Belong to Me #1

img_3866

Poster by NJXAEM @ Poster Channel

 🎬 A fanfiction about young peoples who fight for their love. 🎬

Present by Rach 🔛 2016©

Genre of Romance, Angst, Hurt, Drama | Chaptered

Main Cast :

Kim Seul (OC), Oh Sehun, Park Chanyeol, Park Hyemi (OC)

Support Cast :

Kim Jongdae, Kim Jongin, Moon Byul (OC)

 

Happy Reading~

Suara decitan roda sebuah tas koper yang bergesekan dengan lantai terdengar diberbagai penjuru bangunan ini.

Salah satu suara decitan itu berasal dari sebuah koper berwarna tosca pastel yang saat ini ditarik oleh seorang gadis berparas cantik dengan rambut panjang yang tengah melangkah menuju luar gedung besar yang menyajikan pemandangan hilir-mudik orang-orang berwajah barat.

Sister!” Teriak seorang pria bersuara agak cempreng, melangkah cepat kearah gadis berwajah oriental yang terlihat sangat asia.

Oppa!” Gadis itu ikut berteriak, merengkuh tubuh hangat pria yang saat ini tersenyum yang membuat bibirnya terlihat sangat cantik.

“Astaga, sudah berapa lama aku tidak melihatmu? Sepertinya kau memang Kim Seul.” Pria itu melepas pelukan hangat mereka, menelisik penampilan wanita yang berdiri didepannya.

“Apa ini benar-benar, Kim Jongdae?” Seul berucap, melirik sekilas penampilan pria yang memiliki marga yang sama dengannya.

“Tentu saja. Bukankah Oppa-mu ini terlihat sangat keren sekarang?” Jongdae meraih koper yang digenggam Seul, membiarkan Seul menyampirkan lengannya dan melangkah bersama menuju mobil yang ia parkir tak jauh dari posisi mereka.

“Iya, kau sangat keren Oppa.” Gadis itu mendudukan dirinya dikursi penumpang setelah Jongdae membukakan pintunya dan mempersilahkannya masuk.
Jongdae mendudukan dirinya dikursi kemudi, dengan santai pria pemilik bulu mata lentik itu mengemudikan mobilnya meninggalkak bandara internasional Charles de Gaulle, Paris.

Yap, saat ini Seul baru saja mendaratkan kakinya di Negara romantis yang terkenal dengan menara lancip berkaki empat yang menjadi pusat perhatian wisatawan.

“Apa kau tidak sedang sibuk, Oppa?” Seul bersuara ditengah perjalanan mereka berdua. Menyebar pandangannya pada sekeliling jalan ramai yang mereka lewati.

“Sangat sibuk, tapi aku tak akan menyesal menghabiskan waktuku untuk bersama adik tersayangku ini.” Balas Jongdae, melirik dan tersenyum manis kearah gadis yang sejak 2 tahun lalu tak bertemu dengannya.

“Apa Ibu dan Ayah berada dirumah?” Gadis itu tak melepas senyuman dibibir merahnya, ia sangat menantikan bisa tinggal di kota indah ini. Karena sempat tertunda karena harus menyelesaikan study-nya di negri gingseng asalnya.

“Iya, mereka berdua menunggumu.” Jongdae mengangguk sekilas, ia terus saja melirik kearah adik cantiknya dan membagi fokusnya pada kemudinya dijalan raya yang cukup ramai sore ini.

Berdua? Tiba-tiba Seul meneguk salivanya sulit, menarik sudut bibirnya yang tadi tersenyum kini menggigit bibir bawahnya. Jongdae yang sejak tadi memperhatikan Seul, dengan cermat melihat perubahan raut wajah Seul.

“Kau ingin berkeliling nanti malam?” Jongdae bersuara, mengukir senyum dibibirnya. Berusaha merubah kembali mood buruk yang menyelimuti Seul tadi.

“Ide bagus.” Seul mengangguk, mengumbar senyum sumringah kearah pria yang selalu bisa merubah mood-nya jadi menyenangkan.

“Apa kau sudah dapat pekerjaan disini?” Jongdae kembali memulai percakapan, tangan kirinya menekan tombol yang berada di dashboard mobil, dan memainkan musik di media player mobil Aston Martin D9 berwarna silver miliknya.

“Sudah, mungkin lusa aku akan datang ke Perusahaan itu.” Seul mengangguk, tersenyum bahagia karena sebentar lagi cita-citanya sebagai Designer pakaian akan tercapai, apalagi bisa bekerja di negara yang terkenal dengan mode fashion-nya ini.

