1435 #2—PutrisafirA255

77-copy1435—Propose

.

Story from PutrisafirA255

.

Cast

Oh Sehun-Kim Hanna

Byun Baekhyun- Helena Park

Other Cast

Jung Hyejin-Min Yoongi

etc

.

Genre

Marriage Life, Romance, AU, Fluff, Drama, Family, etc.

.

PG-16

.

Hope you like it and give me comment as appreciation

.

PutrisafirA255©2016 | Blackandwhite

.

Prolog  #1 [Restart] | #2[Propose] (Now)

Story begin

.

.

Sehun tak henti-hentinya tersenyum. Tak dinyana, ternyata alasan mengapa Hanna membeli dua wadah lolipop itu adalah; satu untuk diri Hanna sendiri dan satu lagi untuk Nara—anaknya. Maka dari itu, menyimpang sejenak dari pesan Hanna untuknya, Sehun mengambil alih permen itu untuk ia sendiri.

Setelah hampir bergelut dengan keheningan lebih dari dua puluh menit, si Mungil yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang kerjanya dan berhasil memecah kesunyian. “Ayah!” pekiknya sembari berlari padanya.

Sehun pun lekas mengalihkan perhatian. Menangkap si kecil untuk diajak kepangkuan. “Ada apa, huh?” tanyanya sembari mencubit lembut pipi tembam Nara. Si Mungil pun memberengut setelah Sehun bertanya. Agaknya gadis kecil itu masih marah.

“Mengapa Ayah tidak menjemput Nara?”

Mengerucutkan bibir, wajah kesal pun ia tampakkan demi meluapkan emosi kepada yang bersangkutan. Mengukir senyum di bibir, Sehun pun memeluk Nara. “Maafkan, Ayah. Tadi Ayah sangat sibuk. Jadi, tidak bisa menjemput Nara.” Ujarnya memberi alasan.

Dalam hati, Sehun pun meralat ucapannya. Ayah sibuk mendekati ibu barumu, Nara-ah.

Melepaskan rengkuhan posesif sang Ayah yang selalu saja terjadi jika mereka berpelukan, Nara pun mengedarkan pandangan menuju meja sang Ayah. Sebuah benda dengan warna yang cantik menarik perhatian si Kecil. Gadis itu menatapnya girang, hendak meraih namun ia mengurungkan niat.

Mendapati pergerak yang Nara lakukan, Sehun pun akhirnya memusatkan fokus menuju atensi yang terakhir kali anaknya tinggalkan. “Nara mau?” tawarnya dengan cuma-cuma. Kini, gadis kecil itu mendongak. Menatap iris coklat pekat sang Ayah dengan penuh harap, Nara mengangguk.

Sehun pun tersenyum penuh. Salah satu tangannya terulur mengambil satu lolipop kecil dari wadahnya. Mengangsurkannya pada Nara, namun ditanggapi enggan oleh empunya. “Mengapa?” tanya pria Oh itu kemudian. Tangan mungil Nara menunjuk wadah lolipopnya lagi. “Aku mau semua,”

Alih-alih menuruti, Sehun justru menggeleng pasti. “Tidak, gigimu bisa berlubang, Oh Nara.” Tegurnya halus. Meskipun Sehun jarang membentak Nara, ia tak membiasakan gadis kecil itu dimanjakan. Meskipun ia bisa membeli tokonya sekaligus, ia masih tetap teguh dengan pendiriannya.

“Tapi, ‘kan Nara rajin sikat gigi bersama Ayah setiap malam,” gerutunya. Bibir kecilnya mengerucut, kepalanya pun ikut tertunduk lesu mendapati keinginannya tak lagi dipenuhi. “Nara bisa meminta lagi kalau permen itu sudah habis,” sahut Sehun sembari mengusap surai coklat terang sang Anak.

“Benarkah?”

Sehun mengangguk. “Tentu saja, mengapa tidak?”

Nara akhirnya tersenyum lebar. Gigi kelincinya yang ada dibaris depan pun nampak dengan manisnya. Membuat Sehun—untuk sekian kalinya—tersenyum gemas. Hendak melanjutkan pekerjaannya tanpa mengabaikan Nara sekalipun, ia memindahkan si kecil hingga duduk di atas meja kerjanya.

