kepala lima dan sudah paham apa itu rasa pahit dalam kehidupan.

“Saya rasa akan lebih baik jika mempercepatnya. Bukankah ini ide yang bagus?”

Junmyeon gila! Semua kata-kata itu tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bagaimana mungkin ia bisa mengubah keputusan dalam hitungan jam? Ini bukan Junmyeon. Seolah roh jahat sudah memasuki raga Junmyeon hingga ia tak bisa berpikir dengan jernih sekarang.

Well, kalian sudah besar sekarang. Kau, Sehun dan juga Hanna. Aku tak bisa mengekang keputusan yang Hanna buat. Pasalnya, ini adalah keputusan sekali seumur hidup.” Jawab Tn. Lee mencoba menjadi penengah. Ia tak mau ego kembali menguasai diri untuk yang kesekian kalinya. Anak bungsunya juga perlu hidup sesuai yang diinginkan, kendati ada batasan disetiap langkahnya.

“Hanna, bagaimana denganmu?”

“…”

Alih-alih menjawab, Hanna lebih memilih diam. Mencerna pertengkaran ini untuk yang terakhir kalinya. Ia masih bingung memilih keputusan. Pasalnya, ia tak ingin membuat Junmyeon sedih dan kecewa, namun juga tak ingin membuat Sehun sang pujaan hati ikut bersusah hati. Ia dalam posisi dilema sekarang.

“Hanna—”

“Berikan aku waktu, Ayah. Aku akan memikirkan ini sekali lagi.” Suara sopran Hanna akhirnya menggema. “Dan tak akan ada pertunangan selagi aku belum memutuskannya.”

.

.

.

.

.

5.032 word! Chap ini bikin aku stress luar biasa. Aku ngerasa gak dapat feel sama sekali waktu bikin ini. Bahkan otakku yang kadang-kadang encer ini harus dikalahkan oleh hidung menyebalkan yang bikin aku sengsara. Aku FLU!!!/alay mode on/

Okay, gak banyak cuap dan curhat. Aku akan beri clue untuk pass chap terakhir. Mungkin akan lebih panjang atau bahkan lebih sedikit, yang pasti gak gantung dan gak buat readers sakit hati gegera endingnya yang gak sesuai harapan. Yang pasti, aku udah kapok dengan yang namanya password!

See? Aku baik hati banget, ‘kan?/bikin shyshyshy ala sana/ Clue-nya akan aku bagikan di blog pribadi/sekaligus promo/

Jangan lupa tinggalkan jejak guys.. entar kalo aku baik hati gak perlu clue langsung dikasih/sok baik -_-/

Thanks for all atention. Love you!

http://blackandwhitesnowblog.wordpress.com

Advertisements

21 thoughts on “TAKE IT SLOW—Chap.11”

  1. WAH DILANJUT😱
    Asyique panjang nih chapternya. Ih mau endingnya sama sehun aja jangan sama junmyeon:v next jangan kelamaan ya cukup yg lama nungguin doi aja🔫
    Oke malah komen ngawur. SEMANGAAAAD

    Like

  2. Cie yang sakit cieee,, putri bisa sakit putri?? Wkwkwk GWS ya uri dongsaenggg 😙😙😚 /ngejilat dikit biar clue passnya ga susah/

    Awas aja sampe nanti endingnya gantung,, kamu yg eonni gantung /psikopatmodeon/ wkwk

    Kalo sama aku langsung masih kan pwnyaaaa??😆😆 wkwk

    Yah pokoknya semangat nerusin epep ini yaaaa,, jaga kesehatan jangan sampe sakit lagi ntar ga maksimal hasilnya /CIYE ELAH GELI GUA WKWKK/

    Semangat teruss beb 💪💪

    Like

    1. APA INI!!/kepala mulai pening/ *dongsaeng alay

      BTW, clue-nya udah aku post, lho. Padahal ffnya belum bikin /ketawa evil/

      Endingnya gak gantung kok, eon. ‘kan belum bikin 😀

      nanti kalo sama eonni kongkalikong aja deh buat pw, ‘kan kita sama-sama makhluk astral.. /apaan?/ *abaikan

      /yang disemangatin ngelap ingus/ iya kak, semangat juga yang besok mau ulangan matematika.. Udah siap contekan belum? 😀

      Like

      1. Ciye elah segala bahasanya pening biasanya juga punyeng(?) /nyeblak banget ya bahasa akyuuu yg biasanya pake bahasa alay wkwk/

        Ih gimana,, orang mah cerita dulu baru nyebar pw ckck put put wkwk

        Siapa yg mau ulangan kamu?? Apa aku?? Kamu aku aja deh ya biar jadi kita eaaaa /akibat terlalu lama digantungin/ wkwk

        Like

  3. Astagaaahh.. junmyeon kamu itu kenapa?? bener2 nih bocah holkay !! biarin hanna sma sehun lah, iiiihhhhh emosi gue sma junmyeon!!

    aku berharap banget endingnya hanna sma sehun, pkoknya haruuuss sma sehun titikk/maksa/

    aku nunggu nextnya.
    dan cpet sembuh ya put. GWS
    FIGHTING !!!

    Like

  4. Kenapa malah dimajuin tanggal.a bukannya niat.a mau dibatalin????
    Tapi bagud deh ayahnya hanna dendam sma sehun gegara ayahnya sehun..
    Tinggal gmna hanna ajah mau milih sehun apa junmyeon??
    Sma ayahnya sehun dehh…

    Like

  5. Sumpah aku gemes bgt sma si Suhooo, cman gara” Hanna ngomong “Karena kau sudah kuanggap sebagai keluarga” dia langsung kyk seneng bgt, sumpah gemes beudd sma si Suho. Btw aku mnta pw ep terakhir d Line yaa, bls secepat.a plisss 😊
    Pengen cpt Nexxtt

    Like

  6. Ugh, deg-degan baca chap ini. Mulai dari Hanna yg ingatannya udh kembali, trus nyuruh Sehun buat menjauh, smpai Suho mempercepat tnggal pertunangannya mereka. Smoga Hanna nolak + batalin pertunangannya

    Liked by 1 person

  7. Uhhh itu deg deg an masaa
    Sehun jumyeon kek berantem dalam diam:3
    Osh jangan kalah yaaak
    Semangatt
    Perjuangin hanna jangan kalah sama junmyeon:3
    Hanna juga gausah ragu pilih sehunnn
    Jangan salah pilih:3
    Kesiann osh imut ituu:3

    Like

  8. knp jln ceritanya seperti itu, aku fikir Junmyeon datang kerumah hanna untuk membatalkan pertunangan mereka. kok malah Junmyeon mempercepat hr pertunanganya sih. Terus keputusan apa yg akan hanna ambil? . panasaran bagetnih

    Like

  9. Tuh kan bener kan (bener apaan?) ayo hanna pilih sehun jangan suho jadi suho buat raisa aja (tijel). Dimana cahyo kak? Jangan diumpetin gitubsi cahyo kasian di cariin orang tuanya, makin greget aja nih ff 👏

    Liked by 1 person

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s