1435 #1—PutrisafirA255

1435

1435—Restart

.

Story from PutrisafirA255

.

Cast

Oh Sehun-Kim Hanna

Byun Baekhyun- Helena Park

Other Cast

Jung Hyejin-Min Yoongi

etc

.

Genre

Marriage Life, Romance, AU, Fluff, Drama, Family, etc.

.

PG-16

.

Hope you like it and give me comment as appreciation

.

PutrisafirA255©2016 | Blackandwhite

.

Prolog

#1 [NOW]

Sedari tadi, Hanna masih saja memijat pelipisnya. Sedangkan Hyejin, gadis Jung itu masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi semalam. Untuk pertama kalinya mereka bertemu, dan kini, tiba-tiba saja dua sejoli itu kembali mengikat sebuah hubungan, lebih dari sebelumnya.

“Aku yakin dia gila,” gumam Hanna, tak memperdulikan bagaimana rekan sejawatnya melihat dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku yakin dia tidak waras,” sahut Hyejin dengan gelengan kepala beberapa kali—tanda ia masih saja tak percaya sampai sekarang.

Dikala keduanya sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing meskipun masih sama mosi, pria jangkung yang juga ikut satu tim dengan Hanna pun datang tanpa dinyana. Membawa sebuket bunga dengan mawar merah yang harumnya menyeruak, dan juga ditambah dengan bunga baby spray yang merekah mengagumkan.

mawar-merah

Dengan tak bersahabat—lebih tepatnya kesal dan cemburu—Chanyeol meletakkan bunga itu diatas meja kerja Hanna. “Kalian sudah rujuk, ya?” tanya Chanyeol retoris. Pria itu lekas mengambil kursi disamping Hyejin yang bersebrangan dengan Hanna, lantas menyuarakan kembali suara bass beratnya. “Sehun benar-benar romantis,” sambungnya sembari melempar pandangan kesal.

“Sehun?” Hanna membeo. Untuk apa pria itu mengirim bunga? Hanna membatin. Apa pria itu kurang kerjaan?

“Aku kira, setelah sekian lama tak bertemu, kalian akan canggung atau sejenisnya. Tapi, apa ini?!”cicit Chanyeol tak lagi bisa memendam kekesalannya. Ia bahkan menunjuk karangan bunga yang tergeletak di meja kerja Hanna dengan kasar. Jadi, bisakah disimpulkan jika Chanyeol masih menyukai Hanna? Karena, itulah yang dipirkan Hyejin ketika melihat air muka pria jangkung itu.

“Bisakah kau diam, Park Chanyeol? Kau hanya membuatku semakin pusing, tahu!” Hanna tak bisa menahan semua pekikkan kesalnya. Kemarin, Sehun melamarnya tanpa rencana, tak ada romantisnya, bahkan bisa dibilang tak manusiawi sama sekali. Dan sekarang, pria itu berusaha menjadi romantis dan memporak-porandakan perasaan untuk yang kesekian kalinya?

Hening beberapa menit menjadi kesempatan untuk ketiganya berpikir dan bermain alam bawah sadar masing-masing. Chanyeol dengan kecemburuannya, Hyejin dengan mengapa Chanyeol nampak begitu marah, dan Hanna, memikirkan mengapa Sehun mengirimnya tanpa meninggalkan pesan apapun?

“Cukup! Aku mau pergi,” Chanyeol sudah siap beranjak dari kursi, namun belum mengukir langkah keluar ruangan. Ia masih saja menatap Hanna yang menenggelamkan wajahnya diatas lipatan tangan. Meskipun Hanna adalah mantan kekasihnya, dan sekarang ia punya kekasih, tetap saja rasa khawatir mengenai masa lalu mulai menghantuinya.

Chanyeol mengetahui betul bagaimana kisah cinta Hanna dan Sehun. Kedua sejoli itu adalah pasangan terkenal seantero sekolah. Keduanya punya reputasi yang baik, antara senior dan juga junior. Namun, ketika Sehun lebih dulu lulus daripada Hanna, kedua orang tua Sehun menjodohkannya dengan wanita lain. Yang tak lain dan tak bukan adalah adik Chanyeol sekaligus sahabat dari Hanna sendiri—Helena.

Sayangnya, tiga tahun menjalin hubungan, bahkan sudah dikaruniai anak, mereka akhirnya bercerai. Dengan gugatan yang dilayangkan Helena, beserta alasan yang tak berdasar, namun logis. Sehun masih mencintai Kim Hanna.

“Sepuluh menit lagi kita ada jadwal operasi, Han. Aku akan menyusul Chanyeol,” ujar Hyejin mengingatkan, sekaligus pamit undur diri. Membiarkan sang sahabat yang masih saja bergelut antara kenyataan dan juga masa lalu itu berpikir dalam sunyi. Menutup pelan pintu, lantas pergi meninggalkan senyum dan satu tepukan di bahu Hanna sebelumnya.

