EMELY [3] – Alona

emely
╰ MAIN CAST ╮
Emely Song – Sehun Oh – Kai Kim – Krystal Jung
╰ GENRE ╮
Romance – Hurt/Comfort – Friendship – AU
RatingPG – 13
╰  DISCLAIMER ╮
FF is MINE. I just PLOT owner, not CAST. FF is belongs to Reader.If the reader find the groove and the same story, it’s an accident. It made me purely from my imagination. So, any false things here are for falsehood, place names, character, background, all just imagination and fiction.
Thanks for Amazing poster,by;
Selviakim @ Poster Channel

***
Menurut Emely.
Anak baru bernama shaun? Bukan. Seun-siapa ya? Dia agak lupa. Anaknya cukup pendiam. Tapi diamnya itu bisa menjawab.
Jika ditanya kehadirannya berpengaruh atau tidak sih, tentu jawabannya iya dan tidak.
Tidak. Karna tak berpengaruhnya, pria bermarga Oh itu pendiam sehingga ada dan tidaknya tak berarti apa – apa.
Iya. Karena Pengaruhnya pria itu memiliki pesona dan kharisma yang lumayan kuat hingga anak – anak perempuan dikelasnya tertarik. Hingga terkadang tak sengaja melirik secara terang – terangan dan melemparkan godaan.
Emely menyenderkan badannya kedinding tepat disamping kirinya, hingga kini posisi badannya menyamping. Makanya bisa melihat seisi kelas dengan mudah, terutama dalam memperhatikan si anak baru yang mendapat tempat duduk dibagian belakang.
Sesekali Emely juga melirik kearah Kim-saem yang tengah menjelaskan materinya di papan tulis,  Juga sahabatnya yang kebetulan duduk beberapa meja dari si anak baru yang beberapa kali meliriknya lalu mengikuti arah pandangnya. Dan berakhir menatapnya mengejek lalu mengedip genit.
“Kim hitam sialan!” Bisiknya sangat pelan. Lalu menatap kesal pada sosok Kai yang kini pura – pura memperhatikan pelajaran. Padahal Emely yakin pria itu sudah bosan.
“Hm?”
Soojung. Teman sebangkunya menengok kearahnya kemudian menatapnya bingung, Mungkin mengira Emely bicara padanya.
Emely menggeleng pelan lalu tersenyum kikuk, merasa tak enak.
Mungkin jika itu Kai atau Chanyeol. Dia tak akan merasa seperti ini, namun ini Soojung. Murid baru, juga. dan Emely tak begitu dekat padahal mereka teman sebangku.
Seolah mengerti bahwa Emely memang tak bicara padanya, Soojung mengangguk lalu tersenyum manis baru kemudian kembali menatap Kim – Saem.
Setelah merasa aman. Emely kembali melirik si anak baru Oh itu dengan seksama. Memandangnya lekat, ingin tau dimana letak pesona dan kharismanya.
Dia hanya punya rambut berwarna hitam pekat, Hidung mancung, garis rahang yang bagus dan dagu lancip. Selebihnya Emely tidak tau karna tidak melihat secara dekat. Tampan memang.
Kulitnya juga sangat putih, nyaris pucat. Dan badannya yang tinggi, setara dengan Chanyeol mungkin.
Ah, berbicara mengenai Chanyeol.
Beberapa hari ini, pria Park itu memang sering menjemputnya untuk kesekolah bersama, karna arah rumah mereka sama. Tidak dengan Kai yang memang harus memutar.
Dan Kai juga akhir – akhir ini sering terlihat bersama Soojung. Entah itu kekantin atau bahkan sampai mengantar pulang dan menjemputnya. Ini alasan Emely selalu dijemput Chanyeol, karna Kai harus menjemput Soojung dan akan memakan banyak waktu jika harus menjemputnya juga.
Emely paham. Sangat paham malah.
Kai menyukai Soojung.
Itu tercetak jelas sekali diwajah Kai, dan dari sikapnya tentu saja.
Emely sih suka – suka saja. Toh Soojung anak yang baik juga pintar, siapa tau bisa merubah Kai menjadi lebih baik dan menjauhi namaplayernya itu.
Akhir – akhir ini juga, si anak baru itu sering melirik kearahnya entah kenapa. Sekedar menatapnya dengan datar lalu kembali menatap papan tulis.
