When Petals Fall Off Orchid – Part 2

sestal-petal_edit

When Petals Fall Off Orchid by nchuhae

Main Cast: EXO’s Sehun, f(x)’s Krystal, APINK’s Hayoung | Length: Threeshots

Genre: Fantasy, AU, Romance | Rating: G

Summary:

Di penghujung kefanaannya, Oh Sehun menemukan keabadian

Disclaimer:

Cerita ini murni buatanku sendiri. Dipublish pertama kali di FFIndo sebagai entry untuk Author Project dalam genre fantasy.

***

Sebelumnya: Part 1

Kepala pelayan menyambut kepulangan Sehun dengan raut lega terpatri jelas di wajahnya. Pria yang sebenarnya masih berada di usia akhir 50-an itu tampak lebih tua lantaran tuntutan pekerjaannya selama ini. Mengawasi pelayan di sebuah vila mewah saja sudah cukup menguras pikiran, dan kelakuan Sehun yang kadang sedikit nakal memperparah semuanya.

“Astaga, Tuan Muda, syukurlah Anda sudah kembali! Kupikir terjadi sesuatu pada Anda. Seharian ini kami semua mencari keberadaan Anda tapi tidak ada petunjuk. Aku sudah hampir putus asa dan melapor ke Nyonya,” serunya.

Sehun bisa dengan jelas menangkap nada khawatir dari cara pria itu berbicara, dan  langsung merasa tak enak hati. Pulang setelah matahari terbenam seperti sekarang memang bukan bagian dari rencananya saat meninggalkan vila tadi pagi, tapi bagaimanapun juga, kehebohan yang ia timbulkan adalah sesuatu yang jelas salah.

“Aku minta maaf, Ahjussi. Aku bosan, jadi aku mencoba jalan-jalan sedikit jauh. Tadinya niatku cuma mengunjungi danau yang dulu sering kutempati bermain dengan Hayoung, tapi ternyata aku kesulitan menemukan jalan pulang,” jelas Sehun sambil memasang muka bersalah. Ia melihat pria tua di depannya menghela napas panjang, persis seperti yang diingat Sehun sering dilakukan pria itu setiap kali mendapati dirinya berbuat nakal saat masih kecil dulu. Sadar mengenai apa yang menjadi sumber kekhawatiran terbesar sang kepala pelayan, buru-buru Sehun menambahkan, “Tapi tenang saja, aku tidak lupa membawa obatku,” katanya seraya meraih botol obat dari dalam tas punggungnya.

Pria paruh baya di depan Sehun menghela napas panjang sekali lagi. “Baiklah kalau begitu. Yang penting Anda baik-baik saja,” ujarnya menutup pembicaraan. Setelah itu, ia melangkah meninggalkan Sehun yang masih berdiri tak enak hati di ruang tamu.

Selama tiga hari berturut-turut, karena rasa bersalah atas kelakuannya yang membuat seisi vila cemas, Sehun memutuskan untuk berlaku baik. Ia menjalani hari sesuai pesan ibunya: tanpa banyak melakukan kegiatan yang bisa membuat tubuh lemahnya kelelahan. Hampir sepanjang hari ia hanya berada di kamar, membaca buku astronomi dan menyelinginya dengan menonton Discovery Channel tanpa minat. Sesekali ia memandang ke arah hutan, dalam hati bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Krystal, serta apakah gadis itu juga merindukannya. Pada pagi dan sore hari ia tetap berjalan-jalan di sekitar vila. Bagaimanapun juga, dokter menganjurkannya untuk melakukan kegiatan itu secara rutin agar kinerja jantungnya tetap terjaga. Sehun melakukan itu semua di bawah pengawasan perawat, dan berkat kepatuhannya itu, kepala pelayan akhirnya menghadiahinya dengan kalimat, “Saya tidak pernah melarang Anda pergi ke mana pun, Tuan Muda. Asalkan ponsel Anda terus bisa dihubungi dan botol obat terus berada di tas Anda, saya pikir berjalan sedikit jauh tidak ada salahnya.”

