A Goodbye

a-goodbye-bycastorpollux

.

Oh Sehun x OC || Oneshot || Adult Romance, AU, hurt/comfort || PG-17

.

.

Oh Sehun mendapat sebuah kado perpisahan yang sangat indah.

***

“Menungguku?”

Aku menoleh, mendapati seorang wanita sedang berdiri di sampingku. Haruskah aku menjawab pertanyaan itu dengan kata iya? Sepertinya tidak perlu, karena aku yakin dia sudah tahu apa yang akan kukatakan. Tersenyum, aku menepuk lantai kayu di sampingku, tanpa suara meminta agar ia duduk di sana.

Senyum itu menular, mungkin itulah alasan mengapa dia ikut tersenyum. Wanita itu lalu duduk di sampingku, cukup dekat hingga aku bisa menghirup aroma bunga lili yang menguar dari tubuhnya.

Udara malam ini sangat dingin, tapi wanita itu tampak tenang duduk dengan gaun tidur tipis bermotif bunga yang hanya dilapisi sweater yang menurutku tidak cukup tebal untuk memberi kehangatan padanya. Dalam diam, ia tampak asyik menatap lurus ke arah hamparan laut yang terbentang di depan kami, seolah ada sesuatu yang begitu menarik dari kumpulan air asin yang permukaannya sedikit berbuih akibat putaran mesin kapal.

Aku mengikuti arah pandang wanita itu, namun seperti malam-malam sebelumnya, aku gagal mendapati sesuatu yang layak diperhatikan di sana. Akhirnya, demi tidak mengganggu upaya wanita itu untuk menikmati keheningan malam ini, aku hanya bisa duduk di sampingnya tanpa bersuara.

Aku tidak tahu berapa lama waktu yang berlalu dengan kami hanya berdiam diri seperti itu. Hening yang menyelimuti kami berakhir ketika dia bersuara. Pelan dan dingin.

“Kapal ini akan menepi besok pagi.”

“Aku tahu.”

“Kita mungkin tidak akan bertemu lagi.”

“Aku tahu.”

“Aku akan sangat merindukanmu,” akunya.

Aku juga tahu itu, tapi satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untuk menanggapi kalimat terakhirnya adalah diam. Wajahku mendadak terlalu kaku hingga tak ada ekspresi sedikit pun yang bisa hadir.

Saat pertama kali melihatnya, aku sadar betul bahwa perpisahan adalah hal yang tidak bisa kami hindari. Kupikir aku akan siap ketika dia mengatakan hal itu. Aku sudah membayangkan dia mengucapkannya sejak jauh hari. Aku bahkan sudah berlatih harus menampilkan ekspresi apa untuk menyahuti perkataannya, tapi dengan bodohnya sekarang aku malah diam membatu.

Dia juga tak berkata apa-apa lagi. Hening kembali mengambil alih perannya. Suara angin dan deru halus mesin kapal menjadi satu-satunya irama yang mengalun di antara kami.

Kapal pesiar mewah berkapasitas hampir seribu penumpang ini sudah sepi. Orang-orang pasti sudah terlelap di kamar masing-masing setelah lelah berpesta sampai tengah malam tadi. Aku sendiri sengaja tidak tidur. Alasannya jelas, agar aku bisa menemui wanita itu di sini.

Pertemuan kami terjadi setiap malam sejak kapal ini mulai berlayar seminggu lalu. Dia tipe orang yang suka menyendiri, pikirku. Di saat orang seharusnya tidur, dia selalu beranjak ke buritan kapal, duduk diam sambil merasakan angin laut yang asin menerbangkan rambut ikalnya. Aku sengaja mengikutinya waktu itu, sengaja duduk di sampingnya tanpa meminta izinnya, semua dengan harapan bisa sedikit lebih dekat dengannya.

