Since The Very First Time – Part 3 [END]

o-school-libraries-facebook

Since The Very First Time by nchuhae

Main Cast: Oh Sehun, Jung Soojung | Length: Threeshots

Genre: Romance, highschool!AU, slight!horror | Rating: PG-13

Summary:

Sehun jatuh hati pada seorang gadis yang ditemuinya di perpustakaan. Selama berminggu-minggu, yang ia lakukan hanyalah mencari tahu siapa sebenarnya gadis itu, serta apakah mereka punya kesempatan untuk berkenalan dan menjadi lebih dari sekadar teman.

Disclaimer:

Cerita ini murni buatanku sendiri. Dipublish juga di blog pribadi dan EXO Fanfiction Indonesia dengan judul dan cast yang sama.

***

Sebelumnya:

Part 1, Part 2

“Namanya Jung Soojung,” beritahu Sehun. Di wajah pria itu, terbit raut bangga yang tidak bisa disembunyikan ketika menyebut nama gadisnya.

Jongin refleks mematikan televisi yang sedang menayangkan drama favoritnya, Naeun mendongak dari buku latihan matematikanya, sedangkan Kyungsoo dan Bomi mengalihkan pandangan dari tablet yang menampilkan brosur elektronik tempat-tempat wisata yang rencananya akan dikunjungi Kyungsoo selepas hari kelulusan nanti. Mereka semua serentak menatap Sehun yang baru saja memasuki apartemen Kyungsoo.

Tubuh Sehun masih dibalut kemeja kotak-kotak biru serta celana jeans hitam pudar yang tadi dikenakannya saat ke perpustakaan sekolah, sehingga semua orang langsung menyimpulkan bahwa pria itu baru saja kembali dan langsung menuju tempat ini alih-alih pulang langsung ke rumahnya. Sehun, sambil tersenyum lebar laksana orang bodoh, duduk di atas sofa panjang yang menghadap ke televisi dan menatap teman-temannya yang duduk mengelilingi meja panjang yang mengantarai sofa dengan layar 34 inch di sisi ruangan tak seberapa luas tersebut. Dia memeluk bantalan kursi, menikmati bagaimana keempat temannya kini menghadiahinya dengan tatapan ingin tahu.

Sudah menjadi sebuah rutinitas bagi mereka untuk berkumpul di tempat Kyungsoo setiap akhir minggu. Kadang mereka memesan pizza dan menonton film sampai tengah malam, kadang mereka bermain monopoli—dan selalu berhenti karena Jongin kerap curang setiap kali uangnya tinggal sedikit, beberapa kali mereka bahkan membeli soju dan bernyanyi tidak jelas sampai akhirnya tertidur karena kelelahan. Malam itu, akibat kelelahan selepas mengunjungi taman hiburan, keempatnya memilih untuk tidak melakukan hal yang terlalu mengonsumsi energi.

“Dia benar-benar cantik?” Jongin bertanya antusias, yang langsung mendapat pelototan sarat cemburu dari Naeun.

“Tentu saja.”

“Dia mirip siapa?” tuntut Jongin lagi.

Sehun tampak berpikir sebentar. Dia menggaruk dagu, menimbang sosok terkenal mana yang bisa ia sandingkan dengan gadisnya. “Um… Krystal f(x)?”

Daebak!” seru Jongin sembari menepukkan kedua tangannya. Sudah bukan rahasia lagi kalau pria itu sangat menggemari gadis berambut panjang yang secara resmi memulai debutnya tahun 2009 itu.

“Kalian mengobrol?” tanya Bomi.

Sehun menggeleng.

“Setidaknya kalian pasti berkenalan,” imbuh Naeun.

“Iya, dia kelas berapa? Kami juga ingin melihat gadis itu,” tambah Kyungsoo.

Sehun menggeleng lagi. “Aku hanya menatapnya membaca buku sampai perpustakaan tutup,” beritahunya. Senyum serupa orang bodoh yang tadi melekat di wajah Sehun belum juga mau hilang. Ketika ia membayangkan gadis itu berada di dekatnya selama berjam-jam, senyum di wajah Sehun bertransformasi menjadi tawa ringan yang membuat keempat sahabatnya berdecak pelan.

“Kau pasti bercanda,” seru Jongin.

