1435 #10 —PutrisafirA255

91 copy.jpg

1435—Look at Me!

.

Story from PutrisafirA255

.

Cast

Oh Sehun-Kim Hanna

Byun Baekhyun- Helena Jung

Other Cast

Jung Hyejin-Min Yoongi

etc

.

Genre

Marriage Life, Romance, AU, Fluff, Drama, Family, etc.

.

PG-16

.

Hope you like it and give me comment as appreciation

.

PutrisafirA255©2016 | Blackandwhite

.

Prolog  #1 [Restart] | #2[Propose] | #3 [Could I?]

| #4[The Past] | #5 [The Wedding] | #6 [After Many Years] | #7 [The Secret]

| #8 [Jealously] | #9 [Bad Dream] | #10 [Look at Me!] (NOW)

.

.

.

.

Suasana begitu mencekam.

Itulah yang menggambarkan bagaimana keadaan di Blue House—pusat pemerintahan Korea Selatan. Para staff dan yang lainnya pun hanya bisa bergeming sembari berdoa seiring dengan pekikkan yang menggema. Berharap agar semuanya tak berujung dengan akhir dari pekerjaan yang telah mereka emban selama bertahun-tahun.

Pria dengan setelan jas formal itu memekik kepada para staff Blue House. “Bagaimana bisa kalian tidak tahu jika ada wartawan yang masuk ke ruang presiden, huh!”

Amarahnya sudah tak bisa dibendung lagi. Baru saja ia mendapatkan kabar kalau kemarin para Jaksa Seoul mendatangi Blue House dan hendak melakukan pemeriksaan tanpa ada pemberitahuan. Dan sekarang, dari puluhan wartawan yang sedang berdiri di depan gedung, ada satu yang bisa menyusup ke ruangan presiden? Luar biasa, bukan?

“Maaf, perdana menteri. Kami tidak bisa mengambil keputusan sebelum ada perintah—”

“Jika ada orang yang ingin menghancurkan Blue House, apakah kalian juga akan berdiam diri saja dan menunggu perintah?!” Suara bassnya semakin lantang. Ada saja masalah yang akan membuat moodnya buruk setiap hari. Belum lagi mengenai masalah Hanna dan juga Nara pagi tadi yang siap menghacurkan isi otaknya saat ini juga.

“Sehun,” suara sopran milik Joohyun menginterupsi. Ia menyadari ada sesuatu yang janggal dari sikap pria Oh itu setelah memberitahu bahwa Nara telah kembali. Namun, alih-alih senang, pria itu nampak begitu marah. Terbukti ketika kopi yang biasanya disiapkan terlalu pahit, pria itu memarahi office boy dan menyuruhnya pergi. Bukan hanya itu, hanya karena rapat tertunda sepuluh menit, Sehun juga marah dan tak jarang juga mengumpat—meskipun hanya sekedar bergumam. Tetapi, inilah puncak amarah yang bisa Joohyun rasakan terlalu kentara, pria itu memarahi langsung staff Blue House yang lalai.

“Tak perlu semarah ini, okay? Semuanya sudah diatasi dan kau sekarang harus menghadiri rapat petinggi negara. Apakah kau akan terus seperti ini dan membuang waktumu?” Joohyun mengingatkan. Sebagai sekretaris sementara dan juga juru bicara yang akan selalu melakukan apa yang Sehun butuh dan perlukan, ia mengetahui betul jadwal perdana menteri itu.

“Kejadian seperti ini tak akan terulang lagi. Mengerti?”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Sehun lekas keluar dari ruang keamanan Blue House. Langkahnya pun terkesan buru-buru, entah apakah Sehun ingin segera tiba di ruang rapat, ataukah pria itu sedang meluapkan emosinya. Joohyun yang awalnya membisu pun angkat bicara kemudian. “Kau egois, Oh Sehun!”

Teriakkan Joohyun tak terlalu keras. Didukung juga dengan koridor yang tak terlalu ramai seperti hari-hari biasanya. Gadis itu sudah tak bisa menahan marahnya. Langkah lebar Sehun pun juga ikut terhenti, sejurus kemudian berbalik. “Bukan berarti masalah pribadi bisa kau lemparkan kepada orang lain. Kau bukan orang yang seperti itu!”

“Lantas aku orang yang seperti apa?!” Sehun tak kalah marah ketika mendapat kritikan dari orang yang begitu ia percaya dan bisa ia andalkan. “Apa aku salah memarahi mereka disaat mereka lalai menjalankan tugas? Apakah aku salah ketika mereka—”

“Kau menjadikan kesalahan mereka sebagai peluang untuk melepaskan amarahmu. Itulah kesalahanmu!”

Joohyun terengah-engah setelah meluapkan segala kekesalannya pada Sehun. Sebelumnya, ia tak pernah seperti ini. Sebelumnya, sekalipun pria Oh itu marah, tak akan ada yang namanya pelampiasan amarah. Tapi, hanya karena wanita baru yang datang sebagai daftar musuhnya, pria itu berubah. Ia benci perubahan Sehun yang seperti ini. Ia muak!

“Kau bilang bisa membedakan mana masalah pribadi dan masalah negara. Sekarang, kau mengingkari apa yang kau ucapkan sendiri?” Joohyun kembali membuka suara setelah diam mendominasi beberapa menit yang lalu. Nadanya sudah tak lagi meninggi, begitupun dengan penekanan yang telah ia hilangkan untuk kalimat yang satu ini. Joohyun benci ketika perasaan Sehun begitu mudahnya berubah karena wanita lain. Baru beberapa hari yang lalu pria itu tersenyum, dan setelahnya kesal.

“Kumohon, tepati janjimu seperti yang sebelumnya.” Gadis bermarga Bae itu lekas mendekat, kemudian menepuk bahu lebar Sehun sebelum mendahului langkah pria Oh itu pergi entah kemana. Yang pasti, berada di samping Sehun selama ini hanya membuat lukanya semakin terkoyak dalam.

