(Sehun Birthday ver.) Fine—PutrisafirA255

94 copy.jpg

[It’s not] Fine

[Sehun Project Birthday]

.

Oh Sehun X Evelyn Park (OC/You)

.

1.204 word with AU, Romance, Relationship

.

1st | 2nd | 3rd | 4th | 5th

.

How about our relationship?

.

 .

Aku menatap lekat tubuh jangkungnya yang terkulai lemah di atas tanah. Wajah tampan yang biasanya kupandang tak lagi bisa dijadikan sebagai pemandangan. Langit yang seakan mengamuk pun menemaninya di tengah kedinginan yang melanda. Bulir air jatuh membasahi diri, namun tak lantas membuat tubuhnya bangkit.

Sejak dua jam aku meninggalkannya di luar sana, ia bertekuk lutut tanpa bergerak sedikitpun. Awalnya, aku enggan menggagas. Peduli pun tidak sama sekali. Rasa kecewa sudah memuncak dalam diri, hingga perasaan sayang tak lagi tertinggal. Irisku mengawasi, takut-takut kalau ia masih bersikeras membunuh diri sendiri.

Bukan, batinku salah berkata, pikiranku salah bekerja.

Dengan bodohnya, ia membiarkan dirinya dijatuhi beribu tetesan air. Rasa bersalah terlambat datang padaku hingga sesosok gadis menghampirinya. Pekikkan yang dihasilkan oleh soprannya berhasil menembus telinga, lantas kudengarkan dengan seksama.

“Jangan paksakan dirimu, Hun! Dia tidak pantas menerima permintaan maafmu. Wanita macam apa yang membiarkan prianya seperti ini?!” ucapnya, nadanya kentara sekali menyindirku. Kendati demikian, aku menghiraukannya.

Tubuh jangkung yang kurindukan setengah mati itu bangkit. Sejurus kemudian, aku memekik lantaran kaki itu tak selaras dan akhirnya ia jatuh. Kakiku refleks bergerak, ingin mengikis jarak untuk meraihnya. Membiarkan ia jatuh kepelukanku dengan segenap kehangatan yang kupunya.

Semua itu hanyalah harapan, yang ingin kulakukan, namun tak bisa kurealisasikan.

Setetes bulir yang mengalir melewati pipi lekas kusapu dengan punggung tangan. Tak mau larut dalam kesedihan yang mendalam karena kesalahan yang selalu ia perbuat. Aku sudah muak dengan kebohongan yang ia ciptakan. Tak mau dianggap salah sangka dan akan jatuh untuk kedua kalinya. Janji manisnya hanyalah sebuah bualan belaka, membuatku tak lagi berdaya karena selalu percaya.

“Sehun, dengarkan aku, bodoh!”

Umpatan itu mengambil atensiku kembali yang baru saja kalut akan kesedihan. Tanpa bisa kuprediksi, netranya bertemu dengan milikku. Menciptakan distraksi tak kasat mata hingga bayangan gelap memisahkan kami berdua. Kabut pun enggan mempertemukan. Rasanya aku malu pada diriku sendiri yang tak langsung menyakiti, tetapi masih bersikeras teguh diri.

“Eve, aku tak akan pergi sebelum kau memaafkanku!” Kini giliran si pemilik bass dengan suara beratnya mengganggu benakku. Menghancurkannya hingga tak bersisa berkat luka yang ditorehkan. Memerbaiki tak akan menyelesaikan, namun menghancurkannya juga tak ada gunanya. Aku masih bergeming, masih tak mau beranjak untuk sekedar mengulurkan perlindungan dari hujan.

“Evelyn,” panggilan yang merujuk padaku tak berhasil membuat diriku berbalik. Tanpa melihat, aku tahu dirinya yang akan memberikanku petuah disaat aku tak membutuhkannya. “Kau merasa tersakiti karenanya. Kau bilang, kau tak suka menyakiti, Sehun. Tetapi, apa yang kau lakukan ini sudah membuatnya lebih tersakiti. Sakit di tubuh masih bisa ditangani, tidak dengan sakit dalam dirinya.”

Tak sampai sepuluh detik berlalu, tangannya memberi beban di atas bahu. Tak kuhiraukan apa yang ia lakukan, karena pikiranku tak bisa selaras dengan hati yang terus berkelahi di saat tubuh sedang tersakiti. “Suruh dia pergi, Chan. Katakan kalau aku tak akan menemuinya.”

.

.

.

.

.