Dalam sunyi, di atas mejanya, Nara menikmati lolipop itu dengan tenang. Meskipun sesekali bunyi kecapan terdengar, Sehun pun tak terganggu. Yang terpenting, dirinya sendiri senang, begitu juga dengan Nara.

“Tadi ibu juga ingin membelikanku permen,” suara sopran si Mungil terdengar. “Benarkah? Memangnya—”

Seketika tangan Sehun yang semula bertengger manis menekan keyboard terhenti begitu mengilhami makna dari kalimat sang Anak. “Ibu menjemputmu?” kentara sekali Sehun tak suka. Dengan polosnya, Nara mengangguk. “Bukankah Ayah sudah memperingatkanmu untuk tidak ikut dengan ibu?”

“Kata ibu, ayah yang menyuruh—”

“Ayah tidak melakukannya!” bentak Sehun keras. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suara bass itu memekik dengan begitu emosional. Oh Nara yang sedang menikmati lolipop pun terdiam. “Bukankah ayah sudang bilang kalau kau tidak boleh pulang dengan ibu apapun yang terjadi? Apa Han ahjussi tidak menjemputmu?!”

Bulir bening pun menggenang di pelupuk mata si Mungil. “Nara tidak tahu, ibu sudah datang saat—”

“Sial!” Sehun mengumpat begitu pelan, meskipun tubuhnya terdominasi oleh emosi. “Jika sekali lagi Ayah melihat Nara pulang bersama ibu—” kalimatnya terhenti ketika suara sesenggukan terdengar meskipun sudah ditahan oleh empunya. Sejurus kemudian, Sehun baru saja sadar kalau ia sudah terlalu kasar pada Nara.

Butuh beberapa detik untuk mengambil langkah kecil guna mendekati sang anak. “Nara-ah, maafkan Ayah,”

Di saat tangan kekar sang ayah hendak merengkuh si kecil, gadis itu justru menepisnya kasar. “Nara mau turun,” pintanya telak. Bukannya menuruti, Sehun justru bergeming. “Nara-ah,”

“Nara mau turun!” pekiknya kemudian. Nara sudah terlalu kesal dengan Sehun, hingga gadis kecil itu tak mau mendengarkan penjelasan sang ayah barang sekalipun. Tak ada pilihan lain, Sehun pun akhirnya menuruti. Menurukan tubuh mungil itu di atas lantai. Setelah sampai, gadis kecil itu lari sekuat tenaga menuju kamarnya. Lantas mengunci pintunya ketika sosok jangkung itu—Sehun—ada di depan kamarnya.

“Nara-ah, buka pintunya. Ayah minta maaf—”

“Aku mau tidur!” ucap Nara dari dalam dengan suara keras—agar Sehun mendengarnya. Di dalam kamarnya, gadis kecil itu melipat tangan didepan dada, lantas memajukan bibir bawahnya sebagai bentuk amarah—meskipun nampak lucu dengan pipi tembamnya yang manis. “Baiklah, jangan lupa sikat gigi—”

“Nara bisa sikat gigi sendiri!” protesnya enggan diperintah.

Sehun hanya bisa menghela napasnya pelan. Anak kesayangannya itu sedang marah, dan Sehun tak bisa melakukan apapun selain menjauh dan mengumandangkan ucapan pengantar tidur yang biasa Sehun ucapkan. “Baiklah, jaljayo(selamat malam.)”

.

.

.

Hanna tak bisa menghentikan kegiatannya menikmati lolipop, meskipun Hyejin memberengut dihadapannya. Melayangkan tatapan maut serupa gambaran mengapa si gadis Jung itu begitu marah.

Bagaimana tidak? Seharusnya, Hanna kembali setelah satu jam pergi meninggalkan kantornya untuk berganti pakaian. Tetapi, bukannya lekas kembali, Hanna justru melimpahkan tugas pada anggota tim-nya. Membuat Hyejin yang biasanya tak bekerja ekstra dalam mengerjakan operasi, justru dua kali lipat lebih sulit. Maka dari itu, sedari tadi tatapan Hyejin tak bersahabat.