Dia tidak pernah mengusirku. Sedikit pun tidak ada tanda bahwa dia risih akan keberadaanku. Bahkan, dialah yang pertama kali mengajakku berbicara. Bukan pertanyaan seperti siapa namamu atau apa yang kau lakukan di sini, melainkan pendapatku mengenai hidup. Sekilas pertanyaannya terdengar terlalu berat, tapi karena sadar bahwa ia bertanya bukan untuk menghakimi jawabanku, aku dengan santai menyahuti pertanyaan demi pertanyaan yang meluncur dari mulutnya.

Obrolan panjang saat pertemuan pertama itu membawa kami pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Semua selalu dibuka dengan pertanyaannya mengenai sesuatu yang bersifat umum, lalu kami akan berujung pada pembicaraan singkat tentang hidupku. Dia nyaris tidak pernah balik bercerita sehingga aku tidak tahu banyak tentangnya, tapi bagiku kenyataan bahwa kami bisa berada dalam jarak sedekat ini tanpa diganggu orang lain sudah lebih dari cukup.

“Kau bisa berdansa, Hun-ah?” Wanita itu kembali berujar, memecah hening yang berlangsung antara kami.

Aku menggeleng. Sekali pun dalam hidupku, aku tidak pernah berdansa. Bahkan saat prom night semasa sekolah, di mana semua siswa berebutan mencari pasangan untuk menemaninya berdansa dengan harapan terpilih menjadi King dan Queen, aku lebih memilih untuk menghabiskan malam dengan menonton serial Lord of The Ring di kamarku.

Wanita itu memamerkan senyumnya sekali lagi. Ia bangkit dari duduknya, mengulurkan tangan kanan padaku, menunggu aku menyambutnya. “Mau kuajari?”

“Kita tidak bisa berdansa tanpa musik,” elakku. Bukannya aku tidak mau, aku hanya takut salah mengambil langkah dan malah menginjak kakinya. Itu akan terasa menyakitkan.

Please,” pintanya.

Sejenak aku bertanya-tanya apakah dengan sorot mata dan suara yang mengalun manja seperti itu, dia pernah mendapat penolakan dari seseorang. Karena bagiku, kombinasi dua hal itu dengan mudah membuatku berubah pikiran. Tanganku bergerak menyambut uluran tangannya.

Dia tersenyum puas karena keinginannya terkabul, membuatku merasa langsung memperoleh jawaban atas pertanyaanku barusan. Wanita itu kemudian mengalungkan tangannya ke bahuku, menyandarkan kepalanya di dadaku, dan merapatkan tubuhnya ke tubuhku hingga kami nyaris tak berjarak. Sedikit ragu, aku menyentuh pinggangnya, bagian tubuh yang setahuku disentuh pria saat sedang berdansa.

Di dalam pelukanku, tubuh wanita itu terasa begitu kecil. Namun entah bagaimana, aku merasa proporsi tinggi kami sangat cocok untuk satu sama lain. Tinggi badannya yang hanya sampai di bahuku membuatku cukup menundukkan kepala sedikit saja agar bisa mencium keningnya.

Ah, sialan! Apa yang kupikirkan?

“Kau hanya perlu mengikuti langkah kakiku,” katanya sebelum mulai bergerak pelan.

Aku mengikuti petunjuknya. Dan seolah sudah terlatih sebelumnya, kami bergerak dalam irama yang pas. Tak ada musik seperti saat pesta dansa di badan kapal beberapa jam lalu. Tidak ada gaun serta tuxedo mahal yang membalut tubuh kami. Tidak ada penerangan memadai apalagi lampu sorot. Tapi aku merasa ini sangat spesial. Semua karena dirinya.

Dia cantik, kesan itulah yang kudapat saat melihatnya pertama kali. Wanita itu memiliki perpaduan garis wajah kaukasia dan oriental. Kulitnya putih, nyaris seperti salju yang turun di bulan Desember. Mata bulatnya bermanik biru, dikelilingi bulu mata panjang yang lentik, memancarkan persona sensualitas yang mampu membuat pria bertekuk lutut di depannya. Badannya semampai dengan lekuk sempurna, seperti mahakarya seniman dunia. Sekarang semua keindahan itu ada dalam dekapanku.

