#5 Everything has Changed

https://indofanfictionsarts.files.wordpress.com/2016/07/everything-has-changed.jpg?w=450&h=631

Everything has Changed

Chapter 5

Oh Sehun | Arial Ahn | Xi Luhan

AU;Drama;Dark;Romance;School-life;Friendship;Brother-ship

PG-15 /G

Arin yessy on IFA for credit cover

“Karena semuanya sudah berubah dan tak sama lagi.”

 

 

-EHC-

“Kau harus mulai belajar tentang bisnis.Karena satu-satunya pewaris sah atas Ohesang Company adalah kau seorang, anakku.”

“Berhenti untuk mengaturku,Appa. Aku sudah membicarakannya dengan hyung, bagaimanapun ia juga anakmu.”

“Tapi, ibumu adalah istri sah–kau harus tau itu.”

“Tapi, kau meninggalkan ibu yang sakit. Dan mengasingkannya!”

Plak!

Lelaki itu ditampar keras oleh sang Ayah. Namun, ia tak bergeming juga.

“Jaga bicaramu!–pokoknya ayah tidak mau tahu kau harus mengambil bisnis dijurusan kuliahmu nanti.”

“Kita lihat saja, ayah–bagaimana Tuhan menentukannya nanti. Aku permisi dulu–”

*

*

*

“Rial?–cepat bangun, perpus sudah mau ditutup!”

“Apa?–tutup?–Ya Tuhan!”

“Kau ketiduran disini sendirian?”

“Tadi aku bersama Sehun, sial!aku–”

Arial langsung membungkam, ketika melihat note kecil tertempel diatas meja.

*Bukumu aku bawa, jika ada waktu akan aku periksa.

*Segera masuk keasrama dan istirahatlah ketika lampunya sudah menyala.

*Tidurlah yang nyenyak.

p.s– OSH

 

“Apa itu dari Sehun?Apa isinya?” Hye Ri melirik isi note itu yang langsung dimasukkan oleh Arial kedalam tempat pensilnya. Mengapa Arial melakukan hal demikian? Yaa, karena dulu Hye Ri pernah menyukai Sehun, entah kalau sekarang.

“Hanya kata-kata meledek orang bodoh sepertiku–ayo, kita ke asrama, Hye Ri.” ujar gadis itu mengalihkan topik dan menggandeng lengan gadis itu, Hye Ri hanya mensungutkan bibirnya dan menuruti perkataan Arial.

“Umm, baiklah..”

*

*

*

Sehun masuk kedalam kelas, begitu orang yang ia lihat pertama adalah gadis yang duduk paling belakang yang terletak dibelakang tempatnya duduk. Lantas, tanpa berkata apa-apa Sehun duduk ditempatnya sedangkan yang sempat Sehun perhatikan tadi hanya serius pada ponselnya, ia tampak mendengarkan lagu dengan headsheat yang menyumpal kedua telinganya.

 

Bahkan, bisa juga ia sama sekali tidak tahu kedatangan  Sehun. Baru saja, Sehun berbalik dan ingin menyentuh lengan gadis itu, seseorang memanggilnya. “Sehun!Kita ada rapat osis hari ini, Jun sudah mencarimu.” kata seorang gadis yang berdiri diambang pintu. Sebelum pergi, Sehun memandang sahabatnya itu sekali lagi. Barulah ia pergi keluar kelas.

Sepeninggal Sehun, Seok Min masuk kedalam kelas dan menghampiri Arial. “Hei,Arial!Bagaimana dengan tugas guru Han?”

Arial tampak berpikir sejenak,jangan tugas belum tentu setiap hari ia bawa buku sesuai jadwal. “Guru Han?Oh–fisika?–”

“Sudah?” Seok min menaikkan alisnya–ia pun tahu jawaban Arial pasti belum–tapi, tetap saja ia bertanya. Alasannya; Seok min suka sama Arial, tapi untuk tugas Arial tak pernah mau menyusahkan lelaki itu entah kenapa. Lagipula, terkadang Sehun malah melarangnya.

