When Petals Fall Off Orchid – Part 3 [END]

sestal-petal_edit

When Petals Fall Off Orchid by nchuhae

Main Cast: EXO’s Sehun, f(x)’s Krystal, APINK’s Hayoung | Length: Threeshots

Genre: Fantasy, AU, Romance | Rating: G

Summary:

Di penghujung kefanaannya, Oh Sehun menemukan keabadian

Disclaimer:

Cerita ini murni buatanku sendiri. Dipublish pertama kali di FFIndo sebagai entry untuk Author Project dalam genre fantasy.

***

Sebelumnya:

Part 1, Part 2

Musim yang berganti dan suhu yang berangsur semakin dingin dari hari ke hari tidak menghalangi Sehun untuk datang ke hutan. Kecuali saat ibunya berkunjung ke vila untuk menengok keadaannya, pria itu pasti mengusahakan untuk menemui Krystal di tempat mereka biasa berbincang.

Sehun selalu takjub setiap kali menyaksikan rentetan keajaiban menyambutnya kala ia melangkahkan kaki memasuki hutan. Tidak peduli di luar sana musim sudah berganti dan salju berjatuhan dari angkasa, di dalam hutan ini ia merasa musim semi yang sejuk terjadi sepanjang waktu.

Seiring semakin dekatnya hubungan mereka berdua, Sehun menemukan dirinya memiliki satu lagi kebiasaan baru: tidur telentang di atas rumput, membiarkan Krystal mempermainkan rambut cokelatnya, sementara gadis itu menyenandungkan irama merdu untuknya.

Sehun tidak pernah bertanya makna di balik lagu yang dibawakan Krystal. Bagi Sehun, beberapa hal cukup dinikmati saja, tanpa perlu pemahaman yang terlalu dalam akannya. Kalau saja ia bertanya, maka pria itu pasti tahu bahwa yang disenandungkan Krystal adalah irama kesedihan. Karena di mata Sehun, gadis itu melihat ada sinar kehidupan pelan-pelan meredup seiring bergulirnya hari.

***

“Kau habis berkencan, ya?”

Sehun  tersentak ketika ia membuka pintu kamar dan suara itu langsung terdengar olehnya. Di atas sofa panjang yang terletak di salah satu sisi kamarnya, Hayoung, adik perempuan yang lebih muda dua tahun darinya, sedang duduk santai sembari menonton televisi. Di pangkuannya, ada anjing kecil berbulu keriting yang langsung menyalak begitu melihat Sehun.

Hayoung melepaskan anjing itu, membiarkannya berlari menuju tuannya. Sehun menyambut makhluk mungil tersebut dan langsung memerangkapnya dalam pelukan penuh sayang. Ia lalu berjalan menuju sofa yang diduduki Hayoung dan mendaratkan tubuh di sana. Dengan tangan masih mengelus bulu halus anjing peliharaannya, ia berujar santai, “Kenapa kau ada di sini?”

“Vivi rewel terus karena tidak ada kau di rumah, jadi Eomma menyuruhku untuk membawanya menemuimu,” beritahu Hayoung.

Sehun mendelik curiga. “Itu bukan sesuatu yang kalian buat-buat agar punya alasan menengok keadaanku di sini, ‘kan?”

Hayoung tergelak. “Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, huh?”

Sehun langsung menjawil pipi adiknya, gemas. “Aku sangat mengenalmu, Young-ah….”

Hayoung balik menjawil pipi tirus kakaknya dengan tidak kalah gemas. “Dan aku juga sangat mengenalmu, Oppa. Kau tadi habis berkencan, ‘kan?”

Sehun mendengus. “Berikan satu alasan kenapa aku harus membenarkan dugaanmu, Nona.”

Hayoung menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. “Kalau saja kau melihat senyum bodoh yang tadi tersungging di wajahmu saat memasuki kamar, kau pasti tahu kenapa aku langsung berpikir seperti itu.”

Sehun bahkan tidak sadar bahwa tadi ia tersenyum. Ah, jangan-jangan senyumannya itu sudah ada sejak ia meninggalkan hutan?

