1435 #7—PutrisafirA255

77-copy

1435—The Secret

.

Story from PutrisafirA255

.

Cast

Oh Sehun-Kim Hanna

Byun Baekhyun- Helena Jung

Other Cast

Jung Hyejin-Min Yoongi

etc

.

Genre

Marriage Life, Romance, AU, Fluff, Drama, Family, etc.

.

PG-16

.

Hope you like it and give me comment as appreciation

.

PutrisafirA255©2016 | Blackandwhite

.

Prolog  #1 [Restart] | #2[Propose] | #3 [Could I?]

| #4[The Past] | #5 [The Wedding] | #6 [After Many Years] | #7 [The Secret] (NOW)

.

.

.

.

Sehun mengancingkan jasnya sembari menyusuri lorong bersama dengan beberapa staf yang lain. Yang menjadi pembedanya adalah, Sehun lebih banyak berinteraksi dengan juru bicara yang sudah begitu dekat dengannya.

“Bagaimana keadaan di luar?” tanya Sehun padanya. “Di luar cukup kondusif, hanya saja kau tahu bahwa mereka tak akan pergi sebelum mendapatkan jawaban.” Ujarnya memberitahu. Tentu saja Sehun tahu. Ia sudah berpolitik selama hampir tiga tahun.

“Memangnya apa yang ingin mereka ketahui dari kita?” Sehun kembali bertanya. Ia harus tahu apa yang akan ia katakan meskipun juru bicara perdana menteri ada di sampingnya. Ia tak mau terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu akar permasalahan.

“Mereka akan menanyakan perihal pihak Korea Utara yang meluncurkan rudal di kawasan kita,”

Tungkai si jangkung pun terhenti seketika. Ia terkejut bukan main ketika tahu mosi yang akan dibahas beberapa menit yang akan datang. Ia bahkan baru mendengarnya detik itu juga, bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan jika langkah apa yang akan ia ambil pun dirinya tak tahu. “Apa kau bercanda, Bae Johyun?”

“Apa aku terlihat bercanda, Oh Sehun?” Gadis yang dipanggil tadi pun ikut bertanya. Rautnya kentara serius, hingga Sehun menahan emosi yang agaknya mendongkol dalam hati. Apakah Tuhan sedang menguji kesabaranku hari ini? Batin Sehun berkecamuk.

“Kau hanya perlu mengatakan bahwa kita sedang berbicara dengan pihak Korea Utara—”

“Kita tidak melakukannya, dan aku tak akan berbohong untuk negara.” Sela Sehun cepat. Ia tak mau dibantah. Kekuasaan ada ditangannya dan hanya ialah yang berhak untuk memutuskan langkah apa yang akan ia ambil.

Si jangkung Sehun lantas kembali mengukir jarak menuju podium dan terhenti ketika microphone tepat ada di depannya. Ia meluruskan pandangan. Membiarkan beberapa flash kamera mengambil gambarnya yang hendak berpidato.

Ketika ia hendak berbicara, para wartawan lebih dahulu menginterupsinya dengan berbagai pertanyaan yang sudah diprediksi oleh otak cerdasnya. Mereka saling sahut menyahut, hingga kegaduhan mulai memenuhi ruangan itu. “Kami,” Sehun membuka suara, semuanya yang ada diruangan itu menjadi hening seketika—kecuali flash kamera dan ketikan keyboard yang enggan berhenti.

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah ini. Saya harap rakyat Korea Selatan tidak perlu khawatir dengan berita tersebut.” Ujarnya memberikan pidato sekaligus kalimat penutup yang pastinya akan membuat beberapa pihak kecewa. Kalimat Sehun tadi begitu tenang, seperti biasanya. Tapi, sebagai manusia biasa yang tak bisa menghentikan takdir tanpa berusaha, ia takut—sebenarnya.

Ia menyeret tungkainya menjauh dari podium. Mengabaikan beberapa wartawan yang masih begitu nekat menanyakan pertanyaan yang sama sebelum ia datang dan memberikan pidatonya. Namun, ada satu pertanyaan yang begitu mengusiknya ketika ia hendak menuruni anak tangga.

“Apakah pernikahan Anda yang mendadak itu juga berpengaruh terhadap kinerja pemerintahan sampai-sampai Anda tidak mau memberitahukan keputusan apa yang akan diambil?”

Sehun memejamkan matanya. Guratan di wajah pria itu tampak, ia menahan emosi yang semakin menjadi-jadi ketika mendapat pancingan pertanyaan yang bersangkutan dengan Hanna. Tangannya sudah terkepal di sisi tubuh, buku-buku jarinya memutih.

.

.

.