“Belum–Sehun–dimana dia?” Arial tampak melihat bangku didepannya yang masih kosong. Melihat itu, Seok Min segera bersuara agar gadis itu tidak bawel.

“Semua anak osis sedang rapat untuk tahun ajaran baru.”

“Ng–lalu tasnya?” Arial mengalihkan pandangannya ke Seokmin.

“Dia pasti membawanya–orang jenius biasanya pelit.” sindir Seok min seenaknya, membuat Arial menatap Seokmin malas,mengapa kesimpulan lelaki itu tentang Sehun seakan-akan ia menganggap Sehun musuh terbesarnya. Padahal, Sehun sama sekali tak pernah ada urusan sama ketua kelas 3-2 ini.

“Jangan sembarangan bicara –untuk seorang Arial Ahn kepelitannya musnah.” ujar Arial lalu mencopot headshet yang terpasang ditelinganya dan memasukkanya kedalam jaket yang ia pakai.

Tentu, itu jaket Sehun yang ia tinggal tadi malam di perpus.

“–kau memang punya pesona sih–” Seokmin memegang dagunya. Sedangkan yang dipuji masih sibuk mencari sesuatu yang ia butuhkan

“Pesona-pesona –setelah itu aku akan mendapat kutukkan tajam darinya.–astaga!” mata Arial membulat,tersirat sedikit kepanikkan dimatanya.

“Ada apa?” tanya Seokmin

“Bukuku dipegang oleh Sehun –aish!Tuhan mengapa hidupku malang sekali!” keluh Arial seraya mengantukkan kepalanya di meja.

“Kau baik-baik saja ‘kan, Arial?” mendengar pertanyaan Seokmin, Arial mengangkat kepalanya dan mentautkan alisnya.

“Hmm, iya.Kenapa?”

Seok min menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tapi yang ia lihat memang gadis itu sedikit pucat.”Wajahmu agak pucat–”

Arial memegang pipinya sendiri, ia memang tak merasa baik-baik saja sejak tadi malam, namun Arial tak begitu memusingkan keadaan wajahnya yang pucat.”Ini karena aku cuci muka dengan air dingin di asrama. Jangan cemas!” desis Arial dan kelas.

“Kau mau kemana?” tanya Seok Min seraya menaruh tasnya. “Toilet.” singkat Arial lalu berjalan meninggalkan kelas.

Meski bel berbunyi, ia tak perduli. Ia pergi ke toilet, membasuh wajahnya dan setelah itu ia pergi ke loker miliknya. Menaruh jaket milik Sehun. Ketika ia tiba diambang pintu kelasnya, sudah ada guru Han. Ada dua anak osis dari kelas 3-4, Arial tahu, mereka adalah Go June dan Yoon San Ha. Sehun cukup dekat dengan dua lelaki itu. Kenapa? Mereka seperti punya satu otak. Bagi Arial, mereka semua adalah sekumpulan Alien yang tersesat dibumi.

Sepertinya, dua lelaki itu meminta izin agar Sehun dapat mengikuti kegiatan rapat osis, Guru Han terhitung guru yang tak kooperativ dengan muridnya, ia tak akan mencoba melindungi muridnya jika terkena masalah, justru dia adalah orang yang paling sering mengadukan permasalahan anak-anak ke Dewan Kedisplinan.

 

Dan, itu menyebalkan sekali menurut Arial.

Meski begitu, Arial tetap melangkahkan kakinya kekelas, tentu segera setelah dua lelaki itu keluar. Mereka sempat berpapasan, namun tak ada satu dari mereka yang menyapa Arial, malah– mereka menatap Arial seperti orang aneh. Arial hanya menggeram sendiri.

Tok Tok..

 

Guru Han menoleh, ia berjalan menuju Arial yang hanya berdiri diambang pintu. “Darimana kau, Ahn?” tanya Guru Han dengan penggaris kayu ditangannya.

Arial tahu, seisi kelas seperti sedang menatap maut Arial, menunggu drama seru antara Guru Han dan dirinya. Termasuk.Seok Min, yang ingin menolong tapi tak dapat berbuat banyak.

