Catch Me When I Fall

 

 

Author : SehunDermanOh

Title : Catch Me When I Fall

Cast : Oh Sehun, Lyn(OC)

Genre : Au, hurt, Friendship, Songfic, Romance

Length: One Shoot

Rating : PG

***

Langit senja yang cantik sangat sayang untuk dilewatkan apalagi ketika musim semi seperti ini. Apalagi ini akhir pekan. Saat yang tepat untuk melepas penat. Namun, hal itu tidak berlaku bagi pria jangkung bermarga Oh yang tengah menari diiringi  musik beat. Ia menghabiskan waktu di akhir pekan-bahkan setengah harinya-untuk latihan. Seperti hari-hari biasa. Tak ada istirahat baginya. Hari-harinya adalah untuk bekerja keras. Bahkan hal ini telah dilakukannya selama hampir 5 tahun semenjak ia bergabung dengan grup tari yang diperkenalkan oleh Lyn, temannya sejak SMA dulu.

“Sehun-a!”

Suara perempuan yang tak asing bagi Sehun tiba-tiba memanggilnya-lebih tepatnya menjerit- Panggilan itu tak ia hiraukan. Sehun terus melanjutkan tariannya dengan keringat yang telah membasahi seluruh tubuhnya.

“Yaakk!!”

Pekikannya membuat Sehun sedikit bereaksi. Bukan untuk menyahutinya, hanya untuk memandanginya lewat pantulan cermin di hadapannya

“Lyn!!”

Kini giliran Sehun yang berteriak bahkan lebih keras. Bagaimana tidak. Dengan santainya Lyn menghentikan musik yang tengah mengalun.

“Apa yang kau lakukan?! Itu bagian klimaksnya!”

“Lalu kenapa kau tidak menyahut ketika aku memanggilmu? Dan kau hanya menatapku dengan tatapan dingin. Menyebalkan. Kau selalu saja menyalahkanku”

Sehun hanya membuang napasnya kasar setelah mendengar ocehan dari wanita menyebalkan yang tengah berkacak pinggang di hadapannya.

“Sehun. Kita harus pulang. Hari sudah malam. Dan kau harus makan setelah melewatkan makan siangmu”

Lyn berbicara datar dengan penekanan di beberapa kalimatnya. Sehun hanya berbaring di atas lantai kayu yang sedikit mengkilap itu. Nafasnya masih belum teratur karena kelelahan.

“Hei, aku menyuruhmu untuk pulang bukannya berbaring seperti itu. Apa kau juga akan membanjiri ruangan ini setelah membasahinya dengan keringatmu?”

“Aish! Kau menyebalkan”

“Cepat ganti bajumu. Ada hal penting yang harus kusampaikan untukmu”

Sehun langsung bangkit dengan semangat. “Apa itu?” Sial. Sehun hanya mendapati senyuman Lyn yang menyebalkan “Kalau ingin tahu cepat ganti bajumu. Kita akan membicarakannya sambil makan. Tenang saja, aku yang traktir”

.

.

.

Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah restoran China kesukaan Lyn. Berhubung Lyn yang mentraktir, jadi dialah yang memilih tempat makan.

“Kau tidak bosan makan disini terus?”

“Makanan di sini mengingatkanku pada masakan Mama. Lalu, apa kau juga tidak bosan terus makan di restoran Eropa itu?”

“Itu kan-“

“Sama sepertimu. Aku juga punya alasan sendiri”

Mereka segera turun dari mobil milik Sehun dan segera masuk. Beberapa pasang mata sempat cemburu ketika Sehun melingkarkan lengan kekarnya pada pundak Lyn.  Mereka memang sangat dekat sampai-sampai banyak yang bilang kalau mereka adalah sepasang kekasih.

“Hun, kau ingin pesan apa?”

“Dumpling udang saja. Aku sedang tidak nafsu“

Saat Lyn hendak meminta pelayan menuliskan pesanan mereka, ia malah mendapati pelayan itu yang terkesima melihat Sehun. Tidak aneh memang. Rahang tegas, hidung mancung, kulit putih dan tatapan yang bisa membuat hati meleleh bisa membuat banyak perempuan terkesima. Tapi, mereka datang kesini bukan untuk melihat pelayan yang tengah mengagumi ketampanannya kan.

“Maaf, bisa kau tuliskan pesanannya?”

“Ah, tentu saja. Maaf, bisa di ulangi?”

“Dumpling udang, ma yi shang su dan soup wanton”

Dan yang menjadi objek malah sibuk dengan smartphone-nya.

“Tok tok. Bisakah kau tak mengabaikanku?”

“Ehm? Hm. Jadi, hal penting apa yang ingin kau katakan?”