Sehun langsung menghambur ke arah pria tua itu dan memeluknya erat. “Kau memang yang terbaik, Ahjussi!”

Keesokan harinya, ketika Sehun mengunjungi hutan itu lagi, sebuah hal ajaib terjadi. Makhluk kecil yang tempo hari mengantarnya pulang langsung menyambut Sehun begitu ia melangkahkan kaki melewati pagar belakang vilanya. Kupu-kupu itu beterbangan tidak jauh di depan Sehun, seolah sudah lama menunggu untuk menunjukkan jalan kepadanya.

“Hai, Teman Kecil,” sapa Sehun, yang hanya dijawab oleh kepakan sayap dari makhluk putih di hadapannya.

Kupu-kupu kecil itu menuntun Sehun menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan tinggi. Selama perjalanan, beberapa kali pandangan pria itu berubah gelap lantaran terlalu lelah, tapi ia tidak menghentikan langkah. Keinginannya untuk segera bertemu Krystal mengalahkan rasa nyeri yang menusuk-nusuk dadanya.

Gadis cantik itu terlihat sedang berdiri di tepi danau yang sama seperti yang didatangi Sehun tempo hari. Merasakan keberadaan pria itu di dekatnya, sang gadis langsung berbalik. Seulas senyum terlukis di wajahnya yang ayu.

Saat melangkah mendekati Krystal, Sehun menyadari sebuah perubahan terjadi di tempat ini. Ranting pohon yang semula menggugurkan daunnya berhenti sejenak, bunga bakung di sela-sela pohon perlahan tumbuh, sulurnya memanjang dan melilit-lilit batang pohon dengan anggun. Bunga-bunga kuncup dan bermekaran di sekitar mereka. Sekawanan kupu-kupu datang, terbang mengitari keduanya.

Sehun memperhatikan semua itu dengan takjub, lalu pandangannya beralih ke manik biru Krystal. “Itu perbuatanmu?”

Sang gadis tersenyum tipis. “Terjadi tanpa bisa kukendalikan,” beritahunya. Ia melayang untuk berpindah ke atas sebuah batu besar di tepi danau. Sehun mengikuti dan duduk di sampingnya. Mereka berdua tengah memandang belalang melompat di atas teratai yang tumbuh di permukaan danau ketika Krystal melanjutkan penjelasannya, “Suasana hatiku mempengaruhi keadaan hutan. Bunga-bunga bermekaran jika aku bahagia, dan hujan turun jika aku bersedih.”

Sehun langsung teringat hari pertama mereka bertemu. Hujan tiba-tiba turun padahal sebelumnya langit begitu cerah. Dalam hati pria itu bertanya-tanya apa gerangan hal yang telah membuat Krystal bersedih, tapi tidak berani mengutarakan rasa ingin tahunya. Ia takut hal tersebut malah akan mengorek kesedihan yang ingin dilupakan gadis itu.

Mengalihkan pembicaraan, pria itu lalu membuka tasnya. “Untukmu,” katanya sembari mengangsurkan sekotak besar cokelat kepada Krystal.

Gadis itu menerima pemberian Sehun dengan wajah sumringah. Penuh semangat, ia melahap satu per satu makanan manis tersebut. Di sampingnya, Sehun memperhatikan hal itu sambil tersenyum. Hebat sekali, pikirnya, bagaimana seorang makhluk bisa tampak anggun dan kekanakan di waktu bersamaan.

Ketika seluruh isi kotak itu habis dan Sehun mendapati ada sedikit sisa cokelat di sudut bibir Krystal, pria itu refleks menggerakkan tangannya ke sana. Dengan ibu jari, ia menyeka cokelat itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Sehun baru menyadari akibat dari tindakannya sesaat kemudian, ketika Krystal menatapnya lurus ke manik mata, tampak sedikit terkejut.

Secepat Sehun mengulurkan tangan ke wajah gadis itu, secepat itu pula ia menariknya. “Maafkan kelancanganku,” katanya.

