1435 #11—PutrisafirA255

91 copy

1435—Heal Me Then

.

Story from PutrisafirA255

.

Cast

Oh Sehun-Kim Hanna

Byun Baekhyun- Helena Jung

Other Cast

Jung Hyejin-Min Yoongi

etc

.

Genre

Marriage Life, Romance, AU, Fluff, Drama, Family, etc.

.

PG-16

.

Hope you like it and give me comment as appreciation

.

PutrisafirA255©2016 | Blackandwhite

.

Prolog  #1 [Restart] | #2[Propose] | #3 [Could I?]

| #4[The Past] | #5 [The Wedding] | #6 [After Many Years] | #7 [The Secret]

| #8 [Jealously] | #9 [Bad Dream] | #10 [Look at Me!] |

|#11 [Heal Me Then](NOW)

.

.

.

 

Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Suara napasnya tersenggal-senggal dengan detak jantung yang bekerja dua kali lebih cepat. Kedua alisnya pun berjungkit ke atas, dahinya bergurat tanda emosi yang begitu kentara. Apa yang ia lihat sekarang bukanlah sebuah khayalan, melainkan sebuah spekulasi yang menjadi kenyataan.

Sehun melihat sendiri Hanna dengan Chanyeol. Catat itu!

Mereka bahkan saling bertukar senyum. Tatapan yang Hanna berikan kepada Chanyeol begitu teduh hingga membuatnya tak bisa lagi bernapas. Apalagi diperkuat dengan tepukan yang Hanna lakukan kepada bahu pria Park itu. Benar-benar menyedihkan!

Ketika dirinya ingin sekali memperbaiki hubungannya dengan Hanna dengan berinisiatif membelikan gadis itu gaun, kini ia malah mendapati istrinya berdua bersama mantan pacarnya. Apa yang harus Sehun lakukan sekarang?

Alih-alih marah, Sehun justru malah berbalik dan keluar. Niatannya untuk membelikan Hanna sebuah gaun berwarna peach pun siran sudah. Akal sehatnya tak mau diajak kompromi untuk mencerna kebenaran dan mencari kebenaran itu juga. Tangan kanannya lekas membuka pintu mobil dengan tergesa. Kemudian menutup pintunya keras, hingga bunyi yang memekakkan telinga yang tercipta pun memenuhi mobil.

Apa salahku? Itulah yang sedari tadi Sehun pikirkan. Guratan amarah yang tercipta di dahi pun tak bisa lekas hilang. Bibirnya berubah menjadi garis tipis, mengulumnya kuat-kuat. Meredam amarah yang memuncak ketika dirinya sedang dalam kawasan umum. Tidak bagus menurunkan martabatnya ketika semua orang sedang membicarakan dirinya.

Suara dering ponsel lima inci-nya mengganggu. Ia mengumpat begitu keras, sungguh. Hanya saja, itu semua teredam berkat mobil milikinya. “Apa?!” pekikknya marah. Ia tak sempat melihat siapa yang menelpon, begitu pula dengan basa-basi khas perdana menteri.

“Maaf, jika aku mengganggu. Aku tahu kau sedang marah karena salah paham.”

Seketika Sehun terdiam. Pria itu membisu untuk sepersekian detik, sebelum menengok ke sisi kanannya. Ya, tentu ia tercengang. Pasalnya, itu adalah orang yang memporak-porandakan hatinya. Orang yang bisa membuatnya hilang kendali ketika di hadapannya. Orang yang selalu menjadi tempat tujuannya untuk menjaga. Dan sekarang, semua amarahnya menguap entah kemana.

“Bisakah aku masuk? Di luar benar-benar dingin.”

Dan di detik kemudian Sehun kembali ke alam bawah sadarnya. Ia marah. Tapi, bukan berarti itu mencegah tangannya untuk membuka pintu penumpang. Ia tak bisa membiarkan istrinya kedinginan di tengah musim salju yang masih melanda. Februari yang dingin dan penuh dengan masalah. Tangannya pun tergerak menekan tombol guna memberikan akses penuh pada gadisnya.

Hanna pun tersenyum, kendati sedikit nampak miris. Tungkainya segera berjalan, kemudian masuk. Tak lupa, ketika keduanya sudah dalam satu waktu dan satu tempat, ia mematikan sambungan teleponnya. Itu sebenarnya hanya gesture yang Hanna ciptakan untuk menghilangkan kecanggungan. Sayangnya, kecanggungan tak bisa dihindarkan.

“Hanna—” Sehun hendak membuka percakapan, namun urung ketika Hanna lebih memenangkan interupsi yang ia lakukan. “Kau marah. Aku tahu.” Sahutnya tak mengindahkan apa yang akan Sehun katakan. Ia takut sebenarnya ketika melihat punggung suaminya itu menjauh dari jangkauan irisnya. Dan otak pandainya pun sudah bisa menebak apa yang terjadi; Sehun melihatnya berdua dengan Chanyeol, sedangkan dirinya sendiri tahu kalau pria Oh itu sangat membenci si jangkung.

Satu alis milik Sehun berjungkit.

“Maka dari itu, mari selesaikan layaknya pasangan suami—tidak! Seperti pria dan wanita yang dewasa.” Hanna mengubah hubungan keduanya. Karena, ia tiba-tiba mengingat semua hubungan itu berawal. Terdengar seperti sebuah paksaan, atau mungkin sebagai balas budi. Entahlah, Hanna tidak tahu tujuan apa yang Sehun capai ketika berhasil menikahinya.

“Kau istriku. Dan akan selalu seperti itu,”

“Tahukah kalau kau itu egois? Bajingan tengik yang menyebalkan,” sahut Hanna tanpa takut, ia masih saja mengandalkan keberanian kecilnya. Sehun membulatkan bibirnya membentuk huruf ke lima belas dalam alphabet. Ia begitu terkejut saat gadis di hadapannya kembali ke bentuk aslinya. “Aku bajingan tengik yang menyebalkan? Lalu, bagaimana denganmu? Kau wanita yang selalu berpergian dengan pria lain. Padahal suaminya sendiri sangat tampan,”

“Pria tampan? Kau menyinggung dirimu sendiri?” tanya Hanna seolah jijik. Padahal, dalam hati ia membenarkan. Si pria Oh itu menggendikkan bahunya acuh. “Kau baru saja mengakui ketampananku,” Sehun menyanggahnya dengan tepat sasaran. Terbukti ketika Hanna menutup bibirnya yang hendak menginterupsi kembali. Memangnya, siapa lagi suami Kim Hanna?

“Terserah,” ia tak mau bertengkar lagi. “Yang terpenting, aku tidak selingkuh dengan siapapun. Aku tidak menyukai Chanyeol.” Ia akhirnya mengujarkan poin penting dari inti permasalahan. Tapi, bukan hanya itu yang menjadi fokus dalam otak cerdas si pria bermarga Oh itu. Melainkan pria yang kini tengah ada di New York. “Bagaimana dengan pria hitam itu?” Sehun mendesak, ingin mengetahui jawabannya dengan segera.

Hanna mendelik sebal. “Dia punya nama, Oh Sehun!”

“Kau membelanya,” Sehun tak tinggal diam.

“Kau yang memulai pertengkaran ini,” Hanna mengingatkan.

