Dirty Breath (Chapter 3)

dirty-breath

DIRTY BREATH

a story by Alkindi, staring by Oh Sehun & Khanza Kim, AU Drama, Romance, Sad, Crime, Marriage life and PG-17 rated.

Previous : INTRO | CHAPTER 1 | CHAPTER 2

“Ahn Mi Rae”

“Oh Sehun”

“Kau juga suka membaca buku ini ?”

“Ya.”

“Kalau begitu ambillah.” Gadis itu memberikan buku itu pada Sehun. Ia tersenyum simpul, setelah itu ia berlari meninggalkan perpustakaan sekolah.

“Tunggu. ” Sehun menghentikan langkah gadis itu. Tentu saja gadis itu berhenti dan berbalik. Sehun menghampirinya tanpa ragu.

“Ada apa ?” Tanyanya lugu.

“Bisa ku dapat nomor ponselmu.” Gadis itu bersemu merah. Pun juga dengan Sehun. Mereka saling berdiam diri sambil melempar tatap satu sama lain. Hubungan mereka berlanjut setelah pertemuan mereka yang tak di sengaja itu.

Ahn Mi Rae, sepertinya Sehun menyukainya.

Namun terkadang roda kehidupan tak berjalan seperti yang diharapkan, Ahn Mi Rae tumbuh menjadi gadis yang hidup di luar kendali. Pergaulan bebas, mabuk-mabukkan, pulang selalu larut malam. Sampai suatu saat Sehun meminta gadis itu untuk berhenti, tapi Mi Rae enggan melakukanya. Ini salahnya, salah Sehun.

Ia telah mengubah Mi Rae. Si gadis lugu yang ia temui di perpustakaan. Melebihi dirinya, gadis itu menjadi sangat liar. Sehun jadi mengingat kembali pesan terakhir ayah Mi Rae sebelum meninggal. Tentu saja untuk menjaga dan melindungi Mi Rae. Tapi nyatanya, Sehun malah merusaknya. Hingga suatu saat ketika mereka tak lagi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, Mi Rae tumbuh menjadi pelacur. Wanita yang bermain dengan pria random untuk mendapatkan uang yang diinginkanya.

Kau gagal menjaga Mi Rae, Sehun.

Gagal.

Sampai rasa bersalah itu tak berhenti berdengung di kepalanya. Orang bilang pria sejati tak boleh mengingkari janji. Kalau begitu Sehun bukanlah seorang pria sejati. Sehun sudah mengingkari janjinya, janji dengan mendiang ayah Mi Rae. Gadis itu tak punya siapa-siapa, Sehun lah yang ia punya. Tapi Sehun malah meninggalkanya.

Itukah yang namanya menjaga ? Mungkin inilah balasan setimpal yang Sehun terima.

“We just Friend Sex, no more.”

“We just Friend Sex, no more.”

untitled-1

“Arrrggghhhh” Sehun menjambak sendiri rambutnya. Pria itu telah terbangun dari tidurnya. Karena mimpi itu lagi, mimpi buruk yang selalu menghantui Sehun.

Sehun menatap sekitar, dan pria itu baru sadar kalau dirinya masih berada di Mansionya. Di tempat tidur gadis asing itu. Sehun membulatkan mata, itu artinya semalam ia tidur dengan Khanza ? Batinnya. Jangan salahkan Sehun, pria itu dalam keadaan setengah sadar saat menggendong tubuh Khanza yang pingsan setelah memecahkan vas bunga kemarin.

Semoga saja Sehun tak menghabisi gadis itu kemarin malam.

Tapi dimana gadis itu ? Sehun tak mendapati Khanza di sampingnya. Sehun juga masa bodoh dengan ini, kepalanya terlalu pusing jika hanya untuk memikirkan gadis itu. Tak ada gunanya. Pria bertubuh atletis itu akhirnya memutuskan untuk membasuh tubuhnya sebelum meninggalkan Mansionya itu.