“Kau benar-benar jadi bodoh karena gadis itu, huh?” seloroh Bomi, yang berhasil membuat Kyungsoo tersenyum membenarkan perkataan kekasihnya.

“Sebenarnya aku berniat mengajaknya berkenalan saat dia sudah selesai membaca,” aku Sehun. “Rencananya, setelah berkenalan aku akan menawarkan diri mengantarnya pulang atau sekadar minum kopi bersama. Selama lebih dari dua jam, aku hanya duduk sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya. Tapi tiba-tiba saja, dia sudah menghilang.”

“Jangan-jangan dia benar-benar hantu penunggu perpustakaan itu.” Jongin, dengan gaya dramatisnya yang seperti biasa, kembali mencetuskan ide yang berhasil membuat seluruh isi ruangan menatapnya dengan malas.

Wae?” protes Jongin, tidak terima dengan cara teman-temannya menatap dirinya. “Ide itu ada benarnya, kan? Coba kalian pikir lagi, kalau di sekolah kita memang ada gadis yang mirip uri Krystal, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya? Lagi pula, dia selalu menghilang setiap kali Sehun mengalihkan pandangan darinya. Itu jelas seperti hantu!”

Tidak ada yang termakan oleh ucapan Jongin. Bahkan Naeun yang biasanya memilih tidak menggubris setiap kali pacarnya yang gemar bertindak berlebihan itu mulai mengutarakan skenario bodoh yang melintas di kepalanya, memilih ikut bergabung dengan Bomi untuk menghadiahi Jongin dengan sebuah pukulan pelan di kepala.

Ya, kenapa kalian malah memukulku?” ujar Jongin sembari mengelus kepalanya yang baru saja kena jitak.

“Setidaknya kita tahu namanya, jadi tinggal bertanya saja ke ruang guru untuk mengetahui dia duduk di kelas berapa,” ujar Naeun, mengabaikan kekasihnya yang sedang bersungut-sungut sebal di sampingnya.

“Iya, hari Senin nanti kita langsung ke ruang guru. Aku sudah penasaran ingin bertemu gadis itu,” tambah Bomi penuh semangat. Di kepalanya, dia sudah memikirkan ledekan macam apa yang akan ia lontarkan di depan Sehun dan gadis itu agar sahabatnya salah tingkah.

Sisa malam itu mereka habiskan untuk menyusun rencana demi mendekatkan Sehun dengan gadis bernama Jung Soojung.

***

“Anda yakin tidak melewatkan sesuatu, Seonsaengnim? Maksudku, aku yakin sekali nama itulah yang tertera di papan nama gadis itu,” kata Sehun kepada salah seorang guru yang berhasil dibujuknya untuk mencari tahu di kelas berapa Jung Soojung ditempatkan.

Park Jungsoo, yang kebetulan merupakan kepala guru di sekolah itu, menggeleng. Ia meletakkan map tebal berisi data semua siswa di sekolah ini ke atas mejanya. Isi map berwarna biru metalik itu baru saja ia telusuri lembar per lembar demi memenuhi keinginan Sehun, tapi hasil pencariannya nihil. “Kau lihat sendiri, kan, kita sudah mengecek data semua siswa di sekolah ini secara manual. Tadi juga aku sudah mencarinya langsung dari database. Tidak ada siswa dengan nama itu di sekolah kita. Sepertinya kau salah mengingat namanya.”

Tidak mungkin. Sehun yakin betul bahwa Jung Soojung adalah yang tertera di papan nama gadis itu. Sehun tidak mungkin salah lihat. Dia sudah memastikannya berkali-kali waktu itu.

“Mungkin dia siswa pindahan?” usul Sehun, masih belum ingin menyerah.

“Justru aku akan semakin mungkin mengingat namanya jika dia baru saja dipindahkan,” sanggah Jungsoo lagi.

Bahu Sehun melorot. Sama seperti ketika ia mendapati bahwa Oh Hayoung bukanlah gadis yang dia lihat di perpustakaan, kali ini pun semangatnya yang sudah sempat melayang tinggi harus terjun bebas menghempas tanah.

“Tapi dia mengenakan seragam sekolah ini.” Sehun berujar pendek. Kepalanya tertunduk lemas sebelum akhirnya tepukan pelan Jungsoo mendarat di bahu pria itu.

