BEETWEEN LOVE AND DEATH—Part.3

62 copy

BEETWEEN LOVE AND DEATH

Absurd story by PutrisafirA255

【Main Cast】

Oh Sehun | Kiyomizu Hanna

【Other Cast】

【Chanyeol Park | Kim Junmyeon | Kiyomizu Tzuyu】

|More|

「Angst, AU, Drama, Hurt, Comfort, Romance,

Action, Friendship, Family」

『PG 16』

sorry for typo(s)

ǁJapan| and ǁKorea|

「Chaptered」

“Without you know, love can kill yourself.”


Part 1 〉  Part 2 〉


Baekhyun sedari tadi hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. Pasalnya, kemarin Baekhyun mencium Hanna tanpa permisi oleh sang empunya. Bahkan Baekhyun masih sempat mengucapkan kalimat sukanya, padahal Hanna belum tidur. Seperti pecundang yang lari dari kenyataan, Baekhyun sangat menyesalinya.

“Mengapa kau tak mengangkatnya?!” pekik Baekhyun sembari melempar Samsung S7 Edge-nya pada dinding. Tak memerdulikan semua kenangannya yang tersimpan di dalam ponsel lima inci itu. Raga pria itu sudah didominasi oleh amarah, hingga kerja akalnya tak akan bisa mengalahkan emosi yang sedang memuncak.

Tangan Baekhyun hendak memukul cermin di hadapannya jika saja bel apartemennya tak berdering. Menjerit hendak meminta atensi sang pemilik bangunan agar lantas membukakan pintu. Baekhyun sebenarnya ingin sekali memukul pria di hadapannya yang datang, lalu seenaknya masuk sembari memanggil Hanna. Pria itu bahkan mengucapkan beberapa kalimat berbahasa Korea yang membuat Baekhyun menyernyit. Sebenarnya, apa yang terjadi?

“Di mana Hanna?!” tanya pria bermarga Oh itu dengan nada tinggi. Baekhyun pun membutuhkan waktu lima puluh detik untuk mencerna kalimat tanya yang diajukan oleh dosennya. Untuk apa dosennya itu mencari Hanna?

Eobsseoyo,” Jawab Baekhyun. Tak bisa menahan gejolak emosi, tangan kekar Sehun menarik kerah Baekhyun agar lekas mendapatkan atensi lebih. Mata coklat milik pria Oh itu nampak sekali berkilat. Seolah hendak membunuh Baekhyun dengan sekali tatap. Namun, yang ditatap justru bergeming. “Hanbeondo, Hanna eoddiseo?!” tanyanya lagi dengan menekankan tiga silabel terakhir.

Mau ditanya dua puluh ribu kali pun Baekhyun tetap akan menjawab dengan kalimat yang sama. Karena pria Byun itu tak berbohong. Dirinya sendiri pun juga dibuat bingung dengan kelakuan gadis itu yang katanya membutuhkan Baekhyun, namun keesokan harinya meninggalkannya tanpa kabar.

“Apa hubunganmu dengan Hanna, sensei?”

Baekhyun memberanikan diri bertanya ketika tangan kekar Sehun sudah melemah. Melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja putih Baekhyun. Yang ditanya mendongak, lalu menjawab tanpa ragu. “Dia kekasihku.”

Didetik berikutnya, baik Sehun maupun Baekhyun mencelos. Sehun kembali mencerna enam silabel yang terangkai menjadi satu kalimat jawaban pun mengajaknya bergelut dengan masa lalu. Dimana Hanna dengan yakinnya memutuskan hubungan keduanya, lalu pergi tanpa kabar seperti ini. Dan ketika Sehun menyuruh bawahannya melacak keberadaan Hanna, gadis itu ada di apartemen Baekhyun. Mengapa hidup selalu memermainkan hatinya?

Demikian pun Baekhyun. Sekarang ia tahu siapa pria yang dimaksud Hanna kemarin malam dalam percakapan terakhir keduanya. Ternyata, pria itu adalah sensei-nya sendiri—Oh Sehun. Padahal, kemarin Hanna menyatakan bahwa hatinya sudah tak lagi kosong, namun Baekhyun-lah yang bisa memahami. Sial beribu sial! Baekhyun mengumpat dalam hati. Mengapa Hanna memermainkan hatinya?

Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Enggan membuka percakapan lebih lanjut. Agaknya tak lagi nyaman dengan keheningan yang mendominasi, Sehun pun lekas mengambil langkah pergi. Sayangnya, Baekhyun lebih dulu menahannya. Bukankah sudah kubilang, kuriositas seorang Byun Baekhyun itu tinggi? Jadi, jika itu semakin menumpuk di dalam otaknya, maka kantung matanya akan semakin bertambah.

