When Petals Fall Off Orchid – Part 1

sestal-petal_edit

When Petals Fall Off Orchid by nchuhae

Main Cast: EXO’s Sehun, f(x)’s Krystal, APINK’s Hayoung | Length: Threeshots

Genre: Fantasy, AU, Romance | Rating: G

Summary:

Di penghujung kefanaannya, Oh Sehun menemukan keabadian

Disclaimer:

Cerita ini murni buatan sendiri. Dipublish pertama kali di FFIndo sebagai entry untuk Author Project dalam genre fantasy.

***

Sehun menggeser pintu kaca yang menghubungkan kamar tidurnya dengan balkon yang menghadap langsung ke taman. Sepoi angin musim gugur langsung menyapa kulit wajahnya, membuat pemuda itu refleks merapatkan syal rajut yang melilit lehernya. Dengan tangan kanan, ia menarik selimut berbahan flanel yang terlipat rapi di atas sebuah sofa panjang, menjatuhkan tubuh kurusnya di sana, kemudian menutup kakinya dengan kain tebal itu. Satu tangannya masih menggenggam ponsel yang sejak tadi belum berhenti menyala. Di seberang sana, ibunya terus berceloteh, menyampaikan sederet hal yang harus dan tidak boleh dilakukan Sehun selama setidaknya tiga bulan ke depan.

“Pokoknya, kalau sampai kau merasa tidak enak badan sedikit saja, langsung hubungi Dokter Lee. Ibu sudah memberitahukan alamat vila kita kepadanya, dan ia berjanji akan segera meluncur ke sana jika mendapat panggilan darimu. Ingat, jangan pernah jauh-jauh dari ponsel dan botol obatmu. Kita tidak pernah tahu kapan penyakitmu akan kambuh lagi.”

Sehun mendesah malas. Jika tidak salah hitung, ini sudah kali keenam belas ibunya mengulangi kalimat barusan. Sejak ia pertama kali mengutarakan keinginannya untuk tinggal sementara di tempat ini sembari menunggu pihak rumah sakit mendapatkan donor jantung yang cocok untuknya, wanita paruh baya itu terus-menerus menasihatinya dengan kalimat yang hampir selalu sama setiap waktu. Sehun jelas jenuh dengan bentuk perhatian berlebihan seperti itu. Akan tetapi, ia juga paham betul bahwa ibunya berlaku demikian karena rasa sayang yang teramat besar terhadap dirinya. Maka seperti biasa, pada akhirnya ia tetap menyahuti perkataan ibunya dengan patuh. “Aku mengerti, Eomma.”

Sehun melayangkan pandangan tanpa minat ke arah hutan yang berada tidak jauh dari vila. Semilir angin meniup-niup pepohonan tinggi itu hingga pucuknya bergerak dalam irama teratur yang seolah meninabobokan siapapun yang melihat. Sehun mengangkat kaki dan meluruskannya hingga menutupi seluruh sofa, lalu membetulkan posisi selimut flanelnya agar ia tetap merasa hangat. Di ujung saluran telepon, ibunya masih terus berbicara panjang lebar mengenai jadwal minum obat serta makanan apa saja yang tidak boleh ia konsumsi.

Ibu Sehun memang sangat protektif. Kesehatan putranya yang tidak begitu baik membuatnya kadang bisa jadi sangat cerewet hingga tak jarang Sehun merasa risih. Perhatian itu bertambah berkali lipat sejak setahun lalu, ketika Sehun tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri dan harus dirawat intensif di rumah sakit selama hampir dua bulan.

Darling,” ujar Ibu Sehun setelah ia selesai dengan petuah panjangnya, “setelah Ibu pikir-pikir lagi, mungkin ada baiknya Ibu menyusulmu ke sana. Bagaimanapun juga—”

Eomma, jangan mulai lagi,” potong Sehun sebelum ibunya sempat menyelesaikan perkataannya. “Kita sudah membahas masalah ini berulang kali, ingat?”

“Tapi—”

“Di rumah sakit ada lebih banyak pasien yang membutuhkanmu, Eomma. Keberadaanmu di sana jelas lebih dibutuhkan,” ujar Sehun mengingatkan. “Lagi pula, udara di sini sangat segar dan suasananya juga tenang. Aku pasti akan baik-baik saja, jadi tidak usah terlalu mengkhawatirkan aku, oke?”