Suasana Mansion Sehun sudah berbeda, tampak bersih dan rapi. Semua barang sudah tertata pada tempatnya. Meja-meja dan kursi yang berdebu juga sudah lebih mengkilap. Pun juga dengan koleksi Vas klasik milik Sehun. Siapa yang membersihkanya ? Pria itu bahkan tak memiliki siapapun di sini kecuali ia dan—

Khanza.

Pasti Khanza yang membersihkanya. Pikir pria itu, lantas berjalan menuruni anak tangga yang terbilang sangat besar itu. Benar saja, gadis itu yang melakukanya. Gadis itu tampak sibuk berkutat di dapur. Sehun mengamatinya sedari tadi, Khanza tau akan hal itu. Tapi gadis itu bersikap seolah tidak ada apapun di antara mereka. Padahal jelas-jelas Khanza adalah orang asing yang menumpang hidup di rumahnya.

Sehun melempar tatapanya ke arah meja, ia dapat melihat makanan yang sudah terjejer rapi beserta minumann berupa secangkir kopi panas. Pria itu semakin tak mengerti, untuk apa gadis itu melakukan semua ini. Padahal jelas-jelas Sehun tak memintanya untuk membuat semua ini. Yang membuat Sehun lebih heran lagi, sampai sekarang gadis itu tak berkata apapun padanya. Masih berkutat di dapur walau meja makan sudah dipenuhi oleh makanan buatanya sendiri.

Sehun pun menarik satu kursi di sana, Khanza berbalik dan menatapnya menunduk.

“Kau yang membuat semua ini ? ” tanya Sehun dingin sambil melempar tatapan mengintimidasi ke arah Khanza. Gadis itu semakin tertunduk, ia bahkan hampir membalikan tubuhnya karena ketakutan.

Gadis itu mengangguk lemah sebagai balasan.

“Sudah berapa lama ?” Sehun melipat setengah lengan kemejanya. Ia mengambil sendok dan pisau yang sudah tersedia di sana. Mengiris daging yang telah di masak Khanza, dan memakanya dengan garpu. Khanza terdiam, ia kira pria itu akan marah besar, dan berakhir pada Khanza yang ditendang keluar rumahnya. Gadis itu bahkan terlalu bermain dengan fikiranya sendiri sampai melupakan pertanyaan yang sebelumnya sudah di ajukan oleh Sehun.

“A-aku, sejak jam 4 pagi.” Jawab gadis itu terbata-bata.

Sementara pria itu masih melahap makanan buatan Khanza. Sehun sangat tampan dengan apapun yang ia lakukan. Khanza sangat mengaggumi cara makan pria itu. Caranya mengiris daging, memasukan garpu ke dalam mulutnya, mengunyah makanan. Semuanya Khanza sukai. Pria itu sangat elegan dan berkharisma.

Dan dia memiliki daya tarik tersendiri.

Khanza bahkan baru sadar kalau Sehun sangat tampan, dan tak hanya berkharisma. Khanza mengamati gerak-gerik pria itu dari tempatnya sekarang. Dan berakhir ditatap balik oleh Sehun. Membuat gadis itu salah tingkah dan gugup tak tahu harus berbuat apa, dan menampilkan ekspresi seperti apa. Sehun bahkan sedang berjalan menghampirinya sekarang.

Dan dengan bodohnya, gadis itu semakin berjalan mundur saat Sehun berjalan menghampirinya. Jangan salahkan Khanza juga, Sehun datang dengan tatapan itu lagi, tatapan mengintimidasi yang membuat siapapun yang melihatnya menjadi takut untuk menatapnya. Astaga, apa yang harus dilakukan Khanza sekarang ?

Sehun semakin dekat, sedangkan tubuh Khanza sudah menabrak wastafel dapur. Situasi ini sangat tidak menguntungkan. Khanza terhimpit. Dan Sehun ? Astaga apa yang sedang di lakukann pria itu. Memdekatkan wajahnya di samping kepala Khanza. Membuat Khanza merinding saat bibir dan hidung mancung Sehun tak sengaja menyentuh daun telinganya. Bibir itu sedikit membuka, hendak mengeluarkan sepatah kalimat. Mungkin.