“Benarkah kau masih mencintaiku, Oh Sehun?” gumam Hanna, setelah sosok Hyejin tak lagi menampakkan diri.

.

.

.

“Anda ada pertemuan dengan Presiden siang ini,”

Sehun hanya bisa menghela napas mendengar jadwalnya. Padahal, hari ini ia ingin sekali menemui Hanna dan mengatakan apa maksudnya mengirim rangkaian bunga, meskipun ia titipkan kepada Chanyeol, dengan dalih takut mengganggu si gadis Kim pujaan hatinya.

“Apa tidak bisa diundur?” tanya Sehun mencoba mencari jalan lain agar bisa kabur sekali saja tanpa meninggalkan kewajiban. Yoongi—sekertarisnya—mengangguk telak. “Jangan kabur lagi, Hun!” Yoongi mengancam. Ini bukan kebiasaan si Pria Oh itu. Tapi, sejak mendapat undangan reuni sekolah menengah atasnya, Sehun jadi kebiasaan menghindari pertemuan.

“Aku ingin bertemu calon istriku, apa tidak boleh?” gerutu Sehun, meninggalkan kesan wibawa sekaligus formalitas yang biasanya ditunjukkan untuk khalayak publik. Mendengar penuturan Sehun, Yoongi lantas membulatkan matanya. Mendekati Sehun dengan gerakan cepat, hingga pria jangkung itu hampir terhuyung ke belakang.

“Kau sudah menemukan calon istri? Bagaimana bisa secepat itu?”

Sehun menghela napas sedetik kemudian. “Aku harus melakukannya. Jika tak ingin kehilangan Nara.” Sahutnya pelan. “Kau tidak menggunakan gadis itu hanya untuk menyelamatkan Nara, ‘kan? Aku tahu kau bukan pria brengsek, Hun.” Tukas Yoongi mengingatkan, sekaligus khawatir jika akhir dari cerita cinta pria Oh itu akan seperti sebelumnya.

“Aku mencintainya, Yoon. Sejak dulu hingga sekarang aku hanya mencintai dirinya.” Kata Sehun, lalu memijat pelipisnya ketika film hitam putih sejurus kenangan ikut andil memporak-porandakan hatinya.

“Kau baik-baik saja?” Yoongi makin khawatir dengan keadaan pria Oh itu. Memang kehidupan tak bisa ditebak. Ada kalanya akan diatas dengan kemanisan yang mendominasi, namun pada akhirnya merasakan kepahitan ketika ada yang namanya perpisahan.

Sepersekian detik, tak dinyana Yoongi justru memecah keheningan. “Tunggu!” pekik Yoongi menginterupsi. Entah otaknya yang kolot atau Sehun yang salah memberikan kode, pria Min itu baru sadar. “Jika kau mencintainya sejak dahulu hingga sekarang, berari kau tak mencintai Helena?” tebaknya dengan kalimat retoris yang ingin segera ditimpali dengan pasti.

Sehun mengangguk lemah. “Aku menikahinya untuk kebahagiaan ibuku. Beliau tidak mengizinkan aku menikahi pacarku dahulu. Padahal, Helena adalah sahabatnya.” Sehun mulai bercerita. Memutar kembali ingatan demi membagi beban beratnya sekarang. Mungkin saja Yoongi bisa memberikan saran yang baik nantinya.

“Jadi, kau menikahi Helena hanya karena sebuah perjodohan? Dan bukankah itu berarti Helena tak salah melayangkan gugatannya padamu?” tebak Yoongi makin menyudutkan Sehun dengan kenyataan yang ada sebelumnya. Toh, ketika ada di pengadilan, Sehun tak membantah semua itu. Karena Helena yang meminta dan Sehun tak akan memaksa. Life is as simple as that, by the way.

.

.

.

Setelah menyelesaikan semua urusannya hari ini, Hanna lekas meninggalkan kantornya dengan menanggalkan jas putih kebanggaan di ruangannya. Menampakkan kemeja bermotif kotak yang satu kancing teratasnya dibiarkan terbuka, celana panjang, juga tas yang dijinjing dengan sebelah tangannya. Membuat beberapa orang menatap tatapan kagum .

47aa18effa2818c5708175a321594047

Tak terkecuali bagi pria bermarga Oh yang entah kapan tiba di pelataran Rumah Sakit tempat Hanna bekerja. Mengenakan kemeja putih polos, dengan jas hitam yang tersampir di tangan kiri. Menunggu sang gadis menyadari kehadirannya meskipun itu tak membuat Hanna berhenti. Melainkan segera lari dari kenyataan bahwa seorang perdana menteri sekelas Oh Sehun menunggunya.