“Aku mohon jangan,”

Hanna berkali-kali menggumamkan tiga kata tersebut dalam hati sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Di samping menjaga Nara, ia juga menonton siaran langsung yang menampilkan sosok suaminya yang begitu tampan dengan balutan jas formal menghadap kamera dengan tatapan dinginnya.

Ia hendak mematikan televisinya tadi setelah Sehun berbicara. Namun, ia mengurungkan niatnya ketika mendengar salah satu wartawan menanyakan pernikahannya beberapa waktu yang lalu. Tentu saja Hanna bisa menerka apa yang akan Sehun lakukan. Tetapi, ia tak ingin reputasi suaminya itu hancur hanya karena pertanyaan rendahan seperti itu.

“Saya bisa membedakan mana urusan pribadi dan urusan negara.” Tatapan Sehun masih begitu tajam, namun tak sedingin sebelumnya. Segaris senyum terpaksa pun dilukisnya dengan apik, sampai-sampai Hanna miris melihatnya. “Kalian tidak perlu khawatir mengenai apapun yang bersangkutan dengan negara, karena pemerintah pasti akan mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. Lagipula, ini bukan yang pertama kalinya mereka melakukan itu bukan?”

Senyumnya mengembang setelah itu, kemudian sosoknya menghilang bersama dengan beberapa staf yang mengikutinya dari belakang. Hanna akhirnya bisa bernapas lega ketika Sehun tak terpancing dengan pertanyaan seperti itu.

Kini, ia beralih menatap sosok gadis kecil yang ada di sampingnya. Nara begitu beruntung bisa memiliki seorang ayah yang begitu menyayanginya. Bahkan, meskipun Sehun tahu bahwa Nara bukan anaknya, tetap saja pria itu masih bersikukuh merawatnya. Senyum simpul pun terpetak setelahnya.

“Kau beruntung memiliki ayah sepertinya, Oh Nara.” Ujarnya lembut pada Nara yang masih menutup kelopak matanya. Tangannya mengusap pipi tembam gadis kecil itu. Sekarang, Hanna bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ibu meskipun belum sepenuhnya. Ia bisa menjaga seorang anak yang akan memanggilnya ibu. Bukankah itu menyenangkan?

“Setelah menikah dengan Sehun kau semakin gila, Han.”

Suara bass itu tiba-tiba menyapa pendengarannya. Hanya dengan mendengar suara si pemilik, Hanna tidak perlu memastikan. Ia lekas menatap pria itu dengan tajam sembari menghardik. “Tanganmu gatal ya kalau mengetuk pintu?”

Si jangkung Chanyeol kemudian mendekati Hanna, lantas mengulurkan sekaleng kopi hangat yang baru saja ia beli. “Well, kau tahu aku tidak suka mengetuk pintu.” Ujarnya asal, kemudian berhenti ketika ia bisa melihat Nara dengan jelas.

“Kau tahu kemungkinan terbesarnya, ‘kan?” tanya Chanyeol pada Hanna yang masih terfokus menatap Nara. Gadis Kim itu mendongak—tatapannya kosong ke depan—kemudian mengangguk. Punggungnya pun dihempaskan pada sandaran kursi, setelahnya ia menghela napas berat. “Aku tahu,” sahutnya.

Chanyeol meraih pundak Hanna. Mencoba memberikan semangat meskipun dirinya sendiri tidak yakin bisa membantu melalui itu. “Apa kau sudah memberitahu Sehun mengenai hal ini?” Chanyeol kembali buka suara.

Kini, bukan lagi anggukan yang digunakan Hanna sebagai jawaban. Melainkan satu gelengan lemah dengan penjelasan melalui kalimat setelahnya. “Aku takut memberitahunya. Tapi, aku harus mengatakannya, bukan?”

“Sehun begitu menyayangi Nara. Seperti yang kau tahu, Nara bukanlah anak dari Sehun, tapi ia masih bersikukuh merawatnya.”

Ketakutan sudah membayangi Hanna sejak awal. Ia sudah menyadarinya, namun tak mengambil pilihan untuk menyelesaikan. Bungkam menjadi satu-satunya jalan, kendati demikian ia juga tak bisa melakukan itu secara berkala. Suatu saat—entah kapan dan Hanna pun tak tahu—ia harus memberitahukan pada suaminya itu bahwa kemungkinan besar anaknya akan mengalami lupa ingatan.

Jika Hanna ada di posisi Sehun, tentu ia akan merasa terpukul. Anak yang sudah ia besarkan sedemikian rupa dengan kasih sayang malah tak mengingatnya. Pun dengan kenangan yang sudah diukir dengan begitu indahnya. Tapi, bukankah ada sisi baiknya? Salahkan pemikiran Hanna yang mengharapkan Nara juga melupakan Helena yang notabene-nya adalah ibu kandungnya.