“Aku tidak suka kopi.” Ungkap Sehun seperti berbisik tetapi terdengar sangat jantan.

Pria itu langsung berbalik meninggalkan Khanza setelah mengucapkan kalimatnya. Khanza bersemu merah di pipi setelahnya. Sialan, batin Khanza setelah Sehun benar-benar meninggalkan Mansionya dan juga meniggalkan Khanza dengan sejuta umpatan di kepalanya. Semudah itukah ia dibuat bersemu ? Astaga Khanza, harga dirimu.

Baiklah, setidaknya pria itu tidak mengusirnya. Itu artinya Khanza bisa tinggal di sini kan ? Walau sementara.

untitled-1

Sehun dan Sekretaris pribadinya terlihat duduk di sebuah bangku taman dekat hamparan tanah kosong yang sangat luas. Mereka tampak membicarakan sesuatu. Sehun yang berbicara, dan Callesa yang mencatat. Semua orang yang melihatnya pasti sudah akan tahu kalau mereka sedang berbicara soal bisnis sekarang.

Sementara itu, para pengawal Sehun sedang menunggu di belakang mereka. Pria yang berpakaian serba hitam. Baik Sehun maupun Hayoung selalu di kawal saat mereka pergi kemanapun. Itu wajar saja, karena mereka adalah anak orang nomor satu di Korea. Bagi Sehun itu biasa saja, namun tidak dengan Hayoung.

Adik perempuan Sehun itu merasa sangat terusik sekali dengan pengawal-pengawal ayahnya yang masuk ke dalam kelas kuliahnya. Hal itu sontak membuat konsentrasi Hayoung hilang, karena bahkan beberapa dosen yang mengajar sedikit canggung dan takut. Apalagi semua temanya, mereka tak ingin memiliki urusan panjang dengan putri presiden, oleh karena itu mereka memilih menjauhi Hayoung dan gadis itu berakhir selalu sendiri. Ralat, selalu dengan para pengawalnya.

Kembali lagi pada Sehun dan Callesa, hingga satu jam lamanya mereka belum juga enyah dari bangku taman itu. Baik Sehun maupun Callesa, mereka sama-sama sibuk dengan tugasnya masing-masing. Dan para pengawal Sehun tetap setia menunggu mereka. Walau senja sudah tiba.

“Kau akan benar-benar membuat project ini ?” Callesa menyerahkan kertas gambaran arsitek yang berisi bangunan gedung pencakar langit yang sangat megah dengan green house di tengah-tengahnya.

94d1098974de22bf019d2e215f6a9fc1

“Tentu saja.” Balas Sehun tanpa memandang lawan bicaranya. Sementara salah satu tanganya tampak sibuk menggeser satu persatu grafik di tanganya. Seperti biasa, bermain saham.

“Ini project yang sangat besar, bagaimana kalau kau mengalami kendala yang sangat besar juga ? Sejujurnya aku juga menyukai idemu ini. Tapi kurasa ini sangat mustahil untuk dilakukan.” Ungkap Callesa sambil memandangi tanah kosong yang sangat luas dan siap di bangun. Itu semua milik Sehun. Lagi-lagi Sehun memenangkan tendernya, tak bisa dipungkiri pria itu sangat berbakat dalam bidang ini—real estate.

“Jika kau tak berani keluar dari Zona nyaman, maka kau akan tetap berada di situ saat semua orang sudah selangkah, atau mungkin dua langkah di depanmu.” Ungkap Sehun, kali ini beralih menatap sahabat sekaligus sekretaris pribadinya itu.

“Tapi ini terlalu jauh. Dan mustahil tentu saja.”