“Heol. Kau tak asik”

Merasa kesal dengan Sehun yang selama perjalanan hingga sekarang mengabaikannya, ia pun menyodorkan selembar kertas-lebih tepatnya melempar- Matanya terbelalak setelah selesai membaca kertas yang diberikan Lyn itu.

“Kau..serius?”

Lyn hanya mengangguk perlahan. Dan setelahnya Sehun tersenyum sangat lebar. Perasaannya antara senang dan tak percaya.

“Mr Leo akan mengadakan konser tunggal untukku? Di Amerika? Ini nyata kan?”

“Ya, ini nyata. Konsernya sekitar 4-5 bulan lagi. Kau mendapat hasil dari kerja kerasmu. Selamat ya”

Sebuah hasil dari kerja keras. Akhirnya hal itu datang setelah Sehun menunggu sekian lama. Walaupun ia telah mengorbankan waktu dan energinya.

.

.

.

Pagi yang cerah mengawali hari Sehun dengan semangat. Tentu saja. Setelah mendapat kabar dari Lyn semalam Sehun merasa senang. Bahkan semalam Sehun tak bisa tidur karena terus membayangkan tentang dirinya yang menari di tengah kerumunan banyak orang. Dan lagi, acara yang digelar Mr Leo tak pernah gagal.

Ada satu hal yang sangat dikagumi Sehun dari Mr Leo. Dia seorang yang pantang menyerah. Dulunya Mr Leo adalah seorang penari jaz. Tapi, Mr Leo mengalami kecelakaan yang mengakibatkan koma beberapa bulan dan setelah terbangun dari komanya yang cukup lama, Mr Leo terserang stroke. Setelah melakukan terapi selama hampir 3 tahun, ia bisa kembali beraktivitas normal. Namun tidak untuk menari. Mr Leo akan kembali terserang stroke yang lebih parah jika ia kembali menari. Ia sangat frustasi sampai pernah pada suatu saat ia hendak bunuh diri. Namun, istri dan kedua orang anaknya memberikan motivasi padanya untuk terus melanjutkan hidup. Dengan alasan itu, Mr Leo mendirikan sekolah tari hingga memiliki beberapa cabang di banyak negara. Dan salah satunya di Seoul yang di ikuti Sehun. Sehun sangat kagum dengan kisah hidupnya. Belum tentu Sehun bisa seperti itu.

Kembali pada aktivitasnya di pagi hari. Seperti biasa ia bangun cukup pagi. Namun, ia tak langsung pergi ke tempat latihan. Sehun mengunjungi kuil yang jataknya cukup jauh dari apartemennya

Kakinya melangkah masuk pada salah satu ruangan. Ada sebuah guci kecil dan sebingkai foto hitam putih. Terlihat senyum manis seorang perempuan yang sangat mirip dengan Sehun. Mata, hidung, dan bibirnya sangat mirip dengan Sehun. Tentu saja karena itu adalah saudara kembar Sehun, Oh Sera.

Sehun meletakkan setangkai bunga matahari disana. Bunga yang sangat disukai Sera. Lalu, ia meletakkan sebuket mawar putih di samping guci Sera. Itu adalah orang tua Sehun. Ya, ia memang sudah tak punya keluarga. Orang tuanya yang meninggal karena insiden kecelakaan pesawat. Dan Sera yang meninggal karena sakit. Dan hal yang membuat Sehun terpukul adalah kematian mereka disebabkan olehnya.

Matanya menitikkan air mata. Air mata yang menyimpan kesakitan. Dan air mata yang menyimpan do’a untuk orang-orang yang tak lagi disisinya.

Setelah selesai, ia kembali menancap gas cukup dalam karena sepertinya ia sedikit terlambat. Untungnya ini masih pagi sehingga Sehun bisa melewati kemacetan yang selalu menghadang ditengah kesibukan. Sehun telah berjalan dengan kecepatan 80 km per jam. Kecepatan yang cukup tinggi di jalan yang tidak terlalu besar seperti ini. Merasa belum cukup, ia kembali menancap pedalnya lebih dalam hingga kecepatannya kini bertambah menjadi 100 km per jam.

Matanya terbelalak saat melihat truk pengangkut yang cukup besar yang melawan arah untuk menyalib mobil di hadapannya. Sehun hendak menghindar. Tetapi jalan yang kecil malah membuatnya menubruk beton pembatas jalan dan mobilnya terpental cukup keras. Mobilnya berputar beberapa kali. Sehun tak bisa mengendalikan mobilnya. Akhirnya mobilnya berhenti setelah membentur trotoar. Napasnya tersenggal-senggal.

“Tuhan. Aku masih sel-“

BRUK!

Kalimatnya terhenti saat sebuah bus menubruk mobilnya yang bermaksud menghindari kecelakaan tersebut. Mobil Sehun terseret cukup jauh. Dan yang Sehun lihat berikutnya hanyalah sekelebat cahaya putih yang berubah menjadi gelap. Penglihatannya terhenti saat itu juga.