Sedikit banyak aku bisa membayangkan apa yang dirasakan suaminya setiap kali pria itu memperkenalkannya kepada orang-orang. Seorang pria kaya dengan istri cantik, bukankah itu kombinasi yang pas?

Aku mengenal pria itu, seorang pengusaha terkenal yang jumlah asetnya kuyakin mampu membuat mata orang-orang terbelalak. Dia kaya di usia muda karena insting pengusaha yang tertanam kuat di dirinya. Bakat turunan dari sang ayah, mungkin. Yang jelas, aku yang hanya seorang fotografer pemula tidak akan bisa menandingi kekayaannya meski aku bekerja seumur hidup.

“Menurutmu apakah aku wanita yang beruntung?” Suara lembut wanita itu kembali menarikku dari labirin pikiran yang sesaat membuatku tersesat di dalamnya.

“Tentu saja,” jawabku kemudian.

“Kalau begitu aku adalah orang serakah. Aku merasa apa yang aku miliki sekarang tidak cukup untuk membuatku bahagia.”

Kontan alisku berkerut mendengar ucapannya. Apa lagi yang kurang? Dia memiliki semua yang diinginkan wanita seusianya. Dia tidak perlu bekerja keras atau menabung berbulan-bulan demi membeli pakaian di butik terkenal Eropa. Dia tidak perlu pusing memikirkan penampilan karena dia bisa membuat banyak orang iri dengan berpenampilan seperti apapun. Suaminya tampan dan kaya, aku yakin banyak gadis yang patah hati saat mereka dulu menikah.

“Apa lagi yang kau butuhkan, Nyonya Kim?”

Dia mengeratkan dekapannya padaku, membuat aku bisa mencium aroma rambutnya dengan lebih jelas. “Cinta, mungkin.” Dia menjawab pelan.

Aku tahu dadaku sudah berdegup kencang sekarang, dan aku tahu dia juga bisa merasakan itu, seperti aku merasakan debaran yang sama darinya.

Selayaknya orang bodoh, aku bertanya, “Kau tidak mencintai suamimu?”

Dia menggeleng dalam dekapanku, sementara langkah kaki kami masih membentuk gerakan-gerakan dansa sederhana. Dia kemudian menceritakan semua yang dia rasakan tentang penikahannya, menjelaskan padaku hal-hal yang tidak bisa aku baca di media manapun.

“Usiaku masih 19 tahun saat kami menikah,” ujarnya membuka kisah. “Dia kakak kelasku di sekolah menengah. Semua berjalan cepat, tiba-tiba ketika aku lulus sekolah, dia melamarku. Dia bilang dia menyukaiku, orang tuanya menyetujui pilihannya, dan orang tuaku menyukai latar belakang calon menantu mereka. Aku yang memang tidak suka belajar, jadi punya alasan untuk tidak kuliah. Pikirku, cukup dengan menjadi istrinya, aku sudah bisa mendapatkan kehidupan berlebih seperti seorang lulusan perguruan tinggi terkenal. Pernikahan kami digelar dengan sangat meriah. Aku mengira akan bahagia dengan setumpuk uang dan nama baik, tapi ternyata tidak. Aku menunggu rasa cinta tumbuh dalam diriku, tapi hampir sepuluh tahun kami menikah, rasa itu tidak muncul.”

“Tapi kalian punya anak,” ucapku, nyaris tanpa sadar. Di kepalaku, melintas wajah seorang anak perempuan berusia tujuh tahun dengan rambut panjang dan wajah secantik ibunya. Anak itu tidak ikut bersama orang tuanya dalam perjalanan ini, tapi aku pernah melihat wajahnya—dan kedua orang tuanya—menghias artikel sebuah majalah bisnis dengan tajuk: Keluarga Bahagia Sang Milyarder Tampan.