“Aku ingin bicara denganmu, Sehun-ssi.

.

.

.

 gwangan bridge busan south korea-the city landscape photography wallpaper

Korea Selatan. Sebuah negara Asia Timur yang meliputi bagian selatan Semenanjung Korea. Berbatasan dengan Korea Utara yang sudah menjadi rivalnya sejak lama, lantas melalukan gencatan senjata demi perdamaian seluruh umat. Menjadi Korea Selatan setelah liberalisasi dan pendudukan oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia II. Dipimpin oleh Park Geun Hye sebagai presiden, dan juga Hwang Kyo Ahn sebagai perdana menteri (2016).

Di sinilah destinasi Hanna untuk menjadikan negara itu sebagai pelarian. Meninggalkan semua masalah yang telah terjadi di negeri sakura tanpa bisa ia kendalikan, lantas menghirup udara malam berkat kadar oksigen dalam jantungnya menipis. Dadanya masih sesak mengingat semuanya tentang Sehun. Pria itu brengsek, suka memermainkan perasaannya tanpa bisa mengendalikan hawa nafsunya.

Untuk kesekian kalinya, Hanna menghela napas. Ia sudah muak dengan kisah cinta berbelit yang tak berujung seperti hubungannya dengan Sehun. Dan sekali lagi, Hanna tak merasa ada kesalahpahaman di sini. Karena ia memang sudah merencanakan kandasnya hubungan keduanya setelah operasi terakhir. Ia sudah lelah dipermainkan.

Membuat jejak tak kasat mata di pinggir jalan kota Seoul, Hanna menikmati kesendiriannya. Ia cukup berterima kasih dengan Tuhan yang sudah menguatkan imannya agar tak terjerumus dengan hal tabu dalam masyarakat umum, namun tidak untuk gangster.

Ia sebenarnya juga berterima kasih dalam diam kepada ayahnya. Pria baik itu mau mengabulkan semua keinginannya. Meminta dipindah tugaskan, bekerja di salah satu perusahaan elit yang ada di Seoul, dan memiliki rekening yang berisi jutaan dolar—hanya untuknya. Namun, ia juga tahu bagaimana cara balas budi. Membunuh semua target yang sudah ditetapkan, hingga melenyapkannya tanpa jejak. Dan hanya sendiri.

Enggan memikirkan semua masalah yang membebani pikirannya, Hanna lekas kembali menuju apartemennya. Menekan beberapa kali untuk memasukkan rangkaian password yang sudah dibuatnya tadi, lalu menghempaskan diri menuju tempat tidurnya. Gadis Kiyomizu itu hanya tidur tiga puluh menit sebelum kembali beraktivitas.

Hanna memang mempunyai gangguan tidur—sleep disorder—yang sudah dideritanya sejak umur lima belas tahun. Sebagai ganti tidur lima setengah jam yang terlewatkan dimalam hari, ia menebusnya ketika jam pelajaran. Hanna tak akan takut dengan semua hukuman yang ia lewati. Toh, semua fasilitas yang ia dapatkan dibiayai oleh ayahnya—Kiyomizu Suzuki.

Dan sialnya, Hanna selalu rangking pertama. Mengejutkan seluruh antero sekolah hingga menjadi viral dikalangan murid sebayanya. Namun, Hanna tak mau besar kepala. Gadis itu hanya diam tanpa memerdulikan semua berita hangat tentangnya.

Mengalihkan semua pusat pikirannya pada sebuah buku tebal di hadapannya, gadis itu siap mempelajari semua materi yang harus ia kuasai. Ia akan banting setir. Melupakan semu cita-citanya mengenai dokter dan menjadi pebisnis. Tak lebih dari empat jam, ia akan menjadi seorang direktur utama yang berganti nama menjadi Lee Hanna. Seorang gadis yang lahir di Busan, dengan latar belakang kedua orang tua seorang pebisnis yang terkenal. Menjadi alumni di Seoul University, lalu menjadi lulusan terbaik. Semuanya sudah dirancang sedemikian rupa demi membangun persembunyian yang aman, walau ia tahu Sehun tak akan tinggal diam.

Oh Sehun

Lagi-lagi pria itu yang ada dipikirannya. Mengapa dari sekian banyak pria hanya Oh Sehun yang ada di otak cerdasnya? Well, Sehun sudah berhasil membuat Hanna jatuh cinta dengan segala kekurangan pria itu.