.

.

.

“Apakah ahjumma tidak bekerja karenaku?”

Nara menatap Hanna yang hanya menatap makan malamnya dalam diam. Sejak hening menyerang keduanya yang hanya menghuni meja makan besar itu, baik Hanna maupun Nara enggan membuka suara. Namun, setelahnya, gadis kecil itu memberanikan diri mengungkapkan spekulasinya sesaat setelahnya.

Hanna yang merasa diajak bicara pun lekas mendongak. Sendok yang tangan kanannya genggam pun diletakkan. Ia tak punya nafsu makan sedikit pun sejak kejadian tadi pagi. Ia juga menyuruh juru masak di rumah dinas itu untuk tidak mendekatinya saat memasak. Begitupula ketika ia ingin membersihkan kamar tidur dan ruang kerja milik Sehun. Ia ingin menghabiskan waktunya seharian hanya untuk mengalihkan pikirannya dari pria yang telah memporak-porandakan hatinya itu.

“Bukan,” sanggahnya. Segaris senyum tipis pun digambar di bibir guna meyakinkan. “Ahjumma hanya sedang malas saja,” tambahnya. Ia pun mengalihkan perhatian Nara dengan menanyakan apakah rasa masakannya enak. Namun, semuanya sirna begitu saja saat sosok jangkung pemilik rumah datang. Para pelayan yang ada di sekitar meja makan pun menundukkan badan sebagai sambutan selamat datang.

Berbeda dengan semua yang ada di sana, Hanna justru menatap Sehun lekat-lekat yang enggan menatapnya barang sepersekian detik pun. “Selamat malam, Nara-ah. Sudah merasa lebih baik?” tanyanya pada Nara sembari mengusap surai coklat putrinya. Satu anggukan pun gadis kecil itu loloskan, namun tak sepatah katapun ia ucapkan. Nara malah beralih menatap Hanna yang sepertinya sedih ketika menatap pria yang menjadi ayahnya itu.

“Ayah pergi ke kamar dulu. Selamat makan,”

Tujuh kata itu berhasil menjadi penutup sapaan formal pada malam itu. Hati Hanna remuk, semakin tak berbentuk. Pria itu kentara sekali menghindarinya—tidak! Pria itu bahkan mengabaikannya. Tak ada satu kata pun untuknya. Bukankah ini semua sudah jelas jika Sehun hanya memanfaatkannya untuk kepentingan pria itu sendiri? Apakah setelah ini, ia berani menginjakkan kakinya ke kamar Sehun?

Tapi, semuanya harus diluruskan. Jikalau Sehun memang benar hanya memanfaatkannya, ia lebih baik tahu secara langsung, daripada hanya berspekulasi. Tetapi, di lain sisi hati kecilnya ia mengharapkan Sehun akan menarik hatinya kembali dengan kata ‘maaf’, mungkin ia akan benar-benar kembali. Sayangnya, pengharapan itu tak pernah sesuai dengan kenyataan. Hanna terlalu berharap untuk masalah kali ini.

“Nara-ah, ahjumma ingin ke kamar sebentar. Tunggu di sini, ya?”

Setelah mendapat anggukan dari Nara, Hanna bergegas menaikki tangga, menghampiri Sehun di kamarnya. Ia bertekad akan membuatnya semakin jelas. Jangan membuat seseorang berharap terlalu banyak, jika kau tak bisa memberikan sedikitpun ruang untuknya.

Sesampainya di depan pintu, ia terdiam sejenak. Ingin rasanya kaki melangkah mundur dan pergi dengan ketidakpastian. Tetapi, otak dan hatinya tak sejalan. Tangannya justru memutar kenop pintu hingga menampakkan pria itu tengah membuka kancing teratas kemejanya.

“Sehun,” panggil Hanna pelan, nyaris tertelan angin. Jika saja pria itu mau membalikkan badannya untuk menatapnya sebentar saja, mungkin Hanna tak akan ragu lagi mengatakannya. Tapi, yang Sehun lakukan justru sibuk meneruskan kegiatannya berganti baju tanpa peduli dirinya yang tengah mengepalkan tangan di sisi tubuh—menahan tangisannya.

“Aku ingin berbicara sesuatu—”

“Katakan saja,” sahutnya cepat. Seolah tak peduli akan apa yang akan Hanna katakan. Pria itu akhirnya membalikkan badannya, setelah itu menatap Hanna dengan lekat. Kilatan amarah begitu kentara, hingga Hanna mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat selain iris coklat pekat itu. Jujur saja, itu membuatnya takut. Ia bahkan sempat merasa jika yang ada di hadapannya bukanlah Sehun yang ia kenal. Pria itu menjelma menjadi sosok asing dimatanya.

Tiba-tiba saja kalimat yang Hanna rancang tadi menguap entah kemana. Perlakuan yang Sehun berikan padanya terlalu menyesakkan hati. Sampai-sampai ia tak bisa berpikir barang sedikitpun. “Helena tadi siang ke sini, menjenguk Nara.” Kalimat inilah yang akhirnya keluar dari bibir Hanna.

“Aku tahu,” tukasnya, kemudian mengikis jarak. Langkah lebarnya mendekat ke arah Hanna yang masih diambang pintu dengan perlahan. Sesampainya di hadapan Hanna, pria itu mencengkeram bahu si gadis Kim dan menyempatkan diri menutup pintu. Ia tak mau jika ada orang lain yang mendengar pertengkaran mereka berdua. “Bukan itu yang ingin kau katakan, aku tahu.” Ucapnya, penuh dengan penekanan dan tepat sasaran. Sehun pun tak lupa menatap Hanna dalam-dalam.