“Lihat! Lihat! Kau tersenyum lagi.” Hayoung berseru heboh sambil menunjuk-nunjuk wajah kakaknya. Di pangkuan Sehun, Vivi menggonggong penuh semangat, seolah ikut antusias dengan pembahasan dua orang di dekatnya. Sembari menyenggol pelan bahu Sehun, Hayoung berujar dengan mata menyipit jenaka, “Katakan padaku, siapa gadis beruntung ini?”

“Ra-ha-si-a!” jawab Sehun sok misterius.

Hayoung mengerang sebal. “Ah, tidak asyik!” keluhnya seraya melipat tangan di depan dada. Bibirnya dimajukan hingga mengerucut maksimal. “Padahal seingatku baru beberapa minggu lalu kau bercerita betapa membosankan hidupmu di sini, sekarang kau sudah menemukan seseorang yang membuatmu mulai belajar menyimpan rahasia dariku.”

Sehun hanya mengerling nakal. Mengalihkan pembicaraan, ia bertanya, “Bagaimana kuliahmu?”

Menyadari bahwa kakaknya tidak berniat membocorkan rahasia mengenai gadis yang sudah berhasil membuatnya menyunggingkan senyum laksana orang bodoh, Hayoung lantas bercerita mengenai kehidupannya sebagai dokter magang di rumah sakit tempat ibunya bekerja sebagai kepala.

“Jadi, kenapa kau ke sini padahal tugasmu menggunung?” tanya Sehun setelah Hayoung memberitahukan perihal keberadaan setumpuk laporan yang harus ia selesaikan dua hari lagi kepada pembinanya. “Dan jangan bilang ini demi Vivi.”

“Tentu saja untuk menjemputmu,” sahut Hayoung santai.

“Ke mana?”

“Rumah sakit.”

“Rumah sakit?”

Gadis muda itu mengerutkan alis. “Eomma belum memberitahumu?”

“Memberitahu apa?” tanya Sehun tidak sabar.

“Jadwal operasimu sudah keluar.”

Sehun diam. Lidahnya mendadak kelu mendengar kata itu. Padahal, selama beberapa bulan belakangan, ia sudah nyaris lupa pada keadaan jantungnya yang lemah. Kebersamaannya dengan Krystal membuat ia merasa normal. Tapi di saat ia sudah merasa nyaman dengan hari-harinya bersama gadis tersebut, satu kata itu kembali lagi di hadapannya. Operasi.

“Bagaimana bisa kau tahu lebih dulu daripada aku?”

Hayoung tersenyum salah tingkah. “Kau tahu ‘kan aku menyukai Dokter Lee?”

Dan gadis itu tidak perlu menjelaskan lebih banyak lagi. Sudah sejak lama Sehun mengetahui bahwa adiknya menyimpan rasa suka terhadap Lee Donghae, dokter yang selama ini menangani penyakitnya. Kalau ibunya sering bertanya kepada Dokter Lee karena benar-benar ingin tahu perihal perkembangan kondisi putranya, maka Hayoung mengajukan pertanyaan seputar kesehatan Sehun hanya agar punya alasan mengajak dokter berusia 33 tahun itu mengobrol.

Eomma tidak memberitahu apa-apa, padahal semalam dia menelponku.”

“Jadwalnya memang baru keluar tadi siang. Eomma mencoba menghubungimu. Dokter Lee dan pihak rumah sakit juga sudah mengirimkan surel pemberitahuan kepadamu.”

Sehun kontan teringat pada ponsel yang sepanjang hari terabaikan olehnya. Setelah mengaktifkan benda itu lagi, di layar tertera dua buah surel dan sebuah pesan dari operator yang memberitahukan bahwa ia punya 26 panggilan tidak terjawab dari ibunya.