Menanggapi perkataanku, wanita itu tertawa pelan. Nadanya pahit, dan entah karena alasan apa, aku merasa terluka mendengarnya.

“Anak bisa tercipta tanpa cinta,” ujarnya pendek.

Tak lama, hening kembali melingkupi kami berdua. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk membalas ucapannya. Memang benar, nafsu bisa dengan mudah muncul antara dua orang yang tinggal sekamar selama bertahun-tahun, dan membayangkan bahwa dia mempunyai anak dari orang yang sama sekali tidak dicintainya membuatku merasa semakin kasihan kepadanya.

“Seandainya aku mengenalmu sepuluh tahun lebih cepat—” Aku mencoba bicara, tapi segera kuhentikan sebelum kalimatku selesai. Memangnya kenapa kalau aku mengenalnya sepuluh tahun lebih cepat? Di saat dia menikah, usiaku baru lima belas. Apa yang bisa diperbuat seorang Oh Sehun yang bahkan belum menginjak usia dewasa? Menggagalkan pernikahan orang?

“Kita tidak bisa mengubah takdir, Hun-ah,” ujarnya, yang kujawab dengan anggukan paham.

Lama, kami kembali diam, membiarkan segala macam perasaan berkecamuk di hati masing-masing, membiarkan perasaan gundah itu menjadi pengiring dansa kami—dansa sederhana yang masih belum ingin kuhentikan.

Angin dingin berhembus kencang, membuat dia makin merapatkan tubuhnya padaku. Dan saat itulah dia menyadarkanku tentang apa yang telah terjadi pada diriku. “Kau menginginkanku,” beritahunya.

Segera aku mengerti apa yang dimaksud menginginkan olehnya. Dua tubuh yang berdekatan dan saling menyentuh, gerakan dansa sederhana yang seolah memancing jiwa kelaki-lakianku, cerita hidupnya yang mengetuk pintu hatiku, dan pengakuannya kalau dia membutuhkan cinta. Mungkinkah dariku dia merasa mendapatkan apa yang selama ini tidak ia peroleh dari suaminya?

Feel me then,” ujarnya sedkit berbisik.

Tiga kata sederhana itu seperti mendobrak semua norma yang coba aku patuhi. Aku tidak tahu setan apa yang tiba-tiba merasukiku ketika aku melonggarkan pelukan kami, menunduk demi mengagumi wajahnya yang cantik, hanya untuk kemudian mendekatkan bibir yang disambutnya dengan tidak kalah bergairah.

Aku tidak peduli lagi dengan statusnya sebagai istri orang ketika perlahan aku menuntunnya ke sisi kapal, tempat yang menurutku paling aman untuk meluapkan perasaanku padanya.

Tanpa penolakan dia membiarkan bibirku menjelajah kulit lehernya. Dengan telaten dia mengusap sesuatu di bawah tubuhku sementara tanganku merasakan dadanya yang padat. Aku mendesah karena perlakuannya, dan dia merintih ketika terkadang yang kulakukan terlalu menyakitinya. Kami menggila, tapi suara angin meredam desahan-desahan kami. Angin dingin bertiup semakin kencang, tapi kami merasa kepanasan karena terbakar nafsu.

Satu per satu, dia melepas kancing sweater yang dikenakannya, kemudian melepaskan pakaian berwarna kuning gading itu tanpa sedikit pun takut merasa kedinginan. Aku menariknya ke dalam pelukanku, meraba lekuk-lekuk tubuhnya, mendesaknya hingga tak ada pilihan selain berbaring di atas lantai kayu yang dingin. Bibir kami kembali bertemu, saling bertukar rasa lewat kecupan yang terkadang pendek, tapi terkadang juga terlalu panjang hingga kami kehabisan napas.