Si gadis Kim itu lekas mencari alasan yang mungkin akan menghentikan tatapan mengintimidasi Sehun. “Aku akan tidur dengan Nara malam ini—”

“Malam ini kau akan tidur denganku,”

Sekali lagi, Sehun tak memberikan kesempatan Hanna untuk bernapas barang sekalipun. Hatinya malah semakin bingung. Pria itu sering sekali mempermainkan hatinya. Dari dulu sampai sekarang, tak ada perubahan sekalipun. Pria itu membawanya terbang ke angkasa, dengan hati yang berbunga-bunga. Kemudian menghempaskannya begitu kasar hingga ke dasar jurang. Terlalu sakit untuk diingat, sungguh.

“Kau membuatku bingung—”

“Kau yang lebih membuatku bingung.”

“Kau menyakitiku,” Hanna akhirnya berani menatap Sehun dengan begitu lekat. Ia menatapnya dengan penuh kekecewaan di dalam hatinya. “Lagi,” ucapnya lagi, yang justru membuat Sehun tak berkutik barang sekalipun. Apa yang Hanna katakan itu begitu menusuknya, menyadarkannya. Hanna mungkin memang menyakitinya. Tapi, ia tidak boleh menyakiti gadis itu lagi jika ingin memilikinya seumur hidup—itulah yang sumpah yang Chanyeol ajukan pada Sehun, dan pria itu menyetujuinya.

“Aku minta maaf,”

“Jangan meminta maaf! Katakan apa kesalahanku dan aku akan memperbaikinya.” Hanna menyela cepat. Ia tak suka dengan kata ‘maaf’, meskipun ia berharap itu sekarang. Kata itu hanya akan membuat amarah selesai, tidak dengan permasalahan yang ada. Kata itu juga Sehun ucapkan saat meninggalkannya dan menikah dengan sahabatnya sendiri. Itulah mengapa Hanna begitu membenci kata ‘maaf’.

Sehun hendak membuka bibirnya untuk menjawab. Namun, itu semua tertelan bersama oksigen yang ia hirup. Mengingat bagaimana Hanna lebih memilih Kai dan Chanyeol dibanding dirinya, itu saja sudah membuat undur diri. Semua itu sudah memukulnya telak, bahkan sampai tak bisa lagi bergerak. Impiannya untuk merubah, memiliki dan membahagiakan Hanna sudah sirna sekarang.

“Aku yang melakukan kesalahan. Maafkan aku,”

Bukan anggukan ataupun senyuman yang diberikan pada Sehun, Hanna justru menggelengkan kepalanya dan tertawa miris. Kedua tangannya menghempaskan kasar lengan Sehun yang ada di sisi tubuhnya. Perlahan, ia melangkah mundur dengan lemah, masih tak percaya jika Sehun bisa melakukan itu padanya. “Lihat? Kau sangat egois, Oh Sehun!”

Gadis Kim itu memalingkan mukanya. “Selamat malam. Tidurlah dengan nyenyak.”

.

.

.

Hari ini, Yoongi akhirnya diperbolehkan pulang. Pria itu begitu bersemangat segera kembali bekerja. Bahkan saking girangnya, pria itu sudah memakai jas dan sekarang mengikatkan dasi pada kerah kemejanya. Ia harus lekas kembali dan menjaga Sehun seperti biasanya, atau mungkin melakukan pekerjaan sampingan—sebagai sahabat yang mau mendengarkan apapun yang Sehun bicarakan.

“Baiklah, tuan gila kerja. Apa yang akan kau lakukan jika lukamu itu tidak sembuh, hm?”

Hyejin yang baru saja menyelesaikan administrasi pun mencibir. Prianya itu begitu keras kepala, apalagi jika mengenai pekerjaan. Terlebih ia tahu bahwa Yoongi harus meluruskan apa yang terjadi. Mungkin Sehun belum mengetahui perihal Yoongi yang akan didaftarkan dalam partai ayahnya. Karena sampai saat ini, pria itu maupun Hanna tak menanyakannya.

“Aku akan selalu datang ke rumah sakit dan bertemu denganmu. Bukankah itu bisa menjadi alasan yang bagus?” goda Yoongi dengan satu pelukan erat ia berikan pada pinggang Hyejin. Sedangkan si gadis Jung itu justru mendorong dada bidang itu, kendati tak sampai memutuskan rengkuhan si pria. “Terlalu pagi untuk melakukan sesuatu yang romantis, tuan.” Ujar Hyejin mengingatkan, dengan senyumnya yang mengembang, begitu pula hatinya yang sudah bermekaran seperti bunga di ladang gandum.

Yoongi pun menanggapinya dengan senyum simpul. “Cinta itu tidak mengenal waktu, kalau kau mau tahu.” Tukasnya sembari menatap Hyejin yang sedang membenarkan dasi hitamnya. Ia menyukai momen yang seperti ini, jarang-jarang Hyejin melakukannya. Jika seperti ini, bukankah berarti mereka sudah siap ke pelaminan?

“Selesai,” Hyejin mengusap lembut dasi Yoongi yang baru saja selesai ia ikat. “Mau berangkat sekarang?” tanyanya, kemudian mendongak guna menatap mata si pria. Dari cara Yoongi melihat ke arah matanya, ia bisa tahu bahwa pria itu begitu kalut. Di satu sisi, pria Min itu tidak bisa mengkhianati Sehun dengan mengikuti pemilu dan sebagainya. Tetapi, di sisi lain, ia juga tak bisa menjadi anak yang durhaka. Min Yoongi benar-benar sedang dilema. “Mengapa menatapku seperti itu?”