“Kau,” panggil Hyejin sambil menunjuk gadis Kim dihadapannya itu dengan dagu. Bukannya lekas mendongakkan kepala guna menatap iris coklat Hyejin, Hanna justru masih sibuk memainkan ponselnya.

“Kim Hanna!” pekik Hyejin kemudian, tak bisa bersabar karena terabaikan. “Kau itu tidak punya rasa bersalah, ya? Atau tidak punya malu?”

Untuk yang satu ini, Hanna akhirnya mendongak. “Apa? Aku berbuat salah?” tanyanya tanpa dosa, tak tahu kesalahan—lebih tepatnya tak peka—hingga Hyejin lebih geram. “Seberapa jauh otakmu sudah bergeser, huh?” ujar Hyejin bertanya dengan kalimat yang sarkatis.

Enggan memerdulikan lagi, Hanna menunduk, kembali pada kegiatannya semula—bermain game.  “Dua,” ucap Hanna asal. Gadis Kim itu mungkin tak sadar, tetapi pekikkan super keras milik Hyejin membuat hampir beberapa perawat yang melintas kantin hampir terkena serangan jantung.

Neo gwenchanha?” tanya Hyejin sembari mengulurkan kedua tangannya ke kepala Hanna cepat. Jika saja Hanna hilang keseimbangan, mungkin gadis itu sudah terjungkal. “Manhi appa?” sahut Hyejin lagi, tak memberikan kesempatan sang empunya untuk melayangkan penjelasan. “Hyejin-ah,”

“Kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut, dua sentimeter itu bisa berakibat fatal, Kim Hanna!” Hyejin mulai kalut, tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Padahal, dua silabel yang Hanna sebutkan tadi hanyalah asal. Karena dalam game-nya tadi, ada dua mobil di depan miliknya yang mengganggu. Omong-omong, Hanna suka game laki-laki. Itu juga karena kedua kakaknya yang sering bermain bersama.

“Jung Hyejin!” Hanna tak bisa lagi bersabar. Bukan otak Hanna yang bergeser, gadis Jung itu juga—pikir Hanna. “Aku tidak apa-apa, okay? Jadi, jangan khawatirkan aku! Khawatirkan saja pacarmu yang datang dengan sebuket bunga juga—”

“Yoongi datang?!”

Tentu saja Hyejin kelabakan. Beberapa hari yang lalu, keduanya bertengkar. Berawal dari pria Min itu yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, hingga hari libur yang seharusnya dihabiskan bersama, justru ditemani oleh setumpuk berkas penting yang tak bisa dilewatkan. Dan yang lebih parah, Hyejin tak mendapat kabar apapun. Masalahnya semakin membesar, meskipun klise.

“Aku pergi dulu,” pamit Hyejin pada Hanna sembari menutupi wajahnya dengan sebelah telapak, meskipun Yoongi menyadari kepergian gadis itu. Hendak mengejar, namun lengannya tertahan oleh tangan Hanna. “Dia biasanya pergi rooftop dan kau bisa pakai lift itu,” Hanna berujar sembari menunjuk sebuah lift di sudut koridor.

Bukannya lekas menuruti atau berterima kasih, Yoongi justru mengerutkan keningnya. Otaknya diajak bekerja dua kali lebih keras. Mencoba sosok cantik dengan rambut pendek cantik yang menarik perhatian. Bukan maksud Yoongi mengkhianati Hyejin, hanya saja wajah itu nampak familiar.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Yoongi hati-hati. Ini pertama kalinya mereka bertemu, hanya saja film negatif di otaknya begitu menyangkal bahwa wajah itu tidak pernah sekalipun terlihat di ingatannya. Tapi, siapa gadis ini?

Hanna menggendikkan bahu sebagai jawaban. Gadis itu bangkit dari peraduannya, lantas memasukkan kedua tangannya pada saku jas putih kebanggaannya. “Entahlah,” sahutnya tak memerdulikan pria dihadapannya itu. Jangan pernah mengajak Hanna mengingat hal sepele dan hanya sekilas, karena Hanna tidak suka mengingat. “Hanya saja, tatapanmu itu, nampak familiar.” Tambahnya sebelum pergi.