Sehun bisa mendengar ibunya mendesah panjang di seberang sana, tapi pada akhirnya wanita itu mengalah juga. “Baiklah kalau begitu, Kepala Batu. Terserah apa katamu saja. Tapi ingat, akhir minggu depan Ibu sudah mengosongkan jadwal, jadi jangan kaget kalau sampai kau bangun tidur dan Ibu sudah ada di sana bersamamu.”

Sehun tertawa ringan. Untuk urusan yang satu ini, dia jelas tidak bisa menolak. Ini sudah menjadi bagian dari kesepakatan mereka tempo hari. “Jangan lupa bawakan susu stroberi kalau Ibu datang nanti,” ujarnya seraya menyudahi sambungan telepon.

Sehun lalu merogoh saku jaket, meraih earphone dari sana. Setelah menyambungkan kabel putih itu ke lubang di bagian atas ponselnya dan memasang ujung yang satunya lagi di kedua telinga, pemuda dua puluh tiga tahun itu membuka aplikasi pemutar musik dan membiarkan musik klasik gubahan Mozart memenuhi indra pendengarannya. Ia bersandar di sofa untuk mengendurkan otot punggungnya yang kaku akibat menempuh perjalanan selama hampir tiga jam dari pusat Kota Seoul ke vilanya yang terletak jauh di pinggiran Busan.

Pandangan pria itu kembali terarah pada hutan di belakang vila. Angin masih mengayun ujung pohon-pohon tinggi itu seperti sebelumnya. Yang berbeda kali ini adalah keberadaan sekawanan burung yang beterbangan mengitari pusat hutan. Selama beberapa belas menit, Sehun memperhatikan hal itu dari tempatnya duduk, membiarkannya menjadi pemandangan yang mengantar pria itu menuju alam mimpi.

***

Sehun bosan. Sejak tiba di vila ini, ia praktis tidak melakukan sesuatu yang berarti. Segala keperluan sudah dipersiapkan oleh pelayan. Setiap kali Sehun menawarkan diri untuk membantu, mereka pasti menolak. Hal tersebut disebabkan oleh ibunya yang sudah sejak jauh hari mewanti-wanti semua penghuni tempat ini untuk tidak membiarkan Sehun melakukan apapun yang bisa membuatnya terlalu lelah. Satu-satunya hiburan yang diperoleh Sehun adalah saat ia diizinkan berjalan-jalan di sekitar vila pada pagi dan sore hari, itu pun dengan keberadaan perawat yang senantiasa berada beberapa langkah di belakangnya.

Sekali waktu ia berhasil membujuk tukang kebun untuk mengizinkannya membantu merapikan rumput di taman belakang, tapi Tuan Choi, kepala pelayan yang sudah mengabdi kepada keluarga Oh selama dua generasi, memergokinya bahkan saat pemuda itu belum sempat melakukan apa-apa. Hasilnya, Sehun harus menghabiskan waktu dua jam untuk membujuk ibunya yang bersikeras ingin membawa dirinya pulang ke Seoul hari itu juga. Padahal tujuan utama Sehun ke vila ini adalah untuk menjauhkan diri dari sifat protektif ibunya, tapi sepertinya pria itu salah perhitungan. Keadaan di sini tidak jauh beda dengan di rumah.

Sehun hanya butuh waktu empat hari sampai rasa jenuhnya mencapai puncak. Nekad, ia memutuskan untuk berjalan-jalan sedikit lebih jauh pagi itu.

Menurut pengamatan Sehun, aktivitas di tempat ini dimulai setidaknya pukul enam pagi, jadi demi menjalankan rencana besarnya, pagi itu Sehun sengaja bangun lebih awal. Setelah memasukkan obat, sebotol air mineral, dan beberapa bungkus makanan ke dalam tas punggung kecil berwarna hitam, pria itu menyelinap keluar dari pintu di dekat dapur, kemudian berjalan mengendap-endap menuju hutan di belakang vilanya.