Eomma ada jadwal seminar di Kyoto dan baru kembali dua hari lagi, jadi dia memintaku menjemputmu. Kata Dokter Lee, sebaiknya seminggu sebelum operasi kau sudah mulai dirawat di rumah sakit. Kau tahu ‘kan, mereka harus melakukan banyak hal untuk mempersiapkan tubuhmu menerima jantung baru,” jelas Hayoung.

“Apa Dokter Lee memberitahu seberapa besar peluangku bertahan hidup?”

“Sekitar tujuh puluh persen.”

Sehun diam, dan adiknya mengartikan sikap diamnya itu sebagai sebuah reaksi wajar atas informasi yang baru saja ia sampaikan. Operasi yang akan dijalani Sehun memang sudah lama direncanakan, tapi mengetahui bahwa setidaknya ada tiga puluh persen kemungkinan hidupnya berakhir di meja operasi jelas bukan hal yang mudah diterima siapa pun.

Gadis itu bangkit, bersiap-siap kembali ke kamarnya. “Istirahatlah,” ujarnya seraya meremas pelan bahu Sehun. “Besok pagi kita berangkat.”

Sehun memperhatikan adiknya melangkah keluar ruangan tanpa berkata apa-apa. Setelah pintu kamarnya tertutup, selama dua menit ia hanya memandang kayu oak merah itu dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang ke suatu tempat di dalam hutan, di mana Krystal biasa menunggu kedatangannya. Pria itu lantas meraih jaket dan bergegas meninggalkan vila. Ia tidak boleh pergi tanpa berpamitan pada Krystal.

***

Sehun berjalan terseok-seok menembus kegelapan malam dengan sebuah pot berisi tanaman anggrek di tangannya. Kupu-kupu yang selalu menuntunnya menuju Krystal berada beberapa meter di depannya, terbang dengan sayap bercahaya layaknya kunang-kunang. Pandangan pria itu gelap lantaran terlalu lelah. Jika biasanya ia menghabiskan malam dengan beristirahat agar keesokan harinya punya cukup tenaga untuk berjalan menyusuri hutan, maka malam ini jadwal istirahatnya terpaksa ditiadakan demi bisa menemui Krystal.

Gadis itu terlihat sedang duduk bersandar di batang pohon sembari menatap langit yang penuh bintang. Ia langsung menoleh ketika merasakan keberadaan Sehun di sampingnya. Krystal menatap mata pria itu, dan kesedihan yang terpancar dari sana seolah memberi tahu bahwa sebuah akhir akan segera tiba.

Tidak seperti hari-hari sebelumnya dimana seluruh isi hutan seolah berdendang kala pria itu datang, malam ini tidak ada bunga bermekaran, tidak pula kupu-kupu beterbangan mengelilingi mereka. Hening berkuasa. Kesedihan meraja.

“Kau sudah tahu, ya?” tanya Sehun membuka pembicaraan.

Alih-alih menyahuti pertanyaan yang jawabannya sudah jelas itu, Krystal memilih berujar, “Berjanjilah bahwa kau akan kembali.”

Sehun memaksakan seulas senyum agar terbit di bibirnya. Menunduk, pria itu menatap pot kecil berisi anggrek bulan yang ia bawa.

Dari sejumlah artikel yang ia baca, Sehun menyimpulkan bahwa anggrek adalah kado yang paling cocok untuk diberikan kepada Krystal. Tanaman itu secara sempurna menggambarkan sang gadis, tidak hanya dari segi keindahan, tapi juga makna. Suku pedalaman di Kepulauan Calayan di Filipina mempercayai bahwa anggrek bertugas sebagai penjaga hutan. Pada era Ratu Victoria di Inggris, anggrek dipakai untuk menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang. Sedangkan di Tiongkok, anggrek dipercaya sebagai lambang kesempurnaan.

Anggrek yang dibawa Sehun masih setinggi sepuluh sentimeter. Dulu, ia berencana memberikan anggrek itu ketika bunganya sudah mekar, namun setelah tahu bahwa ia memperoleh donor jantung jauh lebih cepat dari dugaan, Sehun berpikir ini mungkin menjadi satu-satunya kesempatan ia bisa menyerahkannya kepada Krystal.