Hening. Pipiku memanas, tetapi aku masih bisa berpikir. Semua teman sekelas melihatnya melayangkan tamparan keras padaku. Hanya karena aku tak menanggapi kalimatnya dan beranjak pergi. Aku sudah menahan semua amarah yang terkumpul dalam diri, tak mau memperpanjang masalah seperti ini. Nyatanya, ia memancingnya hingga tak ada lagi kesabaran yang tersisa.

“Karenamu Sehun sakit kemarin. Dimana perasaanmu, huh?!”

Aku menatapnya lurus-lurus, membentuk garis keras tak kasat mata dengannya. “Perasaan?” aku mencebik, selanjutnya mendengus kasar. “Disaat kau menyakitiku bersamanya, dimana perasaanmu?! Apakah kau masih memikirkanku ketika bercumbu dengannya? Apakah kau memikirkan perasaanku ketika kalian menjalin hubungan berdua, huh?!”

Aku meledak, marah tak terkira. Kebodohannya,  aku tak mau membicarakannya, sungguh. Tapi, gadis murahan ini dengan seribu kalimat bodohnya yang membuatku seolah-olah bersalah. Aku sudah muak, bahkan sejak menyadari kebersamaan keduanya di belakangku.

“Evelyn,”

Aku menoleh seketika disaat Chanyeol, pria semarga denganku yang tak lebih tua dua tahun, membulatkan matanya. Aku hampir saja terlonjak jika emosi tak mengungkung diri. Pemikiranku runtuh, aku tak sadar jika sedari tadi, Chanyeol mendengarkannya.

“Jadi, Sehun—” Ia kehabisan kata-kata, tak bisa mendeskripsikan apa yang amarahnya katakan di benaknya. Langkah panjangnya yang berbalik cepat membuatku semakin gila. Aku hendak mengikuti kemana pria itu akan pergi. Namun, si gadis bodoh itu menahan lenganku dan mengatakan kalimatnya dengan lantang.

“Aku belum selesai dengan—”

Suaranya yang sejak awal mendominasi, terhenti tatkala aku menamparnya dengan teramat keras. Persetan dengan urusan kami, aku tak peduli. Suara gaduh yang ditimbulkan oleh penghuni kelas pun memenuhi sudut ruangan, menjadi semakin ricuh setelah kalimatku berkumandang dengan lantang. “Urusan kita memang tak akan pernah selesai!”

Tanpa kembali berbasa-basi, aku mengikuti langkah Chanyeol yang belum terlalu jauh. Seperti yang telah kubayangkan, dia pasti akan menghampiri si brengsek itu di kelasnya. Aku mungkin bisa menemukan Chanyeol yang akan membunuh Sehun saat ini juga, tapi aku tak bisa mencegah pria Park itu membuat Sehun tersungkur dengan sudut bibir yang terluka.

“Chanyeol!” Aku meraih bahu tegapnya dan memaksanya mundur. Akibatnya, Ia terhuyung ke belakang, memberikan ruang bagiku untuk melihat bagaimana tubuhnya semakin terluka. Hatiku mencelos untuk sepersekian detik. Luka yang ia torehkan pada hatiku lenyap seketika, tergantikan oleh perasaan khawatir yang teramat mendalam.

“Sehun, kau tak apa?” Aku mencengkeram kedua lengannya, lantas menelisik melalui ekor matanya. Alih-alih marah, ia justru menyunggingkan senyumnya. Jika saja suasananya tak mencekam, aku mungkin sudah menganggapnya gila.

“Mengapa kau tersenyum?” aku bertanya, pertanyaan bodoh seumur hidup yang baru kusadari setelah menelaahnya. Seharusnya, aku membiarkan saja dirinya dipukul oleh Chanyeol, atau lebih baik ia mati sekalian. Tapi, mengapa aku justru menghampirinya, bahkan sempat juga mengkhawatirkannya?

“Terima kasih,” Ia memberikan jeda sejenak dari suaranya. “Karena masih memedulikanku.” Tambahnya, hingga aku hampir mendecih jika saja tak punya etika barang sedikitpun. Disaat aku melihat wajahnya, banyak sekali kenangan buruk yang melintasi pikiranku. Namun, ketika seseorang menyakitinya—atau dirinya sendiri—aku merasa ikut sakit bersamanya. Sebenarnya, mengapa aku ini?