“Bagaimana dengan Kai-mu itu. Katakan padaku,”

Hanna terdiam sejenak. Membiarkan Sehun berkelana dengan ketakutan dan juga kegelisahannya yang tengah melanda. Diam-diam, gadis Kim itu menikmati bagaimana raut tampan milik suaminya yang was-was. “Aku memang menyukainya.” Tukasnya, nadanya nampak merasa bersalah. “Tapi, aku tidak mencintainya. Di dunia ini, aku hanya mencintai seorang pria saja, tak lebih.” Sahutnya lagi, sebelum air mata pria Oh itu membasahi pipi. Dasar aktor drama! Cibir Hanna dalam hati.

“Aku?” sahut Sehun tak sabar dan penuh harapan.

Bukannya mengangguk ataupun membenarkan melalu kode non-verba lainnya, Hanna justru menggelengkan kepalanya. “Ayahku,” tukasnya dengan nada yang begitu serius. “Dia laki-laki yang sangat pintar dan berwibawa. Sama sepertimu, kalau saja tidak sedang terbakar api cemburu.”

Sehun mendengus, Hanna pintar sekali memainkan perasaannya dengan kata-kata yang bisa membuatnya terbang ke angkasa, kemudian menjatuhkannya tepat di dasar jurang. Tetapi, dari kalimat yang baru saja diutarakan itu, Sehun memahami pujian yang Hanna sematkan untuknya.

“Ini untukmu,” ujar Hanna sembari menyerahkan tas belanjaan yang ia bawa sebelum masuk ke mobil. “Aku membelinya tadi untukmu. Awalnya aku ingin membuat itu sebagai kejutan dan menjadikannya sebagai permintaan maafku. Tapi, karena Tuan Pencemburu Oh Sehun salah sangka, aku akan memberikannya sekarang.”

Sehun segera menerima tas itu dan mengambil isinya. Mengamati dengan seksama, lantas tersenyum hingga matanya membentuk setengah bulan purnama. “Aku suka warnanya,”

“Kemejamu di walking closet semuanya berwarna putih. Mungkin besok aku akan membelikanmu jas warna kuning agar kau tak bosan,” ujarnya dengan sikap seolah sedang mengingat dan merancang sebuah kegiatan untuk keesokan harinya. “Bagaimana menurutmu?”

“Aku lebih suka warna hijau untuk celanaku,” celetuk Sehun menyumbang suara untuk ide gila istrinya. Dan tak lama kemudian, keduanya tertawa renyah antara satu sama lain. Tak ada lagi permusuhan, begitu pula dengan amarah dan kecemburuan tak berdasar. Meskipun Hanna masih memiliki banyak pertanyaan pada Sehun, ia enggan merusak hubungannya. Jika waktu sudah mengizinkannya, maka itulah saatnya.

“Aku harap kita akan seperti ini sampai tua nanti,” Sehun berharap dan Hanna menyetujuinya. Kebahagiaan seperti inilah yang ia dambakan dalam keluarga kecilnya. “Aku juga berharap demikian.”

.

.

.

Nara menatap wanita di depannya dalam diam. Wanita itu datang lagi dan ia merasa tidak nyaman. Jujur saja, sejak kedatangannya pertama kali ke rumah dan mengatakan bahwa dirinya adalah ibu kandungnya, Nara tak suka.

“Ikutlah bersama eomma.” Ujarnya dengan penuh harap. Inilah saatnya untuk mengambil Nara dari Sehun, di saat pria itu tak ada di rumahnya. Tetapi, sejak ia membujuk dua puluh menit yang lalu, jawabannya tetap sama. “Aku ingin di sini dan tak mau ikut dengan ahjumma!” teriaknya.

Di saat yang bersamaan, Sehun dan Hanna datang dari pintu utama. Keduanya mendengar teriakan Nara dan lekas berlari mencari ke arah sumber suara. Dan di saat itu juga, Sehun memekik pada Helena dengan kasarnya. “Apa yang kau lakukan di rumahku?!”

“Nara!” Hanna kalut. Ia pun segera memeluk Nara dan menayakan bagaimana keadaan si gadis kecil itu. “Kau baik-baik saja, Nara-ah?”

“Aku ibumu, Oh Nara. Kau seharusnya ikut dengan eomma!” Helena mengingatkan. Hatinya begitu sakit di saat anaknya malah memilih wanita lain dibanding dirinya. Belum lagi mengenai marga yang ia panggil. Mengingatkannya kepada Sehun yang sempat menjadi suaminya.

Nara melepaskan pelukannya dan berteriak sekali lagi pada Helena. “Ahjumma bukan ibuku. Ibuku bernama Kim Hanna. Kau bukan ibuku!”

Iris coklat Hanna membulat sempurna. Pernyataan yang dikumandangkan dengan begitu lantangnya berhasil meluruhkan akal sehatnya sekarang. Sebelum-sebelumnya hingga pagi tadi Nara memanggilnya ahjumma. Dan sekarang ia memanggilnya ibu? Hanna tak bisa percaya semua ini.

Berbeda dengan Hanna maupun Sehun yang satu pikiran, Helena justru bungkam dan semakin tak percaya. Gadis kecil itu berasal dari rahimnya. Ia mempertaruhkan nyawanya demi melahirkannya ke dunia. Lantas, mengapa sekarang Nara malah tak memilihnya? Apa ini karena pengaruh yang Hanna berikan?

“Apa yang kau lakukan pada anakku, Kim Hanna?!” Helena tak bisa tinggal diam. Kebenciannya semakin membesar seiring dengan apa yang dilakukan gadis Kim itu. Tak peduli persahabatan yang pernah terjalin, karena semuanya sudah bukan lagi seperti dulu.

Mendengar Hanna disudutkan, Sehun pun lekas membela. “Ini semua karenamu sendiri, Helena. Jika saja kau bisa bersikap dewasa dalam masalah kita, mungkin Nara akan tetap memilihmu. Tetapi kau dengan seluruh egomu yang sudah merubahnya.”

“Jika kau tak masih mencintai Hanna, mungkin kita bisa memiliki hubungan baik sebagai keluarga. Seharusnya kau menyadari itu, Oh Sehun!” Helena tak mau dipersalahkan dalam semua dampak yang terjadi. Jika satu pihak tak merusaknya, maka pihak lain pun tak akan melakukannya. Itulah caranya Helena Park menyikapi hidup.

“Kau belum bisa merenungi kesalahanmu, akan lebih baik kau pergi dan akui kesalahanmu sendiri. Karena aku tahu kau tak akan pernah mengakui kesalahanmu.”

Merasa diusir dari perdebatan, Helena pun mengalah dengan amarah yang masih membakar dirinya. Tungkai jenjangnya lekas mengambil langkah untuk pergi. Meninggalkan ‘mantan’ kediaman yang pernah ditinggalinya selama tiga tahun lamanya.

Setelah sosok Helena tak lagi bisa dijangkau oleh irisnya, Sehun kemudian mencari Hanna dan juga Nara yang tak lagi ada di sekitarnya. Padahal, sebelumnya mereka ada tak jauh darinya. Sedikit panik, ia segera mencari kedua gadis yang paling dicintainya.

“Kau ada di sini,” ujarnya disaat menemukan Hanna sedang menidurkan Nara di kamar si kecil. Perlahan, kakinya melangkah maju, lalu mengecup lama dahi Hanna. Si Gadis Kim itu tak memberontak. Ia justru memejamkan matanya. Menikmati semua manis yang pria itu berikan padanya.

“Maaf sudah mengecewakan hidupmu, Hanna. Maaf tak bisa memberikanmu kebaha—” Suara yang Sehun gumamkan terhenti di saat ibu jari sang istri menahan di bibirnya. Keempat jari yang tersisa digunakan untuk mengusap wajah tampannya dan itu berhasil memberikan ketenangan untuknya.