Berkebalikan dengan apa yang dipikirkan Sehun, Krystal pelan berujar, “Kau bisa menyentuhku.”

“Apa?”

“Kau. Menyentuhku. Tidak ada makhluk mana pun yang bisa melakukannya selama ini,” beritahu Krystal. Suaranya begitu pelan, mengawang di udara, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja terjadi. Cepat, ia meraih tangan Sehun, dan seperti sebelumnya, kulit mereka bersentuhan. Tangan Sehun yang hangat beradu dengan kulitnya yang dingin.

“Apa fakta bahwa aku bisa menyentuhmu merupakan sesuatu yang salah?” tanya Sehun ragu.

“Aku tidak tahu,” jawab Krystal. Ia melepaskan genggamannya di tangan Sehun, kemudian menambahkan, “Aku selalu hadir di gua itu setiap kali ada yang berdoa kepadaku. Beberapa orang bisa sekilas melihatku, tapi kebanyakan tidak bisa melakukannya. Kau bisa melihatku, kupikir itu masih wajar, tapi … menyentuhku?”

Sehun tidak tahu harus menjawab apa, jadi dia memilih diam sampai akhirnya Krystal melanjutkan, “Aku tidak berpikir ini adalah hal buruk, tapi karena hal yang sama tidak pernah terjadi sebelumnya, aku jadi sedikit kaget.”

“Aku akan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang baik.” Sehun menyimpulkan. Ia kembali meraih tangan Krystal, menautkan jari-jarinya dengan gadis itu. Lembut, ia berujar, “Aku merasa kau nyata sekarang, dan aku suka itu.”

Krystal tersenyum. “Aku juga suka,” katanya.

Di belakang gadis itu, bunga bermekaran dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibanding sebelumnya, kupu-kupu terbang dengan lincah di atas kepalanya, sepoi angin datang mempermainkan rambut keemasannya, dan cicit burung-burung kecil mulai terdengar, mendendangkan nyanyian alam yang terdengar sangat merdu di telinga Sehun.

Selama beberapa saat, mereka hanya duduk di atas batu sambil berpegangan tangan. Tidak ada kata yang terucap, tapi Sehun merasa itu sudah lebih dari cukup.  Diam-diam ia memanjatkan doa di dalam hati, berharap kebersamaan menyenangkan seperti ini bisa berlangsung lama.

Di ujung keheningan yang menyenangkan itu, Krystal berkata, “Terima kasih sudah kembali lagi ke tempat ini.”

“Aku tidak punya alasan untuk tidak kembali,” tukas Sehun. Ia menoleh, mendapati Krystal sedang menatap ke arahnya. Pandangan gadis itu menyiratkan kompleksitas yang tidak ingin ia pahami. Mengeratkan genggamannya di tangan dingin Krystal, pria itu kemudian berujar, “Hei, kau tahu….”

Setelahnya, Sehun menghabiskan waktu dengan menceritakan kenakalan-kenakalan masa kecilnya kepada Krystal. Ia menikmati bagaimana gadis itu mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian. Kalau bukan karena hari yang berangsur gelap, pria itu mungkin tidak akan ingat bahwa di vilanya, kepala pelayan sudah menunggu kepulangannya dengan cemas.

Sehun pulang setelah berjanji bahwa ia akan datang lagi keesokan harinya. Kupu-kupu putih yang sama seperti yang menjemputnya di pinggir hutan tadi pagi muncul lagi, terbang di hadapannya seolah sudah tahu bahwa sore itu ia punya tugas mengantar Sehun meninggalkan hutan.

***

Kunjungan Sehun ke hutan untuk bertemu dan menghabiskan hari bersama Krystal jadi sesuatu yang rutin. Setiap pagi setelah sarapan dan minum obat, ia akan langsung kembali ke kamar untuk mengambil tas punggungnya, mengisi benda itu dengan berbungkus-bungkus cokelat, kemudian mengayun tungkai menyusuri jalan setapak di dalam hutan untuk menemui Krystal.