“Hebatnya adikku. Aku akan mengantarmu dan menjemputmu nanti.” Jongdae mengukir senyum manisnya kearah sang adik yang mengercutukan bibir merahnya.

“Aku bukan anak kecil lagi, Oppa.” Seul mendengus kesal, Jondae memang selalu menganggap seperti adik kecilnya sampai sekarang. Melihat tingkah menggemaskan sang adik yang sedang merajuk, Jongdae malah mengacak rambut Seul dengan tawa kecilnya.

***

Sebuah Cafe bergaya eropa seperti pada umumnya cafe yang berada di kota Paris ini, cukup ramai. Banyak pengunjung yang datang hanya untuk sekedar meminum segelas kopi disenja ini.

“Apa kau tak punya kesibukan? Kau tahu urusanku banyak, Park Hyemi.” Suara serak seorang pria yang terdengar agak cadel membuat beberapa pengunjung menoleh, bukan karena sifat dingin sang pria, tapi karena baru saja pria itu berbicara menggunakan bahasa yang tak dimengerti bagi pribumi di negri Perancis ini.

“Apa aku tak boleh menemui tunanganku?” Gadis bernama Hyemi itu menjawab, menatap wajah tampan pria didepannya yang saat ini sedang menyesap cappucino pesanannya.

“Kau terlalu tenggelam dalam drama ini, Park Hyemi.” Pria itu berucap, tersenyum miring pada sang gadis yang saat ini menarik panjang nafasnya mencoba menahan bendungan kristal bening yang akan menumpuk di pelupuk mata indahnya.

“Kau tahu, aku tak peduli dengan sikap dinginmu itu, Oh Sehun.” Hyemi menyenderkan punggungnya ke belakang kursi, mengatur nafasnya agar tak terlalu termakan emosi.

“Cepat katakan, apa alasanmu mengajakku bertemu hari ini?” Sehun berdecak, ia meraih ponselnya dari saku celana dan memainkan ponsel pintar itu.

“Apa aku harus selalu punya alasan untuk bisa menemuimu?” Suara Hyemi terdengar serak, menatap lirih kearah Sehun yang sedang asik menatap layar ponselnya, seolah ia lebih menyukai memandang layar datar itu daripada wajah cantik Hyemi.

“Kita tidak dalam hubungan, dimana kau bisa menemuiku tanpa alasan yang jelas, Park Hyemi.” Suara datar dan sikap dingin itu masih dipertahankan oleh Sehun. Bahkan Hyemi yang sudah hampir satu tahun ini diperlakukan oleh Sehun seperti itu, terkadang masih merasa sakit menggores hatinya.

“Dan satu lagi… aku tak ingin mengantarmu pulang setelah ini.” Sehun kembali berucap, melirik sekilas kearah Hyemi dan kembali melanjutkan kegiatannya dengan ponsel pintar digenggamannya.

Hyemi tak menjawab, gadis korea itu meraih ponsel pintarnya dan menggeser layar sentuh itu sebelum meletakannya tepat didepan salah satu telinganya.

“Kim Jongdae, Apa kau sedang sibuk?” Hyemi bersuara, berbicara pada pria disebrang telepon itu masih dengan tatapan tajam kearah pria yang duduk disebrangnya.

“Aku baru saja menjemput Adikku, dan nanti kami akan makan malam bersama. Ada apa Hyemi-ya?” Balas pria disebrang telepon itu, membuat Hyemi menaikkan sebelah alisnya.

“Ah.. Adik perempuanmu datang kesini?” Hyemi berucap dengan suara sarkastiknya, tersenyum miring kearah pria didepannya yang saat itu juga mengalihkan pandangannya dari ponsel dan membulatkan matanya menatap Hyemi.

“Apakah adik laki-laki mu tidak tahu? Oh Sehun, maksudku.” Hyemi kembali bersuara, menatap tajam kearah pria didepannya yang detik itu bangkit dari duduknya.

“Tidak.” Jawab Jongdae singkat. Bahkan terlihat sekali Jongdae tak senang mendengar nama pria itu.

“Sepertinya ia akan bergabung dengan acara makan malam keluargamu.” Hyemi tersenyum miris, meneteskan cairan bening saat melihat pria yang diakui sebagai tunangannya melangkah cepat meninggalkan cafe dan Hyemi disana.

Gadis itu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, meredam isak tangisnya yang terdengar sangat menyakitkan. Seolah tak peduli dengan pandangan aneh dari para pengunjung berkulit putih disana.