.

.

.

“Sejak kapan kau mengenal Hanna, Ssaem?”

“Mengapa kau ingin tahu?”

“Tinggal jawab apa susahnya?!”

“Mengapa kau mendikteku?!”

Baiklah. Ini semua salah Baekhyun. Awalnya pria Byun itu ingin berbicara empat mata sebagai laki-laki yang sama-sama menyukai Hanna. Atau lebih tepatnya, Baekhyun ingin mengucapkan selamat dan juga berharap Sehun akan menjaga Hanna. Namun, yang terjadi justru keributan di setiap percakapan.

Baik Sehun maupun Baekhyun akhirnya menghela napasnya kasar. Emosi masih kentara hingga saat ini. Mengalahkan segala ego dalam diri masing-masing, Baekhyun akhirnya kembali membuka suara. Meredam amarah yang yang baru saja dipadamkan demi terealisasinya harapan. “Aku menyukai Hanna,”

Delapan silabel itu membuat alis Sehun bertaut. Tangannya bahkan sudah terkepal di sisi tubuh. Matanya seolah bisa menghunus Baekhyun dalam sekali tatap. Mengapa pria itu berani sekali mengatakannya?!

Kedua tangan Sehun tergerak menuju kerah kemeja Baekhyun. Mencengkeramnya hingga sang empu mendongak. “Beraninya kau mengatakan itu di hadapanku, Brengsek!”

Baekhyun hanya terdiam. Ia bahkan masih sempat mengulas segaris senyum di bibir tipisnya. “Tapi, sebanyak apapun aku mencintai Hanna, nyatanya hanya kau yang ada di hatinya. Kemarin, ia bahkan masih menggumamkan namamu saat tidur.” Baekhyun menjelaskan. Tangan Sehun perlahan mengendur. Menciptakan spasi tak kasat mata hingga pria Oh itu bisa menatap iris coklat Baekhyun—lebih tepatnya mengintimidasi untuk mendapat alasan yang lebih spesifik.

“Apa maksudmu?”

“Untuk pertama kalinya ia terbuka mengenai pria yang ia cintai. Walaupun Hanna tak sadar saat itu, ia selalu menggumamkan namamu. Awalnya kupikir karena kau adalah guru populer di kampus. Nyatanya, kalian justru sudah menjalin hubungan.”

Sehun hampir terjungkal jikalau kedua kakinya tak mampu lagi menopang berat badan. Semua fakta yang baru ia dengar ini membuatnya ingin bunuh diri. Ia hanya tak percaya kalau Hanna bisa menyatakan perasaan sukanya terhadap Sehun—padahal gadis itu kelewat angkuh dan dingin.

“Aku hanya ingin mengingatkan,” Baekhyun kembali membuka percakapan. “Dia gadis dingin yang mudah disukai orang lain. Jadi, segera cari dia dan jangan menyakitinya lagi. Aku mengatakan ini karena aku memberimu kesempatan sebagai pria yang dicintai Hanna.” Pria Byun itu berucap sembari bangkit dari sofa. Mengikis jarak, lantas meraih pundak lebar Sehun. Alih-alih marah ataupun kembali menciptakan keributan, segaris senyum Sehun berikan pada pria Byun itu.

“Terima kasih telah memberikanku kepercayaan, tapi nilaimu tetap aku kurangi karena menggunakan banmal.

Baekhyun mengumpat dalam hati. Mengapa sensei-nya itu tak mau memberi toleransi di saat yang genting seperti sekarang?!

.

.

.

Pagi ini Hanna sudah siap dengan casual style khas-nya. Kemeja tipis berwarna putih dipadu celana hitam panjang hingga menutupi highless-nya. Nampak cantik dan anggun untuk kesan pertama setelah melihat.

Itulah poin tambahan untuk Hanna yang sekarang resmi bekerja di sebuah perusahaan properti besar ternama di Seoul. Tak lama setelah meminta untuk dipindahkan dari Jepang, ia lekas mendapatkan tugas untuk mengintai salah satu mafia terbesar di Seoul dengan tameng perusahaan besar pula.

Annyeonghaseo,” sapa seorang wanita paruh baya yang menjadi sekretaris Hanna sembari meletakkan beberapa dokumen di atas mejanya. Senyum segaris pun Hanna tampakkan demi menyambut wanita itu. “Ini beberapa file yang harus Anda pelajari. Jika ada beberapa materi yang tidak Anda mengerti, Anda bisa menanyakannya pada Saya.” Tambahnya menjelaskan.