“Kim Hanna!” Sehun lekas berlari mendekati si gadis Kim itu. Menarik lengannya hingga sang empu terpaksa putar haluan. Kepalanya masih menunduk, enggan menatap hazel coklat pekat khas Oh Sehun. Ia terlalu malu dengan apa yang terjadi kemarin, atau lebih tepatnya Hanna tak bisa membunuh rasa canggung yang makin menjadi.

“Jangan menghindariku!” pinta Sehun dengan nada yang memaksa. Meskipun suaranya tak meninggi ataupun memekik, tetap saja cengkeramannya pada bahu Hanna membuat gadis itu yakin tak bisa lagi beralibi.

“Mengapa kau ada di sini? Bagaimana kalau semua orang tahu—”

“Memangnya mengapa kalau mereka tahu? Lagipula aku akan menikahimu—”

“Diam!” sahut Hanna tak terima. Gadis Kim itu mengangkat jari telunjuknya tinggi-tinggi. “Kau malah membuatku tampak seperti gadis yang hamil diluar nikah, tahu?!” tambahnya kemudian, setelah memberanikan diri mendongak. Menatap iris pria itu dengan sebal, ancaman non verbal pun dilayangkan sebagai penegas.

Sehun ingin sekali tertawa melihat bagaimana air muka Hanna yang nampak begitu khawatir. Bahkan bisa ia lihat dengan jelas—lagi setelah sekian lama—wajah cantik itu dibawah dagunya. Jika Sehun boleh memutar memori, Hanna sering sekali marah karena ia merengkuh tubuh gadis itu di perpustakaan tanpa permisi. Jujur, Hanna menyukainya, tapi takut lebih mendominasi. Mereka masing sekolah menengah ke atas kala itu, hingga hukum masih ditegakkan. Tidak seperti sekarang.

“Bagus!” sahut Sehun pelan. Merengkuh pinggang Hanna dengan posesif, lantas semakin menunduk guna mengurangi spasi yang tercipta. “Aku suka idemu. Haruskah kita melakukan skenario semacam itu? Ataukah kita akan benar-benar melakukannya?” ujarnya dengan suara bariton yang dibuat seseksi mungkin guna menggoda. Sejurus kemudian, satu pukulan di dahi dan juga dorongan diberikan oleh Hanna.

“Jangan main-main atau aku akan membunuhmu, Oh Sehun! Ini rumah sakit!” ucap Hanna mengingatkan dengan tegas. Pria itu nampaknya tak punya lagi rasa malu, hingga beraninya menyentuh Hanna. Mengingat bagaimana para perawat yang pintar sekali menyebarkan gosip tak berdasar yang ditambahkan dengan kalimat-kalimat yang mengubah keadaan menjadi fiktif. Itu yang Hanna tak suka.

“Kalau begitu, mau kerumahku? Nara sedang sekolah dan—”

“Kau menyembunyikan gadis yang masih sekolah?” tebak Hanna tiba-tiba. Membuat Sehun bungkam sesaat untuk mencerna kalimat yang baru saja berkumandang. Apakah wajah tampan nan seksi milik Sehun itu nampak seperti pedofil?

“Nara itu anakku, Kim Hanna. Memangnya muka tampanku ini kau anggap apa, huh?” tanya Sehun sok merajuk. Walaupun kini Hanna tertampar dengan kenyataan yang sebenarnya menyakitkan. Jari telunjuknya turun, tak kuasa kembali terangkat untuk memberikan perlawanan kembali.

Sehun sudah punya anak dari pernikahannya dengan Helena yang notabene-nya adalah mantan sahabatnya. Hanna memang gadis yang keras kepala, tapi ia bisa menangis kapan saja tanpa tahu tempat. Seperti sekarang, air mata mulai menggenang di pelupuk mata tanpa ia sadari.

Sehun pun tergeragap ketika menyadari sosoknya yang seharusnya tersenyum karena digoda, jutru menangis. “Apa aku menyakitimu? Maaf, aku tidak bermaksud—”

“Aku justru yang meminta maaf,” Hanna menyeka pipi pualamnya agar jejak air matanya itu lekas menghilang. “Akhir-akhir ini aku sering sekali menangis tiba-tiba,” Tambahnya sebagai penjelasan agar Sehun tak lagi khawatir. Demi menghilangkan kekhawatiran pria itu, Hanna lekas menyeka air matanya.

“Aku akan mengatarkanmu pulang—”

“Tidak, aku bisa pulang sendiri,” Hanna menyahut cepat. Tak mau lagi berurusan dengan Sehun lebih lama. Ia sudah janji akan menghindari Sehun dan menghilangkan semua memori mengenai pria Oh itu. Ia tak mau diajak terbang lagi ke angkasa, lalu dijatuhkan dalam sedetik. Hanna sudah merasakannya, dan tak mau lagi merasakan hal yang sama, dengan orang yang sama pula.