.

.

.

Dengan baju dan sepatu baletnya, Lyn berlari dengan tergesa-gesa menuju rumah sakit setelah mendapat panggilan mengenai kecelakaan yang di alami Sehun. Ia tak peduli dengan tatapan heran yang di lemparkan orang-orang padanya. Yang ia pikirkan sekarang adalah keadaan Sehun yang membuatnya sangat khawatir.

Ia segera menuju IGD dan mencari keberadaan Sehun dengan panik. Ia masih belum menemukannya sampai seorang perawat datang menghampiri

“Apa anda mencari seseorang nona?”

“Apa disini ada seorang pasien bernama Oh Sehun? Ia mengalami kecelakaan mobil dan ia baru masuk sekitar 20 menit lalu”

Perawat itu langsung menghampiri meja resepsionis yang di ikuti Lyn.

“Benar. Oh Sehun adalah pasien darurat kami yang sedang ditangani. Apa anda keluarganya?”

“Ya. Dimana dia sekarang?”

“Dia sedang menjalani operasi dan ia butuh persetujuan dari walinya”

“Aku walinya”

Setelah menyelesaikan beberapa prosedur, kini Lyn tengah menunggu di depan ruang operasi. Ia menautkan kedua tangannya di depan dada dan tak henti-hentinya ia terus berdo’a dengan cemas. Kejadian ini begitu tiba-tiba. Padahal baru semalam mereka makan bersama dan membicarakan mengenai konser tunggalnya. Tapi pagi yang cerah ini seketika berubah menjadi suram.

Sudah 3 jam lebih Lyn menunggu dengan gelisah. Namun ia belum mendapat kabar apa pun. Beberapa menit kemudian, seseorang dengan pakaian operasi keluar menghampiri Lyn. Rupanya itu dokter yang menangani Sehun.

“Dok, bagaimana keadaannya”

Dokter sempat terdiam beberapa saat. Lyn semakin tak siap mendengar keadaannya.

“Ia mengalami pendarahan cukup banyak akibat benturan yang cukup keras. Untungnya tim medis cukup cepat menanganinya”

Kecemasannya cukup berkurang setelah mendengar penuturan sang Dokter.

“Tapi, ada masalah lain” Tubuhnya langsung menegang seketika. “Apa itu?” Dokter sempat menghela napas sejenak sebelum memberi penjelasan “Kami belum bisa memastikan tentang keadaan kakinya. Apalagi ia telah mengalami cedera pada lutut yang cukup serius”

Tunggu. Sehun mengalami cedera? Kenapa? Sehun belum pernah bercerita tentang ini.

“Cedera? Sejak kapan?”

“Apa anda tidak tahu soal cederanya? Ia sudah mengalami cedera cukup lama, sekitar 6 bulan yang lalu. Tapi ia menolak untuk menjalani perawatan. Keadaannya semakin parah 3 bulan berikutnya. Kami sempat menyarankannya untuk menjalani operasi. Namun ia menolak. Memang cukup lama untuk pemulihan setelah operasi, sekitar 1 tahun mungkin. Tapi, jika tidak ada tindakan bisa berakibat fatal”

“Lalu apa kemungkinan yang akan terjadi?”

“Kami belum bisa memastikan sampai ia terbangun. Tapi besar kemungkinan ia mengalami kelumpuhan.”

“Kelumpuhan?”

“Ya. Dan ini akan berakibat pada mentalnya mengingat ia seorang penari. Saya harap ia selalu didampingi keluarga. Sementara waktu kami akan menempatkannya di ICU sebelum dipindahkan ke ruangan khusus”

“Baik. Terima kasih”

Lyn langsung terduduk lemas. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi Sehun setelah mendengar ini. Lyn mengerti perasaan Sehun. Ia mati-matian untuk mengejar mimpinya. Namun, mimpi itu seketika lenyap. Walau Lyn tahu ada sedikit kemungkinan untuknya bisa kembali normal. Tapi itu tidak pasti. Akankah Tuhan mengizinkannya untuk terus mengejar mimpinya?

.

.

.

Dua hari berlalu. Sehun belum sadarkan diri. Dan selama dua hari itu juga Lyn terjaga sepanjang malam untuk menjaga Sehun. Ia tak bisa tidur walau sebentar. Lyn terus memikirkan keadaan Sehun sampai ia juga kehilangan nafsu makannya.

Namun, dihari ketiga, Lyn baru bisa memejamkan matanya. Tanpa Lyn tahu, tangan yang tengah digenggamnya sedikit bereaksi. Matanya mulai terbuka perlahan. Sehun sadarkan diri.