***

Langkah cepat seorang pria bertubuh tinggi itu menyusuri halaman rumah dan membuka pintu rumah yang langsung mendapat tundukan hormat dari beberapa pelayan dirumah mewah itu.

“Oh Sehun, kau pulang?” Suara lembut wanita paruh baya menyambut hangat kedatangan pemuda tampan itu.

Pria muda yang juga tinggal dirumah itu melangkah mendekat kearah wanita tua yang menjadi Ibunya dan pria muda yang berdiri diruang keluarga.

“Jongdae-ya, lihatlah siapa yang datang.” Wanita tua itu melambaikan tangannya memberitahu sosok yang baru saja datang kerumahnya.

“Apa tadi kau sedang bersama Hyemi?” Pria berwajah manis itu berucap, menatap pria yang lebih muda darinya yang hanya mengangguk sekilas menjawab pertanyaannya.

“Kenapa kau tidak membawa Hyemi kesini?” Suara tegas pria yang berumur 50 tahunan lebih, menimpali obrolan mereka, berjalan pelan keluar dari ruang kerjanya.

Sehun hanya terdiam, menatap datar wajah orang-orang yang berucap padanya sejak tadi. Mengerti dengan sikap Sehun, wanita paruh baya itu berdehem singkat mencoba mengakhiri suasana canggung saat ini.

“Ayo, kita ke ruang makan. Makan malam sudah siap.”

Ketiga pria itu menurut, berjalan bersamaan menuju ruang makan yang sudah dipenuhi makanan diatas meja makan persegi panjangnya. Mereka berempat mendudukan dirinya masing-masing.

Pria tua yang menjadi kepala keluarga duduk diujung meja, sedangkan sang istri duduk disamping sebelah kanannya berdampingan dengan pria bernama Jongdae yang menjadi anak tertua dikeluarga itu. Dan Sehun mendudukan dirinya dikursi sebelah kiri pria yang menjadi Ayahnya.

“Maaf membuat kalian lama menunggu-” ucapan seorang gadis yang saat ini memakai piyama menggantung diudara, sesaat pandangannya menatap sosok pria yang dengan mata bulan sabitnya menatap tajam kearahnya.

“Tidak apa-apa, sayang. Ayo kita makan sekarang.” Balas Nyonya besar dirumah mewah itu.

Tanpa berniat menolak, anak gadis itu berjalan menuju kursi disebelah Jongdae dengan langkah ragu-ragunya.

“Seul-ah, kau bisa duduk disebelah Sehun.” pria tua itu bersuara, membuat lengan Seul berhenti menarik kursi dan beralih kearah kursi kosong tepat disamping pria tampan yang sejak tadi tak melepas pandangannya pada Seul.

“Sudah lama tak bertemu, Sehun-ah.” Seul membuka suara saat mendudukan dirinya disamping Sehun. Pria tampan itu hanya terdiam, mengalihkan pandangannya kearah makanan yang sudah tersaji dipiringnya.

Tak membuang waktu, Tuan besar dirumah itu memulai acara makan malam keluarga itu. Tanpa ada suara yang terdengar, karena memang keluarga ini memiliki tata krama yang sopan saat sedang makan.

Setelah menyelesaikan acara makan malamnya. Mereka berlima mulai berbagi cerita, menceritakan ini dan itu terutama Seul yang dengan antusias bercerita tentang Korea yang sudah lama tak dikunjungi oleh empat orang dimeja makan itu. Namun salah satu dari mereka hanya terdiam, tak ikut menyumbang suara dalam percakapan hangat keluarga, pria itu Oh Sehun, yang saat ini duduk tepat disebelah Seul.

“Aku akan tinggal disini.” Sehun akhirnya membuka suara, menatap datar kearah kepala keluarga yang sontak terkejut dengan ucapan putra-nya itu, tak terkecuali dengan tiga orang yang juga duduk dikursi meja makan itu.

“Kenapa tiba-tiba?” Jongdae menyahut, melirik sinis kearah Sehun yang duduk disebrangnya.

“Apa aku tak boleh tinggal dirumahku?” Sehun membalas, menatap tak kalah sinis kearah Jongdae.

“Tentu saja boleh, kau memang seharusnya tinggal dirumahmu, Sehun-ah.” Nyonya besar itu berucap, tersenyum kearah suaminya yang ikut bahagia mendengar keinginan anaknya barusan.

“Kapan kau akan pindah?” Tuan besar membuka suara, menatap ramah pada anaknya.

“Malam ini.” Saut Sehun dengan mantap, melirik kearah gadis disampingnya yang sejak tadi hanya menundukan kepala tak ikut campur dengan percakapan yang Sehun buat.