“Meskipun aku tidak menyukainya, dia pria yang baik, Han.”

Hanna menatap Chanyeol yang kini tengah melakukan hal yang sama dengannya. “Jujur saja aku masih menyukaimu, sama seperti dulu. Namun, daripada dengan Kai, aku lebih memilih Sehun yang mendekatimu. Dia pria yang bertanggungjawab dan mau mengambil resiko. Dia bahkan mau menikahimu tanpa berpikir panjang.”

Tentu saja, pria itu membutuhkanku untuk mendapatkan hak asuh.

Kedua tangan Chanyeol mencengkeram lembut bahu Hanna agar menatap keseriusan yang ada dalam dirinya. Ia ingin menyadarkan Hanna terhadap tabiat Kai yang begitu terobsesi dengan gadis itu. Namun, hatinya tetap saja menyimpang dari akal. Ia tak mau menyakiti Hanna, atau pun membuat permusuhan semakin menjadi. Tidak, ia harus!

“Kai menyukaimu bukan sebagai adik, Han. Melainkan sebagai seorang gadis yang bisa menarik hatinya sebagai seorang laki-laki. Kau harus tahu itu,” kata Chanyeol. Meskipun demikian, kenyataan tak selalu sama dengan pengharapan bukan? Sama seperti Hanna yang sekarang menyanggah kalimat Chanyeol sekarang. “Kau tidak tahu apapun mengenai Kai, Park Chanyeol! Berhenti mengatakan hal yang buruk tentangnya!”

Setelah kalimat itu terucap, Hanna menepis kedua tangan Chanyeol, kemudian mengambil langkah guna menghindari pria Park itu. Kai adalah kakaknya yang paling dekat, dan hanya pria itu yang tahu bagaimana suasana hatinya. Hanya pria itu yang bisa memahaminya.

.

.

.

“Kau dengar sendiri, ‘kan?”

Suara bass Chanyeol berkumandang ketika sosok pria berbadan tegap itu berada di ambang pintu ruang inap. Sehun masih bergeming di tempatnya setelah mendengar pernyataan Hanna mengenai Kai yang sebenarnya tidak sepenuhnya baik. Namun, bagaimana cara Hanna membela Kai membuat suasana hati Sehun semakin tak karuan. Agaknya kini ia semakin membenci Kai.

“Hanna sudah terlalu percaya dengan kebohongan yang Kai ciptakan. Dia bahkan lebih membela Kai daripada mencoba mendengarkanku,” serunya lagi dengan begitu lantang. Pria Park itu berbalik, menatap Sehun yang kini mengadahkan kepala menatapnya. “Hanya kau yang bisa membuka mata hatinya, Hun. Kau suaminya, kau yang harus meluruskan pandangan Hanna terhadap Kai.”

Ya, tentu! Sehun tahu apa yang harus ia lakukan, tapi ia tak bisa melakukannya sekarang. Ada banyak hal yang perlu ia pikirkan sekarang. Bukan hanya mengenai masalah pribadi, melainkan juga masalah negara yang pastinya juga membutuhkan dirinya.

“Tolong jaga Nara sebentar, aku akan segera kembali.”

Setelah berujar, Sehun memilih undur diri dan mencoba menenangkan dirinya. Semuanya begitu kacau. Semakin kacau ketika ia tak segera menyelesaikannya. Sehun hanya butuh kompas untuk menunjukkan arah seumpama mengembara, namun tak ada yang mau memberinya kompas. Sehingga ia harus mengambil arah itu sendiri dan menentukan langkah apa yang baik untuknya.

Ia mengambil alih kursi tunggu yang ada tepat di depan ruangan Nara. Tangannya tergerak memijit pelipis, mencoba menepis segala rasa sakit yang menyerang otak pintarnya sekarang. Setelah konferensi pers tadi, Sehun lekas mengambil alih kunci mobil dari supirnya, lantas mengendarainya dengan kecepatan di atas rata-rata hanya untuk menemui Hanna dan juga anaknya. Namun, mengapa ini yang malah terjadi?

“Kau ada masalah?”

Suara sopran Hyejin menyapa pendengarannya tanpa diminta. Gadis itu sudah duduk di sampingnya dengan raut muka cemas yang masih sama seperti dahulu. Ketika ia butuh sandaran sebagai seorang teman. “Kau tak mau bercerita, hm? Aku masih Hyejin yang dulu. Aku masih mau mendengarkan ceritamu juga membantu jika aku bisa.” Ujarnya sembari menepuk bahu tegap itu perlahan.