“Tunggu!” Sehun mencengkeram pergelangan tanganku di saat aku hendak bangkit dan meninggalkan lokasi. Semua kekacauan, baik yang dibuat oleh gadis sialan itu maupun Chanyeol berhasil membuatku menjadi lakon utama seumpama pemeran wanita. Mencari ketenaran dalam sekejap, lantas meredup juga dalam singkat waktu yang sama. “Kumohon dengarkan penjelasanku terlebih dahulu, Eve.”

Aku bergeming, menatap matanya, jauh menelusuri tatapan tajam yang ia berikan. Tersirat nada bersungungguh-sungguh dalam nada maupun iris ckolat pekatnya. Tetapi, tak kutemukan satu pun kejujuran di sana. Kelabu cemburu masih berkabut dalam hati, aku enggan tahu mengapa itu terjadi.

“Kupikir ini semua sudah terlambat, Hun.” Aku menyanggah keinginannya untuk mencoba berdamai. Anggap saja bahwa aku egois karena tak mau mendengar kebenaran, tapi aku membenarkannya. Untuk seribu kalinya aku mengumandangkan bahwa aku tak mau lagi disakiti, apalagi olehnya. Semburat jingga yang biasanya ia timbulkan di pipi seperti dulu, tak mampu membuatku menginginkannya kembali.

“Tidak, Eve. Aku tahu bahwa kau masih mencintaiku,” tuturnya, menyuarakan kebodohanku. Kebodohan akan hal yang bernama cinta. “Begitupun denganku.” Tambahan kalimat yang pas, membuat jantungku berdesir. Melambatkan kinerja otak lantaran berbenturan dengan kesadaran.

Unfotunately, I am not.

Aku menggeram, melepaskan tangannya dari tanganku secara paksa. Ia hampir terjatuh lagi, sayangnya aku sudah lelah untuk peduli. Aku mengambil langkah pergi tanpa menatap wajahnya lagi meski hanya sekali. Ia sudah menyakiti jiwaku, juga ragaku. Aku lelah dengan opera perselingkuhan yang mereka ciptakan.

“Eve, berhenti di sana!”

Langkah kakiku terhenti. Suara si jangkung Chanyeol menggema hingga sepanjang koridor, berkat penghuni yang agaknya sudah membubarkan diri. Tanpa meregas jarak, pria  itu mengucapkan sebuah kalimat pahit. “Jangan membodohi dirimu sendiri, Eve. Kau masih mencintainya!”

Aku? Benarkan semua kegelisahan ini karena aku masih mencintainya? Masih mengharapkan dirinya kembali?

.

.

.

.

Jeng.. jeng.. 😀
Aku gak tahu ini nulis fanfict macam apa. Cuma gegara bingung mau ngasih apa buat si cadel ulang tahun, beginilah jadinya. Ini bukan multi-chapter, sejenis ficlet series yang dibikin tepat 1.204 word (sesuai ultahnya cadel). Btw, maaf banget buat penunggu(?) setianya 1435. Minggu kemarin, aku sibuk banget. Megang laptop aja sampe nyaris gak pernah. Belum lagi aku demam cuma karena mau flu, trus ditinggal orang tua dirumah sendiri. Ada niatan untuk menulis lantaran aku gak bisa membuat kalian lama nunggu dan di post minggu ini. Tapi, apa daya, sekolah dan OSIS tidak membiarkannya /eh
Intinya, selamat ulang tahun buat Sehun oppa yang makin tua, makin ganteng dan makin byuntae [efek like foto Mikerr sama Bella Thorne]. Jangan kurang ajar ya di sana. Jaga kesehatan, jangan lupa tidur (khawatir setelah baca berita EXO cuma tidur selama 2-3 jam). Jangan nakal sama hyung-hyungnya. Tambah pinter juga, kalo lagi buka Vlive, lihat kamera yang dipake, bukan yang laen :D. We will  love you as always ;*
oh, ya satu lagi.. silahkan vote dibawah ini 😀 Pilihan kalian menentukan nasib fanfictku (mungkin juga diriku):D and buat poll yang terakhir abaikan aja :”)
Advertisements

4 thoughts on “(Sehun Birthday ver.) Fine—PutrisafirA255”

  1. Uwahhhhh ceritanya keren author itu ada nextnya kan ya ??? Bakalan happy or sad ending nih ???? Penasaran ama lanjutannya 😄😄
    Btw tetep semangat ya thor trus jga kesehatan jngan ampe sakit tetep ditunggu karya author yg lainnya 🙋🙋🙋😁😁😁👍👍👍 hwaitingg…. 💪💪💪

    Liked by 1 person

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s