Sehun mendongak dan mendapati gurunya itu melayangkan senyum menenangkan ke arahnya, seolah hendak menghibur. Sebagai seorang guru, Jungsoo masih relatif muda. Ia pernah merasakan gejolak jiwa remaja seperti yang dialami Sehun saat ini. Ia juga masih ingat betul betapa di tahun terakhir seseorang sebagai siswa sekolah menengah, setiap momen kecil bisa jadi sangat berarti. Karena itulah, ia tahu bagaimana kecewanya pria itu karena tidak berhasil memperoleh informasi yang ia inginkan.

Sehun membalas senyum Jungsoo sebagai tanda hormat. Dia jelas kecewa, tapi setidaknya gurunya itu sudah melakukan lebih dari yang seharusnya ia lakukan. Setelah berpamitan, dia melangkah ke luar ruang guru. Keempat temannya sudah menunggu dengan penasaran di depan pintu.

“Jadi, gadis bernama Soojung ini duduk di kelas berapa?” Jongin, mewakili ketiga temannya yang lain, bertanya antusias.

Sehun hanya menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan itu, lalu tanpa berkata apa-apa langsung melangkah lesu menuju ruang kelasnya, meninggalkan teman-temannya yang hanya bisa memandang punggung pria itu dengan raut prihatin.

Oh Sehun baru pertama kali jatuh cinta. Cintanya jatuh dalam waktu yang begitu singkat, tapi menemukan gadis yang bertanggung jawab untuk semua itu ternyata memakan waktu yang tidak sebentar. Pria itu bertanya-tanya apakah semua memang harus sesulit ini. Dia mengembuskan napas panjang untuk memperbaiki suasana hatinya yang mendadak suram. Upaya pencariannya harus dimulai dari nol lagi. Dia harus kembali menunggu dengan sabar di perpustakaan, tanpa tahu kapan gadis itu akan menampakkan diri lagi.

***

Sehun selalu percaya bahwa di balik setiap hal tidak menyenangkan, akan ada hal baik yang mengikutinya. Hari itu, kepercayaan Sehun terbukti. Setelah dihukum karena lupa membawa tugas sains yang seharusnya dikumpulkan hari itu—Sehun terlalu bersemangat memikirkan percakapan yang akan ia lakukan dengan gadis itu saat mereka bertemu hingga tidak lagi memperhatikan tugas sekolahnya, setelah mencari ke ruang guru dan gadis itu ternyata belum bisa ia temukan, setelah seragamnya ditumpahi sup saat makan siang di kantin karena dia terus mengkhayal, setelah ia terpaksa menghabiskan semua uang di dalam dompetnya untuk membeli seragam baru, akhirnya ia bertemu dengan gadis itu.

Sehun, yang sepanjang siang hanya melamun, akhirnya memilih melewatkan makan siang. Sebagai ganti, dia menghabiskan waktu istirahatnya dengan menyendiri di perpustakaan. Senyum akrab petugas perpustakaan menyambut pria itu tepat ketika dia baru saja melangkahkan kaki melewati pintu. Sehun menganggapinya dengan sebuah senyum sopan yang terlihat dipaksakan. Tanpa berkata apa-apa, pria itu langsung mengayun tungkai menuju sebuah lokasi yang selama dua minggu belakangan akrab dengannya.

Gadis itu ada di sana. Duduk di tempatnya yang biasa, pucat seperti biasa, dan di wajahnya terdapat ekspresi larut yang sama seperti yang dilihat Sehun di setiap pertemuan mereka. Di tangan gadis itu ada sebuah novel tebal dengan gambar wanita berpakaian khas Inggris zaman dulu. Sehun memperhatikan, lagi-lagi ada nama Jane Austen di sampul buku itu.

Ada senyum yang mereka di bibir Sehun begitu menyadari fakta yang kini tersaji di hadapannya. Sebuah keberuntungan bahwa sepanjang minggu kemarin dia menghabiskan waktu untuk mencari tahu tentang penulis novel best seller itu. Dia tahu akan tiba masa di mana pembicaraan mengenai Austen dan novel-novelnya akan menjadi topik obrolan antara ia dan gadis di depannya, tapi Sehun tidak menyangka sekaranglah waktunya.