“Ah, baguslah kalau begitu.” Nyonya Oh tersenyum, merasa bahagia dengan keputusan anaknya barusan.

“Ibu, Ayah, Aku akan kembali kekamar duluan.” Seul bersuara, tersenyum kearah Ayah dan Ibunya yang sejak tadi tersenyum bahagia karena Sehun.

“Iya sayang, Istirahalah. Kau pasti lelah.” Nyonya Oh mengizinkan Seul, sedetik kemudian Seul bangkit dari duduknya dan melangkah ke lantai atas menuju kamarnya.

Jongdae ikut pamit, melangkah menuju ruang kerja dilantai bawah, tempat biasa ia menghabiskan waktu luangnya dirumah.

“Aku juga akan kekamar duluan.” Sehun berucap, menunduk sekilas memberi hormat pada orangtuanya dan berjalan menuju lantai atas.

***

Gadis bermata bulat, hidung mancung dan bibir merah itu tengah memejamkan kedua matanya, menghirup dalam-dalam udara malam menyegarkan dari kota yang terlihat sangat cantik dimalam hari.

Sampai ia tak sadar baru saja pintu kamarnya terbuka, membuat seorang pria melangkah masuk kedalam kamarnya dan mendekat kearahnya yang masih asik menikmati kesendiriannya malam ini.

“Aku merindukanmu, Seul” Rengkuhan hangat dari seorang pria yang Seul hafal betul siapa pemilik suara itu, membuatnya sontak membuka kedua matanya terkejut.

“Sehun-ah.” Seul melirik kewajah pria tampan yang saat ini menopanh dagu lancipnya dibahu kanan Seul. Gadis itu menggerakan tubuhnya, memberi kode agar Sehun melepas pelukannya.

“Bagaimana kabarmu? Kabar ku tidak pernah baik selama ini.” Sehun berucap, tak mengidahkan gerakan tubuh Seul, ia malah semakin mempererat pelukan pada tubuh mungil gadis didepannya.

“Sehun-ah, jangan seperti ini.” Seul mengumpulkan tenaganya dan berhasil melepaskan tubuhnya dari pelukan Sehun. Gadis itu memalingkan tubuhnya dan berjalan masuk kedalam kamarnya membiarkan Sehun yang mengikuti langkahnya meninggalkan balkon kamarnya.

“Apa aku tak boleh memeluk kekasihku?” Sehun menarik lengan Seul, membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya yang berniat keluar kamar.

“Aku tak ingin Ibu atau Ayah melihatmu disini, keluarlah.” Seul menepis lengan Sehun, menatap tajam kearah Sehun dan melirik daun pintu, memberi kode pada Sehun agar segera keluar dari kamarnya.

“Apa kau sedang berperan sebagai keluargaku?” Sehun menaikan sebelah alisnya, tersenyum miring kearah Seul yang menatap dalam dwimanik hitam legamnya.

“Aku sudah muak dengan drama keluarga ini, Kim Seul. Jangan pernah berharap aku akan menganggapmu sebagai keluargaku.” Sehun kembali berucap, meraih kedua bahu Seul dan menatap dalam manik kecoklatan gadis cantik didepannya.

“Sehun-ah” Seul menggerakan bahunya, ia tak ingin Sehun terus menyentuhnya seperti ini. Tapi tenaganya kali ini tak cukup berhasil membuat cengkraman lengan Sehun lepas dari bahunya. Tanpa sadar, setetes cairan bening lolos dari mata bulan sabit pria didepannya.

“Kau bahkan masih memanggil namaku seperti itu, Seul-ah. Aku mohon… jangan memaksaku.” Sehun menggelengkan kepalanya pelan, menolak segala sesuatu yang diinginkan gadis didepannya.

Seul meneguk salivanya sulit, menatap lirih wajah tampan Sehun yang sudah berlinangan air mata. Bahkan tanpa sadar, Seul juga membiarkan air matanya lolos dari mata bulat dan indah miliknya.

Sehun tak ingin membuang kesempatan, dengan cepat pria tampan itu merengkuh tubuh mungil yang saat ini bergetar karena tangisannya. Berkali-kali Sehun mengecupi puncak kepala Seul, seolah melepas semua kerinduannya selama ini.

I know it makes no sense, But what else can I do. How can I move on, when I’m still in love with you.” Suara serak Sehun terdengar tepat disebelah telinga Seul yang sekuat tenaga menahan gejolak emosinya.