Sehun melihat sekitar dengan pandangan remang. Kepalanya terasa pening luar biasa. Badannya seakan remuk. Ia masih mencoba untuk membuka matanya walau masih pusing. Akhirnya ia mulai melihat langit-langit putih yang asing baginya. Matanya menelusuri tiap sudut ruangan. Ia melihat sebuah cairan infusan. Infusan? Apa ini rumah sakit?

Sehun melihat kepala seseorang yang tengah tertunduk. Sehun belum bisa memastikan siapa orang itu. Namun, ia bisa merasakan kehangatan dari seseorang yang tengah menggenggam tangannya. Lyn terbangun ketika merasakan tangan yang tengah ia genggam bergerak. Kepalanya langsung terangkat. Iris mereka bertemu.

“Lyn..”

Dengan suara parau Sehun berusaha memanggil namanya. “Kau sudah sadar?” Terdengar nada khawatir pada kalimatnya. Lyn langsung beranjak lalu menekan tombol merah di samping ranjang “Perawat akan segera datang. Tenanglah”

Seakan mengerti dengan tatapan yang dilontarkan Sehun, Lyn menggenggam tangannya erat. “Kau mengalami kecelakaan yang cukup parah. Untungnya tim medis bisa menanganimu dengan cepat. Hun, kau paling bisa membuatku khawatir. Aku harus menunggumu 2 hari sampai kau terbangun”

Sehun berusaha tersenyum menanggapi. Beberapa saat kemudian, beberapa perawat datang. Mereka langsung melakukan pengecekan menyeluruh. Lyn menatap lekat-lekat saat perawat memeriksa kakinya.

“Tuan Oh, perkembanganmu cukup baik. Kau harus banyak beristirahat untuk memulihkan fisikmu. Malam ini perawat akan memberimu obat anti nyeri”

“Terimakasih. Berapa lama aku harus menjalani perawatan? Aku harus kembali latihan untuk menyiapkan konserku. Aku tidak ingin mengecewakan Mr Leo”

“Aku sudah dengar perihal itu dari temanmu. Ini semua tergantung perkembanganmu”

Dokter menyudahi pemeriksaan dengan senyuman yang membuat Lyn bertanya tanya. Ia menatap Dokter dengan tatapan bertanya. Paham akan maksud Lyn, Dokter mengajaknya keluar lewat ekor matanya.

Lyn beranjak melangkah keluar ruangan. Tak lupa ia mencari jarak aman agar tak terdengar.

“Bagaimana hasilnya?”

“Seperti yang kuduga. Ia akan mengalami kelumpuhan permanen. Dia harus bisa menerima untuk keadaannya. Cari waktu yang tepat untuk menjelaskan ini semua”

Tuhan, haruskah ia mendapat cobaan seperti ini setelah kehilangan keluarganya? Lyn kembali menuju kamar.

“Ada apa?”

“Tidak. Hanya masalah administrasi”

.

.

.

Setelah 4 hari berada di rumah sakit, akhirnya Lyn bisa keluar menghirup udara segar di musim semi. Sore ini Lyn berencana membeli cake untuk mengadakan pesta kecil-kecilan sebagai peringatan hari ulang tahun Sehun. Tak lupa Lyn juga membeli lilin bertuliskan angka 2 dan 3 mengingat ini usianya yang ke 23 tahun.

Lyn baru kembali setelah hari mulai gelap. Ia tengah mendapati Sehun yang sedang membaca buku ditemani alunan musik klasik. Inilah caranya mengisi waktu agar tidak membosankan.

“Kau sudah kembali?”

“Hm. Aku membawakanmu sedikit hadiah. Kau tidak lupakan sekarang tanggal 12 April?”

“Wahh…kau tidak perlu membelikanku kue ulang tahun. Konser tunggalku sudah cukup menjadi hadiah”

Lyn menyalakan lilin pada kue yang tengah di pegangnya. Lalu, Lyn menyanyikan lagu ulang tahun dalam bahasa China “Hei, aku bukan orang China sepertimu. Nyanyikan sekali lagi dalam bahasa Korea” Lyn hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seperti anak anjing. “Tidak mau. Intinya sama saja kan. Sekarang tiup lilinnya dan sampaikan harapanmu” Sehun meniup lilinnya dan ia memejamkan kedua matanya erat. Lyn hampir menangis saat itu. Lyn seakan mendengar harapan yang Sehun panjatkan.

“Apa harapanmu Hun?”

“Aku menginginkan kesembuhanku. Jadi, aku bisa menyiapkan konserku dengan maksimal”

“apa kau sangat menginginkan konser itu?”