“Oh, ya,” Hanna membalikkan badannya cepat. Ia teringat sesuatu nampaknya—batin Yoongi. “Sudah larut malam dan dingin diluar sana,” Hanna membuat gesture dengan tangannya. Bermakna; pergilah! Apa kau tidak kasihan dengan Hyejin?

Mengerjapkan mata beberapa kali, Yoongi pada akhirnya mengalah. Ia menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, lantas meninggalkan Hanna. Belum sempat berbalik lagi untuk mengukir jarak, suara bass tiba-tiba dibelakangnya. “Siapa dia?”

Jika saja Hanna bukan gadis yang sabar dan suka berteriak seperti Hyejin, maka dirinya akan memukul kepala pria itu dari belakang hingga hampir terjungkal mencium lantai rumah sakit. Sayangnya, Hanna masih punya pendirian yang kuat, juga pintar menjaga karismanya di depan para penghuni rumah sakit yang lain. Sehingga, gadis itu hanya melemparkan tatapan tajam juga menghardik. “Bisa bertanya tidak ‘tepat’di depan telinga? Suaramu itu seperti Ahn ahjussi?” suaranya tenang, hanya saja kesan dingin tidak terelakkan. Ahn ahjussi itu satpam rumah sakit, omong-omong.

“Ahn ahjussi? Yang benar saja!” pekik Chanyeol tidak terima. Pria jangkung itu lantas merangkul Hanna guna menjaga perdamaian. “Mau kemana?” tanyanya penasaran, namun bukan itu sebenarnya kalimat tanya yang ingin ia tanyakan. Ada satu yang mengusik jiwa, hanya saja waktunya belum tepat.

Dengan keras, Hanna menolak mentah-mentah tangan pria Park itu bertengger manis di bahunya. Ia tak mau lagi di cap sebagai perusak hubungan orang—untuk kesekian kalinya. “Pulang,” ujarnya sembari mengambil langkah menjauh.

“Ayo pulang bersama!”

.

.

.

Sejak kejadian beberapa puluh menit yang lalu, Sehun tak bisa lagi berkonsentrasi mengerjakan tugasnya. Fokusnya terpecah ke beberapa atensi; lolipop pemberian Hanna, tugasnya, juga Nara yang sebenarnya tak bisa tidur tanpanya.

Maka dari itu, Sehun menghempaskan punggungnya kasar pada sandaran kursi kerjanya. Memutarnya seratus delapan puluh derajat, hingga ia bisa menatap kota Seoul dari ruangannya. Bisa ia lihat langit semakin gelap, dengan lampu yang saling berhubungan hingga menciptakan sinkronisasi yang indah. Seolah harmonisasinya mengejek Sehun yang tengah menyendiri.

Harmonisasi? Seketika saja Sehun teringat oleh sesosok cantik yang kini mungkin tengah bertugas, atau mungkin sedang tertidur nyeyak di kasurnya. Apakah Hanna sedang melihat apa yang tengah dilihatnya sekarang?

Sehun pernah dengar, jika pasangan saling melihat satu objek yang bisa dipandang, maka mereka berarti telah berjodoh. Sayangnya, perkiraan beserta keinginan Sehun tak terkabul. Terbukti dengan panggilan yang ia terima dari Hanna.

“Sehun tolong aku!” ujarnya dengan nada yang kentara panik, namun berbisik. Sejurus kemudian, mendengar kalimat Sehun pun ikut kalut. Ia lekas bangkit, kemudian mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik. “Ada apa?!”

Bisa Sehun dengar, Hanna mengerang guna meluapkan kekesalannya pada pria Oh itu yang tak segera menolongnya. “Ugh! Intinya, aku butuh bantuanmu, keadaanya sangat genting!” ujarnya menambah rincian bagaimana keadaan yang terjadi.

Lekas berlari, Sehun mengambil kunci motornya. Sejurus kemudian, mematikan sambungannya dengan Hanna. Melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, tak memerdulikan lalu lintas, kendati kendaraan tak lagi memadati ibu kota.