Helaan napas Sehun semakin menjadi. Mungkin inilah saatnya untuk mengungkapkan kesakitannya dan mencari bala bantuan untuk menyelesaikan masalahnya. “Kau pasti tahu yang namanya Kim Kai, bukan?” Sehun memulai ceritanya dengan menanyakan si tokoh antagonis—menurut Sehun—yang kemudian dibalas anggukan oleh Hyejin.

“Hanna begitu mempercayainya, dan mungkin saja jika ia meninggalkanku karenanya, ‘kan? Aku hanya mengkhawatirkannya. Aku tidak ingin kehilangannya untuk yang kedua kali setelah sekian lama itu terjadi.” Pandangannya mulai mengabur ketika ia menceritakan ketakutannya. Dadanya semakin sesak ketika ia memutar kembali perkataan yang Hanna ungkapkan untuk Chanyeol.

Hyejin tahu persis keadaan yang sedang sahabatnya alami itu. Hanya dengan sekali memandang, ia langsung tahu kalau bukan hanya tatapan yang diberikan sosok kakak kepada adik, melainkan antara pria dan wanita. Awalnya, Hyejin pikir itu biasa mengingat bagaimana kedekatan yang terjalin di antara mereka. Namun, lambat laun—dengan cerita Chanyeol pula—ia paham.

“Sebenarnya, aku masih marah denganmu karena sikap bodoh yang kau ambil tiga tahun yang lalu.” Hyejin membuat suaranya agar terdengar marah. “Tapi, jika tahu keadaan yang sebenarnya, aku juga merasa kasihan denganmu,” Kini suaranya melembut, bersalah dengan sikapnya tadi.

Kekehan kecil pun Sehun loloskan guna menertawakan sang sahabat. “Jadi, kau sekarang ada di pihakku atau dipihak Hanna, huh?”

Hyejin lekas meninju lengan kekar itu kesal. “Bagaimana bisa kau tertawa ketika sedang ada banyak masalah seperti ini, huh? Jangan menghibur diri sendiri, Oh Sehun. Kau tidak berubah sejak dulu,” dengus Hyejin. Raut muka yang kelewat datar itu sering sekali menyembunyikan kesakitan yang begitu mendalam. Meskipun sudah lama Hyejin tak menemuinya, tapi ia sudah mengenal pria itu lama. Ia jauh lebih tahu karena pria itu sering menceritakan masalah yang dihadapi padanya.

“Aku memang tidak berubah sejak dulu. Masih sama dan tak akan pernah berubah,”

“Tidak. Ada sesuatu yang berubah darimu,” Hyejin menyadarkan pria itu dari opini yang dikumandangakan sebelumnya. “Kau jauh lebih dewasa dan bisa mengambil keputusan sekarang.” Sambungnya.

“Keputusan?”

“Setelah tahu bahwa Nara bukan anakmu, kau tetap saja mau menganggapnya sebagai anakmu sendiri. Selain sombong dan sok tampan, kau juga penyayang.” Cicitnya dengan berbagai sudut pandang menurutnya. Hyejin tidak pernah berbohong jika situasinya seperti ini.

“Hanya kau yang belum menyadarinya,”

“Jangan memulai, atau aku akan panggil Hanna untuk—”

“Untuk apa?” Kini, giliran suara lembut milik Hanna yang berkumandang. Membuat kedua anak manusia yang tengah berkelahi itu terdiam dan beralih menatapnya. “Mengapa kalian malah menatapku seperti itu?” Hanna semakin bingung ketika kedatangannya tak disambut baik.

“Kalau aku mengganggu, aku akan pergi—”

“Tidak, aku yang pergi. Kalian ‘kan pengantin baru, tidak seharusnya saling berjauhan seperti itu.” Goda Hyejin yang mendapat tatapan penuh kebahagiaan dari Sehun dan tatapan tak percaya dari Hanna. “Kita akan bicarakan lagi nanti, okay?”

Sehun pun mengangguk sebagai jawaban, kemudian membiarkan sosok gadis Jung itu melenggang pergi meninggalkan kuriositas untuk Hanna. “Apa sebenarnya yang kalian bicarakan?” tanya Hanna pada Sehun yang kini sibuk menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. “Tidak ada yang penting, hanya sebatas pembicaraan kawan lama.” Sanggahnya. Tentu ia tak akan memberitahukan Hanna yang sebenarnya, ‘kan?

“Baiklah,” Sahutnya seketika, lantas menatap kemeja suaminya lama, sampai si pemilik angkat bicara, barulah Hanna mengalihkan fokusnya. “Mengapa kau melihati kemejaku seperti itu? Apakah kau tidak suka?”

Hanna menggeleng. Pria itu akan tetap tampan dengan pakaian apapun. Hanya saja, ia tak bisa membiarkan Sehun memakai kemeja yang sama sejak siang tadi. “Bisa kita pulang sebentar? Setidaknya ganti kemejamu. Kau sudah memakainya lebih dari enam jam.”