Mendapati pertanyaan Hyejin mengarah kepadanya, Yoongi pun kembali ke alam sadarnya. “Maaf, aku hanya sedang memikirkan sesuatu,” sahutnya, bingung hendak mengambil kalimat yang pas untuk menjadi alasan. Hyejin yang paham pun mengangguk, “Aku tahu kau bisa menyelesaikan masalah ini. Ambil-lah keputusan yang menurutmu sesuai dan lakukan. Aku percaya padamu,”

Setuju, Yoongi menganggukkan kepalanya, meniru gerakan sang kekasih. “Terima kasih sudah mempercayaiku. Aku tak akan membuang kesempatan ini begitu saja,” Satu kedipan mata pun diberikan, setelahnya ia mencium kening Hyejin lembut. “Aku pergi. Jangan merindukanku terlalu sering, okay?”

Hyejin yang kesal pun meninju perut pria di depannya, meskipun tak sampai hati membuatnya terluka. “Aku tak akan merindukanmu. Cepat sana pergi dan urus masalahmu. Aku tak mau menunggu,” tutur Hyejin dengan nada yang dibuat-buat, kemudian tersenyum lebar. Yoongi pun memicingkan mata sejenak, kemudian memeluk gadis itu erat-erat. “Aku akan pergi,” pamitnya.

Pria itu bisa merasakan si gadis mengangguk dalam pelukannya. “Aku pergi,” ulang lagi, membuat Hyejin jengah. “Pergi sana!” usirnya, namun setelahnya tersenyum dan melambaikan tangan di saat Yoongi berhasil menghilang dari pintu. Ia berharap Yoongi bisa menyelesaikan masalah dan segera kembali dengan membawakannya sebuah kebahagiaan.

.

Kediaman keluarga Min memang tak seperti biasanya. Sepeninggal ibunya beberapa tahun yang lalu karena bercerai dengan ayahnya, rumah itu tak lagi hidup. Yang ada, rumah itu hanya seperti sebuah bangunan tanpa ada kehidupan, meskipun banyak pelayan dan juga penjaga di dalam sana. Hanya nampak besar, dan kosong. Itulah yang bisa Yoongi gambarkan.

Sudah lama ia tak berkunjung. Mungkin setahun yang lalu? Well, ia memang sudah lama tak mengunjungi ayahnya dan barulah sekarang ia kebali menginjakkan kaki ke mansion itu. Sebagai seorang politikus yang terkenal, ayahnya memang mempunyai banyak aset dan juga perusaahan konstruksi sebagai kerja sampingan. Selain itu juga bisa dijadikan sebagai pemasukan modal untuk berkampanye.

“Selamat datang kembali, Tuan Muda Min.”

Sebuah sapaan tak asing itu membuatnya menoleh. Bibi Jeon yang tersenyum haru pun menatapnya. “Aku sudah menunggu lama sekali, Yoongi-ah. Mengapa baru kembali sekarang?” tanyanya, seraya menerima rengkuhan yang pria Min itu berikan. Memeluk wanita paruh baya itu memang memberian kenyamanan tersendiri padanya. Seperti seorang ibu kepada anaknya.

“Memangnya ahjumma benar-benar merindukanku, hm?”

Bibi Jeon tiba-tiba menarik tubuhnya dan mendengus kesal. “Aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri. Apalagi ini sudah satu tahun, Min Yoongi.”

Yoongi terkekeh setelahnya. Ia pun lekas mengedarkan pandangannya sejenak, menyisir setiap sudut mansion itu untuk mencari seseorang. Seolah paham dengan apa yang dicari tuan mudanya itu, Bibi Jung lantas memberitahu. “Beliau ada di ruang kerjanya. Pergi dan temui beliau.”

Tak menimpali dengan suara, pria Min itu hanya mengangguk dan mengambil langkah ke arah tangga. Menaiki anak tangga satu-persatu, sembari mengikuti pikirannya yang berkelana entah kemana. Ia harus menyelesaikannya semua permasalahan yang ayahnya buat, atau mungkin membuat kesepakatan—seperti yang sebelum-sebelumnya terjadi.

Suara pantofelnya berhenti ketika ia sampai di depan pintu jati dengan ukiran sulur-suluran yang menjadi favorit ayahnya sejak dahulu. Tangannya terkepal dan terangkat ke atas guna mengetuk, namun urung ketika mendengar suara wanita dari dalam sana. Yoongi pun menghela napasnya kasar. Apakah ditinggalkan oleh ibuku saja tidak cukup? Batinnya dalam hati.

Hampir berpuluh-puluh menit pria Min itu menunggu di sana. Seksama mendengar, kemudian ia menanggapi kendati dalam hati. Suara tawa dari sana pun menggema, dan tak lama kemudian muncul-lah si wanita bersama ayahnya. Bukankah Yoongi menjadi sosok hantu, penguntit dan penguping yang baik?

“Sejak kapan kau—”

“Selamat pagi, Min Yoongi-ssi.” Sapanya dengan begitu ramah. Yoongi tidak mengenalnya, maka dari itu ia merasa bahwa menjawab hanya akan membuang waktunya untuk melakukan konversasi bersama sang ayah. “Aku ingin bicara dengan ayah.” Ujarnya sembari menatap ayahnya, lalu mengalihkan tatapannya kepada wanita yang mungkin menginjak umur tiga puluhan di samping ayahnya.

Seakan tahu, wanita itu pun mengangkat tangannya, seolah menyerah dan mengalah kepada urusan keluarga itu. “Baiklah, aku akan pergi. Jadi, bisa kita membicarakan acara itu makan malam nanti?” usulnya, sebelum menurunkan kembali tangannya dan sekarang sedang menjungkitkan sebelah alisnya.

Pria berumur setengah abad itu mengangguk dengan wibawanya. “Tentu saja, aku akan menemuimu makan malam nanti.”

Setelah konversasi kecil itu selesai, Tuan Min lebih dulu masuk. Meninggalkan anak tunggalnya dan tak menayakan maupun menggubris perilaku tak sopannya tadi. Ia tahu, Min Yoongi bukanlah pria yang mudah ditumbangkan dengan sekali teriakan maupun pukulan. Yoongi terlalu teguh untuk memegang pilihan yang ia ambil.

