[Ficlet] Mermaids

e30bbd867038c253a1f86dc3417d31e8.jpg

Mermaids

story by roseblanche

Oh Sehun (EXO)

Dark, Fantasy

PG-13

Ficlet

‘It’s definitely a beautiful young lady.’

-oOo-

Ada yang tidak beres.

Baru beberapa menit yang lalu, Sehun menyaksikan semua pemandangan itu.

Badai menggelora, kendati sambaran petir layaknya membelah langit malam. Tetesan deras tak kunjung berhenti, pun dewa langit yang sepertinya tak kunjung puas. Teriakan para awak yang begitu panik, begitu ketakutan, beradu dengan suara bising air yang telah berhempas ke dek kapal. Angin pun tak henti-hentinya berhembus sangat kuat, hingga para awak kewalahan mengatur layar.

Sehun sebagai kapten, telah membanting setir secara membabi buta dengan susah payah, berharap mereka bisa keluar dari semua bencana ini.

Dan di sinilah mereka sekarang. Masih di tengah samudera yang luas, namun keadaan sudah berbeda. Tidak ada lagi air yang berlomba-lomba memasuki dek, permukaan air di sini begitu tenang. Tidak ada lagi hujan badai, hanya angin sepoi yang terasa menggerayapi kulit.

Sejenak, para awak ingin bersorak atas keberhasilan mereka dan juga sang kapten yang telah membawa kapal tersebut keluar dari badai. Tetapi, tidak jadi. Suasana di sini terlalu sunyi. Terlalu gelap. Terlalu menyeramkan. Yang bisa mereka pandang hanyalah sinar bulan dan samar kilauannya pada permukaan air.

Ya, hanya itu.

Sampai salah satu awak kabin tiba-tiba berteriak.

“Apa itu?”

Seluruh pandangan beralih ke arah yang telah ditunjuk, yaitu laut. Banyak dari mereka yang berusaha memicingkan mata, agar dapat melihat lebih jelas.

Hampir setengah menit terlewat, tiba-tiba terdengar suara heran bercampur dengan decakan kagum dari seluruh penjuru kapal. Tak terkecuali Sehun, sang kapten.

Bagaimana tidak? Sepintas ekor ikan besar berwarna keemasan baru saja muncul ke permukaan air. Meskipun hanya sedetik, namun seluruh mata dapat dengan jelas melihatnya.

“Turunkan sampan!”

Para awak lekas mengikuti apa yang telah diperintahkan oleh kapten mereka, dan beberapa juga menyiapkan senjata. Mereka mengerti.

Makhluk apa pun yang baru saja melintas itu, sang kapten ingin menangkapnya. Mereka telah mengerti sifat ketamakkan yang telah dimiliki sang kapten sejak lama.

Akhirnya, sampan itu diturunkan. Sehun beserta beberapa awak lain menuju semakin ke tengah samudera, berusaha mengira-ngira titik makhluk tadi muncul.

“Diam dan fokus!”

Dayungan dihentikan, membiarkan sampan terapung tepat di satu titik. Beberapa dari mereka tengah memegang pisau, pula menebarkan jaring untuk menangkap.

Awalnya tidak ada apa-apa. Tetap kesunyian seperti tadi, juga angin sepoi seperti tadi. Tak ada yang berubah. Hingga hampir tiga puluh menit terlewat, tiba-tiba mereka mendengar sebuah bunyi. Sampan mereka bergerak perlahan, menandakan bahwa ada sesosok makhluk yang baru saja melintas di bawah mereka.

Terdengarlah suara deritan kayu pada bagian pinggir sampan, tepatnya di sebelah kiri Sehun. Spontan, pria itu menoleh.

Dan pemandangan selanjutnya membuat Sehun makin tak dapat berkata-kata.

Bukan ikan, bukan monster mau pun makhluk mengerikan lainnya.

It’s definitely a beautiful young lady.

“Siapa kau?”

Sang gadis misterius tak menjawab, hanya menampilkan sebuah senyuman menawan. Senyum yang sanggup membuat jantung Sehun bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya.

Sehun berusaha memperhatikan. Gadis yang menyandarkan tangannya pada tepi sampan itu hanya menampilkan setengah dari tubuhnya yang berlapis keemasan, dan sisanya berada di dalam air. Sehun menengok ke dalam air, dan … kini ia mengerti.

Ia adalah makhluk setengah manusia setengah duyung, biasa disebut Mermaid. Seekor duyung yang begitu cantik jelita, seekor duyung yang begitu rupawan.

Masih terpaku dengan senyuman duyung satu itu, tiba-tiba tak jauh dari mereka muncul kembali beberapa duyung lainnya. Sama cantik, sama-sama mempunyai senyum yang menawan layaknya duyung yang pertama.

Sehun masih menatap wajah duyung pertama, dan duyung itu menatapnya dengan tatapan tak kalah takjub. Layaknya sebuah tatapan polos ingin tahu.

Jujur, manusia duyung di hadapannya ini merupakan makhluk tercantik yang pernah ia lihat. Pasalnya, ia tak pernah percaya dengan keberadaan duyung. Ia selalu mengira, manusia duyung hanya ada dalam dongeng, tidak dalam dunia nyata.

Dulu, ia sangat sering mendengar cerita itu.

Sang nelayan terjatuh ke laut dan puteri duyung menyelamatkan nyawanya. Karena terlampau jatuh cinta, sang duyung mengorbankan ekornya untuk ditukar dengan sepasang kaki, agar ia dapat turun ke darat dan menemui nelayan itu kembali. Dan ternyata, cintanya berbalas. Akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.

Itulah yang tertera dalam dongeng. Makhluk yang dikiranya tak pernah ada, sekarang muncul begitu saja di hadapannya. Dengan senyuman memikat itu, Sehun mulai berpikir. Hatinya yang selama ini tak pernah terisi dengan satu wanita mana pun, kini bisa meleleh sebegitu mudah hanya dengan sebuah senyuman.

Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Apakah kehidupannya yang terasa dingin tanpa perasaan ini dapat berubah oleh pertemuannya dengan sang duyung? Merangkai sebuah cerita romantis bersama seperti dalam dongeng?

Apakah ia bisa?

.

.

.

Well, nyatanya tidak.

Sebelum Sehun terbangun dari imajinasinya, duyung-duyung itu telah menariknya ke dalam air, pun dengan awak-awak kapal yang dibawanya dalam sampan. Menarik mereka ke dalam pekatnya kegelapan dasar laut, dimana tidak ada kehidupan dongeng yang seperti Sehun bayangkan.

Karena, yang ada hanyalah jerit tangis para pelaut yang tengah dijadikan mangsa oleh para duyung.

fin.
-oOo-

Advertisements

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s