Gadis itu tampak begitu larut dengan bacaannya hingga tak menyadari bahwa Sehun sedang melangkah menuju dirinya. Dia bahkan tidak bergeming ketika Sehun menarik bangku yang terletak tepat di seberang tempat duduk gadis itu dan duduk di sana sembari melipat kedua tangan di dada.

“Austen, huh?” Sehun, dengan kepercayaan diri yang didongkrak hingga menyaingi Gunung Himalaya, berujar akrab kepada gadis di depannya. “Aku juga salah satu penggemarnya.”

Gadis itu mendongak demi menatap Sehun yang saat itu sedang tersenyum sok asyik di depannya. Sesekali dia menengok ke balik bahu, hendak memastikan bahwa pria itu benar-benar berbicara kepadanya. Menunjuk wajahnya sendiri, ia bertanya, “Kau berbicara padaku?”

Suara gadis itu ringan, tipis, dan seolah mengambang begitu saja di udara, membuat Sehun mendadak merasa ada hawa panas dan dingin yang secara bergantian menghantam dirinya. Lucu sekali, pikir Sehun, bagaimana tubuhnya bisa menggigil hanya oleh fakta bahwa dia sekarang sedang berbicara dengan gadis pujaannya. Pria itu tidak berhenti bertanya-tanya, apakah semua ini memang wajar? Apakah ketika pertama kali Kyungsoo bertemu Bomi atau Jongin bertemu Naeun, mereka juga merasakan hal serupa seperti yang dialaminya saat ini?

Sehun memamerkan senyum terbaiknya seraya menjawab pertanyaan gadis itu dengan singkat, “Tentu saja.”

Alis gadis itu serta-merta bertaut, seakan-akan apa yang sedang terjadi adalah sesuatu yang tidak seharusnya. Sekali lagi, dia mengulang pertanyaannya. “Kau benar-benar berbicara padaku?”

Senyum Sehun berubah menjadi sebuah tawa ringan yang berhasil mengundang desis sinis seorang siswa yang tengah asyik membaca buku tidak jauh dari tempatnya duduk. Sehun secara kasual mengangkat tangannya ke sisi wajah, pertanda bahwa ia meminta maaf, lalu kembali melayangkan pandangan ke arah gadisnya.

Buku dalam genggaman gadis itu sudah tidak lagi mendapat perhatian. Sang gadis, kini dengan kepala sedikit dimiringkan ke sebelah kanan, menatap Sehun dengan raut tidak yakin.

Sehun jadi bertanya-tanya apa yang begitu spesial dari seorang siswa yang mengajak teman sekolahnya mengobrol hingga gadis itu tampak begitu kebingungan.

“Siapa lagi kalau bukan kau, Nona—” Sehun menjeda kalimatnya sebentar. Pandangan pria itu mengarah ke papan nama yang menempel di seragam gadis di depannya. Senyumnya jadi semakin lebar ketika dia menyadari bahwa nama yang dulu diingatnya ternyata tidak keliru. “—Jung Soojung. Aku memang sedang berbicara kepadamu.”

“Kau… bisa melihatku?” gadis itu bertanya patah-patah, tampak tak yakin dengan apa yang diucapkannya.

Kebingungan yang sebelumnya tampak jelas di wajah Soojung akhirnya menular kepada Sehun. Dia sama sekali tidak punya ide mengenai maksud gadis itu. Melihatnya? Tentu saja dia bisa melihat gadis itu. Alih-alih menunjukkan kebingungannya, Sehun memilih tertawa ringan.

“Tentu saja aku bisa melihatmu. Memangnya kau ini semacam makhluk yang seharusnya tidak terlihat?” canda Sehun.

Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya membantu di tempatnya sembari menatap Sehun dengan raut menyelidik, membuat pria itu sedikit salah tingkah.

Berniat mengusir atmosfir aneh di antara mereka akibat perkenalan yang sama sekali tidak sesuai rencana itu, Sehun bertanya lagi, mengembalikan topik yang tadi ia ajukan saat awal perbincangan mereka. “Jadi, novel Austen yang mana yang paling kau suka?”

Gadis itu masih tidak mengatakan apa-apa. Pandangan awas yang dialamatkannya kepada Sehun masih melekat di wajahnya yang nyaris seputih kapas. Tapi, tangannya perlahan mengangkat novel yang sedang ia baca hingga Sehun bisa melihat dengan jelas judulnya.