“Maka kau akan berada seratus langkah di depan mereka . Kau akan berhasil dan menikmati semua keberhasilanmu itu.” Ungkap Sehun menggurui, Callesa masih terdiam mematung sembari menatap lembaran kertas di tanganya. Tak sadar jika pria jangkung di sampingnya telah bangkit dan meninggalkan gadis itu beberapa detik yang lalu.

“Apakah kau akan tetap di situ sampai malam ?”
Suara bariton Sehun yang berasal dari belakang membubarkan lamunan Callesa yang berfikir tentang semua resiko yang akan diterima sahabatnya itu. Gadis itu pun bangkit dan berlari mengekori Sehun, atasan sekaligus sahabatnya.

“Mau makan sebentar ?” Sehun menawarkan.

Tentu saja Callesa mau. Ia mengangguk antusias sebagai balasan.

untitled-1

“Kau bisa mengatur makan malam pribadi ?” Tanya Dae Young pada manajernya.

“Tentu saja, dengan duta besar ?”

“Bukan. Ini untuk keluargaku. Tolong kosongkan jadwal makan malam besok.”

“Baik presiden.” Ucap pria itu sambil membungkukan badan, setelahnya pergi meninggalkan Dae Young sendirian.

Dae Young tampak sibuk mengamati keramaian kota dari gedung lantai 13 tempat ia berada sekarang. Pria berusia kepala lima itu sering melakukan hal itu di waktu luang. Biasanya Dae Young akan merenungi tentang dirinya dan orang-orang di Negara ini. Tentang Negara dan nasib warga negara.

Dayoung sudah cukup tua untuk menjabat sebagai presiden Korea. Pria itu bahkan sesekali berfikir untuk mengundurkan diri dari posisinya sekarang. Itu bukan masalah besar jika hanya untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Sebelum terjun ke dunia politik Dae Young terlebih dahulu menekuni dunia Real estate dan bianis-bisnis kecilanya yang sekarang sudah berkembang menjadi sangat besar.

Tak berbeda dengan Sehun, Dae Young juga pebisnis muda yang sangat sukses dulu. Dae Young sering membawa anak sulungnya—Sehun, untuk melihat-lihat perkembangan pembangunan yang ia lakukan, menemui client, kunjungan kerja di luar negeri, workshop, dan lainya. Tak heran jika Sehun sudah mahir dalam bidang real estate di usianya sekarang. Karena bidang itu sudah mendarah daging dalam diri Sehun sejak kecil.

Dalam kesendirianya, Dae Young berfikir, untuk apa semua pundi-pundi kekayaan yang sudah menumpuk itu ? Tak ada yang bisa di lakukan dengan semua itu. Hanya dirinya dan keluarganya saja yang menikmatinya, sementara orang di luar sana tidak. Dae Young yang bahagia, mereka yang sensara. Untuk itu Dae Young terjun ke dunia politik. Ia ingin mengangkat kehidupan warga Korea yang umumnya masih di bawah standar.

Impian lain Dae Young adalah melihar Sehun dan Hayoung menikah selagi dirinya masih bisa melihat dunia. Dae Young bahkan berkeinginan memiliki cucu di usianya uang hampir mencapai 60 tahun itu. Oleh karena itu Dae Young berharap putra sulungnya, Sehun bisa mengabulkan keinginanya. Dan itu juga merupakan alasan kenapa Dae Young ingin sekali melihat Sehun segera menikah. Semoga putra sulungnya itu bisa mengerti.

untitled-1

Setelah menyelesaikan makan siangnya dengan Callesa, Sehun langsung kembali ke Mansionya. Hanya mengambil berkas-berkasnya yang ketinggalan dan sekedar mengecek apakah Khanza sudah keluar dari sana. Sehun memilih motor sport putihnya sebagai transportasi. Mungkin karena menggunakan motor lebih cepat. Semantara mobilnya sudah aman di tangan Callesa dan pengawalnya.