“Tak perlu meminta maaf. Tidak ada pernikahan yang selalu bahagia. Mungkin kau akan membuatku menangis, atau bahkan membuatku marah, begitu juga sebaliknya. Karena itu adalah hal yang wajar dalam setiap hubungan.”

Alih-alih mengangguk setuju, Sehun justru mengukir senyum tipis di bibirnya. “Kalimatnya persis seperti yang dikatakan ibumu,” ujarnya kembali mengingat dimana ia meminta restu ibu Hanna untuk menikahi gadis itu. Hanna yang tak tahu pun memundurkan wajahnya untuk menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Seperti ibuku?”

Satu anggukan akhirnya diloloskan. “Ketika aku meminta restunya untuk menikahimu. Tepat pada hari dimana kau menginap di rumah ini untuk pertama kalinya,” terangnya. Ia tak yakin Hanna akan mengingatnya. Karena, Hanna punya masalah untuk mengingat hal-hal yang menurutnya tidak terlalu berkesan.

“Ya, aku mengingatnya. Jadi, kau mau bercerita lebih dalam lagi denganku?”

“Apapun yang kau mau, tapi tidak di sini.”

“Aku hanya punya waktu tiga puluh menit sebelum kembali ke rumah sakit.” Ujar Hanna dengan sedikit penyesalan karena harus meninggalkan prianya itu sendiri dan mengakhiri percakapan keduanya. Ini adalah waktu untuk meminta penjelasan lebih dalam mengenai sebab terjadinya pernikahannya dan juga Sehun. Tak lupa menyangkut pernikahan yang pernah Sehun jalani sebelumnya.

Sehun mengerutkan dahinya sedikit marah. “Kita akan menghadiri acara—”

“Aku tahu, tapi ini menyangkut nyawa, Oh Sehun. Aku harap kau bisa mengerti posisiku.” Hanna mengingatkan Sehun perihal pekerjaannya seorang dokter yang tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Dan sebelumnya, itu memang sudah terjadwal dan Hanna tak bisa mempertaruhkan nyawa orang lain hanya demi kepentingannya sendiri.

Tak ingin memulai perdebatan dengan masalah kecil, Sehun akhirnya menghela napasnya dan menautkan tangannya pada jemari lentik milik sang istri. Mengajaknya menuju kamar keduanya yang hanya bersebelahan, kemudian menempatkan diri di atas tempat tidur. Duduk bersila saling berhadapan, lalu memulai konversasi yang lebih pribadi.

“Siap?” tanya Hanna pada Sehun yang memasang wajah jenaka dan menyembunyikan senyumnya yang tertahan. “Mengapa aku merasa seperti sedang disidang?” gumamnya, mendapatkan satu senyum lebar dari Hanna yang merasa kalimat itu lucu.

“Aku dokter, bukan hakim.” Untuk yang kesekian kalinya Hanna mengingatkan pada Sehun mengenai pekerjaannya. “Aku tahu, kau mengatakannya hampir seratus kali dalam sehari,” tukas Sehun dengan wajah marah yang dibuat-buat.

“Aku tidak mau kita bertengkar hanya karena pekerjaanku. Sekarang, katakan semuanya.” Pintanya pada Sehun yang menaikkan sebelah alisnya. Semua…apa? batinnya bergelut. Otak cerdasnya tak bisa mencerna keinginan sang istri, tetapi masih sempat berkata jujur. “Semuanya? Tentang bagaimana aku mencintaimu melebihi gadis manapun?”

Bukan, bukan itu maksud Hanna. Tapi, mengapa pipinya malah memanas dan jantungnya berdegup lebih kencang seperti terkena serangan jantung akut? Pria ini tak bisa diajak serius! Geramnya dalam hati. “Serius, Oh Sehun!” pekiknya dengan nada amarah dan kegugupan yang bercampur menjadi satu. Oh Tuhan, Hanna bahkan sampai tak bisa mendeskripsikannya.

“Aku juga serius, Kim Hanna. Memang apa yang kau mau tahu, hm?” Sehun akhirnya mengalah. Ia sekarang mati-matian menjaga kestabilan gejolak emosi untuk menyentuh istrinya. Karena, ia masih mengingat dengan baik bahwa Hanna tidak suka disentuh ketika sedang marah.

“Katakan padaku mengapa kau menikahiku!” to-the-point khas Kim Hanna.

“Tentu karena aku mencintaimu,”

“Lalu mengapa Chanyeol bilang, Aku memintamu menikah dengan Hanna bukan untuk dijadikan seperti ini, brengsek!’ seperti itu? Mengapa Oh Sehun?” Sekali lagi Hanna mendominasi percakapan dengan kalimatnya yang tepat sasaran. Ia bahkan mengutip umpatan yang Chanyeol berikan saat itu dan nadanya sangat persis.

Tetapi, disaat Sehun hendak menimpali beserta kalimat tanda tak terima terhadap umpatan itu, Hanna tiba-tiba turun dari tempat tidur dengan raut khawatir. Ia bahkan menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

“A-apa?” Sehun jadi khawatir.

Bukannya segera menjawab, Hanna justru menggeleng. Kendati demikian, setelahnya ia menarik telapak tangannya. “Apakah Chanyeol mengatakan seperti itu karena sesuatu akan terjadi?”

“Apa maksud—”

“Memangnya dia harus pergi secepat itu? Katakan padaku, Oh Sehun!” Kedua tangan Hanna mencengkeram bahu lebar sang suami agar lekas memberi jawaban. Sayangnya, tatapan tak tahu dari wajah tampannya malah menyihirnya. Sepertinya Hanna harus benar-benar memeriksakan jantung dan otaknya nanti.

Sehun akhirnya tahu arah pembicaraan yang dimaksudkan oleh Hanna, tetapi ia menahan kalimatnya sebentar. Apakah dirinya yakin akan memberitahu Hanna semua…nya?

“Itu.. karena Kai—kakakmu,” Sehun akhirnya berhasil memberitahu, meskipun baru setelahnya menyatakan penjelasan. “Chanyeol sudah pernah bilang padamu bahwa dia menganggapmu lebih dari seorang adik. Dan disaat aku bisa memilikimu, maka Chanyeol menyarankanku agar segera menikahimu. Kurang dari setengah hari dari percakapan itu, aku menyiapkan semua keperluan pernikahan kita.”

Pemberontakan Hanna terhenti seketika. Apakah ini cerita yang sebenarnya? Yang ia pikir sebelah mata? Sekarang, Hanna terdiam dan merasa bersalah. “Kalau aku ingat-ingat lagi, aku juga meminjam helikopter untuk menjemput eommeonim dan Junmyeon hyung. Dan sehari setelahnya, aku mendapat panggilan dari Presiden karena dianggap menyalahgunakan properti milik negara. Untungnya beliau mengerti alasannya, dan malah memarahiku karena tak mengundangnya.”

Sebegitunya Sehun melakukan semua itu? Hanya untuknya? Mengapa malah sekarang Hanna merasa menyesal karena mengetahui kebenaran itu? Padahal ia sendiri yang bersikeras ingin tahu.

“Mengapa kau berpikir kalau Kai menyukaiku seperti itu?” Sepertinya, tak akan ada lagi pertanyaan yang lain jika Sehun menjawabnya. Mungkin semua akan berubah dan yang paling ia takutkan ketika orang yang ia sayangi itu merasa terluka perubahannya.