“Kumohon, jangan menolak, Han. Aku hanya ingin mengantarkanmu. Aku juga meluangkan waktuku hanya untuk mengantarmu—”

“Terima kasih untuk waktunya, aku akan pulang sendiri.”

Final. Sehun tak bisa lagi memaksa gadis Kim itu. Hanna itu keras kepala, tak mau dipaksa, dan hanya melakukan apapun sesuai dengan kehendaknya sendiri. Sehingga, jika Sehun semakin memaksa, maka tak akan ada  harapan untuknya bersama dengan gadis itu. Kali ini, Sehun harus memulai dari nol—lagi.

.

.

.

Pria Byun itu masih sibuk dengan berkasnya ketika Helena datang bersama dengan Oh Nara. Gadis empat tahun yang baru tahun ini memasuki sekolah pertamanya itu mengekori sang Ibu dengan genggaman tangan mungilnya pada tangan ibunya. Enggan melepaskan meskipun jarak tak mengubah apapun. Status mereka masih antara anak dan ibu, tak bisa diganggu gugat.

“Apa ada masalah?” Baekhyun menyambut Helena dan juga Nara dengan tatapan khawatir. Pria Byun itu lekas berdiri, dan meregas jarak guna menegaskan perasaannya itu. Helena pun akhirnya mengambil alih sofa di ruangan itu. Beberapa detik setelah helaan napas terdengar, gadis itu mulai bercerita.

“Aku baru saja bertemu dengan pengacara,” ujarnya lemah, seolah tak bisa lagi menggumakan suara soprannya barang se-oktaf pun. Berita yang ia dapatkan hari ini begitu buruk. Sampai-sampai tungkainya tak mampu menopang tubuh.

Apa yang salah? Tanya Baekhyun dalam hati. Otaknya memunculkan beberapa spekulasi tak berdasar. Namun, ia tak bisa mendesak agar sang kekasih lekas bercerita. Baekhyun rasa gadisnya itu sangat merasa terpuruk.

“Sialnya, jika Sehun menikah dengan Hanna, maka hak asuh atas Nara jatuh ke tangan mereka.” Ditengah-tengah kegelisahan, Helena bahkan masih sempat mengumpat. Keputusan gilanya untuk bercerai dengan Sehun semata-mata hanya untuk membuat pria itu menyesal. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sehun justru sudah mendapatkan gadis masa lalunya dan segera menikah. Senjata makan tuan.

“Aku tak akan membiarkannya,” Baekhyun berujar, kendati tak sepenuhnya benar. “Aku akan mencari cara agar hak asuh Nara bisa jatuh ke tanganmu, Lena.” Tambahnya. Sejurus kemudian, iris coklat gelapnya teralih menuju gadis mungil empat tahun  yang tengah melahap ice cream coklatnya dalam diam.

Jika boleh berkata jujur, maka keberadaan Nara sangatlah mengganggu. Banyak rahasia yang tak bisa ia ungkapkan sekarang. Jika rahasia itu sampai diketahui oleh orang lain, maka rencana sedari dulu telah pupus ditengah jalan. Ia tak bisa dan tak akan mundur sebelum melihat rivalnya jatuh. Tentu saja, Oh Sehun.

“Kau yakin bisa melakukan itu?”

Mendapati kesungguhannya diragukan, satu kecupan mesra dilayangkan ketika atensi Nara teralihkan pada sebuah objek yang—menurutnya—menarik. “Belum juga yakin? Mau lebih dari ini untuk percaya?”

Helena meninju lengan Baekhyun—malu. “Ada Nara,” sergahnya cepat, meskipun semburat jingga di pipi tak bisa lagi bersembunyi. “Mengapa?” tanya Baekhyun sok tak mengerti. Ia suka sekali menggoda gadis bermarga Jung itu. Sedangkan sang empu, ia menahan senyum manisnya agar tak ikut terjebak dalam dunia fana dengan beribu rencana yang mereka lakukan sendiri.

.

.

.

Dengan segala cara yang dilakukan Sehun, akhirnya Hanna mau masuk ke mobilnya. Duduk berdampingan dengan sunyi menambah keheningan. Membiarkan deru mesin yang samar sebagai alunan musik, seumpama. Namun, Sehun tak lagi bisa menahan semua topik pembicaraan yang harus ia katakan sebelum menikahi gadis Kim itu. Tak akan ada kebohongan—lagi—juga dengan keputusan sepihak yang hanya akan merugikan kedua belah pihak.