Butuh hampir dua puluh menit dari apartemen Sehun untuk bisa sampai kepelataran rumah sakit. Dan Hanna tahu betul itu. Hingga ia sekarang hanya bisa mendengar Chanyeol beserta kekasihnya bertengkar hebat di hadapannya. Dengan dalil yang masih sama; Hyerim—nama kekasih Chanyeol—cemburu ketika pria jangkung itu merangkul Hanna.

“Kau sudah tidak mencintaiku, Park Chanyeol!”

“Tidak, Hyerim-ah. Hanna dan aku hanya berteman, tidak seperti yang kau pikirkan—”

“Bagaimana bisa berteman sedekat itu? Teman yang terlalu dekat untuk dikatakan teman! Siapa yang akan percaya—”

“Permisi,” suara bariton yang lain menginterupsi. Menyadarkan ketiga anak manusia yang sedang mengedepankan ego masing-masing. Mengadahkan kepala, Hanna begitu tersentak ketika sosok yang datang tak lain dan tak bukan adalah penolongnya, Oh Sehun.

“Apakah etis berkelahi di lingkungan rumah sakit seperti ini? Bahkan karena kalian aku harus menjemput kekasihku ini,” Sehun mulai berbicara sesuai kehendak, tak mendengarkan penjelasan terlebih dahulu dari sang empunya.

Hanna yang hendak menginterupsi pun hanya bungkam. Sehun memang benar, bantuan yang dimaksud adalah membawanya pergi dari dua manusia yang sering sekali berkelahi karenanya. Tetapi yang menjadi atensinya saat ini adalah mengenai kalimat Sehun yang nadanya nampak kentara tak ikhlas membelanya. Karena kalian aku harus menjemput kekasihku? Yang benar saja! Pikiran Hanna berkecamuk.

“Sehun?” Chanyeol yang baru saja menoleh hanya bisa menggumamkan nama sang empu. membuat pria Oh itu menyunggingkan senyum terpaksanya. Lantas mengangkat tangannya tinggi. “Hai, Chan. Lama tidak berjumpa, bukan?”

Lazimnya, itu adalah sebuah sapaan. Namun, dengan retorisnya Sehun menanyakan hal yang sebenarnya bisa memicu pertengkaran lagi jika Hanna tak segera menarik lengan itu pergi. “Benar, kalian sudah lama tidak bertemu,” sela Hanna menengahi. “Jadi, bisa kita pergi kencan sekarang, Oh Sehun?”

Kalimat terkutuk untuk yang kedua kalinya terucap. Bahkan sang empunya nama yang diajak bicara ikut tergelak. Kencan, ya? Pikir Sehun. Mungkin ia bisa memberikan definisi kencan yang sebenarnya.

“Ah, benar!” Sehun mengikuti arus permainan yang diciptakan gadisnya. “Mungkin pertemuan pertama kita memang tidak menyenangkan, tapi aku rasa kau akan menyadari sesuatu besok, agasshi. Selamat malam,” pamitnya pada Hyerim yang masih mematung di samping Chanyeol. Batinnya bersorak gembira meskipun ada rasa iri dalam dirinya. Siapakah pria tampan yang sudah ditaklukkan Hanna itu?

Dengan gugup, Hyerim pun lantas menggangguk, “I-iya, selamat malam juga,”

.

.

.

Hatinya menggebu-gebu. Antara perasaan senang dan kesal, namun yang terakhirlah lebih mendominasi. Sehun pikir, gadis itu sedang dalam keadaan gawat, hingga ia bisa menjadi pahlawan dan meminta balas budi. Namun, menyelamatkan Hanna dari sepasang kekasih yang sedang dilanda amarah itu. . Sehun tidak bisa memikirkannya lagi.

Tak menunggu lama, ia lantas menarik lengan Hanna hingga sang empunya berbalik. Menatap hazel coklat pekat miliknya, sampai-sampai Hanna tak kuasa melihat amarah, kendati itu menarik perhatiannya. “Kau pikir aku apa? Superman? Aku kira kau dalam bahaya sampai-sampai aku tidak bisa berpikir—”

“Itu tadi juga bahaya, Oh Sehun,” Hanna lebih dulu menyela. Mencoba memberi penjelasan, meskipun pria dihadapannya itu masih saja menatapnya tajam. Sehun-nya sudah kembali. Tapi, apakah Hanna bisa mengatakan bahwa Sehun menjadi miliknya hanya karena pria itu memberikan peluang kepadanya untuk kembali? Sejujurnya, Hanna masih bimbang. Namun tak bisa mengungkiri betapa bahagianya ia bisa berdekatan dengan pria itu.