Namun, Arial  bersumpah, kali ini ia hanya pasrah, bahkan harus.

Kenapa? Karena, Sehun tidak berada dikelas. Ia tidak disini sekarang. Arial harus menghadapi resikonya sendirian. “Aku –”

“Kumpulkan tugas kalian cepat! dan juga kau, Ahn.” sontak guru Han, yang membuat para murid langsung berjalan kedepan dan mengumpulkan tugas mereka. Arial hanya menunduk dalam diam.

“Dimana tugasmu, Ahn?” tanya Guru Han dengan mata yang memandangnya intens. “Aku belum menyelesaikannya –bukuku tertinggal, Guru Han.” desis Arial dengan wajah menunduk.

Ia seperti menunggu penggalan dari algojo sekarang. Mengapa ia tak sepintar saat sekolah dasar? Kemana dirinya yang dulu? Arial mengutuk dirinya sendiri.

Ia pasti mati ditangan guru Han hari ini.

“Lari berputar lapangan hingga jam kelasku habis. Sekarang!”

Arial hanya terdiam dan hanya membungkukkan badannya, lalu pergi keluar  kelas.

*

*

*

Ruang Osis begitu ramai, sebetulnya, Sehun tak suka berada ditempat ramai, kecuali perpustakaan. Namun, karena banyak yang memilihnya saat pemilihan anggota osis, ia harus maju juga dan menjalani kewajibannya.

Ia pun memutuskan untuk keluar sebentar untuk menghirup udara segar.Ada anak -anak kelas lain yang berolahraga dan ada dua orang lain yang berlari memutari lapangan, Sehun hanya menggeleng, ia berpikir pasti itu hukuman karena tidak mengerjakan tugas.

“Sehun!kami sudah bilang pada guru Han, ia bilang tidak masalah.” ujar June yang datang, “Ehm, terimakasih, June.” pungkas Sehun dan mengembalikan fokusnya kelapangan. Seorang siswi berambut lurus sepinggang berdiri disampingnya.Dan, Sehun tak terlalu perduli dengan gadis ini. “Apa sih, yang kau lihat?” tanya gadis dengan tag nama Choi Yoo Ju itu.

Sehun hanya terdiam.

Sejujurnya, Sehun bertingkah demikian, karena ia pernah menaruh perasaan pada Yoo Ju, namun hilang begitu saja di akhir kelas dua. Sehun pikir, umurnya yang sekarang adalah masa dimana seseorang beranjak dewasa, menyukai hanya sekedarnya saja.

Tak Lebih.

Dan, Arial sama seperti dirinya. Tentu, ia menyukai Luhan hanya sekedar kagum saja ‘kan? Mungkin saja, ia tertarik. Tetapi, tak mungkin hingga sejauh itu kan? Maksud Sehun, dimana debaran jantung akan berkerja dua kali lebih cepat dari biasanya.

Arial, gadis itu –tak punya perasaan seperti itu pada kakanya ‘kan?

Hey, mengapa Oh Sehun jadi mendramatisir perasaan seperti ini?

Ini gila, pikir Oh Sehun.

Rasanya, sesuatu seperti merayap di dinding hatinya.

“Hey?Sehun, bukankah yang dilapangan itu Arial?” tanya Yoo Ju dan menunjuk kearah lapangan. Sehun memicingkan matanya, dan tak tahu apa ia harus membenarkan perkataan Yoo Ju.

Ia hanya ingin, itu salah. Titik.Dan, Selesai.

Tapi, itu Seok Min. Benar. Gadis itu adalah Arial.

“Apa yang Seok min lakukan disana?–” tanya Yoo Ju, “Tentu saja dihukum.” sahut Sehun singkat. “..setahuku, dia anak yang rajin.Dia pasti menyukai Arial, yah, lagipula sebetulnya Arial itu cantik, kalau saja dia agak sedikit merapihkan penampilannya.” begitu Yoo Ju menoleh, Sehun sudah berada diujung koridor dan menuruni tangga.

Sosoknya hilang, Yoo Ju hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan pekerjaannya.