Sehun mendapati dirinya menemukan hobi baru: mengenalkan kehidupan dunia modern kepada sang gadis. Pria itu selalu senang setiap kali Krystal menatapnya dengan takjub kala bercerita. Padahal, yang ia bagi hanya pengetahuan astronomi dasar seperti benda luar angkasa yang mengelilingi matahari  dan fenomena alam yang terjadi dalam kurun waktu ratusan tahun sekali. Sehun tidak akan pernah lupa ekspresi Krystal ketika ia memberitahu bahwa bintang yang indah itu sebenarnya hanyalah bongkahan batu raksasa yang diselubungi gas, juga bahwa di luar angkasa sana, ada tempat yang sangat luas dan seluruh permukaannya tertutup air.

“Tidak ada tanaman indah dan binatang lucu?” tanyanya, yang langsung dijawab oleh gelengan mantap oleh Sehun.

Beberapa kali pria itu juga bercerita tentang film dan buku favoritnya. Krystal, seperti halnya kebanyakan gadis, menyukai kisah cinta. Sehun pernah menceritakan beberapa dongeng Disney kepada Krystal, dan selama tiga hari berturut-turut, gadis itu selalu meminta Sehun mengulang cerita Cinderella untuknya.

Perkenalannya dengan Krystal membuat Sehun jadi lebih rajin membaca buku dan artikel-artikel menarik di majalah online. Setiap malam menjelang tidur, yang ia lakukan adalah mengakses internet demi mencari sesuatu yang menarik untuk diceritakan kepada sang gadis. Sehun yang hampir selama 23 tahun menjalani hidup hanya untuk menunggu mati, kini punya tujuan untuk bertahan lebih lama di dunia ini. Ia ingin terus bersama Krystal.

***

Sehun bukanlah satu-satunya yang mendominasi setiap obrolan mereka. Ada kalanya, Krystal ganti bercerita. Dan seperti halnya gadis itu menyimak cerita-cerita Sehun dengan antusias, Sehun pun mendengarkan semua yang dikatakan makhluk cantik itu dengan saksama.

Gadis itu tidak ingat kapan dia tercipta. Yang jelas, ia sudah mendiami hutan sejak tanah ini masih bernama Silla. Ia menyaksikan bagaimana manusia dan alam berubah, sementara dirinya tetap seperti itu; cantik, hidup, kesepian.

Di sepanjang eksistensinya yang sudah berlangsung sekitar ribuan tahun, boleh dikata Krystal menjalani hari-hari yang statis. Yang dilakukannya setiap waktu adalah berkeliling hutan, mengobati binatang-binatang yang terluka atau menggunakan kekuatannya untuk membantu tunas-tunas liar agar bisa secepatnya tumbuh. Sesekali, ia bercengkrama dengan sesama makhluk abadi demi mengusir kejenuhan, tapi itu terjadi dalam waktu beberapa tahun sekali.

Sekali waktu, hutan ini dihuni oleh sepasang vampir bernama Chanyeol dan Yoona. Dari cara gadis itu bercerita, Sehun bisa menyimpulkan bahwa mereka berteman dekat.

“Mereka baik,” kata Krystal. “Tuan Park selalu menyapa dan tersenyum ceria setiap kali bertemu denganku. Istrinya juga begitu. Dia bahkan sering memberiku makanan yang enak setiap kali pulang dari sebuah tempat bernama pasar. Aku paling suka buah bulat bernama apel. Rasanya manis dan bisa membuatku kenyang selama berhari-hari.”

“Apa kau tahu mereka hidup dengan menghisap darah manusia?”

“Mereka tidak menghisap darah manusia, karena itulah aku mau berteman dengan mereka.”

“Kalau bukan darah manusia, lalu apa?”

“Binatang,” beritahu Krystal. “Dan berbeda dengan kebanyakan Penghisap Darah yang pernah kulihat, mereka tidak membuat mangsanya mati kehabisan darah. Kupikir mereka sudah belajar cara mengontrol nafsu makan. Setiap kali mereka makan, aku akan ada di sana untuk membantu menyembuhkan luka dari binatang yang mereka mangsa.”