Sebelum menjawab pertanyaan yang tak terduga itu, Sehun menarik tubuh Hanna hingga terduduk di pangkuannya. Hidung keduanya bahkan sampai bersentuhan karena jarak yang dikikis terlalu banyak. Debaran jantung kembali menyerang Hanna, tapi ia tak memerdulikannya. Yang ia butuhkan hanyalah penjelasan.

“Aku juga pria. Sikap yang kami tunjukan ketika menyukai gadis sama. Tatapan yang Chanyeol berikan pada pacarnya, bagaimana cara Yoongi melihat Hyejin dan bagaimana aku melihatmu, semua itu tak bisa disembunyikan.” Ucapnya, dengan menatap Hanna begitu intens, bukan gairah, tapi sesuatu yang lembut—seperti cinta? Hanna masih bertanya-tanya.

“Begitu pula dengan Kai. Dia mencintaimu dengan caranya sendiri. Kau harus tahu itu,”

Satu kecupan manis dilayangkan kembali pada bibirnya. Lama, nyaris lupa daratan dan akan terus melayang jika jemari lentik Hanna tak mendorong dada bidangnya. “Aku harus ada di rumah sakit sepuluh menit lagi.”

Bukannya lekas melepaskan sang istri, Sehun malah memutar tubuh hingga Hanna terbaring di tempat tidur dengan tubuh jangkungnya di atas. Kedua tangan pun mengunci pergerakan, tak peduli lagi akan waktu yang akan berlalu. Tatapannya begitu panas, sampai-sampai Hanna tak lagi bisa berpikir hanya karena melihatnya.

Saranghae,” Satu kecupan kembali diberikan. Lebih lama, lebih intens, dan lebih memabukkan. Hingga Hanna yanga awalnya sudah menyiapkan tameng untuk tetap sadar akan buaian fantasi pun terlena. Tak percaya jika ia akan melakukan seperti ini sebelumnya. Alam bawah sadarnya memekik bersalah. Sehun sering sekali mengucapkan tiga silabel itu dengan lantangnya. Namun tak sekalipun dirinya pernah mengumandangkan kata yang sama.

Jujur saja, Hanna sangat mencintai Sehun—seperti sumpah setia yang ia ucapkan di saat pernikahan terjadi. Akan mencintai satu sama lain dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Namun, ia tak pernah mengutarakannya. Karena, ia bukan gadis yang mudah menyampaikan perasaannya.

“Se-hun,” Dengan napasnya yang tersenggal-senggal, Hanna merajut jarak. Meskipun Sehun tak membiarkan dirinya menatap mata elangnya, ia menyempatkan diri untuk mengingatkan kesekian kalinya mengenai pekerjaannya. “Aku harus ke—”

“Bisakah orang lain yang menggantikannya?” Sehun memohon.

“Chanyeol?” Hanna membeo, meskipun terpaksa harus memejamkan matanya kembali ketika Sehun mendekatkan bibir pada leher jenjangnya. Hangatnya hembusan napasnya pun menggelitik indranya, dan seolah belum cukup untuk menghukum ujung hidung bangirnya menelusuri. “Jangan sebut namanya ketika kita sedang berdua. Aku cemburu kalau kau tahu,”

Cukup! Teriaknya dalam hati. “Sehun, please.”

Menyerah pada fantasi liar yang mengungkung diri, Sehun pun menarik diri dan menjatuhkan badannya ke samping badan Hanna dengan tengkurap. Kedua tangannya dilipat dan kepalanya di tenggelamkan di sana. Tak lama kemudian, suara geram khas baritonnya memenuhi ruangan.

“Aahh!”

Hanna menahan kekehannya. Ia pun lekas bangun dan mencium puncak surai hitam sang suami yang kini tengah merajuk seperti anak kecil yang tak mendapatkan keinginannya. “Aku pergi. Jam setengah tujuh aku akan kembali.”

.

.

.

Tak semua kebohongan itu berdampak negatif. Terbukti ketika Hanna menyusun rencana untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan. Ia mengaku salah, disaat ada pertengkaran dirinya justru pergi. Namun, bukan berarti ia tak mau berpikir dan tak acuh. Ia hanya ingin mencari waktu yang tepat dan itu adalah sekarang.

“Jika tidak ada yang kau bicarakan aku akan pergi,” Helena hampir bangkit, namun kembali disaat lawan bicara mengungkapkan permintaan maafnya. “Maaf atas sikap Sehun yang membentakmu tadi. Ia hanya takut jika kau mengambil Nara darinya,” ucapnya dengan lirih, tak ada kesan intimidasi sama sekali.

“Nara anakku. Sebagai ibunya aku berhak membawanya pergi,” Helena tak mau kalah argumennya seperti sebelumnya. Dilihat dari sudut manapun, ia tetap berhak mengenai apapun yang berkaitan dengan Oh Nara—darah dagingnya.

“Aku tahu. Tapi, jangan lupakan juga kalau marga anak itu adalah Oh.” Sela Hanna mengingatkan dimana posisi yang sebenarnya membuat keduanya harus saling berselisih. “Nara sedang dalam keadaan tidak mengingat apapun. Jika kau mengatakan hal-hal yang tak bisa ia pahami secara langsung, maka beban mentalnya akan semakin bertambah.”

Helena mendengus dengan sedikit kesal. Cangkir putih berisi mocchachino yang uapnya sudah hilang entah kemana pun menjadi bukti bahwa percakapan keduanya sudah lama, namun tidak menghasilkan kesepakatan bersama. Ego masing-masing manusia itu masih saja ada, sehingga menghambat adanya keputusan yang akan menguntungkan bagi keduanya.

“Nara hanya hilang ingatan sementara. Jika ia sudah mengingat kembali apa yang seharusnya ia ingat, maka kau bisa membawanya dalam ikatan sucimu juga Baekhyun. Kalian belum menikah, bukan?” Si gadis Kim mencoba mencari jalan tengah, agar keduanya bisa mendapatkan apa yang masing-masing inginkan. Sedangkan si pemilik marga Park terdiam sejenak.

“Kami akan segera menikah, hanya saja belum saatnya untuk melakukan itu.” Ucapnya, sembari menyematkan apa yang sedang menjadi pikirannya selama ini. Ketakutan di masa lalu masih saja mengikutinya, dan ia tak tahu sampai kapan itu akan mengantuinya.

Hanna mengangguk paham dalam hati. Batinnya menyerukan rasa terima kasih kepada Tuhan karena gadis yang dulu menjadi sahabatnya—dan sampai sekarang ia masih menganggapnya sama—mencurahkan kekalutannya. Kini, ia merasa bahwa Helena telah kembali kepadanya.

“Kau hanya takut ia akan meninggalkanmu lagi,” praduga yang sudah meyakinkan, namun belum ada klarifikasi untuk membuktikan. Hanna bisa membaca pemikiran Helena, karena ia sempat juga berpikiran seperti itu kepada Sehun. Pria Oh itu pernah meninggalkannya, dan ia takut akan hal itu akan terulang lagi. Namun, sekarang kecurigaan tak berdasar itu sudah hilang ketika Sehun mengatakan yang sebenarnya. Hubungan yang harmonis itu berasal dari kejujuran. Itulah yang bisa Hanna petik dari kehidupan berumah tangganya.

“Mungkin,” Helena menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, kemudian kembali terdiam. Netranya menelisik seluruh sudut yang bisa ia lihat. Semuanya masih sama seperti sebelumnya. Jalan Seoul yang tak terlalu ramai dijam kerja, dan juga interior café yang masih saja berwarna coklat kayu. “Kau mengajakku ke sini untuk bernostalgia?”