Jika sudah begini, Seul bisa apa? Tentu saja ia dengan senang hati membalas pelukan erat dari pria yang sangat dicintainya sejak 3 tahun lalu, dan sampai sekarang Seul sendiri tak yakin apakah hubungannya dengan Sehun sudah berakhir. Karena memang tak ada kata ‘putus‘ yang diucapkan mereka berdua.

Hanya saja Seul bersikap tahu diri dengan statusnya saat ini. Asal tahu saja, pria yang saat ini memeluk erat tubuhnya adalah saudara tirinya. Yap, Tuan Oh dan Nyonya Kim alias Nyonya Oh menikah sejak 2 tahun lalu, dan mulai saat itu Seul memutuskan untuk melupakan hubungannya dengan Sehun yang tak diketahui Ibu dan Ayah tirinya sejak dulu.

Tapi ada dua orang yang tahu tentang masa lalu mereka, Park Hyemi tunangan Sehun dan Kim Jongdae kakak kandung Seul, yang saat ini tanpa sengaja melihat adegan peluk-memeluk itu saat berniat masuk kedalam kamar Seul.

“Apa itu caramu menyambut kedatangan Adikmu, Oh Sehun?” Jongdae berucap dengan nada sarkastiknya, membuat Seul dengan cepat melepas pelukan mereka dan menatap takut kearah pria ber-bibir tipis yang saat ini melangkah mendekat kearah mereka berdua.

Sehun hanya terdiam, menghapus jejak air mata diwajahnya dan menatap datar kearah Jongdae yang menatap tajam kearahnya.

“Aku tahu alasanmu tiba-tiba ingin pindah kesini. Tapi aku harus kembali mengingatkanmu kalau sekarang… Seul keluargamu.” Jongdae kembali bersuara, menatap tegas kearah Sehun yang detik itu juga mengepal kedua tangannya menahan emosi mendengar ucapan pria yang sudah menjadi Kakak tirinya itu.

Oppa.” Seul yang tahu situasi apa yang sedang berlangsung saat ini, menginterupsi ucapan Jongdae yang menegangkan, gadis cantik itu menarik lengan Jongdae dan membawa pria itu keluar kamarnya dan berjalan menuju kamar Jongdae.

Sehun menghembuskan nafas kasar, mengacak rambutnya yang memang tak tertata rapih, dan melangkah keluar menuju kamar tidurnya.

“Kau tahu kau tidak boleh seperti ini, Kim Seul?” Jongdae berkacak pinggang, menatap lekat wajah adiknya yang menunduk tak berani menatapnya.

“Jawab aku, Kim Seul” Jongdae kembali bersuara, kini nadanya terdengar marah. Seul yang saat ini duduk diatas kasur empuk Jongdae hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.

“Lalu apa yang baru saja aku lihat tadi,hm?” Jongdae menghembuskan nafas panjang, mendudukan dirinya disamping Seul yang terlihat sedang susah payah menahan tangisnya.

“Aku tak bisa melupakannya, Oppa.” Seul bersuara lirih bersamaan dengan tangisnya yang tiba-tiba pecah. Dengan sigap Jongdae meraih tubuh Seul dan memeluk erat adik kesayangannya itu.

“Maafkan aku. Aku hanya tak ingin kau terluka, Seul-ah.” Jongdae mengelus lembut rambut Seul, ia benar-benar tak bermaksud membuat adiknya menangis dimalam pertama Seul dirumah ini.

Seul tak menjawab, ia semakin menangis sesenggukan dengan nafas tak beraturan didalam pelukan Jongdae. Bahkan saat ini Seul tak bisa membayangkan bagaimana hari-harinya esok saat benar-benar harus berperan sebagai Adik tiri dari pria yang dicintainya.

***

Pagi di kota Paris ini terlihat lebih cantik, pantulan sinar matahari menghangatkan tubuh mungil gadis yang sedang meringkuk dibalik selimut tebal dengan mata yang masih terpejam. Bahkan setelah acara tangis-tangisannya dimalam pertama berada dinegara ini, Seul tak sadar jika Jongdae harus menguras tenaga untuk menggendongnya ke kamar tidurnya, karena Seul tanpa sadar tertidur didalam pelukan Jongdae.

Sayang, bangun.” Suara lembut seorang wanita paruh baya menyapa pagi Seul, mengelus lembut rambut gadisnya yang sangat ia rindukan.

“Ibu, sekarang jam berapa?” Seul menggeliat, membuka kedua matanya dan mulai meregangkan tubuh mungilnya diatas kasur.