Dia menatapku dengan kedua matanya yang indah. Di atas manik berwarna biru laut itu, tampak bulir-bulir air mata yang siap tumpah, namun bibirnya yang tipis dan basah melengkung membentuk senyum yang sangat manis. “Aku mencintaimu,” katanya. Nadanya terdengar begitu putus asa di telingaku.

Oh, aku bersumpah akan melakukan apa saja demi terus melihat senyum itu sepanjang hidupku.

Jawaban yang aku berikan atas pernyataan cintanya barusan adalah sebuah kecupan singkat di bibirnya. “Tinggalkan suamimu dan larilah bersamaku. Kita pasti bisa menemukan tempat yang tidak akan dijangkau olehnya,” bujukku.

Dia memasang senyumnya lagi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini senyumnya kembali diwarnai kegetiran. “Aku ingin, Hun-ah, tapi aku tidak bisa.”

Aku mengangguk maklum meski sebenarnya hatiku tidak berkata hal serupa. Kalau dia tidak bahagia, kenapa dia bertahan? Dia pernah sekilas bercerita mengenai orang tuanya yang sudah menginjak usia senja. Mereka hidup berkecukupan dengan uang yang wanita itu berikan tiap bulan. Ditambah dengan anak yang masih sangat butuh kasih sayang seorang ibu, aku tahu ia punya cukup alasan untuk tidak meninggalkan suaminya. Tapi bukankah di balik setiap kebahagiaan, harus selalu ada yang dikorbankan?

“Sekarang kita nikmati saja apa yang bisa kita nikmati,” pintanya.

Aku laki-laki normal yang sedang dibutakan oleh seorang wanita, dan laki-laki normal ini tentu saja tidak akan menolak apa yang tersuguh di depannya. Malam itu, di atas lantai kayu yang dingin, di bawah sinar rembulan yang bersinar separuh, kami bercinta.

***

“Aku tidak terlalu menyakitimu, kan?”

Dia menggeleng pelan dan mengeratkan pelukannya padaku.

Kami terdiam lagi, berusaha menetralkan tarikan napas yang masih satu-satu. Tanganku masih menapaki lekuk tubuhnya. Udara dingin yang sempat terlupa karena pergumulan kami sedikit demi sedikit mulai kembali terasa. Napas kami masih belum sepenuhnya teratur, tapi suara langkah kaki sudah mulai terdengar. Para awak sudah mulai mempersiapkan kapal pesiar mewah ini untuk berlabuh.

Pandanganku mengarah ke langit yang tanpa bintang. Dari ufuk timur sana, mataku menangkap berkas cahaya jingga mulai tampak. Kebahagiaanku sebentar lagi berakhir.

“Waktunya sudah tiba.” Dia berujar lirih.

Aku diam.

Dia menatapku dengan pandangan mata berbinar. Bola mata yang berwana seperti laut itu seketika menenggelamkanku. “Aku merasakannya, Hun-ah.”

“Apa?”

“Bahagia. Bahagia karena merasa dimiliki, bukan melayani.”

Dia lagi-lagi mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum. Melihatnya, aku langsung tahu bahwa senyum manis itu akan sangat aku rindukan.

Entah kenapa sifat cengengku tiba-tiba kambuh di saat seperti ini. Aku tahu aku tidak boleh menangis, tapi rasanya ada sejumlah air yang mendesak ingin keluar dari pelupuk mataku. Dadaku seolah dihantam dengan sesuatu hingga untuk bernapas pun aku kesulitan. Aku mulai menyesali takdir. Kenapa aku harus menerima tawaran pekerjaan untuk menjadi juru potret selama pelayaran ini? Kenapa aku melihatnya? Kenapa aku mengikutinya ke tempat dia seharusnya menyendiri? Kenapa dia tidak mengusirku saat pertama kali aku mengusik upayanya menyendiri? Kenapa malam-malam kebersamaan kami harus ada? Dan kenapa itu semua harus berakhir seperti ini?