Tebakan yang benar sekali. Selama tiga tahun tak bertemu, Hanna begitu merindukan sosok Helena yang menjadi sahabat dekatnya. Kenangan itu tak bisa ia hindarkan, meskipun ia masih mengingat betapa sakitnya disaat tahun bahwa Sehun dan sahabatnya itu menikah.

Satu anggukan pun ditunjukkan. Kemudian jari telunjuknya terarah menuju cangkir di depan Helena. “Itu kesukaanmu, aku masih mengingatnya. Mungkin apa yang kau lakukan padaku itu begitu kejam. Tetapi, bukan berarti kedekatan yang pernah kita jalin menghilang karenanya.”

Sejujurnya, Helena terhenyak dengan perkataan Hanna yang begitu menusuk relung hatinya. Pertahanannya ambruk, semua ego yang merasuki diri pun runtuh seketika. Masa dimana semua kenangan manis persahabatan pun terulang seumpama film hitam putih. Ia akhirnya menyadari, bahwa dirinya juga merasakan seperti itu.

“Katakan apa yang ingin kau katakan pada Baekhyun. Hanya itu satu-satunya jalan yang akan mengakhiri keraguanmu,” sarannya, kemudian bangkit dari tempat duduk dan meniggalkan dua kali tepukan di bahu kanan Helena. “Aku harap, kita bisa kembali berteman seperti dulu dan berdamai dikemudian hari.”

Dewi batin Helena ikut mengangguk setuju. Jika saja arogansi dan masa lalu tak mengubah hidupnya, maka ia tak akan mengorbankan semua kenangan manis dalam hidupnya begitu saja.

.

.

.

“Siapkan semua staff sekitar jam sembilan besok. Ya, agenda pertama kita akan membahas mengenai kematian Kim Jong Nam dan juga THAAD. Pastikan tidak ada satupun yang absen.” Ucapnya, kemudian mematikan sambungan. Pekerjaannya menjadi dua kali lipat lebih berat daripada biasanya. Jika bukan karena masalah presiden yang akan dimakzulkan, tentu hidupnya tak serumit ini.

Setelah menghela napasnya kasar, tangannya tergerak menuju dasi dan melonggarkan ikatannya. Ia sudah siap dengan kemeja putih yang dipadukan dengan dasi hitam, juga dengan jas berwarna senada dengan vertical pattern. Tinggal menunggu bagaimana Hanna menyelesaikan riasannya. Mungkin benar apa yang kebanyakan orang katakan, menunggu wanita berias itu melelahkan.

“Menunggu terlalu lama?”

Sosok yang ditunggu pun muncul saat menuruni anak tangga. Tubuh rampingnya dibalut dengan gaun berwarna merah marron polos sebatas atas lutut, dengan higheels berwarna serupa. Rambut hitamnya pun digerai sempurna, membuat Sehun hampir saja lupa ingatan jika akan menghadiri acara.

Reaksi seperti itulah yang membuat Hanna tersenyum dalam hati. Batinnya bersorak gembira lantaran tak sia-sia berdandan selama lebih dari tiga puluh menit. Ia pun menghampiri Sehun yang sudah menantinya, dan menyambutnya dengan pertanyaan yang sungguh membuat Hanna tecengang di tempatnya.

“Tidakkah itu terlalu pendek?”

Oh, Hanna kira Sehun akan memujinya. Mengatakan bahwa dirinya begitu cantik dan memukau dengan gaun yang dipakai. Namun, mau dikata apa, kalimat itu telah terucap dengan teramat jujur oleh si pemilik bariton. “Aku pikir butuh waktu satu jam untuk menyesuaikan outfit-nya. Mau menunggu lagi?” balas tanya Hanna dengan nada kesal yang samar.

Bencana baginya untuk menunggu wanita berdandan. “Tidak, kau sudah cantik. Ayo, mereka pasti sudah menunggu kita.” Katanya, lalu menggenggam jemari lentik Hanna dengan begitu eratnya. Hanya dengan itu saja, jantung Hanna berdegup tak karuan. Ini bukanlah kali pertama pria itu menggenggam erat tangannya. Lantas, mengapa perasaannya selalu saja sama? Itu selalu menjadi pertanyaan yang mendominasi otak cerdasnya.

Ketika hendak memasuki mobil, Sehun menghentikan langkahnya. Ponsel pria itu berdering dan meminta atensi sang pemilik untuk lekas menerima panggilan. Hanna tak tahu itu dari siapa, dan tak sempat merasa cemburu lantaran tahu bagaimana sibuknya sang suami mengemban jabatan yang berat. “Kau masuklah lebih dulu. Aku akan menerima teleponnya,” pintanya pada Hanna, kemudian dituruti oleh si gadis Kim.

Pintu ditutup, dan Hanna tak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan. Mungkin itu rahasia negara yang tak perlu ia ketahui, batinnya berpikir. Namun, mengingat bagaimana seringnya sang suami menerima telepon tiba-tiba seperti itu membuat Hanna merasa kasihan. Ia memang tak tahu mengenai kehidupan Sehun sebelum bertemu kembali setelah kelulusan gelar kedokterannya. Yang ia tahu hanyalah Sehun yang menjabat sebagai perdana menteri.

Hanna pun sebenarnya juga meragukan kedudukannya. Bukan bermaksud salah paham lagi kepada Sehun, ia hanya merasa bahwa istri seharusnya tahu apapun mengenai suaminya. Tetapi, dirinya tak sepenuhnya tahu. Terlebih mengapa Sehun mau menikahi Helena yang kala itu mengandung anak dari Baekhyun. Satu pertanyaan lagi mengusik ketenangannya.

“Memikirkan apa, hm?” tanya Sehun disaat tubuh jangkungnya sudah duduk di samping Hanna. Gadis itu bahkan tak tahu kalau mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang. Nampaknya, Hanna terlalu bersemangat memecahkan masalah.

“Tidak, bukan apa-apa.” Sahutnya, bersama dengan senyum yang ditambahkan setelahnya. “Aku hanya menebak bagaimana reaksi kolegamu ketika melihatku. Apa disana ada pers?” tanyanya sedikit khawatir.

Dengan hati-hati, Sehun pun menganggukkan kepalanya. “Kau tidak suka ada mereka? Aku bisa meminta pengawal untuk menyuruh pers—”

“Aku hanya trauma dengan blitz kamera. Kau tahu, ayahku meninggal dan menjadi sorotan banyak negara. Kepergiannya bukan diiringi dengan tangis kesedihan, tetapi dengan persaingan ketat untuk merebut posisinya. Kejadian itulah yang membuatku benci pers.” Terangnya kalut.

Mendapati wanitanya hampir terisak, ia pun kemudian meregas jarak guna memberikan kehangatan dalam sebuah pelukan. “Aku ada di sini. Tak perlu takut, aku akan selalu menjagamu.” Tangannya pun tak tinggal diam. Menepuk punggung Hanna dengan lembut, membuat rasa kekhawatiran menguap dengan perlahan.

Selama perjalanan, Sehun terus memeluk Hanna tanpa sedikit pun beralih. Irisnya menatap ke arah jendela, menerawang bagaimana keadaan diluar. Pikirannya pun bergulat, spekulasi tak berdasar menghinggapi hatinya. Banyak orang berpikir bahwa istrinya nampak kuat dari luar dan tak acuh. Padahal, gadisnya ini adalah gadis yang baik, peduli terhadap orang lain, namun rapuh. Masa kecilnya yang kelam dan sakit yang dirinya sendiri timbulkan pun membuat Hanna berubah menjadi sosok yang berbeda.