“Hanna,” panggil Sehun dengan suara baritonnya. Yang dipanggil lantas menoleh, memberikan setengah atensinya pada pria di sampingnya. “Apa?” sahut Hanna, kendati dengan sialnya ia harus mengutuk iris coklat beningnya yang menangkap pemandangan mempesona seorang Perdana Menteri Oh Sehun. Pria dengan berbagai tittle membanggakan, salah satunya menjadi perdana menteri ketika umurnya menginjak dua puluh lima tahun.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” Sehun mulai membuka konversasi. “Sebenarnya, aku dan Helena sedang—”

“Oh Sehun, lihat!” pekik Hanna kegirangan ketika hazelnya tak sengaja teralih menuju sebuah toko permen, tak jauh dari lampu merah. Dimana Sehun merasa kalau itu adalah waktu yang tepat dan tak akan memecah konsentrasinya. Hanya saja, fakta mengelak. Sehun tahu betul, Hanna sangat keras kepala dengan kelembutan hatinya yang mudah sekali tersentuh. Seperti sekarang, Hanna merengek agar Sehun menghentikan mobil yang dikendarainya.

“Kumohon, Sehun-ah! Belikan aku lolipop, okay?” Hanna ber-agyeo dengan membuat lingkaran melalui jari telunjuk dan ibu jarinya sebagai persetujuan. Entah apa dan mengapa Hanna melakukan itu ia sendiri tak tahu, yang pasti Hanna ingin sekali membelinya.

“Jangan merayuku, Kim Hanna. Atau aku akan menerkammu sekarang juga!” ancam Sehun dengan senyum miring yang memang sengaja ia pahat dalam wajah berahang tegas miliknya. Mendengar kalimat tak pantas itu keluar, Hanna mendesis. “Bagaimana kau bisa mengatakan hal serendah itu? Aku tak suka,” ujarnya menyuarakan ketidaksukaannya terhadap apa yang dikatakan oleh Sehun.

Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali. Hanna baru saja memarahinya? Itulah yang Sehun tunggu! Bukankah berarti Hanna sekarang sudah peduli dan juga memerhatikan apa saja yang pria itu katakan? Awal yang bagus!

“Baiklah, Sayang. Aku tak akan mengatakannya lagi,” Sehun mengalah, meskipun senyum yang mengembang tak lagi bisa disembunyikan. “Kau mau toko itu? Kita akan ke sana.” Ujar Sehun menuruti keinginan Hanna. Entah kata-kata Sehun yang salah atau Hanna yang sensitif, gadis Kim itu masih saja menghujam tatapan tajam pada pria itu.

“Apa lagi, Sayang—”

“Aku bukan sayangmu!”

“Tapi aku menyayangimu, Kim Hanna.”

“Seberapa besar?”

Selang beberapa detik, setelah kesunyian menghantarkan kedua spekulasi yang berseberangan, maka Sehun dahulu yang memecah keheningan. “Seberapa besar?” Bukannya menjawab, Sehun justru mengulangi perkataan Hanna untuk yang kesekian kalinya. Hanna yang merasakan semburat jingga beserta detakan jantungnya yang berirama, lantas membulatkan mata. Mengapa kalimat terkutuk itu datang di saat yang tidak tepat?

Sehun lekas mencondongkan badannya guna meregas jarak. Menciptakan suasana yang intim berkat kalimat serupa undangan eksotis yang digemakan sang empunya. Ini adalah kesempatan bagus dan tidak boleh disia-siakan. Mendapati ancaman datang dengan tiba-tiba—juga kurangnya ruang untuk mengelak—Hanna lekas memundurkan punggung guna antisipasi.

“Mau tahu seberapa besar?”

.

.

.

“Ayah tidak menjemput Nara, ya, bu?” suara sopran kecil nan menggemaskan itu membuat Helena menoleh. Di sampingnya, Helena sedang menyetir. Sejurus kemudian, gadis Jung itu menoleh untuk memberi jawaban sang anak. “Ayah sedang sibuk, Nara-ah.”

Nara kecil lekas mengerucutkan bibirnya manis. Air mukanya kentara kecewa, namun Helena tak bisa berbuat apa-apa. Dengan cepat, ia mengusap puncak surai Nara, lantas membuang tatapan kembali menuju jalanan. Mobilnya berhenti ketika lampu merah menyala, menghentikan beberapa mobil juga kendaraan lain untuk bergilir.

Betapa terkejutnya Helena ketika ia mendapati pemandangan yang luar biasa. Di depan mobilnya, Range Rover putih milih mantan suaminya berhenti. Menunjukkan suatu keganjilan, dimana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Sehun hendak mencium seorang gadis yang ada disampingnya. Rambutnya pendek sebahu, dengan pakaian kasual yang agaknya ia tahu pemilik fasion itu.