***

Matahari sudah bergerak meninggi ketika Sehun sampai di tepi sebuah danau. Beberapa tahun lalu, saat tubuhnya belum selemah sekarang, ia dan adiknya sering bermain bersama di tempat ini. Adiknya sangat suka memetik bunga liar yang tumbuh di tepi danau kemudian merangkainya menjadi mahkota. Setelah itu, mereka berdua akan berpura-pura menjadi raja dan ratu, sementara seluruh isi hutan ini menjadi rakyatnya.

Sehun bersandar pada batang pohon ek tua untuk menikmati sarapan sekaligus mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Seusai makan, ia iseng melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sedikit terkejut ketika mendapati waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi.

Dulu, perjalanan menuju danau ini tidak terlalu menguras banyak tenaga. Dengan kakinya yang masih pendek dan jangkauan langkahnya yang tidak seberapa lebar, ia bisa sampai ke sini tanpa rasa lelah yang berarti. Sekarang, di saat ia sudah tumbuh dewasa, semua justru terbalik.  Pandangannya sudah mulai berkunang-kunang tak lama setelah ia memasuki hutan. Belum lagi tarikan napasnya yang mulai memendek dan tak beraturan, membuat pria itu harus berhenti berkali-kali sampai akhirnya ia bisa sampai di danau ini.

Sehun menatap pemandangan di depannya sekali lagi, menikmati setiap detil yang bisa tertangkap indra penglihatannya. Ada beragam jenis pohon dan tumbuhan liar yang mengelilingi danau tersebut. Beberapa ekor belalang tampak melompat dari satu pucuk tumbuhan ke pucuk lain dengan lincah, membuat Sehun sempat berpikir betapa dia akan sangat bahagia jika bisa merasakan kebebasan seperti itu. Di bagian tengah, ada sekumpulan teratai putih juga tumbuh menutupi sebagian permukaan danau hingga airnya yang selalu jernih tidak lagi memantulkan bayangan langit biru secara sempurna. Di salah satu sisi, terdapat dermaga kayu dan perahu kecil yang tampak sudah mulai lapuk, termakan usia.

Sehun ingat, saat masih kecil, salah satu harapan terbesarnya adalah naik ke perahu itu, mendayung sampai ke tengah danau, kemudian meloncat dan berenang di sana hingga tubuhnya menggigil. Sebuah harapan yang tidak pernah terwujud, tentu saja, karena setiap kali hendak melakukan hal yang sedikit berbahaya, ia akan langsung terbayang raut penuh kekhawatiran di wajah ibunya. Hanya dengan bayangan itu saja, keinginan Sehun untuk bersenang-senang akan langsung tergerus habis.

Seulas senyum pasrah terbit di wajah Sehun. Mungkin keinginan itu selamanya akan menjadi impian yang tidak bisa terwujud. Pria itu cukup tahu diri bahwa dengan keadaan fisiknya yang lemah, dia tidak seharusnya berharap banyak. Bisa berada di tengah hutan tanpa diawasi perawat saja sudah menjadi sebuah kemewahan baginya.

Pria itu bersedekap. Sembari memejamkan mata, ia menghirup dalam-dalam segar aroma dedaunan dan tanah, serta menikmati suara serangga yang menggema ke seluruh penjuru hutan. Rasanya begitu damai, dan untuk sesaat, Sehun berharap ia bisa selamanya berada di tempat ini.

Sehun membuka mata tidak lama kemudian karena merasakan sesuatu menyentuh wajahnya. Ketika kelopak matanya sudah benar-benar terbuka, ia mendapati seekor kupu-kupu bertengger di pucuk hidungnya. Pelan, Sehun menggerakkan tangan di depan wajah, dan kupu-kupu tersebut pun mulai mengepakkan sayap putihnya hingga ia melayang di udara.

Pria itu tersenyum. Ia mengulurkan tangan sedikit lebih ke depan untuk menjangkau makhluk kecil di depannya, tapi seolah ingin mempermainkan Sehun, kupu-kupu itu malah terbang menjauh. Senyuman Sehun berubah menjadi tawa ringan karena ulah makhluk bersayap putih itu. Memutuskan bermain-main sebentar, ia berdiri dan mulai mengejar kupu-kupu itu.