Bukannya menjawab, Sehun justru menatap Hanna dengan heran. Apakah Hanna sedang menjalani kewajibannya, ataukah Hanna sedang melakukan hal yang sewajarnya hanya untuk mengelabuhinya? Yang pasti Sehun lekas mengesampingkan semua pemikiran dangkal itu. “Tentu jika itu yang kau mau,”

.

.

.

Setelah meminta bantuan Chanyeol dan Hyejin untuk menjaga Nara, Sehun dan Hanna akhirnya pulang ke rumah pria Oh itu. Dalam perjalanan keduanya hanya terdiam, meskipun Sehun sempat membuka konversasi. Sayangnya, Hanna tak menimpali terlalu banyak.

“Kita sudah sampai,” Sehun kembali memecah keheningan untuk yang kesekian kalinya. Setelah menginjak rem tepat di pelataran rumahnya, ia lekas membuka pintu mendahului Hanna. Bermaksud membukakan pintu, namun Hanna terlebih dahulu membukanya.

Hanna yang tak tahu mengenai maksud mulai Sehun pun hanya mendongak dan menatap pria itu lamat-lamat. Lima detik kemudian, barulah Hanna buka suara. “Ada apa?”

Sehun yang bergeming pun telah kembali ke alam sadarnya dan mengusap tengkuknya canggung. “Ah, itu. . tidak ada. Ayo masuk, kita harus segera kembali ke rumah sakit.” Ujarnya kemudian. Ia tak tahu harus berbicara apa, mengingat Hanna mengatakan bahwa gadis itu berubah karena dirinya. Tentu saja terbesit rasa bersalah ketika mengetahuinya. Namun, Sehun akan berusaha sebanyak mungkin untuk mengubah kembali Hanna menjadi gadis yang hangat, ceria dan periang seperti sebelumnya. Ya, sebelum Sehun menyakitinya.

Hanna lekas mengikuti si pemilik rumah yang berjalan mendahuluinya. Ia juga kembali mengingat beberapa hari yang lalu, dimana dirinya pernah menginjakkan kakinya di sana. Tak hanya sendiri, juga bersama si gadis kecil yang saat itu masih bisa tersenyum seperti biasa. Ah, Hanna-ah, jangan mengingat itu! Batinnya geram.

“Kau tak ikut masuk?” tanya Sehun pada Hanna yang bergeming di ambang pintu. Gadis itu membulatkan mata ketika langkah dan pemikirannya membawa dirinya sendiri menuju kamar sang suami. “A-aku akan menunggu di luar,” Hanna lekas berbalik, meninggalkan ruang untuk pria itu.

Tak sampai satu langkah terukir samar di lantai, Sehun mencengkeram lengan Hanna dan menarik tubuh itu ke dalam kamar. Setelahnya mengunci pintu agar tak ada yang mengganggu. Tak perlu ditanya bagaimana reaksi Hanna selanjutnya. Kakinya sudah bergetar, bibir bawahnya ia gigit guna menyamarkan kegugupan, namun air mukanya masih sama saja.

“Jangan kunci pintunya, aku mau keluar.”

“Kau akan tetap di sini,” tukas Sehun telak, enggan lagi diperdebat. Berteriak meminta tolong dan menggedor pintu bukan langkah yang baik, bukan? Ide itu sempat terlintas dalam benaknya, namun ia tak akan melakukannya. “Mengapa?”

Sehun yang baru saja melepas kancing teratas menghentikan tangannya sejenak. Apa maksud Hanna dengan menanyakan itu?

“Memangnya apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan apapun, Kim Hanna.” Ucapnya meluruskan, namun ketakutan Hanna semakin menjadi. Ia memang hanya berdiam diri ketika Sehun melakukan apapun yang ia mau hari ini. Menikahi dirinya secara sepihak, membuatnya salah paham dan merasakan bagaimana disakiti setelah ia berani mengikat janji, hingga cemburu karena keduanya—Sehun dan Hyejin—bertukar senyum di hadapannya. Tetapi, untuk yang satu ini ia tak bisa berdiam diri begitu saja.

“Kalau begitu buka pintunya, aku tidak bisa bernapas.”

Awalnya, Sehun pikir itu hanya guyonan yang Hanna lepas untuk menghapus suasana canggung keduanya—mengingat ini adalah malam pertama keduanya. Namun setelahnya, Sehun baru sadar bahwa itu bukanlah sebuah candaan ketika gadis itu memukul dadanya sendiri beberapa kali.