“Jam 8 sayang. Apa kau ada urusan?” Nyonya Oh bertanya dengan senyuman ramah diwajah cantiknya yang menurun pada Seul, anak gadis kesayangannya.

“Tidak, aku hanya ingin berkeliling saja.” Seul menggeleng pelan, mengucak mata besarnya yang terlihat sembab.

“Apa semalam kau tidak bisa tidur? Kenapa matamu sembab seperti ini, sayang?” Nyonya Oh mengelus lembut pipi Seul. Gadis itu menggeleng dan segera bangkit dari kasurnya, tersenyum manis sebelum ia melangkah kedalam kamar mandi. Tentu saja ia akan menghindari pertanyaan Ibunya barusan.

Nyonya Oh hanya balas tersenyum, tak ingin ambil pusing, wanita tua itu melangkah keluar kamar Seul dan berjalan menuju ruang makan yang berada dilantai satu.

“Seul sedang membersihkan diri, kita bisa sarapan lebih dulu.” Nyonya Oh berucap, membuat ketiga pria yang sudah terduduk diruang makan menoleh kearahnya dan mulai memakan sarapan mereka dalam diam.

“Ibu, bisakah aku hanya meminum susu?” Suara Seul terdengar sebelum sosok itu muncul diruang makan, membuat Tuan dan Nyonya Oh hanya tersenyum mendengar permintaan gadis mereka.

Dengan cepat Nyonya Oh memerintah pelayan untuk membuatkan susu pesanan Seul yang baru saja menampilkan sosoknya diruang makan dengan dress putih selututnya, membuatnya terlihat sangat manis.

“Kau ingin kemana?” Jongdae berucap saat Seul mendudukan dirinya disamping Ibunya, karena pagi ini Jongdae sengaja menempati kursi yang semalam ditempati Seul disamping Sehun.

“Belum tahu, aku hanya ingin berkeliling saja.” Seul menggeleng singkat, menyesap susu yang baru saja diantarkan pelayan untuknya.

“Aku temani.” Tanpa diduga Sehun bersuara, membuat empat pasang mata bersamaan menatap kearahnya. Terutama, Seul yang tersedak susunya karena mendengar ucapan Sehun barusan.

Sedetik kemudian Nyonya Oh tersadar, menjulurkan tissue untuk Seul dan tersenyum senang bersama Tuan Oh.

“Ide bagus. Aku bahkan tak ingin mengizinkan Seul berpergian sendiri di Paris.” Tuan Oh ikut bersuara, tersenyum hangat pada Seul yang menoleh menatapnya terkejut.

“Lagipula Sehun sudah lama tinggal disini, ia pasti bisa menjaga Seul.” Nyonya Oh ikut campur, mengelus lembut rambut Seul yang hanya bisa meneguk salivanya pasrah.

Jongdae yang sejak tadi disana hanya mendesis dan tersenyum miring. Bahkan ia tak menyangkan Sehun akan mengambil start secepat ini.

***

“Kau tak senang bisa berkencan denganku?” Sehun membuka suara ditengah perjalanan.

Mereka berdua kini terjebak, tidak, mungkin lebih tepatnya Seul yang merasa terjebak disebuah mobil Audi R8 Coupe berwarna hitam ini bersama pemuda berkulit putih dan mata bulan sabitnya.

“Kau bisa menurunkan aku didepan sana.” Seul menunjuk kearah pinggir jalan yang diisi beberapa taksi didepannya.

“Tidak mau.” Sehun menjawab cepat, melirik tajam kearah Seul disampingnya.

“Sampai kapan kau akan seperti ini? Aku tak bisa bersikap seolah hubungan kita baik-baik saja.” Seul menghembuskan nafas kasar, menolehkan wajahnya menatap tajam kearah Sehun dengan manik mata berkaca-kacanya.

Sehun yang mendengar ucapan itu, segera memainkan stir mobilnya dan menepikan mobilnya dipinggir jalan yang cukup ramai siang ini. Pria tampan itu menoleh kearah Seul, menatap dalam dwimanik Seul yang juga sedang memperhatikannya.

“Hubungan kita memang baik-baik saja, Seul. Aku mencintaimu, dan aku yakin kau juga sama sepertiku, benarkan?” Sehun meraih telapak tangan Seul, menggenggam erat tangan mungil itu dan menghapus air mata dipipi Seul dengan salah satu tangannya yang bebas.

“Kau tahu, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri.” Seul melepas genggaman tangan Sehun dan menepia jari-jari Sehun yang mengelus lembut pipinya. Seul memalingkan wajahnya, menatap kosong pinggir jalan dari kaca mobil disampingnya.