Meski Emely dapat melihat tatapan intens itu.
TENG…TENG
It’s time to break. 
Bel istirahat sekolah berbunyi.
Sontak wajah yang awalya mengantuk kembali fresh, bahkan yang tertidur langsung bangun seolah tak tertidur. Ajaib memang pengaruh bel istirahat.
Emely mengalihkan pandangannya saat dirasa anak baru itu akan menengok. Dia buru – buru sok fokus pada papan tulis untuk menulis rangkuman biologi yang ditulis oleh Kim – saem yang baru saja menutup pelajarannya lalu keluar kelas.
“Heh, bocah! Kau ingin ikut kekantin tidak?”Suara berat Kai mulai terdengar dari samping mejanya. Dia berdiri persis disamping Soojung yang tengah menahan senyum.
Ya, Emely tau keberadaanya akan mengganggu pendekatan mereka.
Jadi dia menggeleng.
“Aku harus mencatat rangkuman itu. Sudah sana pergi, Soojung lapar pasti, diajar Kim – saem menguras tenaga!”Ujar Emely tanpa mengalihkan fokusnya.
“Kau tidak mencatatnya dari tadi? Memikirkan siapa sih?” Nada mengejek itu keluar begitu saja dari bibir yang Kai selalu banggakan. Tapi, Emely justru mengerngit sebal.
“Sudah sana, nanti kantin penuh!” Balasnya ketus. Lalu menghapus kalimat yang salah ditulisnya dibuku tulisnya dengan pelan denganincorect tape.
“Kau benar tidak akan ikut, Emely? Sehabis ini Math. Akan lebih menguras tenaga lagi bukan? Kau bisa melihat catatan itu dariku nanti!?” Seru Soojung sambil mengemas barangnya dengan suara lembut. Ah, dia tau alasan kenapa Kai menyukai gadis berambut sebahu itu.
Dia memang gadis baik dan perhatian.
“Arraseo! Aku akan menyusul, bersama Chanyeol nanti!” Jawab Emely asal. Pikirannya dengan ucapannya sedang tidak singkron.
Soojung mengangguk kaku, sedangkan Kai hanya tersenyum mengejek.
“Ajaklah si anak baru itu. Siapa tau dia masih bingung jalan menuju kantin yang mana!?”
Emely hanya mendengus sebal lalu membenarkan rambutnya, baru kemudian kembali mencatat. Tak memerdulikan celotehan tak penting Kai. Sedangkan Soojung hanya menggeleng melihat Kai yang memang suka sekali menggoda sahabatnya itu. Pria itu memang jahil.
“Kami duluan, Emely!” Ucap Soojung diujung pintu dan Emely hanya melambaikan tanhannnya tanpa menengok sedikitpun.
Sebelum kembali lagi menulis, Emely melirik tempat terakhir kali Soojung dan Kai berada sebelum akhirnya pergi. Gadis Song itu menghembuskan nafasnya agak berat sebelum akhirnya menumpukan dagunya dimeja dan kembali lagi ke aktivitasnya.
**
Sehun menghembuskan nafasnya saat melihat sekolah yang akan menjadi sekolahnya terpampang didepan mata.
Pria bermata sipit itu melirik kesamping kirinya, dimana disana duduk sahabatnya yang kini tengah fokus memasukan mobil bermerk  porche ini ke tempat parkir.
“Baek. Apa kau serius dengan jalur beasiswa?” Tanya Sehun setelah mobil benar – benar terparkir sempurna ditempat seharusnya.
Disampingnya Baekhyun mengangguk lalu melepas seat beltnya, baru kemudian mematikan mobil itu. Kepalanya menengok kearah kanan, menatap heran sosok Sehun yang kini tampak tak nyaman.
“Kenapa memangnya? Kau… Keberatan?”Jawab Baekhyun dengan nada ragunya. Setaunya, Sehun tak pernah mengeluh soal jalur apa yang dia pakai agar bisa sekolah. Dari dulu selalu begitu, dan jika kini berubah tumben sekali.
Sehun menggeleng tegas. “Kenapa harus?”
Lelaki itu ikut membuka seat beltnya, lalu menyampirkan ransel hitamnya kebahu kanannya. Atensinya Ia jatuhkan pada kaca jendela depan yang berembun.