“Apa yang ibu lihat?” Nara kembali memecah keheningan dengan suaranya yang menginterupsi. Ia ingin melihat, namun tubuhnya tak bisa melebihi dasbor. Hingga si gadis kecil dengan rambut dikepang dua itu hanya bisa menanyakannya pada sang ibu.

Posisi itu begitu lama, sampai Helena sendiri mengalihkan pandangan dengan terpaksa. Tangannya terkepal dalam genggaman setirnya. Menandakan bahwa ia begitu marah mendapati pemadangan yang mengusik jiwanya. “Tidak ada apa-apa,” sahut Helena mencoba setenang mungkin. Meskipun dalam hati dan juga jiwanya, berbanding terbalik.

“Nara mau permen? Ibu akan membelikannya untuk Nara,” ujar Helena mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena ia tahu Nara sangat menyukai permen, sepertinya. Juga saat hazelnya menangkap sebuah toko permen setelah lampu merah.

Jika saja ayahnya—Oh Sehun—tak mengancam. Jika saja ayahnya itu membiarkan ibunya memberikan apapun keinginan Nara, maka gadis kecil itu akan bersorak gembira juga menganggukkan kepalanya. Namun, Oh Nara selalu menuruti apa yang Ayahnya peringatkan.

“Tidak,” Nara menyahut. “Ayah tidak mengizinkan. Ayah bilang—”

“Jangan sampai ayahmu tahu, okay?

Si kecil Nara dilema. Ayahnya itu selalu tahu apa yang  ia lakukan. Pernah suatu hari, ibunya memberi coklat ketika menemuinya di sekolah. Namun, di saat Sehun tahu, gadis itu lekas mendapatkan hukuman dengan tidak boleh menonton tv selama seminggu, juga tidak boleh pergi tanpa seijinnya. Ayahnya itu memang protektif!

“Ayah itu pintar, bu. Nara tidak mau kalau Ayah marah lagi.” Oh Nara masih saja bersikukuh dengan pendiriannya. Kecantikan Nara memang menurun dari ibunya, tapi keras kepala beserta kepintarannya, juga sikap pemimpinnnya diwariskan oleh sang ayah. Maka dari itu, gen milik Sehun lebih mendominasi.

“Baiklah,” Helena akhirnya hanya bisa membelokkan mobilnya ke kanan—apartemen Sehun—sedangkan mantan suaminya itu tetap melanjutkan rute sebelumnya. Melupakan puing-puing kesedihan yang baru saja rapuh dari hatinya, Helena mencoba menghilangkan bayangan kedua insan itu. Kendati bukan pilihan yang mudah, Helena harus melakukannya.

.

.

.

“Aku mau turun, Oh Sehun!” Hanna memekik ketika sang empunya mobil masih betah memandangi gadis Kim itu. Menelanjangi iris coklat beningnya dengan tatapan tajam, kendati sejurus kemudian mengalihkannya. “Kau berubah begitu banyak, Hanna sayang.”

Tak gentar, Hanna lekas menjawab, “Aku berubah karenamu.”

Seolah berubu belati menghujam ulu hati, Sehun tertohok dengan fakta yang ada. Jadi, rambut yang dipotong sebahu itu karenanya. Pakaian kasual yang sebelumnya tak pernah Hanna pakai itu karenanya. Dan juga sikap dingin dan menutup diri beserta sikap keras kepala yang semakin menjadi-jadi itu juga karenanya. Sehun telah mengubah gadisnya terlalu jauh—tanpa ia ketahui.

“Kau akan mengetahui fakta yang sebenarnya,” ucap Sehun mencoba meyakinkan. “Tapi, tidak sekarang,” tambahnya lagi. Semua akan terjadi, tapi pada waktunya. Biarkan semua mengalir dengan pelan dan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Pria bermarga Oh itu tak mau mengingkari kehendak.

“Aku tidak peduli.” Tukas Hanna enggan menanggapi lebih lanjut. “Aku hanya ingin keluar dan membeli lolipop. Itu saja,”

Jika Sehun boleh mengungkit masa lalu, maka kenangannya akan tertuju kepada tiga tahun lalu. Dimana mereka masih menjalin hubungan dan masih memiliki kepercayaan satu sama lain. Sehun begitu mengetahui kebiasaan Hanna. Gadis itu sangat menyukai lolipop, tapi ketika gadis itu gundah, maka ia akan memakan lebih dari tiga permen. Sehingga Sehun akan menolak ajakan Hanna ketika hendak menuju toko permen yang sama.

Sekarang, semua sudah berbanding terbalik. Tidak ada lagi Hanna yang kekanak-kanakan. Tidak ada lagi Sehun yang bisa merengkuh gadis itu sesuka hati. Dan relasi antara masa lalu dengan masa sekarang bukan tautan yang bisa disamakan. Semua sudah berbeda.