“Aku tidak peduli, tak masalah jika itu bisa membuatmu tetap menjadi milikku.” Sehun berucap dengan nada tinggi, menandakan bahwa dirinya geram saat ini. Ia meraih dagu Seul agar kembali menatapnya.

“Kau bahkan tak bisa bilang kalau kau tidak mencintaiku, Kim Seul.” Sehun menatap dalam dwimanik Seul yang kembali menteskan air mata. Tanpa permisi Sehun dengan cepat menempelkan bibir mungil dibibir merah Seul, mengecup lembut bibir gadis yang dicintainya itu.

Seul tak berbuat banyak, ia terlalu bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang, bahkan dengan bodohnya Seul malah memejamkan matanya saat merasakan lumatan lembut dari bibir Sehun dibibirnya.

Walau tak mendapat balasan dari Seul, Sehun tersenyum tipis. Bahkan hanya dengan Seul membiarkan Sehun mencium bibirnya, pemuda Oh itu sudah merasa lebih dari cukup, bahagia.

***

“Kenapa kau ingin kesini?” Suara serak Sehun terdengar, pria tampan itu kini sedang memarkirkan mobilnya dipinggir jalan yang memang diperbolehkan untuk memarkirkan kendaraan.

“Aku ingin melihat Jongdae Oppa bekerja.” Balas Seul, setelah Sehun menepikan mobilnya. Gadis itu melepas sabuk pengaman dan segera keluar mobil, tanpa berniat menunggu Sehun membukakan pintu untuknya.

Sehun menghembuskan nafas kasar, bahkan setelah adegan kiss itu, Seul semakin bersikap canggung padanya. Pemuda itu keluar dari mobilnya, melangkah cepat mengejar Seul yang sudah jalan lebih dulu didepannya.

“Kau tak takut nyasar berjalan duluan?” Sehun yang sudah berjalan disamping Seul, tanpa permisi meraih telapak tangan Seul dan menggenggam jari-jari lentik itu.

“Apa kau benar membawaku ke Museum Louvre?” Seul menepis lengan Sehun, ia melipat kedua tangannya didepan dada. Tak berani melirik Sehun sejak kejadian didalam mobil tadi.

“Tentu saja, kita akan melewati Jembatan Pont des Arts dulu untuk sampai kesana.” Sehun mengangguk, ekor matanya masih melirik kearah Seul yang menatap lurus kedepan.

Seul mulai menyebar pandangannya, menikmati pemandangan cantik di Kota romantis ini, bahkan ia tak sadar jika Sehun sejak tersenyum melihat ekspresinya yang sangat bahagia bisa berada di negara ini.

Tak lama kemudian, mereka berdua menginjakan kaki di jembatan yang memiliki panjang 155 meter ini, disisi jembatan dipenuhi oleh gembok-gembok cinta dari para wisatawan. Seul tersenyum senang, walaupun di Korea Selatan, lebih tepatnya di Namsan Tower ada tempat gembok seperti ini juga, tapi itu tak mengubah perasaan excited Seul pada jembatan ini.

“Kau masih Seul-ku yang dulu, masih menyukai hal-hal yang berbau romantis seperti ini.” Sehun bersuara, menyimpulkan senyum dibibir mungilnya. Membuat Seul meneguk salivanya sulit dan melirik sekilas kearah Sehun yang berdiri disampingnya.

“Aku akan membelikanmu minuman, tunggu disini.” Sehun kembali berucap, melirik kearah mini market yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Seul hanya mengangguk tanda setuju.

image

Gadis cantik itu menopang tangannya diatas penyangga jembatan, menikmati pemandangan sungai dicuaca indah ini.

Ia melirik kearah sekitar jembatan yang dipenuhi burung-burung liar yang berada di jembatan cantik itu. Dengan antusias Seul melangkah mendekati segerombol burung-burung yang sedang bertengger dipenyangga jembatan dengan senyum sumringah dibibir merahnya.

Layaknya anak kecil yang senang bisa berjalan-jalan, Seul merentangkan kedua tangannya seraya berjalan kearah para burung yang detik itu juga ber-terbangan karena kedatangan Seul. Seul hanya tersenyum senang, merasa bahagia hanya karena melihat burung-burung berwarna abu-abu itu terbang berhamburan.

Hey… Apa yang kau lakukan?!” Teriak seorang pria bersuara berat dan serak, membuat Seul terlonjak kaget dan menoleh kearahnya.