Sehun sudah bersiap mengemukakan semua yang ia ketahui mengenai Pride and Prejudice, tentang bagaimana karakter Fitzwilliam Darcy yang angkuh berpadu apik dengan karakter Elizabeth Bennet yang penuh prasangka, juga bagaimana selama bertahun-tahun Sehun menghabiskan waktu luang untuk membaca ulang novel itu hingga rasanya ia bisa menghafalnya kata per kata. Yang terakhir tentu saja adalah sebuah kebohongan, tapi Sehun berpikir tidak ada salahnya membumbui percakapan mereka dengan sedikit hiperbola agar gadis itu terkesan.

Sehun sudah benar-benar membuka mulutnya. Semua kata yang saat itu melintas di kepalanya sudah berada di ujung lidah, hanya tinggal sepersekian detik hingga kalimat-kalimat panjang yang sudah dilatihnya berulang kali itu akhirnya terlontar. Tapi semua gagal karena Jongin tiba-tiba muncul dari belakang sambil mengaitkan lengannya ke leher Sehun, membuat Sehun alih-alih berbicara, malah tersedak seperti orang bodoh.

Jongin, dengan senyum yang sama sekali tidak menyiratkan rasa bersalah, langsung melepaskan lengannya dari leher Sehun dan memilih duduk di samping sahabatnya itu. “Ayo kita bolos,” ujarnya ceria. Jongin menjaga volume suaranya agar tetap rendah hingga orang lain tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. “Kyungsoo dan yang lain sudah menunggu di gerbang belakang.”

“Aku tidak ingin ke mana-mana.” Sehun berujar malas.

Wae?” tanya Jongin. “Kami memutuskan membolos agar bisa menghiburmu, kau tahu. Bahkan Naeun yang paling rajin di antara kita, juga memutuskan untuk ikut.”

Sehun tersenyum tipis. Meski kesal karena kedatangan Jongin sudah merusak momen berharganya dengan Soojung, tapi Sehun jelas tersentuh akan kepedulian teman-temannya.

“Kalian tidak perlu melakukan ini,” beritahu Sehun. Dia melayangkan pandangannya ke seberang meja, di mana Soojung duduk dengan ekspresi tak terbaca. Dengan degup jantung yang lagi-lagi memburu, dia berujar pelan, “Aku sudah menemukan gadis itu.”

Jongin menoleh, mengikuti arah pandang sahabatnya. Dia bolak-balik menyejajarkan pandangannya demi memastikan bahwa ia melihat ke arah yang benar, tapi tetap saja yang didapatinya tidak berubah. Hanya ada bangku kosong di sana.

“Di mana dia? Di balik jendela?”

Sehun akhirnya mendesis sebal. Apakah sikap jahil Jongin harus muncul sekarang? Sahabatnya itu benar-benar merusak momen romantis Sehun bersama Soojung. “Di kursi di depan kita, Bodoh!”

“Tidak ada siapa-siapa di sana,” sahut Jongin.

Sehun mengenali betul intonasi itu. Jongin mungkin jahil. Dia juga mungkin manusia paling bodoh yang pernah Sehun kenal, tapi Jongin selalu tahu kapan ia harus berbohong.

Secepat cintanya jatuh, secepat getaran aneh itu menghinggapi jantungnya, maka secepat itu pula kesadaran menghantam benak Sehun.

Demi membuktikan prasangkanya, dia menatap tajam sosok Soojung yang tampak masih duduk di tempatnya semula. Mata pria itu aktif memindai penampakan gadis di depannya dari atas ke bawah. Rambutnya yang hitam dan memanjang hingga ke punggung, keningnya yang tertutup poni lurus dan nyaris menutupi mata, manik matanya yang cokelat dan kosong, hidungnya yang mancung, bibirnya yang pucat, dan kulitnya yang nyaris seputih kapas. Tidak ada yang begitu salah dengan itu semua.

Tapi ketika pandangan Sehun berangsur ke bawah, dia mendapati dada yang tidak kembang-kempis akibat bernapas. Ketika pandangannya bergerak ke arah lain, ada luka iris yang menganga pergelangan tangan kanan Soojung.