“Maksudnya?”

“Sejak aku mengakhiri hubunganku dengan Chanyeol, dia menyukai Hyerim.” Hanna memulai pembelaan, sedangkan Sehun mengerutkan keningnya. “Lima tahun yang lalu? Sejak kau putus dengan Chanyeol dan menjadi pacarku?”

Sial! Batin Hanna menjerit. Mengapa Sehun dengan lantang juga percaya dirinya mengungkit masa lalu? Apa Sehun yang tak sadar mengucapkannya atau Hanna yang terlalu peka dengan masa lalu mereka? Yang pasti, pipi Hanna hampir merona jika ia tak segera mengigit bibir bawahnya.

Gesture yang diciptakan Hanna sederhana, sebenarnya. Tetapi, dampaknya begitu besar bagi seorang Oh Sehun yang sudah sejak lama mendambakan gadis itu. Atensinya terarah menuju bibir tipis itu, hingga pikiran untuk mengecup peraduan manis itu terlintas begitu saja.

“Jangan gigit bibirmu atau aku akan mengigitnya sekarang juga,” ancam Sehun. Jika ada yang bisa mengajarkan Sehun menahan semua gejolak yang ada, mungkin Sehun tak akan mengucapkan ancaman itu.

Sayangnya, ancaman yang dilayangkan itu tak berdampak apapun. Terbukti dengan Hanna yang masih saja mengigit bibirnya. Sampai-sampai membuat Sehun geram dengan respon kerjapan mata yang diberikan Hanna. Gadis Kim itu pun mencoba memundurkan tubuhnya untuk antisipasi. Ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Takdir memang tak selamanya berpihak. Begitu juga kepada Sehun yang mendapat jackpot justru terusik dengan panggilan tiba-tiba itu. Menghentikan langkah Sehun yang hendak menggoda, lekas menerima panggilan.

“Apa?”

“. . .”

“Baiklah, aku segera pulang,”

.

.

.

Hanna hendak memberontak, namun hatinya tak kuasa. Ada secercah rasa kasihan kepada single parent yang kini ada dihadapannya. Berdiri di depan sebuah kamar yang tak lain adalah milik Nara, anak semata wayangnya. Air mukanya begitu cemas, namun tak ada pergerakan barang satu senti pun dari tempatnya berpijak.

“Tidak masuk?” suara sopran Hanna memecah keheningan. Hanna tak tahu mengapa Sehun hanya diam tanpa melakukan apapun, padahal anaknya pasti membutuhkan pria Oh itu. “Ada apa?”

Sehun menoleh sejenak, lalu menurunkan pandangannya pada manik coklat terang milik Hanna. Gadis berambut pendek sebahu itu menatapnya kesal. “Aku baru saja bertengkar dengannya,” ujar Sehun mengutarakan sebab sebenarnya. Kalau saja anaknya itu tidak seperti dirinya yang punya dendam berkepanjangan, maka Sehun akan membuka pintu itu secepat kilat, lalu merengkuh gadis kecil itu dalam-dalam.

Hanna hanya menghela napasnya panjang. Hanya masalah sepele, mengapa diperdebatkan? Pikir Hanna. Sejurus kemudian, Hanna mengambil kendali. Membuka pintu itu pelan, hingga menampakkan gadis kecil dengan rambut terurainya yang basah karena keringat yang terus saja mengucur dari pelipisnya. Gerakan matanya gelisah, hingga ia tak bisa menghentikan langkahnya mendekat.

Perlahan, Hanna mengulurkan punggung tangannya pada dahi Nara. Memperkirakan seberapa panas suhu tubuh gadis kecil itu. “Sehun-ah,” panggil Hanna kemudian. Sang empunya nama pun menatap gadis itu dalam kejauhan, masih mematung di ambang pintu. “Kau punya handuk kecil dan juga obat penurun panas?”