Sehun membuka pintu Mansionya, pria itu melangkah memasuki Mansion yang tergolong sangat besar ini. Sampai sekarang Sehun tak menemukan adanya tanda-tanda kehidupan. Artinya Khanza sudah pergi meninggalkan rumahnya. Sehun sangat lega dengan kenyataan itu, juga sedikit kecewa entah mengapa. Tapi masa bodoh juga, ada dan tidak adanya gadis itu juga sama saja. Malah Sehun akan cenderung terusik jika Khanza masih menumpang hidup di Mansionya.

Pria itu menelusuri setiap sudut ruangan, mencari dimana letak berkasnya yang ketinggalan. Tapi kaki jenjang Sehun tak senngaja menyandung benda lunak yang sangat besar. Sehun memundurkan tubuhnya dengan sangat terkejut. Pasalnya Khanza tertidur muringkuk di lantai sambil memeluk sapu. Astaga, sungguh gadis yang aneh. Batin Sehun tak habis fikir.

“Bangun.” Ucap Sehun dingin seperti biasanya. Namun Khanza tak kunjung juga membuka matanya. Sehun pun terduduk, menyamakan tingginya dengan Khanza.

“Bangun.” Pintanya lagi, kali ini lebih keras. Khanza lantas langsung bangkit tanpa menatap bahwa wajah Sehun berjarak lima jengkal di atasnya.

Semua pasti juga tahu apa yang terjadi selanjutnya, wajah mereka bertabrakan. Tak hanya itu, bahkan bibir merah gadis itu menempel sempurna di bibir Sehun. Mereka berdua tertegun dan terdiam. Mata Khanza membulat sempurna. Bodoh, semua salah Khanza.

Tangan kekar Sehun menyangga tengkuk Khanza, pria itu seakan tak bisa berhenti untuk bertaut dengan bibir gadis itu. Bahkan Sehun mulai lebih jauh lagi, ia melumat dan menggigit bibir Khanza ketika gadis itu menunjukkan pergerakan barang sedetik saja. Sehun ingin lepas, tapi apalah daya bibir gadis itu terlalu candu baginya. Seperti heroin, bibir Khanza seperti heroin versi Sehun sendiri.

“L-lepas” ucap Khanza terdengar mendesah, dengan terpaksa akhirnya Sehun melepasnya secara sepihak. Pria itu langsung berdiri dan menggaruk bagian belakang lehernya yang sama sekali tidak gatal. Sementara Khanza masih pada tempatnya, seakan tak berani menatap pria yang berdiri di depanya, Khanza hanya bisa menunduk pasrah.

“K-kau yang membersihkan semuanya ? ” tanya Sehun mengalihkan perhatian. Setelah puas memandangi keadaan Mansionya yang jauh lebih bersih dari sebelumnya, pria bertubuh atletis itu balik menatap Khanza. Sehun melihat pakaian yang 3 hari terakhir masih di pakai Khanza, pria itu menatap Khanza iba.

“Berdiri.” Titah Sehun, Khanza berdiri secara perlahan. Setelah itu kepalanya balik menunduk lagi.

“Ganti bajumu !” Perintah pria itu, Khanza mendongak menatap Sehun bingung.

“Aku t-tidak punya baju ” jawabnya memelas,

“Aku masih punya beberapa kemeja, ganti pakai itu dulu.” Ungkap Sehun sambil mengarahkan dagunya pada kemeja putihnya yang lain. Gadis itu terdiam, tak menuruti kata Sehun. Pria itu pun menjadi geram.

“Apa aku saja yang menggantikan ?” Tanya Sehun, sedetik kemudian gadis itu langsung menyahut kemeja di atas kursi dan berlari ke arah kamarnya untuk mengganti baju.

Dan tanpa sadar, bibir Sehun refleks membentuk senyuman simpul.

 untitled-1.

“K-kita mau kemana ?” Tanya Khanza saat melihat Sehun sedang memakai helmnya, gadis itu hanya memegangi helm yang sudah diberikan oleh Sehun, tak lekas memakainya. Sementara pria itu tak menjawab, melihat saja tidak. Dasar.

