#6 Everything has Changed: I Don’t wanna hear you

https://indofanfictionsarts.files.wordpress.com/2016/07/everything-has-changed.jpg?w=450&h=631

Poster by Arin Yessy on Indo Fanfic Arts

Story by RahayK

=EVERYTHING HAS CHANGED=

#6

Oh Sehun ][ Arial Ahn ][ Xi Luhan

-Additional Cast-

Choi Yoo Ju |Kim Seok Min

School life //Alternate Universe//Romance//Comedy(?)

  • WARNING!!!
  • Dilarang Plagiatisme ataupun merepost ulang tanpa izin dari saya selaku penulis!
  • Cerita ini dibuat atas inspirasi sebuah judul lagu yang saya jadikan title dalam fiksi ini!
  • Cast hanya pinjaman, semua pemain untuk visualisasi harap tidak menjudge karya saya!

Sehun melangkah berjalan menuju tangga, namun, mengingat wajah pucat Arial, lelaki itu kembali menghentikkan langkahnya ia mengurungkan niatnya untuk menaiki anak tangga pertama.

“Aish!ini tidak benar.” rutuk Sehun dan kembali ke lapangan, namun Arial belum juga terlihat. “Min soo, apa Arial masih di Ruang Ganti?”

“Ehm, sepertinya iya. Apa ia sakit?–wajahnya tampak pucat.” terka Min Soo lalu berjalan meninggalkan Sehun, karena guru Shin sudah datang.

drrt

drrt

 

*Incomming Call — Choi Yoo Ju–

 

Sehun hanya menghela nafas berat, lalu ia menggeser layarnya dan menerima panggilan.

“Ya!Kau dimana –rapat akan dimulai lagi.” kata Yoo Ju disebrang telpon. Sehun hanya mengacak rambutnya “Tunggu sebentar, aku akan kesana, segera setelah menemui Arial.”

Sambungan langsung diputus Sehun begitu ia melihat kedatangan Arial. Sehun menghadang jalannya untuk menuju kelapangan.

“Minggir!Sungguh, aku baik-baik saja..” tampik Arial, ia melihat Sehun sudah tak tegas lagi. Pandangannya buram, namun ia tetap memaksakan berjalan.

Arial akui, ia sekarang tidak baik-baik saja.

Kepalanya semakin berat,lalu semuanya berorientasi menjadi miring dan semuanya berubah menjadi gelap.

Satu suara terakhir yang ia dengar sebelum semuanya hening hanya satu. Oh Sehun.

“Arial!Arial!” panggil Sehun panik. Gadis itu sudah tak sadarkan diri.

Para murid mengerubung, termasuk Seokmin yang ingin membopong Arial, namun segera ditepis oleh Sehun, lelaki itu segera mengangkat Arial, menggendong gadis itu dan membawanya ke UKS.

*

*

*

“Sepertinya ia punya gejala anemia, mengingat seharusnya siklusnya lancar, tetapi ini tidak. Ia juga kelelahan, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Biarkan ia istirahat disini, sementara aku membuat surat izin, ia harus istirahat kira-kira 2 hari penuh dirumah.Kau mengerti Sehun haksaeng-nim?” tanya dokter Lee.

“Nde, algeseubnida..”

“Beberapa hari lalu, Arial juga kesini, aku kira dia melakukan beberapa pemeriksaan ke rumah sakit, apa ia tidak pergi..” gumam dokter Lee sebelum keluar ruangan.

 

Sehun hanya duduk disisi tempat Arial berbaring.

Ia pucat.

Kejadian itu terus berputar dikepalanya, kini ia benar-benar tak bisa kembali ke Ruang Osis karena gadis satu ini. Bagi Sehun, Arial tidak pernah ada pengecualian. Gadis ini selalu membuat Arial berhasil terjebak dalam situasi seperti ini.

Dan, Sehun tak pernah bisa marah karena, pertama, Arial adalah teman pertamanya pada usia 7 tahun, kedua, Arial adalah orang yang mengingatkan bahwa ia masih punya Ibu, terakhir, karena Arial… ia tak bisa meninggalkan Arial dalam situasi sulit sekalipun.Sehun akan merasa berat hati walaupun Arial pasti menganggap ia orang yang datar ekspresi dan datar perasaan.