Sehun lekas menangkap tubuh Hanna yang sudah lagi tak mampu berdiri. Ia pun kalut, tak bisa melakukan apapun selain memanggil nama gadis Kim itu sembari menepuk pipinya perlahan. Bukannya lekas menjawab, Hanna justru menutup matanya. “Hanna-ah. . Kim Hanna! Bangunlah, Han. Kumohon,”

Sudah dua menit Hanna mengabaikan panggilannya. Tentu saja Sehun semakin khawatir dibuatnya. Keringat sudah bercucuran di dahi pria Oh itu, napasnya tersenggal-senggal, ia sudah tak bisa berpikir lagi. Ia tak mau kehilangan orang yang ia cintai untuk yang ketiga kalinya—setelah kehilangan ayahnya juga ibunya.

“Kau berisik, Oh Sehun. Diamlah,”

Suara serak Hanna terdengar seiring dengan jemari lentik miliknya yang mencengkeram kerah kemeja Sehun, lantas menariknya hingga hembusan napas keduanya saling menyapa wajah masing-masing. Kelopak mata Hanna perlahan membuka, irisnya kini bisa melihat bagaimana wajah tampan yang berkeringat itu menatapnya cemas.

“Jangan beritahu ibuku tentang ini dan hidupkan lampu kamarnya.” Pinta Hanna dengan napasnya yang tersisa guna merangkai kalimat. Sehun menatap kembali Hanna dan memastikan bahwa gadis itu akan baik-baik saja ketika ia melakukan keinginannya. “Aku tidak apa-apa, cepat hidupkan.”

Sehun pun lekas menuruti keinginan Hanna dengan menghidupkan lampu utama yang sebelumnya hanya lampu kecil di nakas meja saja yang menerangi. Setelah selesai, Sehun pun segera menatap Hanna yang telah duduk bersandar di pinggir ranjang. “Sudah lebih baik?”

Sebagai jawaban, Hanna pun mengangguk lemah. Mengeluarkan segala tenaganya yang terkuras habis untuk kembali menyadarkan jiwanya yang ada di ambang kematian. Tak lama kemudian, Sehun sudah berada di hadapannya. Mendekapnya erat hingga ia sendiri lupa caranya bernapas sepersekian detik setelahnya.

“Aku punya fobia terhadap ruangan gelap dan terkunci.” Hanna memberitahu, namun sepertinya Sehun tidak mau mendengarnya. Pria itu masih sibuk menenangkan degup jantungnya yang masih saja melampaui batas normal. “Sudah kukatakan, aku tidak apa-apa, Oh Sehun.” Ujarnya lagi mengulangi sembari menepuk punggung tegap Sehun yang masih merengkuhnya.

“Jangan tinggalkan aku, Hanna-ah.” Sehun memundurkan tubuhnya hingga menyisakan jarak dan berhasil merangkum wajah sang istri. Menaruh semua fokusnya pada si cantik Kim yang kini juga menatap irisnya secara bergantian. Seolah sedang mencari ketakutan yang sebenarnya.

“Kau begitu takut aku pergi?” tanya Hanna yang awal mulanya hanya untuk menggoda dan memecah keheningan, justru dibalas pekikkan bass Sehun pasti. “Tentu saja! Rasanya sampai aku ingin mati kalau kau mau tahu!”

Senyum tipis yang terpeta di wajah Hanna pun lekas pudar seketika. Tergantikan oleh raut tak percaya yang begitu datar—khas miliknya. Ia tak tahu, kalau Sehun akan sebegitu kehilangannya jika ia sampai pergi. Apakah ini hanya rencana Sehun untuk mengelabuhinya? Atau untuk meyakinkan perannya? Bisakah Hanna percaya setelah semua skenario yang sedemikian rupa Sehun ciptakan untuknya?

“Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu,” Sehun segera meminta maaf ketika Hanna menatapnya dengan tatapan terkejut. Jujur saja, ia hanya ingin menegaskan bahwa ia begitu khawatir dengan Hanna dan tak ingin kehilangan gadis itu. Entah Hanna percaya atau tidak, dirinya tak peduli. Karena itulah tugasnya. Meyakinkan si gadis Kim bahwa ia layak menjadi orang yang bisa dipercaya, meskipun Sehun pernah merusaknya sekali.

.

“Pakai yang ini saja,” Hanna menyerahkan satu kemeja berwarna biru tua polos ketika pria itu bergerak mendekatinya setelah mandi. Sehun pun lekas mengangguk, kemudian menerimanya. “Aku sudah menyiapkan pakaian ganti juga untuk Nara. Maaf jika aku masuk ke sana tanpa seizinmu,” ujarnya sembari menundukan kepala, takut-takut kalau Sehun akan menatapnya marah.