“Pakai helm mu !” Perintah Sehun, Khanza masih mematung. Tak tahan dengan Khanza yang terlalu membuang-buang waktunya, Sehun pun menyahut helm itu dari Khanza, memakaikannya dengan paksa di kepala gadis itu.

“Sudah naik,” Khanza menuruti, dan Sehun menghidupkan mesin motornya. Tapi Sehun tak langsung melajukan motornya, ia menarik paksa kedua tangan Khanza untuk dilingkarkan di pinggangnya. Khanza tersentak dan membulatkan matanya.

“Ini adalah cara agar kau bisa hidup lebih lama. Jangan berharap ” Ungkap Sehun sarkastik, selanjutnya ia melajukan motornya meninggalkan Mansion miliknya.

Khanza merasakan tubuhnya menghangat sekarang. Ia hanya bisa memandangi punggung tegap pria itu, memandangi punggungnya saja membuat tubuh Khanza seperti tersengat aliran listrik, apalagi kalau netranya tak sengaja bertubrukan dengan netra Sehun. Apalagi kalau bibir pria itu menempel di bibirnya, pikir Khanza mengingat kejadian tadi. Gadis itu pun tersadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Refleks, gadis itu hampir terjatuh dari motor. Selanjutnya tubuhnya menempel di punggung Sehun. Astaga Khanza, hal bodoh apalagi yang kau lakukan. Khanza mengutuk sendiri kebodohanya. Tapi sepertinya pria di depanya itu tak terusik dengan kepala Khanza yang menempel di punggungnya. Jadi biarkan saja, toh Khanza juga merasa lebih nyaman seperti ini.

Gadis itu memandang keadaan jalan yang mereka lalui. Jalannya seperti naik turun di bukit. Di pinggiran jalan juga banyak pohon-pohon besar yang semakin menguatkan opini gadis itu bahwa Mansion Sehun letaknya terpencil dan di atas bukit. Udara yang sejuk seperti ini sudah lama sekali tak dirasakan Khanza. Dulu waktu dirinya masih di Kanghae Hospital, hanya udara bau obat-obatan saja yang bisa ia rasakan. Untung saja Sehun mau menolongnya, mungkin saja Sehun adalah malaikat yang dikirimkan tuhan untuk menyelamatkanya.

Tanpa Khanza sadari, motor Sehun sudah meninggalkan kawasan hutan dan memasuki kawasan kota. Motor itu sudah berhenti senpurna di depan Department Store 15 menit setelahnya. Di depan sana Sehun sudah ditunggu oleh Callesa dan para pengawalnya.

“Kau terlambat 15 menit.” Ungkap Callesa. Gadis yang selalu membawa tab kemana-mana itu beralih menatap gadis di belakang Sehun, Khanza yang tampak kikuk dan tak tahu harus berbuat apa.

Hey, kau tak mengenalkanya padaku ? Siapa dia ?” Tanya Callesa pada Sehun, sementara Khanza hanya melempar senyum pada Callesa, senyum yang sangat canggung sekali.

“Nanti kuceritakan. Sekarang aku benar-benar butuh bantuanmu.” Ungkap Sehun, Callesa lantas menganggukan kepalanya.

“Of course” balasnya ramah.

“Carikan dia pakaian.” Ungkap Sehun sambil mengeluarkan kartu dari dompetnya.

“Ini, kau bisa pakai ini.” Pria itu menyerahkan kartunya pada Callesa.

“Kartu apa ini ?”

“Jika kau menunjukkan ini pada pegawaiku disana, maka otomatis seluruh Department Store sudah disegel dan kau bisa belanja sepuasmu.” Ungkap Sehun, setelah itu berlalu meninggalkan Khanza dan Callesa yang mematung dan tak percaya.