“Tentu saja. Ini harapan terbesarku”

“Itu adalah harapan terakhir yang takkan pernah terkabul untukmu”

Lyn sempat menggigit lidahnya sendiri. Mungkin ini memang terlalu cepat. Tapi lambat laun Sehun harus tahu ini dan menerima kenyataan yang ada. “Harapan terakhir? Apa maksudmu?” Ada nada khawatir disana. Lyn menggenggam tangan pria dihadapannya erat

“Apa kau merasakan sakit pada kakimu?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan dan jawab aku!”

Suara itu berubah menjadi ketakutan.

“Kenapa?! Apa kau khawatir pada cedera lututmu?! Lalu kenapa kau bertindak gegabah?! Apa kau sudah tidak peduli pada dirimu sendiri?!”

Sehun tersentak mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang ditujukan padanya.”Ba-bagaimana kau tahu?” Suaranya bergetar.

“Apa kau akan terus membohongiku?”

“Apa aku tidak bisa melakukan konser jika aku tidak melakukan operasi? Itu sama saja kan. Bahkan waktu pemulihannya saja membutuhkan waktu sekitar 1 tahun!”

“Tidak. Kau benar-benar tidak bisa melakukannya”

“Apa kau mencoba menghentikanku?”

“Kaulah yang menghentikan dirimu sendiri! Kau yang… Tidak. Ini semua mutlak kecelakaan. Ya…hanya seperti itu….”

Detik berikutnya, Lyn terisak. Dan Sehun hanya terdiam dengan penuh kekhawatiran. “Jelaskan padaku. Bukankah rasa kaku pada kakiku ini hanya efek dari obat bius? Kau sendiri kan yang mengatakannya padaku?” Masih tak ada jawaban “Katakan padaku dan jangan menangis seperti itu!” Lyn mulai mengumpulkan kata-katanya kembali

“Karena kecelakaan itu…dan cedera itu…kau…”

“Apa?! Cepat katakan padaku!”

“Kau mengalami kelumpuhan Hun. Kau tak bisa mengadakan konser itu. Kau takkan pernah bisa menari lagi. Bahkan untuk berjalan pun itu akan sulit. Kau harus bisa menerima semuanya”

Deg!

Serasa ada batu besar yang menimpa kepalanya. Rasa sakit dan ketakutan itu kembali menyeruak sama seperti saat ia mendengar kecelakaan orang tuanya dan kabar kematian Sera. Dunia serasa berhenti ketika telinganya mendengar penuturan Lyn seperdetik yang lalu.

“Katakan sekali lagi. Sepertinya telingaku sedikit bermasalah akibat benturan kemarin” Tangan kekarnya mencengkram pundak gadis yang tengah terisak di depannya. “Hun…aku tahu ini sulit bagimu. Tapi kau harus menerimanya.

“Ini hari ulang tahunku kan? Kau pasti hanya membuat lelocon”

“Hun, ini tidak lucu untuk di jadikan candaan. Aku serius”

Sehun menepis tangan Lyn kasar hingga membuatnya terdorong cukup keras. Ia menyibakkan selimutnya kasar. Lyn kembali menahan Sehun, namun Sehun kembali mendorongnya. Sehun memaksakan dirinya untuk turun dari ranjang dengan menurunkan kedua kakinya menggunakan tangannya. Ketika turun, Sehun langsung ambruk. Lyn segera mendekapnya erat.

“Hun! Hentikan. Kumohon hentikan”

“Tidak. Tidak bisa seperti ini. Tidak!”

Sehun histeris seketika. Ia memberontak. Lyn coba untuk menghentikan. Namun badan kecilnya tak bisa menahan tenaga Sehun yang cukup besar. Lyn segera berlari mendekati ranjang lalu menekan tombol merah. Tak lama setelah itu, beberapa perawat datang.

.

.

.

Dua hari berlalu sejak Luhan mengetahui kondisinya. Dan selama dua hari itu juga Sehun kehilangan nafsu makannya. Ia juga tak mau di ajak berbicara. Sehun tak lagi mendengarkan musik klasik atau membaca tumpukan buku yang bisa mengusir rasa bosannya. Sehun juga jadi lebih sensitif dari biasanya.

Dengan sabar Lyn tetap setia merawatnya. Ia terus bercengkerama walau tak mendapat jawaban apapun dari Sehun.

“Hun, makanlah sedikit. Aku membelikan dumpling udang kesukaanmu”

“Makan saja olehmu”

“Ayolah. Sedikit saja”

“Bisakah kau tak menggangguku? Kau terus mengoceh sepanjang hari. Kalau aku bilang tidak mau ya tidak mau!”

“Kenapa?”

“Akh sudahlah! Kau melelahkan!”

Dengan kasar Lyn menaruh piring berisi dumpling ditangannya.