Katakanlah ketakutan Hanna itu berlebihan, namun ia masih belum terbiasa masuk ke dalam rumah orang tanpa izin dari pemiliknya. Apalagi ia adalah orang baru dalam kehidupan keluarga itu. “Untuk apa meminta maaf, lagipula kamar itu. . sebentar lagi kau akan mengunjunginya lebih sering daripada aku,” Sehun mencoba menutupi kegugupan yang melanda dirinya. Sialnya, itu semua tak berdampak. Terbukti dengan kesalahan kerja tangannya yang justru membuat kemejanya tak berbentuk.

“Kau salah mengancingkan baju,” Hanna memberitahu seiring ia mendekati si jangkung yang hanya berjarak selangkah dari dirinya. Mengangkat jemarinya guna membenarkan, kendati demikian ia tak sengaja menyentuh dada bidang Sehun hingga sang empunya berdeham pelan guna membenahi pita suara.

“Ah, terima kasih.” Ujarnya. Ia lekas mundur dua langkah, kemudian menatap pantulan dirinya di depan cermin. Hanna yang awalnya mengerutkan dahi pun akhirnya menggendikkan bahunya asal. “Aku akan menunggu di luar,” ucap si gadis Kim yang setelahnya merajut langkah meninggalkan Sehun sendiri di kamarnya.

Debuman pintu tertutup pun menjadi bukti bagaimana air muka Sehun setelahnya. Tangan kanannya tergerak menuju dada kirinya. Mencoba menenangkan degupan kencang si jantung yang enggan di ajak bekerja sama. Sebenarnya, apa yang salah dengan dirinya? Hanna hanya tak sengaja menyentuhnya, tapi mengapa rasanya begitu menegangkan?

Sehun kembali mendongakkan kepalanya setelah berlama-lama menunduk dan membuang napasnya kasar. Menatap dirinya yang dipantulkan oleh cermin, sampai-sampai benda persegi itu bosan jika Sehun mau tahu. “Aku mencintainya, tentu saja karena itu.” Sehun bersusah payah meyakinkan dirinya sendiri. Menolak hasrat yang sebenarnya ada dan tetap memendamnya dengan begitu apik.

.

.

.

Si jangkung Chanyeol lebih dulu menghilang sebelum dirinya kembali setelah operasi yang ditinggalkan Hanna dan dilimpahkan gadis Kim itu untuknya. Well, ia dan Hanna sudah membuat kesepakatan untuk semua pekerjaan yang diberikan padanya. Jadi, Hyejin tak merasa dirinya di bebani. Apalagi baik Hanna maupun Sehun adalah keluarga baginya.

“Aku akan membunuh Chanyeol kalau dia kembali,” Hyejin merutuk dalam hati ketika ia yang baru datang menyadari ruangan Nara kosong. Bagaimana bisa si jangkung itu meninggalkan gadis kecil yang tengah tak sadarkan diri sendiri? Apalagi tak ada pengamanan khusu dalam kamar itu.

Ketika hendak melangkahkan kaki mendekati ranjang Nara, tiba-tiba saja terdengar suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi. Seketika itu juga jantung Hyejin berdebar semakin cepat dan tangannya gemetar karena ketakutan. Namun, kuriositasnya yang tinggi pun tak bisa berhenti. Terbukti ketika kakinya malah membuat jejak di atas alasnya berdiri. Mendekati kamar mandi perlahan, lantas memanggil nama Park Chanyeol berulang kali.

“Chanyeol, kaukah itu?” panggilnya, namun tak ada sahutan. Hyejin semakin melangkah mendekat.

“Park Chanyeol! Jangan main-main!” pekik Hyejin yang awalnya keras berubah menjadi pelan seiring ketakutan yang semakin mencekam. Sungguh, Hyejin tak bisa bayangkan bagaimana jika ada seseorang penjahat yang ada di dalam sana. Atau mungkin malah yang lebi menyeramkan, ada salah satu pasien dari departemen kejiwaan yang kabur dan bersembunyi di sana.

“Chan—”

Tangan Hyejin tergerak menuju knop pintu dan memutarnya dengan pelan—ralat, sangat pelan. Jantungnya semakin berdebar dan tangannya semakin bergetar hebat. Oh, Tuhan. Jikalau aku akan mati setelah ini, kumohon jagalah Yoongi untukku—racaunya dalam hati.

Betapa terkejutnya Hyejin ketika menundukkan kepala dan menatap lantai kamar mandi dipenuhi dengan air berwarna merah. Maka dari itu, Hyejin lekas mengangkat kepala dan mendapati sesosok pria dengan kemeja putihnya yang sudah berubah warna. Pria itu terluka.

“Min Yoongi!”

.

.

.

Kkeut!