Otak Sehun merangkum semua pecahan petunjuk itu—yang sebenarnya sudah terpampang sejak awal mereka bertemu tapi selalu terabaikan olehnya—dan merangkainya dengan petunjuk-petunjuk lain yang diperolehnya sebelum ini. Tiba-tiba, semua jadi terasa masuk akal.

Soojung yang selalu tiba-tiba menghilang tanpa diketahui ke mana rimbanya. Cerita Jongin tentang hantu penunggu perpustakaan. Jungsoo yang tidak menemukan data gadis itu padahal ia sudah menelusuri semua dokumen dan database yang memuat informasi semua siswa di sekolah ini. Pertanyaan Soojung tentang apakah Sehun benar-benar bisa melihatnya. Terakhir, Jongin yang ternyata tidak mendapati apa-apa selain bangku kosong di depan mereka—padahal Sehun dengan jelas melihat ada sesosok gadis canti sedang duduk sambil memegang buku di sana.

Seharusnya Sehun ketakutan. Seharusnya ia lari dan tidak kembali lagi ke tempat itu sampai kapan pun. Tapi ada sesuatu dari tatapan Soojung yang membuatnya enggan meninggalkan tempat itu begitu saja. Entah bagaimana, Sehun bisa begitu yakin bahwa gadis itu kesepian. Dan entah mengapa, timbul dorongan yang begitu kuat dari dalam dirinya untuk menghilangkan rasa sepi yang menyelimuti gadis itu. Akhirnya, alih-alih mengambil langkah seribu dan meninggalkan tempat itu secepat mungkin, Sehun justru berbisik pelan, “Aku akan kembali lagi nanti.”

Soojung masih tidak menjawab, tapi seulas senyum muncul di wajahnya. Itu bukan senyum yang bisa menyaingi Miss Universe, namun senyum itu sudah cukup untuk merekahkan sesuatu yang aneh di hati Sehun.

Jongin sebenarnya bingung dengan apa yang dilakukan sahabatnya. Dia bingung dengan apa yang sedang terjadi. Alih-alih menyatakan kebingungannya, dia memutuskan untuk menganggap itu semua sebagai bentuk lelucon dari Sehun. Lelucon yang sebenarnya tidak lucu, namun setidaknya Sehun sudah tidak cemberut lagi, jadi dia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh.

“Jadi, kalian mau membawaku ke mana?” tanya Sehun dengan senyum nakal menghiasi sudut bibirnya.

“Karena ini dimaksudkan untuk menghiburmu, jadi Kyungsoo bilang kau bebas memilih mau ke mana.  Dia yang akan membayar semuanya.”

Sehun bangkit dari duduknya. Dia ganti mengaitkan lengannya di leher Jongin, kemudian melangkah ringan meninggalkan sudut perpustakaan di mana Soojung berada.

***

Ada sebuah cerita yang beredar di antara siswa SMA Kirin. Cerita itu tersebar dari mulut ke mulut, dari senior ke junior, hingga kemudian tidak ada lagi yang tahu pasti dari mana cerita tersebut berasal, juga apakah cerita tersebut nyata adanya.

Konon kabarnya, di perpustakaan sekolah itu, ada seorang gadis yang pernah bunuh diri dengan mengiris nadi di pergelangan tangan kanannya. Gadis tersebut dulunya adalah pengunjung tetap perpustakaan itu. Semua waktu luangnya selama di sekolah ia habiskan di salah satu sudut ruangan tak seberapa luas itu. Terkadang ia mengambil sebuah novel klasik dari salah satu rak untuk menemaninya menghabiskan waktu, namun seringnya dia menumpuk dua atau tiga buku pelajaran di depannya, membiarkan suasana hatinya memutuskan buku mana yang akan ia pelajari sampai tiba waktu petugas menyuruhnya pulang.

Gadis itu tidak terlalu mencintai buku, namun ia mencintai ruangan penuh buku tersebut. Suasana sepi yang ditawarkan tempat itu adalah alasannya untuk senantiasa datang setiap kali ada kesempatan. Gadis itu terlalu mencintai ruangan tersebut, hingga setelah mati pun ia masih menjadikan tempat tersebut sebagai favoritnya, tak ingin meninggalkannya.

End.

A/N: Terima kasih sudah membaca. Feedback dalam bentuk apapun sangat ditunggu 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Since The Very First Time – Part 3 [END]”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s