“Kau pikir aku tidak lelah? Aku terus terjaga sepanjang malam karena mengkhawatirkanmu. Aku langsung berlari dengan pakaian dan sepatu baletku ketika mendengar kabar tentang kecelakaanmu. Aku terus mengkhawatirkan kondisimu! Tapi apa?! Kau malah tak peduli dengan dirimu sendiri!”

“Urusi saja urusanmu sendiri!”

“Baik! Aku tidak akan memperingatimu untuk makan. Aku tidak akan menyuruhmu untuk lekas tidur. Aku tidak akan menemanimu sepanjang hari. Kalau itu yang kau mau, aku akan pergi!”

Lyn pergi dengan perasaan dongkol. Sehun hanya membiarkannya pergi. Tidak. Sebenarnya Lyn tidak bermaksud berkata seperti itu. Lyn hanya sedang emosi karena pikirannya yang kacau. Begitu juga dengan Sehun. Mereka hanya tidak sedang dalam kondisi baik. Hanya emosi mereka yang berbicara. Dan itu tak akan menyelesaikan masalah.

Di  luar sana, hujan sedang turun deras. Tapi Lyn hanya berjalan menerobos derasnya hujan. Ia tak peduli dengan tubuhnya yang sudah basah kuyup. Setelah 20 menit, langkahnya terhenti tepat di depan gedung yang sudah seminggu ini tak ia datangi. Tempat yang ia habiskan untuk menari. Mungkin ini waktu yang cocok untuk menenangkan pikirannya.

Lyn berjalan masuk dengan air yang mengalir dari tubuhnya. Berhubung ini sudah jam 5, kebanyakan orang sudah pulang. Jadi hanya beberapa yang masih tinggal. Ia menuju lantai 3, tepatnya sebuah ruangan yang biasa ia gunakan. Ia memilih lagu secara acak. Setelah itu, Lyn mulai menggerakkan badannya perlahan senada dengan irama musik. Ia mengekspresikan semua amarahnya lewat gerakan tubuh dengan iringan musik. Semua kesedihan juga kekhawatiran ia curahkan dengan bebas.

Setelah 3 jam kemudian, Lyn menghentikan tariannya. Pikirannya sudah mulai tenang sekarang. Ia terduduk lemas sembari menatap pantulannya pada cermin besar di hadapannya. Tubuhnya yang basah oleh air hujan telah tergantikan dengan keringatnya. Ia menatap lekat-lekat pantulan dirinya selama beberapa saat. “Tidak Lyn. Tak seharusnya kau marah. Ia membutuhkanmu” Masih dengan napas tersengal, Lyn berlari keluar ruangan meninggalkan alunan musik yang masih menggema di ruangan itu. “Kau bodoh!” Lyn merutuki dirinya sendiri sambil berlari menuju rumah sakit.

Kini, Lyn telah berada di kamar Sehun. Gelap. “Sehun. Kau tidur?” Mencoba memastikan, namun hanya keheningan yang memenuhi atmosfer itu. Tangannya meraih saklar lampu, dan ia hanya mendapati ranjang yang kosong. Sehun tak ada di sana. Ia mengecek kamar mandi. Tapi Sehun tak ada disana.

Saat hendak keluar, matanya menangkap pecahan vas bunga di bawah ranjang. Tunggu, sesuatu yang buruk pasti telah terjadi selama Lyn tak berada disini. Lyn segera berlari keluar. Ia mencoba berpikir sebuah tempat yang mungkin di datangi Sehun. Apakah rooftop tempat yang di datanginya? Saat sekolah ketika Sehun mendapat masalah ia akan pergi ke atap sekolah.

.

.

.

Terlihat pemandangan kota Seoul dari atas sini. Mereka masih saja sibuk dengan aktivitasnya. Ini memang tempat yang cocok bagi Sehun. Tak lama setelah Lyn tiba, ia melihat seorang pria dengan kursi rodanya di bawah cahaya lampu redup. Bisa di pastikan bahu lebar itu adalah Sehun

“Hun, kau tidak kembali ke kamarmu? Di sini sangat dingin” Kepalanya sedikit menoleh ke sumber suara. Tak ada jawaban “Kau tidak pergi? Aku kira kau takkan pernah kembali. Tapi baru beberapa jam saja kau sudah berada di sini” Suaranya setenang air. Tapi Lyn bisa mendengar kesedihan pada suaranya “Aku takkan pernah bisa meninggalkanmu. Soal yang tadi siang, aku minta maaf. Kita bukan anak kecil lagi kan? Jadi mari kita selesaikan ini dengan kepala dingin” Lyn berjalan menghampiri Sehun

“Apa yang harus di selesaikan? Aku memang sudah selesai dengan semua urusanku”

“Surat wasiat sebelum bunuh diri? Kau bercanda”

“Aku serius. Tak ada lagi yang harus kuselesaikan”

“Kau akan menyerah sampai sini setelah berjuang mati-matian?”