Damn, Sehun memang seenaknya.” Ungkap Callesa mengumpat. Ia beralih menatap Khanza yang terlihat kikuk sendiri. Callesa menatap penampilan Khanza dari bawah sampai atas.

Okay, kurasa aku akan mulai merubahmu.” Ungkap Callesa, setelah itu menarik tangan Khanza secara paksa memasuki Department Store.

Oh my god, Khanza terpaku di tempat setelah memasuki Department Store itu. Sangat megah dan high Class. Sudah lama sekali gadis itu tak berbelanja seperti ini. Makanya jangan heran kalau gadis itu terlihat kampungan saat pertama memasukinya. Tapi sungguh, ini benar benar megah. Dari tempatnya sekarang, Khanza dapat melihat eskalator yang mengelilingi dan di pusatnya terdapat air mancur yang sangat tinggi. Seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Gadis itu sampai refleks membuka mulutnya.

“Tak usah berlebihan begitu, siapa namamu ?” Tanya Callesa membubarkan lamunan Khanza.

Eh, Khanza” balasnya kikuk.

“Khanza ? Namamu unik sekali. Anyway, aku Callesa. Sekretaris pribadi Sehun.” Callesa menjulurkan tanganya ramah, Khanza langsung tersenyum dan menggapai tangan Callesa.

Setelah itu Khanza dan Callesa berlalu mengelilingi Department store itu di ikuti separuh pengawal Sehun berbaju hitam yang memgekor di belakang mereka. Separuhnya lagi mengikuti Sehun yang  pergi entah kemana.

untitled-1

“Bagaimana dengan penjualan busanamu yang baru saja Launching ?” Tanya pria itu begitu mendapati Suzy yang sedang sibuk mengatur kerja pegawainya.

“Sehun !” Suzy berlari kecil menghampiri pria itu.

Yah, kau tahu sendiri kan. Berkatmu busana hasil desain ku sedang naik daun sekarang” ungkap Suzy dengan senyuman lebar di bibirnya.

“Bagus kalau begitu. Kalau sampai menurun, aku akan menarik investasiku ke butik lain. ” Canda Sehun, Suzy pun langsung memukul pria yang berteman sudah lama denganya itu.

Setelah itu Suzy tampak asik bercerita, tapi pria di depanya malah tak menggubris sama sekali cerita Suzy. Sehun malah terfokus pada hal lain di tempat itu. Seorang gadis yang sedang melakukan pemotretan di sudut lain butik itu. Sehun tak salah lihat kali ini.

“Model busanamu Ahn Mi Rae ?” tanya Sehun sambil menatap Suzy intens.

“Ya, tentu saja. Memangnya kenapa ?” Tanya Suzy balik, setelah itu Mi Rae datang menghampiri mereka berdua.

“Kedatangan tamu rupanya.” Ungkap Mi Rae pada Suzy.

“Ya, Sehun. Teman SMA kita.”

“Aku baru saja menyelesaikan pemotretan.” Mi Rae merubah topik pembicaraan, setelah itu beralih menatap Sehun.

“Kita perlu bicara.” Ungkapnya, sambil berjalan meninggalkan Sehun dan Suzy. Pria itu mengangkat satu alisnya. Sementara Suzy menggendikan bahunya. Mau tak mau Sehun mengekor mengikuti Mi Rae.

Sehun berdiam diri di tempat duduknya sekarang, sementara gadis yang bernama Ahn Mi Rae itu masih terus menatap Sehun tajam.
“Kau ingin bicara apa ? Aku tak punya waktu banyak.” Ucap Sehun dingin, gadis di depanya mendelik tajam. Dan tertawa hambar setelah itu.

“Jadi begini ya sikapmu setelah ku tolak, kekanak-kanakan sekali.” Ungkap Mi Rae, Sehun muak.

Cih, kau fikir wanita di dunia ini hanya kau saja ? Aku tak habis fikir dengan jalan fikiranmu” balas Sehun sarkastis.