Bukan, bukan seperti itu. Sehun hanya tak pandai mengekspresikan perasaan. Bagi Sehun, itu hanya membuang energi untuk orang yang sama sekali tak pernah mengerti bagaimana perasaannya.

 

22 december, 2 years a go..

Sehun sedang asyik membaca buku dengan headsheat yang menyumpal telinga, bukan. Sungguh bukan lagu yang ia dengarkan.

Tapi, ia sedang mendengarkan dialog bahasa inggris untuk ujian minggu depan.

“Cih! tidak adil hanya kau yang mendengarkan lagu, sedangkan aku disini terasa mau mati.” keluh Arial lalu menarik salah satu headshet dan begitu mendengarkan, Arial terdiam tak bergeming.

“Ya! seharusnya kau bilang padaku kalau bukan lagu. Ini sama membosankannya.”

Sehun hanya menggeleng, sementara fokusnya masih pada buku bergaris dan mulai menuangkan tinta dari apa yang dibahas dalam tutorial. “Kau -lah orang yang tak bertanya padaku.” Sehun bersuara, membuat Arial mensungutkan bibirnya.

“Bukan ekspresi datar seperti itu yang seharusnya kau tunjukkan, seharusnya jika orang normal yang melihat bagaimana ekspresi ‘kosong’ ku ketika mendengar apa yang kau dengar adalah tertawa. Tapi, kau datar-datar saja. Apa kau ini alien?huh? Kau itu tak pandai dalam berekspresi ya, Tuan Oh.” cibir Arial panjang lebar. Namun, respon Sehun kelewat singkat. “Tutup mulutmu.” dan.. agak kejam juga.

Tapi, bukan Arial namanya jika tak bawel. Bibir Arial boleh saja satu, tapi, ketika ia bersuara, itu bisa terdengar seperti dua sampai tiga orang yang berbincang.

Senja itu,taman tampak ramai. Kebanyakan keluarga yang bermain dengan anak-anak mereka atau kakek -nenek dan juga beberapa lainnya bersama cucu mereka. Walaupun ini adalah musim dingin sekalipun.

Dan, Arial tahu, mensukseskan gerakan mengganggu aktivitas Sehun yang sibuk sendiri.

“Ey?Tuan Hoon?kau tak pergi membeli beberapa karangan bunga atau hadiah kecil, atau surat untuk ibumu?”

“Untuk apa?” 

“Hari ini ‘kan hari Ibu.–aku sudah mengirimkan do’a dan bunga kemarin ke makam ibuku.”

Sehun melepas headsheatnya, lalu ia tampak terdiam menunduk, ia tak tahu bagaimana bisa Arial ingat ia masih memiliki ibu, sementara putranya sendiri tidak.

“Ibuku sakit. Dia tidak dirumah– jangan ganggu aku, kita ada ujian minggu depan fokus belajar saja.”

“Heol!justru itu, dimana ibumu dirawat?ayo, aku antar kau kesana, setidaknya beliau pasti akan senang. Yah-yah?aku juga mau menyapanya..”

Arial memohon, matanya memelas, membuat Sehun bergidik lalu berjalan meninggalkan gadis itu. Meski tidak berkata, Arial tahu jawaban Sehun adalah ‘Iya.’

“Ya!Tunggu aku..” teriak Arial berlari kecil dan mensejajarkan langkahnya dengan Sehun.

*

*

*

“Hmm, jadi ibumu dirawat di Villa..kalau seperti ini sih, aku tak perlu sekolah, menjaga beliau saja disini.”

“Jangan bodoh!”

“Eoh, Sehun -ssi dan Arial -ssi datang kesini?apa anda ingin melihat beliau?”

“Iya, Sehun mau melihatnya, karena ia rindu, Ahjussi!”

“Omo!benarkah?setahuku Sehun -ssi bukan orang yang merindukan seseorang bilang-bilang pada orang lain.”

“Yah, aku baru saja bertelepati dengannya.”

“Benarkah?kalau begitu kalian masuk saja, aku ingin membersihkan jalanan dulu, banyak tumpukkan salju. Ibu anda ada di kamarnya.”

Sehun menghentikkan langkahnya begitu Arial tidak mengekorinya. “Pergilah, ia pasti ingin melihatmu..aku akan disini,menunggumu.” kata Arial, entah mengapa intonasi gadis itu menjadi benar-benar serius dan tulus, baru itu Sehun merasa begitu. Akhirnya, ia hanya menurut dan menaruh tasnya, headsheatnya dan juga mantelnya bersama Arial yang sedang asik meluruskan kakinya di sofa.