“Kalau suamimu tahu apa yang kita lakukan, dia mungkin akan membunuhku,” candaku, berharap gurauan payah yang kulontarkan bisa mencairkan suasana melankolis yang melingkupi kami berdua.

“Pria itu tidak akan pernah bisa mendaratkan tangannya di tubuhmu kalau masih ingin melihat aku hidup.”

“Aku akan merindukanmu,” kataku, menjawab perkataanya beberapa jam lalu, perkataan yang mungkin sudah dilupakannya.

Alih-alih menjawabku, dia memilih melepaskan rangkulanku, memunguti helaian pakaiannya satu per satu dan memasangnya dengan rapi, persis seperti saat dia datang. Aku memandanginya, berusaha merekam dengan baik momen ini. Kelak, aku hanya bisa memandanginya dari jauh sebagai orang asing.

“Matahari sudah hampir terbit,” ujarnya.

“Kembalilah ke kamarmu. Suamimu mungkin akan mencari istrinya saat dia terbangun nanti.”

Sekali lagi dia tersenyum. “Kau benar.”

Itulah senyum terakhir dan kalimat terakhir yang dia ucapkan untukku, karena setelah itu dia beranjak, meninggalkan aku yang merasakan dingin makin menusuk.

Kupunguti pakaianku dan kukenakan dalam diam. Suara awak kapal yang mondar-mandir terdengar semakin jelas. Di kejauhan, dataran Seoul sudah mulai terlihat. Kebahagiaanku resmi berakhir.

***

Matahari sedang bergerak pelan menuju puncaknya saat kapal pesiar mewah ini merapat ke pelabuhan. Satu per satu penumpang turun dengan ekspresi wajah senang. Pemimpin Kim Coorporation yang menjadi penyelenggara pelayaran selama seminggu penuh ini terlihat puas dengan tanggapan para undangan. Satu lagi kekayaan yang berhasil dia pertontonkan pada para koleganya.

“Sehun-ssi, ini upahmu.” Seorang pria berpakaian jas rapi menghampiriku dan menyerahkan sebuah amplop berisi uang. “Nyonya juga menitipkan ini padamu. Sepertinya uang tip,” tambahnya saat menyerahkan satu lagi amplop berukuran lebih kecil.

Aku menerima amplop-amplop itu dan langsung memasukkannya ke saku ransel, tempat aku menyimpan pakaian yang kugunakan selama pelayaran ini. “Terima kasih,” ujarku. “Fotonya akan saya kirim segera setelah saya mengeditnya, dan saya bisa pastikan foto terbaik akan muncul di halaman depan koran besok pagi.”

Pria itu tersenyum puas. “Tuan Kim tidak salah telah mempekerjakanmu,” ujarnya seraya berlalu meninggalkan aku.

Setelah dia pergi, aku merogoh kembali ranselku, mengambil amplop yang katanya diberikan seseorang yang dia sebut Nyonya. Pria itu salah menduga. Isi amplop itu bukanlah uang atau cek, melainkan selembar foto wanita cantik yang di baliknya terdapat sebaris tulisan tangan yang sangat rapi.

Terima kasih, Hun-ah. Jangan lupakan aku.

Sebuah senyum tersungging di bibirku. Wanita itu, kuharap dia senantiasa bahagia.

End.

Author’s Note:

  • Also on iamwonderfulelf.
  • Awalnya saya mau pakai Krystal sebagai tokoh utama wanitanya, tapi rasanya kurang pas aja because I need a noona here and I can’t find any suitable noona for Sehun so yeahOC it is.
  • Poster credit goes to CASTORPOLLUX from Poster Channel.
  • Saran dan komentar sangat ditunggu! 🙂
Advertisements

5 thoughts on “A Goodbye”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s