“Aku hanya memperbolehkanmu memakan tak lebih dari dua,” Sehun mengingatkan dengan gayanya yang suka mengatur. Sedangkan gadis yang kini sedang ia tatap justru memicingkan mata—tak setuju. “Jangan mengaturku! Kau bukan siapa-siapa,” lagi untukku Oh Sehun. Hanna ingin sekali mengatakan delapan silabel tambahan itu dengan lantang. Bahkan jikalau bisa, ia akan memekik. Namun, kuasanya tak sebanding dengan hatinya yang akhir-akhir ini sering sekali goyah.

“Aku calon suamimu, Hanna-ah,” Sehun melembut. Kekerasan tak bisa dibalas dengan kekerasan jika hanya mengedepankan ego. Sehun bahkan rela mengalah dalam hal apapun agar gadis Kim itu lekas kembali dan tak akan pergi lagi. Katakanlah Sehun memang memaksa. Fakta pun mengatakan begitu.

“Buka atau aku akan menolakmu, cepat!”

Persetan dengan semua kalimat yang nyatanya tak mempan selain apa yang ia ucapkan. Yang penting, dirinya bisa memakan permen berbentuk bulat dengan warna serupa pelangi itu secepatnya. Merebahkan tubuhnya yang hampir remuk, begitu juga dengan hatinya.

“Kalau aku membukanya maka kau akan menerimaku?” Sehun mulai memberikan penawaran. Mengembalikan keadaan dengan desakan waktu dan juga ego yang semakin besar. Tak pikir panjang, Hanna lantas mengangguk.

Senyum lebar pun menjadi iringan pria itu agar lekas membuka pintu. Membiarkan gadisnya itu merangkai jarak keluar guna meraih lolipop hingga berada dalam kuasanya. Senyum Hanna mengembang ketika melihat beberapa lolipop tertata rapi di atas meja. Mereka terlalu manis, hingga sayang untuk dinikmati dalam sekali makan.

“Aku mau semuanya!” pekik Hanna girang. Senyumnya makin melebar dengan tatapan memuja ketika melihat lpermen berbentuk lingkaran itu. Mendengar kalimat Hanna yang menyimpang dari peraturan yang ia buat—tadi—Sehun akhirnya menegur pelan. “Aku tadi ‘kan sudah bilang kalau—”

Screenshot_20161011-223840.png

“Wah! Ini cantik sekali!” seru Hanna ketika melihat sebuah rangkaian permen dalam satu wadah dengan pita kecil menghiasinya. Sehun pun ia lantas abaikan, mengingat sejak dulu ia selalu perfeksionis dan protektif. Hingga Hanna lekas memanggil pelayan untuk menjeda Sehun yang hendak protes.

“Aku mau yang ini, dua.” Ujarnya sembari menunjuk lolipop yang ia maksud. “Tidak, berikan saja satu. Dia tidak bisa menghabiskannya dalam satu bulan,” sergah Sehun, tak terima mengenai keputusan Hanna. Satu wadah itu sudah ada beberapa lolipop, untuk apa membeli dua? Pikir Sehun.

“Berikan aku, dua! Sekarang!” bentak Hanna, bukan menatap pelayannya, melainkan melayangkan death glare pada Sehun. Sang Pelayan yang tak tahu menahu dan tak ingin tahu pun lantas undur diri. “Ba-baiklah,”

Tak lama kemudian, keduanya saling berperang tatapan. “Mengapa kau suka sekali—”

“Gigimu bisa rusak,”

“Aku bukan anak kecil, Oh Sehun!” sahut Hanna kesal. Perangnya semakin memanas, kala tangan Sehun tergeletak di puncak surai Hanna. “Kau bahkan masih lebih pendek dariku,” ujarnya mencari alasan—lebih patut disebut menggoda.

Hanna mendengus, lantas menyingkirkan tangan Sehun dari kepalanya. “Tinggiku 168 cm dengan berat 48 kg! Bukankah itu tipe idealmu? Aku sudah memenuhinya dan aku bukan anak kecil!” Hanna main tak terkendali. Kalau sudah seperti ini, maka semua kalimat tak pikir panjang akan berkumandang.

“Benarkah? Kalau begitu kita akan menikah secepatnya,” ujar Sehun, sejurus kemudian melipat tangan di depan dada. Apa yang akan Hanna katakan setelah ini?

“Baiklah, aku setuju!”

.

.

.

Continue

.

.