Sehun berlari pelan menyusuri pepohonan yang menjulang tinggi di kiri dan kanannya, melewati sungai kecil yang permukaannya tertutup dedaunan kering, menembus semak belukar, bertemu dengan sekawanan berang-berang yang tengah sibuk membuat sarang, tapi tidak juga berhasil menangkap kupu-kupu itu. Kalau bukan karena kepalanya yang pusing dan napasnya yang kembali tersengal-sengal, Sehun pasti tidak akan menghentikan langkah.

Seolah tahu bahwa Sehun berhenti mengerjarnya, kupu-kupu bersayap putih itu pun berhenti terbang menjauh. Ia hinggap di pucuk sebuah tanaman merambat dan baru terbang lagi ketika menyadari bahwa Sehun tengah mengendap-endap mendekatinya.

Sehun tergelak. “Kau sungguh ingin bermain-main denganku, huh?”

Pria itu kembali berlari. Senyum gembira terlukis di wajahnya seiring tapakan langkah yang ia ambil untuk mengejar teman barunya itu.

Ketika akhirnya ia berhasil menangkap makhluk tersebut, Sehun menyadari bahwa ia sudah berlari terlalu jauh ke dalam hutan. Pemandangan di sekitarnya benar-benar asing. Semua pohon tampak sama. Jangankan menemukan jalan pulang, pria itu bahkan tidak bisa lagi membedakan mana barat, mana timur.

Ia membuka kepalan tangannya, membebaskan kupu-kupu yang menjadi penyebab ia tersesat. Makhluk itu terbang di depan wajah Sehun yang berkeringat. Sambil memasang muka sebal yang dibuat-buat, pria itu berujar, “Kau senang melihatku jadi anak hilang, ‘kan?”

Sehun mengambil ponsel dari dalam tas  punggungnya, membuka aplikasi penunjuk arah, berharap benda itu bisa menunjukkan jalan keluar kepadanya. Ketika dua menit berlalu dan lokasinya belum juga bisa diperbaharui, ia baru sadar bahwa teknologi canggih itu tidak berguna tanpa dukungan sinyal yang stabil.

“Setidaknya hari masih terang,” ujarnya menghibur diri.

Sehun melanjutkan perjalanan sambil berusaha mengingat-ingat jalan yang tadi ia lalui. Pria itu bersiul riang meski sadar ia terancam tidak bisa pulang sebelum matahari tenggelam. Sehun merasa perjalanannya kali ini sungguh menyenangkan, apalagi kupu-kupu yang tadi ia kejar masih setia menemaninya.

Pria itu baru menghentikan langkah sekitar sejam kemudian untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai mengeluarkan keringat dingin, dan selayaknya seorang teman yang baik, kupu-kupu di samping Sehun juga berhenti mengepakkan sayap. Ia hinggap di atas daun kering, tidak jauh dari tempat Sehun beristirahat.

“Sepertinya kita benar-benar telah menjadi teman, huh?” ujar Sehun.

Belum juga Sehun meneguk air mineral untuk membasahi kerongkongannya yang kering akibat terlalu lama berjalan, tetes-tetes air dari langit sudah terlebih dulu jatuh membasahi bumi. Pria itu kontan bangkit dan berlari mencari tempat berteduh. Teman kecilnya juga ikut terbang, tapi Sehun sudah tidak lagi memperhatikan ke mana makhluk bersayap itu pergi. Beruntung baginya, ia menemukan sebuah gua sebelum hujan membuat tubuhnya basah kuyup. Tanpa pikir panjang, Sehun memasuki gua tersebut.

Tempat itu tidak luas, namun yang menarik perhatian Sehun adalah keberadaan patung setinggi lutut berbentuk wanita yang mengenakan jubah panjang. Di depannya, ada tiga buah pinggan perunggu yang sudah tertutup debu tebal. Di sudut-sudut gua itu terdapat banyak sarang laba-laba yang menunjukkan bahwa tempat ini sudah sangat lama tidak didatangi orang. Tidak butuh waktu lama bagi Sehun untuk menyimpulkan bahwa tempat ini dulu merupakan kuil pemujaan salah satu dewi.