Pantaskah Sehun menyalahkan dirinya sendiri? Atau justru menyalahkan dunia yang menghukum Hanna terlalu kejam?

“Kita sudah sampai, Tuan.” Ujar Han ahjussi, memecah keheningan yang tadinya hanya didominasi oleh deru mesin mobil. Sehun pun terbangun dari lamunannya, begitu juga dengan Hanna yang merajut jarak untuk menatap Sehun dalam-dalam. Tersirat sebuah pertanyaan, namun tanpa perlu melisankannya, Sehun tahu. Ia pun mengangguk, meyakinkan. “Bukankah sudah kukatakan berkali-kali kalau aku ada di sampingmu?”

Hanna membenarkan dalam hati. Pria itu menepati janjinya, menepati semua apa yang dikatakan. Hanya saja, terkadang semua itu bisa menyimpang tak sesuai dengan harapan yang diinginkan. Mengesampingkan itu semua, Hanna pun mengangguk dan mengikuti langkah Sehun yang keluar terlebih dulu.

Dan seperti yang sudah ia duga, ketika ia menampakkan diri, lampu dari kamera mengarah kepadanya. Ia dicecar banyak pertanyaan, namun tak menjawab disaat Sehun mengangkat tangannya untuk mengirim kode non verbal kepada mereka. Selama mereka berjalan masuk ke dalam gedung, Sehun menepati janjinya untuk selalu ada di samping Hanna. Kendati demikian, bukan dengan menggenggam tangannya, pria ini justru merengkuh pinggangnya. Mengikis jarak yang ada hingga aroma maskulin memenuhi indra penciumannya.

“Terima kasih,” ucap Hanna ketika keduanya sudah melewati pintu utama. Mungkin banyak sekali janji yang Sehun ucapkan, dan semua itu jarang sekali ditepati—dulu. Tetapi sekarang, pria itu membuktikan betapa ia mencintai istrinya dengan segenap hatinya. “Yakinlah bahwa aku ingin menciummu sekarang juga. Tapi, aku tak mau mereka melihatnya.” Bisiknya pada Hanna, yang berhasil mengonversinya menjadi sebuah degupan kencang dan membuat si pemilik kepayahan.

Melihat bagaimana wajah dan tubuh Hanna menanggapi, Sehun tersenyum lebar. Tatapannya kini beralih ke depan, disusul dengan jabatan tangan ketika disambut oleh si pemilik acara. “Selamat datang, Perdana Menteri Oh. Terima kasih sudah datang.” Sapanya bersama ucapan terima kasih yang begitu tulus. Senyumnya bertahan lama di bibir, entah karena harus menyapa koleganya atau karena menggoda Hanna tadi. Yang pasti, hanya karena kalimat seperti itu, Hanna merasakan canggung luar biasa.

Hampir selama dua puluh menit berlalu, Sehun masih saja melakukan konversasi dengan kenalannya. Sedangkan Hanna, ia hanya menanggapi singkat dan kemudian melemparkan pandangannya ke penjuru ruangan. Entahlah, Hanna memang tak suka hal yang semacam ini. Terlihat membosankan, sungguh.

“Aku harus memberikan sambutan. Tak apa jika kutinggal sebentar?”

Hanna menoleh, mendapati tatapan khawatir dari sang suami yang agaknya tak mau meninggalkannya. Ingin sekali rasanya gadis Kim itu mengatakan bahwa ia takut disaat dirinya tak ada mengenal siapapun. Sayangnya, ia tak boleh egois kali ini. Demi suaminya dan demi reputasinya. “Gwenchanha,” tuturnya, bersama dengan segaris senyum yang terukir di bibir merah mudanya. Mencoba memudarkan ketakutan dengan tamengnya.

“Kau yakin?” Sehun membeo kembali, meyakinkan. “Iya, pergi sana!” Hanna memukul lengan Sehun yang selalu saja overprotective padanya. “Jaga pandanganmu, sayang. Aku mengawasimu.” Ancamnya dengan nada seduktif, yang hanya dibalas memutar mata oleh Hanna. Sebelum benar-benar meninggalkan istrinya itu, ia menyempat diri untuk mencium kening Hanna. “Take care,” tambahnya.

Sepersekian detik—atau mungkin lebih—Hanna mematung bak mannequin di tengah keramaian. Sehun senang sekali membuatnya terkena serangan jantung. Namun, ia juga menyalahkan dirinya sendiri terkait itu semua. Mengapa dengan mudahnya terbuai dalam rayuan, sikap manis dan apapun yang Sehun lakukan? Hanya dengan kalimat, dengan tatapan, maupun hanya dengan pelukan yang hangat, semua itu bisa membuat dirinya melayang.

“Hanna?”

Si pemilik nama menoleh di saat suara bariton familiar itu ditangkap dengan jelas oleh gendang telinga. Tubuhnya lekas memutar dengan teramat cepat, tak mau jika ketakutannya menjadi kenyataan. Sayangnya, Tuhan tak mau berpihak padanya saat ini.

“K-Kai?”

.

.

.

Hari ini terasa begitu sepi disaat hanya dirinya yang ada di rumah sakit. Hanna seharian penuh tak datang dan sudah mengambil cuti tahunannya yang belum pernah sekalipun diambil. Sedangkan Hyejin, gadis itu malah meninggalkannya di saat berbincang karena pacarnya mengajak makan malam. Ia merasa menjadi bujangan yang sial hari ini.

Mengesampingkan itu semua, ia meletakkan kembali kopinya yang baru saja ia minum. Mengisi kekosongan waktu, ia pun mencoba membaca beberapa dokumen mengenai pasiennya. Ia juga ikut menelaah apa penyakitnya, bagaimana cara penangannya, juga bagaimana pengaturan obatnya. Yang ia butuhkan tinggal tanda tangan Hanna.

Menyebalkan memang mengetahui bahwa sekarang Hanna dan Sehun semakin dekat. Bukan berarti dirinya bermaksud ingin merusak hubungan rumah tangga mereka, hanya saja ia belum terbiasa menjadi pria yang nampak kuat seperti ini. Apalagi ketika hubungannya dengan Hyerim hancur sia-sia.

Siapa yang tahu kalau mantannya itu ternyata memiliki pria lain? Ya, Chanyeol pun juga terkejut ketika mengetahui kebenaran itu. Awalnya, ia biasa saja dengan itu semua. Namun, pada akhirnya Hyerim meminta hubungan mereka berakhir daripada Chanyeol harus tersakiti. Sebenarnya, apa yang gadis itu pikirkan? Ia pun juga tak tahu mengapa ia hanya diam saja dan memilih diam.

Hidup memang tak bisa diprediksi. Disaat dirinya ingin mengambil langkah yang lebih dalam mengenai sebuah hubungan, yang ada justru ia terpukul ke belakang dengan semua kenyataan. Mungkin, ini saatnya ia berbenah diri meskipun tak tahu apa yang harus menjadi langkah awal. Wah, hidupku benar-benar rumit! Serunya dalam hati lalu menggebrak meja kerjanya, hingga beberapa dokumennya jatuh.

“Sepertinya, ini hari yang paling sial bagiku,” geramnya, lantas mengambil dokumen itu dan meletakkanya kembali ke tempat. Namun, nama Nara yang tertera membuat atensinya beralih. Otaknya masih bisa merekam dengan jelas bagaimana reaksi Sehun saat itu dan memukulnya, kemudian bagaimana ketika gadis itu sadar, juga bagaimana ia dan Sehun bertengkar lagi.