“Ayah,”

“Katakan apa yang ingin kau katakan. Tak perlu membuatnya seperti karangan,” Tuan Min menyela lebih dulu, enggan berdebat lebih jauh, meskipun apa yang beliau lakukan ini justru membuat Yoongi sangsi untuk menundukkan kepala pada sang ayah. Pria yang menginjak kepala lima itu pun membelakangi sang putra. Berikut dengan nadanya yang teramat dingin, tak ada kesan berlembut hati.

Yoongi tersenyum miris di belakang punggung Tuan Min. “Keluarkan aku dari partaimu, ayah.” Ucapnya, dengan penekanan di setiap silabelnya, tetapi lebih menekankan pada kata terakhir. Ia jengah menghadapi keinginan sang ayah yang harus selalu dipenuhi. Ia bukan boneka, bukan juga pembunuh. “Berikan aku waktu untuk mendapatkan—”

“Waktumu habis, tahukah kau itu, nak?” Tuan Min berbalik, menatap nyalang sang putra yang tak becus melakukan pekerjaan. “Sejak kecelakaan putri dari Oh Sehun, juga ketika aku mengirim pembunuh bayaran. Dalam misi yang sama, membunuh gadis kecil itu dan membuat si perdana menteri itu gila,”

Yoongi terbelalak, kendati demikian ia menyamarkannya sebaik mungkin. Ia tak tahu untuk yang satu ini, karena ini berada di luar rencana dari sebelumnya. “Kau melanggar aturan main, aku pun juga begitu. Seri, bukan?” Beliau menjungkitkan sebelah alisnya, tatapannya kembali dingin dan tak berhati. “Apa kau pikir dengan melindungi Sehun, kau akan masuk ke surga? Setelah sekian lama yang kau lakukan padanya? Itu tidak akan!”

Suasana semakin mencekam sekarang. Ayah dan anak itu tak punya pikiran yang sama, kendati sang anak adalah darah daging sang ayah. Mereka berbeda, sangat. Maka dari itu, apa yang dilakukan Tuan Min, tak akan pernah sesuai dengan harapan juga keinginan Yoongi.

“Setidaknya aku masih mau membenarkan jalanmu, a-yah.” Suara bariton itu mengeja jabatan Tuan Min dengan penuh penekanan. Sekarang, ia benar-benar membenci ayahnya, sa-ngat!

“Dendam itu tak akan menyelesaikan masalah. Jika ayah mau membuat dia menyesal, buka saja semua masa lalunya. Selesai, bukan? Membunuh tak akan membuat hidup ayah tenang!” Yoongi naik pitam. Kesabarannya sudah habis. Sehun tak melakukan kesalahan apapun, dia bahkan pria yang baik. Apalagi, orang yang hendak menjadi tujuannya sudah menghadap sang kuasa. Lantas, untuk apa lagi melakukan balas dendam.

Tuan Min terkekeh geli. “Sedang mengajariku cara hidup, nak? Aku hidup lebih lama darimu—”

“Dan mungkin lebih cepat mati dariku.” Sahut Yoongi sengit. Pria Min itu melipat tangan di depan dada, enggan memikirkan apa itu yang namanya sopan santun. Untuk orang tua yang pemikirannya dangkal dan hatinya tertutup oleh kabut dendam, tak ada rasa rendah sedikitpun. “Hentikan semua dendam ini, ayah.” Tangannya pun turun, mencoba membuat kelembutan dari

Kerutan di dahi berkat amarah Tuan Min pun memudar. Ada seberkas ide bagus yang terlintas dibenaknya ketika mendengar harapan anaknya itu. Beliau pun tersenyum tipis, begitu samar dan tak terlalu nampak. Batinnya bersorak gembira. “Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau minta.”

Min Yoongi menatap ayahnya penuh harap. Tetapi, ia juga tak bodoh jika ayahnya akan meminta balasan, sesuai pada apa yang beliau lakukan. “Dengan syarat, kau akan mengikuti pemilihan gubernur periode tahun ini. Penawaran yang bagus, bukan?”

Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Ia bukan semacam pengkhianat maupun orang brengsek yang mengingkari ucapannya. Sehun sudah berulang kali menanyakan padanya apakah dirinya berminat dalam bidang politik, kendati itu adalah penawaran yang menggiurkan, Yoongi tetap bersikeras enggan mengikuti jejak sang sahabat yang telah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.

Sekarang, ia akan mengikuti pemilihan? Bukankah itu sama saja dengan menjilat ludahnya sendiri?

“Tidak, aku tidak akan melakukannya!”

“Sebagai gantinya, Sehun beserta anaknya tak akan selamat.”

“Ayah!”

“Kau yang menentukan kelangsungan hidup mereka, Yoon.”

.

.

.

Tak ada pembicaraan. Tak ada pula yang memulai pembicaraan. Sehun masih setia dengan keterdiamannya, sedangkan Hanna masih sibuk memendam amarah. Nara yang seolah menjadi penengah pun jengah. Ia bosan melihat orang yang katanya adalah orang tua berdiam diri semacam ini.

Ahjumma, nanti jemput aku, ya?” Nara mencoba mengubah suasana pagi di atas meja makan.

Hanna pun menoleh, lekas menyahut putrinya tersebut. “Tentu,” sahutnya singkat, kemudian beranjak dan memasukkan bekal makanan ke dalam tas si kecil. Mencoba mencari kesibukan agar tak berpikir terus-menerus mengenai pria Oh itu. Baiklah, kalimat Nara yang satu itu belum berhasil.