Sehun melepaskan syal merah yang melilit lehernya, kemudian menggunakan benda itu untuk membersihkan sarang laba-laba dan debu yang menumpuk di permukaan patung dan pinggan perunggu yang ia yakini sebagai tempat meletakkan persembahan. Sesekali ia terbatuk karena debu, bahkan matanya juga sempat berkunang-kunang akibat terlalu banyak bergerak, tapi pada akhirnya senyum puas menghias wajah pria itu kala pekerjaannya selesai.

Sehun lantas merogoh tasnya, dengan asal mengambil sebatang cokelat dan meletakkannya di atas salah satu pinggan di depan patung itu. Keyakinannya memang tidak mengajarkan untuk memuja dewi mana pun, tapi Sehun merasa perlu melakukan sesuatu untuk menunjukkan rasa hormat terhadap tempat ini. Bagaimanapun juga, pikirnya, tempat tersebut sudah melindunginya dari guyuran air hujan yang jatuh nyaris tanpa peringatan. Terakhir, pria itu tidak lupa melipat tangan di depan dada. Dengan mata terpejam, ia berdoa agar hujan segera berhenti dan ia bisa menemukan jalan pulang.

“Sudah lama sekali aku tidak melihat seseorang berdoa di sini.”

Suara lembut itu kontan membuat Sehun menoleh. Tanpa sadar, alisnya bertaut ketika melihat sesosok gadis sedang berdiri di mulut gua, menatap penasaran ke arahnya. Gadis itu ayu, dengan kulit pucat dan bibir yang berona merah, serta rambut keemasan yang terurai hingga pinggang. Matanya biru pucat, dibingkai bulu mata lentik yang berwarna senada dengan rambutnya. Tubuh mungil gadis itu dibalut pakaian putih panjang yang membuat penggunanya tampak begitu anggun. Sehun bahkan merasa perlu memicingkan mata untuk meyakinkan diri bahwa pakaian itu benar-benar berbahan dasar kelopak bunga yang terjalin sedemikian rupa hingga membentuk gaun yang memukau.

“Siapa kau?” tanya Sehun.

Sosok feminin itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulas senyum tipis lantas berjalan menuju patung di sisi lain gua. Saat melintas di depan Sehun, pria itu baru menyadari bahwa kaki lawan bicaranya tidak menapak permukaan tanah. Ia memang mengayun tungkai selayaknya orang berjalan, tapi telapak kakinya yang telanjang melayang beberapa senti di udara. Sehun menelan ludah, dalam hati menolak percaya pada penglihatannya sendiri. Takut-takut, ia bertanya, “Kau … hantu?”

Yang ditanya hanya tertawa ringan, dan Sehun bersumpah tawa itu terdengar terlalu merdu untuk dicap sebagai tawa seorang hantu. “Aku penjaga hutan ini,” beritahunya. Ia lalu mengulurkan tangan ke arah pinggan perunggu di depan patung hingga cokelat yang sebelumnya diletakkan Sehun sebagai persembahan melayang menuju telapak tangannya. Alisnya sedikit bertaut memperhatikan makanan itu. “Aku tidak pernah melihat benda seperti ini,” ujarnya.

Sedikit ragu, Sehun meraih cokelat dalam genggaman sang gadis, membuka bungkusnya, dan menyuapkan makanan itu seperti ia menyuapi keponakannya yang masih kecil.

“Makanan ini namanya cokelat,” beritahu Sehun. “Ibuku membelinya saat berlibur ke Belgia.”

“Belgia?”

Sehun mengangguk. “Sebuah tanah yang berada jauh dari sini.” Pria itu menjelaskan sembari memperhatikan sosok di depannya mencicipi cokelat yang ia berikan. “Kau suka?” tanyanya kemudian.

Gadis di depan Sehun mengangguk dengan mata membulat penuh kegembiraan. Ia mengambil cokelat itu dari tangan Sehun dan menghabiskan sisanya dengan cepat.

Sehun tertawa melihat kepolosan makhluk di depannya. Rasa takut yang sempat melintasi benaknya menguap begitu saja. Siapa pun dia, di mata Sehun makhluk cantik itu terlihat sangat lucu saat ia menatap cokelat pemberiannya dengan wajah bingung, terlebih lagi ketika ia menyantap makanan tersebut dengan penuh semangat seolah itu adalah makanan terenak yang pernah ia cicipi.

“Kalau saja aku tahu kita akan bertemu,” kata Sehun, “aku pasti membawa lebih banyak cokelat dari rumah.”