*

*

*

Seok Min masih berlari disamping Arial, namun gadis itu cuek saja. Ia hanya melihat jam digital yang melingkar ditangannya. Ia berpikir, kapan jam guru Han usai.

Ia sungguh seperti di Neraka.

Ditambah Seok Min yang berada disampingnya,bagi Arial itu menganggu. Mengganggu, membuat Arial merasa tak nyaman karena Arial tahu, Seok Min pasti mengerjakan tugasnya, dan melakukan tindakan konyol ini hanya demi dirinya, itu bukan hal yang berguna.

Justru, membebani dirinya.

“Kau pasti mengerjakan tugas guru Han ‘kan –Seokmin?” Arial akhirnya bersuara, sudut matanya melihat kearah Seok min.

“Darimana kau tahu?”

Mendengar jawaban Seokmin, Arial hanya memutar matanya lamban.Mereka masih berlari, entah ini sudah yang keberapa kali.

“Seharusnya kau tidak usah melakukan hal tak berguna seperti ini. Membuatku merasa bersalah –kau itu ‘kan bukan anak yang selalu mendapat pandangan tidak enak dari guru. Karena,kau dan Oh Sehun itu sama.” Arial berujar. Peluh sudah membasahi tubuhnya. Seokmin membulatkan mata, lalu ia terkekeh pelan.

“Apanya yang sama?Dia begitu dingin, datar, arogan, deksripsinya sangat berbalik denganku, Arial..”

“Tapi, kau sama-sama siswa pintar. Lagipula, kau tidak tinggi, kau juga tak setampan Sehun.” ledek Arial seraya menghamparkan tawa, yang menurut Seokmin sungguh cantik. Tapi, ia tak benar-benar marah walau Arial sudah berkata begitu.

“Kalau itu, tak usah dibahas. Lagipula, aku sudah banyak terdiam dihari lain ketika kau dihukum oleh para guru dan si–Oh yang selalu membelamu, sebagai seorang lelaki yang menyukai seorang gadis, bukankah hal seperti ini wajar dilakukan –Ahn -ssi?” katanya sambil menyengir lebar.

Arial menghentikkan larinya, ia menyedekapkan kedua tangannya.

“Heol!kau sungguh menyukaiku?–”

“Tentu saja, 100%..” jawab Seokmin masih menyengir.

“Maaf, tapi aku tidak..Seok min -ssi. Aku hargai perasaanmu– tapi, aku belum merasakan seperti itu hingga sekarang.” Arial menaikkan bahunya, ia kembali berlari.

“Yah, tak masalah sih..lambat laun juga kau akan suka padaku..” Seokmin berkata begitu yakin.

“Jangan bermimpi..” sahut Arial, dan bel kembali berbunyi, menandakan jam guru Han usai. Anak-anak yang pada olahraga segera kembali ke kelas mereka.

“Oh!jam guru Han selesai. Aku ganti baju olahraga dulu..” ujar Seokmin lalu menepuk bahu Arial. Gadis itu hanya menghela nafas panjang, netranya sedikit melebar begitu melihat sosok yang ada ditepi lapangan.

“Ah, benar.. olahraga..” gumam Arial, sesungguhnya, gadis ini tak benar-benar gemar dengan apa yang namanya Olahraga. Kecuali, ia olahraga bersama Luhan, itu beda lagi.

Tapi, dengan lelaki tiang listrik ini, tidak ada sesuatu yang benar-benar mengasyikkan. Mereka banyak melakukan hal bersama, tapi, hal yang paling menempel diotak Arial adalah saat dimana lelaki itu untuk pertama kalinya menunjukkan rasi bintang pada musim dingin ditingkat pertama sekolah menengah pertama mereka.

 

Arial hanya merasa, disitulah Sehun adalah Oh Sehun yang ia kenal pada umur 7 tahun. Oh Sehun yang tak neko-neko, Oh Sehun yang harus ia akui adalah lelaki yang mempunyai tangan hangat ketika musim dingin sekalipun, Oh Sehun yang selalu memasang wajah terkejut ketika pertama kali ia melihat nilai fisika Arial hanya berangka 3.