Sembari meletakkan anggrek tersebut di pangkuan Krystal, pria itu berujar menenangkan, “Aku akan kembali, dan bersama-sama kita akan melihat anggrek ini berbunga. Kau akan menungguku, ‘kan?”

Krystal mengangguk meski ia sendiri tak yakin akan kebenaran kata-kata itu.

Sehun tersenyum seraya meraih tangan kanan gadis itu. Lembut, ia melipat jari-jari lentik Krystal hingga yang teracung hanya kelingking. Sehun menautkan miliknya dengan gadis itu, kemudian berujar, “Manusia berjanji dengan cara seperti ini.”

Krystal menunduk. Sejenak, ia menatap jemari yang bertaut itu tanpa berkata apa-apa, namun sebelum suasana di antara mereka sepenuhnya jatuh dalam keheningan, gadis itu kembali menatap pria di depannya. Mengulas senyum yang sama lebarnya dengan yang  Sehun berikan kepadanya, ia berkata, “Aku akan menunggumu, Sehun.”

Mereka melewatkan sisa malam itu dengan berbaring melihat bintang sambil berbincang seperti biasa. Sehun dengan cepat mengalihkan topik tentang kepergiannya ke berbagai hal lain yang lebih menarik. Krystal, seperti biasa, menyimak cerita Sehun dengan penuh kekaguman. Satu hal yang tidak disadari oleh keduanya, malam itu mereka telah mengucapkan janji yang mungkin tidak akan pernah terwujud.

***

Eomma, aku akan baik-baik saja, kan?”

Nyonya Oh menggenggam erat tangan dingin putranya. Selayaknya seorang ibu, wanita paruh baya itu bisa membaca dengan jelas ketakutan yang membayang di wajah pucat Sehun. Ia pun merasakan hal yang sama. Meski peluang keberhasilan operasi ini tergolong tinggi, sebagai seorang dokter dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun ia tahu betul statistik tidak berguna di meja operasi. Namun demi menguatkan putranya, ia membuang jauh-jauh keraguan dari benaknya.

“Tentu, Darling. Dokter Lee memegang rekor sempurna di setiap operasi yang ia tangani. Donormu juga berasal dari seorang mantan atlet. Kau akan punya jantung baru yang lebih sehat.”

“Kalau sampai operasiku nanti gagal,” ujar Sehun ragu, “jangan lupa pada pesanku semalam.”

Nyonya Oh menggigit bibir bawahnya demi menahan tangis yang siap tumpah. Entah kenapa perasaannya mendadak berubah tidak enak.

“Operasimu akan berjalan lancar, Oppa,” kata Hayoung yang sejak tadi berdiri di belakang ibunya. Gadis itu meraih tangan kakaknya, meremasnya pelan demi memberi sokongan moril. “Kau akan baik-baik saja.”

“Apa yang dikatakan adikmu benar, Sehun. Kami akan mengusahakan yang terbaik, jadi jangan khawatir, oke?” tambah Dokter Lee.

Sehun melemparkan senyum kepada ketiga orang itu—senyum pasrah yang bercampur rasa takut. Ibunya dan Hayoung bergantian mengecup keningnya, membisikkan kata sayang dan harapan agar operasi Sehun berjalan lancar. Setelah itu, perawat mendorong tempat tidurnya memasuki ruang operasi, meninggalkan Nyonya Oh dan Hayoung yang menunggu dengan khawatir di balik pintu.

Sehun tidak tahu kenapa ia begitu pesimis dengan operasi ini. Padahal semua orang sudah berusaha meyakinkannya. Sejak masuk rumah sakit seminggu lalu, Hayoung serta Dokter Lee secara bergantian memeriksa kondisinya, dan mereka memastikan bahwa kondisi fisik pria itu sudah lebih dari siap untuk menjalani operasi. Ibunya bahkan menunjukkan berbagai artikel kedokteran yang berkaitan dengan pencangkokan jantung, mencoba menenangkan Sehun yang selalu berpikir ia akan mati di atas meja operasi.