Sang gadis menggeleng penuh pemahaman. “Sudah lama sekali sejak aku melihat seseorang membersihkan dan berdoa di tempat ini. Kau bahkan memberikan makanan persembahan untukku. Yang kau lakukan sudah lebih dari cukup, Anak Adam.”

“Sehun,” beritahunya. “Itu namaku.”

“Sehun,” ulang sang gadis dengan suara pelan, nyaris seperti orang berbisik. “Kau ingin pulang ke tempat asalmu, bukan?”

Pria itu mengangguk, namun dahinya berkerut tak yakin. “Kau sungguh bisa mengabulkan doaku?”

Sosok cantik itu menjawab dengan tersenyum tipis kemudian berjalan menuju mulut gua. Ia menengadahkan tangan dan menangkup beberapa tetes air hujan sebelum membiarkannya jatuh mengikuti aturan gravitasi. Ketika air yang jatuh dari telapak tangannya mencapai tanah, seketika itu juga hujan berhenti. Matahari perlahan muncul dari balik awan mendung. Sinarnya yang cerah menimpa gadis itu hingga kulitnya yang tadi terlihat pucat kini tampak berkilau seperti kristal. Sehun takjub, namun tidak ada kata yang bisa ia utarakan untuk mengungkapkan perasaan itu.

Seakan belum cukup ia memberi pertunjukan penuh daya magis di depan Sehun, gadis itu lalu mengayunkan tangan di udara kosong, seperti hendak menangkap sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Ketika ia membuka kepalan tangannya, seberkas cahaya terang muncul dari sana. Cahaya itu berangsur meredup, dan tampaklah seekor kupu-kupu putih seperti yang Sehun lihat sebelum hujan turun.

“Hai, Teman Kecil,” sapa sang gadis kepada makhluk kecil yang baru saja ia ciptakan. Kupu-kupu itu beterbangan dengan lincah di udara, mengingatkan Sehun pada Vivi, anjing ras Bichon Frise peliharaannya. Setiap kali makhluk berbulu putih itu menunggu perintah dari tuannya, Vivi akan meloncat ke sana-kemari dan mengibaskan ekornya dengan antusias, persis seperti yang dilakukan makhluk bersayap di hadapannya. “Tuntun tamu kita keluar dari tempat ini,” perintah gadis itu, dan kupu-kupu tersebut pun perlahan terbang menjauhi gua.

“Apa kita bisa bertemu lagi?” tanya Sehun.

Gadis itu tersenyum lembut. “Kita akan selalu bertemu selama kau menginginkannya.”

Sehun menelengkan kepala sedikit ke kanan, tidak begitu paham maksud lawan bicaranya. Namun, alih-alih menyuarakan kebingungannya, ia memilih tersenyum dan mengangguk, dalam hati merasa sangat yakin bahwa ini tidak akan menjadi pertemuan terakhir mereka.

Sehun baru melangkah beberapa meter dari bibir gua ketika ia berbalik untuk menatap gadis itu lagi.  “Aku belum tahu namamu,” katanya.

“Aku tidak punya nama,” beritahu sang gadis. “Dulu orang-orang memanggilku Peri Hutan, beberpa memujaku sebagai Dewi Keselamatan, tapi kurasa itu bukan nama yang kaumaksud, ‘kan?”

“Memang bukan,” sahut Sehun. Ia memperhatikan gadis itu dari atas hingga ke bawah, dan senyumnya terbit ketika sebuah ide melintas di benaknya. “Kalau aku memberimu nama,” kata pria itu lagi, “apa kau bersedia memakainya?”

Sang gadis hanya diam, terlihat bimbang memutuskan.

“Krystal,” cetus Sehun. “Kau cantik dan berkilau seperti kristal, jadi bolehkah aku memanggilmu demikian?”

Kali ini, sang gadis mengangguk.

Senyum puas mengembang di wajah Sehun. “Kalau begitu, sampai bertemu lagi, Krystal,” pamitnya sebelum berbalik arah, berjalan mengikuti kupu-kupu putih yang akan menuntunnya keluar dari hutan.

-TBC-

 

Advertisements

4 thoughts on “When Petals Fall Off Orchid – Part 1”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s