“Jadi kau benar-benar marah sekarang ? Oh Sehun ? Hm ? ” gadis itu memainkan dagu Sehun.

“Baiklah, sekarang aku tahu mengapa aku harus mengingkari janjiku pada ayahmu. Putri kecilnya ini tampaknya tidak butuh perlindungan dari siapapun.”

“Janji ap—-”

“Sehun !”

Mereka berdua berbalik tatkala ada suara gadis yang memanggil nama Sehun, itu Callesa. Dan wanita di belakang Callesa, entahlah Sehun tak bisa melihat siapa dia. Mungkin client.

“Kau kemana saja ? Aku sudah lama mencarimu. Lihat aku sudah mendadani Khanza seperti maumu.” Ungkap Callesa antusias, sementara wanita di belakang Callesa yang ternyata adalah Khanza itu masih tak bergeming dari tempatnya.

“Lihat cantik kan ?” Ungkap Callesa setelah ia menyingkir dari depan Khanza.

Sehun bungkam, pun juga dengan Mi Rae. Mereka berdua menatap Khanza dari bawah hingga atas. Siapa gadis itu ? Batin Mi Rae. Ada sesuatu yang menngganjal dari dalam dirinya begitu melihat wanita tinggi semapai yang dipanggil Khanza itu.

Let’s go, babe” Ungkap Sehun sambil mencium sekilas leher jenjang Khanza. Dan Callesa mengekor di belakang mereka. Meninggalkan Mi Rae yang mematung di tempatnya dengan sekujur tubuh yang sudah memanas.

“Babe ? Cih ! “

Mi Rae hanya bisa menatap kepergian Sehun bersama gadis yang tak ia kenali itu. Ada perasaan tersendiri saat melihat Sehun dengan gadis itu, seperti perasaan tak rela dan menyesal. Entah apapun itu, yang jelas Mi Rae akan merebut dan mengambil hati Sehun lagi. Harus.

to be continued.

Kemaren siapa yang minta scene Hunza dibanyakin ? nih udah aku banyakin XD Sorry ya kalau gaje, absurd, gue sendiri aja jijay parah nulis part itu XD Makasih ya yg kemaren udah ninggalin jejak, kubaca semua kok komentarnya. But silent reader, I still hate you ya !

Sampai jumpa tahun depan !

Buat yang belum kenal Khanza :

e7e1fc24ddf13630bac5246f218c1c5a74284f35416f4aad3f083e7fc84aaf9dad18115b7eb935e8da1a38dd19b0610b

ppai !

Advertisements

19 thoughts on “Dirty Breath (Chapter 3)”

  1. aaa sehun-khanza cipokan kenapa lucuuu😹
    aku sukaa part hunza dibanyakinn
    itu btw ngakak sih sehun tiba tiba bilang ‘babe’ ke khanzaa😹
    fighting terus author!

    Liked by 1 person

  2. Penyesalan selalu datang di akhir 😂😂 Mirae terima aja lah, nyesel kan nolak lamaran Sehun 😝 scene hun-za nya sukaaa haha

    Like

  3. Mi Rae labil nih :V maunya apa sih? Wkkwkw lagian sok-sokan nolaj Sehun yang udah tau sempurna gitu wkwkkw giliran udah Sehun udah saa Khanza kezel hadeuhhhh wkwkwk
    Okay, SEMANGAT TERUS YA KAK!^^

    Like

  4. yeei akhirnya update juga …
    hunza seneng ada scene romantisnya huh tapi ada yg cemburu mi rae salahny a sendiri ninggalin sehun sukirin.
    lanjut kak!!!!

    Like

  5. Hallo thor, aku baru baca. Jd lngsg ngebut dr chap1-3, maaf baru komen di chap ini hehe
    keren banget ceritanyaa, next thor..

    Like

  6. wahhh dibagian terakhir bayangin muka mirae nyesalkan … tapi takut juga sih kalau mirae lukain khanza untuk dapatin sehun.. makin penasaran

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s