 

1 langkah, 2 langkah, tungkainya terasa berat untuk terangkat. Entah, kapan terakhir kali ia melihat sosok ibunya, bertatap muka dan bertatap pandang dengan beliau hanya terasa aneh untuk Sehun, kala itu ayahnya sama sekali melarang Sehun untuk menemui sang ibu.

Beliau dipindahkan ke Villa ini sejak ia mulai sakit. Bagi Sehun, ibunya seperti diasingkan dari dunia luar dan juga dari dirinya sendiri.

 

Kriettt

 

Pintu jati itu terbuka, seorang wanita sedang terduduk diatas kursi roda didekat jendela, membiarkan jendela terbuka dan angin semilir masuk kedalan, membuat wajahnya nampak begitu kering seketika.

Sehun melangkah masuk, kini ia tak terasa berat lagi untuk melangkah.

“Ibu..”

 

“Ini surat izinnya, kau bisa membawa pulang Arial untuk istirahat dirumah. Sebaiknya,ia meminum obat yang aku resepkan, kau bisa menebusnya di apotek.” dokter Lee menyerahkan sebuah kertas kecil pada Sehun.

“Baiklah terimakasih dokter Lee..”

Ia pun membawa Arial keluar dari UKS. Membawa gadis itu dipunggungnya. Sehun menjadi pusat perhatian pagi ini, ia benar-benar tak suka berada disituasi seperti ini.Ditatap oleh banyak mata seakan-akan ia telah melakukan kesalahan fatal. Beruntung, taksi sudah menunggunya dipintu samping, jadi ia tak perlu kepintu utama untuk keluar dari sekolah. “Sehun, kau mau kemana?–” Yoo Ju menahan lengan Sehun.

“Aku harus membawa Arial pulang, tolong bilang pada Jun dan yang lain aku tak bisa ikut rapat. Gumawo, Yoo Ju -ah..”

“Tapi–”

Sehun sudah naik taksi, ia tak perduli pada Yoo Ju yang memanggil namanya berkali-kali. Sekali lagi, sekarang yang penting adalah Arial.

 

Selain itu, tak ada.

 

“Ibu..” lirih Sehun, wanita tua itu menoleh, matanya sama sekali tak menunjukkan kemarahan,kesedihan ataupun putus asa. Justru ia malah tersenyum lalu memutar balik kursi rodanya.

Sehun masih berdiri ditempatnya, matanya sudah tak mampu lagi rasanya menahan likuid itu. Bahkan, setelah 3 tahun berlalu ia hanya membawa jiwa dan raganya, tanpa ada hadiah kecil seperti yang Arial katakan.

“Sehunnie wasseo?eommaneun annajeulkka?”

Sehun hanya berjalan,lantas ia segera membungkukkan badan dan memeluk ibunya. Hari itu ia menangis dalam pelukkan ibunya.

 

E V E R Y T H I N G    H a s     C H A N G E D

 

Sehun membongkar rahasianya satu lagi, sebetulnya selama ini, jika ia bilang berada di ruang belajar ataupun diasrama,Sehun tak benar-benar berada disana, melainkan di sebuah kondominium ini. Ukurannya tak begitu besar, tapi ia benar-benar nyaman berada disini.

Bagi Sehun, hanya tempat ini yang paling ampuh untuk bersembunyi. Dan, tempat ini sangat berarti untuk Sehun, karena ini adalah hadiah dari ibunya.

Begitu ia kembali dari apotek, dan kembali ke kondominium, Arial belum juga terbangun.Dipegangnya dahi gadis itu, demamnya sudah turun. Tak lama, terdengar suara getar ponsel tapi bukan dari ponsel milik Sehun.

Setelah mencari, Sehun menemukan tas Arial dan mengeluarkan ponsel itu, lelaki itu tak bergeming sejenak begitu melihat nama kontak diatas kiri layar.

 

**Namja –chingu Oppa**

 

Begitu sambungan diputus, Sehun segera mencopot batre ponsel dan menaruhnya dinakas samping Arial tertidur.