Selembar demi selembar ia buka, lalu teringat akan kenangan yang menyedihkan itu. Mungkin itu hanya sebuah laporan mengenai catatan kesehatan. Tetapi, bagi Chanyeol ia bisa melihat—

“Apa ini?” gumamnya ketika melihat kembali laporan Nara yang memang sudah dibubuhkan tanda tangan, kendati demikian tak tahu mengapa kenyataan menyimpang-lah yang terjadi. Tangannya pun teralih menuju ponselnya, lalu mendekatkannya pada cuping telinga. Sayangnya, yang dia dapatkan hanyalah suara seorang wanita dari operator yang tak ia butuhkan. Lantas, otak cerdasnya memutar akal, meninggalkan pesan suara. “Hanna, aku ingin bicara denganmu. Hubungi aku secepatnya setelah mendengar pesan ini.”

.

.

.

Tak ada satu pun kata yang bisa digunakan untuk menyambut si pria tan itu. Kesadarannya menguap entah kemana, tergantikan dengan ketegangan di sekujur tubuhnya. Kerinduan pun juga memudar seiring dengan tatapan yang Kai berikan, begitu juga kalimat Sehun yang terngiang beberapa jam yang lalu.

“Hanna?” Suara bass itu lagi-lagi menyadarkannya, memecahkan keheningan yang terjadi diantara keduanya. Dinding pemisah diantara keduanya pun sirna ketika si pria Kim itu lebih dahulu mengikis jarak yang tersisa dengan kedua tangan yang direntangkan guna menyambut si gadis kecil itu dalam pelukan.

Hilang akal, Hanna tak bisa membohongi perasaannya. Suara bariton milik suaminya yang sudah mengumandang lewat speaker pun tak mampu mengembalikan jati dirinya. Satu langkah mundur diambil secara tak sadar, lantas tertegun disaat Kai menatapnya dengan tanda tanya besar di kepala. “Hanna?” Lagi-lagi namanya disebut, hanya saja menggunakan nada yang berbeda. Kesedihan tersurat jelas dari balik iris coklatnya, dan itu tak bisa membohongi Hanna.

“Aku ingin berbicara denganmu, Hanna-ah.”

“Maaf, Kai. Aku—”

“Ada apa denganmu? Kau tak pernah seperti ini sebelum—” Suara Kai terinterupsi lantaran spekulasinya berakhir dengan kesimpulan. Argumen yang ada dibenaknya pun tak perlu diragukan lagi. Pasalnya, ia sendiri tahu bagaimana itu semua terjadi. “Apa yang Sehun lakukan padamu? Apakah dia alasan yang membuatmu seperti ini padaku?”

Ya, tidak. Hanna tak bisa menjawabnya. Tentu ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, karena itu akan memicu pertengkaran di antara keduanya. Namun, kebodohan yang sebenarnya ia lakukan adalah dengan menjauhi Kai secepat ini. Hanna tak tahu ada apa dengan tubuhnya, hatinya yang menginginkan itu dan ia tak bisa berbohong.

“Tidak, aku hanya tak bisa berdua denganmu di depan banyak orang. Di sini aku adalah istri dari Sehun dan mereka belum tahu mengenai hubungan kekeluargaan kita. Jadi, kuharap kau mengerti,” tutunya, lantas berterima kasih kepada Tuhan karena sudah memberikannya kalimat yang masuk akal dan tak akan menyinggung perasaan dari Kai.

Habis sudah amarah yang Kai pendam dalam diri. Ia akhirnya memilih melangkah mundur dan berbalik. Meninggalkan Hanna dengan semua keinginannya saat ini; untuk menjaga reputasi suaminya dan juga menjaga jarak sesuai dengan ketentuan batas antara kakak adik yang secara tak langsung ia ketahui setelah Sehun mengutarakannya.

“Kau baik-baik saja? Kai menyakitimu?”

Tak Hanna ketahui, sosok jangkung Sehun sudah ada di hadapannya. Mengajukan pertanyaan yang agaknya tak bisa Hanna katakan langsung, sehingga Sehun menatapnya tajam lantaran tak lekas mendapat jawaban. “Dia tak akan pernah menyakitiku, itu garis keras untuknya.”

“Kita akan pulang, sekarang.”

.

.

.

“Sehun, dia tidak menyakitiku!”

“Aku tahu,” Sehun membuka jas hitamnya dan membuangnya ke sofa. Lalu setelahnya melangkah ke tepi ranjang guna melepaskan pantofel yang senada dengan jas dan celana linennya tadi. Masih dengan keterdiamannya, ia kembali bangkit ketika Hanna hendak meraihnya.

Seolah menyibukkan diri sendiri, Sehun membuka kancing kemejanya dan menggantinya dengan piyama. Sayangnya, belum selesai dengan niatannya itu, Hanna meraih tubuhnya dari belakang dan memeluknya dengan begitu erat. Sehun luluh sepenuhnya, tapi tak sampai menyumbangkan suara baritonnya.

“Aku hanya mencintaimu, Sehun. Kumohon jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Katakan saja kalau kau marah, aku akan meminta maaf. Katakan apa kesalahanku dan aku akan memerbaikinya. Kumohon,” bisik Hanna dari belakang punggungnya yang telanjang. Membuat kulit keduanya saling berkontak hingga Sehun kepayahan sendiri.

“Hanna,” panggil Sehun sembari memutar tubuhnya dan menatap Hanna dalam-dalam. Tatapan khawatir, marah, sedih dan takut bercampur menjadi satu. Si gadis Kim itu bahkan sampai tak kuasa menatapnya lebih dalam—jika saja Sehun tak menangkup wajahnya. Ia tak bisa mengelak, bahkan hanya untuk mengalihkan perhatian. “Kau bisa merasakannya, bukan? Sebuah ketakutan yang besar. Aku hanya takut kehilanganmu untuk yang kedua kalinya.”

Ketakutan yang sama, yang dirasakan oleh Sehun maupun Hanna.

Untuk meyakinkan, Hanna menggelengkan kepalanya. “Tidak, kau tak akan kehilangku lagi.”

Alih-alih setuju, Sehun menyanggahnya. “Tidak ada yang abadi, Hanna. Mungkin kau bisa saja berpaling dariku karena kau tak lagi mencintaiku atau ada pria lain yang bisa membuatmu bahagia. Tetapi, aku akan mati dan tak berdaya jika kau benar-benar melakukannya.”

“Kau tak percaya padaku?” Hanna membeo, ia nampak terkejut dengan pernyataan Sehun.

“Bukannya aku tak percaya denganmu, Hanna. Itu hanya ketakutan dan juga kemungkinan. Selama kau bisa menjaga itu, maka aku akan selalu hidup. Kau nyawaku, kau yang membuatku hidup.” Tuturnya bersungguh-sungguh, bertahan dengan argumen yang sudah ia buat, ditambah dengan keyakinan dalam hatinya.

“Kau khawatir aku akan memilih, Kai?” Dugaan itu muncul tiba-tiba di otak Hanna dan ia tak menyaringnya sebelum berkata. Karena, dampaknya bagi seorang Oh Sehun sangatlah berbeda. Pria itu termenung sejenak, mencari tempat untuknya bernapas. “Kau takut kalau aku akan meninggalkanmu dan memilih dia? Sementara untuk saat ini aku malah takut padanya?”