Si pemilik rumah pun lekas mengangguk. “Aku akan mengambilkannya untukmu,”

.

.

.

“Terima kasih,” suara bariton itu mengumandangkan lima silabel itu untuk Hanna. Jika saja Hanna tidak ada, mungkin ia sudah bingung karena tidak tahu harus melakukan apa. Sejak kecil, Helena selaku ibunya yang melakukan itu. Sehingga Sehun sudah merasa tenang jika gadis Park itu ada di sana.

Namun, kenyataannya sekarang gadis itu tak lagi ada.

“Kau bisa menghubungiku jika perlu bantuan,” Hanna memberitahu. Segaris senyum pun ia tunjukkan sebelum menyesap kopi yang baru beberapa menit lalu keluar dari dolce gusto. Mengecap beberapa kali, sebelum akhirnya melayangkan pertanyaan. “Sejak kapan kau menyukai kopi?” tanyanya mengambil alih konversasi. Mencoba membelah rasa canggung yang entah sejak kapan menyelubungi keduanya.

Sehun yang masih saja terdiam pun mendongak. Sekon kemudian, ia mengangkat kedua sudut bibirnya. “Entahlah,” sahut Sehun singkat. “Mungkin sejak aku menyukaimu?” godanya yang dibalas tatapan sebal. Gadis Kim itu pun lekas menyanggah pernyataan pria di hadapannya. “Kau tidak suka kopi saat SMA, jadi jangan membual, Oh Sehun-ssi,”

“Aku tidak membual,”

“Kau pendusta yang ulung,”

“Tidak juga,”

“Siapa tahu? Kau bahkan berbohong tentang Na—” Hanna lekas menghentikan kalimatnya yang mungkin akan mengusik ketenangan pria Oh itu hanya karena Hanna tak bisa menimpali kalimat Sehun.

“Nara?” Sehun menebak. Agaknya benar ketika air muka Hanna berubah seketika. Alih-alih marah, Sehun justru menjelaskan apa yang seharusnya dijelaskan sebelumnya. “Boleh aku bercerita?” tanya Sehun sebagai persetujuan. Ia ingin membuat sebuah hubungan tanpa ada yang ditutupi, meskipun rasa takut kehilangan itu semakin besar.

Hanna yang belum siap menyesuaikan dengan keadaan pun hanya mengangguk lemah. Kelopak matanya masih diangkat tinggi—membulat. “Sebenarnya, Nara belum tahu kalau aku dan Helena sudah bercerai,”

“Karena ia terlalu kecil untuk tahu?” sela Hanna yang memang benar adanya. Si kecil belum tahu menahu perihal itu. Tapi, lambat laun Nara akan tumbuh dan paham meskipun Sehun sudah menyiapkan mental sejak dini untuk menghadapi amarah Nara—suatu saat nanti. “Terima kasih sudah paham maksudku,” ucap Sehun sembari meraih tangan Hanna yang bebas di atas mini bar miliknya.

“Aku ingin kita membuat sebuah hubungan tanpa kebohongan.” Kalimat pengantar Sehun sudah siap. “Aku tidak bermaksud memperalatmu atau apalah itu,” Sehun menarik sebentar napasnya, lalu menghembuskannya perlahan. “Hanya kau yang bisa membuat Nara selalu ada di sisiku,”

Salahkah jika Hanna terkejut? Pasalnya, Hanna menangkap maksud Sehun setelahnya. “Jika aku menikah denganmu, hak asuk Nara akan menjadi milikmu?” tanya Hanna agak retoris. “Dan kau akan menjauhkan Helena dari anaknya sendiri?”

Sehun menggeleng cepat, meralat. “Tidak. Aku hanya ingin Nara tetap dalam pengawasanku. Karena aku adalah ayahnya.”

“Kau tahu kalau kau itu egois?” pertanyaan retoris seorang Hanna kembali dilayangkan oleh sang empunya. Tuduhan itu bukan tanpa bukti. Jika Hanna boleh menilik kembali masa lalu, Sehun memang tidak suka apa yang menjadi miliknya, diambil bahkan diusik oleh siapapun. Sehingga, Sehun akan mempertahankan apapun yang menjadi miliknya.