“Tapi aku kehilangan tujuanku”

Lyn berjongkok di hadapan Sehun dan menggenggam tangannya.

“Saat kau terjatuh bukan berarti semuanya selesai. Kau lihat bayi yang sedang belajar berjalan? Mereka seringkali terjatuh, tapi mereka terus mencoba untuk bangun kembali”

“Kau terus berbicara seperti itu karena kau tidak berada di posisiku!”

Lagi. Lyn masih mendapati Sehun dengan emosinya

“Ya! Yang aku punya hanyalah kata-kata seperti itu! Aku tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan! Aku bukan dirimu! Aku takkan mampu melewati masa sulit yang kau hadapi! Tapi kau bisa!”

“Hentikan! Aku hanya ingin segera mengakhiri ini semua!”

“Kau lupa tentang Mr Leo yang kau kagumi itu? Kau menceritakan Mr Leo padaku setiap saat. Bukankah dia panutanmu? Tapi yang kudapati sekarang adalah kau yang bersikap seperti ini”

“Tapi Mr Leo punya keluarga untuk mendukungnya! Orang tuaku meninggal pada kecelakaan pesawat karena aku terus memaksa mereka untuk menghadiri perlombaan nasionalku. Sera, dia meninggal ketika penyakit jantungnya kambuh dan dia meneleponku tapi aku mengabaikannya karena sibuk dengan latihanku. Dan aku memutuskan hubungan dengan kekasihku saat kami telah merencanakan pesta pertunangan! Aku melepaskan itu semua demi mimpiku! Dan aku kehilangan itu semua dalam sekejap!”

Detik berikutnya Lyn memberikan kehangatan lewat pelukannya setelah mendapati Sehun yang histeris seperti itu. “Kalau begitu, izinkan aku mengisi kekosongan itu. Aku akan menangkapmu ketika kau terjatuh. Aku akan menggenggammu erat ketika kau mulai kehilangan tujuanmu. Sama seperti saat kau menemukanku yang terlantar. Mungkin kita memiliki rasa sakit yang berbeda. Tapi kita bisa saling menjadi penopang satu sama lain. Ini bukan akhirmu. Ada tujuan lain yang harus kau capai. Dan kau akan menemukan kebahagiaan yang lebih besar disana. Satu hal lagi. Tentang Sera dan orang tuamu itu adalah takdir yang tak bisa kita salahkan. Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri”

Entah dari mana kata-kata itu didapat Lyn. Namun Sehun tenggelam dalam pelukan Lyn setelahnya. Perjalanan yang ia tempuh memang tidak selalu mulus seperti yang sudah direncanakan. Dan mungkin ada banyak lagi rahasia dalam perjalanannya.

.

.

.

5 Tahun Kemudian

Pagi yang cukup cerah di awal musim semi. Mungkin belum semua salju mencair. Tapi aroma bunga-bunga yang mulai mekar mengawali hari Sehun di tengah kesibukannya. Tangannya menari dengan lincah di atas tuts piano. Melodi yang mengalun menggema dalam aula konser yang masih kosong. Setelah dirasa cukup, Sehun kembali menuju ruangannya. Dua puluh menit lagi acara di mulai. Kini, Sehun tengah memilih tuksedo yang dirasa cocok untuk di kenakannya selama pertunjukan berlangsung. Akhirnya, pilihannya jatuh pada setelan jas berwarna putih dengan dasi kupu-kupu bermotif garis-garis biru.

Tak butuh waktu lama bagi Sehun untuk mengenakan jas tersebut. Setelah selesai, ia sedikit merias wajahnya di bantu oleh seorang wanita yang memang bertugas meriasinya. Terlihat kekhawatiran lewat tatapannya. Tangannya terus mengeluarkan keringat dingin sedari tadi.

Drrtt…

Handphone yang tergeltak di atas meja tiba-tiba bergetar. Sebuah panggilan masuk dengan nama yang tak asing tertera di sana.

“Lyn, kau dimana? Aku akan segera bergegas. Cepatlah datang.”

“Maaf sepertinya aku akan terlambat. Aku baru selesai latihan untuk pertandinganku minggu depan. Sebentar lagi di mulai ya? Tenangkan dirimu dan jangan gugup. Aku akan segera menyusul”

“Ehm..baiklah. Aku tutup sekarang. Hati-hati dijalan”

Suara wanita yang baru saja memenuhi telinganya membuat rasa gugupnya sedikit berkurang. Entahlah, tapi Lyn selalu bisa menenangkannya saat ia merasa cemas. Dan kehangatan yang selalu Lyn berikan telah membuat hatinya tertambat.