“Ayah,” Kini, Nara beralih kepada ayahnya. Sehun yang sibuk membaca laporan pun mendongak. Menatap si gadis kecil sembari menunggu kalimat selanjutnya. “Aku ingin ayah juga menjemputku,” ia berharap dengan nada memohon yang sungguh menggugah hati nuraninya. Ingin rasanya Sehun melakukan itu, tetapi Nara sudah terlebih dulu memintanya kepada Hanna. Itu berarti, ia akan bertemu dengan gadis Kim itu di sekolah Nara.

“Ibu akan menjemputmu hari ini. Dan ayah akan menjemputmu besok,” tolaknya dengan halus.

Hanna yang mendengar percakapan itu pun tiba-tiba terdiam seribu bahasa. Sehun tadi menyebut Hanna apa? Ibu? Well, jujur saja ada banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya dan rasa geli itu menjalar ke seluruh tubuh hingga jantungnya pun berdegup dengan kencang. Kendati demikian, ia masih saja mengingat apa yang terjadi semalam—mengingat itu adalah pertengkaran terberat sepanjang masa, menurutnya. Maka dari itu, ia memilih bungkam untuk yang kesekian kalinya.

Sehun pun bangkit. “Ayah akan berangkat,” ia berjalan mendekati Nara dan mencium kening gadis kecil itu dengan lembut, kemudian melepaskannya. Langkah panjangnya pun meregas jarak menuju pintu keluar, tetapi tertahan ketika mendengar pekikkan Nara tiba-tiba.

“Ah, perutku sakit!”

Sontak, baik Hanna maupun Sehun berlari dan mendekati Nara dengan wajah cemas. “Gwenchanha?” tanya keduanya ketika tangan satu sama lain mencengkeram lengan mungil itu. Hanna yang pertama sadar, kemudian disusul oleh Sehun yang paham akan keheningan yang menghinggap tiba-tiba. Keduanya pun lekas menarik tangan masing-masing dan berdehem.

“Masih sakit?” Suara Sehun menanyakan kembali kondisi si kecilnya. Bukannya menjawab, Nara justru tersenyum dan meraih tas kecilnya di kursi sampingnya. “Tidak,” Nara turun dari kursi dan membungkukkan badannya. “Aku berangkat dulu,” ujarnya.

Tentu saja Sehun membulatkan mata, begitu juga dengan Hanna. Apakah Nara baru saja membohongi kedua orang tuanya?

Belum selesai dengan spekulasi tersebut, ponsel Sehun berdering memecah keheningan yang tercipta antara dirinya dan juga Hanna. Ia pun lekas menerimanya dan mendengarkan dengan baik apa yang diseberang line sana katakan. Sesekali ia mendesah kesal, kemudian mengacak rambutnya yang sudah tertata rapi.

“Baiklah, terima kasih.”

Sehun melirik sebentar Hanna, tetapi tak ada yang ia bicarakan. Karena, setelahnya ia justru melangkah pergi dan meninggalkan Hanna sendiri. Oh, apakah Sehun akan terus seperti itu kepada dirinya—Hanna membatin dengan sesak yang memenuhi dada. Tetapi, mereka sudah terikat dengan janji suci, sehingga mundur bukanlah pilihan yang baik.

“Nyonya, apakah Anda akan berangkat kerja?”

Jung ahjumma tiba-tiba datang dan menanyai Hanna. Gadis Kim itu pun mengangguk. “Mungkin setengah jam lagi, memangnya ada apa, ahjumma?” ia pun menimpalinya dengan pertanyaan. Wanita paruh baya itu terdiam sebentar, namun tak lama kemudian menyahut, “Saya sudah bekerja selama tiga tahun dan mengenal betul Tuan Oh. Beliau sangat mudah marah, meskipun tak pernah secara langsung mengungkapkannya. Maka dari itu, jika ada keadaan mendesak seperti ini, beliau pasti akan meminta bantuan.”

Hanna terlonjak kaget. “Keadaan mendesak? Sehun baik-baik saja, ‘kan, ahjumma?”

Jung ahjumma tersenyum. “Beliau baik-baik saja, nyonya. Hanya saja nanti Tuan Oh akan menghadiri peresmian pendirian hotel rekannya. Dan Anda tentu saja diundang bersamanya,” terangnya. “Tetapi—bukan saya ingin mencampuri masalah Anda dan Tuan Oh—sepertinya Anda mempunyai masalah. Oleh karena itu, Tuan Oh meminta tolong Saya untuk menyampaikannya. Terkadang, beliau bisa menjadi sosok pria dewasa yang selalu dipuja. Namun, beliau juga bisa menjadi sosok remaja yang emosinya belum stabil.”

Dewi batin Hanna pun menggeram senang sekaligus membenarkan pernyataan Jung ahjumma. Itulah Sehun, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. “Jam berapa acaranya akan dimulai, ahjumma?” ia pun kembali mengajukan pertanyaan untuk menyesuaikan dengan jadwal operasinya hari ini.

“Jam tujuh malam beliau akan datang menjemput Anda di rumah.”

Hanna mengangguk dengan antusias—ia begitu senang. “Terima kasih, ahjumma. Katakan padanya aku akan datang.” Ia berbalik untuk kembali ke kamar dan menyiapkan keperluan kerjanya. Tetapi, ia memutar tubuhnya menghadap Jung ahjumma dan mengangkat jari telunjuknya ke udara. “Oh, iya, ahjumma. Panggil saja aku Hanna. Aku tidak suka dipanggil nyonya atau sebagainya. Aku masih muda, tahu. Anggap saja aku seperti anak sendiri,”

Beliau pun tersenyum. “Baiklah,”

.

.

.