“Kenapa kau membantu mereka?”

“Karena setiap makhluk berhak untuk hidup, Sehun, dan aku menghargai bagaimana kedua Penghisap Darah itu mempertahankan eksistensi mereka dengan tetap menghargai makhluk hidup lain.”

Sehun mengangguk takzim untuk menanggapi cerita Krystal. Kekagumannya terhadap gadis itu kontan bertambah. Krystal ternyata bukan hanya cantik, tapi juga mampu melihat kebaikan dari setiap hal.

Vampir bukan satu-satunya makhluk abadi yang pernah hidup di hutan ini. Dari cerita Krystal, Sehun juga belajar bahwa pohon berusia lebih dari seribu purnama akan memiliki cukup kekuatan yang memungkinkannya memiliki wujud seperti manusia. Gadis itu berteman dengan semua ruh pohon yang ada di hutan ini. Salah satu alasan hujan turun di hari pertama mereka bertemu adalah karena ruh pohon yang selama ini menjadi sahabat baik Krystal tiba-tiba lenyap.

“Manusia menebangnya. Mereka mengambil kayunya untuk dipahat, dijadikan patung,” beritahu gadis itu.

Sehun menangkap wajah murung Krystal saat bercerita, karenanya, alih-alih mengungkapkan rasa penyesalan atas kepergian sahabat gadis itu, Sehun memilih untuk membahas hal lain, berharap gadis itu bisa segera melupakan sedihnya. “Apa setiap bertemu dengan teman-teman abadimu, bunga selalu bermekaran seperti sekarang?”

Krystal menggeleng. “Cuaca pasti cerah, tapi tidak pernah ada bunga dan kupu-kupu.”

“Berarti, kehadiranku membuatmu bahagia. Setiap kali kita bertemu, bunga-bunga di sekitar sini bermekaran, padahal sekarang sudah musim gugur,” ujar Sehun jahil, membuat wajah Krystal langsung berona merah.

Gadis itu memalingkan muka demi menyembunyikan ekspresi malu-malunya. Pandangannya tertuju pada bunga yang bermekaran indah, juga kupu-kupu kecil yang mengepakkan sayap dengan anggun di udara. Langit pun tampaknya mengkhianati upaya gadis itu untuk menyembunyikan perasaannya. Awan mendung yang sejak pagi menutupi matahari perlahan bergeser hingga cahaya terang menimpa wajah mereka berdua.

Sehun tergelak, tahu betul bahwa perubahan cuaca yang tiba-tiba itu tidak lepas dari suasana hati sosok feminin di sampingnya. Ia tidak menuntut jawaban apa-apa lagi, karena meski tidak mengatakan apa-apa, Krystal jelas telah menjawab pertanyaannya.

Tanpa peringatan ia mendaratkan bibirnya di kening gadis itu. Tubuh Krystal membeku seketika, namun hatinya bergejolak karena rasa bahagia. Salju di sekitar mereka perlahan meleleh, pucuk-pucuk tumbuhan muncul dari sela batu, tumbuh meninggi hanya dalam hitungan detik. Perubahan itu tidak terlepas dari pengamatan Sehun, dan ia langsung tahu bahwa tindakannya barusan bukan sebuah kesalahan.

“Aku pun merasakan yang sama, Krystal,” bisik Sehun sebelum ia mengecup bibir gadis itu.

Bibir Krystal dingin, kering, manis, dan Sehun bersumpah kalau saja jantungnya yang berdegup kelewat cepat itu tidak mendadak terasa sakit akibat luapan perasaannya sendiri, ia bisa mencumbu Krystal sampai napasnya benar-benar habis.

“Aku berharap bisa selamanya sebahagia ini denganmu.”

-TBC-

Advertisements

3 thoughts on “When Petals Fall Off Orchid – Part 2”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s