Tanpa sadar, gadis itu hanya terkekeh sendiri dan tanpa sadar juga Sehun yang menatapnya dengan alis yang bertaut. “Ya!kau gila?–Apa harus sebahagia itu berlari bersama Seokmin?” tanyanya.

Dan, inilah Oh Sehun yang sekarang. Lelaki datar untuk beberapa hal–datar ekspresi dan datar perasaan. Pantas juga, orang-orang bilang kalau dia adalah orang Arogan.

Mungkin, inilah proses menuju dewasa, orang-orang akan berubah dan cenderung tak sama lagi setelahnya. Bukan berubah sepenuhnya, hanya mengubur beberapa sisi yang terasa tak pantas untuk diperlihatkan.

Bagaimana dengan Arial?

Sepertinya ia masih dirinya, tanpa ada perubahan yang berarti.

Yang ada makin berantakan.

“Apanya?–kau kenapa?Ini semua juga karenamu.” teriak Arial begitu keras. Arial tak butuh omelan dari Sehun, yang ia butuhkan sekarang ini air. Ia pun berlari meninggalkan Sehun dan segera membasuh wajahnya dan meneguk air yang mengalir dari keran.

Sehun berdiri dibelakang Arial, ia masih menunggu gadis itu untuk menjelaskan maksudnya apa kalau ia dihukum karena seorang Oh sehun.

Mustahil.

“Ya–jelaskan padaku apa maksud kalimatmu barusan.” todong Sehun begitu Arial berbalik setelah usai cuci muka. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya, menghela nafas kasar, ia sudah lelah pagi ini, kenapa Sehun tidak menyimpulkan sendiri kenapa ia berbicara begitu, ditambah sesuatu membuat kepalanya pusing.

Sehun terdiam, melihat wajah Arial yang begitu pucat. Gadis itu hanya berjalan melewatinya, namun dengan segera jemari Sehun menahan lengan Arial. “Kau–pucat. Tidak usah olahraga hari ini.”

“Nilaiku sudah kurang banyak, sekarang kau melarangku –hanya karena wajahku pucat. Keterlaluan sekali kau, Oh Sehun!.” Arial menepis tangan Sehun, ia segera keruang ganti, sudah ada beberapa temannya yang sudah berganti pakaian.

“Arial?kau tampak pucat –kau baik-baik saja?” Min Soo bertanya, Arial hanya mengangguk dan segera berganti pakaian.

*

*

*

Sehun masih menunggu Arial, entah mengapa,hatinya merasa tidak tenang. Ia ingin melangkah kembali ke ruang Osis tapi, kakinya terasa berat untuk melangkah, membiarkan gadis itu sendirian dengan wajah pucat seperti itu, hanya terasa mengganjal dihati Sehun.

Ada sebuah panggilan dari Yoo Ju, ia menggeser tombol hijau dan mendengarkan suara gadis itu dari seberang.

“Kau dimana?”

“Sebentar lagi aku kesana, Eoh. Arrasseo!” Panggilan terputus. Arial berjalan sendirian. Sehun menghadang jalannya untuk menuju kelapangan.

“Minggir!Sungguh, aku baik-baik saja..” tampik Arial, ia melihat Sehun sudah tak tegas lagi. Pandangannya buram, namun ia tetap memaksakan berjalan.

Arial akui, ia sekarang tidak baik-baik saja.

Kepalanya semakin berat,lalu semuanya berorientasi menjadi miring dan semuanya berubah menjadi gelap.

Satu suara terakhir yang ia dengar sebelum semuanya hening hanya satu. Oh Sehun.

“Arial!Arial!”

 

SeeYa the next Chapter

UPDATE AKAN LAMBAT KARENA PENULISNYA SEDANG DALAM HIATUS KARENA SAYA UDAH TINGKAT A KHIR YANG SEBETULNYA AGAK SUSAH BUAT NYARI LUANG WAKTU UNTUK MENULIS JADI HARAP SABAR DAN TUNGGU AJA YAA

THX U

Advertisements

3 thoughts on “#5 Everything has Changed”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s