Seul membulatkan matanya begitu melihat pria yang ia yakin berbicara padanya ternyata sedang membidik burung-burung tadi dengan kameranya. Dan yang lebih mengejutkan, pria bertubuh tinggi itu berbicara dengan bahasa Korea.

Tak ingin terkena masalah, Seul dengan cepat memalingkan wajahnya dan berjalan meninggalkan tempat itu tak berniat menoleh sedikitpun kearah pria tadi.

Hey, tunggu!” Pria itu dengan cepat mengejar Seul, dan karena kakinya yang panjang membuat langkahnya besar dan berhasil menarik lengan Seul yang detik itu juga menghentikan langkahnya.

Comment puis-je vous aider? (Ada yang bisa saya bantu?)” Dengan percaya diri Seul berbicara dengan bahasa French. Seul menepis lengan pria itu dari tangannya. Pria yang diajak bicara tersenyum miring mendengar pengucapan Seul yang terdengar lucu.

“Aku tahu, kau orang Korea.” Pria itu menjawab dengan bahasa Korea, tertawa kecil melihat ekspresi Seul yang terkejut saat itu juga.

Non, vous avez tort. (Bukan, Anda salah.)” Seul membalas dengan suara seraknya. Asal tahu saja, Seul tak bisa berbohomg, jika ia sedang berbohong suaranya akan terdengar serak dan pelan.

“Lalu kenapa kau mengerti apa yang aku katakan sejak tadi?” Pria itu menaikan sebelah alisnya, bukankah Seul sangat aneh? Sejak tadi bisa menjawab ucapan pria berbahasa korea yang saat ini semakin tertawa begitu melihat semburat merah dipipi Seul. Sial, Seul merutuki dirinya sendiri.

Seul yang terlanjur malu, dengan berani menendang tulang kering pria tinggi didepannya itu dan berhasil membuat pria itu berhenti tertawa dan meringis kesakitan. Mendapat kesempatan, Seul memalingkan tubuhnya berniat kabur dari pria menyebalkan itu.

Dengan sigap pria bertubuh tinggi itu meraih lengan Seul dengan kuat membuat tubuh mungil Seul tanpa sengaja tertarik kedalam rengkuhan tubuh hangat pria bermata agak bulat itu.

Oppa.”

“Seul.”

Dua suara berbeda terdengar bersamaan begitu melihat adegan teletubies didepan mereka. Dengan bersamaan, kedua orang itu menoleh kearah suara dan dengan kompak membulatkan matanya begitu melihat sosok pria dan wanita yang berdiri berdampingan tak jauh dari posisi mereka.

To be Continued ~

Hai… Maaf ya kalau Update-nya lama. Soalnya Fanfict ini datanya hilang di Laptop huhuhu

Jadi, aku harus nulis lagi dari awal Fanfict ini. Aku usahakan Update Chapter selanjutnya diusahakan ngga terlalu lama.

Terima kasih ya yang sudah meninggalkan jejak di Chapter sebelumnya.

 

Love,

 

Rach❤️

Advertisements

7 thoughts on “Belong to Me #1”

  1. Yeayyy akhirnya update juga, kemarin2 agak ga sabar nunggunya hehe
    Wah kenapa kisah cinta sehun complicated bgt ya huhu
    Tapi aku sukaaaa, semangat lanjutinnya. Ohiya aku panggil apa nih? Aku line 98 hehe

    Like

  2. Astagaaa baru chapter 1 aja udah dibikin nyesek gini sama kisah cinta sehun hikshikshiks :”(
    Aku suka kaaa, feelnya dapet gituu antara sehun-jongdae sbg adik kakak hehehe
    Semangatttt nulisnya ya, ditunggui next chapternya ^^

    Like

  3. Wah kirain kemarin baca di teaser yg hubungan terlarang dikeluarga itu hyemi sm chanyeol, ternyata sehun sama seul >,<
    Seruuu chapter satu aja konfliknya udah nyesek gini. Ditunggu kelanjutannya semangatttt

    Like

  4. Wowowowwwww
    Sehun sama seul terpaksa putus gara2 orangtuanya menikah? Astaga miris bangettt
    Tapi kayanya Park hyemi sayang bgt ya sama sehun? Suka kok chapter satunya udah bagussss
    Semangat lanjutinnya!

    Like

  5. Izin baca author…
    Wah ga nyangka di Chapter satu ini ngejelasin banget konflik yg bakal terjadi.
    Bakal ada cinta segitiga kah? Atau segiempat? Nungguin chanyeol nihhhh >,<
    Semangat author lanjutinnya!

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s