Hatinya memanas seketika, kenapa nama kontaknya begitu terdengar intim. Pikiran Sehun menjadi liar, apa saja yang sudah Luhan lakukan pada gadis ini. Tidak, maksud Sehun apa saja yang mereka lakukan atau apa Lu han juga menaruh nama yang sama untuk kontak Arial.

 

Gila.

 

Netra Sehun kemudian terhenti pada bibir Arial yang telah kembali ke warnanya semula.

Apa gadis tengik ini sudah pernah berciuman dengan Luhan?

Sehun tersentak, karena Arial terbangun dan ia terjatuh kebelakang karena posisi duduknya yang tak benar.

Hhh,kepalaku sakit.. —Hun?ada apa denganmu?” tanya Arial seraya memegang kepalanya yang masih berdenyut. Sehun segera berdiri dan menyuruh Arial untuk berbaring lagi. “Kau harus istirahat penuh, itu yang dokter Lee katakan padaku.—kau seharusnya kaget, karena aku bukan membawamu pulang kerumah.” ujar Sehun lalu berjalan dan mengambil minum.

“Yah, kau benar. Tapi, untuk apa? —aku sudah tahu tentang kondominium ini, Tuan Oh..” sahut Arial seraya tersenyum usil, kemudian mengambil minum yang Sehun berikan. Sehun hanya mengernyit. “Bagaimana kau –”

Ssst! —kau yang bilang, pada hari itu, ulang tahunmu, saat kau  sok menjadi anak nakal —seorang Mr.Perfect terpengaruh alkohol —-dan kau —–tidak! lebih baik aku tidak usah menceritakannya padamu. Bagaimanapun, terimakasih sudah menolongku.” Arial tertawa lalu menundukkan kepalanya. Ia mencoba untuk menahan tawanya, namun wajah penasaran Sehun membuat tawanya akhirnya pecah juga.

“Apa? —ulang tahunku yang mana?—coba kau ceritakan padaku –”

Arial medekatkan wajahnya ke arah Sehun, hingga tersisa beberapa centi lagi sebelum –bisa saja —alam bawah sadar –nafsu Sehun meningkat dan –mengecup gadis itu misalkan.Namun, dengan segera Sehun menghindar dan berdehem. “Benar kau ingin mendegarnya?—Oh Sehun –ssi?”

“Tentu saja!” ujar Sehun tiba-tiba bersemangat. “Oh ya!” Arial menepuknya. “Hari itu juga, kau harus mendengarkan ceritaku –tentang Luhan Oppa.”

Sehun menaikkan alisnya heran. “Hyung?Kau?”

“Bukan, tapi Hyung dan aku —‘ Arial berhenti sampai situ,membuat Sehun menarik nafas dan memutar matanya, bisa -bisanya ia ditipu oleh gadis bodoh macam Arial. Sehun segera bangkit dari kasur, namun gadis itu menariknya. “Persis seperti ini —Oppa memegang tanganku sebelum aku bertemu denganmu,lalu —-‘

‘Aku mohon, bukan itu yang ia katakan padamu..’

 

“Ahn -ssi, maukah kau bersamaku melihat bunga bermekaran dimusim semi ini?—-”

 

TBC


 halo, sorry atas update yang keterlaluan lama.. sempet stuck beberapa bulan dichapter 7 karena saya berprinsip setiap update setidaknya saya masih punya dua atau tiga bagian lagi yang masi didraft sebagai bahan mentah atau stok jaga -jaga dan nyari inspirasi lagi dilain waktu. Untuk itu, lama saya gak update selain itu dikarenakan saya sudah kelas 12 yang artinya tugas yang sama sekali gak bisa ditunda dan hal lain yang lebih urgent perlu saya handle dan mengorbankan waktu penjadwalan ff yang akhirnya kacau disemua blog. dan, semoga para pembaca suka dan menjadikan fiksi sya rekomen buat dibaca^^ and, thx yang udah mau nunggu lama ff ini update makasih banyak^^ buat next capter sy gak mau PHP yang jelas kalo sy ada waktu pasti diupdate.. atau paling nggak sering cek di wp sy ataupun di EXO FFI karena sy juga post disana sbagai freelancer atau akun wattpad sy, di @krinvi terus difllow nanti difollback tenang aja. and, last word have a nice and good time with people who are so mean for you!

Annyeong!!^^

 

 

 

Advertisements

One thought on “#6 Everything has Changed: I Don’t wanna hear you”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s