“Terima kasih,” Hanna berujar. “Tapi, bisakah Saya meminta bantuan Anda, sekretaris Jung?” pinta Hanna. Ini saatnya untuk mencari informasi, meskipun ia harus membuat taktik yang sesuai agar tak ada yang mencurigainya.

“Tentu saja! Jangan sungkan untuk memintanya,” senyum keibuannya pun nampak. Membuat hati Hanna yang memang sedari dulu dingin menjadi luluh. Ia begitu merindukannya, atau lebih tepatnya ia menginginkan senyum khas seorang ibu karena ia belum pernah mendapatkannya.

“Yang pertama,” Hanna mengambil dokumen di hadapannya, lantas menyingkirkannya. “Jangan memanggilku dengan sebutan ‘Anda’, itu sangat aneh.” katanya dengan kekehan kecil setelahnya berucap. “Anggap saja aku seperti—” kalimat Hanna tiba-tiba menjadi rumpang.

“—anakmu?” nadanya melemah. Ia agak malu ketika ia menjadi sok baik di depan orang lain seperti ini. Apalagi dengan orang yang pertama kali ia kenal.

Mungkin bagi Sekretaris Jung itu aneh. Tapi, anggapan Hanna itu meleset terlalu jauh dari perkiraan. “Baiklah,” Sekretaris Jung mengiyakan. “Jadi, permintaan kedua?” tanyanya mengalihkan rasa canggung yang mendominasi diantara keduanya.

Hanna menjadikan hening sebagai jeda sesaat. Kemudian, ia kembali berujar guna menyuarakan bantuan yang kedua. “Aku ingin mengelilingi kantor ini. Karena nanti aku hanya akan menemui petinggi perusahaan. Benar ‘kan?”

Sekretaris Jung tersenyum simpul lalu mengangguk. “Benar,”

“Terima kasih. Beri aku waktu sepuluh menit untuk bersiap.” Ucapnya meminta untuk memberi waktu. Tak menunggu lama, Sekretaris Jung pun lantas pamit undur diri dan meninggalkan Hanna sendiri di dalam kantornya.

Ia memutar kursi kerjanya hingga menghadap pemandangan yang bisa dijangkau di balik ruangannya. Kota Seoul yang padat dengan beberapa bangunan pencakar langit, juga dengan kesibukan penghuninya yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dibidangnya.

Hanna tahu, ia bukan orang yang baik. Tapi, setidaknya ia ingin terlihat bahagia dengan pekerjaan dan tempat yang baru. Ia hanya perlu beradaptasi meskipun senjata tak diperbolehkan. Ini adalah misi tersulitnya, dimana ada banyak permasalahan yang belum ia selesaikan, namun dengan pecundangnya menghindar.

Bahkan ia masih sempat-sempatnya memikirkan sang mantan pacar yang entah bagaimana kabarnya. Rasanya begitu cepat ia meninggalkan semuanya. Baru kemarin ia mengungkapkan pada Baekhyun bahwa pria Byun itu lebih perhatian terhadapnya. Tetapi, tetap saja hanya Sehun yang bisa mengisi ruang kosong hatinya.

Mungkin saja Sehun sedang mencarinya sekarang. Atau mungkin Sehun sudah merelakannya dan sedang bercinta dengan gadis yang membuat hubungan mereka akhirnya selesai. Tidak! Seru Hanna dalam hati. Ia tak boleh menengok ke belakang lagi. Itu hanya akan membuatnya sakit dengan fakta yang ada.

Tak selamanya kenyataan sesuai dengan pengharapan, begitu juga sebaliknya.

.

.

.

“Kau tidak tahu dimana Hanna?” tanya pria Byun itu pada salah satu teman seangkatannya. Hari ini, Hanna tidak mengikuti mata kuliah seperti biasanya. Dan sejak tadi pula, ia menghubungi para kenalannya yang mungkin saja tahu dimana keberadaan gadis itu.

“Ah, hai! Arigatou Gozaimasu.” Ucapnya, kemudian memutuskan sambungan. Ia lekas menoleh pada Sehun yang menghela napasnya kasar di samping tubuhnya. Ia ikut sedih sebenarnya, bahkan ini untuk pertama kalinya Sehun terlihat se’hancur’ itu.

“Maaf, aku tidak bisa—”

“Aku sudah menduga akan sulit mencarinya. Dia bukan gadis biasa,” sahut sehun dengan nada baritonnya yang serak. Sejak semalam ia belum makan, bahkan untuk menatap ke arah dapur pun tak sudi. Yang ada dipikirannya hanyalah Hanna. Tidak ada yang lain.