“Chan, kira-kira bagus yang ini atau yang ini?” Hanna menunjukkan dua dress yang ia genggam dengan masing-masing tangannya. Chanyeol pun memutar irisnya kesal. Sudah enam kali gadis Kim itu menanyakannya, itu berarti sudah ada dua belas baju yang ia bandingkan. Dan yang paling menyebalkan, ketika ia mengatakan bahwa gaun itu bagus, maka Hanna akan mengatakan—

“Berarti gaun ini jelek,”

—itu. Chanyeol menyesal menerima ajakan makan siang Hanna dan sekarang malah terjebak bersama ibu-ibu yang sedang berbelanja. Karena, pantang baginya untuk menemani wanita berbelanja. Mereka sering sekali lupa waktu—atau yang paling menakutkan, mereka lupa segalanya.

“Chan, kau mau aku membelikannya untuk Hyerim?”

Pertanyaan itu menusuk tulang rusuk dan ulu hatinya. Mengapa Hanna tiba-tiba bertanya seperti itu? Batinnya mengutarakan keterkejutannya. “Tidak perlu,” sahutnya mencoba baik-baik saja, padahal hatinya mengatakan tidak.

“Tidak apa-apa. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku padamu yang mau menemaniku berbelanja.” Hanna semakin mendesak Chanyeol untuk menerima hadiah ucapan terima kasihnya.

“Ehm, itu—aku sudah putus dengannya.” Ia akhirnya jujur mengatakan pada Hanna apa yang terjadi.

Jika sudah seperti ini, Hanna maka akan mematung dan terdiam seribu bahasa. Beban akan selalu datang disaat pengakuan Chanyeol yang serupa seperti itu menggema dalam telinganya. Otaknya pun selalu berspekulasi, apakah dirinya penyebab mereka memutuskan hubungan itu. Pasalnya, dari semua mantan pacar Chanyeol, mereka mengatakan bahwa sebab keretakan hubungan mereka adalah karena dirinya.

“Chanyeol,”

Pria itu menggeleng. “Bukan karenamu, percayalah. Kami memang tidak nyaman akan satu sama lain. Itu penyebabnya,” Park Chanyeol membenarkan, dan Hanna tak percaya. Selalu seperti itu. Chanyeol pernah berbohong sekali dalam hal yang sama, dan akan terus berbohong untuk hal yang sama. Maka dari itu, Hanna sangat sulit untuk kembali mempercayainya. Karena itu bukan yang pertama kalinya.

Hanna menatap Chanyeol lekat. “Kau tidak berbohong, bukan?”

Sekali lagi, Chanyeol menggelengkan kepalanya. “Yang merah maroon bagus. Aku rasa Sehun juga akan menyukainya.” Ia mengalihkan pembicaraan. Hanna pun membenarkan dan memanggil pegawai untuk melakukan pembayaraan. “Aku juga akan mengambil kemeja warna blue-grey tadi. Terima kasih,” ucapnya ketika satu tangannya mengulurkan kartu kredit. Pegawai tadi lantas menerima, kemudian pergi.

“Untuk Sehun?” Chanyeol membeo. Sepersekian detik kemudian, ia baru menyadari kalau dirinya menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya. Hanna pun menoleh, dan menjawab, “Aku rasa pertengkaran kami semalam itu benar-benar mengganggu. Dan aku ingin memperbaiki semuanya, sekarang.”

“Kalian bertengkar?”

“Bukankah itu biasa dalam hubungan rumah tangga. Mungkin suatu saat kau juga akan seperti itu ketika sudah menikah.” Ia tersenyum, setelahnya menepuk bahu lebar si pria Park itu dua kali. Terbiasa dengan keakraban yang terjalin, Chanyeol dan Hanna pun memang seringkali menguatkan satu sama lain seperti ini.

Jujur saja, Chanyeol tidak rela jika Hanna harus menderita dalam pernikahannya. Karena, itu semua, dirinya-lah yang menjadi penyebab. Karena permintaannya Hanna menikah dengan Sehun dan mendapatkan masalah seperti ini. Sebenarnya, ia akan membuka kedua tangannya jika Hanna ingin mencari sandaran saat sandarannya sendiri hilang. Tak apa, asalkan Hanna bahagia, dan itu karenanya.

.

.

.

Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Suara napasnya tersenggal-senggal dengan detak jantung yang bekerja dua kali lebih cepat. Kedua alisnya pun berjungkit ke atas, dahinya bergurat tanda emosi yang begitu kentara. Apa yang ia lihat sekarang bukanlah sebuah khayalan, melainkan sebuah spekulasi yang menjadi kenyataan.

Sehun melihat sendiri Hanna dengan Chanyeol. Catat itu!

Mereka bahkan saling bertukar senyum. Tatapan yang Hanna berikan kepada Chanyeol begitu teduh hingga membuatnya tak bisa lagi bernapas. Apalagi diperkuat dengan tepukan yang Hanna lakukan kepada bahu pria Park itu. Benar-benar menyedihkan!

Ketika dirinya ingin sekali memperbaiki hubungannya dengan Hanna dengan berinisiatif membelikan gadis itu gaun, kini ia malah mendapati istrinya berdua bersama mantan pacarnya. Apa yang harus Sehun lakukan sekarang?

.

.

.