.

tumblr_o3zoqyzw4u1shzgo7o1_500
Oh Sehun- 25 Y.O
56fe3b8c440286e3dcfa13385573619e
Kim Hanna- 23 Y.O
Hasil gambar untuk kids ulzzang
Oh Nara-4 Y.O

Pada akhirnya, chap satu sudah selesai. Bagaimana? Ada yang kena diabetes setelah ini? Terlalu manis atau malah bikin baper? Maklum, si Author baru putus cinta(bukan putus dari pacar) #efek_jomblo

Berakhirlah adegan manis untuk menghibur diri sendiri dengan bualan-bualan di luar kadar-_- yang mungkin akan memberikan efek samping kepada pembaca berupa sesak jantung, napas berhenti, perut pusing beserta kepala disentri/wkwk

Kalau Helena di TIS jadi teman yang baik, maka di sini aku akan menistakannya bersama cabe karena diem aja waktu dicium ama tuh embak-embak di drama #awas_baper

Bang Sehun jadi duda, Helena jadi janda, Baekhyun-Hanna jadi jomblo yang nunggu mereka cerai, juga Hyejin dan Suga yang jadi cast baru. Buat yang masih baper TIS, i never give up to say if —let’s move on to 1435!

Salam kangen dan ketjup basah buat readers!

.

Buat Pict sisanya nyusul 😀

.

Advertisements

51 thoughts on “1435 #1—PutrisafirA255”

  1. Omo sehun jadi duda HAHAHA😂 gapapa deh duda ganteng bebas😝
    Aku masih belom bisa move on juga nih dari take it slow:(
    Tapi fanfiction ini juga lumayan seru pas aku liat di prolog. Ketika duda dan jomblo bersatu HAHA mengapa lucuu.
    Btw ceritanya seruu penasaran nih aku😉
    Next chapter jangan lama lamaaa, kutunggu yaps!

    Liked by 1 person

  2. haduh baper cuy wkwkwk kak aku juga mau permen nya hahaha ohh ya next ya kak ditunggu kelanjutan nya 😀
    fighting kak !!!😍😘

    Like

  3. haaa, lucu batt ini >,< si hanna juga labil wkwkw dia kek masih mau ama sehun wkwk. tapi kalo sehun-helena ga cinta, knapa punya anak wee (?) napsu ya bangg wkwk ahh seru nihh. next nya ditunggu yaakk. jangan lama lama laaa wkwkwk

    Like

  4. ngebayangin Sehun duda, astagaaa, pasti msh tetep ganteng.
    Nara lucu bangeeet, nurut banget sama Sehun, gemes iiiiih.
    Sukaaaaak sama ceritanyaa, ditunggu update selanjutnya yaaa 🙂
    oiyaa, itu helena saudaranya chanyeol kan? kok disitu disebut ‘wanita jung itu’? kayanya authornya typo deh hehe

    Like

  5. Yaampun manis bangett parah2. Gak sabar gimana klo mereka menikah yaa. Wkwkwk. Ihh aku baru baca ff nya ternyata sudah 3 chapter. Wkwk. Aku tunggu chapter 4 nya. Semoga engga lama banget,hehehe. Keep writing

    Liked by 1 person

  6. wkwk tau ga awal nama nara muncul aku kira dia pacarnya sehun eh pas scroll ke bawah ga taunya anaknya kamvrettt -_-
    wkwk ahh sumpah kenapa tiba tiba jadi sok sok manis gini????
    aku yang jomblo juga jadi ikutan nyesek bacanyaaaa wkwkwk
    yaudah next chap ya putt ^^

    Like

  7. visualnya kim hanna.. ugh seksii bgt kk, cantiikkk abiss hahaha.. seketika fokus kesituu
    ohh jadi helena sm hana tu dulu sahabatan, oh oh ohh.. trs disini kok aku ngerasanya si helena masih suka yaa sm sehun yaa, cuma gegara ada satu hal aja dia mo bikin sehun itu ngerasa dicampakkan..
    trs sbnernya tuh si baekhyun helena memang sm” Cinta atau cuma kerjasama buat ngejatuhin sehun sih kk..???

    Like

  8. Ugh aku yg diabetes nih kek nya 😂😂😂😂
    Jgn blg klo nara itu anaknya baek,, helena gunain nara buat hartanya sehun gitu? Ok next

    Like

  9. Aku antara ingat atau ngga komen diff ini , tapi aku sering keblog ini cuma mau cari ff kok. Dicerita ini aku suka karena ya menarik aja terus ceritanya sering dibuat panjang😁. Au suka peran Hanna sama Sehun disini . Seandainya bisa ada drama kayagini aku suka kebangetannn….

    Liked by 1 person

  10. hana lucu ya wkwkw
    thor akuko ga ngerti ya:(
    hana sama sehun kan udahannya 3 tahun yang lalu tuh thor, nah ko anak sehun sama helena udh umur 4 tahun lagiii

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s