Enggak, ya. Bercanda lho. Aku udah berencana bikin FF ini dengan chapter yang banyak. Anggap aja ini karena rasa terima kasih kepada semua readers yang begitu mencintai FF yang aku buat, sehingga ini menjadi motivasi tersendiri buat aku sebagai pembuatnya.

Okay, guys, buat si Hanna, dia itu punya fobia sama ruangan yang tertutup(terkunci) dan gelap. Karena waktu mereka masuk, yang dihidupin lampunya cuma lampu kecil di nakas meja. So, kenapa dia bisa dapet fobia seperti itu? Nantikan jawabannya, ya 😀 (Tanda-tanda mau bikin side story) #kalo_sempet

Oh, ya. Aku mau minta pendapat dong /wink. Para readersku tercinta, menurut kalian bagus FF ku yang mana; Take It Slow atau 1435? Kalau responnya semakin lama semakin sedikit, maka chapternya juga makin sedikit.. Aku kangen kalian yang begitu merindukan Sehun-Hanna kayak Take It Slow. Kalo FF ini gak sesuai dengan ekspektasi kalian, maka aku akan segera menamatkannya. Ini keputusan final seiring dengan meningkatnya siders. Thanks before.

Regards,

—PutrisafirA255

Advertisements

31 thoughts on “1435 #7—PutrisafirA255”

  1. yeyy update lagii!!
    hemm jujurnya sihh aku lebih suka ff yang ini daripada take it slow.
    menurut aku, ff ini lebih menarik karena menyangkut paut dengan hal-hal politik yang jarang ada di ff lain.
    btw aku mauu romance sehun sama hanna dibanyakin dongg
    fighting author!

    Liked by 1 person

  2. Aku belum baca Take it Slow nya, jadi kagak tahu dah 😂
    aku suka ff ini karna ceritanya menarik apalagi main cast nya Oh Sehun, astaga 😍 dan Byun Baekhyun, tapi sayang Baekhyunnya Antagonis, tapi gak apa deh Baekhyunnya tetap tampan 😂 *abaikan 😆

    Liked by 1 person

  3. Ihh ya ampun kasian ya si nara, dia sampe hampir lupa ingatan gitu 😓 si hanna ama sehun masih canggung aja deh 😆 ini endingnya serem deh, knapa yoongi di kamar mandi sii? Apa grgr kai lagi? Ihh ya ampun serrm deh.
    Aku suka banget sama chap ini. Serasa lebih fun aja dan ga berat2 amat mahamin nya. Next ditunggu yaa 😁

    Liked by 1 person

  4. min yoongi knp bisa kyk gitu, haduh bikin penasaran, sehun sm hanna gg jadi malam pertama nihh yaa? haha next ya kak ditunggu
    fighting kak!

    Like

  5. Akhirnya update yeey!😄
    “menampilkan sosok suaminya yang begitu tampan dengan balutan jas formal “, suami km emg tampan hana😍
    Itu nara kemungkinan hilang ingatan? yaampuun kasiaan😳
    Keberadaan kai membahayakan sehun bgt yaa kayanyaa.
    Terus itu knp berdarah2 di kmr mandi??😲
    ditunggu chp selanjutnyaa, penasaraaaan.
    Oiyaa aku blm baca yg Take It Slow, jd gabisa bandingin😳

    Btw sehun kok tambah ganteng yaa akhir2 ini?? Gk kuat adeeek😍😂
    Nyampah bgt aku disini, maaafin komen yg panjang dan gk bermutu ini🙏 *diusir author

    Like

  6. dasar mereka berdua masih canggung aja padalah udah nikah.
    yongi kenapa tuh kok bisa kaya gitu,aduh bikin orang deg2an aja tapi juga bikin orang penasaran,siapa sih yang udah bikin yongi kaya gitu.

    kak cpt update chapter selanjutnya ya.!!

    Liked by 1 person

  7. Sebenernya pa yg trjadi sma nara? Itu knp hanna percaya banget sma kai. Smpai ga mau dengerin org lain. Smoga sehun bsarubah pikiran nara. Knp yoongi. ? Kok bisa trluka dn berlumuran darah?

    Like

  8. AGUSSSS KENAPA AGUUUS? ralat si suga kenapa? Ada ada aja si agus kalo main di kamar mandi (eh). Selalu buat penasaran di endingnya nih, tolong lanjutin ff-nya kak jangan sampe berhenti tengah jalan. Semangat kak!!!

    Like

  9. ehh, knapa yoongi bisa ada di kamar mandi ruang nara..?? trs ada darah…?? kok bisa sihh kk..darahnya yoongi kan, dia terluka..?? ihh kok bisaaaaaa

    wkwkwk si sehun tegang yaa..
    apanya tu yg tegang..?? *aish pikiran kemana”

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s