.
Hai!
Setelah  nyadar ini adalah bulan Maret dan yang chap terakhir di post adalah bulan Februari, maka aku lanjutin nih FF. Mungkin dari kalian semua (baik siders maupun enggak) merasa bosen dengan FF yang enggak tahu kapan kelarnya. Aku aja yang nulis juga gak tahu kapan kelarnya.
Oleh karena itu, aku minta saran yang mendukung; apakah dilanjutkan sedikit lebih lama atau malah disudahi? Karena, setelah 1435, aku bakal bikin sequel buat Take It Slow yang judulnya bakal berubah tapi masih ngelanjutin ceritanya. Kan yang terakhir sungguh ngegantung banget, jadi aku bikin lagi. Semoga yang ini juga gak bikin bingung.
Akhir-akhir ini aku blank banget. Boleh curhat gak sih? Boleh ya 😀
Mungkin karena aku yang gak bisa bagi waktu, nilaiku hancur sudah berkeping-keping. Dari 16 mata pelajaran yang ada, gak ada satupun yang aku suka. Kalaupun itu sastra Indonesia ataupun sastra inggris, gak ada yang menarik perhatian. Padahal aku suka banget sama yang namanya sastra. Orang tua udah menyerahkan semuanya ke aku, bilang kalau terserah aku mau ambil jurusan(kuliah) apa aja. Yang penting bisa kerja. Sedangkan otakku udah buntu mau kemana, karena pemikiran awal pengen kedokteran, eh malah masuk ke kelas bahasa.
Mulai dari situ, aku mengembangkan bakat menulisku yang absurd and jelek ini buat masa depan. Pernah gak sih kalian juga merasakan yang seperti ini? apalagi buat kakak-kakak yang lebih senior dari aku? Dilema karena jurusan?
Dan alasan ini juga, aku sering banget molor update. Buat yang punya saran, please berikan aku pencerahan. Thanks for read my problem 😀
Advertisements

26 thoughts on “1435 #10 —PutrisafirA255”

  1. WAH AKHIRNYA NIH FF KELUAR (maaf capslock jebol). Ayo hun tahu bulat panasin lagi jangan dingin gitu dong #lah? Yah jangan berhenti sampai sini kak, lanjut kak biar kaya tahu bulat (tijel). Saran nih ya kak, kalo sesuatu pekerjaan yang gak diikutin kata hati hasilnya percuma, kalo udah bulat dengan pekerjaan itu pertahankan, tapi kalo nyangkut masalah tuntutan orang tua ya agak susah. Tapi hati terima aja, bawa enak aja nanti juga enak yang penting mah percaya diri aja udah gitu aja kata tahu bulat mah sekian, semangat kak! 😁

    Like

    1. Salam tahu bulat!👍

      Sehun mah orangnya gengsian😂
      .
      Makasih lo buat sarannya. Faedah sekaleee #tahu_bulat Cuma lagi bingung aja kenapa nilai do-re-mi dan gak punya minat kemana-mana. Mungkin juga karena pengangguran dirumah😁 kk kls lg ujian.
      .
      .
      .
      Thanks for commented😚

      Liked by 1 person

  2. AKHIRNYAAAAAA UPDATE LAGIIIIII👌👌👌
    Kenapasih sehun tuh bikin orang kesel mulu. Sayang sama hanna mah tunjukin jangan egois gitu dasar alay😒
    Banyakin part sehun sama hanna donggg btw aku rada bingung baca yang politik eheh maklum aku bukan anak politik😂
    Fighting eonnieeee

    Like

    1. Sehun orangnya gengsi-an. Pura-pura ada udang padahal udah dimakan/eh🤔 tunggu chap depan, ya. Manis-manisnya ada di sana kok. Yang penting jangan sampe diabetes aja👍
      .
      Thanks for commented😚

      Like

  3. Sehun tuh yaakkk, ih gregetttttt wkwkw kasian banget smaa si hana 😦 kan dia ga tau apa apa, tau tau dimarahin, ih gue mah ga kuaad digituin hun 😥 duh lanjutin aja yak dee, ini bagus koo ff nya, aku suka bbaget 🙂 sehun pkonya harus baek baek sama si hanna, jangan digantungin ya say 🙂

    Btw kalo saran aku cari aja jurusan lain. Kalo emng ga minat di kapel sekolah, tenang aja, kuliah prodi nya banyak koo. Kamu kan suka nulis, masuk aja jadi anak jurnalistik, sru loh, bisa kerja di tv, broadcaster, dll. Udah gitu nyambung banget sama hobby kamu yg suka nulais pasti nanti kuliahnya juga bakalan fun dan ga malesin deh. Itu aja sii. Lanjut soon yakk, aku tunggu sangat 😂

    Like

    1. Aku sering juga mendapat praduga seperti Hanna😥/enggak juga, sih😂
      .
      Makasih buat sarannya, sunbaenim😊 kalo orang tua nganggepnya itu kerjaan gak terlalu menguntungkan dan masih sedikit tabu. Kebanyakan orang tua pasti pengennya jadi dokter kalo gak guru. Makanya itu, lagi bingung aja gimana caranya supaya orang tua paham. Once again, thank you😚👍

      Liked by 1 person

  4. Aduuhhhhh… knapa jadi berantem mereka dikirain bakal baik baik aja 😱😱
    Ayahnya yoongi jahat juga sebenernya dendam apa sih yg melibatkan sehun aku bingung 🤔🤔, nara bisa aja nih bercanda nya bikin Hanna ama Sehun bisa barengan gitu wkkwkwkkwk 😁😁😁
    Wahhh kita sama author ku juga pernah ngalamin gitu, tpi menurut ku author hebat loh udah bikin ff keren dan ceritanya bagus kyk gini, dan bisa menuangkan nya dalam bentuk tulisan, aku aja yg kpikiran apa apa susah buat nuanginnya dalam bentuk cerita atopun tulisan sekalipun… Yg lebih penting diliat dari usahanya…
    Pokoknya semangat terus thor kita disini nunggu karya2 author selanjutnya… 😄😄😄 hwaiting…. 💪💪💪💪👏👏👏👏🙋🙋🙋😁😁😁👍👍👍
    Oh ya Author-nim boleh minta izin baca ff yg Take it slow???

    Like

    1. Daebak! Panjang amat feedback-nya😮 makasih buat semangatnya. Aku jadi terhura😲 eh, terharu maksudnya😂
      .
      Silahkan dibaca, entar kalo mengecewakan jangan salahkan aku ya😃 /kabuur
      .
      Thanks for commented😊

      Like

  5. Salah satu cara nya adalah dengan sehingga ngmng langsung ke Hana aja gak udah pke diemin segala ,malah jadi salah paham ……Menunggu part sweet Hanna sama sehun😂😂😂

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s