Mendengar itu, satu alis Sehun berjungkit. Mengilhami sekali lagi apa yang dikatan istrinya itu dengan penuh perhatian. Takut? Setahunya, Kai tak pernah meninggalkan kesan menakutkan untuk Hanna sekalipun. “Kau takut padanya?”

Hanna menggendikkan bahunya. “Dia mendekatiku tadi saat kau memberikan sambutan. Dan tak tahu mengapa, aku malah mundur dan tak bisa menerima ia mendekatiku. Mungkin karena kau mengatakan bahwa ia memiliki perasaan yang lebih untukku,” Satu kalimat terakhir yang Hanna ucapkan memang sengaja ia gunakan untuk menyinggung Sehun, agar pria itu tahu dirinya percaya pada apa yang diucapkannya.

“Kau percaya?” Sehun tak percaya—untuk yang kesekian kalinya.

“Aku harap kau tak akan mengatakan April mop setelah ini,” Hanna mendesis kesal, dan kemarahannya akan menjadi jika Sehun benar-benar melakukan itu. Atau mungkin Hanna akan membenci seumur hidup Sehun. Kendati demikian, bukan segera menjawab, Sehun justru menciptakan keheningan. Membuat Hanna sedikit khawatir dengan kata-katanya sendiri. “Kau tidak melakukan itu, ‘kan?” tanyanya lagi.

Sehun tiba-tiba tersenyum lebar. “Bulan April masih lama, kalau kau tak ingat. Aku hanya terkejut, ketika Chanyeol mengatakannya padamu, kau tak percaya. Dan ketika aku yang mengatakannya, kau sekarang percaya.”

“Jadi, karena itu kau senang?”

“Aku tak pernah sesenang ini sebelumnya.”

“Tidak ketika kita menikah?”

Sehun mengusap dagu runcingnya. “Hm, mungkin itu termasuk.” Ujarnya kembali mengingat, dibuat seolah-olah lupa, padahal itu tak akan mungkin terjadi. Jika boleh bercerita, rasanya itu seperti terbang ke langit, lalu terbang lebih tinggi lagi. “Tidak disaat aku memegang tanganmu atau memelukmu?” Lagi-lagi, Hanna mengajukan banding.

“Aku kedinginan karena kau tak mengizinkan aku pakai baju.” Ia menarik tubuh Hanna ke tempat tidur dan memeluknya erat sembari tidur berdua. Hanna yang belum selesai terkejut pun menggeram kala Sehun mencium bibirnya cepat, hingga kepalanya mundur beberapa senti. “Hanna,” panggilnya, dengan nada seduktif yang justru mengundang ketakutan lebih lanjut untuk Hanna.

Yang paling menakutkan adalah ketika Sehun menutupi tubuh keduanya dengan selimut hingga pandangannya menjadi gelap. Pekikkan terdengar dari sopran Hanna, namun Sehun tak peduli. Semoga saja Sehun tak berbuat macam-macam. Well, mereka sudah menikah sekarang.

.

.

.

.

.

6.253 word

Terima kasih buat readers yang sebelumnya memberikan komentar yang begitu membangun. Akhirnya, masalah mereka selesai dan kisah manis dari kedua pasangan ini muncul juga 😀 Setelah ditunggu lama kapan nih dua orang baikan, akhirnya baikan juga. Masalah itu cepet selesai kalo salah satu dari pihaknya mau mengambil langkah untuk membuat perubahan. Kalo adanya gengsi mulu, yang ada masalahnya malah gak kelar-kelar 😉 Dan satu lagi, ff ini masih berkutat di bulan Februari. Makanya Sehun bilang kalau April masih lama, padahal kemarin udah April 😀

Okay, alasan dibalik panjangnya chap ini dikarenakan Putri sangat beterima kasih sekali kepada sunbae maupun hoobae yang memberikan masukan mengenai curhatanku di part sebelumnya. Juga fast respon dari para pembaca. Tapi, maafkan daku jikalau aku tak menjawab komentar kalian di chap sebelum-sebelumnya. Mengingat komentar dari chap sebelumnya banyak dan kebanyakan pertanyaan yang menyangkut cerita, sehingga lebih baik baca langsung aja 😀

Semoga kalian suka part ini, jangan lupa komentar dan love you all as always :*

Advertisements

29 thoughts on “1435 #11—PutrisafirA255”

  1. Akhirnya hanna percaya sama sehun kalo kai ngeliat hanna lebih dari adik. Dan part akhir ada maksud terselebung dari sehun tuh hihi. Nggak bosen2 deh nunggu kisah mereka ini

    Like

  2. Ahhh puas parahh ini panjang banget chapternyaa!❤❤
    Sering sering yaa thor, sepanjang inii😘
    Asyikk banyak scene hanna sama sehun, asal author tau aku senyum senyum bacanyaaa😂
    Fighting author kuuu!

    Like

  3. Aaa sweet sekali 😍 sehun makin lope ahh. Ini tapi masih banyak masalah ya yg belum terpecahkan. Seneng bgt liat sehun sama hanna baikan 😙 tapi knapa langsung tbc disitu siii ㅋㅋㅋㅋ 😂 kasian sebenarnya sama cy, 😶 tapi yaudahlaa yaa. Next yaaaaam jangan lama lama, ku menunggu mu 😘

    Like

  4. OH MY GADEEEUUU SEHUUN AAAAKK TAHU BULAT (tijel komen gak penting). Akhirnya sehun sama hanna udah tau masalah masing masing jadi gak terlalu sering kesalah pahaman lagi nanti, itu helena main sodor ae masuk rumah sehun. Btw, kayanya kalo cek wp ini pas banget nih ff update, jadi inikah yang dinamakan semangkok bakso cuanki yang hangat? (apasih). Penasaran mereka ngapain itu berdua, udah sekian itu aja dari gado gado bang-kai dan ditunggu untuk chapter selanjutnya ya kak, semangat! 😁

    Like

    1. Tijel komennya panjang amat?😅
      .
      Mungkin cuma perasaanmu aja. 😂 Jangan terlalu baper, entar tahu bulatnya keburu dingin /nih maksudnya apa?🤔 author lagi gesrek😆😑
      .
      Thanks for commented😚

      Like

  5. akhir nya masalah mereka sudah selesai ahhh seneng tau mereka baik an lagi, kak ini bener” keren banget next yaaaa kak ditunggu aku selalu menunggu mu kok kak jangan lama” ya kak udah nunggu lama tau haha next ya kak pokok nya.
    fighting kak!!!

    Like

  6. Wahhhh author ceritanya bagus, saking fokus ke jalan ceritanya aku bneran ngitung huruf ke lima belas dri alphabet tau wkkwkwkkwk 😁😁😁
    Seneng pokoknya klo mereka baik baij dan masalah nya perlahan lahan selesai dengan saling keterbukaan, gk tau knapa enak bngt denger kehidupan sehun ama hanna, mereka pasangan yg dewasa bngt menyelesaikan masalah masing2 dengan kepala dingin, trus jadi terinspirasi dari pembawaan mereka
    Author the best lah… 😄😄 Author-nim jjangggg….. 👍👍👍👍

    Like

  7. Yang dibikin baper Hanna, tapi kok aku ikut terbang ya? Haha 😃😃 maklum efek jomblo 😅. Sehunnya di sini suka bgt. Aku bungkus ya….

    Like

  8. semoga kai gak jadi dendam krna diacuhin ma si hanna.. syukurlah klo sehun ma hanna udh baikan,, kirain sehun tepancing emosi krna liat kai dekati hanna,, untungnya ga ya,, ok next

    Liked by 1 person

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s