“Setelah bicara dengan kepsek kemarin. Dia salut dengan prestasimu, makanya kau disarankan memakai jalur beasiswa.” Ujar Baekhyun lalu mengikuti arah pandang Sehun.
“Kau mau pakai jalur pribadi? Kulihat kau nampak keberatan. Ada apa?”Tanya Baekhyun lagi. Maniknya mulai memerhatikan sebuah mobil luxury bentley continental flying spur putih yang terparkir sekitar dua mobil dari hadapannya. Lalu tak lama turunlah sosok gadis berwajah blesteran, tapi entahlah Baekhyun tak melihatnya dengan jelas. Matanya langsung terpaku pada sosok lelaki jangkung yang kini menyalakan alarm pada mobilnya.
“Aku hanya ingin seperti siswa normal lainnya. Aku merasa terlalu special jika begini. Jadi ya… Maksudku, kenapa tidak pakai jalur pribadi?”
Baekhyun makin menatap Sehun heran. Tak mengerti kenapa cowo berwajah datar itu mengatakan kalimat dengan berbelit – belit?
“Apa maksudmu?”Tanya cowo bermata sipit itu makin tak  mengerti apa inti dari ucapan Sehun.
“Maksudku ya… Sudahlah, kupikir… Entahlah!”
Baekhyun menaikan satu alisnya dengan kening mengerut. Makin menunjkan ekspresi tidak mengertinya atas jawaban yang Sehun berikan.
Pria yang lebih tua itu pada akhirnya memilih menghela nafas. Sadar jika cowo yang menjadi lawan bicaranya tidak akan pernah bisa mengatakan apa yang ada dipikirannya sekalipun di sogok oleh uang.
Karna dia sangat tau apa yang bisa dilakukan Sehun.
“Intinya kau ingin pakai jalur pribadi?”Tanya langsung. Membuat Sehun agak mengerutkan keningnya sebelum mengangguk. Tapi terlihat tidak yakin dengan itu.
“Aku terlihat seperti lelaki miskin jika terus menggunakan jalur beasiswa.”Jawabnya dengan indikan bahu, sedangkan lelaki disampingnya tergelak geli. Merasa agak paham inti masalahnya, mungkin.
“Tapi kau memang!”Balas Baekhyun yang mendapati senyum tipis Sehun padanya.
“Ya.. Miskin! Anak dari Oh Hyunjoo si CEO paling sukses dan kaya di Korea. Anak yang punya banyak mobil sport yang sudah mendunia, tentu dimata Byun Baekhyun si pemilik Restoran khusus daging tidak ada apa – apanya bukan?”
Dan Baekhyun lagi – lagi tergelak atas kesombongan temannya itu, meski dia tau Sehun hanya bercanda.
**
Bel pulang telah berdering sejak sepuluh menit yang lalu.
Tapi, Emely masih berada dikelas karna hari ini jadwalnya dia piket.
Gadis itu baru saja duduk setelah menyapu seisi kelas yang memang lumayan besar.
Dia melirik kearah Hani- teman sekelasnya yang punya rambut pendek-kini juga tengah terduduk setelah menghapus papan tulis dan membersihkan kaca dari dalam juga luar. Hani memang gadis yang cukup gesit dalam hal ini.
Kini mereka tengah menunggu Jongdae yang mengisi ember untuk ngepel juga Suho yang tengah lantai bawah untuk membuang sampah.
Mereka memang baru boleh pulang setelah semuanya selsai.  Katanya sih melatih agar setia kawan.
Emely menghela nafas.
Jongin sudah pulang karna katanya Bibi Soojung datang kerumah gadis itu. Dan dia yang tadi pagi menjemput gadis itu perlu bertanggung jawab untuk mengantarnya pulang.
Emely tau Jongin adalah pria baik meski covernya memang nakal.
Dia juga membolehkan toh dia bisa pulang dengan bus atau nebeng dengan Chanyeol. Itupun jika lelaki itu belum pulang.
“Em, apa menurutmu si anak baru itu cantik?”
Emely sontak menengok kearah Hani yang kini tengah duduk berselonjor diatas lantai.
“Ya, lumayan!”Jawabnya seadanya karna itu memang faktanya.
“Ehm, aku tak tau harus mengatakannya atau tidak, karna bisa saja itu hanya fikiran negativeku, Tapi kurasa harus kukatakan!”Lirih Hani. Gadis itu terlihat ragu saat akan mengtakannya.