Sehun yang mendengar pertanyaan itu merasa tersudut. Alisnya diangkat ke atas beserta dahinya yang ikut mengerut sebagai balasan. Apakah Hanna memandangnya seperti itu?

“Aku akui itu,” Sehun menyahut dengan perlahan. Mengakui kelemahannya sebagai seorang pria dihadapan gadis kesayangannya. “Maka dari itu, aku tidak bisa merelakanmu dengan pria manapun,”

Hanna mendengus mendengar perkataan Sehun yang kentara sedang mendikte. Membuat gadis itu jengah pada akhirnya. “Lalu, apa yang kau mau dariku?”

Inilah kalimat yang ditunggu oleh Sehun sedari tadi. Bisakah Sehun mengatakan bahwa ia mendapatkan lebih banyak jackpot hari ini?

“Aku menginginkanmu,” Sehun memberanikan diri meminta izin sang empunya sebelum meminang secara resmi. “Jadilah bagian dari hidupku. Mengisi kekosongan hatiku dengan namamu, meskipun itu sudah sejak dahulu kulakukan.”

Hanna terdiam. Masih membiarkan pria Oh dihadapannya itu mengungkapkan semua apa yang  ingin ia katakan. Dan selama itu terjadi, Hanna akan mencermati satu-persatu untaian mimpi yang dirangkai dalam kalimat manis yang sialnya berhasil membuat Hanna tersentuh.

Sayangnya, di sisi lain Hanna juga menganggap bahwa itu hanyalah tipu muslihat Sehun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Satu desahan lemah pun Hanna loloskan guna membiarkan napasnya yang sebelumnya tercekat kini bebas berbuai dengan komponen udara yang lain. Membiarkan kesunyian menemani sejenak menjadi jeda bagi pria Oh itu berujar. Namun, tak lama kemudian Hanna mengambil alih pembicaraan.

“Baiklah,” tiga silabel yang dikumandangkan itu berhasil menarik atensi Sehun untuk mendengar kelanjutannya. “Aku akan menikah dengamu.”

.

.

.

Hasil gambar untuk baekhyun black hair 2016
Byun Baekhyun-25 Y.O

CoruujtVMAE52mF.jpg
Helena Park-23 Y.O

Author’s note:

Hai, guys! Ayo berpikir jernih *korban iklan

Maaf karena late post banget, tugas numpuk, tugas kelompok anggotanya sibuk sendiri acara keluarga dan presentasi yang mengharuskan total performance. Belum lagi aku kena penyakit WB(Writer Block).

Okay, sudah tahu, ‘kan alasan Sehun ngebet nikah ama Hanna? /bahasa lu thor, jahat banget-_- Supaya hak asuh Nara enggak jatuh ketangan Helena, padahal../author hendak spoiler

Intinya, gitulah. Nikmati saja apa yang ada, jikalau ada typo(s) maafkan daku yang tak sengaja memencetnya/?

Happy Sunday! Love you and keep your way to 1435!

Regards,

PutrisafirA255

Advertisements

35 thoughts on “1435 #2—PutrisafirA255”

  1. Ahh makin seru aja nihhhh >.< aku tau kalo sehun itu dari dulu cintanya sama hanna. Tapi kenapa si sehun nikah ama helena ampe punya anak gitu (?) aku pikir si nara bukan anak kandungnya sehun gitu. Kasian juga sii si hanna kek jadi dimanfaatin sama sehu secara ga langsung. Tapi serius itu si hanna mau?? Duhh aku dukung mereka. Si sehun sweet daddy bangettt!!! :)) next ditunggu sangatbyakk. Aku beneran penasaran ihhh 😆

    Like

  2. agak gimana gitu ya denger alesan sehun ngebet nikahin hanna tapi gak papa yang penting married
    pengen hanna sama nara berinteraksi apa nara bisa nerima hanna jadi calon emaknya

    Like

  3. Ngga bisa banyak komen karena ff ini selalu membuat aku bacanya ngefly terus dan feelingnya itu dapat banget . Very Good Job banget buat authornya.

    Liked by 1 person

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s