“Maksudmu dengan ‘bukan gadis biasa’?” tanya Baekhyun kebingungan. “Aku tahu kalau Hanna itu agak aneh atau mungkin terlalu dingin untuk didekati. Tapi, dengan kalimatmu yang ambigu seperti itu membuatku yakin kalau ada rahasia besar yang kalian sembunyikan.” Ujarnya panjang lebar menjelaskan.

Sehun melipat kedua kaki panjangnya. “Kau benar,” jawabnya singkat. Tiga silabel itu tak bisa membuat kuriositas Baekhyun tertutup begitu saja. Jika perlu diingatkan, Baekhyun tidak suka ada kalimat yang menggantung dalam percakapan. “Kami punya rahasia yang besar. Tapi, ini bukan saatnya untuk memberitahu—”

“Aku tahu kalau aku banyak bicara,” hardiknya pada diri sendiri. “Tapi aku tidak bodoh untuk menyaring mana untuk konsumsi publik dan untuk pribadi.” Ucapnya sembari menatap Sehun tajam. Bisa Sehun lihat, kilatan amarah beserta keingintahuan yang mendominasi itu membuktikan bahwa pria itu memang tak tahu menahu mengenai Hanna.

“Black Ocean.” Sehun menyebutkan nama gangster itu dengan pelan. Hampir tertelan angin jika saja Baekhyun tak menangkapnya dengan baik. Maksudnya? Baekhyun tahu kalau itu gangster terkenal yang namanya mungkin sudah tak asing lagi. Kendati demikian, tak ada yang berani mengusik lebih dalam mengenai kelompok itu. Tentu saja mereka—para reporter— masih ingin ingin hidup.

“Hanna adalah anak dari pendiri Black Ocean. Dan aku tangan kanannya.”

Sebelas kata yang terangkum menjadi satu kesatuan kalimat itupun berhasil Baekhyun cerna dengan baik. Tak perlu menanyakan lagi bagaimana bisa keduanya saling berdekatan. Bagaimana keduanya bisa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Tetapi, satu pertanyaan yang mungkin ingin Baekhyun sampaikan, namun hatinya enggan.

“Untuk apa kalian berdua ada di kampus jika kalian seorang pembunuh?” tanya Baekhyun akhirnya. Ia tak bisa menahan kuriositas untuk jangka waktu yang lama.

Pembunuh, ya? Jadi, apakah itu benar? Diam-diam, ia terkekeh namun justru nampak memilukan. “Pangkatku sudah berubah, rupanya.” Ujarnya pelan. Sayangnya, ketika Sehun mengucapkan empat kata itu, Baekhyun sedang mengilhami kenyataan. “Apa?”

“Alasan kami berbeda.” Sehun menatap lurus hiruk pikuk kampus yang dipenuhi dengan mahasiswa juga mahasiswi yang sedang bercengkerama. “Hanna menimba ilmu di sini karena ia begitu menyukai profesi dokter.”

Satu senyum terukir di bibir. “Dan aku,” ia menundukkan kepalanya. Tak kuat memberitahukan pada dunia bahwa kini tak ada lagi alasan untuknya tetap tinggal di negeri sakura tersebut. “Alasanku ada di sini hanya karena satu, Kiyomizu Hanna.”

Helaan napas pun akhirnya terdengar dari bibir Baekhyun—lebih tepatnya hendak mencibir. “Aku rasa cintaku kalah telak dari milikmu.”

Benarkah demikian? Jika begitu, bisakah cinta yang Sehun miliki itu mengembalikan Hanna kembali padanya?

.

.

.

Sudah hampir sepuluh menit Hanna berjalan bersama Sekretaris Jung mengelilingi gedung itu. Namun, Hanna tak mendapatkan informasi apapun selain mengenai hal yang begitu umum. Hanna sudah tahu kalau bangunan itu berdiri sejak 1995. Hanna tahu kalau pemilik bangunan itu adalah seorang pengusaha China yang akhirnya menetap di Korea.

Tetapi, Hanna butuh yang lebih spesifik. Seperti nama para pejabat tinggi yang ada di perusahaan itu. Siapa yang akan menjadi ahli waris dan bagaimana kehidupan keluarganya. Sekretaris Jung terlalu profesional.

“Lalu, bagimana dengan anaknya? Aku dengar kalau dia pernah tinggal di New York.” Ucapnya setelah menyesap kopinya. Keduanya sepakat untuk menghentikan langkah sejenak di kantin kantor.