Emely sendiri menerimanya dengan memberi senyum tidak apa – apa padahal dia sendiri juga berpikir apa yang akan gadis itu katakan.
“Aku pikir, Soojung memanglah gadis baik. Kelihatan juga dari wajah juga matanya. Kau bisa lihatkan?” Emely mengangguk mendengar pertanyaan Hani yang lembut. Tapi tetap saja gugup. Entah kenapa.
“Tapi, aku pikir. Justru karna dia baik. Maka kau harus hati – hati. Karna Kadang yang baik suka membawa takdir buruk!”Lanjut Hani sambil melirik kearah tempat duduk Soojung yang kini sudah dirapihkan. Sontak Emely juga mengikutinya.
“Aku tau. Tapi tidak baik bukan berandai – andai? Bisa saja itu hanya… kau taukan?”Sahut Emely dengan nada kondiktif. Gadis itu menelan ludahnya.
“Y-ya. Kupikir memang begitu.”Serunya sambil mengangguk mengiyakan.
“Seperti si anak baru juga menyukaimu.”
Emely langsung melirik kearah Hani yang kini tersenyum menggoda dan mengerling geli.
“Hn? Kau kurang minum ya?”Jawabnya sambil menggelengkan kepala maklum. Seolah tau jika Hani hanya menggodanya.
“Tapi aku lihat dia terus melirikmu. Dan kau juga melirik kearahnya. Kau juga… menyukainyakan?”
“Hani, apa kau sudah membereskan semuanyakan? Sebaiknya kita keluar selagi Jongdae dan Suhi mengepel.”Ujar Emely kala melihat Suho dan Jongdae datang dengan heboh. Membuat Hani mengerngit tak mengerti.
“Lain kali aku akan menyuruh suruhanku untuk membeli ember juga pewangi yang mahal dan lebih bagus dari ini!”Omel cowo berwajah malaikat itu.
“Kau memang harus membelinya yang baru. Ini sudah jelek, sekalian pelnya. Juga pewangi kelas! Sering bau kentut disini!”Balas Jongdae yang langsung diangguki Suho.
Kedua pria itu terus bicara seolah tak ada siapapun disana. Terus mengoceh hal tak penting yang Emely dan Hani sendiri bosan mendengarnya.
“Kalian boleh pulang duluan, ini akan hujan. Kau naik bus bukan Em?”
Emely melirik kearah Suho dengan tatapan tak percaya.
Tak percaya karna Suho bisa mengetahui kesehariannya padahal biasanya cowo itu tak perduli. Tipikel chaebol sombong.
“Hn?”
“Hani, kau juga bisa pulang. Gebetanmu menunggu didepan gerbang dengan mobilnya.” Kini giliran Jongdae yang berkicau. Kerlingan lelaki bermulut menyebalkan itu berubah menjadi kerlingan menggoda. Makin menyebalkan bukan?
Emely tak tau jika duo cowo yang tekenal tak pernah berhenti mengoceh itu bisa tau soal kesehariannya juga Hani. Padahal biasanya mereka akan fokus pada game Jika pulang sekolah begini.
“M-Mwo? Kau—“
“Sudah sana kasian dia menunggu!”Ucap Suho dengan nada meledek.
Emely tak menyangka jika semua temannya punya sifat Diam – diam menghanyutkan.
“Em. Kuharap kau memang bersamanya. Karna kulihat dia menatapmu dengan pandangan berbeda.”
Emely tau.
Ucapan Hani tak mungkin benar karna gadis itu pasti hanya meledeknya. Demi apapun, Emely sudah hafal hal seperti ini.
Tapi entah kenapa, ada getaran dalam dirinya kala kalimat itu terus terulang dibenaknya.
Emely yakin, Hani baru saja mencuci otaknya.
**
A/N;
Dan aku ngerasa otak aku juga abis dicuci setelah bertapa dibingungkan oleh beberapa hal buat FF ini. 
Maaf yak ngepostnya telat banget. Maklumlah orang sibuk mah bisa apa? (Ngeles yak)
Parah sih, lama banget ya? 
Doakan semoga aku nulisnya lancar dan tugas sekolah aku dikurangi^^
Semoga mimpiin Sehun yak(LOLLLL)
Advertisements

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s