Dengan bantuan kursi roda, kini Sehun telah berada di atas panggung. Terlihat jelas orang-orang di atas sana yang tengah menatapnya dengan penuh harap. Sehun merasakan atmosfer mengagumkan. Ini adalah hal yang selalu ditunggunya.

Walau pada awalnya menari adalah satu-satunya tujuan yang ia punya, namun bisikan seseorang telah menjadikan malamnya dipenuhi jutaan bintang. Kata-katanya pada malam itu telah mengantarkannya pada jalan baru setelah Sehun kehilangan arah.

Menjadikannya seorang pianis bukanlah suatu kesengajaan karena pada awalnya Sehun hanya menjadikannya sebagai curahan dari semua emosinya. Namun melodi sederhana yang ia ciptakan membawanya pada sebuah kesuksesan yang selalu Sehun tunggu. Dan kini Sehun berada pada garis itu. Walau setelah ia menikmati jatuh bangunnya, ini bukanlah akhir dari semua perjuangannya. Ini hanyalah sebuah permulaan baru.

Kini jemarinya tengah menari dengan lincah menciptakan melodi indah yang membuat ratusan pasang mata kagum. Melodi yang bercerita tentang jatuh bangun yang telah membawanya pada titik ini. Setelah beberapa melodi ia mainkan, tangannya berhenti sejenak di ikuti riuh tepuk tangan. Matanya mencari sesosok gadis di antara ratusan orang yang hadir. Kini matanya menagkap sesosok gadis dengan dress putih dan rambutnya yang tergerai sebahu. Ia tetap terlihat cantik walau hanya disinari lampu redup.

“Lagu penutup yang akan kubawakan adalah sebuah persembahan spesial untuk seseorang yang telah menjadikan hari-hariku berwarna. Musim demi musim yang telah kulewati selalu terisi dengan kehangatannya. Dan semoga musim semi ini menjadi permulaan baru bagi cerita kita. Lyn aku tak punya kata-kata puisi untukmu. Namun aku harap kau mau mendengarkan melodi ini sampai selesai”

Sorakan dan tepuk tangan menggema di ruangan itu. Bisa di lihat kini Lyn tengah tersipu setelah mendengarkan penuturan Sehun. Sebuah musik mulai dimainkan. Melodi sederhana yang mengungkapkan semua perasaan yang ia miliki. Sebuah pernyataan cinta yang baru tersampaikan sekarang.

‘Ini bukan akhirmu. Ada tujuan lain yang harus kau capai. Dan kau akan menemukan kebahagiaan yang lebih besar disana’ Sebuah kalimat yang telah merubah hidupnya kembali menggema di telinganya. Dia benar. Ini adalah kebahagian yang telah menantinya

When the gaze gets cold

When even the train stops

When I get weary of the sky

Want to fall into the sea

Who’s gonna catch me when I fall?

Are you?

Who’s gonna catch me when I fall?

Are you?

Forgiving me will hurt, will be a guise, will make you hesitate

No

But I don’t wanna let you down, let you down

Make you disappointed

No

Who can never be hurt, no disguise, no hesitation

No~

I don’t wanna let you down, let you down

Make you disappointed

No

Dear world, please wait

There is still someone wandering along the street

Let him finish this song

Before opening the door to shelter

I believe someday when I turn back

When I get weary of the sky

Want to fall into the sea

Someone will catch me when I fall

I know

Someone will catch me when I fall

I know

We are the same

Will get hurt, know how to disguise, will hesitate

No

Who can never be hurt, no disguise, no hesitation

No

Just let us

Get hurt, disguise, hesitate

And then continue

To race, to feel, to fly

Now

(Luhan – catch me when i fall)

-END-

Yeeaay….akhirnya ff ini bisa selesai ditengah kesibukan ujian walau rencana awalnya ini mau dijadiin project ultahnya Sehun. Aku tahu tulisannya berantakan banget berhubung ini dibikin di hp. Yeah intinya ini bisa selesai walau berantakan.

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Catch Me When I Fall”

  1. Uuuuwwwaaahhhh bagus bngt ceritanya suka suka 😆😆😆 sangat menginspirasi jalan ceritanya, gk nyangka walaupun sehun udah gk punya keluarga lg tpi lyn ttp setia ngedukung trus ngasih semangat ke sehun pokoknya the best lah author-nim 😄😄😄 jjang👍👍👏👏👏

    Liked by 1 person

    1. Aku sendiri gak nyangka bisa bikin cerita kaya gini 😅😅. Berterimakasihlah pada luhan yang udah ngasih inspirasi 😊😊. Thanks for read and comment😉😉

      Like

  2. whoaaa…. kereeenn, feelnya bener2 dpt, trus ceritanya mengharukan, mengispirasi juga, penuh sukaduka sehun, pokonya kerenn,, athornim terbaikkk

    Like

Your Feedback, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s