Sekretaris Jung yang sedari tadi menatap cangkir kopinya pun mendongak. “Aku tak terlalu mengetahui bagaimana keluarga PresDir Xi.” Beliau berujar. “Memangnya mengapa? Sepertinya kau begitu ingin tahu mengenai keluarganya,”

Skak mat! Hanna mati langkah. Ia salah mengira kalau rencananya ini akan berjalan dengan baik. Sepertinya, sekretaris Jung bisa mencium gelagat buruk Hanna. “Ehm.. itu—aku dengar kalau anaknya tampan. Mungkin saja aku bisa mendapatkannya.” Setelah itu, terdengar kekehan renyah milik Hanna mengudara. Ia tak pandai berakting sebelumnya. Biasanya ia hanya mengeksekusi. Sisanya, itu urusan kakaknya—Tzuyu.

Sekretaris Jung pun tersenyum. “Banyak yang mengatakan seperti itu. Tetapi, tak sedikit pula rumor yang mengatakan kalau ia playboy.” Ia menambahkan. Tentu saja Hanna juga sudah mengetahui itu. Ia pun tak lagi terkejut. Toh, lelaki dikehidupan sebelumnya jauh lebih parah. Jadi, ia tak terlalu terganggu dengan fakta yang satu itu.

“Dia pasti seksi,” canda Hanna lagi mencoba mengalihkan perhatian meskipun masih sama topik. Ia pun menopang dagunya pada kedua tangan yang ditumpu dengan siku. Mencoba menjadi aktris yang baik. Mungkin suatu saat ia bisa mendapatkan penghargaan—batin Hanna sarkastik.

“Benarkah, mungkin jika aku menjadi ibumu, aku tidak akan menikahkannya denganmu,” celoteh Sekretaris Jung asal. Diam-diam, Hanna tersenyum karena ia serasa memiliki ibu yang sebenarnya.

“Memangnya mengapa? Aku rasa dia pria yang baik meskipun ia pecinta wanita,” sela Hanna. Dibalik kata-katanya, ia punya banyak segudang umpan yang mungkin saja akan dimakan tanpa sepengetahuan wanita paruh baya itu.

“Itu—” Sekretaris Jung tercekat. Tak tahu akan menimpali pertanyaan Hanna dengan apa. “Bukankah sekarang sudah jam sepuluh? Kau harus bertemu dengan para petinggi perusahaan.” Ujarnya memberitahu sembari menilik jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangan.

Baiklah, Hanna sekarang semakin yakin bahwa keluarga Tn. Xi memang tak baik-baik saja. Ada rahasia besar yang mungkin Sekretaris Jung sembunyikan dan beliau pasti tahu. Entah, itu hanya hipotesis Hanna. Tetapi, untuk rahasia ini, Hanna tak akan bisa tinggal diam.

.

.

.

Tubuh jangkungnya merosot seketika setelah akhirnya bisa dipertemukan dengan Tn. Suzuki. Sedari tadi, ia mencoba mendesak pria itu agar lekas mengatakan dimana keberadaan Hanna. Katakan saja bahwa Sehun terlalu lemah jika dihadapkan dengan Hanna, atau dia begitu bodoh karena masih memertahankan cintanya. Tapi, memang begitu adanya.

“Dia yang menentukan tujuan, dan aku hanya menyetujuinya.” Tn. Suzuki berujar. “Jikalau kau tak memilih gadis lain dan menyakiti putriku, mungkin dia masih ada di sampingmu.”

Itu semua hanya perandaian yang tak bisa menjadi kenyataan. Hanna terlanjur membencinya, tak ada lagi pengampunan. Ini semua adalah kesalahannya. Jika Ia memberitahukan terlebih dulu mengenai keberadaan Seolhyun, mungkin akhirnya tak akan seperti ini. Ia begitu menyesal.

“Kumohon,” untuk kesekian kalinya, Sehun meminta. “Aku hanya ingin mengetahui keberadaannya. Hanya itu,” Sehun menunduk, memberi penghormatan sebesar-besarnya pada tuannya itu agar lekas menuruti keinginannya. Sebelumnya, ia belum pernah seperti ini.

Ia pernah hampir dipecat dari kepolisian karena menyalahi prosedur saat melakukan penyelamatan sandera. Tak ada yang membelanya. Tak ada yang menginginkan keberadaannya. Tetapi, karena ibunya begitu menyukai pekerjaannya yang mulia, ia masih bersikukuh mempertahankannya.