Lampu berdaya tinggi kemudian dinyalakan. Denting alat-alat operasi terdengar. Botol cairan dan kantung darh disiapkan. Dokter dan perawat mulai memasang masker. Alat pendeteksi detak jantung mulai dipasang. Jarum-jarum ditusukkan ke badan ringkih Sehun.

“Kau akan baik-baik saja, Sehun. Percayalah padaku,” ujar Dokter Lee, sekali lagi berusaha menenangkan pasiennya.

Sebelum anastesi mengambil alih kesadarannya, air menetes dari sudut mata Sehun. Untuk pertama kali dalam 23 tahun hidupnya, ia merasa benar-benar takut menghadapi kematian. Ia ingin hidup. Ia ingin bertemu Krystal lagi.

***

Menjadi makhluk abadi membuat Krystal punya toleransi yang sangat longgar mengenai waktu. Ia bisa menghabiskan waktu beberapa dekade hanya dengan berkeliling hutan, menyapa semua makhluk hidup yang ada. Tapi sejak mengenal Sehun, ia jadi lebih menyadari bagaimana waktu bergulir. Sehari terasa begitu berarti. Semalam terasa begitu panjang.

Krystal menghitung, 42 hari sudah berlalu sejak kepergian Sehun. Anggrek yang diberikan pria itu di pertemuan terakhir mereka sudah berbunga. Warnanya merah muda, dan gadis itu ingat betul Sehun pernah bercerita bahwa setiap warna memiliki arti. Merah muda adalah perlambang cinta yang tulus. Krystal merawat bunga itu dengan begitu telaten. Ia bahkan membawa pot kecil tempat anggreknya tumbuh ke mana pun ia pergi. Rasanya, dengan begitu Sehun selalu ada di sampingnya.

Krystal baru saja selesai menyiram anggreknya dengan sinar matahari yang ia himpun langsung dengan kedua tangannya ketika gadis itu merasakan kehadiran manusia di dalam hutan ini. Ia segera berlari—melayang, sebenarnya—ke arah danau tempat ia dan Sehun biasa bertemu.

Sayangnya, bukan pria itu yang ia dapati. Seorang gadis dengan wajah mirip Sehunlah yang berdiri di ujung dermaga. Pakaiannya serba hitam. Di pelukannya ada sebuah tembikar berwarna senada dengan bajunya. Gadis itu tampak murung. Matanya berkaca-kaca menatap danau yang airnya membeku. Tangan gadis itu lantas bergerak mengambil sesuatu dari dalam tembikar yang ia bawa, kemudian menaburkannya di permukaan danau sambil menangis tanpa suara.

Seakan ingin membenarkan firasat buruk Krystal, kelopak bunga anggrek yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati pelan-pelan gugur. Satu … dua … tiga … hingga yang tersisa hanyalah batang yang kesepian. Semilir angin datang, menerbangkan kelopak berwarna merah muda itu di udara selama beberapa detik yang singkat, sebelum menjatuhkannya di atas permukaan danau yang beku.

Secepat kesadaran menghampiri benaknya, secepat itu pula Krystal merasa ada sesuatu yang patah di balik rongga dadanya.

“Pembohong!” maki Krystal seraya membanting pot anggreknya ke tanah.

Langit tiba-tiba berubah gelap, petir bergemuruh, angin kencang bertiup, burung-burung yang hinggap di dahan pohon beterbangan mencari tempat berlindung, dan hujan pun jatuh membasahi tanah yang tertutup salju.

“Kau bisa membunuh adikku, tahu.”

Suara yang kelewat familiar itu membuat Krystal menoleh. Di sampingnya, Sehun menunduk untuk mengambil benda yang sebelumnya dijatuhkan dengan kasar oleh sang gadis.

“Kupikir kau—”

Krystal tidak kuasa menyelesaikan kalimatnya. Ia bingung dengan keberadaan Sehun di sampingnya. Terlebih lagi karena penampilan pria itu kini hampir mirip dirinya; bercahaya dan melayang. Seolah semua itu tidak cukup, Sehun kembali membuat Krystal mengerutkan alis tidak percaya kala ia mengayunkan tangan dan batang anggrek yang bunganya baru saja gugur itu pelan-pelan kembali memunculkan kuncup baru.