Ia sudah mengalami banyak masalah yang rumit, sampai-sampai ia sendiri tak bisa mengilhaminya. Kendati demikian, inilah masa terburuk dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya ia berlutut di hadapan musuhnya sendiri. Untuk pertama kali pipinya basah karena menangisi orang lain. Dan ini pertama kalinya ia merasa hancur berkeping-keping.

“Well, kau tahu aku pebisnis yang baik, bukan?” Tn. Suzuki kembali membuka percakapan. Senyum tipisnya terpatri begitu sinis, agaknya ada pikiran licik yang akan menguntungkan dirinya. “Tentu kau tahu, aku tidak suka dirugikan—”

“Aku akan melakukan apapun,” sela Sehun cepat. Ia tahu apa maksud pria yang menjadi wali dari gadis tercintanya tersebut. “Aku akan melakukan apapun, hanya untuk mendapatkan kembali Hanna.” Jelasnya.

Tn. Suzuki tersenyum puas. “Kau yang meminta,”

.

.

.

Malam sudah membutakan langit. Angin pun ikut mendinginkan suasana hingga membuat hati yang sebelumnya pernah menghangat kini kembali membeku. Di balkon apartemennya, banyak yang ia pikirkan. Terutama mengenai pria jangkung yang begitu ia rindukan.

Tapi, kembali lagi Hanna katakan dan tanyakan pada dirinya sendiri. Salahkah ia mengambil langkah untuk meninggalkan Oh Sehun yang sudah menjadi kekasihnya lebih dari satu tahun itu? Toh, Hanna lakukan itu semua untuk kebahagiaan pria itu sendiri.

Hanna sempat berpikir dulu, apakah ia pantas menjadi pendamping Sehun. Pria itu terlampau baik, meskipun otaknya sangat mesum juga suka menggoda wanita untuk membuatnya cemburu.

Sehun hanya tak tahu, kalau Hanna selalu cemburu ketika pria itu melakukannya. Pernah suatu saat, keduanya sedang berjalan bersama sehabis mengikuti rapat guna memilih pemasok senjata yang baru. Lorong saat itu sedang sepi, dan Hanna ingin sekali memanfaatkannya untuk menanyakan hal yang teramat penting—menurutnya.

Tak dinyana, salah satu snipper tercantik juga terbaik dalam angkatan Hanna pun menghadang keduanya. Mencoba basa-basi, namun pada akhirnya pusat fokus gasis itu adalah pria yang berdiri di sampingnya.

Hanna tahu, Sehun sempat meliriknya sebentar dan pria itu pasti tahu kalau Hanna tak suka jika kekasihnya berbicara dengan orang lain. Hanna tidak suka diabaikan, itu saja sebenarnya. Tapi, entah mendapat ide jahil darimana, Sehun justru membalas pertanyaan yang sama sekali tak penting—menurut Hanna lagi—dan Hanna dijadikan sebagai penonton yang baik. Tentu saja ia marah, ‘kan?

Nyatanya, ia tak bisa. Ia hanya meluapkan emosinya di tempat latihan menembak, ditemani pistol kebanggaannya. Hanya itu yang bisa menjadi teman Hanna ketika ia tak bisa mencurahkan semua yang ia rasakan dengan orang lain. Hanna begitu tersiksa.

Kendati demikian, tak lama kemudian Sehun akhirnya meminta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Keduanya berbaikan seperti semula, meskipun ada spasi tak konkret yang menghalangi keduanya.

Yang lebih parah daripada itu sudah pernah terjadi—sebelum Seolhyun datang. Sehun berencana menemui ibunya yang ada di rumah sakit Seoul. Pria itu pernah mengatakan bahwa pengobatan di negeri gingseng itu lebih bagus daripada di Pyongyang. Hanna pikir, setelah janji yang diucapkan, Sehun tak akan lagi mengingkarinya.

Kenyataan lagi-lagi tak berpihak padanya. Ia justru mendapatkan laporan kalau pria itu memesan kamar di salah satu hotel ternama di sana. Membawa seorang wanita di malam hari, lantas menginap selama semalam.

Setelahnya, Hanna tak pernah lagi percaya. Sehun pembohong yang ulung dan Hanna adalah kelinci yang mudah sekali dibohongi. Puncaknya, adalah ketika Seolhyun datang dan saat itu Hanna sudah tak lagi bisa bersabar. Ia memutuskan untuk memusnahakan harapannya hidup selamanya bersama Sehun. Pria itu sudah mendapatkan gadis yang lebih baik. Jadi, untuk apa dirinya ada di samping Sehun?

Hanna menghela napasnya panjang ketika insomnianya kembali mengganggu. Disaat seperti ini, disaat ia butuh ketenangan, mengapa ada saja yang mengganggu?

Gadis Kiyomizu itu akhirnya melangkahkan kaki jenjangnya menuju dapur. Mencoba mencari sesuatu yang bisa dimakan atau apalah yang bisa mengalihkannya pada obat tidur. Namun nihil. Ia tak menemukan apapun.

Menutup kulkasnya—setelah membuka dan menelisik isinya dan tak ada apapun yang menarik—Hanna kembali ke kamarnya. Mengganti bajunya dengan pakaian kasual juga celana jeans, ia akhirnya pergi keluar apartemen. Menuju supermarket guna mengisi kulkasnya.

Sesampainya di sana, ia memakai kaca mata hitamnya. Ia tak ingin dikenali, apalagi ia berusaha menghindar dari mata-mata milik Black Ocean yang mungkin saja sedang mengintainya karena dimintai bantuan Sehun.

Ah, tidak! Mana mungkin Sehun masih peduli padaku? Batin Hanna bergelut. Gadis itu pun sempat tertawa sinis—menertawai dirinya sendiri. Menyingkirkan pikiran bodohnya, Hanna akhirnya kembali lagi merajut langkah menuju supermarket.

Langkahnya sempat terhenti ketika ia mendapati seorang pria mabuk yang mulai mendekatinya. Dari wajahnya, Hanna tak lagi asing. Namun, ia rasanya belum pernah menemui pria itu. Mungkinkah itu—

“Kau darimana saja, huh? Aku merindukanmu, tahu!” racaunya ketika lengannya mencengkeram bahu Hanna. Sebelumnya, Hanna pasti akan membanting pria yang berani menyentuhnya. Namun, ini berbeda. Hanna justru membiarkan pria itu dan menatapnya dalam. Pria itu sedang mabuk rupanya.

Yang membuat Hanna semakin membulatkan mata adalah ketika pria itu merengkuhnya posesif. “Jangan pergi lagi, okay? Aku tidak bisa kehilanganmu, kumohon.” Racauannya semakin membuat dahi Hanna mengerut. “Tolong lepaskan,” mohonnya. Tangannya pun sedari tadi mencoba melepas rengkuhan pria itu. Sayangnya, tenaganya sedang tak sebanding sekarang.

“Aku bahkan tidak mengenalmu, kumohon lepas—”

“Mungkin jika aku menciummu, kau akan mengingatku.” Ujarnya tanpa pikir panjang. Sedetik kemudian, pria itu sudah memertemukan bibirnya dengan cherry milik Hanna. Menciumnya lembut, sampai-sampai ciuman itu bisa membuat Hanna mengingat ketika peraduan manisnya dilumat lembut oleh mantan kekasihnya—Oh Sehun.

What the hell about this situation?

.

.

.

Halouuuu T_T

Selamat untuk para oppa yang memborong nominasi lebih dari empat /kayak mimpi waktu tau :D/ meskipun pada akhirnya dapet tiga. BTW, di akhir nominasi di bacakan, EXO menang, dan si maknae cool yang satu itu ngasih pidato yang luar biasaa. Ya, meskipun nontonnya dari tipi, gak papa. Muka papah thehun tetep keliatan ganteng, kok. 😀

Okay, mengesampingkan semua apa yang terjadi, aku mau tanya sesuatu. Udah berapa bulan aku nganggurin BLAD? Yang nulis aja sampe gak yakin. Dulu, sempet kehilangan mood dan malah sempet-sempetnya bikin FF apalah-apalah. Namun, aku hadir kembali bawa FF ini.

Sebelumnya, aku juga udah post part ke-3 di blog pribadi. Tapi, aku ngerasa aneh kenapa alurnya malah pergi ngalor-ngidul gak jelas. Maka dari itu, aku hapus part sebelumnya dan menggantinya dengan yang baru. Jadi, jangan bingung, ya 😀 beda jauh lho J

Dan..dan..dan.. hari sabtu yang bahagia ini, aku udah ngepost dua FF lanjutan. Jadi, komentar sangat dibutuhkan dan terima kasih sudah menemani malam sabtu author jomblo yang ternistakan oleh pria tak bertanggung jawab yang datang dan pergi seenak hatinya/?/ kalian gak ngerasa kayak dia, ‘kan? Cus, tinggalin komentar. Lope you always guys!

Advertisements

One thought on “BEETWEEN LOVE AND DEATH—Part.3”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s