“Sudah kubilang, aku akan kembali dan bersama-sama kita akan melihat anggrek ini mekar.”

“Bagaimana bisa kau—”

Sehun mengedikkan bahu. “Aku juga tidak begitu paham. Yang kuingat, aku berada di meja operasi, berbaring telentang, menunggu mati sambil membayangkan tempat ini. Dan dirimu. Lalu gelap. Dan tiba-tiba, ketika kegelapan itu berakhir, aku sudah ada di sini.”

Selama beberapa saat, Krystal hanya menatap Sehun tanpa berkata apa-apa. Namun suasana hati gadis itu jelas berubah lebih baik, terbukti dari langit yang berangsur cerah dan burung-burung yang kembali bernyanyi.

Sekilas, Sehun melirik ke arah Hayoung yang memandang ke sekeliling hutan ini dengan kening berkerut lantaran heran. Pria itu berharap adiknya tidak terlalu memikirkan perubahan cuaca yang kelewat ekstrim ini dan berusaha mencari penjelasan logis tentangnya.

Mengalihkan pandangan kembali kepada Krystal, Sehun berujar ringan, “Perubahan suasana hatimu ternyata bisa jadi sangat mengerikan, huh? Sejujurnya aku lebih suka bunga dan kupu-kupu.”

Krystal tahu Sehun berusaha bercanda demi mencairkan suasana, tapi perasaan gadis itu sudah kepalang kacau. Tidak pernah sebelumnya dalam eksistensinya yang sudah berlangsung ribuan tahun, ia merasa sedih, bahagia, dan bingung di saat yang bersamaan. “Kupikir kita tidak akan bertemu lagi,” akunya.

Sehun terkekeh ringan. Hatinya mendadak dihinggapi kegembiraan setelah menyadari seberapa besar pengaruh dirinya terhadap Krystal. “Kupikir juga begitu, tapi sepertinya Sang Pencipta punya skenario lain.”

“Jadi, apakah mulai sekarang kita bisa bersama sepanjang waktu?”

“Sepertinya begitu,” jawab Sehun. “Kecuali kalau kau bosan melihatku setiap hari, kupikir itu akan jadi masalah.”

Krystal menggeleng cepat. “Aku tidak keberatan bertemu denganmu setiap hari di sepanjang keabadian.”

Sehun tercenung karena kalimat itu. Sepanjang keabadian. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa ia punya waktu sebanyak itu untuk melakukan sesuatu, terlebih lagi ini menyangkut seorang makhluk cantik dengan pesona yang selalu berhasil membuat dirinya takjub.

Sesuatu berdesir di dalam tubuhnya, seolah-olah bayangan kebersamaannya dengan sosok feminin itu terlalu indah hingga dadanya sesak oleh kebahagiaan. Sehun jadi bertanya-tanya bagaimana mungkin makhluk tak bernyawa seperti dirinya masih bisa merasakan luapan perasaan yang demikian hebat.

Tersenyum, Sehun menatap Krystal dan menjawab, “Aku juga tidak keberatan.”

-END-

A/N: Siapa tahu ada yang masiih bingung sama cerita ini. Jadi, operasinya Sehun gagal. Setelah meninggal dia berubah jadi peri hutan dengan kekuatan persis seperti Krystal. Kenapa Krystal yang punya kemampuan mengobati penyakit gak nyembuhin Sehun? Karena kekuatannya sebagai peri cuma berlaku untuk makhluk yang hidup di dalam hutan itu aja, jadi Sehun yang berasal dari luar hutan gak akan bisa dia tolong.

Anyway, terima kasih sudah membaca. Feedback dalam bentuk apapun sangat aku tunggu.

Advertisements

4 thoughts on “When Petals Fall Off Orchid – Part 3 [END]”

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s